Anda di halaman 1dari 12

PENGERTIAN EKONOMI POLITIK Menurut Lord Robin, (1977: 3) Dalam bukunya yang berjudul Political Economy: Post and

Present: A Review of Leading Theories of Economy policy. Ekonomi Politik dapat mengandung dua versi :
a) Ekonomi Politik Klasik adalah suatu kesatuan yang menyeluruh dari suatu pembahasan

sejak dari ilmu ekonomi murni sampai dengan teori-teori tentang kebijakan murni yang meliputi analisis dari bekerjanya ekonomi pasar, alternatif sistem kebijakan dan prinsipprinsip keuangan negara.
b) Ekonomi Politik Modern adalah ekonomi politik yang membahas bagai mana sistem

ekonomi itu bekerja, dapat bekerja, harus dibuat bekerja dan memungkinkan dirinya bekerja. Meskipun demikian ia bukanlah sciencetific economics yang merupakan himpunan dari value free generalization tentang cara-cara sistem ekonomi itu bekerja. Ekonomi politik disini membicarakan prinsip-prinsip umum dalam bidang ekonomi.

Menurut Paul Samuelson, Ekonomi Politik sebagai sebuah studi mengenai sistem ekonomi itu sendiri, yang diartikan sebagai cara masyarakat mengatasi masalah ekonomi fundamental yang serupa di manapun. Ekonomi Politik adalah pure ilmu ekonomi yang bersifat teoritis. Ekonomi Politik bersifat praktis yang menonjolkan seninya (The Art of Economics). Menurut Edwin R.A. Seligman (1962: 345), Ekonomi Politik merupakan suatu disiplin ilmu yang berkenaan dengan hubungan-hubungan ekonomi dan perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat yang seringkali mengaitkan diri dengan faktor-faktor politik. Menurut Robert Heilbroner Dalam bukunya yang berjudul On The Possibility of Political Economics (1977). Apabila ilmu ekonomi masa depan ingin tetap relevan dengan soal-soal modern, maka perubahan-perubahan yang harus dilakukan oleh ilmu ekonomi perlu mencakup 3 hal:
Pertimbangan politik yang secara eksplisit harus diperkenalkan dalam riset-riset ekonomi,

Ruang lingkup Teori Ekonomi Konvensional harus diperluas hingga mencakup juga dimensi

politik, dan
Paradigma Ilmu Ekonomi harus digantikan dengan paradigma baru yang lebih luas

Menurut Warren F. Ilchman dan Norman T.Uphofff Ekonomi Politik adalah :


suatu integrated sosial science of public purpose. Ekonomi Politik bersifat politik karena membahas segi otoritas negara dalam masyarakat dan

bersifat ekonomi karena membahas masalah-masalah alokasi dan pertukaran sumber-sumber yang langka, termasuk sumber-sumber sosial dan politik.
Ekonomi Politik merupakan ilmu ekonomi dengan menggunakan pendekatan multidisiplin. Ekonomi Politik berkepentingan dengan semua persoalan yang memiliki relevansi dengan

kebijakan-kebijakan dan masalahmasalah umum, juga memperhatikan dan mendorong partisipan aktif melibatkan diri dalam perspektif kehidpan sosial dan politik

Menurut Albert O. Hirchman Ekonomi Politik merupakan bentuk trespass yang meliputi 2 aspek pokok, yaitu:
Aspek Explanatory yang berusaha menjelaskan proses hubungan antara bidang politik dan

ekonomi.
Aspek Normatif membicarakan bagaimana pengaturan kedua bidang eksterm itu seharusnya

dihubungkan (Hirschman.1981: 5).

Ekonomi Politik adalah bidang studi yang khusus mempelajari interaksi politik dan ekonomi. Berbagai perbedaan antara sektor publik (pemerintah) dan sektor pasar atau sektor swasta serta segenap implikasinya terhadap politik dan ekonomi yang menjadi fokus utamanya. Fokus itu kemudian dijabarkan kembali ke dalam pembahasan mengenai keterlibatan pihak pemerintah atau negara dalam perekonomian individu dalam konteks sosial (masyarakat) serta

mengenai segenap konsekuensi ekonomis dari ukuran serta struktur tertentu dari sektor publik (pemerintah).

SEJARAH : LATAR BELAKANG LAHIRNYA EKONOMI POLITIK jika diperhatikan dari latar belakang sejarah, sebenarnya disiplin ekonomi politik ini sudah sangat tua. Yang jelas, hubungan ekonomi dan politik ini sudah di bahas oleh filsuf yunani kuno seperti aristoteles. Pembahasan dan pengaplikasian ekonomi politik lebih berkembang pada abad ke 14 saat terjadinya transisi dari kekuasaan raja kepada kaum saudagar, yang lebih dikenal dengan era merkantilisme. Praktik yang dilakukan para saudagar (merchant) yang sangat merugikan petani tidak disukai oleh francis Quesnay, yang pandangannya dikenal dengan sebutan fisiokratisme. Walau sudah ada pemikiran-pemikiran tentang kaitan antara ekonomi dan politik sejak masa yunani kuno, ilmu ekonomi politik baru memperoleh bentuk pada pertengahan abad ke 18 sejak ditulisnya the wealth of nations oleh ekonom klasik adam smith pada tahun 1776, selai smith, pakar ekonomi klasik yang paling awal mengembangkan disiplin ilmu ekonomi politik adalah david ricardo (1772-1823). Ricardo menulis essay on the influence of a law price of corn on the profit of stock pada tahun 1815, yang di tahun 1817 judulnya diubah menjadi on the principle of political economy and taxation. Pakar klasik lain yang juga cukup intens membahas ekonomi politik adalah Thomas Malthus (1766-1834) dan jhon stuart mill(1873). Pemikiran Malthus tentang ekonomi politik dapat diikuti dari dua bukunya yaitu principles of political economy (1820) dan definitions of political economy (1827), sedangkan gagasan J.S. Mill dapat dilihat pada bukunya principles of political economy with some of their application to sosial philosophy(1848). Pada masa klasik, antara ilmu ekonomi dengan ilmu politik masih menyatu. Tetapi kemudian di tangan tokoh-tokoh ekonomi neoklasik, ilmu ekonomi makin berkembang berkatbantuan dari ilmu matematika (terutamakalkulus) dan ilmu statistika, sedangkan ilmu politik relative berada di tempat. Sejak itu ilmu ekonomi bercerai dengan ilmu politik dan pakarpakar ekonomi neoklasik meresmikan ilmu ekonomi sebagai disiplin ilmu tersendiri. Tetapi perceraian yang disebutkan diatas barutalak satu. Beberapa peristiwa tahun 60-an dan tahun 70-an memaksa kedua pasangan ini rujuk kembali. Masalahnya banyak saran yang

dikemukakan oleh pakar-pakar ekonomi murni yang tidak berjalan sewaktu diterapkan di Negara-negara berkembang karena adanya perilaku kalap rente(rent-seekers) dari para penyelenggara Negara. Karena hal ini menyangkut perilaku, pakar-pakar ekonomi politik neoklasik mulai mempelajari teori-teori tentang perilaku (individu,organisasi maupun sosial) seperti teori pertukaran dan teori perilaku birokratis. Selain itu situasi dunia internasional pada tahun 70-an semakin memperkokoh penyatuan antara ekonomi internasional dan hubungan (politik) internasional ke dalam ekonomi politik internasional. Penghapusan standar emas oleh amerika tahun 1971, munculnya OPEC, meroketnya perekonomian jepang serta tuntutan Negaranegara berkembang untuk menata ekonomi internasional yang lebih adil telah memaksa ilmuanilmuan sosial untuk memahami interaksi ekonomi dan politik. Ilmu ekonomi dengan ilmu politik semakin rukun berkat karya-karya Kenneth Arrow, mancur olson, William riker, james Buchanan dan Gordon tullock. Mereka mengembangkan apa yang disebut ekonomi politik baru (new political economics) dengan dua variasi: Teori Pilihan rasional (rational choice) dan teori pilihan publick (public Choice). Dilihat dari model ekonomi politik baru dapat disimpulkan bahwa terpisahnnya ilmu ekonomi dengan ilmu politik di masa lalu hanya karena pakar ekonomi murni pada periode-periode sebelumnya lebih sibuk dengan fenomena,transaksi, dan penataan pasar tetapi tidak atau kurang mau terlibat dalam memperhatikan fenomena,transaksi dan penataan non pasar. Padahal konsep non pasar dapat digunakan oleh ekonom untuk menjelaskan dan menganalisis berbagai kebijaksanaan public. Penggunaan metode analisis ekonomi politik dikembangkan lebih lanjut oleh pakar-pakar ekonomi yang terbagabung dalam aliran institusional (dorodjatun kunctjoro jakti, 1991). Aliran institusional menggabungkan kedua analisis ekonomi dan politik secara timbal balik, yaitu penerapan metode analisis politik ekonomi yang berasal dari teori politik untuk memahami permasalahan ekonomi (the political theory of economics) dan penerapan analisis ekonomi politik yang bersumber dari teori ekonomi untuk memahami permasalahan politik (the economic theory of politics). Dengan semakin mengglobalnya perekonomian, banyaknya campur tangan lembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF dan bank dunia, di agendakannya perekonomian global oleh WTO, serta banyaknya keterlibatan perusahaan-perusahaan multinasional dari Negara-negara

maju yang didukung oleh Negara masing-masing semuanya karena pengaruh neoliberalismemaka ekonomi tidak bisa lagi dipisahkan dengan politik.

KAITAN ANTARA EKONOMI DAN POLITIK Sebelum membahas lebih rinci tentang sifat keterkaitan antara ekonomi dan politik, ada baiknya kita memahami arti kedua kata (yaitu ekonomi dan politik) itu terlebih dahulu. Ekonomi Dalam bahasa sehari-hari istilah ekonomi mengandung banyak arti. Hal ini tentu akan berimplikasi terhadap pembahasan mengenai ekonomi itu sendiri. Pertama ada yang memaknai ekonomi sebagai cara melakukan sesuatu, seperti dalam istilah ekonomis atau kalkulasi ekonomi yang konotasinya adalah efisiensi. Kedua ada yang memaknai ekonomi sebagai aktivitas yang biasanya di tujukan untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan. Ketiga ada yang melihat ekonomi sebagai institusi seperti dalam istilah ekonomi pasar atau ekonomi komando(caporaso & Levine 1993). Adanya tiga pemaknaan ekonomi tersebut sangat berpengaruh sewaktu kita berusaha mengaitkannya dengan istilah politik. Bila kita mengartikan ekonomi sebagai cara kalkulasi ekonomi maka politik hanya menjadi tempat dimana kalkulasi tersebut dilakukan. Disini, ekonomi cenderung mendominasi, yang menentukan apa yang dilakukan dan mengapa kita melakukan kalkulasi tersebut. Pemberian tekanan pada kalkulasi membawa kita pada penekanan dalam preferensi subjektif, motivasi perorangan dan kepentingan pribadi. Bila kita mengartikan ekonomi sebagai aktivitas seperti terhadap material provisioning, kita cenderung membatasi ekonmi dan bahkan memungkinkan kita untuk memisahkan aktivitas ekonomi dengan aktivitas politik. Bila kita mengartikan ekonomi sebagai institusi, maka ekonomi menjadi suatu ruang sosial dan bukan aktivitas material atau kalkulasi privat dalam situasi yang terkait dengan realitas sosial tentang kehidupan di luar ekonomi. Politik

Walau konsep politik tidaklah sejelas konsep ekonomi, konsepsi tentang politik banyak sekali. Hal ini dapat dilihat dari begitu banyaknya definisi yang diberikan para pakar tentang politik. Ada yang mengartikan politik sebagai : siapa yang mendapat apa, kapan, dan bagaimana (Lasswell, 1936); perjuangan untuk mendapat kekuasaan (morganthau, 1960); seni dan ilmu tentang pemerintahan (schattschneider, 1960); pola-pola kekuasaan, aturan-aturan dan kewenangan (Dahl, 1956); ilmu tentang Negara (Easton, 1981) konsilasi dari pihak-pihak yang bertentangan melalui kebijakan public (Crick, 1964). Definisi Ekonomi Politik Martin staniland (1985) pada tahun 1960 an melihat sebuah fenomena yang menarik, dimana pengarang atau penulis professional yang ingin popular pada masa itu banyak mengawali judul buku atau tulisannya dengan ungkapan the polities of (kemudian diikuti dengan hal-hal yang ingin dibahas, seperti pembangunan, pembaharuan kota, judi dan sebagainya). Kemudian pelan tetapi pasti, tren pun berubah dimana judul buku atau tulisan lebih banyak dimulai dengan ungkapan the political economy of sehubungan dengan perubahan tren tersebut staniland pernah mengecek katalog perpustakaan dan menemukan tidak kurang dari 117 buku yang diawali dengan the political economy of tersebut mencakup subjek yang sangat beragam, seperti periklanan, Appalachia, seni, perdagangan obat terlarang, perdagangan timur-barat, hakhak azasi manusia, Fiji merdeka, nasserism, perbuatan, perang, rasisme dan sebagainya. Melihat fenomena diatas staniland mengajukan beberapa pertanyaan: apakah perubahan tersebut tidak lebih dari perubahan selera akademis belaka? Apa sebetulnya yang dimaksudkan oleh para penulis tentang pendekatan ekonomi politik? apakah mereka sepakat dengan ungkapan ekonomi politik tersebut? Mengapa mereka lebih menyukai pendekatan ekonomi politik ketimbang pendekatan lainnya?. Untuk pertanyaan pertama agaknya relative mudah dijawab. Disamping fashionable, penggunaan ungkapan ekonomi politik akan lebih memudahkan penulis mengarahkan pada isu dalam teori sosial, yaitu hubungan antara ilmu ekonomi dan ilmu politik. Hubungan antara ekonomi dan politik bisa bermakna eksplanatori (menjelaskan bagaimana keduanya terkait) adan bisa juga bersifat normative (bagaimana seharusnya sifat perkaitan di antara kedua disiplin ilmu tersebut). Pernyataan seperti ini bisa ditelusuri dalam tulisan ahli sosial jauh hingga masa aristoteles.

Sedangkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan berikutnya relative lebih sukar. Walaupun para penulis yang diteliti katanya telah menggunakan pendekatan ekonomi politik , kebanyakan diantara mereka tidak memberikan definisi yang jelas tentang pendekatan ekonomi politik yang mereka gunakan. Bahkan, implikasi dari penggunaan pendekatan ekonomi politik yang mereka gunakan juga tidak dijelasakan. Staniland menemukan bahwa tidak jarang ungkapan ekonomi politik hanya digunakan oleh segelintir penulis untuk pembungkus topik bahasan yang tidak menarik. Dan jika diimbuhi dengan titel ekonomi politik terdengar lebih keren sehingga orangorang tertarik membacanya. Lalu apa sebetulnya yang disebut ekonomi politik itu? Dari judul buku yang ditulis martin staniland What is political economy? A study of sosial theory and underdevelopment (1985), kita segera mengetahui makna dari ekonomi politik tersebut, yaitu : sebuah studi tentang teori sosial dan keterbelakangan. Lebih lanjut, staniland menguraikan definisi tentang ekonomi politik tersebut sebagai berikut : mengacu pada masalah dasar dalam teori sosial: hubungan antara politik dan ekonomi. Isu ini memiliki dua sisi baik eksplanatori maupun normative. Isu ini memunculkan pernyataan mengenai bagaimana kedua proses tersebut saling terkait dan mengenai bagaimana seharusnya mereka terkait. Pemaknaan terhadap ekonomi politik tidak terbatas pada studi tentang teori sosial dan keterbelakangan. Menurut caporaso & Levine (1993), pada awalnya ekonomi politik dimaksudkan untuk memberikan saran mengenai pengelolaan masalah-masalah ekonomi kepada para penyelenggara Negara. Hal ini sesuai dengan pemaknaan ekonomi politik pada waktu itu sebagai pengelolaan masalah-masalah ekonomi Negara (political economy referred to the management of economic affairs of the state). Selanjutnya, ekonomi politik oleh pakar-pakar ekonomi poltik baru lebih diartikan sebagai analisis ekonomi terhadap proses politik. Dalam kajian tersebut mereka mempelajari institusi politik sebagai entitas yang bersinggungan dengan pengambilan keputusan ekonomi politik, yang berusaha mempengaruhi pengambilan keputusan dan pilihan public baik untuk kepentingan kelompoknya maupun untuk kepentingan masyarakat luas. Dalam penggabungan analisis ekonomi dengan politik oleh pakar-pakar ekonomi politik baru, banyak yang curiga bahwa para ekonom telah melakukan penjajahan dan mengambil alih tugas para pakar politik. Kecurigaan ini bukannya tidak berdasar sebab menurut Albert O Hirschman

dalam Essay in Trespassing Economics to Polities and beyond (1981), Ekonomi Politik memang merupakan penjajahan dari ilmu ekonomi ke dalam ilmu politik. Jika istilah penjajahan terdengar terlalu kasar, dalam bahasa yang lebih netral ekonomi politik merupakan peralihan yang eskalatif dari ilmu ekonomi klasik yang sederhana menuju ilmu ekonomi pembangunan yang semakin kompleks dan karena itu semakin menarik untuk dikaji lebih mendalam (leo Agustino,2000). Bahwa ekonomi politik merupakan penjajahan ilmu ekonomi terhadap ilmu politik atau peralihan eskalatif dari ilmu ekonomi murni ke ekonomi pembangunan yang lebih kompleks sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Buktinya para pakar politik juga mampu memperlihatkan bahwa system politik menentukan hubungan antara mereka yang memiliki kekuatan politik dengan yang kurang atau yang tidak memiliki kekuatan. Selain itu system politik menentukan hubungan antara penguasa (ruler) dengan masyarakat. Dengan demikian bagi ahli ekonomi politik, kegiatan ekonomi seperti kegiatan-kegiatan lain dalam masyarakat, tidak terlepas dari konteks politik. Tegasnya system politik tidak hanya membentuk power relationship dalam masyarakat, tetapi juga menentukan nilai-nilai serta norma-norma yang sedikit banyak akan menentukan apa dan bagaimana berbagai kegiatan ekonomi dilaksanakan dalam masyarakat. Apakah para ekonom sudah mengambil alih tugas ahli-ahli politik atau justru para ahli politik telah berhasil menjadikan politik sebagai panglima, sebetulnya tidak perlu diperdebatkan sebab yang namanya ilmu ekonomi politik merupakan sinergi antara ilmu ekonomi dan ilmu politik. Dengan sudut pandang yang lebih positif ini diharapkan bahwa kajian tentang ekonomi politik akan membawa kita pada pemahaman bahwa bekerjanya suatu system ekonomi dan proses politik merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Sebagai suatu disiplin ilmu yang lebih komprehensif, ekonomi politik lahir dari berbagai upaya yang dilakukan untuk menemukan sinergi, mengisi kekosongan (cross fertilization) yang tidak dijumpai dalam satu disiplin ekonomi atau disiplin politik saja (Arifin & Rachbini, 2001). Penggabungan analisis politik dalam kajian ekonomi atau analisis ekonomi dalam kajian politik saat ini sangat diperlukan, sebab dengan berbekal ilmu ekonomi atau ilmu politik saja kita sering menemui kesulitan dalam menjelaskan berbagai gejala dan masalah yang dihadapi. Seperti

diketahui, dalam kenyataan akhir-akhir ini semakin banyak masalah ekonomi yang tidak berhasil diatasi karena terkait erat dengan politik dan hukum, bahkan juga dengan budaya dan agama. Bagaimana hubungan antara ekonomi dengan politik, hukum sosial, dan budaya sangat jelas pada saat Indonesia dan Negara-negara asia ditimpa krisis tahun 19998/1998. Dalam peristiwa ini, krisis moneter berubah menjadi krisis ekonomi yang bercampur baur dengan krisis politik, moral, dan sebagainnya. Jika masalah multikrisis ini didekati dengan kajian ekonomi saja, hamper bisa dipastikan hasilnya tidak memuaskan. Bagitu juga kalau didekati dengan mengandalkan ilmu politik saja, hasilnya pastilah tidak optimal. Dengan menggunakan pendekatan ekonomi politik, diharapkan berbagai persoalan bisa diatasi dengan lebih baik karena sudah didasarkan pada kajian yang lebih komprehensif. Pendekatan ekonomi politik yang lebih komprehensif menjadi daya tarik yang menyebabkan bidang ilmu ekonomi politik ini semakin menarik minat banyak kalangan akhir-akhir ini. Namun sebagian ekonom, terutama dari aliran neoklasik, umumnya menilai bahwa pendekatan ekonomi politik ini lebih inferior disbanding pendekatan analisis ekonomi murni dalam upaya memahami peristiwa ekonomi, proses ekonomi, ataupun perilaku actor-aktor atau faktor-faktor ekonomi, pakar-pakar ekonomi murni juga mengkritik pendekatan ekonomi politik sebagai jalan pintas bagi ekonom yang kurang mahir dibidangnya, atau oleh non ekonom, agar kelihatan lebih hebat. Analisis ekonomi politik dianggap kurang keras, walau analisis dan kritikannya kadang terlalu ekstrem. Bagi ekonom tulen hanya analisis ekonomi murni yang jernih pembahasannya tentang peristiwa, proses, atau perilaku ekonomi, sebab didasarkan atas kajian yang bersifat netral, objektif, dan tidak memihak. Terlepas dari berbagai kritikan diatas, banyak pula pakar yang menganggap pendekatan ekonomi politik lebih baik, terutama dalam menganalisis peristiwa dan fenomena yang tinggi kadar campuran ekonomi dengan politiknya. Para pendukung ekonomi politik seperti dorodjatun kuntjoro jakti menganjurkan agar pendekatan ekonomi politik, lebih-lebih ekonomi politik kelembagaan, harus lebih diperhatikan oleh sejumlah kalangan ahli ilmu sosial, termasuk ekonom, dan jika memungkinkan teknik analisis ekonomi politik ini lebih ditingkatkan kualitasnya. Untuk itu, para akademisi yang menggunakan pendekatan ekonomi politik tidak boleh berhenti pada analisis dari sekumpulan variabel atau parameter ekonomi politik tidak boleh berhenti pada analisis dari sekumpulan variabel atau parameter ekonomi pada saat mencoba

memahami suatu peristiwa ekonomi ataupun politik, tetapi disamping itu juga harus berupaya keras menyelidiki actor yang terlibat dalam gerakan variabel atau parameter tersebut serta tidak lupa mengkaji struktur sosial dan politik yang menghubungkan satu actor dengan yang lainnya.

CAKUPAN ILMU EKONOMI POLITIK Ekonomi politik menggunakan berbagai pendekatan, membahas banyak topik dan melintasi berbagai disiplin ilmu. Lebih jelas, ekonomi politik merupakan kajian yang sangat komprehensif, membahas banyak segi , dan bersifat interdisipliner, tidak hanya melibatkan ilmu ekonomi dan politik, tetapi kadang-kadang juga ilmu sosial, budaya, hukum, dan psikologi. Dalam hal ini, ada kebaikan dari kajian yang bersifat komprehensif dan interdisipliner. Dengan memasukan variabel-variabel non ekonomi dalam pembahasan, diharapkan analisis terhadap suatu peristiwa menjadi lebih tajam. Namun, kelemahan nya juga ada. Karena sifat kajian yang bersifat interdisipliner, masalah barupun timbul : kita semakin sukar menentukan batasan-batasan kajian, dan dengan sendirinya juga sulit membangun teori-teori dan konsep-konsep yang relevan dalam pembahasan suatu persoalan. Sayangnya dimasa depan persoalan yang kita hadapi bukannya semakin sederhana tetapi justru menjadi semakin rumit. Seperti diungkapkan oleh staniland (1985): Di masa-masa sekarang ini, aktivitas pembangunan teori menjadi lebih rumit dikareanakan: peningkatan keterlibatan pemerintah dalam kehidupan perekonomian: bertambahnya kompleksitas dalam hubungan ekonomi internasional : dan tekanan pembangunan di Negara Dunia Ketiga. Kerumitan pertama yang dihadapi adalah kecenderungan semakin dalamnya pemerintah terlibat dalam urusan ekonomi, sebagai dampak pandangan Keynes tentang perlunya intervensi pemerintah dalam mengatur perekonomian makro. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Joe Oppenheimer (1980) : setelah ekonom Keynesian mempersilakan peran politisi dalam perekonomian, teori ekonomi tidak lagi tertutup untuk variabel-variabel politik. Selain disebabkan oleh semakin tingginya derajat campur tangan pemerintah, tugas pakar-pakar ekonomi politik dalam membangun teori-teori dan konsep-konsep yang handal menjadi lebih berat dengan semakin kompleksnya hubungan ekonomi internasional dan adanya tekanan

pembangunan di Negara-negara sedang berkembang yang dipaksakan oleh lembaga-lembaga ekonomi internasional seperti IMF, Bank Dunia dan WTO. Kerumitan semakin terasa dengan terjadinya peristiwa penyerangan World Trade Center dan Pentagon Tanggal 11 september 2001 yang katanya dilakukan teroris yang didanai osama bin laden. Apakah ini merupakan peristiwa ekonomi (untuk memetik keuntungan dalam pasar modal, memnangkan persaingan bisnis) atau bersifat politik (menghancurkan kekuatan lawa, terutama Amerika Srikat yang sudah semakin kelewatan dengan aksi-aksinya menegakkan demokrasi di Negara-negara berkembang khususnya Negara-negara islam )? Sebagian besar umat islam, seperti juga Alm. Paus Paulus II, yakin bahwa peristiwa 11 september 2001 tak ada kaitan dengan agama manapun. Yang lebih menarik, sebagaian orang berpandangan bahwa serangan 11 september 2001 justru diciptakan untuk menghancurkan umat islam. Walau sudah banyak orang yang mengeluarkan teori tentang serangan 11 september 2001 tersebut, hingga saat ini belum ada pakar yang mampu menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi di balik penyerangan gedung WTC dan pentagon tersebut. Juga tidak ada pakar, baik pakar ekonomi, politik, dan ahli sosial lainnya yang bisa menerangkan dengan jelas dampak berikut implikasi dari serangan 11 september terhadap perekonomian dan politik di berbagai belahan dunia. Karena tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, pihak-pihak yang berkepentingan juga masih belum pasti dalam memilih teori-teori atau konsep-konsep yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi, yang pasti, dunia pasca penyerangan gedung WTC menjadi semakin rumit, berisiko tinggi, dan penuh dengan ketidak pastian. Karena persoalan yang dihadapi pada masa sekarang dan di masa depan lebih rumit, semakit sulit bagi kita untuk mengembangkan teori-teori dan konsep yang pas untuk mengatasi berbagia persoalan yang dihadapi. Tetapi hal ini hendaknya tidak menjadikan kita pesimis. Walau dimasa datang kita dihadapkan pada dunia yang rumit, serba tak pasti, dan juga penuh risiko, kita tetap harus mengambil berbagai keputusan. Dalam hal ini keputusan yang diambil hendaklah didasarakan pada landasan teori dan konsep-konsep ekonomi politik yang solid. Dengan berbekal teori-teori dan konsep-konsep yang solid serta peralatan yang baik, kita dapat memecahkan persoalan yang dihadapi. Selain itu, teori-teori dan konsep-konsep yang digunakan dapat pula menjelaskan peristiwa apa yang sesungguhnya terjadi di tengah-tengah masyarakat,

dan yang lebih penting lagi kita juga harus mampu menggiring bagaimana atau ke arah mana seharusnya peristiwa terjadi sehingga lebih menguntungkan bagi semua pihak.