Anda di halaman 1dari 9

FAST FOOD

OLEH :
MUH. ADAM .A P3800212405

LMU DAN TEKNOLOGI PANGAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

PENDAHULUAN
Makanan cepat saji (fast food) adalah makanan yang tersedia dalam waktu cepat dan siap disantap, seperti fried chiken, hamburger atau pizza. Mudahnya memperoleh makanan siap saji di pasaran memang memudahkan tersedianya variasi pangan sesuai selera dan daya beli. Selain itu, pengolahan dan penyiapannya lebih mudah dan cepat, cocok bagi mereka yang selalu sibuk. Trend tersebut dapat mudah terlihat di Indonesia khususnya. Junk food yang dijual direstoran-restoran franchise makanan cepat saji terkemuka seperti KFC, McDonalds dan Burger King, bukan hanya marak dikunjungi namun sudah menjadi tempat hang out dan gaya hidup anak muda yang pergi berjalan-jalan di Mall. Makanan cepat saji yang dulunya mentargetkan diri untuk orang-orang dalam working class pun merubah konsepnya dengan menjual paket happy meals untuk anak-anak dan juga membuat desain interior dari restoran-restoran tersebut lebih hip dan friendly agar dapat menarik pangsa pasar lebih muda.

Kandungan Gizi Makanan Cepat Saji


Secara umum makanan cepat saji mengandung kalori, kadar lemak, gula dan sodium (Na) yang tinggi tetapi rendah serat, vitamin A, asam akorbat, kalsium dan folat.

JENIS JENIS FAST FOOD

Manfaat Makanan Siap Saji


Makan siap saji yang beredar saat ini tercatat 500-600 jenis. Jenis tersebut terdiri dari minuman dan makanan yang diproduksi dalam skala kecil dan besar. Ketersediaan makanan siap saji ini akan memberikan kemudahan pemilihan jenis makanan, keragaman makanan, kualitas makanan, dan praktis.

Bahaya Makanan Siap Saji


World Health Organization (WHO) dan Food and Agricultural Organization (FAO) menyatakan bahwa ancaman potensial dari residu bahan makanan terhadap kesehatan manusia dibagi dalam 3 katagori, yaitu : 1) aspek toksikologis, kategori residu bahan makanan yang dapat bersifat racun terhadap organ organ tubuh, 2) aspek mikrobiologis, mikroba dalam bahan makanan yang dapat mengganggu keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan, 3) aspek imunopatologis, keberadaan residu yang dapat menurunkan kekebalan tubuh.

Upaya Meminimalisasi Dampak Negatif


1. Secara Internal
Mengurangi konsumsi makanan siap saji, meningkatkan konsumsi sayur dan buah-buahan serta mengonsumsi vitamin. Beberapa vitamin diduga mengandung zat antikarsinogen diantaranya adalah vitamin A, C, E banyak terdapat dalam sayur dan buah; asam folat terdapat dalam brokoli, bayam dan asparagus: Betakaroten, vitamin B3 (niasin), vitamin D dalam bentuk aktif (1.25 hidroksi) terdapat pada mentega, susu, kuning telur, hati, beras dan ikan. Memberi pengertian pada keluarga tentang bahaya zat aditif, mengawasi, mengontrol pemberian dan penggunaan uang jajan dan membiasakan membawa bekal makanan sehat dari rumah.

Lanjutan.
2. Secara Eksternal
Produsen; diperlukan kesadaran dan tanggung jawab produsen terhadap penggunaan zat aditif pada bahan pangan yang diproduksikan, memberikan informasi yang jelas komposisi makanan termasuk zat aditif yang ditambahkan. Pemerintah; melakukan pengawasan dan menindak tegas produsen yang melanggar aturan yang berlaku. Meneruskan kegiatan PMT-AS (Program Makanan Tambahan-Anak Sekolah) dengan memanfaatkan sumber makanan lokal. Non-pemerintah (LSM) memfasilitasi terbentuknya kelompok konsumen, mendorong peran serta masyarakat sebagai pengawas kebijakan publik, mengantisipasi kebijakan global yang berdampak pada konsumen, Melakukan pengawasan dan bertindak sebagai pembela konsumen.