Anda di halaman 1dari 6

PENENTUAN KOMPOSISI ION KOMPLEKS DENGAN METODA JOBS Percobaaan penentuan komposisi ion kompleks ini memiliki tujuan

agar praktikan dapat mempelajari penentuan komposisi larutan kompleks ion besi sallisilat menggunakan metode job. Pada percobaan ini digunakan metode job, oleh karena itu dibuat variasi fraksi mol dari asam salisilat 2.10-3 M dalam asam klorida. Variasi konsentrasi fraksi molnya adalah : 0,1; 0,2; 0,3; 0,4; 0,5; 0,6; 0,7; 0,8; 0,9. Masing-masing variasi tersebut dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml dan tambah dengan larutan Fe3+ hingga sampai pada tanda batas. Kemudian ke dalam satu labu ukur hanya diisi dengan larutan Fe3+. Setelah semua larutan siap, larutan dipindahkan kedalam kuvet hingga dibagian bawah tanda panah. Selanjutnya spektrofotometer uv-vis yang telah dinyalakan sebelumnya dikalibrasi dengan menggunakan akuades. Lalu digunakan untuk mengukur absorbansi dari masing-masing larutan, kecuali larutan Fe3+, sehingga dapat diketahui panjang gelombang maksimumnya. Setelah diperoleh panjang gelombang maksimum, kemudian diukur lagi absorbansi dari masing-masing larutan pada panjang gelombang maksimum tersebut. Dari data yang diperoleh dapat dibuat kurva, sehingga diperoleh nilai n dari kompleks. Hasil yang diperoleh dari percobaan ini adalah panjang gelombang maksimum kompleks besi(III) salisilat adalah 530 nm. Dari hasil perhitungan menggunakan rumus n= Xmaks / (1- Xmaks) , nilai Xmaks adalah 0,4 sehingga diperoleh nilai n adalah 1. Senyawa kompleks yang diperoleh adalah [Fe(asa)]3+. Kata kunci : senyawa kompleks, metode job, besi(III) salisilat PENENTUAN KOMPOSISI ION KOMPLEKS TUJUAN Mempelajari penentuan komposisi larutan kompleks ion besi salisilat menggunakan metode job. DASAR TEORI Senyawa kompleks Senyawa kompleks adalah senyawa yang terbentuk melalui ikatan koordinasi (ikatan kovalen koordinasi) antara ion/atom pusat dengan ligan (gugus pelindung). Senyawa kompleks pertama kali ditemukan oleh Tassert (1798), yaitu CoCl3.6NH3. Senyawa tersebut dianggap aneh karena terbentuk oleh 2 senyawa stabil yang masing-masing valensinya sudah jenuh. Hal ini baru bisa dipahami setelah waktu berlalu sekitar 100 tahun Warna pada senyawa kompleks disebabkan oleh terjadinya perpindahan elektron pada orbital d, yaitu dari orbital yang tingkat energinya lebih rendah ke orbital yang tingkat energinya lebih tinggi ; misalnya dari t2g ke eg (pada kompleks oktahedral) atau dari eg ke t2g (pada kompleks tetrahedral). Perpindahan elektron tersebut dimungkinkan karena hanya memerlukan sedikit energi, yaitu bagian dari sinar tampak (pada panjang gelombang tertentu). Warna yang muncul sebagai warna senyawa kompleks tersebut adalah warna komplemen dari warna yang diserap dalam proses eksitasi tersebut Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Ion Kompleks 1. Aspek ion pusat a. Stabilitas ion kompleks bertambah jika rapat muatan ion pusat bertambah b Stabilitas ion kompleks bertambah dengan adanya CFSE, karena CFSE merupakan energi penstabilan tambahan yang diakibatkan oleh terjadinya splitting orbital d. c. Ion-ion logam klas a (asam keras) yaitu yang memiliki muatan tinggi dan ukuran kecil akan membentuk kompleks ysng stabil jika ligannya berasal dari basa keras, yaitu yang elektronegatifitasya besar dan berukuran kecil 2. Aspek ligan a. Kompleks khelat lebih stabil dibanding kompleks nonkhelat analog (yang atom donornya sama). [Ni(en)3]3+ dengan 3 sebesar 4.1018adalahlebih stabil dibanding [Ni(NH3)6]3+ 6 sebesar 108 b. Ukuran cincin : Jika ligan tidak memiliki ikatan angkap, ikatan cincin 5 adalah yang paling stabil, tetapi jka ligan memiliki ikatan rangkap, maka yang paling stabil adalah ikatan cincin 6. c. Steric effect : Ligan-ligan bercabang pada umumnya kurang stabi dibanding ligan-ligan tak bercabang yang analog.

d. Polarisabilitas : Ion-ion logam klas a (asam keras) yaitu yang memiliki muatan tinggi dan ukuran kecil akan membentuk kompleks ysng stabil jika ligannya berasal dari basa keras, yaitu yang elektronegatifitasya besar dan berukuran kecil (Cotton, 1989). Spektrofotometer UV-VIS Spektrofotometer adalah alat yang terdiri atas spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat untuk mengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorpsi. Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang (Khopkar, 1990). Secara skematis pola kerja spektrofotometer UV-VIS (Gambar 1) adalah sebagai berikut: a. Sumber-sumber lampu, lampu deuterium digunakan untuk daerah UV pada panjang gelombang dari 190 350 nm, sementara lampu halogen kuarsa atau lampu tungsten digunakan untuk daerah visibel pada panjang gelombang antara 350 800 nm. b. Monokromator digunakan untuk mendipersikan sinar ke dalam komponen-komponenpanjang gelombangnya yang selanjutnya akan dipilih oleh celah. c. Detektor berfungsi mengubah sinyal radiasi yang diterima menjadi sinyal elektronik. Prinsip spektrofotometri didasarkan adanya interaksi dari energi radiasi elektromagnetik dengan zat kimia. Dengan mengetahui interaksi yang terjadi, dikembangkan teknik-teknik analisis kimia yang memanfaatkan sifat-sifat dari interaksi tersebut Sinar ultraviolet dan sinar tampak memberikan energi yang cukup untuk terjadinya transisi elektronik. Dengan demikian, spektra uv-visible disebut spektra elektronik. Keadaan energi yang paling rendah disebut dengan keadaan dasar (ground state). Transisi-transisi elektronik akan meningkatkan energi molekuler dari keadaan dasar ke satu atau lebih tingkat energi tereksitasi Penentuan kadar secara spektrofotometri sinar tampak dilakukan dengan mengukur absorbansi maksimum. Apabila senyawa fisik tidak berwarna maka senyawa diubah dulu menjadi senyawa berwarna melalui reaksi kimia dan absorbansi ditentukan dalam daerah sinar tampak Variasi kontinyu Dari dasar percobaan adalah metode job atau metode kontinyu. Dalam metode ini dilakukan sederet pengamatan yang kuantitas molar pereaksinya berubah-ubah. Salah satu sifat fisika tertentu dipilih untuk diperiksa misalnya masa, volume, suhu dan daya serap. Oleh karena itu kuantitas pereaksinya berlainan, perubahan harga sifat fisika dan sistem ini dapat digunakan untuk meramal stokiometri sistem. Bila digambarkan grafik aliran sifat fisika yang diamati terhadap pereaksi kuantitas pereaksinya, maka akan diperoleh suatu titik maksimum atau titik minimum yang sesuai dengan titik stokiometri sistem.yaitu yang menyatakan perbandingan pereaksi-pereaksi dalam senyawa, Pada saat kesetimbangan nilai n = cS / cFe saat nilai absorbansinya paling tinggi.Cs adalah konsentrasi dari asam salisilat dan cFe adalah konsentrasi dari Fe(III). Metode ini menggunakan deret larutan yang memiliki konsentrasi c total sama. c = cS+cFe Fe3+ + nS P + nH Kn = PHnFe3+Sn Karena absorbansi sebanding dengan konsentrasi kompleks, sehingga xP adalah nilai konsentrasi yang member nilai absorbansi maksimum maka : x=1/(n+1). Dari nilai x dapat diketahui cB/cA = n (Pecsok, 1976). PEMBAHASAN Pada percobaan dengan judul penentuan komposisi ion kompleks ini bertujuan untuk mempelajari penentuan komposisi larutan kompleks ion besi salisilat menggunakan metode job. Pada percobaan ini dibuat variasi larutan, labu pertama hanya diisi dengan larutan fe3+2.10-3 Mdan diencerkan dengan akuades hingga tanda batas pada labu ukur 10 ml. labu yang lain diisi dengan campuran larutan fe3+ dengan asam salisilat. Selanjutnya variasi larutan yang telah dibuat diukur nilai absorbansinya dengan spektrofotometer uv-vis. Pengukuran nilai

absorbansi ini untuk mengetahui panjang gelombang maksimum dari masing-masing variasi larutan. Pengukuran absorbansi dilakukan dari panjang gelombang 470-570 nm dengan interval 10 nm. Cara pengukurannya adalah satu variasi diukur dari panjang gelombang 470-570 nm, baru selanjutnya untuk mengukur larutan dengna variasi yang lain. KESIMPULAN Dari percobaan penentuan komposisi ion kompleks dapat diperoleh kesimpulan : Panjang gelombang maksimum dari kompleks besi(III)salisilat adalah 530 nm. Nilai n dari perhitungan adalah 1, kompleks yang terbentuk adalah [Fe(asa)]3+. Nilai Xmax adalah pada fraksi mol 0,4 DAFTAR PUSTAKA Cotton F.A, Wilkinson G, 1989, Kimia Anorganik Dasar, UI Press, Jakarta. Hamdani,syarif dkk, 2012, Panduan Praktikum Kimia Analisis STFI, STFI, Bandung. Khopkar. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press. Jakarta. Nuryono,2003,Bahan Ajar Kimia Koordinasi, FMIPA UGM, Yogyakarta. Pecsok, R.L., Shields, L.D. ,Cairns, T., Mc. William, I.G., 1976, Modern Methods ofChemicals Analysis, 2nd , John Willey and Sons Inc., New York , hal 41-42. Rivai, Harrizul, 1995, Asas Pemeriksaan Kimia, Universitas Indonesia Press, Jakarta. Roth, J.H., dan Blaschke, G., (1998). Analisis Farmasi. Penerjemah: Kisman, dkk. Yogyakarta: UGM Press: hal. 355-357 Underwood, A.L., dan Day R. A. 2001. AnalisisKimia Kuantitatif Edisi Keenam. Erlangga. Jakarta. PENENTUAN KOMPOSISI ION KOMPLEKS DENGAN METODE JOB ABSTRAK Telah dilakukan percobaan penentuan komposisi ionn kompleks dengan metode Job, yang bertujuan untuk menentukan perbandingan jumlah mol Ni2+ dan etilendiamina dalam larutan kompleks Ni2+. Jumlah mol ligan yang terikat pada atom pusat bervariasi, maka untuk mennetukan perbandinagn jumlah mol atom pusat dengan ligan utntuk kompleks yang paling stabil dapat dialkukan denagn metode Job, yaitu memvariasikan jumlah mol ligan dan ion pusat sehingga diperoleh hasil yang paing dominan. Amaks terjadi pada perbandinagn fraksi mol (x) ion ligan Ni2+ dan etilendiamina ligan yang paling stabil. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kompleks adalah suatu satuan baru yang terbentuk dari satuan-satuan yang dapat terdiri dari atom-atom pusat dan ligan. Satu ion kompleks dapat terdiri dari satu atom pusat denagn sejumlah ligan yang terikat erat dengan atrom pusat. Metode yang dapat menentuakn perbandingan jumlah mol atom pusat dengan ligan untuk kompleks yang paling stabil dapat dilakukan dengan metode job. Kadar zat yang terbentuk dapat ditentukan dengan spektrofotometri. 1.2 Tujuan Percobaan Adapun tujuan percobaan adalah untuk menentukan perbandingan jumlah mol Ni2+ dan etilendiamina dalam larutan kompleks Ni2+. BAB II DASAR TEORI Kompleks adalah suatu satuan baru yang terbentuk dari satuan satuan yanga dapat terdiri dari atom-atom pusat dan ligan. Ligan ada yang bermuatan (netral). Didalam analisa kimia dan kimia organic, yang paling banyak diapkai dan umum adalah

ligan EDTA (Harjadi, 1986). Satu ion (molekul) kmpleks terdiri dari satu atom pusat dengan sejumlah ligan yang terikat erat dengan atom pusat. Atom pusat ditandai denagn bilangan koordinasi. Suatu angkat bulat yang ditunjukkan dengan ligan monodentat yang dapat membentuk kompleks stabil dengan atom pusat (Vogel, 1989). Kemampuan ion kompleks melakukan reaksi yang mengahsilakan pergantian satu atau lebih ligan dalam lingkungan koordinasinya oleh yang lain disebut kelabilan. Kompleks inert adalah yang reaksi pergantian liganny cukup lambat. Denagn cara memasukkan bersama-sama zat pereaksi di dalam wadah (Cotton, 1989. BAB III METODELOGI PERCOBAAN 3.1 Alat dan bahan Alat yang dipergunakan adalah gelas ukur, spektrofotometer, dan tabung reaksi. Bahan yang dipergunakan adalah NiSO4.6H2O 0,4 M, etilendiamina 0,4 M. 3.2 Cara Kerja Disiapkan 100 mL larutan Nikel Sulfat 0,4 M dan etilendiamina 0,4 M dicampurkan kedua larutan denagn perbandinagn volume sbb: Volume Ni2+ (mL) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Volume en (mL) 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Absorbansi Perbandinagn volume Ni2+ dan en dalam setaip campuran sebanding denagn fraksi mol setaip zat dalam masing-masing larutan. Diukur absorbansi larutan NiSO4.6H2O dan setiap campuran pada panjang gelombang 530, 545, 578, 622, dan 640 nm. Dihitaug nilaiY denagn persamaan Y = Acampuran (1-X) Az, dimana X = volume ligan dan Az = absorbansi larutan NiSO4.6H2O murni lalu diplotkan Y terhadap X pada panjang gelombang tersebut. Nilai x (fraksi mol) dimana dicapai harga y maksimum diguankan untuk menghitung nilai n denagn rumusw : n = X/(1-X). Dihitung perbandingan mol Ni2+ dan etilendiamina untuk senyawa Ni etilendiamina yang paling dominan.

4.2 Pembahasan Metode job merupakan suatu metode yang memvariasikan jumlah mol ligan dan ion pusat sehingga diperoleh kombinasi yang menghasilkan reaksi yang paling dominan. Metode inidapat digunakan untuk menentukan perbandingan jumlah mol atom pusat denagn ligan untuk kompleks yang paling stabil. Pada percobaan ini kita menggunkan logam Ni2+ sebagai atom pusat dan en sebagai ligan. Untuk menentukan variasi Ni2+ dan en jadi dibuat perbandingan terhadap variasi volume Ni2+ :en dimana kosentrasi NI2+ dan en sama yaitu 0,4 M. Koentrasi sama denag tujuan agar jumlah molar logam dan ligan tetap sama yang berbeda adalah komposisi antara jumlah Ni2+ dan en jika jumlah ligan semakin banyak maka jumlah logamsemakin kecil dan jika jumlah ligan semakin sedikit maka jumlah logam semakin besar. BAB V pENUTUP 5.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini adalah: 1. Dapat menentukan besar perbandingan jumlah mol atom dengan ligan yang paling stabil. 2. Etilen diammina merupakan ligan bidentat. 3. Metoda JOB merupakan variasi mol ligan dengan ion pusat dan diperoleh kombinasi yang menghasilkan reaksi paling dominan. DAFTAR KEPUSTAKAAN Cotton dan Wilkinson, 1989, Kimia Anorganik Dasar, UI-press, Jakarta Harjadi, 1986, Ilmu Kimia Analitik Dasar, Gramedia , Jakarta. Vogel, 1988, Analisa Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, Kalman Media, Jakarta Dalam percobaan penentuan komposisi ion kompleks ini memiliki tujuan untuk mempelajari penentuan komposisi larutan kompleks ion besi salisilat menggunakan metode Job.

Metode Job adalah metode variasi kontinu yang digunakan untuk menentukan kondisi optimum perbandingan antara logam pusat dan ligan dalam suatu kompleks. Pada percobaan ini dilakukan variasi terhadap fraksi mol ligan yaitu asam salisilat. Variasi fraksi mol yang digunakan adalah 0,1; 0,2; 0,3; 0,4; 0,5; 0,6; 0,7; 0,8; dan 0,9. Hasil percobaan adalah panjang gelombang maksimum yang diperoleh sebesar 520 dan 530 nm. Absorbansi larutan Fe3+ pada panjang gelombang tersebut sebesar 0,021 dan 0,017. Kompleks yang terbentuk adalah [Fe(asa)]3+ . Kata kunci : metode Job, besi salisilat, komposisi ion pektrofotometer UV-Vis Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi. Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blangko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorpsi antara sampel dan blangko ataupun pembanding (Khopkar SM,1990). Semua molekul dapat mengabsorpsi radiasi daerah UV-Vis karena mereka mengandung elektron, baik sekutu maupun menyendiri, yang dapat dieksitasikan ke tingkat energi yang lebih tinggi (Underwood, 2002). Hukum Lambert Beer digunakan untuk radiasi monokromatik, dimana absorbansi sebanding dengan tebal medium (b) dan konsentrasi (c) senyawa yang mengabsorbsi. Hal ini dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut : A = a.b.c Dimana a adalah faktor kesebandingan yang disebut absorbtivitas. Besarnya dan ukuran dari a tergantung pada satuan untuk b dan c. Untuk larutan dari senyawa yang mengabsorpsi, b sering diberikan dalam centimeter dan cdalam gram per Liter. Maka absorbtivitas dalam satuan L.g-1.cm-1. Ketika persamaan diatas dinyatakan dalam mol per liter dan tebal medium dalam centimeter, absorbtivitas disebut molar absorbtivitas dan diberi simbol khusus yaitu ?. Jadi, ketika b adalah centimeter dan c dalam mol per Liter maka persamaannya adalah sebagai berikut : A = .b.c Dimana dalam satuan L.mol-1.cm-1. c. Metode Job

Metode perbandingan mol untuk menentukan titik stoikiometri senyawa kompleks telah dikemukakan oleh Yoe Jones dan metode variasi kontinu telah dikemukakan oleh Job. Kedua metode ini dapat digunakan dalam penentuan konstanta kestabilan senyawa kompleks. Metode perbandingan mol digunakan pada penentuan konstanta kestabilan senyawa kompleks yang mengandung konsentrasi logam tetap, sedangkan konsentrasi logam divariasikan sehingga diperoleh perbandingan konsentrasi ion logam dengan konsentrasi ligan yang optimum untuk pembentukan senyawa kompleks. Metode variasi kontinu yang dikemukakan oleh Job dapat menimbulkan kondisi optimum pembentukan dan konstanta kestabilan senyawa kompleks yang mengandung konsentrasi ion logam maupun konsentrasi ligan divariasikan (Ewing, 1985). b. Pembahasan

Telah dilakukan percobaan yang berjudul Penentuan Komposisi Ion Kompleks dan bertujuan untuk mempelajari komposisi larutan kompleks ion besi salisilat menggunakan metode Job. Tahap pertama adalah pembuatan campuran antara larutan Fe3+ dengan asam salisilat. Larutan Fe3+ dan asam salisilat dengan konsentrasi masing-masing 0,002 M dicamurkan dalam labu takar 10 ml. Campuran dibuat dalam beberapa variasi fraksi mol asam salisilat, yaitu 0,1; 0,2; 0,3; 0,4; 0,5; 0,6; 0,7; 0,8; dan 0,9. Campuran ini menghasilkan larutan yang berwarna ungu. Warna yang timbul dari senyawa kompleks ini disebabkan oleh adanya transisi elektronik dari komplek tersebut. Kompleks ini menunjukan warna komplementernya kerena atom pusatnya memiliki orbital d yang belum terisi penuh elektron. Adanya orbital d yang belum terisi penuh ini menyebabkan kemungkinan terjadinya transisi elektronik dari satu orbital d dari tingkat energi terendah ke orbital d yang tingkat energinya tinggi. Pada kompleks ini, strkturnya adalah octahedral sehingga transisi yang etrjadi adalah dari orbital t2g ke orbital eg. Kepekatan warna bertambah semakin meningkatnya fraksi mol asam salisilat. Akan tetapi, terdapat warna kepekatan maksimum dan akan kembali berwarna tidak pekat dimulai dari fraksi mol 0,7; 0,8; dan 0,9.

Masing-masing larutan dihitung absorbansinya pada range panjang gelombang 490-570 nm dengan interval 10 nm. Dari hasil perngukuran, diperoleh nilai absorbansi dan dapat diplotkan dalam kurva sebagai belikut: Dari kedua kurva tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat 2 panjang gelombang dengan nilai absorbansi maksimum yaitu pada panjang gelombang 520 nm dan 530 nm. Berdasarkan hasil tersebut dilakukan pengukuran pada larutan sampel Fe3+. Nilai absorbansi hasil pengukuran sebesar 0,021 pada panjang gelombang 520 nm dan 0,017 pada panjang gelombang 530 nm. Panjang gelombang teoritis untuk kompleks besi (III) salisilat adalah 520 nm. Hal ini disebabkan karena kompleks ini menyerap warna dari warna koplementer ungu yaitu kuning. Namun munculnya panjang gelombang maksimum pada daerah UV disebabkan adanya trasisi elektronik yang di sebabkan adanya gugus kromofor yakni cincin benzena yang terdapat pada kompleks tersebut. Reaksi yang terjadi adalah Fe3+ + asa- *Fe(asa)+3+ Fe3+ + asa- *Fe(asa)2+2+ Fe3+ + asa- *Fe(asa)3++ Perhitungan dilakukan untuk mengetahui berapa komposisi ion-ion penyusun pada kompleks besi (III) salisilat. Berdasarkan perhitungan, diperoleh nilai Y un tuk masing-masing fraksi mol. Nilai Y ini akan digunakan sebagai sumbu y pada grafik dalam penentuan komposisi maksimum larutan. Pada panjang gelombang 520 nm diperoleh fraksi mol maksimum pada fraksi mol asam salisilat sebesar 0,3. Pada panjang gelombang 530 nm juga diperoleh fraksi mol maksimum pada fraksi mol sebesar 0,3. Penggunaan metode Job pada percobaan ini adalah untuk mengetahui pada kondisi optimum dimana perbandingan logam dengan ligan menyebabkan terjadinya kesetimbangan senyawa kompleks. Pengaruh dari variasi kontinu penambahan fraksi mol asam salisilat adalah pada penambahan asam salisilat 0,1, senyawa kompleks bersifat tidak stabil sampai pada penambahan fraksi mol sebesar 0,3. Pada penambahan ini dicapai titik kestabilan senyawa kompleks atau terdapat perbandingan yang sesuai antara ligan dengan atom pusatnya. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai n pada [Fe(asa)n]3+ . Nilai n yang diperoleh adalah 1. Hal ini dapat dinyatakan bahwa senyawa kompleks yang terbentuk adalah [Fe(asa)]3+. V. KESIMPULAN Metode Job dapat digunakan untuk mwnwntukan komposisi ion dalam senyawa kompleks. Panjang gelombang maksimum yang diperoleh adalah 520 nm dan 530 nm. Senyawa kompleks yang terbentuk yaitu [Fe(asa)]3+.