Anda di halaman 1dari 5

22

BAB IV PEMBAHASAN A. PENGKAJIAN Pada pengkajian didapatkan data klien mengatakan sesak napas, sesak bertambah bila untuk aktivitas, sesak berkurang bila untuk istirahat, klien makan hanya 3 sendok dari porsi yang disediakan, klien tidak makan makanan dari luar RS, klien mengatakan tidak nyaman karena sesak napas, auskultasi bunyi jantung gallop, ronkhi pada kedua paru oedem pada tungkai, perawatan diri makan/minum, mandi, toileting dibantu, muka pucat, konjungtiva anemis, mukosa bibir kering, terdapat distensi vena jugularis, pemeriksaan EKG possible left atrial enlargement, TD 140/90 mmHg nadi 112 x/mnt, RR 28 x/mnt, hemoglobin 7,5 gr/dl. BB 35 kg, BB sebelum sakit 45 kg, , hemoglobin 7,5 gr/dl. Dari hasil pengkajian menurut Smeltzer (2002) fokus pengkajian keperawatan ditujukan untuk mengobservasi adanya tandatanda dan gejala kelebihan cairan paru dan tanda serta gejala sistemik. Pada pemeriksaan paru ditemukan adanya bunyi suara tambahan ronkhi pada kedua paru, hal ini dikarenakan adanya gerakan udara melalui cairan dan dapat menunjukkan adanya kongesti paru. Pada pemeriksaan jantung ditemukan bunyi gallop, menurut Muttaqin (2009) hal ini merupakan indikasi awal (premonitori) menuju kegagalan, meskipun hal ini tidak selalu merupakan tanda pasti kegagalan kongesti, tetapi dapat menunjukkan adanya penurunan komplians (peningkatan kekakuan) miokardium. Adanya penurunan curah jantung akibat dari gagal jantung dapat menimbulkan manifestasi klien merasa lemah, adanya penurunan toleransi latihan, dan klien merasa sesak napas, gejala ini mungkin merupakan keluhan utama pada klien dengan gagal jantung, hal ini

SEMINAR KELOMPOK GAGAL JANTUNG

23

sesuai pada kasus ditemukan bahwa klien mengatakan sesak napas dan bertambah bila untuk aktivitas (Muttaqin, 2009). Pada pemeriksaan abdomen tidak ditemukan adanya ascites, dan tidak ada pembesaran hepar, salah satu tanda dan gejala yang ditemukan pada klien dengan gagal jantung adanya hepatomegali, namun pada pemeriksaan tidak ditemukan adanya hepatomegali, hepatomegali dapat terjadi akibat dari pembesaran vena di hepar. Bila proses ini berkembang, maka tekanan dalam pembuluh portal meningkat sehingga cairan terdorong keluar rongga abdomen, yaitu suatu kondisi yang dinamakan ascites (Smeltzer, 2002). Klien Ny. S pada ekstremitas ditemukan adanya oedem, oedem yang terjadi merupakan akibat penimbunan cairan dalam ruang interstisial, oedem mula mula tampak pada bagian tubunh yang tergantung, dan terutama pada malam hari. Gagal jantung yang berlanjut dapat menimbulkan oedem anasarka yaitu oedem tubuh generalisata (Price, 2006). Gagal jantung menimbulkan tanda-tanda berkurangnya perfusi ke organ. Aliran darah dialihkan dari organ non vital demi mempertahankan perfusi ke jantung dan otak sehingga manifestasi paling dini adalah berkurangnya perfusi ke organ misalnya kulit di temukan pucat, dan dingin. Hal ini disebabkan oleh vasokonstriksi perifer, makin berkurangnya curah jantung dan meningkatnya kadar hemoglobin tereduksi. Namun pada klien didapatkan kadar henoglobin kurang yaitu 7,5 gr/dl. Pada klien mempunyai riwayat gastritis kronis kurang lebih 2 tahun, hal ini berperan dalam absorbsi nutrisi yang kurang yang dapat memicu terjadinya anemia defisiensi besi (Price, 2006). B. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus adalah penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan beban
SEMINAR KELOMPOK GAGAL JANTUNG

24

ventrikel,

Intoleransi

aktivitas

berhubungan

dengan

ketidakseimbangan antara suplai oksigen ke jaringan dengan kebutuhan sekunder terhadap penurunan curah jantung, dan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Penurunan curah jantung adalah keadaan pompa darah oleh jantung yang tidak adekuat untuk mencapai kebutuhan tubuh, dimana batasan karakteristiknya adalah adanya dispnea, kelelahan, oedem, adanya perubahan gambaran EKG, adanya bunyi jantung S3 atau S4. Pada kasus ditemukan adanya data pendukung yaitu klien mengatakan sesak napas, klien lemah, adanya perubahan EKG berupa left atrial enlargement, adanya bunyi gallop pada jantung, dan terdengar ronkhi pada paru (Wilkinson, 2007). Intoleransi aktivitas adalah suatu keadaan seorang individu yang tidak cukup mempunyai energi fisiologis atau psikologis antuk bertahan atau memenuhi kebutuhan atau aktivitas sehari-hari yang diinginkan, batasan karakteristiknya adanya dispnea, melaporkan kelemahan secara verbal, denyut jantung jantung atau tekanan darah tidak normal, adanya perubahan EKG. Pada klien Ny. S ditemukan adanya kelemahan, hemoglobin 7,5 gr/dl dan adanya perubahan EKG, adanya perubahan nadi 112 x/menit, hal ini mengakibatkan adanya ketidakseimbangan (Wilkinson, 2007). Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan yaitu keadaan individu yang mengalami kekurangan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolik, pada klien Ny. S ditemukan kurangnya asupan nutrisi dimana adanya penurunan berat badan klien dari sebelum sakit 45 kg dan selama sakit 35 kg, terjadi penurunan kurang lebih 22%, hal ini sesuai dengan batasan karakteristik menurut Nanda (Wilkinson, 2007). antara suplai oksigen dengan kebutuhan

SEMINAR KELOMPOK GAGAL JANTUNG

25

Adapun masalah keperawatan yang tidak muncul secara teori adalah gangguan pertukaran gas, perubahan perfusi jaringan perifer, dan kelebihan volume cairan karena tidak ada data yang mendukung pada klien. C. INTERVENSI Intervensi keperawatan yang disusun adalah Lakukan pengukuran tekanan darah (bandingkan kedua lengan pada posisi berdiri, duduk dan tiduran jika memungkinkan) karena tekanan darah dapat meningkat, pada CHF lanjut tubuh tidak dapat mengkompensasi lagi. Catat perkembangan dari bunyi jantung karena S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa.. Tingkatkan ambulasi/ aktivitas sesuai toleransi, karena pada klien gagal jantung dapat menurunkan statis vena dan dapat menurunkan insiden thrombus. Berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk meningkatkan sediaan oksigen untuk melawan hipoksia. Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan diuretik, vasodilator karena pada klien Ny. S. Terdapat oedem dengan diuretik diharapkan dapat menurunkan preload, vasodilator untuk meningkatkan curah jantung (Doenges, 2000). Intervensi diagnosa ke dua adalah Catat irama jantung, tekanan darah dan nadi sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas karena hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktivitas. Catat respon cardiopulmonal terhadap aktivitas mengetahui ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas. Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas untuk mengetahui perkembangan kemampuan aktivitas klien. Anjurkan pada pasien agar lebih banyak beristirahat terlebih dahulu untuk meminimalkan penggunaan energi dan oksigen. Kolaborasi program rehabilitasi jantung/ aktivitas untuk mengembangkan kerjasama dengan tim kesehatan lain ( Muttaqin, 2009). Intervensi diagnosa ke tiga adalah kaji status nutrisi klien, timbang berat badan klien sesuai kebutuhan, untuk mengetahui status nutrisi klien apakah terjadi penurunan berat badan sebelum dan selama
SEMINAR KELOMPOK GAGAL JANTUNG

26

sakit. Anjurkan makan makanan selagi hangat anjurkan makan sedikitsedikit tapi sering untuk meningkatkan nafsu makan klien, klien Ny. S mempunyai riwayat gastritis sehingga bila makan langsung banyak akan merangsang nyeri pada gaster klien. Kaji kesukaan makanan klien sebagai alternatif makanan untuk mencukupi gizi klien selama tidak ada kontraindikasi. Kolaborasi pada ahli gizi diet jantung untuk lebih detil penyediaan diet bagi klien (Wilkinson, 2007).

D. IMPLEMENTASI Implementasi pada diagnosa keperawatan yang pertama sudah dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan, adapun kekuatan pada implementasi tersebut adalah terpantaunya tanda-tanda vital yang terdokumentasi dengan baik pada rekam medik klien, sehingga dapat mengetahui perkembangan klien E. EVALUASI

SEMINAR KELOMPOK GAGAL JANTUNG