Anda di halaman 1dari 8

Universitas Muhammadiyah Jakarta BAB VI PEMBAHASAN 6.1. Keterbatasan Penelitian a.

Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional yang memiliki temporal relationship atau akibat/penyakit dahulu baru menyelidiki penyebab/faktor resikonya, dengan demikian pajanan telah atau sedang berlangsung. Oleh karena itu, penelitian ini rawan terhadap bias. Salah satu bias yang sering terjadi adalah bias informasi yaitu kesalahan sistematik dalam mengamati, memilih instrumen, mengukur, mencatat informasi, mengklarifikasi dan menginterpretasi status pajanan dan penyakit. b. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah angka kunjungan pasien bukan angka kejadian pasien. c. Adanya keterbatasan penelitian dalam pengambilan data primer melalui kuisioner karena kuisioner tidak dilakukan analisa validitas dan reliabilitas sebelumnya. d. Adanya keterbatasan peneliti berupa keterbatasan waktu, tenaga, dan dana penelitian karena tidak meneliti seluruh variabel yang berada di kerangka teori yang dijadikan dasar penelitan. e. Adanya kemungkinan responden tidak menjawab dengan jujur. f. Variabel lain yang erat hubungannya dengan dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 seperti factor keturunan, dll tidak menjadi variabel yang diukur dalam penelitian ini. 6.2. Pembahasan Hasil 6.2.1. Hubungan Jenis Kelamin dengan Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dari 24417 responden berusia >15 tahun, 10,2% mengalami Toleransi Glukosa Terganggu (kadar glukosa 140-200 mg/dl setelah puasa selama 14 jam dan diberi glukosa oral 75 gram). Sebanyak 1,5% mengalami Diabetes Melitus yang terdiagnosis dan 4,2% mengalami Diabetes Melitus yang tidak terdiagnosis. DM lebih banyak ditemukan pada wanita dibandingkan pria. Perempuan memiliki risiko lebih besar untuk menderita diabetes mellitus tipe 2, karena berhubungan dengan

61

Universitas Muhammadiyah Jakarta paritas dan kehamilan, dimana keduanya termasuk faktor risiko untuk terjadinya DM tipe 2. (PERKENI, 1998) Sumual Et Al 1985, menyatakan bahwa pasien DM tipe 2 rawat jalan di RSU Gunung Wenang Manado yaitu, proporsi penderitanya lebih banyak ditemukan pada perempuan (63,3%). Demikian pula pada penelitian media, Et Al (1998) dan Suryoko (2001) didapatkan proporsi pasien diabetes melitus tipe 2 perempuan lebih besar daripada laki-laki. Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan. Proporsi responden yang berjenis kelamin perempuan dan menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 sebesar 59,6%. Dan proporsi responden yang berjenis kelamin laki-laki dan menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 sebesar 37,1%. Hasil uji statistik Chi square menunjukkan ada hubungan antara faktor jenis kelamin pasien dengan kejadian Diabetes Militus tipe 2 dikarenakan nilai p sebesar 0,040 (p value < 0,05). 6.2.2. Hubungan Usia Pasien dengan Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 Pada saat ini, jumlah usia lanjut (lansia, berumur >65 tahun) di dunia diperkirakan mencapai 450 juta orang (7% dari seluruh penduduk dunia), dan nilai ini diperkirakan akan terus meningkat. Sekitar 50% lansia mengalami intoleransi glukosa dengan kadar gula darah puasa normal. Daerah dengan angka penderita DM paling tinggi yaitu Kalimantan Barat dan Maluku Utara yaitu 11,1 %, sedangkan kelompok usia penderita DM terbanyak adalah 55-64 tahun yaitu 13,5%. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa prevalensi Diabetes Melitus maupun Gangguan Toleransi Glukosa (GTG) meningkat seiring dengan pertambahan usia, menetap sebelum akhirnya menurun. Dari data WHO didapatkan bahwa setelah mencapai usia 30 tahun, kadar glukosa darah akan naik 1-2 mg%/tahun pada saat puasa dan akan naik sebesar 5,6-13 mg%/tahun pada 2 jam setelah makan. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan, didapatkan dengan usia 60-70 tahun dan menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 menunjukan persentase tertinggi yaitu 70,6%, penderita usia 56-59 dan menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 dengan proporsi lebih rendah yaitu 46,2%, dan penderita usia 45-55 tahun dan menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 menunjukan proporsi 62

Universitas Muhammadiyah Jakarta yang terendah yaitu 29,6%, dan. Hasil uji statistik Chi square menunjukkan ada hubungan antara usia pasien dengan kejadian Diabetes Melitus tipe 2 dikarenakan nilai p sebesar 0,006 (p value < 0,05). 6.2.3. Hubungan Obesitas Pasien dengan Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 Obesitas merupakan ciri khas penderita hipertensi. Walaupun belum diketahui secara pasti hubungan antara hipertensi dan obesitas, namun terbukti bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dari pada penderita hipertensi dengan berat badan normal. (Adnil, Basha, 2004) Di Jawa Tengah, prevalensi DM tipe 2 mengalami peningkatan dari tahun 2006 sampai tahun 2008, yaitu sebesar 0,83% pada tahun 2006, 0,96% pada tahun 2007 dan 1,25% pada tahun 2008 (Dinkes Provinsi Jawa Tengah, 2008). Peningkatan prevalensi diabetes seiring dengan peningkatan faktor risiko yaitu obesitas (kegemukan), kurang aktivitas fisik, kurang konsumsi serat, merokok, hiperkolesterol, hiperglikemia dan lain-lain. Prevalensi faktor risiko DM dari 2001-2004 pada pasien yang status gizinya obes adalah dari 12,7% menjadi 18,3%. Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan. Proporsi responden yang memiliki obesitas dan menderita Diabetes Melitus tipe 2 sebesar 61,2%. Proporsi responden yang tidak memiliki obesitas dan menderita Diabetes Melitus tipe 2 sebesar 36,8%. Hasil uji statistik Chi square menunjukkan ada hubungan antara obesitas pasien dengan kejadian Diabetes Melitus tipe 2 dikarenakan nilai p sebesar 0,024 (p value < 0,05). 6.2.4. Hubungan Sindrom Metabolik Pasien dengan Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 Sindrom Metabolik yang juga disebut sindrom resistensi insulin atau sindrom X merupakan suatu kumpulan faktor-faktor risiko berupa dislipidemi, hipertensi, gangguan toleransi glukosa dan obesitas abdominal/sentral yang bertanggung jawab terhadap peningkatan morbiditas penyakit kardiovaskular pada obesitas dan DM tipe 2. (Soegondo. Sidartawan, 2009)

63

Universitas Muhammadiyah Jakarta Pada DM tipe 2 terjadi defisiensi insulin relative karena terdapat insensitivitas insulin terhadap reseptor, biasanya dipengaruhi salah satunya oleh Sindroma Metabolik. (Alwa Shahab, 2009) Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan. Proporsi responden yang memiliki sindrom metabolik dan menderita Diabetes Melitus tipe 2 sebesar 68,8%. Proporsi responden yang memiliki kemungkinan sindrom metabolik dan menderita Diabetes Melitus tipe 2 sebesar 39,1%. Sedangkan proporsi responden yang tidak memiliki sindrom metabolik dan menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 sebesar 12,5%. Hasil uji statistik Chi square menunjukkan ada hubungan antara pasien yang memiliki sindrom metabolik dengan kejadian Diabetes Melitus tipe 2 dikarenakan nilai p sebesar 0,001 (p value < 0,05). 6.2.5. Hubungan Pendidikan Pasien dengan Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 Tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan tentang penyakit Diabetes Mellitus. Pendidikan diperlukan seseorang lebih tanggap adanya penyakit di dalam tubuhnya dan dapat mengambil tindakan secepatnya. Pada pendidikan yang rendah erat kaitannya dengan pengertian tentang penyakit Diabetes Mellitus yang mempengaruhi perilaku kesadaran deteksi dini masyarakat.(Riyadi, 1999). Pendidikan yang rendah umumnya akan mengakibatkan kurangnya pengetahuan seseorang terutama penyakit diabetes melitus, pendidikan akan memberikan pencerahan pada seseorang terutama dalam pengetahuan penyakit diabetes melitus. Tetapi pendidikan seseorang bukanlah jaminan satunya indikator dalam pengetahuan seseorang. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo, 2010 pendidikan akan mempengaruhi kognitif seseorang dalam peningkatan pengetahuan. Karena pengetahuan sebenarnya tidak dibentuk hanya satu sub saja yaitu pendidikan tetapi ada sub bidang lain yang akan juga akan mempengaruhi pengetahuan seseorang misalnya pengalaman, informasi, keperibadian dan lainya. Umumnya pengetahuan yang akan tinggi akan berdampak pada peningkatan kesadaran sesorang dalam upaya meminimalisasi penyakit diabetes melitus. Walaupun demikian pengetahuan yang tinggi sebenarnya 64

Universitas Muhammadiyah Jakarta tidak juga menentukan apakah seseorang akan terkena penyakit diabtes melitus atau tidak. Tetapi faktor lain seperti pekerjaan, gaya hidup, keturunan dan lain-lain juga mempengaruhi seseorang dalam terkena penyakit diabetes melitus. Hasil tersebut tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan. Proporsi responden dengan tingkat pendidikan yang cukup dan menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 sebesar 50,7%, dan responden dengan tingkat pendidikan yang baik sebesar 45,%. Hasil uji statistik Chi square menunjukkan tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan pasien dengan kejadian Diabetes Melitus tipe 2 dikarenakan nilai p sebesar 0,652 (p value < 0,05). 6.2.6. Hubungan Tingkat Pengetahuan pasien dengan Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 Notoatmojo mendefinisikan pengetahuan tentang kesehatan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh seseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan (Notoatmodjo, 2003). Bila seorang pasien mempunyai pengetahuan, maka pasien akan dapat memilih alternative yang terbaik bagi dirinya dan cenderung memperhatikan hal-hal yang penting tentang perawatan diabetes mellitus seperti: pasien akan melakukan pengaturan pola makan yang benar, berolah raga secara teratur, mengontrol kadar gula darah dan memelihara lingkungan agar terhindar dari benda-benda lain yang dapat menyebabkan luka. Apabila perawatan yang dilakukan dengan tepat maka dapat membantu proses penyembuhan dan diharapkan pasien menjadi sehat baik fisik, mental, sosial dan spiritual (Effendi, 1999). Hasil tersebut tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan. Proporsi responden yang berpengetahuan cukup terkait Diabetes Melitus tipe 2 dan menderita Diabetes Melitus tipe 2 sebesar 53,3%. Proporsi responden yang berpengetahuan baik terkait Diabetes Melitus tipe 2 dan menderita Diabetes Melitus Tipe 2 sebesar 44,4%. Hasil uji statistik Chi square menunjukkan tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan pasien dengan kejadian Diabetes Mellitus tipe 2 dikarenakan nilai p sebesar 0,443 (p value <

65

Universitas Muhammadiyah Jakarta 0,05). Pengetahuan Diabetes Melitus tipe 2 meliputi definisi, faktor risiko, tanda dan gejala, pengobatan dan pencegahan. 6.2.7. Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Indonesia banyak sekali makanan yang bisa memacu penyakit diabetes mellitus tipe 2 salah satunya adalah kebiasaan makan yang banyak mengandung banyak karbohidrat tetapi miskin serat yang berasal dari sayuran. Masih sering kita jumpai masyarakat Indonesia yang mempunyai persepsi salah terhadap mutu bahan makanan, yang dalam mengkonsumsi seharihari lebih mengutamakan nasi dengan laukpauk, mereka menganggap bahwa dengan makan nasi, semua zat gizi yang diperlukan tubuh bisa terpenuhi (Almatsier,2005). Pola kebiasaan makan diatas adalah contoh kebiasaan makan yang salah, apalagi jika dihubungkan dengan seseorang pada penderita diabetes mellitus, sebab dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung hidrat arang yang berlebihan berarti meningkatkan masukan gula dalam tubuh. Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan. Proporsi responden dengan pola konsumsi makanan yang salah dan menderita Diabetes Melitus Tipe 2 sebesar 59,3%. Proporsi responden dengan pola konsumsi makanan yang benar dan menderita Diabetes melitus tipe 2 sebesar 32,1%. Hasil uji statistik Chi square menunjukkan ada hubungan pola konsumsi makanan dengan kejadian Diabetes Melitus tipe 2 dikarenakan nilai p sebesar 0,018 (p value < 0,05). 6.2.8. Hubungan Aktivitas Fisik Pasien dengan Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 Salah satu gaya hidup modern ditandai dengan kurangnya aktivitas fisik termasuk olah raga, dimana untuk melakukan kegiatan orang sudah dibantu dengan berbagai peralatan mulai dari alat sederhana sampai yang canggih dimana sebelumnya semua dilakukan secara manual. Orang yang aktivitasnya cukup tinggi misalnya berolah raga, tubuhnya dapat mengubah glukosa menjadi glikogen untuk disimpan di dalam otot lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang tidak terlatih fisiknya dan bila aktivitas

66

Universitas Muhammadiyah Jakarta fisik ini dilakukan secara teratur maka dapat meningkatkan penyimpatan glikogen di dalam otot. (Iliyas, 2002) Latihan fisik yang optimal dan dilakukan secara rutin, dapat memperbaiki sensitifitas sel terhadap insulin. Disamping itu, meningkatnya penggunaan energi waktu olah raga yang dikombinasikan dengan pembatasan pemasukan kalori dapat menurunkan berat badan. Kedua mekanisme tersebut sangat sesuai bagi penderita diabetes mellitus tipe 2 khususnya yang gemuk untuk penurunan kadar glukosa darah. Pada penelitian ini didapatkan Proporsi responden yang memiliki aktivitas fisik ringan dan menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 memiliki proporsi terbesar yaitu 82,8%. Proporsi responden yang memiliki aktivitas fisik sedang dan menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 sebesar 38,6%. Dan responden yang memiliki aktivitas fisik berat dan menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 memiliki proporsi terkecil yaitu sebesar 21,4%. Hasil uji statistik Chi square menunjukkan ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 dikarenakan nilai p sebesar 0,001 (p value < 0,05). Aktivitas fisik meliputi index kerja, index olahraga dan index senggang. 6.2.9. Hubungan Kebiasaan Merokok Pasien dengan Kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 Sebuah universitas di Swiss membuat suatu analisis 25 kajian yang menyelidiki hubungan antara merokok dan diabetes yang disiarkan antara 1992 dan 2006, dengan sebanyak 1,2 juta peserta yang ditelusuri selama 30 tahun. Mereka mendapati resiko bahkan lebih tinggi bagi perokok berat. Mereka yang menghabiskan sedikitnya 20 batang rokok sehari memiliki resiko terserang diabetes mellitus tipe 2 sekitar 62% lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Merokok dapat mengakibatkan kondisi yang tahan terhadap insulin, kata para peneliti tersebut. Itu berarti merokok dapat mencampuri cara tubuh memanfaatkan insulin. Kekebalan tubuh terhadap insulin biasanya mengawali terbentuknya Diabetes Mellitus tipe 2. Wetherill dan Kereiakes (2001) menyebutkan bahwa kecanduan rokok merupakan salah satu faktor yang dapat memperburuk diabets mellitus tipe 2. Senyawa yang ada di dalam rokok diantaranya adalah karbonmonoksida yang merupakan racun bagi tubuh, dan dapat mengakibatkan penurunan kadar HDL 67

Universitas Muhammadiyah Jakarta Kolesterol dalam darah. Semakin muda usia mulai merokok, maka semakin banyak karbonmonoksida mencemari darah di dalam tubuh. Karbonmonoksida akan melekat pada sel darah merah yang kaya akan oksigen, akibatnya jumlah oksigen yang dibawa darah menjadi berkurang, sehingga jantung, otot, dan seluruh tubuh kekurangan oksigen yang siap pakai. Efek ini diperkirakan lebih signifikan pada penderita diabetes mellitus tipe 2, yang mempunyai risiko tinggi terhadap masalah sirkulasi. Merokok juga dapat menurunkan HDL kolesterol dalam aliran darah, selain itu juga merokok membuat darah mudah membeku, sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya penyumbatan arteeeri, dan lebih lanjut terkena serangan jantung atau stroke. Hasil sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan. Proporsi responden yang memiliki kebiasaan tidak merokok dan menderita Diabetes militus tipe 2 sebesar 40%. Dan Proporsi responden yang memiliki kebiasaan merokok dan menderita Diabetes militus tipe 2 sebesar 68,8%. Hasil uji statistik Chi square menunjukkan ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian Diabetes Militus tipe 2 dikarenakan nilai p sebesar 0,010 (p value < 0,05).

68