Anda di halaman 1dari 22

TUGAS SKILL PERSALINAN NORMAL BLOK ELEKTIF

Oleh Merinda Ajeng Arum Pratiwi 09020117

PERSALINAN NORMAL Kala I 1. Fase Laten : dilatasi serviks berlangsung lambat sampai pembukaan 3 cm berlangsung 7-8 jam dengan kontraksi uterus yang teratur minimal 2 kali dalam 10 menit selama 40 detik Penanganan :
1. 2. Pemeriksaan leopold untuk mengetahui posisi bayi dan penurunan PemeriksaanGinekologi (VT) untuk mengetahui perubahan dilatasi dan penipisans erviks 3. Periksa Vital Sign ; Tekanan darah setiap 4 jam Suhu badan setiap 4 jam Nadi setiap 30 60 menit 4. 5. 6. Pemeriksaan Denyut Jantung Janin (DJJ) setiap 1 jam dan kontraksi setiap 1 jam Persiapan patograf Bila ibu tampak gelisah, ketakutan lakukan peubahan posisi miring kekiri dan dianjurkan jalan. Bila perlu menggunakan petidin 1mg/kgBB IV( jangan lebih 100 mg) secara perlahan atau morfim 0,1 mg/kgBB IM atau tramadol 50 mg oral atau 100,g supositoria atau metamizol 500mg oral 7. Bila ibu kepanasan anjurkan untuk mandi atau kasih AC atau kipas angin

2. Fase Aktif : dilatasi serviks 4 10 cm disertai penurunan kepala berlangsung selama 6 jam Penanganan :
1. Pemeriksaan ginekologi (VT) untuk melihat adanya kemajuan pembukaan dan penipisan serviks 2. Pemeriksaan vital sign: Tekanan darah setiap 4 jam Suhu badan setiap 2 jam Nadi setiap 30 60 menit 3. 4. Menuliskan perkembangan ibu dan janin dalam partograf Persiapan alat dan bahan untuk membantu persalinan

Kemungkinan Patologis : 1. Bila pada pemeriksaan Leopold ditemukan letak sungsang aartinya pada pemeriksaan Leopold 1 tidak menggambarkan kepala kemungkinan terjadi posisi bayi yang melintang maka lakukan perujukan. 2. Bila DJJ tidak terdengar disertai: a. Nyeri perut hilang timbul atau menetap dan perdarahan setelah 22 minggu dan ibu kemungkinan mengalami syok kemungkinan diagnosisnya solusio plasenta Makadilakukan :

- Bila perdarahan hebat lakukan transfuse darah dan persalinan segera dengan seksio Caesar (rujuk) - Perdarahan sedikit dengan DJJ Normal atau tidak terdengar maka pecahkan ketuban dengan koklear, namun bila kontraksinya jelek beri oksitosin 2,5 unit dalam 500cc dextrose mulai 10 tetes per menit - Bila DJJ abnormal lakukan persalinan pervagina segera namun bila tidak

memungkinan lakukan seksio Caesar (rujuk) b. Gerakan janin tidak ada dan nyeri perut hebat disertai pendarahan kemungkinannya rupture uteri Bila diduga adanya rupture uteri maka lakukan perujukan. 3. DJJ abnormal ( < 100 X/ menitatau> 180 X/ menit kemungkinan terjadi Gawat Janin Lakukan :Pasien di miringkan kekiri dan diberi oksigen lalu dirujuk. 4. Gerakan janin tidak ada dan DJJ hilang kadang disertai tinggi fundus uteri berkurang kemungkinannya janinmati Lakukan: pematangan servik dengan prostaglandin dan rujuk 5. Tekanan darah ibu tinggi Cegaht erjadinya preeklamsi dengan: serviks bila belum matang lakukan induksi prostaglandin 6. Janin lama tidak masuk ke pubis Lakukan induksi oksitosin

Kala II Persalinan kala II ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan sudah lengkap atau kepala janin sudah tampak di vulva dengan diameter 5 6 cm. I. Melihat Tanda dan Gejala Kala II 1. Mengamati tanda dan gejala persalinan kala II : Ibu mempunyai kenginan untuk meneran Ibu merasakan tekanan yang mungkin meningkat pada rectum dan/atau vaginanya Perinium menonjol Vulva-vagina dan sfingter anal terbuka II. Menyiapkan Pertolongan Persalinan 2. Memastikan perlengkapan bahan dan obat-obatan esensial siap

digunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan menempatkan tabung suntik steril pakai di dalam partus set 3. Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih 4. Melepaskan semua perhiasan yang dipakai di bawah siku. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk satu kali pakai/pribadi yang bersih

5. Memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi. Memakai sarung tangan tingkat tinggi atau steril untuk semua pemeriksaan dalam 6. Menghisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkannya kembali di partus set/wadah disinfeksi tingkat tinggi atau steril tanpa mengkontaminasi tabung suntik III. Memastikan Pembukaan Lengkap dan Keadaan Janin Baik 7. Membersihkan vulva dan perineum, menyeka dengan hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah dibasahi dengan air disinfeksi tingkat tinggi. Jika mulut vagina, perineum atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu, membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka dari depan ke belakang. Membuang kapas atau kasa yang terkontaminasi dalam wadah yang benar. Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi, (meletakkan kedua sarung tangan tersebut dengan benar di dalam larutan dekontaminasi) 8. Dengan tekhnik aseptil, melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah lengkap. Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan sudah lengkap, lakukan amniotomi 9. Mendekontaminasikan sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik serta merendamnya

di dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Mencuci kedua tangan (seperti di atas) 10. Memeriksa Denyut Jantung Janin (DJJ) setelah kontraksi berakhir untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (100-180 kali per menit). Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf. IV. Menyiapkan Ibu dan Keluarga Untuk Membantu Proses Pimpinan Meneran 11. Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik. Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai keinginannya. Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran. Melanjutkan pemantauan kesehatan dan kenyamanan ibu serta janin sesuai dengan pedoman persalinan aktif dan mendokumentasikan temuan-temuan. Menjelaskan pada anggota keluarga bagaimana mereka dapat mendukung dan memberi semangat kepada ibu saat ibu mulai meneran. 12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman) 13. Melakukan pimpinan meneran saat Ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran :

Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran. Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya (tidak meminta ibu berbaring terlentang). Menganjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi. Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu. Menganjurkan asupan cairan per oral. Menilai DJJ setiap lima menit. Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera dalam waktu 120menit (2 jam) meneran untuk ibu primipara atau 60/menit (1 jam) untuk ibu multipara, merujuk segera. Jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk meneran : Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang aman. Jika ibu belum ingin meneran dalam 60 menit, menganjurkan ibu untuk memulai meneran pada puncak kontraksikontraksi tersebut dan beristirahat di antara kontraksi. Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera setalah 60 menit meneran, merujuk ibu dengan segera. V. Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi 14. Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6cm, meletakkan handuk bersih di atas perut ibu untuk mengeringkan bayi

Sediakan untu antisipasi terjadinya komplikasi persalinan (asfiksia), sebelah bawah kaki ibu tempat yang datar alas keras. Beralaskan 2 kain dan 1 handuk dengan lampu sorot 60 watt (jarak 60 cm dari tubuh bayi) 15. Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di bawah bokong ibu 16. Membuka partus set 17. Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan VI. Menolong Kelahiran Bayi Lahir Kepala 18. Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakkan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi, membiarkan kepala perlahan-lahan atau bernafas cepat kepala lahir. Jika ada mekonium dalam cairan ketuban, segera hisap mulut dan hidung bayi setelah kepala lahir menggunakan penghisap lendir. De lee disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau bola karet penghisap yang baru dan bersih 19. Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan kain atau kasa yang bersih

20. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi, dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi : Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala bayi Jika tali pusat melilit leher janin dengan erat, mengklem di dua tempat dan memotongnya 21. Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan Lahir Bahu 22. Setelah kepala melakukan putar paksi luar, tempatkan kedua tangan di masing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya. Dengan lembut menariknya ke arah bawah dan ke arah luar hingga bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian dengan lembut menarik ke atas melahirkan bahu posterior Lahir Badan dan Tungkai 23. Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada dibagian bawah ke arah perineum tangan, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke tangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati perineum, gunakan lengan bagian bawah untuk menyangga tubuh bayi saat dilahirkan.Menggunakan tangan dan ke arah luar untuk

anterior (bagian atas) untuk mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat keduanya lahir. 24. Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas (anterior) dari punggung ke arah kaki bayi untuk menyangganya saat panggung dari kaki lahir. Memegang kedua mata kaki bayi dengan hatihati membantu kelahiran kaki. VII.Penanganan Bayi Baru Lahir 25. Menilai bayi dengan cepat (jika dalam penilaian terdapat jawaban tidak dari 5 pertanyaan, maka lakukan langkah awal), kemudian meletakkan bayi di atas perut ibu dengan posisi kepala bayi lebih rendah dari tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakkan bayi di tempat yang memungkinkan). 26. Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali bagian tali pusat 27. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem ke arah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem pertama (ke arah ibu). 28. Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari gunting, memotong tali pusat di antara kedua klem tersebut

29. Mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih dan kering, menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat terbuka. 30. Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya. Kemungkinan Patologis 1. Kurang adekuatnya gaya ekspulsif: di sebabkan karena sedasi berat atau anstesi regional Manajemen : Pemilihan anastesi dan analgetik yang cermat dan waktu pemberian yang tepat 2. Partus Presepitus : Partus yang terlalu cepat dalam waktu kurang dari 3 jam yang meningkatkan resiko rupture uteri pada ibu dan mortalitas mobiditas prenatal. Manajemen: Penghentian obat oksitosin, pemakaian anastesi umum dan tokolitik. 3. Distosia a. Presentasi muka Pada presentasi muka kepala dalam keadaan hiperekstensi sehingga oksiput menempel pada punggung bayi Manajemen : Pemantauan denyut jantung, biasanya apabila panggul sempil bisa lahir secara pervaginam

b. Presentasi Dahi : Kepala janin menempati posisi tengan antara flrksi penuh dan ekstensi penuh Manajemen: Apabila ada tanda tanda kegawatan dipantau dengan ketat, bila panggul ukuran besar sangat mudah melahirkan normal c. Letak lintang: Sumbu janin tegak lurus dengan sumbu panjang tubuh ibu. Manajemen : Indikasi seksio Sesaria Presentasi ganda : satu ekstremitas menumbung di sisi bagian terbawah janin, kedua bagian ini sekaligus berada di dalam panggul d. Distosia bahu Manajemen : Lakukan maneuver yaitu penekanan suprapubik dan lakukan traksi kebawah trhadap kepala bayi. Setelah itu lakukan maneuver Mcroberts. Selanjutnya pelahiran bahu belakang. Kala III Penatalaksanaan aktif pada kala III (pengeluaran aktif plasenta) membantu menghindarkan terjadinya perdarahan pasca persalinan. Penatalaksanaan aktif kala III meliputi pemberian oksitosin dengan segera, pengendalian tarikan pada tali pusat dan pemijatan uterus segera setelah plasenta lahir. Berlangsung antara 15 30 menit 1. Meletakkan kain yang bersih dan kering, melakukan palpasi abdomen untuk menghilangkan kemungkinan adanya bayi kedua

2. Memberitahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik 3. Dalam waktu 2 menit setelah melahirkan bayi, memberikan suntikan oksitosin unit IM di 1/3 paha kanan atas ibu bagian luar, setelah mengaspirasi terlebih dahulu 4. Lakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT) dengan cara : a. Memindahkan klem pada tali pusat b. Satu tangan diletakkan pada korpus uteri tepat di atas simfisis pubis. Selama kontraksi tangan mendorong korpus uteri dengan gerakan dorso cranial kearah belakang dan kearah kepala ibu c. Tangan yang satu memegang tali pusat dengan klem 5-6 cm di depan vulva d. Jaga tahanan ringan pada tali pusat dan tunggu adanya kontraksi kuat (2 3menit) e. Selama kontraksi, lakukan tarikan terkendali pada tali pusat yang terus-menerus, dalam tegangan yang sama dengan tangan ke uterus 5. Begitu plasentanya terasa lepas, keluarkan dengan menggerakkan tangan atau klem pada tali pusat mendekati plasenta, keluarkan plasenta dengan gerakan ke bawah dan ke atas sesuai dengan jalan lahir. Kedua tangan dapat memegang plasenta dan perlahan memutar plasenta searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput ketuban

6. Segera setelah plasenta dan selaputnya dikeluarkan, masase fundus agar menimbulkan kontraksi. Hal ini dapat mengurangi pengeluaran darah dan mencegah perdarahan pasca persalinan. Jika uterus tidak berkontraksi kuat selama 10 15 detik, atau jika perdarahan hebat terjadi, segera lakukan kompresi bimanual dalam. Jika atonia uteri tidak teratasi dalam waktu 1 2 menit, ikuti protocol untuk perdarahan pasca persalinan 7. Jika menggunakan manajemen aktif kala dan plasenta belum juga lahir salam waktu 15 menit, berikan oksitosin 10 unit IM, dosis kedua dalam jarak waktu 15 menit dari pemberian oksitosin dosis pertama 8. Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum juga lahir dalam waktu 30 menit : a. Periksa kandung kemih dan lakukan katerisasi jika kandung kemih penuh b. c. Periksa adanya tanda-tanda pelepasan plasenta Berikan oksitosin 10 unit IM. Dosis ketiga dalam jarak waktu 15 menit dari pemberian oksitosin dosis pertama d. Siapkan rujukan jika tidak ada tanda-tanda pelepasan plasenta

9. Periksa ibu secara seksama dan jahit semua robekan pada serviks atau vagina atau perbaiki episiotomy Kemungkinan Patologis

1.

Atonia Uteri Gejala : - Uterus tidak berkontraksi dan lembek - Perdarahan segera setelah anak lahir - Syok (kadang-kadang) Penanganan :

2. Robekan jalan lahir Gejala : - Perdarahan pascapersalinan primer - Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir - Uterus berkontraksi baik - Plasenta lengkap - Pucat, lemah, menggigil (kadang-kadang) Penanganan : - Memasang kateter ke dalam kandung kencing untuk mencegah trauma terhadap uretra saat penjahitan robekan jalan lahir. - Memperbaiki robekan jalan lahir. - Jika perdarahan tidak berhenti, tekan luka dengan kasa secara kuat kirakira selama beberapa menit. Jika perdarahan masih berlangsung, tambahkan satu atau lebih jahitan untuk menghentikan perdarahan.

3. Retensio plasenta Gejala : - Plasenta belum lahir setelah 30 menit - Perdarahan segera - Uterus berkontraksi baik

- Gejala yang kadang ada : tali pusat putus akibat kontraksi berlebihan, perdarahan lanjutan Penanganan : - Jika plasenta terlihat dalam vagina, minta ibu untuk mengedan. - Jika pemeriksa sudah dapat merasakan plasenta dalam vagina, keluarkan plasenta tersebut - Pastikan kantung kemih kosong. Jika diperlukan, lakukan kateterisasi kantung kemih - Jika plasenta belum keluar, berikan oksitosin 10 IU secara IM. Jika belum dilakukan pada penanganan aktif kala - Jika plasenta belum dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus terasa berkontraksi, lakukan penarikan tali pusat terkendali - Jika perdarahan terus berlangsung, lakukan uji pembekuan darah sederhana - Jika terdapat tanda-tanda infeksi, berikan antibiotika

4. Sisa plasenta Gejala : - Plasenta atau sebagian selaput tidak lengkap - Perdarahan segera - Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang Penanganan : - Raba bagian dalam uterus untuk mencari sisa plasenta

- Eksplorasi manual uterus - Keluarkan sisa plasenta dengan tangan, cunam ovum atau kuret besar - Jika perdarahan berlanjut, lakukan uji pembekuan darah sederhana

5. Inversio uteri Gejala : - Uterus tidak teraba - Lumen vagina terisi massa - Tampak tali pusat (jika plasenta belum lahir) - Perdarahan segera - Nyeri sedikit atau berat Penanganan : - Lakukan reposisi segera - Jika ibu sangat kesakitan, berikan petidin 1 mg/kgBB secara IM atau IV perlahan atau berikan morfin 0,1 mg/kgBB secara IM - Jika perdarahan berlanjut, lakukan uji pembekuan darah sederhana - Berikan antibiotik profilaksis dosis tunggal setelah mereposisi uterus : Ampisillin 2 g IV + metronidazol 500 mg IV atau sefazolin 1 g IV + metronidazol 500 mg IV - Jika dicurigai terjadi nekrosis, lakukan histerektomi. Kala IV

Dua jam pertama setelah persalinan merupakan waktu yang kritis bagi ibu dan bayi. Keduanya baru saja mengalami perubahan fisik yang luar biasa. Si ibu melahirkan bayi dari perutnya dan bayi sedang menyesuaikan diri dari dalam perut ibu ke dunia luar. Petugas/bidan harus tinggal bersama ibu dan bayi untuk memastikan bahwa keduanya dalam kondisi yang stabil dan mengambil tindakan yang tepat untuk melakukan stabilisasi. Penanganan : 1. Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30 menit selama jam kedua. Jika kontraksi tidak kuat, masase uterus sampai menjadi keras. Apabila uterus berkontraksi, otot uterus akan menjepit pembuluh darah untuk menghentikan perdarahan. Hal ini dapat mengurangi kehilangan darah dan mencegah perdarahan pesca persalinan 2. Periksa tekanan darah, nadi, kantung kemih, dan perdarahan setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua 3. Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi. Tawarkan ibu makanan dan minuman yang disukainya 4. Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering 5. Biarkan ibu beristirahat, ia telah bekerja keras melahirkan bayinya. Bantu ibu pada posisi yang nyaman 6. Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan bayi, sebagai permulaan dengan menyusui bayinya

7. Bayi sangat siap segera setelah kelahiran. Hal ini sangat tepat untuk memulai memberikan ASI. Menyusui juga membantu uterus berkontraksi 8. Jika ibu perlu ke kamar mandi, ibu boleh bangun, pastikan ibu sudah buang air kecil dalam 3 jam pasca persalinan 9. Ajari ibu atau anggota keluarga tentang : a. Bagaimana memeriksa fundus dan menimbulkan kontraksi b. Tanda-tanda baha bagi ibu dan bayi Kemungkinan Patologis Perdarahan pasca persalinan
Periksa vital sign ibu, bilaadatandasyockmakalakukan: 1. Infus IV dengan jarum besar no 16, lalu ambil darah untuk diperiksa golongan darah dan pemeriksaan Hb dan hematokrit. Jika memungkinkan periksa darah lengkap. 2. Beri cairan infus garam fisiologis atau RL dengan kecepatan awal 1 liter dalam 15 20 menit. Berikan paling sedikit 2 liter cairan pada 1 jam pertama. Setelahcairanterkorelasipertahannkandengankecepatan 1 liter per 6-8 jam 3. 4. Berikan 10 UI Oksitosin IM Bila Hb <7 atau hematokrit < 20% berikan sulfa ferrous 600 mg atau ferrous fumarat 120 mg ditambah folat 400 mcg oral sekalisehari selama 6 bulan

Bila Hb 7-11 berikan sulfas ferrous 600mg atau feous fumarat 60 mg ditambah asamfolat 400 mcg oral 1x1 selama 6 bulan