Anda di halaman 1dari 18

BAB II PEMBAHASAN

2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGIS SISTEM PENCERNAAN A. PENGERTIAN Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan (pengunyahan, penelanan, dan pencampuran) dengan enzim dan zat cair yang terbantang mulai dari mulut (oris) sampai anus. B. ALAT-ALAT PENGHASIL GETAH CERNA 1. Kelenjar ludah 2. Kelenjar getah lambung 3. Kelenjar hati 4. Kelenjar pankreas 5. Kelenjar getah usus C. STRUKTUR PENCERNAAN 1. Mulut / Oris Mulut adalah suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air. Mulut merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus. Didalam rongga mulut terdapat : a) Geligi, ada 2 (dua) macam yaitu; - Gigi sulung, mulai tumbuh pada anak-anak umur 6-7 bulan. Lengkap pada umur 2 tahun jumlahnya 20 buah disebut juga gigi susu, terdiri dari 8 buah gigi seri (dens insisivus), 4 buah gigi taring (dens kaninus) dan 8 buah gigi geraham (premolare). - Gigi tetap (gigi permanen) tumbuh pada umur 6-18 tahun jumlahnya 32 buah terdiri dari; 8 buah gigi seri (dens insisiws), 4 buah gigi taring (dens kaninus), 8 buah gigi geraham (molare) dan 12 buah gigi geraham (premolare). Fungsi gigi terdiri dari; gigi seri untuk memotong makanan, gigi taring gunannya untuk memutuskan makanan yang keras dan liat, dan gigi geraham gunannya untuk mengunyah

makanan yang sudah dipotong-potong. b) Lidah Lidah dibagi menjadi 3 (tiga) bagian; - Pangkal lidah (Radiks lingua), pada pangkal lidah yang belakang terdapat epiglotis yang berfungsi untuk menutup jalan napas pada waktu kita menelan makanan, supaya makanan jangan masuk ke jalan napas. - Punggung lidah (Dorsum lingua), terdapat puting-puting pengecap atau ujung saraf pengecap. - Ujung lidah (Apeks lingua) Fungsi lidah yaitu; mengaduk makanan, membentuk suara, sebagai alat pengcepa dan menelan, serta merasakan makanan. Otot lidah; otot-otot ekstrinsik lidah berasal dari rahang bawah, (M. Mandibularis, os Hioid dan prosesus stiloid) menyebar ke dalam lidah membentuk anyaman bergabung dengan otot instrinsik yang terdapat pada lidah. M. Genioglossus merupakan otot lidah yang terkuat berasal dari permukaan tengah bagian dalam yang menyebar sampai ke radiks lingua. c) Kelenjar ludah Disekitar rongga mulut terdapat tiga buah kelenjar ludah yaitu: - Kelenjar parotis: letaknya dibawah depan dari telinga di antara prosesus mastoid, kiri dan kanan os mandibular, duktusnya duktus stensoni. Duktus ini keluar dari glandula parotis menuju ke rongga mulut melalui pipi (muskulus buksinator). - Kelenjar submaksilaris: terletak dibawah rongga mulut bagian belakang, duktusnya bernama duktus wartoni, bermuara di rongga mulut dekat dengan frenulum lingua. - Kelenjar sublingualis; letaknya dibawah selaput lendir dasar rongga mulut bermuara di dasar rongga mulut. Kelenjar ludah disarafi oleh saraf-saraf tersadar. 2. Faring Merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan (osofagus), di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. Ke atas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung dengan perantaraan lubang bernama koana. Keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus

fausium.Bagian superior disebut nasofaring, Pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga.Bagian media disebut orofaring, bagian ini berbatas ke depan sampai di akar lidah bagian inferior. 3. Esofagus Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung, panjangnya 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah lambung. Lapisan dinding dari dalam ke luar, lapisan selaput lendir (mukosa), lapisan submukosa, lapisan otot melingkar sirkuler dan lapisan oto memanjang longitudinal. Esofagus terletak di belakang trakea dan di depan tulang punggung setelah melalui toraks menembus diafragma masuk ke dalam abdomen menyambung dengan lambung. Esofagus dibagi mejadi tiga bagian; - Bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka) - Bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus) - Bagaian inferior (terutama terdiri dari otot halus) 4. Gaster / Lambung Merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama di daerah epigaster, lambung terdiri dari bagian atas fundus uteri berhubungan dengan esofagus melalui orifisium pilorik, terletak dibawah diapragma didepan pankreas dan limpa, menempel disebelah kiri fundus uteri. a) Bagian lambung terdiri dari; - Fundus ventrikuli, bagian yang menonjol ke atas terletak sebelah kiri osteum kardium dan biasanya penuh berisi gas. - Korpus venrtikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada bagian bawah kurvatura minor. - Antrum pilorus, bagian lambung membentuk tabung mempunyai otot yang tebal membentuk sfingter pilorus. - Kurvantura minor, terdapat sebelah kanan lambung terbentang dari ostium kardiak sampai ke pilorus. - Kurvantura mayor, lebih panjang dari kurvantura minorterbentang dari sisi kiri osteum

kardiakum melalui fundus ventrikuli menuju ke kanan sampai ke pilorus inferior. Ligamentum gastro lienalis terbentang dari bagian atas kurvantura mayor sampai ke limpa. - Osteum kardiakum, meruapakan tempat dimana esofagus bagian abdomen masuk ke lambung. Pada bagian ini terdapat orifisium pilorik. b) Fungsi lambung terdiri dari; 1) Menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh peristaltik lambung dan getah lambung 2) Getah cerna lambung yang dihasilkan: - Pepsin fungsinya; memecah putih telur menjadi asam amino (albumin dan pepton). - Asam garam (HCl) fungsinya; mengasamkan makanan, sebagai anti septik dan desinfektan, dan membuat suasana asam pada pepsinogen sehingga menjadi pepsin. - Renin fungsinya; sebagai ragi yang membekukan susu dan membentuk kasein dari kasinogen (kasinogen dan protein susu). - Lapisan lambung; jumlahnya sedikit memecah lemak yang merangsang sekresi getah lambung. 5. Pankreas Sekumpulan kelenjar yang strukturnya sangat mirip dengan kelenjar ludah panjangnya kirakira 15 cm, lebar 5 cm mulai dari duodenum samapai ke limpa dan beratnya rata-rata 60-90 gr. Terbentang pada vertebralumbalis I dan II di belakang lambung. a) Bagian dari pankreas - Kepala pankreas, terletak di sebelah kanan rongga abdomen dan di dalam lelukan duodenum yang melingkarnya. - Badan pankreas, merupakan bagian utama dari organ ini letaknya di belakang lambung dan di depan vertebra umbalis pertama. - Ekor pankreas, bagian runcing di sebelah kiri yang sebenamnya menyentuh limpa. b) Fungsi pankreas - Fungsi eksokrin, yang membentuk getah pankreas yang berisi enzim dan elektrolit. - Fungsi endokrin, sekelompok kecil sel epitelium yang berbentuk pulau-pulau kecil atau pulau langerhans, yang bersama-sama membentuk organ endokrin yang mensekresikan insulin.

- Fungsi sekresi eksternal, yaitu cairan pankreas yang dialirkan ke duodenum yang berguna untuk proses pencernaan makanan di intestinum. - Fungsi sekresi internal, yaitu sekresi yang dihasilkan oleh pulau-pulau lanngerhans sendiri yang langsung dialirkan ke dalam peredaraan darah. Sekresinya disebut hormon insulin dan hormon glukagon, hormon tersebut dibawa ke jaringan untuk membantu metabolisme karbohidrat. c) Hasil sekresi - Hormon insulin, hormon insulin ini langsung dialirkan ke dalam darah tanpa melewati duktus. Sel-sel kelenjar yang menghasilkan insulin ini termasuk sel-sel kelenjar endokrin. - Getah pankreas, sel-sel yang memproduksi getah pankreas ini termasuk kelenjar eksokrin, getah pankreas ini dikirim ke dalam duodenum melalui duktus pankreatikus, duktus ini bermuara pada papila vateri yang terletak pada dinding duodenum. Pankreas menerima darah dari arteri pankreatika dan mengalirkan darahnya ke vena kava inteferior melalui vena pankreatika. Jaringan pankreas terdiri dari atas lobulus dari sel sekretori yang tersusun mengitati saluransaluran kecil dari lobulus yang terletak di dalam ekor pankreas dan berjalan melalui badan pankreas dari kiri ke kanan. Saluran kecil ini menerima saluran dari lobulus lain dan kemudian bersatu untuk membentuk saluran utama yaitu duktus wirsungi. d) Struktur pankreas Merupakan kumpulan kelenjar yang masing-masing mempunyai saluran, saluran dari masingmasing kelenjar bersatu menjadi duktus yang jari-jarinya 3 mm, duktus ini disebut duktus pankreatikus. Pankreas mempunyai 2 macam sel kelenjar, dimana sel itu dikumpulkan dan menyerupai pulau-pulau yang disebut pulau langerhans. Pulau-pulau ini membuat insulin yang langsung masuk ke pembuluh darah dan kelenjar bagian tubuh. Di dalam pankreas terdapat kelenjar-kelenjar yang membuat ludah perut atau getah perut yang mengalir ke dalam pembuluh-pembuluh kelenjar. Pembuluh ini bersatu ke dalam saluran wirsungi kemudian masuk ke dalam duodenum pada tempat papilla/arteri kelenjar perut menghasilkan 1 liter ludah perut dalam satu hari.

6. Kantung Empedu Sebuah kantong berbentuk terang dan merupakan membran berotot, letaknya dalam sebuah lobus di sebelah permukaan bawah hati sampai pinggir depannya, panjangnya 812 cm berisi 60 cm a) Fungsi kantung empedu - Sebagai persediaan getah empedu, membuat getah empedu menjadi kental. - Getah empedu adalah cairan yang dihasilkan oleh sel-sel hati jumlah setiap hari dari setiap orang dikeluarkan 500-1000 cc sekresi yang digunakan untuk mencerna lemak. 80% dari getah empedu pigmen (warna) insulin dan zat lainnya. b) Bagian dari kantung empedu - Fundus vesikafelea, merupakan bagian kantung empedu yang paling akhir setelah korpus vesikafelea. - Korpus vesikafelea, bagian dari kantung empedu yang didalamnya berisi getah empedu. - Leher kantung kemih. Merupakan leher dari kantung empedu yaitu saluran yang pertama masuknya getah empedu ke badan kantung empedu lalu menjadi pekat berkumpul dalam kantung empedu. - Duktus sistikus. Panjangnya 3 cm berjalan dari leher kantung empedu dan bersambung dengan duktus hepatikus membentuk saluran empedu ke duodenum. - Duktus hepatikus, saluran yang keluar dari leher. - Duktus koledokus saluran yang membawa empedu ke duodenum. 7. Hati Merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh, terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya dibawah difragma. Berdasarkan fungsinya, hati juga termasuk sebagai alat sekresi. Hal ini dikarenakan hati membantu fungsi ginjal dengan cara memecah beberapa senyawa yang bersifat racun dan menghasilkan amonia, urea, dan asam urat dengan memanfaatkan nitrogen dari asam amino. Proses pemecahan senyawa racun oleh hati disebut proses detoksifikasi. 8. Usus Halus / Intestinum Minor Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara

lambung dan usus besar. Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejenum), usus penyerapan (illeum). Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu. a) Bagian-bagian usus halus; - Usus dua belas jari (duodenum) adalah bagian pertama usus halus yang panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda, dan kepalanya mengelilingi kepala pankreas. Saluran empedu dan saluran pankreas masuk ke dalam duodenum pada satu lubang yang disebut ampulla hepatopankreatika, ampulla vateri, 10 cm dari pilorus. - Usus kosong (jejenum), menempati dua perlima sebelah atas pada usus halus yang selebihnya. - Usus penyerapan (illeum), menempati tiga perlima akhir. 9. Usus Besar / Intestinum Mayor Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. a) Fungsi usus besar; - Menyerap air dari makanan - Tempat tinggal bakteri koli - Tempat feses b) Bagian-bagian usus besar atau kolon; - Kolon asendens. Panjangnya 13 cm, terletak dibawah abdomen sebelah kanan membujur ke atas dari ileum ke bawah hati. Di bawah hati melengkung ke kiri, lengkungan ini disebut fleksura hepatika. - Kolon transversum. Panjangnya 38 cm, membujur dari kolon asendens sampai ke kolon desendens berada di bawah abdomen, sebelah kanan terdapat fleksura hepatika dan sebelah kiri terdapat fleksura lienalis. - Kolon desendens. Panjangnya 25 cm, terletak di bawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bawah dari fleksura lienalis sampai ke depan ileum kiri, bersambung dengan kolon sigmoid. - Kolon sigmoid. Merupakan lanjutan dari kolon desendens terletak miring, dalam rongga pelvis sebelah kiri bentuknya menyerupai huruf S, ujung bawahnya berhubungan dengan rektum.

- Rektum. Terletak di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan os sakrum dan os koksigis. 10. Usus Buntu Usus buntu dalam bahasa latin disebut appendiks vermiformis. Pada awalnya organ ini dianggap sebagai organ tambahan yang tidak memiliki fungsi, tetati saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh) dimana memiliki/berisi kelenjar limfoid. 11. Umbai Cacing Umbai cacing adalah organ tambahan pada usus buntu. Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Dalam orang dewasa, umbai cacing berukuran 10 cm tetapi bisa bervariasi 2 sampai 20 cm.walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi umbai cacing bisa berbeda-beda bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di peritoneum. 12. Rektum Rektum dalam bahasa latin regere (meluruskan , mengatur). Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke usus besar, dimana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi. 13. Anus Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum dengan dunia luar (udara luar). Terletak di dasar pelvis bagian posterior dari peritoneum. Dindingnya diperkuat oleh 3 otot sfingter yaitu: 1. Sfingter ani internus (sebelah atas), bekerja tidak menurut kehendak. 2. Sfingter levator ani, bekerja juga tidak menurut kehendak. 3. Sfingter ani eksternus (sebelah bawah), bekerja sesuai kehendak.

2.2 Konsep Dasar Residu Lambung Pengosongan lambung terjadi bila adanya : a) Impuls saraf yang menyebabkan terjadinya distensi lambung b) Diproduksinya hormone gastrin pada saat makanan berada di lambung Saat makanan brada di lambung, stelah mencapai kapasitas maksimum maka akan terjadi distensi lambung oleh impuls syaraf ( nervus vagus ). Di saat bersamaan kehadiran makanan terutama yang mengandung protein merangsang diproduksinya hormone gastrin. Dengan dikeluarkannya hormone gastrin akan merangsang esofagial spinchter bawah untuk berkontraksi, motilitas lambung meningkat dan pyloric spinchter berelaksasi. Efek serangkaian aktivitas tersebut adalah pengosongan lambung. Lambung mengosongkan semua isinya menuju ke duodenum dalam 2- 6 jam setelah makanan tersebut dicerna di dalam lambung. Makanan yang banyak mengandung karbohidrat menghabiskan waktu paling sedikit di dalam lambung bagian atas dengan kata lain lebih cepat dikosngkan menuju duodenum,sedangkan makanan yang mengandung lemak menghabiskan waktu lebih lama. Faktor- factor yang mempengaruhi kecepatan isi lambung diantanraya : 1) Pompa pylorus dan gelembung peristaltic Pengosongan lambung dipermudah oleh gelembung peristaltic pada antrum lambung dan dihambat oleh resistensi pylorus terhadap jalan makanan. Dalam keadaan normal pylorus hamper tetap, tetapi tidak menutup sempurna karena adanya kontraksi tonik ringan. Derajat aktivitas pompa pylorus diatur oleh sinyal dari lambung sendiri dan juga oleh sinyal dari duodenum. Sinyal dari lambung adalah : Derajat peregangan lambung oleh makanan Adanya hormone gastrin yang dikeluarkan dari antrum lambung akibat respon regangan. Kedua sinyal tersebut mempunyai efek positif meningkatkan daya pylorus dank arena itu mempermudah pengosongan lammbung.

2) Hormon gastrin Peregangan serta adanya jenis makanan tertentu dalam lambung menimbulkan dikeluarkannya hormone gastrin dari bagian mukosa antrum. Hormon ini mempunyai efek yang kuat menyebabkan sekresi getah lambung yang sangat asam oleh bagian fundus lambung. Akan tetapi gastrin juga mempunyai efek peregangan yang kuat dan fungsi motorik lambung. Gastrin meningkatkan aktivitas pompa pylorus sedangkan pada saat yang sama melepaskan pylorus itu sendiri. Jadi gastrin kuat pengaruhnya dalam mempermudah pengososngan lambung. 3) Refleks Entrogastrik Sinyal saraf yang dihantarkan dari duodenum kembali ke lambung setiap saat khususnya bila lambung mengosongkan makanan ke duodenum. Sinyal ini memegang peranan penting dalam menentukan kecepatan pengososngan lambung. 4) Umpan balik hormonal dari lambung Peranan Lemak Bila makanan berlemak khusunya sam lemak terdapat dalam chyme yang masuk ke dalam duodenum akan menetuka aktivitas pompa pylorus dan pada akhirnya akan menghambat pengosongan lambung.

2.3 Penghitungan Kalori Kalori merupakan satuan untuk energi. Satu kalori secara resmi didefinisikan sebagai jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan 1 gram/ 1 cm2 air sebesar 10 C. Satuan kalori adalah kkal = 1000 kalori. Ukuran kebutuhan kalori bermacam-macam tergantung dari berat badan, aktivitas, kondisi tubuh, dan usia. Pada acuan sederhana yang bisa dijadikan patokan seberapa banyak asupan kalori yang kita butuhkan. Penghitungannya ialah a) Menhitung Berat Badan Relatif terlebih dahulu Rumusnya : [ BB : ( TB 100 ) ] x 100% b) Melihat kategori Berat Badan Relatifnya Kurus : BBR < 90% Kebutuhan kalori = BB x 40- 60 kal/hari Gemuk : BBR > 100% Kebutuhan kalori = BB x 20 kal/hari Normal : BBR 90-100% Kebutuhan kalori = BB x 30 kal/hari Secara umum kebutuhan kalori normal adalah Laki- laki : 2.500 kal/hari Perempuan: 2.200 kal/hari Anak-anak : 1.600-2.500 kal/hari Balita Bayi : 100 kal/hari : 100-200 kkal/kg BB

2.4 Penghitungan Basal Metabolic Rate ( BMR ) Basal Metabolic Rate adalah kebutuhan kalori minimum yang dibutuhkan sesorang hanya untuk sekedar memperthankan hidup, dengan asumsi bahwa orang tersebut dalam keadaan istirahat total,tidak melakukan aktivitas sedikitpun. Penghitungan BMR terbagi menjadi 2 yaitu : 1. Menurut Harris Benedict Pria : 66 + ( 13,7 x BB dalam kg ) + ( 5,7 x TB dalam cm ) ( 6,8 x umur dalam tahun ) . Wanita : 65,5 + ( 9,6 x BB dalam kg ) +( 1,8 x TB dalam cm ) ( 4,7 x umur dalam tahun ) . Faktor- faktor yang memepengaruhi BMR Jenis Kelamin Massa otot pada laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan,laki-laki memiliki BMR lebih besar dibandingkan dengan perempuan. Usia BMR cenderung berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Berat Tubuh Semakin berat massa tubuh seseorang, BMRnya juga akan lebih tinggi. Luas Permukaan Tubuh Berkaitan dengan tinggi dan berat seseorang, sehingga orang yang lebih tinggi dan besar cenderung memiliki BMR yang lebih tinggi. Pola Makan Dalam keadaan lapar BMR sesorang bisa turun hingga 30 %. Suhu Tubuh Setiap kenaikan suhu tubuh 0,5 C, BMR bisa meningkat hingga 7%. Suhu Lingkungan Berkaitan dengan upaya penstabilan suhu tubuh. Semakin rendah suhu lingkungan, BMR akan cenderung lebih tinggi.

Hormon Hormon yang mempegaruhi tingkat BMR adalah hormone tiroksin. Hormone tiroksin sebagai regulator BMR,yang menatur kecepatan metabolism tubuh. Semakin banyak hormone tiroksin yang diekskresikan maka akan semakin tinggi BMRnya. 2.5 Cara Menghitung Berat Badan Ideal, dan Rumus BMI ( Body Mass Index )
1. Perhitungan Berat Ideal Konvensional

1. Berat Badan Ideal (BBI) bayi (0-12 bulan) BBI = (umur (bln) / 2 ) + 4 2. BBI untuk anak (1-10 tahun) BBI = (umur (thn) x 2 ) + 8 3. Remaja dan dewasa BBI = (TB - 100) - (TB - 100) x 10% [Ket:] TB = Tinggi badan (cm)
2. Berat Ideal versi Rumus BMI

BMI adalah suatu rumus kesehatan, di mana berat badan (BB) seseorang (kg) dibagi dengan tinggi badan (TB) pangkat dua (m2). BMI = (BB) / [(TB) x (TB)] Misalnya: BB = 45 kg dan TB = 165 cm, maka BMI = (45) / [(1.65) x (1.65)] = 16.5 KRITERIA BB BMI < 18.5 = berat badan kurang (underweight) BMI 18.5 - 24 = normal BMI 25 - 29 = kelebihan berat badan (overweight) BMI >30 = obesitas

Tabel BMI warna biru = kurang berat warna hijau = sehat warna kuning = kelebihan berat warna oranye = obesitas 2.6 Penentuan atau Penilaian Status Gizi Anak Ada beberapa cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat. Salah satunya adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal dengan Antropometri. Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut : a. Umur. warna merah obesitas berlebih

Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya kecenderunagn untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan ( Depkes, 2004). b. Berat Badan Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun. Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau berat badan pada saat pengukuran melakukan penilaian dengam melihat perubahan

dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling banyak digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada ketetapan umur, tetapi kurang dapat menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu (Djumadias Abunain, 1990). c. Tinggi Badan Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan menurut umur), atau juga indeks BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun ( Depkes RI, 2004). Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter penting untuk menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan status gizi. Penggunaan Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indikator status gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh (M.Khumaidi, 1994).

Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan sensitive/peka dalam menunjukkan keadaan gizi kurang bila dibandingkan dengan penggunaan BB/U. Dinyatakan dalam BB/TB, menurut standar WHO bila prevalensi kurus/wasting < -2SD diatas 10 % menunjukan suatu daerah tersebut mempunyai masalah gizi yang sangat serius dan berhubungan langsung dengan angka kesakitan. Tabel 1 Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS No 1 Indeks yang dipakai BB/U Batas Pengelompokan < -3 SD - 3 s/d <-2 SD - 2 s/d +2 SD > +2 SD < -3 SD - 3 s/d <-2 SD - 2 s/d +2 SD > +2 SD < -3 SD - 3 s/d <-2 SD - 2 s/d +2 SD > +2 SD Sebutan Status Gizi Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih Sangat Pendek Pendek Normal Tinggi Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk

TB/U

BB/TB

Sumber : Depkes RI 2004. Data baku WHO-NCHS indeks BB/U, TB/U dan BB/TB disajikan dalan dua versi yakni persentil (persentile) dan skor simpang baku (standar deviation score = z). Menurut Waterlow,et,al, gizi anak-anak dinegara-negara yang populasinya relative baik (wellnourished), sebaiknya digunakan presentil, sedangkan dinegara untuk anak-anak yang populasinya relative kurang (under nourished) lebih baik menggunakan skor simpang baku (SSB) sebagai persen terhadap median baku rujukan ( Djumadias Abunaim,1990).

Tabel 2. Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks Antropometri (BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS)

No 1

Indeks yang digunakan BB/U TB/U BB/TB

Interpretasi

Rendah Rendah Normal Normal, dulu kurang gizi Rendah Tinggi Rendah Sekarang kurang ++ Rendah Normal Rendah Sekarang kurang + 2 Normal Normal Normal Normal Normal Tinggi Rendah Sekarang kurang Normal Rendah Tinggi Sekarang lebih, dulu kurang 3 Tinggi Tinggi Normal Tinggi, normal Tinggi Rendah Tinggi Obese Tinggi Normal Tinggi Sekarang lebih, belum obese Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) : Rendah : < -2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS Normal : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS Tinggi : > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Sumber : Depkes RI 2004. Pengukuran Skor Simpang Baku (Z-score) dapat diperoleh dengan mengurangi Nilai Induvidual Subjek (NIS) dengan Nilai Median Baku Rujukan (NMBR) pada umur yang bersangkutan, hasilnya dibagi dengan Nilai Simpang Baku Rujukan (NSBR). Atau dengan menggunakan rumus :

Z-score = (NIS-NMBR) / NSBR

Status gizi berdasarkan rujukan WHO-NCHS dan kesepakatan Cipanas 2000 oleh para pakar Gizi dikategorikan seperti diperlihatkan pada tabel 1 diatas serta di interpretasikan berdasarkan gabungan tiga indeks antropometri seperti yang terlihat pada tabel 2. Untuk memperjelas penggunaan rumur Zskor dapat dicontohkan sebagai berikut Diketahui BB= 60 kg TB=145 cm

Umur : karena umur dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB berdasarkan WHO-NCHS hanya dibatasi < 18 tahun maka disini dicontohkan anak laki-laki usia 15 tahun Table weight (kg) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS Age Standard Deviations Yr mth -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd 15 0 31.6 39.9 48.3 56.7 69.2 81.6 Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985 Table weight (kg) by stature of boys 145 cm in Height from WHO-NCHS Stature Standard Deviations cm -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd 145 0 24.8 28.8 32.8 36.9 43.0 49.2 Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985 Table stature (cm) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS Stature Standard Deviations Yr mth -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd 15 0 144.8 152.9 160.9 169.0 177.1 185.1 Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985 Jadi untuk indeks BB/U adalah = Z Score = ( 60 kg 56,7 ) / 8.3 = + 0,4 SD = status gizi baik Untuk IndeksTB/U adalah = Z Score = ( 145 kg 169 ) / 8.1 = - 3.0 SD = status gizi pendek Untuk Indeks BB/TB adalah = Z Score = ( 60 36.9 ) / 4 = + 5.8 SD = status gizi gemuk +3sd 193.2 +3sd 55.4 +3sd 94.1