Anda di halaman 1dari 37

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sejarah Pengolahan Emas Emas pertama kali ditambang di Kolar Gold Fields (KGF) daerah sebelumabad ke-2 dan ke-3 Masehi (benda-benda emas yang ditemukan di Harappa dan Mohenjo-daro telah dilacak ke KGF melalui kotoran analyis kotoran termasuk konsentrasi perak 11%, ditemukan hanya di bijih KGF) dengan menggali lubang kecil. Selama periode Chola di abad ke-9 dan 10 AD skala operasi tumbuh. Sejak dulu kita sering kali membaca artikel tulisan baik itu di internet ataupun di majalah tentang emas yang telah di pakai sejak berabad-abad lama nya, bahkan mungkin sejak beberapa millennium yang lalu. Berikut ini sejarah emas yang dimulai pada tahun 4000 Sebelum Masehi. 1200 Sebelum Masehi Orang Mesir yang menguasai seni pembuatan emas memasukkan emas kedalam daun untuk memperpanjang umur pakai nya, mereka juga mencammpur emasdengan logam lain untuk meningkatkan kekerasan dan variasi warna emas yang dihasilkan (dengan campuran tertentu emas bisa berubah menjadi warna hijau, merah,ungu dll). Pada era ini mereka juga mulai menggunakan teknik lost wax dimana saatini teknik lost wax ini masih menjadi jantung dari industri perhiasan. . 1700 Masehi Dengan diketemukan nya cadangan deposit emas di brazil menjadikan brazil penghasil emas terbesar di dunia pada tahun 1720 dengan kapasitas produksi hampir mendekati 2/3 dari total kapasitas produksi seluruh dunia. Isaac Newton yang berperan sebagai kepala

tambang menetapkan harga dalam satuan mata uang GreatBritain sebesar 84 shillings 11,5 Pence per Troy ounce. The Royal Commission(Komisi Kerajaan) yang terdiri dari Isaac Newton, John Locke, and Lord Somersmemutuskan untuk menarik seluruh mata uang lama dan menerbitkan mata uang barudari emas/perak dengan rasio 16:1. Dengan begitu harga emas pertama kali dididirikan pertama kali di Inggris 200 tahun yang lalu. 1744 Masehi Kebangkitan pertambangan emas di Rusia dimulai pada saat ditemukan nyasingkapan pasir kuarsa di Ekaterinburg pada tahun 1787. Koin Emas Amerika pertama kali di temukan oleh Ephraim Brasher yang berprofesisebagai tukang emas. Emas dari estetika properti fisik dikombinasikan dengan properti sudah lama menjadilogam yang berharga. Sepanjang sejarah, emas telah sering menjadi penyebab konflik : misalnya ada awal tahun 1500-an Raja Ferdinand dari Spanyol menetapkan prioritas kepada para conquistador penakluk - hambanya yang akan berangkat mencari Dunia Baru, "Bawa pulanglah emas," perintahnya kepada mereka, "kalau bisa, dapatkan semanusiawi mungkin,tapi apapun risikonya, bawalah emas." Titah sang raja tersebut menjadi awal pemusnahan peradaban Aztec dan Inca. Konflik karena perebutan emas juga terjadi pada awal ketikaAmerika berburu emas ke Georgia, California, dan Alaska. Pada abad pertengahan, begitu kuat orang mendambakan emas, sehingga lahir ilmu alkimia, dengan tujuan

membuat emas. Manusia modern berhasil mencapai c i t a - c i t a i t u dengan mengekstrak emas dari air laut dan mengubah timbel atau merkurium menjadi emasdalam

mempercepat partikel. Namun emas yang murah tetaplah emas alamiah yang harus ditambang.

Sedangkan

deposit

emas

terbesar Afrika

ditemukan

di

Precambrian Witwatersrand,

Selatan, dengan

luasan ratusan mil dan dengan kedalaman di lebih dari dua mil. Sejak tahun1880-an, Afrika Selatan telah menjadi sumber untuk sebagian besar sediaan emas dunia. Padatahun 1970, produksinya mencapai hingga 70 % dari persediaan dunia, yaitu memproduksi sekitar 1000 ton, namun produksi di tahun 2004 hanya 342 ton. Penurunan ini berhubungan d e n g a n b e r t a m b a h n ya k e s u l i t a n d a l a m e k t r a k s i d a n f a k t o r e k o n o m i ya n g m e m p e r n g a r u h i industri Afrika Selatan. Produsen utama lainnya adalah Kanada, Australia, bekas Uni Soviet,dan Amerika Serikat (Arizona, Colorado, California, Montana, Nevada, South Dakota, dan Washington).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengolahan Emas Pengetahuan tentang mineralogy emas sangat diperlukan dalam memahami teknologi pengolahan emas. Keberhasilan atau kegagalan penerpan suatu teknologi pengolahan dapat dimengerti atau dijelaskan oleh kondisi mineralogy batuan (bijih) emas yang sedang dikerjakan. Mineralogy dari batuan (bijih) emas yang dimiliki harus diketahui sebelum menentukan teknologi pengolahan yang akan diterapkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perolehan emas dalam pengolahan emas adalah: 1. Mineral-mineral pembawa emas Emas urai merupakan mineral emas yang amat biasa editemukan di alam. Mineral emas yang menempati urutan kedua dalam keberadaannya di alam adalah electrum. Minerl-mineral pembawa emas lainnya sangat jarang dan langka. Mineral-mineral emas dapat dilihat pada table dibawah ini

Table 1. mineral-mineral pembawa emas

2. Ukuran butiran mineral emas Ukuran butiran mineral-mineral pembawa emas (misalnya emas urai atau elektrum) berkisar dari butiran yang dapat dilihat tanpa lensa (bebnerapa nm) sampai partikel-partikel berukuran fraksi (bagian) dari satu mikron (1 mikron= 0,001 mm= 0,0000001 cm). ukuran butiran biasanya sebanding dengan kadar bijih, kadar emas yang rendah dalam batuan (bijih) menunjukkan butran yang halus. 3. Mineral-mineral induk Emas berasosiasi dengan kebanyakan mineral yang biasa membentuk batuan. Bila ada sulfida, yaitu mineral yang mengandung sulfur/belerang (S), emas biasanya berasosiasi dengan sulfida. Pirit merupakan mineral induk yang paling biasa untuk emas. Emas ditemukan dalam pirit sebagai emas urai dan elektrum dalam berbagai bentuk dan ukuran yang bergantung pada kadar emas dalam bijih dan karakteristik lainnya. Selain itu emas juga ditemukan dalam arsenopirit dan kalkopirit. Mineral sulfida lainnya (lihat tabel 3) berpotensi juga menjadi mineral induk bagi emas.Bila mineral sulfida tidak terdapat dalam batuan, maka emas berasosiasi dengan oksida besi (magnetit dan oksida besi sekunder), silikat dan karbonat, material berkarbon serta pasir dan krikil (endapan plaser)

Table 2. mineral induk berupa sulfida

4. Asosiasi mineral pembawa emas dengan mineral induk Dari sudut pandang pengolahan/metalurgi ada tiga variasi distribusi emas dalam bijih. Pertama, emas didistribusikan dalam retakan-retakan atau diberi batas antara butiran-butiran mineral yang sama (misalnya retyakan dalam butiran mineral pirit atau dibatasi antara dua butiran mineral (pirit). Kedua, emas didistribusikan sepanjang batas diantara butiran-butiran dua mineral yang berbeda ( misalnya dibatas butiran pirit dan arsenopirit atau dibatas antara butiran mineral kalkopirit dan butiran mineral silikat). Dan yang ketiga emas terselubung dalam mineral induk (misal, emas terbungkus ketat dalam mineral pirit).

B. Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui mengetahui bagaimana teknik pengolahan emas dan metode metode apa yang digunakan dalam penambangan serta proses kimia fisika apa saja yang terdapat dalam pengolahan emas.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Defenisi Emas Emas adalah logam mineral yang merupakan salah satu bahan galian logam yang bernilai tinggi baik dari sisi harga maupun sisi penggunaan. Logam ini juga

merupakan logam pertama yang ditambang karena sering dijumpai dalam bentuk logam murni. Bahan galian ini sering dikelompokkan ke dalam logam mulia (precious metal). Penggunaan emas telah dimulai lebih dari 5000 tahun yang lalu oleh bangsa Mesir. Emas digunakan untuk uang logam dan merupakan suatu standar untuk sistem keuangan di beberapa negara. Di samping itu emas juga digunakan secara besar-besaran pada industri barang perhiasan Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa. Tingkat kekerasannya berkisar antara 2,5 3 (skala Mohs). Berat jenisnya dipengaruhi oleh jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Umumnya emas didapatkan dalam bentuk bongkahan, tetapi di Indonesia hal tersebut sudah jarang ditemukan. Batuan berkadar emas rendah merupakan batuan yang mengandung emas lebih kecil dari 100 mg emas dalam 1 kg batuan. Emas ialah unsur kimia dalam sistem periodik unsur dengan simbol Au (aurum) dan nomor atom 79. Emas merupakan logam lembut, berkilat, berwarna kuning, padat, dan tidak banyak bereaksi dengan kebanyakan bahan kimia, walau dapat bereaksi dengan klorin, fluorin dan akua regia. Logam ini selalu ada dalam bentuk bongkahan dan butiran batuan maupun dalam pendaman alluvial. (Esna, 1988). Kenampakan fisik bijih emas hampir mirip dengan pirit, markasit, dan kalkopirit dilihat dari warnanya, namun dapat dibedakan dari sifatnya yang lunak dan berat jenis tinggi. Emas berasosiasi dengan kuarsa, pirit, arsenopirit, dan perak. Emas terdapat di alam dalam dua tipe deposit. Pertama sebagai urat/vein dalam batuan beku, kaya besi dan berasosiasi dengan urat kuarsa. Endapan lain adalah placer deposit, dimana emas dari batuan asal yang tererosi terangkut oleh aliran sungai dan terendapkan karena
6

berat jenis yang tinggi. Selain itu, emas sering ditemukan dalam penambangan bijih perak dan tembaga. (Addison, 1980). II.2 Tujuan Pengolahan Emas Logam emas adalah komoditi yang unik. Baik produsen maupun konsumen senang apabila harganya naik. Produsen senang karena keuntungannya bertambah dengan naiknya harga emas. Sementara itu, konsumen senang karena simpanannya akan mempunyai nilai yang lebih tinggi.. Penggunaan utama emas adalah untuk bahan baku perhiasan dan benda-benda seni. Selain itu, karena konduktif, emas penting dalam aplikasi elektronik. Kegunaan lain ada di bidang fotografi, pigment, dan pengobatan. II.3 Pengolahan Emas II. 3.1 Metode Eksplorasi Kecenderungan terdapatnya emas terdapat pada zona epithermal atau disebut zona alterasi hidrothermal. Zona alterasi hidrotermal merupakan suatu zona dimana air yang berasal dari magma atau disebut air magmatik bergerak naik kepermukaan bumi. Celah dari hasil aktivitas Gunung api menyebabkan air magmatik yang bertekanan tinggi naik ke permukaan bumi. Saat air magmatik yang yang berwujud uap mencapai permukaan bumi terjadi kontak dengan air meteorik yang menyebabkan larutan ion tio kompleks, ion sulfida, dan ion klorida yang membawa emas terendapkan. Air meteorik biasanya menempati zona-zona retakan-retakan batuan bekuyang mengalami proses alterasi akibat pemanasan oleh air magmatik. Sei ring denganmakin bertambahnya endapan dalam retakan-retakan tersebut, semakin lama retakan-retakan tersebut tertutup oleh akumulasi endapan dari logam-logam yangmengandung ion-ion kompleks yang mengandung emas. Zona alterasi yang potensial mengandung emas dapat diidentifikasi dengan melihat lapisan pirit atau tembaga pada suatu reservoar yang tersusun atas batuan intrusif misalnya granit atau diorit.

a. Metode resistivity Respon emas terhadap IP dan resistivity sangat beragam dan cukup sulitdiidentifikasi dimana tidak setiap vein atau retakan bekas hidrotermal mengandung emas. Berdasarkan hasil IP dan resistivity atau magnetotelurik suatu vein dapat diidentifikasi mengandung emas dengan melihat pada nilai true_R atau tahanan sebenarnya yang sangat kecil, namun perlu diperhatikan bahwa tidak setiap nilai resistivity yang rendah dari suatu vein dipengaruhi oleh emas karena selain emas jugaikut terendapkan mineral pirit dan tembaga yang juga memiliki nilai tahanan jenis yang rendah Korelasi data IP dan resistivity dengan data geokimia suatu zona alterasisangat penting dimana melalui data geokimia kita dapat menentukan mineral apakahyang dominan mengontrol rendahnya nilai resistivitas apakah emas, tembaga, atau pirit. Sehingga kita dapat mengetahui mineral apa yang dominan terendapkan padasuatu vein. Berdasarkan hasil dari IP dan resistivity sebaiknya dikorelasikan lagi dengan data bor lokasi penelitian. Korelasi ini sangat penting karena metode geolistrik (IP dan resistivity) adalah proses awal atau suatu proses perabaan yang merupakan dugaan sementara. Korelasi dari data bor tadi akan meminimalkan error yang ada. Dalam proses analisis geolistrik sebaiknya berhati-hati dengan water tableyang akan menurunkan nilai resistivitas apalagi jika daerah tersebut merupakan suatuzona basah seperti adanya sungai dalam zona argilic nilai resistivitas akan bernilai rendah hal ini akan disebabkan karena adanya ionion yang terikat dalam zonaalterasi argilic. b. Metode Geokimia Eksplorasi geokimia khusus mengkonsentrasikan pada pengukuran

kelimpahan,distribusi, dan migrasi unsur-unsur bijih atau unsur-unsur yang berhubungan eratdengan bijih, dengan tujuan mendeteksi endapan bijih. Dalam pengertian yanglebih sempit eksplorasi geokimia adalah pengukuran secara sistematis satu ataulebih unsur jejak dalam batuan, tanah, sedimen sungai aktif, vegetasi, air, atau gas, untuk mendapatkan anomali geokimia,

yaitu konsentrasi abnormal dari unsur tertentu yang kontras terhadap lingkungannya (background geokimia). Pada metode geokimia, unsur-unsur jejak dan unsur penunjuk dari emas yangmenentukan keberadaan emas, misalnya unsur perak (Ag) dan batuan disekitarnya. Selain itu, vegetasi di sekitar keterdapatan emas

menunjukkankeberadaan emas.Alasan penggunaan unsur penunjuk antara lain: 1.Unsur ekonomis yang diinginkan sulit dideteksi atau dianalisis 2.Unsur yang diinginkan deteksinya mahal 3.Unsur yang diinginkan tidak terdapat dalam materi yang diambil (akibat perbedaan mobilitas) Contohnya : Emas kelimpahannya kecil dalam bijih, oleh karena itu poladispersinya hanya mengadung kadar emas yang sangat rendah, kurang dari batasminimal yang dapat dianalisis. Di lain pihak, Cu, As, atau Sb dapat berasosiasi dengan emas dalam kelimpahan yang relatif besar.

II. 3. 2 Proses Penambangan Dalam penambangan emas, logam emas tidak berada dalam bentuk murninya,akan tetapi masih bercampur dengan logam dan campuran lain. Karena itu perlu adanya pemisahan dan pemurnian logam emas. Selama ini, pemisahan emas dilakukan dengan cara sianidasi, amalgamasi, dan peleburan Sedangkan pemurnianemas dengan cara elektrolisis. Namun metode-metode tersebut banyak menimbulkan dampak negatif bagilingkungan.. Hal ini karena bahan kimia yang digunakan untuk reaksireaksi diatas bersifat toksik terhadap lingkungan. a. Amalgamasi Amalgamasi adalah proses penyelaputan partikel emas oleh air raksa dan membentuk amalgam (Au Hg). Amalgam masih merupakan proses ekstraksi emas yang palingsederhana dan murah, akan tetapi proses efektif untuk bijih emas yang berkadar tinggidan mempunyai ukuran butir kasar (> 74 mikron) dan dalam membentuk emas murni yang bebas (free native

gold).Proses

amalgamasi

merupakan

proses

kimia

fisika,

apabila

amalgamnya dipanaskan,maka akan terurai menjadi elemen-elemen yaitu air raksa dan bullion emas. Amalgamdapat terurai dengan pemanasan di dalam sebuah retort, air raksanya akan menguapdan dapat diperoleh kembali dari kondensasi uap air raksa tersebut. Sementara Au-Agtetap tertinggal di dalam retort sebagai logam Metode amalgamasi, yang dalam penggunaannya melibatkan raksa, hanya dapat mengisolasi emas sekitar 50%-60%. Selain dinilai tidak efisien, raksa jugamenghasilkan residu yang berdampak negatif bagi lingkungan (Hocker, 2000).Bahkan uap raksapun dianggap berbahaya jika terhirup manusia. Gejala keracunan pada manusia antara lain : batuk, nyeri dada, bronchitis, pneumonia, tremor,insomnia, sakit kepala, cepat lelah, kehilangan berat badan, dan gangguan pencernaan. b. Sianidasi Proses Sianidasi terdiri dari dua tahap penting, yaitu proses pelarutan dan proses pemisahan emas dari larutannya. Pelarut yang biasa digunakan dalam proses cyanidasi adalah NaCN, KCN, Ca(CN)2, atau campuran ketiganya. Pelarut yang paling sering digunakan adalah NaCN, karena mampu melarutkan emas lebih baik dari pelarut lainnya. Secara umum reaksi pelarutan Au dan Ag adalah sebagai berikut: 4Au + 8CN- + O2 + 2 H2O = 4Au(CN)2- + 4OH4Ag + 8CN- + O2 + 2 H2O = 4Ag(CN)2- + 4OH Pada tahap kedua yakni pemisahan logam emas dari larutannya dilakukan dengan pengendapan dengan menggunakan serbuk Zn (Zinc precipitation). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: 2 Zn + 2 NaAu(CN)2+ 4 NaCN +2 H2O = 2 Au + 2 NaOH + 2 Na2Zn(CN)4 + H2 2 Zn + 2 NaAg(CN)2 + 4 NaCN + 2 H2O = 2 Ag + 2 NaOH + 2 Na2Zn(CN)4 +H2 Penggunaan serbuk Zn merupakan salah satu cara yang efektif untuk larutan yangmengandung konsentrasi emas kecil. Serbuk Zn yang ditambahkan kedalam larutanakan mengendapkan logam emas dan perak. Prinsip pengendapan ini

10

mendasarkanderet Clenel, yang disusun berdasarkan perbedaan urutan aktivitas elektro kimia darilogam-logam dalam larutan cyanide, yaitu Mg, Al, Zn, Cu, Au, Ag, Hg, Pb, Fe, Pt.setiap logam yang berada disebelah kiri dari ikatan kompleks sianidanya dapatmengendapkan logam yang digantikannya. Jadi sebenarnya tidak hanya Zn yangdapat mendesak Au dan Ag, tetapi Cu maupun Al dapat juga dipakai, tetapi karenaharganya lebih mahal maka lebih baik menggunakan Zn. Proses pengambilan emas- perak dari larutan kaya dengan menggunakan serbuk Zn ini disebut Proses MerillCrowe Mengingat metode-metode yang tidak ramah lingkungan tersebut, makadiperlukan metode lain yang lebih ramah terhadap lingkungan. Menurut Gardea-Torresdey, et al. (1998) sejak lama telah diketahui bahwa tumbuhan memilikikemampuan untuk mengambil emas dari tanah dan mengakumulasikannya dalam jaringan secara cepat, baik secara aktif melalui metabolisme tumbuhan atau secara pasif melalui gugus fungsional dalam jaringan tumbuhan. Kemampuan ini dapatdimanfaatkan untuk memperoleh kembali ion emas(III) dari larutannya. Dewasa ini telah banyak dikembangkan metode adsorpsi dengan menggunakan biomassa tumbuhan, yang dikenal sebagai metode fitofiltrasi. Biomassa tumbuhandapat digunakan untuk mengadsorpsi ion logam kationik maupun anionik. Berbagai penelitian

menunjukkan bahwa biomassa tumbuhan dapat mengikat berbagai ionlogam seperti Cu(II), Ni(II), Cd(II), Cr(III), Sn(II), Au(III), dan Zn(II) (Gardea-Torresdey, et al. 1998). Selain itu, biomassa bersifat biodegradable, sehingga penggunaannya bersifat ramah lingkungan. Tiemann, et al., (2004) menduga bahwa gugus - gugus aktif yang terdapat pada protein dalam tumbuhan berperan penting bagi proses pengikatan ion

logam.Tumbuhan yang memiliki kadar protein tinggi dan dapat digunakan untuk mengikat emas(III) dengan metode fitofiltrasi adalah rumput gajah. Metode fitofiltrasi ini diharapkan sebagai metode alternatif yang dapat digunakan dalam pengolahan pertambangan emas di Indonesia, sehingga residu dari hasil tambang emas yang diperoleh tidak akan membahayakan bagi lingkungan, hewan,dan manusia.

11

Pengolahan emas sistem pelarutan ( leaching) sianida ataupun tioureakonvensional baru bernilai jika dilakukan terhadap batuan dengan kandunganminimal emas 5 gram / ton. Padahal dalam kenyataannya mayoritas batuan emasmemiliki kandungan yang lebih kecil dari itu. Agar batuan dengan kandungan emas minimal 1 gram / ton dapat diproses secara ekonomis, maka diciptakan sistem pengolahan dump leach / heap leach. Berbeda dengan cara - cara konvensional, dalam sistem ini tidak dilakukan penghalusan ukuran batuan. Dengan kata lain tak perlu dilakukan proses prosesmekanis terhadap batuan hasil tambang. Batuan dengan ukuran seperti apa adanyaditumpuk diatas bidang datar ( lapang) yang telah dilapisi polimer sejenis plastik.Plastik berfungsi menahan cairan kimia agar tak meresap ke lapisan tanah di bawahnya, sehingga aman dari pencemaran. Proses pelarutan dilakukan dengan menyemprot cairan kimia dengan metodehujan buatan melalui sprinkle - sprinkle yang ditempatkan di atas tumpukan batuan.Tetes larutan selanjutnya akan melakukan penetrasi ke pori pori batuan,

melarutkanlogam - logam yang di inginkan. Gaya grafitasi membawa larutan logam ke bagian bawah dan selanjutnya dialirkan ke kolam / danau penampungan. Hasil larutan yangtelah masuk ke kolam / danau kemudian diproses untuk mendapatkan logam emasdan perak Dalam bahasa umum di dunia pengolahan hasil tambang, dump / heap leach berarti teknik pengolahan logam sistem pelarutan tanpa proses penghalusan. Agar batuan emas kadar rendah mampu diolah secara ekonomis.Larutan dari tangki pelarut disalurkan ke sprinkle - sprinkle lewat pipa - pipa distributor, selanjutnya mengalir ke permukaan atas batuan. Cairan pelarut disiram dari bagian atas tumpukan seperti tetesan air hujan. Tetes - tetes larutan yang menimpa bongkahan akan mengalir kebagian bawah (dengan terlebih dahulu melewati bongkahan-

bongkahandibawahnya, dan seterusnya) . Saat tiba dibagian bawah, larutan tersebut telah kayaakan garam logam

12

Pencucian tumpukan batuan dengan sianida (Cyanide Heap Leaching)dianggap sebagai cara paling hemat biaya untuk memisahkan butir-butir emas yang halus (http://www.bappeti.go.id). Tapi cara ini sangat tidak ramah lingkungan karenasianida dapat melepaskan logam-logam berat lainnya seperti kadmium, timah,merkuri yang berbahaya bagi manusia dan ikan, dalam konsentrasi rendah sekalipun. Menurut laporan Program lingkungan PBB (UNEP), dari tahun 1985 hingga 2000, lebih dari selusin waduk pembuangan limbah tambang emas mengandung sianida ambruk. Sebagian dari batuan emas tidaklah berdiri sendiri, akan tetapi terbungkusoleh lapisan logam lain yang berbentuk garam sulfida. Untuk melarutkan emas sepertiini diperlukan proses refractory ataupun proses semacam itu agar tabir permukaanlogam emas / perak terbuka terhadap pelarut. Beberapa contoh emas model ini adalahCuAuTeS2 ( paduan tembaga emas tellurium sulfida) , CuAuFeS2. Pelarutan pengotor memerlukan adanya oksigen dari udara sebagai

bantuanoksidator. Dalam proses pengolahan konvesional oksigen diinjeksikan kedalamlarutan melalui gelembung udara yang disalurkan lewat pipa kedalam wadah bak pelarut, dan selanjutnya didistribusikan keseluruh bagian melalui

putaran agitator.Dalam sistem Dump Leach batuan terbuka terhadap udara luar sehingga tak ada hambatan terhadap suplay oksigen, namun disaat tumpukan bongkahan menjadilebih tinggi timbul perisai terhadap udara luar. Untuk mengatasi hal ini makadilakukan pemasangan cerobong suplay udara pada tempat - tempat yang ditengarai bakal kekurangan udara. Pemerian HCl pada chalcopyrite ( yang biasanya terdapat dalam batuan emas)akan melarutkan unsur besi, dan tembaga tertinggal dalam bentuk sulfida logam.Sulfida tembaga ini sangat mudah teroksidasi oleh oksigen menjadi tembaga sulfat.Proses oksidasi ini menghasilkan panas yang menyebabkan tumpukan menjadi hangat CuFeS2 + 2HCl = CuS + FeCl2 + H2S CuS + 2O2 = CuSO4.

13

Untuk mendapatkan ion NO3- yang netral maka saat ini telah digunakangaram timbal nitrat Pb( NO3) 2. garam ini akan terurai dalam air menjadi kationPb2+ dan anion NO3-. Proses penambahan Pb( NO3) 2 dapat dilakukan bersamadengan proses sianidasi, dan inilah keunggulan proses nitrox dibanding klorinasi dalam sistem Dump / Heap Leach..." Secara umum, metode penambangan emas aluvial dilakukan berdasarkan endapan aluvial, antara lain : penambangan emas pada endapan aluvial aktif ( muda )yang dilakukan pada badan - badan sungai mengunakan peralatan sederhana sepertidulangan atau wajan, linggis, sekop, cangkul dan ayakan. Apabila penambangan dilakukan untuk mengambil material aluvial purba atau aluvial recent yang terdapat di tebing atau di darat, maka pengambilan bijih emas dilakukan dengan membuatsumuran atau paritan untuk mencapai lapisan yang diperkirakan mengandung emas.Selanjutnya material yang diperoleh didulang di sekitar lokasi lubang tambang.Metode tambang semprot yang mengunakan mesin berkekuatan 5,5 pk/unit untuk menambang emas pada aluvial tua atau tanah lapukan dari batuan dasarnya,selanjutnya material tersebut dimasukkan dalam sluice box , kemudian mineral - mineral beratnya di dulang. Secara geologi, lokasi penambangan emas banyak dijumpai endapan - endapan aluvial muda dan aluvial tua yang secara umum terdiri dari fragmen - fragmen kuarsa putih susu, batuan ultra mafik, batuan milihan dan batuan sedimen.Umumnya potensi kandungan emas dalam endapan aluvial tua akan meningkatseiring dengan peningkatan ukuran butiran endapan tersebut yang relatif lebih dalam dan dekat dengan batuan dasar

14

BAB III PEMBAHASAN

Secara umum proses pengolahan emas dapat dilihat dari diagram alir berikut:
Bijih

Kominusi

Klasifikasi

Leaching

GEKKO System

Adsorpsi

Tailling

Elution

Electrowining

Smelting

Dore bullion

Gambar 3.1 Diagram Alir Proses Pengolahan Bijih Emas

15

3.1 KOMINUSI Kominusi adalah proses untuk mereduksi ukuran bijih dengan tujuan untuk membebaskan logam berharga dari bijihnya dan atau memperluas permukaan bijih agar dalam proses pelindian dapat berlangsung dengan cepat. Faktor-faktor yang mengendalikan kominusi diantaranya sifat fisik dari bijih, seperti tingkat homogenitas, kekerasan, kandungan air. Bijih yang heterogen, porous, dan brittle mudah dikecilkan. Sedangkan bijih yang homogen, kompak dan liat sulit untuk dikecilkan. Agar partikel bijih dapat remuk harus ada tekanan yang cukup besar dan melebihi kuat remuk bijih. Usaha untuk meremukan bijih tergantung pada sifat material dan gaya yang dilakukan terhadap partikel bijih. Terdapat 3 (tiga) cara/mekanisme meremuk partikel, yaitu : 1. Compression (Tekanan) yaitu peremukan yang dilakukan di antara dua permukaan di mana kerja dilakukan pada salah satu atau kedua permukaan tersebut. Alat yang menerapkan cara ini adalah jaw crusher, gryratory crusher, roll crusher. Partikel yang dihasilkan berukuran besar. 2. Impact (Benturan) yaitu benturan suatu bijih dengan bijih lainnya atau dengan alat. Alat yang menerapkan cara ini adalah hammer mill, impactor. Parikel remuk yang dihasilkan bervariasi mulai dari berukuran besar sampai berukuran kecil. 3. Abrasion yaitu gesekan pada permukaan bijih. Partikel remuk yang dihasilkan ada dua ukuran yaitu berukuran besar dan halus. Alat yang menerapkan cara ini adalah Ballmill, Rod Mill.

16

Gambar 2.2 Mekanisme peremukan dan distribusi ukuran produk hasil peremukan.

Dalam proses kominusi, variable yang biasa di ukur adalah Derajat Liberasi (DL):
Butiran Logam Terbebas x 100% Butiran yang Mengandung Logam

DL =

Kominusi terdiri dari dua tahap yaitu crushing (peremukan) dan grinding (penggerusan). 3.1.1 Crushing Crushing merupakan suatu proses peremukan ore (bijih) dari hasil penambangan melalui perlakuan mekanis. Batuan dari tambang yang memiliki ukuran besar dijadikan lebih kecil melalui mekanisme peremukan. Biasanya ada 2 tahap dalam proses peremukan yaitu primary crushing dan secondary crushing, namun hal itu disesuaikan dengan kebutuhan parameter yang diinginkan. 3.1.2 Grinding Grinding atau penggerusan merupakan lanjutan dari crushing dan merupakan tahapan akhir dari kominusi, yaitu untuk mendapatkan ukuran butiran yang sesuai sehingga pada tahap selanjutnya bisa dilakukan pelindian. 3.2 PENGAYAKAN (SCREENING) Pengayakan adalah pemisahan partikel-partikel secara mekanis

berdasarkan ukuran, dan hanya dapat dilakukan pada partikel yang relatif berukuran kasar. Pemisahan dilakukan di atas ayakan berupa batang-batang

17

sejajar (grizzly) atau plat berlubang atau anyaman kawat yang dapat meloloskan material. Material yang tidak lolos atau tinggal di atas ayakan disebut oversize atau material plus sedangkan yang lolos disebut material minus atau undersize. Di dalam industri mineral, tujuan pengayakan ialah : 1. Mencegah masuknya undersize ke proses komunusi sehingga meningkatkan kapasitas dan efisiensi alat peremuk atau penggerus. 2. Mencegah oversize masuk ke tahap berikutnya pada operasi sirkuit tertutup pada peremukan dan penggerusan sehingga alat peremuk atau penggerus lebih awet. 3. Mempersiapkan umpan yang berselang ukuran kecil pada operasi konsentrasi 4. Menghasilkan produk dalam kelompok-kelompok ukuran tertentu, misalnya pada industri pasir dan batu. 3.3 KLASIFIKASI Klasifikasi adalah proses pemisahan antara ukuran partikel yang diinginkan dan yang tidak diinginkan. Pemisahan ini biasanya dilakukan di dalam fluida (gas dan air). Tapi di industri pengolahan bahan galian biasanya digunakan air. Alat untuk melakukan klasifikasi disebut classifier. Secara lebih khusus fungsi classifier yaitu : 1. Mengeluarkan material yang ukurannya sudah memenuhi syarat sebagai overflow. 2. Mencegah terjadinya overgrinding (penggerusan yang berlebihan). 3. Mengembalikan material yang masih kasar untuk digerus kembali. Classifier dapat dibedakan menjadi dua yaitu classifier yang

memanfaatkan gaya gravitasi dan classifier yang memanfaatkan gaya sentrifugal. 1. Classifier yang memanfaatkan gaya gravitasi disebut juga mechanical classifier. Bagian-bagian penting dari mechanical classifier yaitu : a. Kolam pengendapan yang berupa tanki berbentuk mangkok atau saluran. b. Alat yang berfungsi untuk mengeluarkan produk underflow. Alat ini berbentuk rake (sikat) atau spiral.

18

c. Rake atau spiral menarik produk endapan dari kolam pengendapan, sedangkan overflow akan keluar melalui bibir overflow yang dapat diatur tingginya. Contohnya adalah thickener dan spiral classifier. 2. Classifier yang memanfaatkan gaya sentrifugal untuk contohnya adalah laju

hydrocyclone. Gaya sentrifugal pengendapan.

berfungsi

mempercepat

Setiap partikel yang berada di dalam hydrocyclone akan mengalami dua gaya yang saling berlawanan, yaitu gaya sentrifugal yang mengarah keluar dan gaya drag yang mengarah ke dalam. Partikel besar akan mengalami gaya sentrifugal lebih besar dibandingkan dengan gaya drag, terlempar ke arah dinding, mengikuti arus spiral mengarah ke bawah dan keluar melalui lubang apex sebagai underflow. Sebaliknya, partikel kecil, gaya centrifugal tidak cukup untuk mendorongnya ke arah luar bergerak di spiral dalam yang bergerak ke atas dan bergerak keluar sebagai overflow.

Gambar 2.12 Hydrocyclone 3.4 PROSES EKSTRAKSI Au-Ag DARI BIJIHNYA 3.4.1 Metode Ekstraksi (Leaching) Leaching adalah proses pelarutan selektif dimana hanya logamlogam tertentu yang dapat larut. Pemilihan metode pelindian tergantung pada kandungan logam berharga dalam bijih dan karakteristik bijih khususnya mudah tidaknya bijih dilindi oleh reagen kimia tertentu. Secara hidrometalurgi terdapat beberapa jenis leaching, yaitu : 1. Leaching in Place (In-situ Leaching)

19

Leaching yang dilakukan di tempat bijih ditemukan atau di tempat penyimpamnan bijih. Pada metode ini tidak ada proses transportasi. Metode ini digunakan untuk bijih kadar rendah atau bijih yang sebelumnya tidak masuk kategori layak olah. Waktu yang diperlukan untuk melindi cukup lama. Leaching pada metode ini dilakukan 2 cara yaitu penyemprotan reagen pelindi ke dalam endapan bijih (spraying technique) dan penginjeksian reagen ke pada endapan bijih (injection technique). Spraying technique digunakan pada open pit mining yang bijihnya terhampar di atas permukaan. Sedangkan injection technique digunakan pada underground mining. 2. Heap Leaching Dalam heap leaching terdapat proses preparasi dan pengangkutan ke tempat penumpukan setelah diremuk, heap leaching cocok untuk bijih kadar rendah. Tempat penumpukan untuk heap leaching adalah pada tanah dengan kemiringan tertentu dan alasnya dilapisi oleh lapisan permeabel, misalnya : aspal, beton, atau plastik. Setelah material ditumpuk, reagen pelindi disemprotkan dari puncak tumpukan sehingga larutan kaya dapat terkumpul dalam saluran-saluran di ujung bagian bawah tumpukan. 3. Vat Leaching /Percolation Leaching Penggunaan vat leaching terbatas pada leaching untuk material yang tidak biasa yaitu material yang tidak bisa diproses dengan heap leching tetapi tidak memerlukan grinding untuk pemisahan emasnya. Keuntungan dari vat leaching ini adalah : a. konsumsi bahan pelindi minimal b. dapat menghasilkan larutan kadar relatif tinggi c. mengurangi cost karena tidak perlu filter atau thickener 4. Agitation Leaching Cocok untuk bijih dengan kadar medium hingga tinggi. Dilakukan dalam tangki khusus pelindian yang dilengkapi dengan agitator (pengaduk). Tujuan pengadukan ini ialah untuk :

20

a. Meningkatkan kontak antara logam dalam bijih dengan reagen pelindi b. Meningkatkan laju pelindian Metode pengadukan ada tiga, yaitu : a. Mekanik 1) Menggunakan impeler yang digerakan oleh motor 2) Biaya perawatan tinggi b. Pneumatik 1) Digunakan udara yang dikompresi atau uap bertekanan tinggi 2) Biaya perawatan rendah c. Kombinasi mekanik dan pneumatik Umumnya digunakan untuk pelindian skala besar 5. Autoclaving a. pelindian pada temperatur dan tekanan tinggi b. bijih kadar tinggi yang bersifat refraktori yaitu sulit dilarutkan pada kondisi normal Dilakukan dalam suatu alat yang disebut autoclave Proses autoclave pada umumnya dilakukan dalam dua kondisi : a. tanpa udara b. dengan udara Ada beberapa reagen yang bisa digunakan untuk pelindian emas: 1. Thiosulfat (S2O3)22. Thiourea (NH2.CS.NH2) 3. Sianida (NaCN) 4. dan lain-lain Dari ketiga reagent di atas yang paling banyak digunakan sampai saat ini masih sianida. Reaksi pelindian menurut teori Elsner adalah : 4 Au + 8 NaCN + O2 + 2 H2O 4 Ag + 8 NaCN + O2 + 2 H2O 4 NaAu(CN)2 + 4 NaOH 4 NaAg(CN)2 + 4 NaOH

21

Adapun faktor-faktor lain yang mempengaruhi laju reaksi sianidasi adalah 1. Ukuran butiran Semakin halus ukuran butiran, maka derajat liberasi (kebebasan mineral/unsur dalam bijih) dan luas permukaan efektif semakin besar sehingga makin besar kesempatan/kontak antara permukaan butiran dengan larutan. 2. Konsentrasi sianida Sianida yang digunakan dalam proses leaching berasal dari KCN atau NaCN. Dalam konsentrasi tertentu, makin besar konsentrasi sianida (CN-) dari larutan, makin besar kelarutan Au & Ag serta jumlah pengotor (impurities) lainnya sehingga akan sedikit menghambat. Tetapi penambahan NaCN lebih dari 0,1% atau 1000 ppm tidak memberikan pengaruh yang sangat berarti. Hal ini telah dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh McLaureen (1893) dan Barski (1934) dalam Habashi (1968) seperti ditunjukkan pada gambar 2.13.

Gambar 2.13 Kurva pengaruh konsentrasi sianida terhadap recovery

3. pH larutan Variable pH larutan berfungsi untuk menjaga kestabilan sianida. Pada pH kurang dari 9 larutan sianida tidak stabil dan cenderung terhidrolisa membentuk gas HCN melalui persamaan reaksi:

22

CN + H2O HCN(g) + OH Penguapan CN dalam jumlah yang banyak dapat menurunkan recovery karena CN berkurang. Pengaturan pH larutan dilakukan dengan penambahan kapur (lime, CaO).

Gambar 2.14 Kurva pengaruh pH terhadap % HCN

4. Persen solid Persen solid merupakan perbandingan antara berat padatan dengan berat total. Makin besar persen solid, berarti makin banyak jumlah padatan, sehingga kesempatan untuk bereaksi antara emas dan perak dengan larutan akan semakin kecil. Hal ini berkaitan dengan mobilitas (gerakan) atom atau ion yang terbatas. Selain itu persen solid yang tinggi menyebabkan turunnya DO (dissolved Oxygen) yang menyebabkan laju reaksi berkurang. Sedangkan untuk persen solid yang rendah, berarti jumlah padatan lebih kecil sehingga berpengaruh terhadap kapasitas pabrik meskipun Au dan Ag terlarut lebih banyak. 5. Katalisator [Pb(NO3)2] Katalisator berfungsi untuk membantu mempercepat reaksi terutama untuk mengubah perak sulfida menjadi perak oksida yang mudah larut.

23

6. Waktu Reaksi. Makin lama waktu reaksi, maka makin banyak kesempatan untuk terjadinya reaksi sehingga logam yang terlarut akan semakin banyak. 7. Jenis Bijih. Jenis bijih tertentu memerlukan proses pelarutan secara tertentu pula. Sebagai contoh, bijih oksida dengan sulfida mempunyai cara penanganan proses yang berbeda. Bijih oksida lebih mudah larut dalam sianida dibandingkan dengan bijih sulfida. Maka dari itu, jika bijih sulfida ingin diolah dengan cara pelindian sianida sebaiknya diubah menjadi oksida lebih dahulu dengan cara roasting. 8. Temperatur dan kecepatan pengadukan Semakin tinggi temperatur leaching maka recovery akan meningkat sampai pada batas tertentu. Pada temperatur 850C akan diperoleh recovery yang maksimum seperti yang ditunjukkan gambar 2.15. Jika temperatur dinaikkan lagi maka kemungkinannya recovery akan menurun. Hal itu disebabkan kandungan oksigen di dalam larutannya kecil atau menurun.

Gambar 2.15 Kurva pengaruh temperatur terhadap recovery

24

Gambar 2.16 Kurva Pengaruh Kecepatan Pengadukan Terhadap Kecepatan Pelarutan Emas

9. Konsentrasi oksigen Pada reaksi : (O2) = [O2]

G = G o + RT ln

a[O2 ] a(O2 )

........... (1)

Jika O2 diperoleh dari udara bebas, menurut teori Henry aktivitas O2 sama dengan tekanan O2 sehigga persamaan di atas menjadi :

G = G o + RT ln

a[O2 ] p(O2 )

............ (2)

Berdasarkan persamaan (2), jika O2 berasal dari udara bebas maka yang berpengaruh adalah tekanan. Sedangkan jika merupakan oksigen murni maka yang berpengaruh adalah flowrate. Untuk meningkatkan konsentrasi oksigen diberikan udara bertekanan jika O2 berasal dari udara bebas. Jika O2 murni maka debit oksigen yang dimasukan harus besar.

25

Gambar 2.17 Kurva pengaruh konsentrasi oksigen terhadap kecepatan pelarutan emas

Pada konsentrasi sianida rendah laju pelarutan hanya tergantung pada konsentrasi sianida, sedangkan pada konsentrasi sianida yang tinggi laju pelarutan tergantung pada konsentrasi oksigen. Konsentrasi oksigen yang meningkat pada konsentrasi NaCN yang tinggi akan mempercepat laju reaksi pelindian (leaching) dan meningkatkan recovery

3.5 PROSES PENGAMBILAN EMAS DARI SENYAWA KOMPLEKS DALAM LARUTAN 3.5.1 Presipitasi Presipitasi adalah proses pengendapan logam-logam yang ada di dalam larutan dengan menggunakan media pereduksi yang berupa padat, cair atau gas. Presipitasi yang menggunakan media pereduksi berupa zat padat (logam) disebut sementasi, contohnya adalah presipitasi seng dan alumunium. Presipitasi untuk emas diperkenalkan pertama kali secara komersial pada tahun 1890.

3.5.1.1 Sementasi Seng Presipitasi atau sedimentasi emas-perak dengan menggunakan seng diperkenalkan secara komersial pada tahun 1890 untuk mengolah larutan cyanide leach. Proses ini biasanya disebut juga
26

dengan presipitasi merrilll crowe, yang berhasil menaikan efisiensi recovery hingga 99,5 % emas. Presipitasi seng digunakan sebagai alternatif dari proses elektrowinning. Reaksi yang terjadi pada proses dari presipitasi seng adalah: 1. Reaksi anoda dalam larutan sianida : Zn2+ + 4CN- = Zn(CN)4]22. Reaksi katoda dalam larutan sianida [Au(CN)2]- + e = Au + 2CN Reaksi secara keseluruhan yaitu : [Au(CN)2]- + Zn + 4CN- = Au + 2CN- + [Zn(CN)4]2- + 2e3.5.1.2 Sementasi Alumunium Penggunaan alumunium untuk presipitasi emas dari larutan alkalin sianida diajukan dan dipatenkan oleh Moldenhauer tahun 1893. walaupun mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan presipitasi seng, tetapi penggunaan presipitasi alumunium belum banyak digunakan karena presipitasi seng lebih ekonomis. Reaksi keseluruhan presipitasi emas yang terjadi adalah : 3Au(CN)2- + Al + 4OH- = 3Au + 6CN- + AlO2- + 2H2O Kondisi reaksi diatas harus dijaga pada pH di atas 12 untuk menghindari pasivasi permukaan alumunium oleh pembentukan hidroxide layer. Proses de-aerasi larutan sangat diperlukan selama proses presipitasi karena alumunium sangat mudah teroksidasi. Selain itu, alumunium lebih sedikit terpengaruh oleh ion-ion yang mengganggu seperti sulphide, arsenic, dan antimony, daripada seng.

3.5.2 Adsorpsi Larutan emas hasil ekstraksi di serap oleh ekstraktan yang berupa karbon aktif atau ion exchange resin sintetic. Ekstrakan yang memakai karbon aktif, prosesnya disebut Carbon In Leach (CIL). Faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan karbon yaitu :

27

1. Temperatur Semakin tinggi temperatur maka laju penyerapan semakin menurun., seperti yang ditunjukan pada gambar 2.18.

Gambar 2.18 Kurva pengaruh temperatur terhadap adsorpsi 2. Konsentrasi emas dalam larutan Semakin tinggi konsentrasi emas dalam larutan semakin tinggi pula kecepatan adsorpsi emas 3. pH larutan Agar laju adsorpsi dapat dilakukan dengan maksimal, pH dijaga sekitar 911. Pada pH di bawah 9 kemampuan adsorpsi meningkat tetapi berpengaruh pada kestabilan sianida seperti yang ditunjukan pada gambar 2.14. Sedangkan pada pH di atas 11 kemampuan adsorpsi semakin menurun, seperti yang ditunjukan pada gambar 2.19

Gambar 2.19 Kurva pengaruh pH terhadap adsorpsi 4. Konsentrasi logam lain

28

Semakin banyak jumlah metal logam lain larutan, maka kapasitas adsorpsi untuk emas menurun 5. Kekuatan ion Semakin tinggi kekuatan ion, maka kemampuan dan kapasitas adsorpsi meningkat

3.6 ELUTION Elution adalah proses desorbsi, yaitu pelepasan kembali [Au(CN)2]- dari karbon aktif dengan cara pemutusan ikatan antara keduanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi desorbsi yaitu ; 1. Temperatur dan Tekanan Semakin tinggi temperatur (T) maka kecepatan reaksi semakin tinggi, agar air tidak menjadi uap pada temperatur >100oC maka tekanan (P) harus dinaikkan. T tinggi maka v (Kecepatan Reaksi) semakin besar. 2. Konsentrasi Sianida [CN-] Semakin tinggi konsentrasi sianida maka kecepatan reaksi desorbsi juga akan meningkat, meskipun dengan menggunakan sianida berlebih peningkatan kecepatan reaksi tidak begitu signifikan pengaruhnya. Meningkatnya konsentrasi sianida, meningkatkan kompetisi penyerapan ion sianida dengan Au(CN)2- pada karbon, dan akan membantu dalam pertukaran tempat species Au(CN)2- dari karbon. Pemberian CN- bebas berlebih terhadap proses desorpsi bukanlah satu jalan terbaik untuk menghasilkan proses yang efektif (seperti diilustrasikan oleh garis OH- pada gambar 2). Beberapa prosedur telah dikembangkan dengan menggunakan Cyanide presoak diikuti dengan deionized water elution. Maka dari itu sistem elution dapt dibagi menjadi 2, yaitu: a. Menggunakan Sianida sampai proses selesai b. Menggunakan Sianida hanya selama pre-soak

29

3. Kekuatan Ion (I) Kekuatan ion mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap kecepatan proses desorbsi dibandingkan dengan konsentrasi sianida. Pengaruh kekuatan ion dapat dilihat pada grafik berikut:

Gambar 2.20 Kurva pengaruh kekuatan ion (I) terhadap desorpsi

I semakin kecil maka v semakin tinggi. Sebaiknya digunakan air murni agar I kecil. 4. pH pH hanya berpengaruh untuk menjaga agar [CN-] tidak menjadi gas HCN akibat proses hidrolisis. Tetapi OH- yang dihasilkan dengan penambahan NaOH mempunyai pengaruh terhadap kecepatan proses desorbsi. OHsemakin besar maka v semakin meningkat. Hal itu disebabkan karena OHmempunyai sifat yang sama dengan CN- sehingga digunakan bersama karena sinergis. pH yang harus dijaga sekitar 12 atau 12,5 dan dapat dilihat pada gambar 2.14. 5. Larutan Organik Adanya larutan organik dapat mempercepat proses desorpsi, tapi perlu diingat bahwa tidak semua larutan organik mempercepat proses desorbsi,

30

sebagian malah mengganggu. Hanya larutan organik tertentu seperti Alkohol, dan Glycol yang bisa mempercapat reaksi. 6. Pembersihan Pengotor Inorganik Pengotor Inorganik terutama berbagai macam garam dapat mengganggu proses desorbsi. Garam yang paling mengganggu berbentuk karbonat terutama yang sering dijumpai adalah Kalsium Karbonat (CaCO3). Pembersihan dilakukan dengan menggunakan asam baik HCl maupun HNO3. Pencucian asam (Acid Wash) dilakukan untuk menghilangkan berbagai macam inorganic fouling. Bentuk paling penting dari inorganic fouling adalah: a. Garam kalsium, terutama karbonat tetapi juga sedikit sulfat dan species yang lain b. Garam sodium dan magnesium c. Mineral bijih yang halus, seperti silica, kompleks silikats dan aluminates d. Partikel besi yang halus sebagai hasil dari media penggerus e. Presipitasi logam dasar dari larutan lindi Sumber paling besar ion kalsium adalah lime (CaO), yang ditambahkan pada slurry untuk mengontrol pH. Kemungkinan ion karbonat dibentuk oleh oksidasi sianida pada permukaan karbon, seperti berikut:
2CN - + O 2 + 4H 2O = 2CO32 + 2NH 4

Ca 2+ + CO3 2- = CaCO3

Presipitasi CaCO3 dapat dihilangkan dengan menggunakan asam, baik HCl maupun HNO3. Pemilihan dan penggunaan kedua reagen ini harus dikontrol dengan baik. Beberapa pertambangan menggunakan HNO3 dengan alasan bahwa reagen tersebut lebih bisa menghindari korosi daripada menggunakan
31

HCl serta bisa melarutkan perak yang ada pada karbon, tetapi kendala yang dihadapi dengan penggunaan HNO3 adalah banyaknya oksidasi karbon serta deaktivasi permukaan karbon. Secara umum HCl sering digunakan meski harus dikontrol penggunaannya. 7. Pembersihan Pengotor Organik Karbon aktif mempunyai sifat relatif non-polar dan hidrofobik sehingga cepat bisa menyerap berbagai senyawa organik dari larutan. Beberapa senyawa organik yang bisa dan sering mengganggu proses desorbsi: a. Solar, Minyak Pelumas, Grease b. Dekomposisi Bakteri/Tumbuh-tumbuhan c. Reagen Flotasi seperti Frothers dan Kolektor d. Flokulan dan reagen lain yang mempunyai permukaan aktif. Cara Penghilangan Pengotor Organik: a. Species Organik yang mudah menguap bisa dihilangkan dengan mudah melalui pemanasan pada temperatur normal kiln(500-800oC) b. Species Organik yang sulit menguap dengan pemanasan biasa dapat dihilangkan dengan menggunakan Steam pada temperatur 650oC (C)N + nH2O (Steam) nCO + nH2 Perlu diingat bahwa proses ini memungkinkan untuk kehilangan karbon dari karbon aktif. Maka dari itu sebaiknya jangan sampai ada larutan organik pengotor yang masuk tangki CIL. Karbon yang sudah dipakai dapat diregenerasi dengan pemanasan sekitar 650-750oC dalam non-oxidized atmosfer (Udara yang tidak mengoksidasi). Steam sering digunakan untuk alasan seperti di atas, variable yang paling penting selama pemanasan untuk reaktivasi adalah: a. Temperatur b. Penambahan steam

32

c. Waktu tinggal dalam kiln d. Kandungan moisture awal karbon e. Kandungan mineral dalam karbon f. Peralatan reaktivasi Jika temperatur dan waktu tinggal terlalu rendah maka pembersihan karbon aktif dari pengotor organic tidak sempurna, jika temperatur terlalu tinggi maka aktivasi karbon berlebih sehingga banyak karbon yang hilang dan menurunkan kekerasan. (Kekerasan turun disebabkan oleh meningkatnya struktur pori-pori karbon). Karbon seharusnya didewatering terlebih dahulu agas konsumsi energi untuk aktivasi berkurang. Regenerasi karbon hendaknya dilakukan pendinginan cepat (Quenching) dalam air agar tidak banyak berhubungan dengan oksigen di udara. Beberapa operasi menggunakan air hangat untuk quenching untuk menghindari adanya thermal shock pada karbon. Kinerja kiln juga dipengaruhi oleh partikel kasar seperti potongan/serbuk kayu, plastik, kabel dll. Jika diperlukan maka sebaiknya dipisah dahulu dengan jig atau shaking table, tetapi akan lebih baik jika sudah hilang saat pencucian asam.

3.7 GEKKO SYSTEMS 3.7.1 Gravity Concentration Gravity concentration telah digunakan selama berabad-abad untuk memisahkan mineral, dengan banyak metode lama yang masih digunakan untuk saat ini. Dengan munculnya proses flotasi selama abad terakhir, pentingnya gravitasi konsentrasi di "modern" pabrik pengolahan mineral menyusut. Baru-baru ini konsentrasi gravitasi dipilih lagi karena meningkatnya biaya bahan kimia untuk flotasi, relatif lebih mudah dari proses gravitasi, dan kenyataan bahwa konsentrasi gravitasi menciptakan lingkungan berkurang

polusi secara signifikan. Karena pemisahan gravitasi tidak memerlukan penggunaan bahan kimia, teknik ini menawarkan keuntungan yang signifikan dari metode lain konsentrasi mineral dalam memenuhi persyaratan lingkungan. Dalam banyak situasi sebagian besar mineral berharga setidaknya bisa menjadi

33

pra-konsentrasi secara efektif dari diterimanya sistem gravitasi secara ekonomis dan ramah lingkungan. Jumlah reagen dan energi yang digunakan dapat berkurang ketika metode yang lebih mahal terbatas untuk pengolahan konsentrasi gravitasi. Pemisahan mineral secara gravitasi pada ukuran lebih kasar, segera setelah pembebasan tercapai, dapat membanggakan keuntungan yang signifikan untuk tahap pengolahan akhir menurun karena luas permukaan, dewatering lebih efisien, dan tidak adanya lapisan kimia yang dapat mengganggu proses lebih lanjut. Manfaat Gold Gravity Sirkuit 1. Meningkatkan total recovery 2. Pengurangan lock-up - inventory emas - bermanfaat pada cash flow 3. Meminimalkan emas berukuran besar di wilayah yang dapat diakses seperti sumps / pompa - meningkatkan keamanan 4. Mengurangi reagen / konsumsi sianida 5. Pengurangan waktu tinggal 6. Pengurangan penanganan karbon 7. Mengurangi tingkat memakai karbon 8. Mengurangi kadar emas kasar di sirkuit leach 9. Pengurangan dynamic lock-up - underflow siklon lebih rendah nilai pengamanan canggih 10. Peningkatan pengambilan sampel dan rekonsiliasi

3.8 ELECTROWINING Elektrowinning adalah proses penangkapan logam-logam yang ada dalam air kaya dengan prinsip elektrolisa (reaksi reduksi-oksidasi). Persamaan reaksi : Anoda : 2OH- = O2 + 2H2O + 4eFe = Fe2+ + 2e- (tidak dominan)

34

Katoda : 2Au(CN)2- + 2e- = 2Au + O2 + H2 + 4 CNOverall : 2Au(CN)2- + 2OH- = 2Au + O2 + H2 + 4 CNDalam mempelajari elektrowining maka yang perlu diketahui adalah prinsip elektrokimia (reduksi dan oksidasi/Redoks). Reduksi adalah menurunkan bilangan oksida (Biloks) dari logam dengan menambahkan elektron. Sedangkan oksidasi adalah proses sebaliknya yaitu meningkatkan bilangan oksidasi dari logam atau unsur lain akibat kehilangan elektron. Dalam proses elektrowining, kedua reaksi tersebut akan terjadi bersamaan. Reaksi reduksi akan terjadi di katoda dan reaksi oksidasi akan terjadi di Anoda. Jika pH rendah maka H+ bisa bereaksi dengan CN- membentuk gas HCN, gas ini sangat berbahaya serta bersifat korosif sehingga harus dihindari proses dengan pH rendah. Jika proses pada pH tinggi, maka sebagian akan dioksidasi menjadi CNO- namun kemungkinan besar NaCN stabil dalam larutan sehingga yang dioksidasi adalah air.

3.9 SMELTING Peleburan bertujuan untuk mengambil logam Au-Ag dari cake dengan cara memisahkan logam berharga dengan slagnya pada suhu tinggi (titik leburnya) dengan bantuan penambahan flux. Fungsi flux adalah untuk mengikat slag agar terpisah dengan baik dari logam berharganya, di samping itu juga bisa menurunkan titik lebur.

35

BAB IV KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat kita ambil dari makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi perolehan emas dalam pengolahan emas adalah: a. Mineral-mineral pembawa emas b. Ukuran butiran mineral emas c. Mineral-mineral induk d. Asosiasi mineral pembawa emas dengan mineral induk 2. Metode yang digunakan dalam pengolahan bijih emas yaitu metode eksplorasi yang meliputi a. Metode resistivity b. Metode geokimia 3. Proses pengolahan emas yang melibatkan faktor kimia fisika yaitu amalgamasi dan sianidasi

36

DAFTAR PUSTAKA

http://jalanrejeki.wordpress.com/2009/01/28/pengolahan-emas-dengan-kimia/ (diakses tanggal 1 Oktober 2012, Pukul 21.09 WITA) http://pengolahanemas.wordpress.com/ (diakses tanggal 1 Oktober 2012, Pukul 21.09 WITA) http://psdg.bgl.esdm.go.id/kepmen_pp_uu/Amdal_Bid_Pertambangan.pdf tanggal 1 Oktober 2012, Pukul 21.09 WITA) http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23124/4/Chapter%20II.pdf (diakses tanggal 1 Oktober 2012, Pukul 21.09 WITA) emas (diakses

37

Anda mungkin juga menyukai