Anda di halaman 1dari 68

BAB I TINJAUAN PETROLOGI

Petrologi adalah istilah yang digunakan bagi seluruh pembelajaran tentang batuan, termasuk petro-

grafi di dalamnya, yaitu pembelajaran tentang deskripsi dan klasifikasi batuan, serta petrogenesis, yaitu

studi tentang sejarah dan kejadian suatu batuan.


Dalam kuliah ini, petrogenesis tidak dibahas lebih lanjut. Sdr akan mempelajarinya dalam matakuliah Petrologi Lanjut.

Seperti diketahui, di alam terdapat 3 jenis ba-

tuan yaitu :
1. Batuan beku,

2. Batuan sedimen, dan


3. Batuan metamorf.

Ketiganya saling berhubungan yang membuat suatu


siklus, yang dikenal sebagai siklus batuan. Perhatikan

diagram segitiga berikut ini.

Gambar 1.1 Diagram segitiga yang memperlihatkan 3 jenis batuan utama, yang terletak pada titik sudut segitiga membentuk suatu siklus batuan (Strahler dan Strahler, 1973, h. 210).

Gambar 1.2 Diagram skematik yang memperlihatkan siklus transformasi batuan (Strahler dan Strahler, 1973, h. 211).

1.1 Batuan Beku

Batuan beku adalah batuan kristalan, atau


kacaan (glassy rocks), yang terbentuk dari magma yang mendingin dan membeku. Magma adalah cairan kental silikat panas yang suhunya berkisar antara 600o 1300o C, dan berada di

kedalaman bumi (di perut bumi), sekitar 60 100


km. Di dalam cairan kental ini terkandung sejumlah

besar elemen-elemen O, Si, Al, Ca, Mg, Fe, Na, dan K ;


serta sejumlah kecil elemen-elemen minor lain.

Magma dapat membeku di kedalaman bumi,

dan terbentuklah batuan beku plutonik, atau batuan


beku intrusi ; sedangkan yang terbentuk di kedang-

kalan, atau di permukaan bumi disebut batuan volkanik, atau batuan beku ekstrusi. Selain daripada itu, akibat letusan volkanik menyebabkan fragmen-fragmen batuan volkanik terlontar ke atmosfir, yang kemudian jatuh ke permukaan bumi, dan terbentuklah endapan piroklastik.

Akibat kekuatan tektonik, karena proses pela-

pukan dan erosi yang berkepanjangan, atau gabungan


keduanya, menyebabkan batuan plutonik yang tadinya

berada di kedalaman, dapat muncul/tersingkap di permukaan bumi. Ukuran singkapan batuan intrusi ini dapat bermacam-macam, mulai dari retas (dike) yang kecil, hingga batolit masif berbentuk-kubah, dengan luas mencapai ratusan kilometer persegi, dan membentuk inti suatu rantai pegunungan.

Batuan ekstrusi terdapat dalam 2 bentuk, yaitu

sebagai lava yang mengalir membanjiri permukaan daratan, layaknya seperti sungai ; dan sebagai fragmen-

fragmen dari potongan-potongan magma, yang ukurannya bervariasi [material-material piroklastik ; berukuran butir dari yang halus (abu volkanik) sampai bongkah (bom, atau blok)]. Fragmen-fragmen tsb terlontar ke atmosfir akibat letusan volkanik, yang kemudian jatuh menutupi/ menyelimuti permukaan bumi.

Material-material piroklastik kasar akan jatuh dan

terakumulasi di sekeliling gunung api yang meletus,


sedangkan material yang halus akan terbawa angin

dan diendapkan jauh dari sumber erupsinya, sebagai


lapisan-lapisan abu volkanik tipis. Untuk lava, kebanyakan mengalir tidak begitu jauh dari sumber erupsinya, tetapi bagi lava yang viskositasnya-rendah, dan tererupsi di sepanjang celah, dapat terakumulasi menjadi suatu perlapisan yang tebal dan panjang sepanjang celahnya.

Batuan beku kristalan dapat diklasifikasi berdasarkan tekstur dan komposisi mineralnya menjadi 2 kelompok utama, yaitu : 1. Batuan plutonik : tersusun oleh kristal-kristal kasar yang kasat mata (terlihat melalui mata biasa), dan

2. Batuan volkanik : tersusun oleh kristal-kristal berbutir halus sangat halus, bahkan kacaan, se-

hingga untuk mengamatinya digunakan mikroskop. Berikut ini akan dijelaskan ttg tekstur batuan beku :

1.1.1 Tekstur Batuan Beku Kristalan

Ada 6 macam tekstur, yaitu :


1. Faneritik (phaneritic),

2. Afanitik (aphanitic),
3. Porfiritik (porphyritic), 4. Kacaan (glassy), 5. Vesikuler (vesicular, berongga), dan 6. Fragmental. Berikut penjelasannya.

1.1.1.1 Tekstur faneritik

Tersusun oleh kristal-kristal besar.


Kasat mata (terlihat oleh mata biasa, atau melalui

loupe), atau melalui mikroskop mono/binokuler.


Ukuran kristal mulai dari 1/2 mm sampai bbrp cm.

Di dalamnya tidak terdapat masadasar (groundmass). Catatan :

Dalam batuan beku, gunakan istilah masadasar, bukan matriks.

Dihasilkan dari magma yang mendingin perlahan-

lahan di kedalaman bumi, pada lingkungan plutonik. Gambar 1.3 sketsa tekstur faneritik. Gambar 1.4 contoh-genggam dan Gambar 1.5 dan 1.6 tekstur faneritik terlihat di bawah mikroskop.

Gambar 1.3 Sketsa tekstur faneritik

Gambar 1.4 Contoh-genggam batuan bertekstur faneritik

Gambar 1.5 Tekstur faneritik terlihat di bawah mikroskop

Gambar 1.6 Tekstur faneritik terlihat di bawah mikroskop

1.1.1.2 Tekstur afanitik

Kristalnya berukuran kecil/halus, < 1/2 mm.


Tidak kasat mata (tidak terlihat oleh mata biasa,

atau dengan loupe). Harus dengan mikroskop.


Dihasilkan oleh pembekuan magma yang sangat cepat. Terdapat pada batuan volkanik, atau pada batuan yang terbentuk pada lingkungan hipabisal (bawahpermukaan dangkal).

Contoh batuannya : riolit (batuan asam), andesit

(batuan menengah), dan basalt (batuan basa).


Gambar 1.7 sketsa gambaran tekstur afanitik.

Gambar 1.8 contoh-genggam batuan bertekstur afanitik. Gambar 1.9 tekstur afanitik tampak di bawah mikroskop melalui sayatan tipis batuan.

Gambar 1.7 Sketsa tekstur afanitik

Gambar 1.8 Contoh-genggam batuan bertekstur afanitik

Gambar 1.9 Tekstur afanitik tampak di bawah mikroskop

1.1.1.3 Tekstur porfiritik

Tekstur yang terletak di antara dua tekstur, yaitu faneritik dan afanitik.

Batuan yang bertekstur seperti ini, paling sedikit


tersusun oleh 2 macam kristal yang ukurannya sangat berbeda. Mineral yang satu berukuran besar disebut fenokris, sedangkan yang satu lagi berukuran lebih halus, dan disebut massa-dasar (groundmass). Ada yang menyebutnya matriks, tetapi yang lebih tepat adalah massa-dasar.

Contoh batuannya : diorit, andesit porfiri.

Gambar 1.10 sketsa tekstur porfiritik, yang memperlihatkan mineral fenokris tertanam di dalam, atau

dikelilingi mineral massa-dasar yang berbutir halus


(mikrokristalin). Gambar 1.11 contoh-genggam batuan bertekstur porfiritik. Gambar 1.12 kenampakan tekstur porfiritik di bawah mikroskop.

Gambar 1.10 Sketsa tekstur porfiritik

Gambar 1.11 Contoh-genggam batuan bertekstur porfiritik

Gambar 1.12 Tekstur porfiritik terlihat di bawah mikroskop

1.1.1.4 Tekstur kacaan (glassy texture)

Terdapat pada batuan tak-berkristal, artinya batuan


tidak tersusun oleh butir-butir mineral.

Terbentuk karena magma, atau lava yang keluar ke


permukaan bumi, membeku begitu cepat karena bersentuhan dengan suhu udara permukaan bumi, sehingga tidak berkesempatan untuk membentuk kristal-kristal mineral. Batuan volkanik yang seperti ini adalah obsidian (Gambar 1.13).

Gambar 1.13 Tekstur kacaan pada obsidian

1.1.1.5 Tekstur vesikuler

Diperlihatkan oleh batuan yang mengandung lubang


lubang bekas gelembung gas yang sebelumnya ter-

jebak di dalamnya sewaktu batuan mulai membeku.


Setelah gas-gas keluar, tinggallah lubang-lubang yang berbentuk bulat, atau lonjong, berdiameter dari 1 mm 30 cm, dan sangat banyak. Jika lubang-lubang terisi oleh mineral, maka teksturnya disebut amigdaloidal. Mineral sekunder yang sering mengisi adalah zeolit, kuarsa, dan kalsit.

Contoh batuannya : batuapung (pumice ; lava


asam), dan skoria (scoria ; lava basa). Pada Gam-

bar 1.14 tampak lubang-lubang bekas gas pada


basalt, sehingga batuan ini disebut basalt vesikuler.

Gambar 1.14 Tekstur vesikuler pada basalt vesikuler

1.1.1.6 Tekstur fragmental

Terdapat pada batuan piroklastik.


Diperlihatkan oleh fragmen-fragmen batuan volkanik

yang tertanam di dalam matriks tuf, atau gelas volkanik. Material massa-dasar atau matriks tersebut berukuran halus kasar, dan bersumber dari aktivitas volkanik. Contoh batuannya : breksi volkanik.

1.1.2 Mineralogi Batuan Beku

Ada 8 mineral utama yang menjadi mineral pembentuk batuan beku, yaitu :

1. Plagioklas,
2. Kuarsa, 3. Feldspar potasium (K-feldpar), 4. Muskovit,

5. Biotit,

6. Amfibol,
7. Piroksen, dan 8. Olivin. Berikut penjelasan singkatnya.

1.1.2.1 Plagioklas

Sangat umum dalam batuan beku.


Kebanyakan berwarna putih-pucat, yang disebabkan

pelapukan, dan terubah menjadi lempung.


Selain itu, dapat pula berwarna putih-baur putihabu, tetapi dalam gabro berwarna abu-gelap abukebiruan. Gambar 1.15 adalah plagioklas yang berbutir besar dan berwarna putih-pucat.

Gambar 1.15 Plagioklas berwarna putih-pucat dan baur

1.1.2.2 Kuarsa

Sangat umum juga dalam batuan beku.


Terlihat berwarna abu-abu abu-abu gelap, dan ka-

dang-kadang agak amorf (Gambar 1.16).


Di bawah loupe terlihat kacaan, dengan permukaan bidang belah yang kurang licin dan agak kasar. Tidak tergores oleh kuku, atau pisau lipat. Granit adalah contoh batuan yang banyak mengandung kuarsa, sedangkan dalam batuan volkanik riolit, mineral ini berstatus fenokris.

Gambar 1.16 Kuarsa berwarna abu-abu gelap, dengan butiran kacaan

1.1.2.3 Feldspar potasium (K-feldspar)

Feldspar potasium yang khas berwarna merah muda


(pink), atau dapat pula merah daging, adalah orto-

klas ; sedangkan yang putih adalah mikroklin.


Dalam granit berwarna merah, ortoklas menjadi mineral utama ; sedangkan dalam riolit mineral ini sebagai massa-dasar. Gambar 1.17 tampak mineral ortoklas yang berwarna merah muda.

Gambar 1.17 Ortoklas yang berwarna merah muda

1.1.2.4 Muskovit

Bukan mineral yang umum dalam batuan beku, tetapi sebagai mineral asesori yang jumlahnya sedi-

kit.
Tampak berlembar, berkilau keperakan, tetapi dapat pula terlihat seperti emas karena oksidasi. Belahannya sempurna dan mudah digores. Dalam beberapa granit, muskovit dapat dijumpai, sedangkan dalam diorit kadang-kadang. Gambar 1.18 muskovit berukuran kecil yang berkilau

Gambar 1.18 Muskovit tampak berbutir kecil dan berkilau

1.1.2.5 Biotit

Dalam kebanyakan batuan beku, biotit terdapat dalam jumlah yang kecil.

Hitam berkilau, dan kadang-kadang terlihat berbentuk heksagonal. Seperti muskovit, biotit berbelahan baik dan lunak. Gambar 1.19, biotit yang berbutir kecil, dan berwarna hitam.

Gambar 1.19 Butiran biotit yang kecil dan berwarna hitam

1.1.2.6 Amfibol
Jarang ditemukan dalam batuan beku, namun banyak terdapat dalam batuan beku menengah. Kristalnya seperti jarum yang ramping. Biotit dan amfibol sering terdapat bersamaan, tetapi asosiasi

ini bukanlah hal yang umum.


Sangat umum dalam diorit, namun kurang dalam granit, atau

gabro. Dalam andesit dijumpai sebagai fenokris.


Gambar 1.20, amfibol yang memanjang, dengan butiran berwarna hitam.

Gambar 1.20 Amfibol yang butirannya memanjang, dan hitam

1.1.2.7 Piroksen

Umum terdapat dalam batuan beku mafik (berwarna


gelap), seperti gabro, atau basalt. Bentuk kristalnya

pendek dan gemuk, serta berwarna hijau-gelap.


Gambar 1.21 terlihat piroksen yang berwarna hijaugelap.

Gambar 1.21 Butiran piroksen yang equi-dimensional dan berwarna hijau-gelap

1.1.2.8 Olivin

Hanya terdapat pada batuan beku ultramafik : dunit


dan peridotit.

Bentuknya kecil, hijau terang, kristalnya kacaan, tidak memperlihatkan belahan, dan bertekstur sugary (berbutir halus seperti gula). Gambar 1.22 mineral olivin.

Gambar 1.22 Butiran olivin berwarna hijau, dan kacaan

1.1.3 Klasifikasi Batuan Beku Kristalan

Batuan beku kristalan dapat diklasifikasi berdasarkan mineralogi, kimia, dan teksturnya. Berdasarkan

teksturnya dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu :


1. Batuan plutonik : ukuran butir mineralnya kasar, kasat mata, dan 2. Batuan volkanik : mineralnya berbutir halus, atau amorf alias kacaan.

Gambar 1.23 memperlihatkan klasifikasi batuan

kristalan berbutir kasar atau plutonik (Streckeisen,


1976, dalam Gillespic and Styles, 1999), dan Gambar

1.24 adalah klasifikasi batuan kristalan berbutir halus


atau volkanik (Streckeisen, 1978, dalam Gillespic and Styles, 1999). Kedua klasifikasi tsb di atas telah diakui oleh IUGS (International Union of the Geological Sciences), sebagai klasifikasi yang standar.

Kedua diagram klasifikasi itu menggunakan 4

komponen mineral utama, yaitu : Q (kuarsa), A [alkali


(Na,K) feldspar], P (plagioklas), dan F (feldspatoid) ;

keduanya dikenal dengan diagram QAPF untuk batuan


kristalan berbutir-kasar (Gambar 1.23) dan diagram QAPF untuk batuan kristalan berbutir-halus (Gambar 1.24). Klasifikasi ini menggunakan data yang didapat dari hasil analisis mikroskopis, yaitu dengan menghitung jumlah Q, A, P, dan F.

Gambar 1.23 Klasifikasi batuan kristalan berbutir kasar (plutonik)

Q
90 90 granitikkaya-kuarsa granitfeldspar alkali sienit-kuarsafeldspar alkali sienitfeldspar-alkali 5 sienogranit 35 sienitkuarsa monzogranit 60 granit

kuarsazolit

granodiorit 60 tonalit monzodiorit-kuarsa monzogabro-kuarsa diorit-kuarsa gabro-kuarsa anortosit-kuarsa 20 monzodiorit monzogabro 5

20

10

65 monzonitkuarsa monzonit monzonitfoidan 50 monzosienitfoid monzogabrofoid

90

A
sienit-foidanfeldspar alkali

10

sienit sienitfoidan 10

P diorit
gabro anortosit

90

10

monzosienit-foid

diorit-foidan gabro-foidan anortosit-foidan monzodiorit-foidan monzogabro-foidan diorit-foid gabro-foid

sienit-foid 60 foidolit 60

QAPF = 100

Gambar 1.24 Klasifikasi batuan kristalan berbutir halus (volkanik)


riolitfeldspar alkali trakhit-kuarsafeldspar alkali trakhitfeldspar alkali 5 60

Q
90 90

60

riolit

dasit

20

10 trakhitkuarsa

35

65 latit-kuarsa latit latit-foidan 50

90

20 5

A
trakhit-foidanfeldspar alkali

10

trakhit trakhitfoidan 10

basalt andesit 90

10

fonolit-tefritik

basanit (olivin > 10%) tefrit (olivin < 10%)

fonolit 60 60

basanit-fonolitik (olivin > 10%) tefrit-fonolitik (olivin < 10%)

QAPF = 100 M > 90% ultramafitit

foidit-fonolitik 90 90 foidit

foidit-tefritik (olivin < 10%) foidit-basanitik (olivin > 10%)

Selain klasifikasi yang didasarkan data hasil analisis mikroskopis, ada juga klasifikasi batuan beku un-

tuk lapangan (berdasarkan pengamatan makroskopis),


seperti pada Gambar 1.25, 1.26, dan 1.27.

Gambar 1.25 Klasifikasi lapangan bagi batuan kristalan berbutir kasar (plutonik)

Q
batuan berbutir-kasarkaya-kuarsa

60

granitik

65
sienitik dioritik gabroik anortosit

20

P
10

dioritik-foid sienitik-foid gabroik-foid

60
foidolitik

Gambar 1.26. Klasifikasi lapangan bagi batuan kristalan berbutir halus (volkanik)

60

riolitik

dasitik

65

20
andesitik basaltik

trakhitik

P
10

fonolitik

tefritik

60
foiditik

Gambar 1.27 Klasifikasi batuan beku lapangan

1.2 Batuan Beku Fragmental : Batuan Volkani-

klastik
Batuan beku fragmental adalah batuan yang ter-

susun oleh fragmen-fragmen asal aktivitas volkanik,


yang juga tertanam dalam matriks asal volkanik. Ukuran fragmen bervariasi, dari kasar bongkah, sedangkan matriksnya berupa gelas volkanik, atau tuf halus/kasar. Batuan ini disebut volkaniklastik jika material volkaniknya > 10%, bila tidak maka disebut bat. klastik.

Berdasarkan komposisi material piroklastik/volka-

niknya, batuan volkaniklastik terdiri dari 3 macam,


yaitu :

1. Batuan sedimen volkaniklastik (jumlah material piroklastiknya antara 0% - 25%). 2. Tufit (jumlah material piroklastik 25% - 75%), dan 3. Batuan piroklastik (jumlah material piroklastik 75% - 100%). Dari ketiga macam batuan itu, dapat diklasifikasi lagi menjadi beberapa jenis berdasarkan ukuran butirnya.

Ukuran fragmen ratarata (mm)

Batuan piroklastik (pyroclastic rocks)

Tufit (tuffites)

Batuan sedimen volkaniklastik (volcaniclastic sedimentary rocks)

Aglomerat, atau breksi-piroklastik 64 Batulapili (lapillistone) 2 Tuf kasar (coarse tuff) 0,032 Tuf halus (fine tuff)

Konglomerat-tufan (tuffaceous-conglomerate), atau breksi-tufan (tuffaceous-breccia)

Konglomerat-volkaniklastik (volcaniclasticconglomerate), atau breksivolkaniklastik (volcaniclastic-breccia)

Batupasir-tufan (tuffaceoussandstone)

Batupasir-volkaniklastik (volcaniclastic-sandstone)

Batulumpur-tufan (tuffaceous-mudstone)

Batulumpur-volkaniklastik (volcaniclastic-mudstone)

% material volkanik

100% - 75%

75% - 25%

< 25%

Batuan piroklastik/volkanik yang tergolong brek-

si-piroklastik atau breksi-volkanik dapat disebut breksilahar jika berkarakteristik sbb. : ukuran fragmen sa-

ngat bervariasi (kasar bongkah), tersusun oleh fragmen-fragmen yang beraneka bahan (terdiri dari berjenis-jenis batuan, bahkan dapat mengandung tumbuhtumbuhan, tengkorak binatang, atau manusia), yang tertanam dalam matriks berupa lumpur, kemasnya terbuka tertutup, dan umumnya berwarna abu-abu kehitaman hitam.

Karakteristik yang seperti ini diperoleh akibat

dari breksi-volkanik yang mengalir (bercampur air) di


atas permukaan tanah, dan selanjutnya mengangkut/

membawa semua material yang terdapat di atas permukaan yang dilaluinya. Batuan piroklastik yang tergolong tuf, dapat dibagi lagi menjadi 3 jenis berdasarkan komposisinya, yaitu : (1) tuf vitrik, (2) tuf kristal, dan (3) tuf litik (Schmid, 1981, dalam Gillespic and Styles, 1999, h. 31 ; Gambar 2.28).

Gambar 1.28

Klasifikasi dan
tatanama tuf

Pumis, fragmen gelas

berdasarkan
komposisi
50%

Tuf vitrik

50%

fragmennya,
menurut Schmid (1981)
Tuf kristal Fragmen kristal 50% Tuf lithik Fragmen batuan

Batuan piroklasik/volkanik dapat dibagi lagi ber-

dasarkan ukuran butirnya menjadi 5 jenis (Gambar


1.29), yaitu : (1) breksi-piroklastik/breksi-volkanik,

atau aglomerat (jika bentuk komponennya membulat


membulat-tanggung), (2) tuf-breksi (brecia-tuff), (3) batulapili (lapillistone), (4) tuf-lapili (lapilli-tuff), dan (5) tuf (tuff) (Fisher and Schminke, 1984, dalam Gillespic and Styles, 1999, h. 32 ; Gambar 2.29).

Gambar 1.29 Klasifikasi batuan piroklastik menurut Fisher dan Schminke (1984)
Bom dan blok (> 64 mm) Aglomerat, atau breksi piroklastik 75

Breksi-tuf

25 Batulapili Lapili (64 - 2 mm) Tuf-lapili Tuf Abu (< 2 mm)