Anda di halaman 1dari 8

Sistitis pada Anak

Claudia Elleonora M. da Lopez 10.2011.169 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Wacana Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510 Email: elleonoralopez@ymail.com

PENDAHULUAN
Infeksi saluran kemih adalah penyakit genitourinaria yang paling lazim pada masa kanak-kanak, dimana banyak juga diderita oleh orang dewasa. Infeksi saluran kemih pada masa kanak-kanak lebih banyak di derita oleh anak laki-laki, dibandingkan anak perempuan. Tetapi menjadi lebih banyak diderita oleh perempuan ketika dewasa oleh karena berbagai faktor. Untuk menegakan diagnosa infeksi saluran kemih ini, dibutuhkan gejala khas dan berbagai pemeriksaan penunjang. Infeksi saluran kemih dibagi atas infeksi saluran kemih uncomplikata dan infeksi saluran kemih complikata. Dapat juga dibagi menjadi infeksi saluran kemih bagian atas, dan infeksi saluran kemih bagian bawah yang meliputi uretritis dan cystitis.

PEMBAHASAN

Anamnesis
Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap pasien (auto-anamnesis) atau terhadap keluarganya atau pengantarnya (alo-anamnesis) bila keadaan pasien tidak memungkinkan untuk diwawancarai, misalnya keadaan gawat-darurat, dan lain sebagainya.1 Anamnesis yang baik akan terdiri dari identitas, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit dalam keluarga, anamnesis susunan sistem dan anamnesis pribadi (meliputi keadaan sosial ekonomi, budaya, kebiasaan, obat-obatan, lingkungan). Pada kasus ini, yang kita lakukan adalah allo-anamnesis, dan yang harus kita tanyakan adalah apakah anak ini merasa sulit berkemih, frekuensi berkemihnya berapa kali sehari, apakah harus terbangun malam hari untuk berkemih dan berapa kali, apakah ada nyeri saat berkemih, rasa tidak puas dan urin menetes, apakah ada nyeri suprapubik, apakah urin berwarna merah, apakah disertai kolik.

Diagnosa diferential
1. Imunoglobulin A nefropati.
Suatu bentuk glomerulonefritis yang ditandai oleh deposit, terutama IgA, pada setiap glomerulus. Deposit yang difus ini disertai pula dengan kelainan fokal dan segmental. Nefropati IgA dapat terjadi pada semua tingkat usia, walaupun jarang ditemukan pada usia <10 tahun atau >50 tahun. Laki-laki lebih sering mendapat kelainan ini daripada wanita(6:1). Hematuria makroskopik yang berulang terjadi 13 hari setelah infeksi saluran nafas, atau setelah suatu infeksi yang tidak jelas merupakan gejala permulaan yang sering dijumpai diEropa. Hematuria makroskopik merupakan kelainan utama yang hilang timbul, tetapi hematuria mikroskopik menetap di antara saat terjadinya hematuria makroskopik. Dismofik eritrosit pada urin menunjukkan bahwa eritrosit berasal dari glomerulus, walaupun mungkin ditemukan bentuk eritrosit normomorfik dan dismorfik. Proteinuria sering (60% dari kasus) dideteksi pada pemeriksaan urin rutin dengan kadar kurang dari 1 gram/hari. Proteinuria yang berat (nephrotic range) ditemukan pada kira-kira pada 10% penderita. Faal ginjal umumnya masih normal, tetapi gambaran gagal ginjal akut maupun gagal ginjal kronik dapat dideteksi pada beberapa pasien. Kadar komplemen juga normal, walaupun dapat dijumpai fragmen C3 yang meningkat, karena proses nefropati IgA berjalan melalui alternate pathway. Peningkatan kadar serum IgA terdapat pada 50% penderita, dalam bentuk dimerik.

2. Glomerulonephritis Akut
Inflamasi pada glomerulus yang disebabkan banyak faktor seperti infeksi, gangguan immunologi, ischemia, gangguan vaskular, ataupun obat-obatan. Gejala yang sering ditemukan adalah hematuria atau kencing seperti merah daging, kadang-kadang disertai sembab ringan disekitar mata atau seluruh tubuh. Umumnya sembab berat terdapat pada oliguria dan bila ada gagal jantung. Hipertensi terdapat pada 60-70% anak dengan glomerulonefritis akut pada hari pertama,kemudian pada akhir minggu pertama menjadi normal kembali. Hipertensi timbul karena vasospasme atau iskemia ginjal, suhu badan tidak tinggi, tetapi dapat tinggi sekali pada hari pertama. Riwayat yang spesifik pada anak dengan proteinuria, misalnya sembab periorbital, pratibial, skrotum atau anasarka pada sindroma nefrotik yang pada awalnya berupa sembab muka pada waktu bangun tidur dan menghilang pada siang hari, tetapi kemudian sembab akan menetap bila bertambah hebat atau menjadi anasarka. Hal ini sering dikira sebagai reaksi alergi, bertambahnya berat badan dengan cepat akibat ekspansi cairan ekstraseluler (dengan keluhan pakaian menjadi sempit atau perut buncit) jumlah urine berkurang. Pada kasus yang lebih berat terdapat

anoreksia, sakit kepala, muntah dan bahkan kejang kadang disertai tanda penurunan fungsi ginjal seperti anoreksia, apatis, mudah lelah, lambat tumbuh, dan anemia. 3. ISK Comlicated ISK yang beralokasi selain di vesika urinaria,ISK pada anak-anak,laki-laki,atau ibu hamil

Infeksi saluran kemih


Infeksi saluran kemih adalah suatu penyakit genitourinaria yang paling lazim pada masa anakanak. Infeksi ini sering terjadi pada anak-anak, dan merupakan penyakit terbanyak ke-2 setelah Infeksi saluran napas atas (ISPA). Infeksi ini dapat terjadi di semua tempat di sepanjang saluran genitouria : uretra, kandung kemih, ureter, pelvis ginjal, atau parenkim ginjal. Hal yang sangat penting untuk diagnosis ISK adalah biakan yang menunjukkan bakteri, jamur atau partikel virus dalam jumlah bermakna. Urine kandung kemih normalnya steril, tetapi pada proses berkemih, urine bisa terkontaminasi dari uretra anterior, vagina atau struktur di sekitarnya. Dengan demikian, bakteriuria harus didefenisikan sebagai keberadaan organisme patogenik di dalam urin yang dikemihkan, dalam jumlah melebihi yang biasa disebabkan oleh kontaminasi serta yang berada dalam kisaran titer bakteri biasa untuk urin yang terinfeksi. Hal ini biasanya berarti suatu biakan urin yang dikemihkan mengandung > 100.000 unit pembentuk koloni per mililiter. Jika satu kali berkemih sudah menunjukan 105 cfu/mL, terutama pada pasien asimptomatik, peluang infeksi adalah sebesar 80%. Jika organisme bisa diperoleh dari 2 spesimen terpisah, ketepatan diagnostik meningkat jadi 95%. Jika sampel mengandung <104 cfu/Ml, 98% peluang bahwa pasien tidak menderita ISK. Biasanya jumlah koloni dalam kisaran 10 4-105 cfu/mL harus dicurigai, dan pengujian harus diulang. Bila spesimen diambil menggunakan kateter, organisme dapat masuk ke dalam kandung kemih, dan pertumbuhan bakteri pada biakan bisa tidak mempresentasikan infeksi.

Sistitis
Sistitis adalah inflamasi kandung kemih yang paling sering disebabkan oleh penyebaran infeksi dari uretra. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik urine dari uretra ke dalam kandung kemih, kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau sistoskop. Beberapa penyelidikan menunjukan 20% dari wanita-wanita dewasa tanpa mempedulikan umur setiap tahun mengalami disuria dan insidennya meningkat sesuai pertumbuhan usia dan aktifitas seksual, meningkatnya frekuensi infeksi saluran perkemihan pada wanita terutama yang gagal berkemih setelah melakukan hubungan seksual dan diperkirakan pula karena uretra wanita lebih pendek dab tidak punya substansi anti mikroba seperti yang ditemukan pada cairan seminalsistitis pada pria merupakan kondisi sekunder akibat beberapa faktor, misalnya prostat yang terinfeksi, epididimitis, atau batu pada kandung kemih.

Klasifikasi
Sistitis dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

1. Sistitis primer ; radang yang mengenai kandung kemih, dapat terjadi karena penyakit lain seperti batu pada kandung kemih, divertikel, hipertropi prostat dan striktura uretra. 2. Sistitis sekunder ; gejala yang timbul kemudian sebagai akibat dari penyakit primer, misalnya uretritis dan prostatitis

Etiologi
Escherichia coli merupakan organisme paling lazim yang menyebabkan ISK, bertanggung jawab atas >80% infeksi pertama dan 75% infeksi ulangan. Sekitar 8-10% dari 150 serotipe E. coli yang sudah dikenal, sebabkan 2/3 dari ISK E.coli.Organisme gram negatif lain, seperti klebsiella, Enterobacter, Proteus dan Pseudomonas sering ditemukan pada infeksi dengan komplikasi atau infeksi berulang, dan sebabkan 10-15% infeksi tambahan. Bakteri anaerobik juga sebabkan ISK, Clostridium perfringens, dan spesies Bacteroideus dan Fusobacterium biasa ditemukan pada obstruksi urinaria. Mycobacterium tuberculosis, berbagai jamur dan ragi terkadang juga jadi penyebab.

Patofisiologi
Sistitis merupakan infeksi saluran kemih bagian bawah yang secara umum disebabkan oleh bakteri gram negatif yaitu E. coli. Peradangan timbul dengan penjalaran secara hematogen ataupun akibat obstruksi saluran kemih bagian bawah, baik akut maupun kronis; dapat bilateral maupun unilateral. Kemudian bakteri tersebut berkolonisasi pada suatu tempat misalkan pada vagina atau genitalia eksterna menyebabkan organisme melekat dan berkolonisasi di suatu tempat di periutenial dan masuk kandung kemih.

Epidemiologi dan Gambaran Klinis


ISK tergantung banyak faktor; seperti usia, gender, prevalensi bakteriuria, dan faktor predisposisi yang menyebabkan perubahan struktur saluran kemih termasuk ginjal. Selama periode usia beberapa bulan dan lebih dari 65 tahun perempuan cenderung menderita ISK dibandingkan lakilaki. ISK berulang pada laki-laki jarang dilaporkan, kecuali disertai faktor predisposisi (pencetus). Prevalensi bakteriuria asimtomatik lebih sering ditemukan pada perempuan. Prevalensi selama periode sekolah (school girls) 1 % meningkat menjadi 5% selama periode aktif secara seksual. Prevalensi infeksi asimtomatik meningkat mencapai 30%, baik laki-laki maupun perempuan bila disertai faktor predisposisi seperti berikut litiasis, obstruksi saluran kemih, penyakit ginjal polikistik, nekrosis papilar, diabetes mellitus pasca transplantasi ginjal, nefropati analgesik, penyakit sickle-cell, senggama, kehamilan dan peserta KB dengan table progesterone, serta kateterisasi. (Sukandar, E., 2004)

Neonatus
Penelitian di swedia yang menggunakan teknik pengumpulan dengan kantong menemukan ISK pada 1,4% neonatus asimptomatik, dan insidensi bakteriuria asimptomatik berkisar antara 1-3%. Pada bayi preterm, insidensi bakteriuria berkisar antara 2,4-5,6%; hasil yang paling dapat dipercaya menunjukan angka 2,4% melalui pungsi suprapubik. Insidensi pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Gejala cenderung lebih sistemik dibandingkan pada anak yang lebih tua. Gejala yang paling lazim adalah kegagalan tumbuh kembang, nafsu makan yang kurang, muntah serta diare. Sekitar 30% bayi dengan ISK simptomatik memperlihatkan gejalan sistem saraf pusat (letargi, iritabilitas, serangan kejang, koma) dan hampir 20% menunjukan tanda yang mengesankan septikemia. Kolik hanya tampilan, hanya dijumpai pada sekitar 5%.

Bayi
Insidensi bakteriuria asimptomatik pada anak berusia 1 bulan-2 tahun ada;ah sekita 3%. Gejalanya relatif tidak spesifik : masalah makan, kegagalan pertambahan berat secara normal, gejala saluran cerna, dan demam yang tidak jelas penyebabnya. Banyak anak yang memperlihatkan tanda ISK ( disuria, urgensi, frekuensi ).

Batita
Anak prasekolah juga menunjukan insidensi infeksi asimptomatik sebanyak 2-3%. Gejalanya lebih terbatas pada saluran genitouria; keluhan nyeri perut bawah, demam, disuria, dan frekuensi serta urgensi. Bisa ada kejang demam. Enuresis sebanyak 7-30% pada anak prasekolah dgn ISK.

Anak usia sekolah.


Pada kelompok ini, ISK lebih sering terjadi pada anak perempuan 30X lebih besar dibandingkan anak laki-laki (1,2 vs 0,04%). Resiko perkembangan ISK pada perempuan sebanyak 3% sedangkan laki-laki 1,1%. Gejalanya berupa demam, nyeri abdomen, nyeri suprapubik, nyeri pinggang, disuria, urgensi serta frekuensi.

Manifestasi klinis
Disuria karena epitelium yang meradang , Peningkatan frekuensi berkemih, Perasaan ingin berkemih, Piuria, Nyeri punggung bawah atau suprapubic, Demam, Hematuria.

Diagnosis
Diagnosis ISK didasarkan pada biakan bakteri yang positif dalam urine yang diperoleh melalui kateterisasi kandung kemih atau dengan pungsi kandung kemih suprapubik menunjukan infeksi. Urine yang dikumpulkan dengan tepat, yang segera dibiakkan, tumbuh lebih dari 100.000 koloni/mL dari satu organisme pada biakan bakteri kuantitatif mempunyai korelasi 95% positif dengan aspirasi suprapubik. Jumlah koloni bakteri yang kurang dari 105 pada spesimen urin mengurangi kemungkinan infeksi. Adanya leukosit dala urine menunjukan bahwa infeksi dapat dialami anak yang bergejala, tetapi penyakit peradangan seperti glomerulonefritis pasca stertococcus akut, disertai dengan leukosituria. Darah dalam urin dapat dijumpai pada ISK, terutama pada anak perempuan remaja, tetapi tidak menegakan diagnosis. Keberadaan banyak bakteri motil pada urine yang baru dikeluarkan dan diperiksa dari bayi dan anak bergejala, punya korelasi 94% dengan biakan positif aspirasi suprapubik. Lokalisasi ISK penting karena infeksi saluran kemih atas lebih sering dikaitkan dengan kelainan anatomi daripada ISK bawah. Sayangnya, gambaran klinis merupakan petunjuk yang terbatas dalam menentukan lokasi infeksi pada neonatus, bayi dan batita. Demam dan nyeri perut dapat terjadi pada ISK bawah dan atas, walaupu demam tinggi menyokong keterlibatan saluran kemih atas. 1. Urinalisis Leukosuria atau piuria terdapat >5/lpb sedimen air kemih Hematuria 5-10 eritrosit/lpb sedimen air kemih 2. Bakteriologi Mikroskopis ; satu bakteri lapang pandang minyak emersi, 102-103 cfu/ml urin plus piuria Tes Kimiawi ; tes reduksi griess nitrat berupa perubahan warna pada uji carik.

3. Pemeriksaan USG abdomen . pemeriksaan photo BNO dan BNO IVP

Faktor predisposisi
Uretra yang pendek pada perempuan memberi kecenderungan untuk terjadinya ISK. Bayi lakilaki yang tidak disirkumsisi juga berisiko untuk ISK. Serotipe E. coli dari flora usus sering kali ditemukan di ISK. Lagipula, strain bakteri tertentu telah meningkatkan perlekatan pada sel uroepitelial, yang berkolerasi dengan adanya pili bakteria. Ginjal hidronefrosis, refluks vesikouretra, pengosongan kandung kemih yang buruk, malformasi kongenital, nefrolitiasis sebabkan stasis urine yang memberi kecenderungan untuk menderita ISK.

Pemeriksaan penunjang
1. Urinalisis a. Makroskopik Urine keruh dan bau b. Mikroskopik Piuria, hematuria dan bakteriuria 2. Kultur urin, untuk mengetahui jenis kuman penyebab infeksi 3. Sistografi, jika sistits sering mengalami kekambuhan, sehingga perlu dipikirkan adanya kelainan lain pada buli-buli seperti keganasan dan urolitiasis. 4. Rontgen, untuk menggambarkan keadaan ginjal, ureter dan kandung kemih 5. Sistouretrografi, untuk mengetahui adanya arus balik air kemih dari kandung kemih dan penyempitan uretra. 6. Uretrogram retrograd, untuk mengetahui adanya penyempitan, divertikula atau fistula 7. Sistoskopi, untuk melihat kandung kemih secara langsung dengan serat optik.

Penatalaksanaan
Pemberian antibiotik oral jangka panjang. TMP-SMX, nitrofurantoin, dan florokuinolon memiliki keefektifan yang sangat baik terhadap kebanyakan patogen yang menyebabkan sistitis. TMP-SMX dan nitrofurantoin memiliki harga murah sehingga dianjurkan untuk pengobatan sistitis uncomplicated. Pada dewasa dan anak-anak, durasi pemberian obat biasanya diberikan untuk 3-5 hari. Terapi jangka panjang pada sistitis tidak dianjurkan dan terapi dosis tunggal untuk perawatan sistitis/ISK berulang tampaknya kurang efektif untuk dilakukan. Tetapi, florokuinolon dengan long half-lives (fleroxacin, pefloxacin, rufloxacin) mungkin cocok untuk terapi dosis tunggal.

Selain antibiotik, kadang-kadang juga diperlukan obat-obatan golongan antikolinergik (propantheline bromide) untuk cegah hiperiritabilitas buli-buli dan fenazopiridin hidroklorida sebagai antiseptic pada saluran kemih. Pembedahan dilakukan untuk mengatasi penyumbatan pada aliran kemih atau untuk memperbaiki kelainan struktur yang menyebabkan infeksi lebih mudah terjadi. Biasanya sebelum pembedahan diberikan antibiotik untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi ke seluruh tubuh.

Komplikasi
Pada umunya sistitis merupakan tipe ISK uncomplicated yaitu non obstruksi dan bukan terjadi pada wanita hamil, merupakan penyakit ringan dan tidak menyebabkan akibat lanjut jangka panjang. Akan tetapi apabila sistitis terjadi pada wanita hamil, akan menyebabkan berbagai komplikasi khususnya bagi bayi yang akan dilahirkan, seperti Pielonefritis, Bayi premature, Cerebral palsy, Fetal death, Anemia, Retardasi mental, Pertumbuhan lambat, Pregnancy-induced hypertension.

Prognosis
Tergantung penanganan yang diberikan. Apabila penanganan diberikan cepat dan tepat maka akan mendapatkan prognosis yang baik, namun bila penanganan salah dan buruk, maka prognosisnya kurang baik.

Daftar Pustaka