Anda di halaman 1dari 26

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Otonomi daerah mempunyai konsekuensi bahwa peran pemerintah pusat akan semakin kecil, sebaliknya peran pemerintah daerah semakin besar dalam pembangunan daerah/wilayahnya. Pemerintah daerah dituntut memiliki kemandirian dalam membiayai sebagian besar anggaranpembangunannya. Oleh karena itu pemerintah daerah harus dapat melakukan optimalisasi sumber-sumber penerimaan daerahnya.Salah satu sektor yang dapat diharapkanmenjadi pendapatan daerah terutama di perkotaan adalah melalui sektor properti.Potensi sektor properti di daerah tidak hanya dalam pembangunan properti saja, namun juga menyangkut pengelolaan properti yang sudah termanfaatkan ataupun yang belum termanfaatkan secara optimal. Namun dalam perkembangannya untuk menghadapi otonomi daerah, pemerintah daerah tidak hanya mengoptimalkan pada potensi pajak dari sektor properti saja, tetapi juga harus mengetahui jumlah dan sejauh mana pemanfaatan aset properti yang dimiliki pemerintah daerah saat ini. Manajemen aset properti ini sangat penting diketahui karena di samping sebagaipenentuan aktiva tetap dalam faktor penambah dalam total aset daerah juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pendapatan yang menopang pendapatan asli daerah. Pengelolaan aset daerah bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Hal ini terbukti dari masih banyaknya pengecualian kewajaran atas nilai aset pemerintah daerah dalamopini BPK-RI atas laporan keuangan pemerintah daerah. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah daerah mengalami kesulitan dalam pengelolaan aset sehingga menyajikan aset daerah dengan kurang atau tidak wajar. Salah satu aspek penting penunjang keberhasilan manajemen keuangan daerah adalah dimilikinya sistem manajeman aset daerah yang efektif dan efisien. Aset daerah sebagai salah satu unsur penting dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik harus dikelola dengan baik, efisien, efektif, transparan dan akuntabel. Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi bahwa pelaksanaan desentralisasi tidak hanya sebatas pada desentralisasi pengelolaan keuangan dan pemerintah pusat ke pemerintah daerah ke satuan kerja perangakat daerah (SKPD), tetapi juga desentralisasi pengelolaan aset daerah hingga ke level satuan kerja. Jika pada era sebelumnya pengelolaan tersentralisasi di biro/bagian
1

perlengkapan, maka saat ini pengelolaan aset tersebut didesentralisasikan ke masing-masing SKPD. Oleh karena itu menjadi sangat penting bagi pemerintah daerah untuk mengetahui prinsip-prinsip manajemen aset daerah agar aset-aset yang ada dapat dikelola dengan optimal.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Aset Standar Akuntansi Pemerintahan dalam PSAP 07-1 dalam uns.ac.id mendefinisikan aset adalah sumber dayaekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang diperlihara karena alasan sejarah dan budaya. Sementara itu, pengertian aset secara umum menurut Siregar (2004:178) dalam uns.ac.id adalah barang (thing) atau sesuatu barang (anything) yang mempunyai nilai ekonomi (economic value), nilai komersial (commercial value) atau nilai tukar (exchange value) yang dimiliki oleh badan usaha, instansi atau individu (perorangan). Selanjutnya Financial Accounting Standard Board (FASB) (1985) dalam sarjanaku.com memberikan definisi Aset yaitu kemungkinan keuntungan ekonomi yang diperoleh atau dikuasai di masa yang akan datang oleh lembaga tertentu sebagai akibat transaksi atau kejadian yang lalu.

2.2 Jenis-jenis Aset Daerah Aset daerah adalah semua kekayaan daerah yang dimiliki maupun yang dikuasai pemerintah daerah, yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah, misalnya sumbangan, hadiah, donasi, wakaf, hibah, swadaya, kewajiban pihak ketiga dan sebagainya.secara umum aset daerah dapat dikategorikan menjadi dua bentuk , yaitu aset keuangan yang meliputi kas dan setara kas, piutang, serta surat berharga baik berupa investasi jangka pendek maupun jangka panjang. Aset nonkeuangan meliputi aset tetap, aset lainnya daan persediaan. Jika dilihat dari pengunaannya, aset daerah dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu: 1). Aset daerah yang digunakan untuk operasi pemerintah daerah (local goverment used assets),

2). Aset daerah yang digunakan masyarakat dalam rangka pelayanan publik (social used assets), 3). Aset daerah yang tidak digunakan untuk pemerintah maupun publik (surplus property). Aset daerah jenis ketiga tersebut pada dasarnya merupakan aset yang menganggur dan perlu dioptimalkan pemanfaatannya. Jika dilihat dari sifat mobilitas barangnya, aset daerah dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu: 1. Benda tidak bergerak (real property), meliputi: a. Tanah b. Bangunan gedung c. Bangunan air d. Jalan dan jembatan e. Instalasi f. Jaringan g. Monumen/bangunan bersejarah (heritage) 2. Benda bergerak (personal Property), antara lain: a. Mesin b. Kendaraan c. Peralatan, meliputi: alat berat, alat angkutan, alat bengkel, alat pertanian, alat kantor dan rumah tangga, alat studio, alat kedokteran, alat laboratorium dan alat keamanan d. Buku/perpustakaan e. Barang bercorak kesenian dan kebudayaan f. Hewan/ternak dan tanaman g. Persediaan (barang habis pakai, suku cadang, bahan baku, bahan penolong) h. Surat-surat berharga Informasi aset sebagaimana disajikan dalam neraca sangat penting untuk mengetahui ukuran organisasi, pertumbuhan aset, dan komposisi aset. Berdasarkan informasi aset dapat dihitung tingkat likuiditas, solvabilitas, rentabilitas dan rasio-rasio keuangan. Selain itu, informasi tentang aset juga sangat bermanfaat untuk membuat pemetaan aset daerah (assets mapping) dalam rangka optimalisasi pemanfaatan aset. Berikut adalah contoh penyajian informasi aset daerah dalam neraca konsolidasi pemerintah daerah.

URAIAN ASET ASET LANCAR Kas Piutang Persediaan Jumlah

JUMLAH

URAIAN KEWAJIBAN KEWAJIBAN JPK Utang perhitungan pihak ketiga Utang bunga Utang Pajak Bag. Lancar utang jangka panjang Pendapatan diterima di muka

JUMLAH

INVESTASI PANJANG

JANGKA

Utang jangka pendek lainnya

Investasi nonpermanen Investasi permanen KEWAJIBAN PANJANG Utang Dalam Negeri ASET TETAP Tanah Peralatan dan mesin Alat-alat berat Alat-alat angkutan Alat bengkel EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR Sisa lebih pembiayaan anggaran Alat pertanian dan peternakan Alat-alat tangga Alat studio dan alat komunikasi Alat ukur Alat-alat kedokteran Alat labolatorium Alat keamanan Gedung dan bangunan EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan Bangunan gedung Bangunan monumen jangka panjang Diinvestasikan dlm aset tetap dlm investasi kantor dan rumah (SilPA) Cadangan piutang Cadangan persediaan Uang muka dari kas daerah Dana yang harus disediakan untuk pembayaran utang jangka pendek Utang Luar Negeri Utang jangka panjang lainnya JANGKA

Jalan, irigasi dan jaringan Jalan dan jembatan Bangunan air (irigasi) Instalasi Jaringan Aset tetap lainnya Buku dan perpustakaan Barang bercorak kesenian/kebudayaan Hewan/ternak dan tumbuhan

Diinvestasikan dlm aset lainnya Dana yg harus disediakan untuk pembayaran utang jangka panjang

EKUITAS DANA CADANGAN Diinvestasikan dlm Dana Cadangan

Konstruksi dlm pengerjaan Konstruksi dlm pengerjaan

Akumulasi tetap Akumulasi tetap

penyusutan

aset

penyusutan

aset

Jumlah

DANA CADANGAN Dana Cadangan

ASET LAINNYA Tahigan Penjualan Angsuran Tahigan Tuntutan Ganti

kerugian Daerah Build, (BOT) Cadangan Piutang Aset Tak Berwujud Aset Lain-Lain Operate & Transfer

Jumlah

2.3 Kelembagaan Pengelolaan Aset Daerah Efektifitas dan efisiensi manajemen aset daerah juga dipengaruhi oleh struktur kelembagaan pengelolaan aset di pemerintah daerah. Pengelolaan aset daerah membutuhkan perencanaan, pengendalian, pengawasan, dan koordinasi yang baik antarbagian terkait, misalnya antara bagian perlengkapan, satuan kerja dan bagian keuangan/BPKD. Secara skematik kelembagaan pengelolaan aset daerah dapat digambarkan sebagai berikut:

KEPALA DAERAH Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Barang Milik Daerah

BIRO/BAGIAN PERLENGKAPAN

SEKRETARIS DAERAH Pengelolaan barang milik daerah

KEPALA SKPD Pengguna Barang

KEPALA SKPKD Selaku Bendahara Umum Daerah (BUD)

KUASA Pengguna barang

KUASA BUD

BENDAHARA BARANG

Berdasarkan gambar di atas, pejabat yang terkait dengan pengelolaan aset daerah antara, adalah: a. Kepala Daerah selaku Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Barang Milik Negara. b. Sekretariat Daerah selaku Pengelola Barang Milik Negara. c. Kepala SKPD selaku Pengguna Barang. d. Kepala SKPKD selaku Bendahara Umum Daerah.
7

e. Kuasa BUD. f. Kuasa Pengguna Barang. g. Bendahara Barang. h. Biro/Bagian Perlengkapan Sekda. a) Tugas dan Wewenang Pejabat Pengelolaan Aset Daerah Tugas dan wewenang pejabat daerah yang terkait dengan pengelolaan aset daerah sebagaimana diatur dalam UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; PP No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah; dan peraturan perundangan terkait, adalah sebagai berikut; a. Gubernur/Bupati/Walikota Gubernur/Bupati/Walikota selaku Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Barang Milik Daerah mempunyai wewenang: a. Menetapkan kebijakan pengelolaan barang milik negara. b. Menetapkan penggunaan, pemanfaatan atau pemindahtanganan tanah dan bangunan. c. Menetapkan kebijakan pengamanan barang milik daerah. d. Mengajukan usul pemindahtanganan barang milik daerah yang memerluhkan persetujuan DPRD. e. Menyetujui usul pemindahtanganan dan pengahapusan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan. f. Menyetujui usul pemanfaatan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan. b. Sekretaris daerah Sekretaris daerah selaku Pengelola Barang Milik Daerah mempunyai tugas dan wewenang: a. Menetapkan pejabat yang mengurus dan menyimpan barang milik daerah. b. Meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan barang milik daerah. c. Meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan pemeliharaan/perawatan barang milik daerah. d. Mengatur pelaksanaan pemanfaatan, penghapusan, dan pemindahtanganan barang milik daerah yang telah disetujui oleh gubernur /bupati/walikota atau DPRD. e. Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan inventarisasi barang milik daerah.
8

f. Melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengeloloaan barang milik daerah.

c. Kepala SKPD Kepala SKPD selaku Pengguna Barang Milik Daerah mempunyai tugas dan wewenang: a. Mengajukan rencana kebutuhan barang milik daerah bagi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya. b. Mengajukan permohonan penetapan status untuk penguasaan dan penggunaan barang milik daerah yang diperoleh dari beban APBD dan perolehan lainnya yang sah. c. Melakukan pencatatan dan inventarisasi barang milk daerah yang berada dalam penuasaannya. d. Menggunakan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya. e. Mengamankan dan memelihara barang milik daerah yang berada dalam pengguasaannya. f. Mengajukan usul pemindahtanganan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang tidak memerluhkan persertujuan DPRD dan barang milik daerah selain tanah dan bangunan. g. Mngenyerahkan tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan untuk kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya kepada gubernur /bupati/walikota melalui pengelola barang. h. Melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan barang milik daerah yang ada dalam penguasaannya. i. Menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Pengguna Sementara (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) yang berada dalam penguasaannya kepada pengelola barang. d. Kepala SKPKD Kepala SKPKD selaku Bendahara Umum Daerah dalam kaitannya dengan pengelolaan aset daerah memiliki tugas dan wewenang:

a. Melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah. b. Melakukan pengawasan atas penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan. e. Kuasa BUD Kuasa BUD memiliki wewenang dan tanggujawab: a. Menyimpan seluruh bukti kepemilikan barang milik daerah. b. Melaksanakan tugas yang diberikan oleh Kepala SKPKD selaku BUD. f. Bendahara Barang Bendahara barang di masing-masing SKPD memiliki wewenang dan

tanggungjawab: a. Melaksanakan administrasi perbendaharaan barang daerah. b. Menerima, menyimpan dan mengeluarkan barang yang ada dalam pengurusannya. c. Membuat surat pertanggungjawaban pengelolaan barang kepada kepala daerah. g. Biro/Bagian Perlengkapan Biro/Bagian Perlengkapan yang merupakan suborganisasi sekretariat daerah memiliki tugas dan tanggungjawab: a. Membuat rekapitulasi data kebutuhan penggadaan barang daerah. b. Membuat rekapitulasi data kebutuhan pemeliharaan barang daerah. c. Membuat standar barang, standar harga, dan standar kebutuhan barang daerah. 2.4 Siklus Manajemen Aset Daerah Dalam Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah menyebutkan bahwa pengelolaan barang milik negara/daerah meliputi perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, penatausahaan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, pengelolaan barang milik daerah meliputi;perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penerimaan, penyimpanan dan penyaluran, penggunaan, penatausahaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian,penghapusan,

10

pemindahtanganan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian, pembiayaan dan tuntutan ganti rugi. a. Perencanaan kebutuhan Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah,menjelaskan bahwa perencanaan kebutuhan adalah kegiatan merumuskan rincian kebutuhan barang milik daerah untuk menghubungkan pengadaan barang yang telah lalu dengan keadaan yang sedang berjalan sebagai dasar dalam melakukan tindakan pemenuhan kebutuhan yang akan datang. Perencanaan kebutuhan disusun dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dengan memperhatikan ketersediaan barang milik daerah yang sudah ada. Perencanaan ini harus berpedoman pada standarisasi barang dan standarisasi kebutuhan barang/sarana prasarana perkantoran. Menurut Mardiasmo (2004:238) pemerintah daerah perlu membuat perencanaan kebutuhan aset yang akan digunakan/dimiliki. Berdasarkan rencana tersebut, pemerintah daerah kemudian mengusulkan anggaran pengadaannya. Dalam hal ini, masyarakat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) perlu melakukan pengawasan (monitoring) mengenai apakah aset (kekayaan) yang direncanakan untuk dimiliki daerah tersebut benarbenar dibutuhkan daerah. b. Pengadaan Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 tentang Perubahan Keempat Atas Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003 Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, menjelaskan bahwa pengadaan barang/jasa pemerintah adalah kegiatan pengadaan barang/jasa yang dibiayai dengan APBN/APBD, baik yang dilaksanakan secara swakelola maupun oleh penyedia barang/jasa. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah,menjelaskan bahwapengadaan adalah kegiatan untuk melakukan pemenuhan kebutuhan barang daerah dan jasa. Pengadaan barang milik daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip efisien, efektif, transparan dan terbuka, bersaing, adil/tidak diskriminatif dan akuntabel. Pada saat pembelian harus ada dokumen transaksi yang jelas mengenai tanggal transaksi, jenis aset dan spesifikasinya dan nilai transaksi. Mardiasmo (2004) menjelaskan pengadaan barang atau kekayaan daerah harus dilakukan berdasarkan sistem tender (compulsory competitive tendering contract). Hal tersebut dilakukan supaya pemerintah daerah dan masyarakat tidak dirugikan.
11

c. Pengamanan dan pemeliharaan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah,menjelaskan bahwa pemeliharaan adalah kegiatan atau tindakan yang dilakukan agar semua barang milik daerah selalu dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan secara berdaya guna dan berhasil guna. Pengamanan adalah

kegiatantindakan pengendalian dalam pengurusan barang milik daerah dalam bentuk fisik, administratif dan tindakan upaya hukum. 1) Pengamanan Administrasi dan Catatan Pengamanan ini dilakukan dengan cara melengkapi aset daerah dengan dokumen administrasi, catatan, dan laporan barang yaitu antara lain: a. Kartu Inventaris Barang b. Daftar Inventaris Barang c. Catatan Akuntansi Aset d. Laporan Mutasi Barang e. Laporan Tahunan 2) Pengaman Hukum Pengamanan ini dilakukan dengan melengkapi aset tersebut dengan bukti kepemilikan yang berkekuatan hukum, antara lain: a. Bukti Kepemilikan Barang. b. Sertfikat Tanah. c. BPKB atau STNK. d. Kuitansi atau Faktor Pembelian. e. Berita acara serah terima barang. f. Surat pernyataan hibah, wakaf, sumbangan atau donasi. 3) Pengaman Fisik Pengamanan fisik atas aset daerah dilakukan dengan cara menberi perlindungan fisik agar keberadaan aset tersebut aman dari pencurian atau kehilangan dari kondisinya terpelihara tidak mengalami kerusakan. Pengaman fisik aset daerah dapat dilakukan antara lain dengan cara: a. Penyimpanan digudang barang daerah. b. Pemagaran c. Pintu berlapis d. Pemberian kunci e. Pemasangan alarm.
12

f. Pemasangan kamera CCTV ditempat-tempat vital dan rawan. g. Penjagaan oleh satpam.

Siregar (2004) mengatakan legal audit, merupakansuatu ruang lingkup untuk mengidentifikasi dan mencari solusi atas permasalahan legal mengenai prosedur penguasaan atau pengalihan aset seperti status hak penguasaan yang lemah, aset yang dikuasai pihak lain, pemindahan aset yang tidak termonitor dan lain-lain. Mardiasmo (2004) menyatakan bahwa pengamanan aset daerah merupakan salah satu sasaran strategis yang harus dicapai daerah dalam kebijakan pengelolaan aset daerah. d. Inventarisasi Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah,menjelaskan bahwa i nventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan pelaporan hasil pendataan barang milik daerah. Menurut Siregar (2004) inventarisasi aset terdiri dari dua aspek yaitu inventarisasi fisik dan yuridis/legal. Aspek fisik terdiri dari bentuk, luas, lokasi, volume/jumlah, jenis, alamat dan lain-lain, sedangkan aspek yuridis adalah status penguasaan, masalah legal yang dimiliki, batas akhir penguasaan. Proses kerjanya adalah dengan melakukan pendaftaran labeling, cluster,secara administrasi sesuai dengan manajemen aset.Mardiasmo (2004) menjelaskan bahwa pemerintah daerah perlu mengetahui jumlah dan nilai kekayaan daerah yang dimilikinya, baik yang saat ini dikuasai maupun yang masih berupa potensi yang belum dikuasai atau dimanfaatkan. Untuk itu pemerintah daerah perlu melakukan identifikasi dan inventarisasi nilai dan potensi aset daerah. Kegiatan identifikasi dan inventarisasi dimaksudkan untuk memperoleh informasi yangakurat, lengkap dan mutakhir mengenai kekayaan daerah yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah daerah. e. Penilaian Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, penilaian adalah suatu proses kegiatan penelitian yang selektif didasarkan pada data/fakta yang obyektif dan relevan dengan menggunakan metode/teknis tertentu untuk memperoleh nilai barang milik daerah. Dalam rangka menyusun neraca pemerintah perlu diketahui berapa jumlah aset negara sekaligus nilai dari aset tersebut. Untuk diketahui nilainya maka barang milik negara
13

secara periodik harus dilakukan penilaian baik oleh pengelola barang ataupun melibatkan penilai independent sehingga dapat diketahui nilai barang milik negara secara tepat. Untuk penilaian berupa tanah dan atau bangunan menggunakan patokan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP). Menurut Siregar (2004) penilaian aset merupakan suatu proses kerja untuk melakukan penilaian atas aset yang dikuasai. Untuk itu pemerintah daerah dapat melakukan outsourcingkepada konsultan penilai yang profesional dan independent. Hasil dari nilai tersebut akan dimanfaatkan untuk mengetahui nilai kekayaan maupun informasi untuk penetapan bagi aset yang akan dijual. f. Pemanfaatan Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik daerah yang tidak dipergunakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam bentuk sewa, pinjam pakai, kerjasama pemanfaatan, bangun guna serah dan bangun serah guna dengan tidak mengubah status kepemilikan. Bentuk-bentuk pemanfaatan barang milik daerah adalah seperti berikut ini. 1) Sewa yaitu pemanfaatan barang milik daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dengan menerima imbalan uang tunai. 2) Pinjam Pakai yaitu penyerahan penggunaan barang antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dan antar Pemerintah Daerah dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu tersebut berakhir diserahkan kembali kepada pengelola. 3) Kerjasama Pemanfaatan yaitu pendayagunaan barang milik daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan penerimaan daerah bukan pajak/pendapatan daerah dan sumber pembiayaan lainnya. 4) Bangun Guna Serah yaitu pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati,untuk selanjutnya diserahkan kembali tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu. 5) Bangun Serah Guna yaitu pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, dan setelah selesai pembangunan diserahkan untuk didayagunakan oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu yang disepakati.
14

Sehubungan dengan pemanfaatan aset daerah khususnya berupa benda tidak bergerak yang berbentuk tanahatau bangunan/gedung, terutama yang belum didayagunakan secara optimal sehingga dapat memberikan value added, value in usedan mampu menaikkan nilai ekonomi aset bersangkutan, maka dapat dilaksanakan melalui penggunausahaan yaitu pendayagunaan aset daerah(tanah dan atau bangunan) oleh pihak ketiga (perusahaan swasta) dalam bentuk BOT (Build-Operate-Transfer), BTO (Build-Transfer-Operate), BT (BuildTransfer), KSO (Kerja Sama Operasi) dan bentuk lainnya (Siregar, 2004). g. Pengawasan dan pengendalian Untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah secara berdayaguna dan berhasilguna, maka fungsi pembinaan, pengawasan dan pengendalian sangat penting untuk menjamin tertib administrasi pengelolaan barang milik daerah. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, menjelaskan bahwa pengendalian merupakan usaha atau kegiatan untuk menjamin dan mengarahkan agar pekerjaan yang dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sedangkan pengawasan merupakan usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas dan/atau kegiatan, apakah dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan.Siregar (2004) mengatakan pengawasan dan pengendalian, dalam pemanfaatan dan pengalihan aset merupakan suatu permasalahan yang sering terjadi pada pemerintah daerah saat ini. Suatu sarana yang efektif dalam meningkatkan kinerja aspek ini adalah melalui pengembangan SIMA (Sistem Informasi Manajemen Aset). Melalui sistem ini maka transparansi kerja dalam pengelolaan aset sangat terjamin dan dapat diawasi dengan jelas, karena keempat aspek diatas diakomodir dalam suatu sistem yang termonitor dengan jelas seperti sistem arus keuangan yang terjadi di perbankan, sehingga penanganan dan pertanggungjawaban dari tingkat pelaksana hingga pimpinan mempunyai otoritas yang jelas.Mardiasmo (2004) menjelaskan bahwa pengawasan yang ketat perlu dilakukan sejak tahap perencanaan hingga penghapusan aset. Dalam hal ini peran masyarakat dan DPRD serta auditor internal sangat penting. Pengawasan diperlukan untuk menghindari penyimpangan dalam perencanaan maupun pengelolaan aset yang dimiliki daerah. h. Penghapusan Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, penghapusan adalah
15

tindakan menghapus barang milik daerah dari daftar barang dengan menerbitkan surat keputusan dari pejabat yang berwenang untuk membebaskan pengguna dan/atau kuasa pengguna dan/atau pengelola dari tanggung jawab administrasi dan fisik atas barang yang berada dalam penguasaannya. Penghapusan aset daerah dari daftar aset pemerintah daerah dapat dilakukan jika aset tersebut sudah tidak memiliki nilai ekonomis, rusak, atau hilang. Penghapusan aset daerah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pemusnahan dan pemindahtanganan. Pemusnahan dilakukan dengan cara dibakar, ditanam ke tanah atau ditenggelamkan ke laut. Pemusnahan dilakukanarena tidak laku dijual, rusak kadaluwarsa, membahayakan kepentingan umum atau karena ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengharuskan untuk dimusnahkan. Pemindahtanganan dapat dilakukan dengan cara: penjualan, tukar menukar, hibah, penyertaan modal pemerintah daerah. Mardiasmo (2004) menyatakan bahwa penghapusan aset daerah merupakan salah satu sasaran strategis yang harus dicapai daerah dalam kebijakan pengelolaanaset daerah guna mewujudkan ketertiban administrasi mengenai kekayaan daerah.

2.5 Sistem dan Prosedur Akuntansi Aset Sistem akuntansi aset merupakan salah satu dari empat unsur utama sistem akuntansi pemerintah daerah. Tiga unsur sistem akuntansi pemerintah daerah lainnya adalah sistem akuntasi penerimaan kas, sistem akuntansi pengeluaran kas dan sistem akuntasi selain kas. Sistem akuntansi aset pemerintah daerah berisi tentang ketentuan mengenai: a. Prosedur pengadaan barang. b. Prosedur penyimpanan dan penyaluran c. Prosedur pemanfaatan d. Prosedur pemeliharaan e. Prosedur tuntutan perbendaharaan dan tuntutan ganti rugi. f. Prosedur perubahan status hokum a. Prosedur Pengadaan Barang Ketentuan mengenai prosedur pengadaan barang (aset) milik daerah adalah sebagai berikut: 1) Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dilaksanakan oleh Tim dan dikoordinasi oleh Fungsi Perlengkapan yang bertujuan untuk tertib administrasi dan optimalisasi pendayagunaan serta tertib inventarisasi.
16

2) Pengadaan barang dapat melalui pengadaan/pemborong pekerjaan, swakelola, hibah/sumbangan, sewa beli, pinjaman dan guna usaha. 3) Prosedur pengadaan barang dimulai dari perencanaan kebutuhan barang oleh masing-masing SKPD dan diakhiri dengan dilaksanakannya pengadaan barang yang dibutuhkan oleh panitia pengadaan barang. 4) Pengadaan Barang Milik Daerah harus mengikuti peraturan perundangan tentang pengadaan barang dan jasa. a) Fungsi/Pihak yang terkait Fungsi/pihak yang terkait dalam prosedur pengadaan barang adalah: a. Satuan Kerja Perangkat Daerah/Unit Kerja, sebagai pengguna/kuasa pengguna barang bertugas dan bertanggungjawab atas perencanaan pengadaan, pemeliharaan, perbaikan, penggunaan, penyimpanan, penyaluran,

pemeliharaan/perbaikan, penghapusan, penjualan, pemanfaatan, inventaris dan pengendalian/pengawasan barang milik daerah. b. Pengelola Barang Milik Daerah, sebagai pengguna/kuasa pengguna barang bertugas dan bertangggungjawab atas terlaksananya standarisasi barang, perencanaan, pengadaan, penyimpanan, penyaluran, pemeliharaan/perbaikan, penghapusan, penjualan, pemafaatan, inventarisasi dan

pengendalian/pengawasan barang milik daerah. b) Dokumen yang Dibutuhkan Dokumen yang dibutuhkan dalam prosedur pengadaan barang meliputi: a. Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RKBMD) b. Daftar Barang Milik Daerah (DBMD) c. Daftar Barang Pengguna (DBP) d. Daftar Barang Kuasa Pengguna (DBKP) e. Daftar Kebutuhan Barang Daerah (DKBD) f. Daftar Kebutuhan Pemeliharaan Barang (DKPB) g. Daftar Hasil Pemeliharaan Barang. c) Laporan yang Perlu Dibuat Laporan yang diperluhkan dalam prosedur pengadaan barang antara lain: a. Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) b. Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT)
17

c. Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran (LBKPS) d. Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT) e. Laporan Barang Milik Daerah (LBMD) f. Laporan Pengelola Barang Semesteran g. Laporan Pengelola Barang Tahunan b. Prosedur Penyimpanan dan Penyaluran Ketentuan mengenai prosedur penyimpanan dan penyaluran barang milik daerah adalah sebagai berikut: 1) Penyimpanan adalah kegiatan untuk melakukan pengurusan, penyelenggaraan, dan peraturan barang persediaan dalam gudang/ruang penyimpanan, sedangkan penyaluran adalah kegiatan melakukan pengiriman barang dari gudang induk/unit ke unit satuan kerja pemakai barang. 2) Prosedur penyimpanan dan penyaluran barang dimulai dari penerimaan barang dari suplier/pihak ketiga dan diakhiri dengan disalurkannya barang yang dibutuhkan oleh unit/satuan kerj yang memerluhkan. a) Fungsi/ Pihak yang Terkait Fungsi/ Pihak yang terkait dalam prosedur penyimpanan dan penyaluran adalah: a. Pemegang Barang Daerah pada Gudang Induk/Unit, bertugas untuk menerima, menyimpan dan mengeluarkan barang-barang milik daerah untuk masa satu tahun anggaran. b. Panitia Pemeriksa Barang Daerah/Unit (PPBD/U), bertugas melaksanakan pemeriksaan atas kuantitas, kualitas dan spesifikasi lainnya atas barang yang terima. c. Fungsi Perlengkapan, sebagai pelaksanaan pembina pengelola barang bertugasdan bertanggungjawab atas terlaksananya standarisasi barang, perencanaan, pengadaan, penyimpanan, penyaluran, pemeliharaan atau perbaikan, penghapusan, penjualan, pemanfaatan, inventarisasi dan

pengendalian/pengawasan barang. d. Fungsi Keuangan, bertugas untuk melaksanakan pembayaran kepada pihak penyedia barang/jasa sesuai dengan prosedur pengeluaran kas yang berlaku. e. Funsi Akuntansi, bertugas mencatat barang ke dalam buku catatan akuntansi yang ada.

18

b) Dokumen yang Digunakan Dokumen yang dibutuhkan dalam prosedur penyimpanan dan penyaluran meliputi: a. Surat Perjanjian (SP) dan Surat Perintah Kerja (SPK). b. Berita Acara Pemeriksaan Barang. c. Berita Acara Penerimaan Barang (BAPB). d. Tanda Penerima Sementara Barang (TPSB). e. Surat Permintaan Pembayarn. c) Catatan yang Digunakan Buku catatan akuntansi ynag dibutuhkan dalam prosedur penyimpanan dan penyaluran berupa buku besar pembantu aset, meliputi: a. Buku Barang Inventaris b. Buku Barang Pakai Habis c. Buku Hasil Pengadaan Barang d. Buku Penerimaan Barang e. Buku Pengeluaran Barang f. Kartu Barang g. Kartu Persediaan Barang c. Prosedur Pemanfaatan Ketentuan mengenai prosedur pemanfaatan barang milik daerah adalah sebagai berikut: 1) Pemanfaatan barang adalah aktivitas yang meliputi sewa barang dan penggunausahaan (misal kerjasama operasi, BOT,BTO dsb) dengan pihak ketiga. 2) Prosedur pemanfaatan barang dimulai dari pengusulan tentang barang yang akan disewa atau digunausahakan dari unit kerja ke Kepala Daerah dan diakhiri dengan dilaksanakannya prosedur penerimaan kas daerah. a) Fungsi/Pihak yang Terkait Fungsi/pihak yang terkait dalam prosedur pemanfaatan barang adalah: a. Unit/Satuan Kerja, sebagai pengelola barang.

19

b. Fungsi Perlengkapan, sebagai pelaksana pembina pengelola barang bertugas dan bertanggungjawab atas terlaksananya pemanfaatan barang. c. Panitia Peneliti dan Penilaian Usulan Kerjasama, bertugas utnuk meneliti dan menilai kelayakan usulan/proposal kerjasama dari pihak ketiga. d. Fungsi Keuangan, bertugas menerima uang hasil sewa dan kerjasama. b) Dokumen yang Digunakan Dokumen yang digunakan dalam prosedur pemanfaatan barang berupa: a. Daftar Pemanfaatan Barang b. Surat Perjanjian Sewa. c. Berita Acara Penelitian dan Penilaian Usulan Kerjasama d. Surat Perjanjian Kerjasama. d. Prosedur Pemeliharaan Ketentuan mengenai prosedur pemeliharaan barang milik daerah adalah sebagai berikut: 1) Pemeliharaan barang adalah upaya mencgah kerusakan yang diyakini lebih baik daripada memperbaikinya. 2) Prosedur pemeliharaan barang ini meliputi kegiatan agar semua barang (khususnya semua barang inventaris yang tercatat dalam buku inventaris yang sedang dalam pemakaian) selalu dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan. 3) Prosedur ini dimulai dari perencanaan pemeliharaan barang oleh masing-masing unit dan diakhiri dengan dilaksanakannya pemeliharaan barang. a) Fungsi/Pihak yang Terkait Fungsi/pihak yang terkait dalam prosedur pemeliharaan barang adalah: a. Unit/Satuan Kerja, sebagai pemakai bertugas dan bertanggungjawab atas perencanaan dan pelaksanaan pemeliharaan, perbaikan, pengguna dan pengawasan barang inventaris dalam lingkungan wewenangnya. b. Fungsi Perlengkapan, sebagai pelaksana pembina pengelola barang bertugas dan bertanggungjawab atas terlaksannya pemeliharaan atau perbaikan dan pengendalian/pengawasan barang. c. Panitia Pemeriksa Barang Daerah/unit (PPBD/U), bertugas memeriksa kondisi barang dan menilai kelayakan kebutuhan pemliharaan.

20

b) Dokumen yang Dibutukan Dokumen yang dibutuhkan dalam prosedur pemeliharaan barang milik daerah, meliputi: a. Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Unit (RKPBU). b. Rencana Tahunan Pemeliharaan Barang Unit (RTPBU). c. Kartu Pemeliharaan Barang. d. Surat Perjanjian Kerja/Surat Perintah Kerja (SPK). e. Prosedur Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi Ketentuan mengenai prosedur tuntutan perbendaharaan dan tuntutan ganti rugi adalah: 1) Dalam rangka pengamanan dan penyelamatan barang daerah perlu dilengkapi dengan ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang sanksi-sanksi terhadap para pemegang barang daerah. 2) Ketentuan tersebut dapat berupa: a. Tuntutan perbendaharaan (TP) terhadap pemegang barang jika di dalam pengurusannya terdapat kekurangan perbendaharaan, dan b. Tuntutan ganti rugi (TGR) terhadap para pegawai negeri/pegawai perusahaan daerah dalam kedudukannya bukan sebagai bendaharawan/pemegang barang yang karena perbuatannya melanggar hukum dan atau melalaikan

kewajibannya sebagaimana mestinya sehingga merugikan daerah. a) Fungsi/Pihak yang Terkait Fungsi/pihak yang terkait dalam prosedur tuntutan perbendaharaan dan tuntutan ganti rugi adalah: a. Majelis Pertimbangan TPTGR. Majelis ini dibentuk oleh Kepala Daerah yang bertugas memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Kepala Daerah setiap kali ada persoalan yang menyangkut TPTGR. b. Biro/Bagian Keuangan/BPKD, sebagai sekretaris Majelis Pertimbangan TPTGR. c. Pemegang Barang Daerah, yang bertugas mengelola dan bertanggungjawab atas kekurangan perbendaharaan barang yang terjadi dalam pengurusnnya.

21

b) Dokumen yang Digunakan Dokumen yang digunakan dalam prosedur tuntutan perbendaharaan dan tuntutan ganti rugi berupa: a. Surat Keterangan Tanggungjawab Mutlak. b. Laporan Perkembangan Penyelesaian Kasus Kerugian Daerah. f. Prosedur Perubahan Status Hukum Ketentuan mengenai prosedur perubahan status barang milik daerah adalah sebagai berkut: 1) Perubahan status hukum adalah setiap tindakan hukum dari pemerintah daerah yang mengakibatkan terjadinya perubahan status pemilikan atas barang daerah. 2) Termasuk dalam tindakan ini adalah penghapusan barang dan pelepasan hak atas tanah dan atau bangunan. Tukar giling/ruislag adalah salah satu cara pelepasan hak atas tanah dan atau bangunan milik pemerintah daerah. a) Fungsi/Pihak Terkait Fungsi/pihak yang terkait dalam prosedur perubahan status hukum adalah: a. Unit/Satuan Kerja Perangkat Daerah, sebagai pemakai barang bertugas dan bertanggungjawab atas penggunaan dan pengawasan barang investaris dalam lingkungan wewenangnya. b. Biro/Bagian Perlengkapan/BPKD, sebagai pelaksana pembina pengelola barang bertugas dan bertanggungjawab atas terlaksananya penghapusan barang daerah. c. Panitia Penghapusan Barang Daerah (PPhBD) d. Fungsi Akuntansi b) Dokumen yang Digunakan Dokumen yang digunakan dalam prosedur perubahan status hukum antara lain: a. Berita Acara Penghapusan Barang. b. Laporan Penghapusan Barang. c. Buku Barang Investasi. d. Kartu Barang. 2.6 Prinsip-prinsip Manajemen Aset Daerah Prinsip-prinsip manajemen aset yang harus dipenuhi pemerintah daerah meliputi: a. Pengadaan aset tetap harus dianggarkan.
22

b. Pada saat pembelian harus dilengkapi dokumen transaksi. c. Pada saat digunakan harus dilakukan pencatatan/administrasi secara baik. d. Pada saat penghentian harus dicatat dan diotorisasi. Pembelian aktiva tetap harus dianggarkan, sehingga dokumen anggaran tersebut menjadi dasar pertama dilakukannya pengadaan aktiva tetap. Hal ini berarti manajemen aset daerah harus sudah dilakukan sejak penentuan anggaran modal. Pada saat pembelian harus ada dokumn transaksi yang jelas berisi jenis aktiva tetap yang dibeli, berapa kuantitasnya, berapa harganya, serta kapan transakasi dilakukan. Dokumen ini sangat penting untuk pencatatan akuntansi, terutama untuk mengetahui nilai historis dari aktiva tetap, menghitung nilai depresiasi serta memudahkan pengauditan. Pada saat aktiva tersebut digunakan harus dilakukan pencatatan mengenai maksud dan tujuan pemanfaatan aset. Apabila terjadi mutasi atau disposisi aktiva tetap juga harus dicatat. Selain itu juga harus dicatat biaya pemeliharaan dan depresiasi aktiva yang digunakan. Pada tahap penghentian aktiva tetap harus dicatat dan mendapat otorisasi. Di beberapa pemerintah daerah, menjadi masalah karena terdapat banyak sekali aset yang tidak bernilai ekonomis yang dimiliki pemda. Penghapusan kekayaan daerah bisa dilakukan dengan cara penjualan, pelelangan, tukar-menukar, hibah dan pemusnahan. 2.7 Permasalahan Terhadap Aset Daerah Akumulasi aset daerah yang bernilai ekonomis besar dan secara fisik terdiri atas berbagai jenis dan tersebar lokasinya menimbulkan kompleksitas dan berpotensi memunculkan permasalahan baik dalam pengelolaan, pemanfaatan, maupun pencatatannya. Kompleksitas dan permasalahan manajemen aset pemda tersebut bisa disebabkan karena: a. Belum dilakukan inventarisasi seluruh aset daerah. b. Belum dilakukan penilaian (appraisal) atas seluruh aset daerah c. Terdapat bergam jenis hak penguasaan aset daerah yang dipegang (secara tidak langsung) oleh berbagai pihak. d. Ketidakjelasan status kepemilikan atas beberapa jenis aset, seperti tanah, jalan, jembatan dan sebagainya. e. Aset daerah tersebut terkait dengan kepentingan yang berasal dari berbagai institusi pemerintah dan non-pemerintah. f. Lemahnya koordinasi dan pengwasan atas pengelolaan aset daerah.

23

Beberapa pemerintah daerah menghadapi kesulitan dalam menilai aset yang dimilikinya, termasuk kesulitan dalam melakukan revaluasi aset lama. Untuk aset lancar, seperti kas, piutang, persediaan dan investasi surat berharga relatif lebih mudah menghitungnya, namun untuk aktiva tetap berupa tanah, bangunan, mesin kendaraan dan peralatan cukup sulit menentukan nilainya. Kesulitan dalam menghitung nilai aset tetap tersebut salah satunya disebabkan sulitnya melacak harga perolehan karena sebelumnya pemda masih menggunakan sistem akuntansi kas dan tata buku tunggal (single entry). Selain itu kondisi objektif aktiva tetap dan pencatatan aset tetap antara lain adanya beberapa aset yang tidak tercatat atau terdata; ada catatanya tetapi tidak ada barangnya; adanya data inventaris aset yang berbeda-beda antara yang terdapat di satuan kerja dengan data yang terdapat di biro/bagian perlengkapan dan dibagian keuangan/BPKD; tidak dilakukan pencatatan mengenai mutasi barang; dan tidak adanya pengamanan yang memadai.

24

BAB 111 KESIMPULAN

Salah satu aspek penting untuk optimalisasi manajemen keuangan daerah adalah adanya sistem manajemen aset daerah yang efisien, efektif, transparan dan akuntabel. Manajemen publik di pemerintah daerah perlu mengetahui prinsip-prinsip manajemen aset daerah agar aset-aset yang ada dapat dikelola secara optimal. Berdasarkan bentuknya, aset daerah dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu aset keuangan dan non keuangan. Sementara itu jika dilhat dari penggunaanya, aset daerah dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu: 1). Aset daerah yang digunakan untuk operasi pemerintah daerah (local goverment used assets), 2). Aset daerah yang digunakan masyarakat dalam rangka pelayanan publik (social used assets), dan 3). Aset daerah yang tidak digunakan untuk pemerintah maupun publik (surplus property). Jika dlihat dari sifat mobilitasnya, aset daerah dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu aset tidak bergerak (real property) dan aset bergerak (personal property). Siklus manajemen aset daerah terdiri atas beberapa tahap,yaitu perencanaan, pengadaan, penggunaan atau pemanfaatan, pengamanan, pemeliharaan, dan rehabilitasi serta penghapusan atau pemindahtanganan. Setiap tahap membutuhkan kebijakan, pencatatan, pemantauan, dan pengawasan secara memadai. Prinsip-prinsip manajemen aset antara lain setiap pengadaan aset tetap harus dianggarkan, pada saat pembelian harus dilengkapi dokumen transaksi, pada saat digunakan harus dilakukan pencatatan/administrasi secara baik, pada saat penghentian harus dicatat dan otorisasi.

25

DAFTAR PUSTAKA

Mahmudi, 2010. Manajemen Keuangan Daerah. Edisi Pertama. Erlangga. Jakarta. http://sutaryofe.staff.uns.ac.id/files/2011/10/manajemen-aset-daerah.pdf. tanggal 25 September 2013 http://www.sarjanaku.com/2012/12/pengertian-aset-atau-aktiva-tetap.html. Di akses pada tanggal 25 September 2013 http://dedoubleyou.wordpress.com/2013/02/15/strategi-pengelolaan-barang-miliknegaradaerah-iii/. Di akses pada tanggal 25 September 2013 Di akses pada

26

Anda mungkin juga menyukai