Anda di halaman 1dari 2

Perawatan fase operasi Persiapan untuk transplantasi ginjal dimulai jauh sebelum fase segera dilakukannya pembedahan.

Persiapan ini termasuk pengkajian dan intervensi yang berkenaan dengan tingkat ansietas pasien, pengetahuan tentang prosedur transplan dan status fisiologis. Pada fase praoperasi segera, persiapan termasuk pemeriksaan darah lengkap, elektrokardiogram, foto dada dan dialisis dalam 24 jam pembedahan. Dialisis ini untuk mengembalikan kimia darah ke kadar mendekati senormal mungkin, memperbaiki perubahan agregasi trombosit yang ditimbulkan oleh uremia, dan mengeluarkan kelebihan cairan. Imunosurpresi mungkin diberikan sebelum pembedahan. Besarnya waktu yang tersedia untuk melengkapi persiapan ini sangat ditentukan oleh sumber donor. Bila tersedia donor hidup, persiapan dapat dilakukan seharian sebelum transplantasi, sementara dengan donor mayat semua persiapan harus selesai dalam beberapa jam. Prosedur pembedahan Ginjal diletakkan retroperitoneal, dalam fosa iliaka. Anastomose vaskular diselesaikan paling umum dengan menggunakan arteri hipogastrik atau arteri interna dan vena iliaka eksterna. Bila terdapat kesulitan secara mekanik sulit untuk mengakses pembuluh ini, seperti pada anak-anak, mungkin diperlukan untuk melakukan anastomose pembuluh ginjal pada vena kava inferior dan aorta. Ada dua tipe anastomose uretra yang dapat dilakukan. Pertama, ureter donor ditanam dalam kandungan kemih resipien melalui sistostomi vertikal dan terowongan antirefluk submucosa, karena ureter akan kekurangan persarafan dan peristaltik normal. Kedua, tipe yang jarang digunakan, ginjal donor dianastomose pada jungsi uretropelvik ke ureter resipien. Sebuah kateter foley digunakan pada kedua tipe anastomose, dan kadang-kadang digunakan stent ureter. Pada kedua kasus akan terjadi hematuria selama beberapa hari. Pada prosedur yang terakhir, urine akan perubah menjadi pink pada hari pertama pascaoperasi karena tak ada suture dalam kandung kemih. Perawatan fase pascaoperasi Segera setelah pembedahan, resipien transplan dirawat dengan pemantauan yang ketat sampai stabil. Sesampainya pasien di unit perawatan pascaanestesi atau area perawatan intensif, lakukan pengkajian berikut : 1. Tekanan darah, nadi apikal, pernapasan, suhu, dan tekanan vena sentral (TVS). Tekanan darah harus diukur pada ekstremitas yang tidak digunakan sebagai akses vaskular karena meskipun terjadi perubahan yang kecil terhadap aliran darah arteri dapat menyebabkan malfungsi akses. 2. Tingkat kesadaran pasien dan derajat nyeri. 3. Jumlah line intravena yang terpasang, catat tempat insersi, jenis cairan, dan kecepatan tetesan. 4. Balutan abdomen untuk drainase, catat apakah terdapat hemovac atau drain.

5. Adanya foley dan kemungkinan letak kateter uretra yang mungkin, dan amati patensi serta drainase urine dari tiap kateter. 6. Temukan akses vaskular dan tentukan patensinya dengan meletakkan jari atau stetoskop tepat diatas tempat akses dan raba atau dengarkan karakteristik bunyi, bunyi denyutan disebut desiran (bruit) 7. Bila pasien telah dipertahankan dengan dialisis peritoneal dan terpasang kateter, pastikan bahwa sistem kateter tetap steril dan tertutup. 8. Bila terpasang selang NGT,sambungkan selang tersebut ke sistem drainase yang sesuai. 9. Dapatkan berat badan dasar dalam 24 jam pembedahan. 10. Ukur lingkar abdomen pada insisura iliaka. Ini merupakan informasi dasar yang digunakan nanti untuk pengkajian komplikasi seperti : kebocoran uretra, limfosel, atau perdarahan) 11. Pantau pasien anak lebih sering daripada pasien dewasa karena sifat dinamik dari cairan anak dan status kardiovaskular seperti : tekanan darah, berat badan, dan tekanan vena sentral (TVS).

Anda mungkin juga menyukai