Anda di halaman 1dari 8

KRISIS PRODUKSI

DISUSUN OLEH RICHARD SIMEON 1251261

Krisis Produksi
Kelebihan permintaan/ harga Output pertanian Input bagi sectorsektor lain

Kesempatan kerja/pendapatan

Produksi di sector lain

Inflasi

Kemiskinan

Krisis ekonomi di sector pertanian dapat berbentuk krisis produksi, krisis produksi diakibatkan oleh gagal panel, cuaca ekstrim dan lain-lain. Sehingga output turun. Output pertanian turun selain untuk dikonsumsi juga untuk bahan baku bagi sector lain untuk barang lain sehingga menyebabkan input sector-sector lain menurun dan menyebabkan produksi sector lain menurun. Produksi di sector lain berkurang maka permintaan tenaga kerja menurun, menurunnya kesempatan kerja berarti pendapatan masyarakat berkuranbg menyebabkan kemiskinan. Output menurun maka jumlah yang ditawarkan menurun tetapi jumlah permintaan naik. Harga naik menyebabkan inflasi naik, maka kemiskinan meningkat.

Krisis Perbankan
Rumah tangga Sector perbankan Kredit usaha /R

Tabungan

Kredit konsumsi / R

Kesempatan kerja/pendapatan

Produksi di sector- sector ekonomi

Konsumsi

Kemiskinan

Sector perbankan menurun karena mengalami kekurangan dana bahkan bangkrut maka menyebabkan tabungan berkurang. Bagi RT kaya, tabungan mereka hilang karena RT akan memperoleh kredit tetapi dengan bunga yang tinggi. Akibat bunga tinggi menyebabkan biaya produksi tinggi maka harga pun naik. Permintaan konsumsi akan turun karena konsumsi turun maka produksi akan mengurangi produksi. Karena produksi berkurang permintaan tenaga kerja berkurang, permintaan tenaga kerja berkurang maka kesempatan kerja menurun yang berarti pendapatan masyarakat berkurang. Pendapatan masyarakat berkurang maka menyebabkan kemiskinan.

Krisis Nilai Tukar


Impor Depresiasi nilai tukar mata uang nasional Ekspor

Impor

Impor konstan

Produksi

Biaya produksi Produksi Inflasi Kesempatan kerja / pendapaant

Kesempatan kerja / pendapatan

Kemiskinan ?

Terjadi depresiasi nilai tukar mata uang nasional terhadap dolar maka nilai rupiah turun. Dampak langsung dari perubahan tersebut adalah pada ekspor dan impor. Ekspor :Depresiasi nilai tukar dari suatu mata uang terhadap dollar AS membuat daya saing harga (dlm dollar AS) membaik yang meningkatkan volume ekspor, kenaikan volume ekspor menambah volume produksi yang juga meningkatkan jumlah kesempatan kerja di perusahaan- perusahaan eksportir maka pendapatan naik, pendapatan naik menyebabkan kemiskinan turun karena daya beli masyarakat naik. Impor : akibat kurs mata uang melemah, misal dalam rupiah dari Rp2.000,- per satu dollar AS menjadi Rp10.000,- per satu satu dollar AS, maka harga dalam rupiah di pasar dalam negri dari produk impor naik. Harga produk impor naik maka akan mengurangi produksi dikarenakan bahan baku naik. Produksi menurun maka menyebabkan permintaan tenaga kerja berkurang, permintaan TK berkurang maka kesempatan kerja berkurang dan mengakibatkan pendapatan berkurang. Pendapatan masyarakat berkurang maka kemiskinan bertambah .

Krisis Perdagangan

Harga/ permintaan ekspor

Permintaan terhadap output sektor-sektor lain

Pendapatan petani & buruh

Penghasilan ekspor dari perusahan eksportitr

Kesempatan kerja/ pendapatan

Kemiskinan

Kesempatan kerja di perusahaan eksportit

Harga atau permintaan turun akibat harga dipasar internasional turun maka harga dalam negri lebih mahal akibatnya permintaan akan barang-barang ekspor turun. Akibat permintaan barang-barang ekspor turun terjadi penurunan perusahaan eksportir, berkurangnya perusahaan- perusahaan ekportir mengakibatkan turunnya produksi barang-barang ekspor maka penghasilan ekspor turun. Penggunaan tenaga kerja berkurang berarti kesempatan kerja menurun. Maka mengakibatkan pendapatan berkurang maka menimbulkan kemiskinan. Harga komoditas pertanian menurun di Pasar Internasional, maka harga dalam negri mahal dan mengakibatkan permintaan komoditi pertanian turun. Turunnnya permintaan komoditi pertanian mengakibatkan perusahaan eksportir turun, perusahaan eksportir turun maka penghasilan turun. Permintaa tenaga kerja menurun, maka kesempatan kerja menurun mengakibatkan pendapatan buruh tani turun. Turunnya pendapatan maka permintaan terhadap output sektor lain, contoh seperti TV,motor, dan radio turun. Permintaan output sector lain turun maka penggunaan tenaga kerja berkurang dan kesempatan kerja menurun akibatnya pendapatan berkurang. Pendapatan masyarakat berkurang maka terjadi kemiskinan.

Krisis Modal

Modal lari/modal di dalam negri

Depresiasi nilai tukar nasional

Investasi domestik

Akibat terjadi krisis Asia tahun 1997-1998 yang dipicu oleh larinya modal. Dari Thailand tidak sedikit larinya modal sehingga banyak pengusaha yang lari maka mengakibatkan nilai tukar bath terdepresiasi. Seperti halnya di Indonesia banyak investor yang meninggalkan Indonesia. Berkurangnya jumlah uang yang beredar, mendorong tingkat bunga naik, maka permintaan akan uang akan turun. Harga impor turun, maka produksi impor turun juga. Impor turun maka permintaan tenaga kerja berkurang dan kesempatan kerja menurun. Kesempatan kerja turun maka output turun dan tingkat pengangguran naik. Maka pendapatan masyarakat turun mengakibatkan kemiskinan akibatnya permintaan akan barang/ jasa turun maka PBD pun turun.

Krisis keuangan asia 1997-1998


Modal (dolar AS) lari dari Thailand

Bath depresiasi

3 1 2

4 1. Krisis keuangan Asia 1997-1998 dipicu oleh larinya modal, terutama modal asing jangka pendek. Dari Thailand, tidak dalam jumlah yang kecil, sehingga para investor meninggalkan Thailand. Akibatkan nilai tukar bath terhadap AS terdrepresiasi dalam jumlah yang besar. Sama juga terjadi di Indonesia yang membuat nilai tukar rupiah terhadap AS melemah. Rupiah terdepresiasi mengakibatkan perusahaan mengalami krisis keuangan karena para investor menarik uangnya. Maka meminjam ke bank dan tidak dapat membayar yang mengakibatkan krisis keuangan perbankan karena kehabisan stok dolar. Maka perbankan hancur, perbankan hancur mengakibatkan perusahaan bangkrut karena tidak adanya aliran dana. Perusahaan bangkrut, maka output menurun. Karena output turun maka penggunaan tenaga kerja berkurang, mengakibatkan kurangnya kesempatan kerja maka pengangguran bertambah, menyebabkan kemiskinan meningkat. Kemiskinan menurun maka permintaan akan barang/ jasa berkurang dan mengakibatkan PDB turun. 2. Krisis keuangan Asia 1997-1998 dipicu oleh larinya modal, terutama modal asing jangka pendek. Dari Thailand, tidak dalam jumlah yang kecil, sehingga para investor meninggalkan Thailand. Akibatkan nilai tukar bath terhadap AS terdrepresiasi dalam jumlah yang besar. Sama juga terjadi di Indonesia yang membuat nilai tukar rupiah

terhadap AS melemah. Rupiah terdepresiasi mengakibatkan krisis keuangan perbankan karena kehabisan stok dolar AS untuk intervensi. Menyebabkan perbankan hancur. Perbankan hancur maka penggunaan tenaga kerja berkurang, penggunaan tenaga kerja berkurang menyebabkan kesempatan kerja berkurang akibatnya pengangguran meningkat. Pengangguran meningkat maka kemiskinan bertambah. Kemiskinan bertambah menyebabkan berkurangnya permintaan masyarakat akan barang/ jasa dan menyebabkan PDB turun. 3. Krisis keuangan Asia 1997-1998 dipicu oleh larinya modal, terutama modal asing jangka pendek. Dari Thailand, tidak dalam jumlah yang kecil, sehingga para investor meninggalkan Thailand. Akibatkan nilai tukar bath terhadap AS terdrepresiasi dalam jumlah yang besar. Sama juga terjadi di Indonesia yang membuat nilai tukar rupiah terhadap AS melemah. Rupiah terdepresiasi maka menyebabkan harga impor (dolar AS) naik. Misal dari Rp2.000 per satu dolar AS naik menjadi Rp10.000 per satu dolar AS, maka harga- harga barang-barang impor dalam rupiah di pasar dalam negri akan naik. Harga naik mengakibatkan permintaan akan barang impor berkurang maka impor aka berkurang. Impor menurun maka output/ hasil produksi turun menyebabkan PDB turun. 4. Krisis keuangan Asia 1997-1998 dipicu oleh larinya modal, terutama modal asing jangka pendek. Dari Thailand, tidak dalam jumlah yang kecil, sehingga para investor meninggalkan Thailand. Akibatkan nilai tukar bath terhadap AS terdrepresiasi dalam jumlah yang besar. Sama juga terjadi di Indonesia yang membuat nilai tukar rupiah terhadap AS melemah. Rupiah terdepresiasi maka menyebabkan harga impor (dolar AS) naik. Misal dari Rp2.000 per satu dolar AS naik menjadi Rp10.000 per satu dolar AS, maka harga- harga barang-barang impor dalam rupiah di pasar dalam negri akan naik. Maka menyebabkan inflasi di Indonesia meningkat. Inflasi meningkat maka menyebabkan permintaan akan barang turun dan menyebabkan turunnya PDB.