Anda di halaman 1dari 77

Sinar Ketujuh Al Ayat al Kubra (Tanda-Tanda Kebesaran) Peringatan Penting dan Penjelasan Tidak semua orang mampu memahami

semua masalah yang didiskusikan dalam risalah terpenting ini, tapi semua orang akan mendapatkan bagiannya. Jika seseorang masuk ke dalam sebuah kebun yang besar, tangannya tidak dapat meraih seluruh buah yang ada di dalamnya. Akan tetapi jumlah yang didapatnya cukup untuk dirinya. Karena kebun itu memang tidak hanya diperuntukkan baginya saja, tapi juga diperuntukkan bagi siapa saja yang memiliki tangan yang lebih panjang dari yang dimilikinya. Ada lima penyebab yang menyulitkan dalam memahami risalah ini: Pertama, saya menuliskan penyaksian-penyaksian saya sesuai dengan pemahaman yang saya miliki, dan untuk diri saya sendiri. Risalah ini tidak ditulis seperti risalah-risalah lainnya yang disesuaikan dengan pemahaman orang lain dan kemampuan mereka dalam mencernanya. Kedua, karena tauhid yang hakiki itu telah ditulis dalam bentuk gambaran agung, akibat manifestasi (tajalli) al-Ism al-A'zham, maka permasalahan yang ada di dalamnya menjadi sangat luas, mendalam, dan sangat melebar. Sehingga, tidak semua orang mampu menguasai permasalahan tersebut secara langsung. Ketiga, setiap permasalahan yang ada di dalamnya adalah sebuah hakikat yang besar dan luas dalam rangka untuk menjaga kesatuan hakikat tersebut dan agar tidak terpecah-pecahterkadang sebuah kalimat memanjang hingga satu lembar atau lebih. Satu buah bukti membutuhkan beberapa pendahuluan. Keempat, karena setiap permasalahan dalam risalah inimayoritas dari permasalahan yang hendak diberikan solusinyamemiliki banyak sekali bukti dan fakta, pembahasannya menjadi panjang dengan dimasukkannya sepuluh atau duapuluh bukti dengan cara mendemonstrasikannya. Sehingga orang-orang dengan kecerdasan terbatas tidak dapat memahaminya. Kelima, adalah benar bahwa cahaya risalah ini bersumber dari pancaran bulan suci Ramadhan. Di samping itu, saya menuliskannya dengan terburu-buru pada saat tubuh saya sedang diserang beberapa penyakit, tanpa sempat merevisi draft awal. Lebih jauh lagi, ketika menuliskan risalah ini saya merasa tulisan ini merasuk ke dalam hati saya tanpa memberikan pilihan dan kebebasan apapun kepada saya. Saya tidak melihat bahwa menghimpun dan menyatukan tulisan ini sesuai dengan pemikiran saya adalah sebagai langkah yang tepat. Oleh karena itu saya membuat risalah dalam bentuk seperti ini yang mungkin sulit untuk dapat dipahami. Ditambah lagi, beberapa bagian berhasa Arab yang menyusup, dan maqam pertamayang seluruhnya ditulis dalam bahasa Arabtelah dipisahkan dan dijadikan karya 1

terpisah. Terlepas lima kekurangan dan kesulitan yang muncul dari kelima sebab ini, risalah ini memiliki nilai penting sehingga Imam Ali r.a melihat dengan takjub komposisinya dan memberikan nama " al-Ayat al-Kubra" dan "Tongkat Musa". Beliau memandang salah satu bagian Risalah Nur ini dengan rasa suka yang khusus, dan mengarahkan pandangan orang-orang kepadanya. Risalah ini merupakan penjelasan sejati "al-Ayat al-Kubra", sekaligus mengandung sinar ketujuh (syi'a as-saabi'), yang diindikasikan oleh sang Imam sebagai tongkat Musa. Tulisan ini terdiri dari pengantar (muqaddimah) dan dua maqam. Mukaddimah (pengantar) tersebut menjelaskan empat permasalahan penting. Maqam pertama, dijelaskan dengan bahasa Arab mengenai tafsir ayat-ayat (tanda) kebesaran (Allah). Maqam kedua, merupakan interpretasi berikut bukti penjelasan maqam pertama. Panjangnya mukaddimah berikut ini, dan penjelasannya yang melebar, bukanlah keinginan saya pribadi. Hal itu tidak lain karena kondisi yang memang membutuhkan agar saya menulisnya seperti itu. Sebagian orang berpandangan bahwa panjangnya mukaddimah tersebut pendek. Said Nursi

Mukaddimah


Allah berfirman, "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (Adz-Dzariyat: 56) Dari ayat yang agung di atas dapat kita pahami mengenai hikmah keberadaan manusia di muka bumi ini dan tujuannya adalah mengenal pencipta alam ini, beriman, dan beribadah kepada-Nya. Selain itu, tugas fitrah dan kewajiban tanggungannya adalah makrifatullah, beriman kepada-Nya, dan membenarkan keberadaan serta keesaan-Nya dengan penuh keyakinan. Benar, bagi manusia lemah yang secara fitrah menginginkan kehidupan yang abadi dan kekal; dan yang memiliki harapan tak terbatas sekaligus kepedihan tiada akhir; segala sesuatu dan setiap kesempurnaan dianggap rendah, bahkan sebagian besar tidak berharga untuk disebutkan, kecuali 2

keimanan dan makrifat kepada Allah, serta segala sarana yang dapat mengantarkannya kepada keimanan yang merupakan pondasi dan sekaligus kunci bagi kehidupan yang kekal abadi tersebut. Kitab Risalah Nur telah menjelaskan hakikat tersebut dengan sangat jelas dan dengan dalil-dalil yang qath'i. Oleh karenanya kita akan merujuk kitab tersebut dengan memberikan penjelasan di sini mengenai dua gangguan yang terkadang mengganggu keyakinan keimanan tersebut pada masa kini dan menciptakan kebimbangan dan keraguan. Itu semua terkandung dalam empat permasalahan. Gangguan Pertama Dan cara agar selamat darinya ada dua permasalahan: - Permasalahan Pertama: Seperti yang telah ditetapkan pada cahaya ketiga belas dari kitab Al-Maktub Al-Hadi wa AtsTsalatsin (surat ke-31) secara terperinci bahwa: "dalam permasalahan umum, penafian dihadapan bukti tidak bernilai. Dengan demikian hukumnya adalah lemah dan tidak kuat". Contoh: jika ada dua saksi dari orang awam menyatakan bahwa dia melihat hilal pada awal bulan Ramadhan, kemudian ribuan ulama menafikannya dan menyatakan "kami tidak melihat hilal", maka penafian mereka itu tidak ada nilainya dan tidak dianggap. Karena, "bukti" yang ada membuat mereka saling menguatkan dan mendukung satu dengan yang lain. Jadi, terdapat sikap saling mendukung dan bersatu. Sedangkan, penafian tidak ada bedanya antara penafian yang berasal dari satu orang atau berasal dari ribuan orang. Karena, orang yang menafikan itu berdiri sendiri, yang mana hanya dialah sebenarnya yang menafikan. Hal itu disebabkan karena orang yang melakukan pembuktian melihat permasalahannya, baru kemudian mengeluarkan hukumnya sebagaimana jika salah seorang dari mereka mengatakan bahwa dia melihat hilal di langit, kemudian yang lain mempercayai dan menguatkannya dengan menunjukkan tempat yang sama, maka keduanya berarti sama-sama melihat di tempat yang sama. Sehingga keduanya saling menopang, menguatkan, dan memperkokoh. Adapun pada penafian dan pengingkaran, orang yang menafikan itu tidak melihat pada permasalahan tersebut dan dia tidak dapat melakukannya. Sehingga, kaidah "Tidak mungkin membuktikan sesuatu yang dinafikan secara tidak spesifik dan tidak jelas tempatnya", menjadi masyhur. Contoh: jika saya membuktikan kepada anda keberadaan satu hal tertentu di dunia, kemudian anda mengingkari keberadaannya, maka sudah sewajarnya jika anda meneliti dan menelaah hal tersebut di seluruh sudut dunia ini untuk membuktikan ketiadaanya, hal yang dapat saya lakukan dengan mudah dan hanya dengan petunjuk yang sederhana dari diriku. Bahkan, anda juga harus menelitinya pada waktu yang berbeda, sampai kamu dapat mengatakan "memang hal itu benar-benar tidak ada, tidak pernah terjadi peristiwa seperti itu". 3

Jika orang-orang yang menafikan dan mengingkari tidak melihat permasalahan secara dzatiyah, tetapi hanya mengeluarkan pendapat dari dirinya sendiri dan sesuai dengan tingkat pemikiran dan pemahaman mereka sendiri, maka mereka tidak dapat saling bersandar dan mendukung. Hal itu disebabkan karena beragamnya tirai penglihatan serta penghalang pengetahuan yang mereka miliki. Setiap orang dapat mengatakan "aku tidak melihat sesuatu yang dilihat si Fulan, bagiku hal itu tidak ada, dan aku yakin hal itu tidak ada". Akan tetapi dia tidak dapat mengatakan "hal itu memang benar-benar tidak ada". Jika dia mengatakan dengan penafian seperti itukhususnya dalam permasalahanpermasalahan keimanan yang mencakup seluruh alammaka ucapannya itu merupakan fitnah dan dusta yang sangat besar, sebesar dunia ini. Dia tidak mungkin menjadi orang yang jujur, benar, atau lurus selamanya. Kesimpulan dari penjelasan tersebut adalah hasil sebuah bukti itu hanyalah satu, yang saling menopang. Adapun dalam hal penafian, hasilnya tidaklah satu, akan tetapi beragam. Di mana batasan "menurutku, menurut pendapatku, menurut keyakinanku, dan lain sebagainya yang merupakan penyebab-penyebab terhalangnya penglihatan (pendapat) yang benar". Itu semua beragam dan berbedabeda sesuai dengan beragamnya manusia. Oleh karena itu, hasilnya pun beragam dan berbeda-beda pula, serta tidak tercapainya sikap saling menopang secara mutlak. Demikianlah, dari segi hakikat tersebut dapat dikatakan bahwa tidaklah ada nilainya jumlah yang banyak dari orang-orang kafir dan munkirin (orang-orang yang ingkar) yang berusaha menghalangi keimanan. Dan hal ini seharusnya tidak mempengaruhi keyakinan dan keimanan seorang mukmin, akan tetapi kita melihat bahwa syubhat-syubhat yang berusaha dihembuskan oleh para filosof Eropa pada masa ini telah menimbulkan kebimbangan pada diri orang-orang yang memang masih ragu dan rentan terhadap fitnah di antara mereka. Sehingga, keyakinan mereka pun terhapus, kebahagiaan abadi mereka menjadi rusak. Keraguan dan kebimbangan tersebut telah merubah makna kematian yang setiap harinya menerpa tiga puluh ribu manusia dari maknanya yang hakiki, yaitu: selesainya tugas manusia di atas muka bumi ini dan beralih kepada siksaan yang abadi, kefanaan terakhir, dan sebagai akhir yang menakutkan dan mencekam. Kuburan punyang pintunya tidak pernah tertutupmeracuni kenikmatan hidup orang yang ingkar tersebut dan menyengsarakan kehidupannya dengan memperingati gantungan abadi. Maka, pahamilah bahwa iman merupakan sebuah kenikmatan yang besar dan iman itu adalah kehidupan bagi kehidupan ini. - Permasalahan Kedua Pendapat orang-orang yang tidak ahli dalam satu bidang tidak dapat diterima dan berbagai 4

perdebatan didalamnya tidak dianggap. Bahkan walaupun mereka itu adalah para pembesar, ulama, ataupun orang yang ahli dalam keahlian mereka masing-masing. Pendapat mereka tidak dapat dijadikan argumentasi dalam permasalahan tersebut. Mereka (juga) tidak termasuk di dalam konsensus para pakar bidang tersebut. Misalnya pendapat seorang insinyur terkenal tidak dapat disamakan dengan seorang dokter dalam mendiagnosa penyakit tertentu atau mengobatinya. Oleh karena itu, ungkapan pengingkaran dari seorang filosof besar yang hatinya lebih cenderung pada hal yang bersifat materisehingga mata hatinya tertutup dan membuatnya buta terhadap cahaya kebenaranberkaitan dengan berbagai hal maknawi tidak dianggap dan tidak ada nilainya. Lihatlah bagaimana nilai ucapan para ahli filsafat yang rendah di hadapan hal-hal terkecil dan sepele, serta terlihat bodoh di hadapan mayoritas hal-hal tersebut, sehingga mereka tenggelam di dalamnya. Berapa besar nilai kesamaan ucapan dan pendapat mereka dalam permasalahan tauhid, keimanan, dan nilai-nilai moralitas yang telah disepakati ratusan ribu ulama, seperti Syekh Al-Jilani, semoga Allah mensucikannya, yang memiliki hati yang suci dan mata hati yang luar biasa, di mana ia dapat menopang arasy yang sangat besar, padahal dirinya jauh berada di atas muka bumi; dan yang juga telah berusaha mencapai puncak derajat tertinggi selama sembilan puluh tahun hingga dapat menguak hakikat-hakikat keimanan dengan al-ilm yaqiin dan 'ain al-yaqiin, bahkan sampai taraf haqq al-yaqiin. Bukankah keingkaran dan pertentangan mereka itu sangatlah hina, sama seperti dengungan nyamuk di hadapan gelegar halilintar? Sesungguhnya inti kekufuran yang menampakkan permusuhannya terhadap hakikat-hakikat Islam adalah pengingkaran, kebodohan, dan penafian. Meski secara zahir dia tampak dan memiliki eksistensi (keberadaan), namun maknanya tidak lain adalah ketiadaan dan penafian. Adapun keimanan adalah ilmu, keberadaan, ketetapan, dan penilaian. bahkan permasalahanpermasalahan bersifat negatifnya pun merupakan tirai hakikat positif sekaligus inti dari hakikat tersebut. Jika orang-orang kafir yang menentang keimanan berusaha membuktikan keyakinan negatif mereka itu dan berusaha membuatnya dapat diterima dan dipercaya dalam bentuk "menerima yang tiada" dan "membenarkan yang tiada", maka kekufuran seperti itu dapat dianggap sebagai pengetahuan yang keliru dan penilaian yang tidak benar. Jika tidak, maka sesuatu yang mudah untuk dilakukan hanya dengan sikap tidak menerima, mengingkari, dan tidak mempercayai itu tidak lain adalah sebuah kejahilan mutlak dan bukan sebagai sebuah hukum. Kesimpulan: keyakinan terhadap kekufuran itu terbagi menjadi dua bagian: Pertama, yang tidak berhubungan dengan hakikat-hakikat keislaman. Ia adalah sikap mempercayai yang keliru, keyakinan yang batil, menerima yang salah, dan penilaian zhalim yang khusus 5

hanya dilakukan olehnya. Pembagian kufur yang ini tidak termasuk dalam area pembahasan kami. Kita tidak memiliki kepentingan apapun terhadapnya dan ia pun tidak memiliki kepentingan apapun terhadap kita. Kedua, sesuatu yang melawan dan menentang hakikat-hakikat keimanan. Ini juga terbagi menjadi dua bagian: Pertama, tidak membenarkan pembuktian. Sikap ini hanyalah sebuah kejahilan dan sikap tanpa keyakinan. Hal ini juga tidak termasuk dalam cakupan pembahasan kami. Kedua, menerima dan mempercayai dengan hati sesuatu yang tidak ada. Bagian kekufuran ini adalah hukum. Ia adalah keyakinan dan dukungan, sehingga, memaksanya untuk menetapkan penafian dan pengingkarannya. Penafian sendiri terbagi menjadi dua bagian: Pertama, orang yang menafikan mengatakan "tidak ditemukan sesuatu yang dikatakan si Fulan pada tempat dan arah tertentu". Bagian ini termasuk penafian spesifik yang dapat dibuktikan. Ia juga tidak termasuk cakupan pembahasan kami. Kedua, penafian dan pengingkaran masalah-masalah yang suci, umum dan terkait dengan keimanan. Masalah-masalah tersebut mencakup kehidupan dunia, alam semesta dan kehidupan akhirat, serta mencakup beberapa masa. Penafian ini sebagaimana yang telah kami tetapkan pada permasalahan pertama- tidak mungkin dapat dibuktikan secara mutlak. Karena, untuk melakukan itu harus ada pandangan yang meliputi semesta, dan kesaksian terhadap zaman secara tidak terbatas dari seluruh sudut yang ada, agar dapat ditetapkan seperti penafian tersebut. Gangguan Kedua: Agar dapat selamat darinya, juga ada dua perkara: Pertama, dari segi kebesaran, keagungan, dan kemutlakan yang tiada akhir, akal yang menyempit karena kelalaian, kemaksiatan, dan sikap larut dalam hal yang bersifat materitidak menguasai masalah-masalah besar, sehingga mengingkari dan menafikan dengan kesombongan ilmunya. Benar, karena mereka tidak memahami masalah-masalah keimanan yang sangat luas, mendalam dengan akal mereka yang sempit dan hati mereka yang rusak serta mati secara maknawi, maka mereka terjerumus dan tenggelam dalam pengingkaran dan kesesatan. Jika mereka mampu melihat inti dari kekafiran dan kesesatan, maka mereka akan melihat keagungan yang logis, layak, dan wajib yang ada dalam keimanan, sedangkan kemustahilan dan ketidakmungkinan ada pada pengingkaran. Kitab Risalah Nur telah membuktikan hakikat ini dalam ratusan timbangan dan tolak ukur dan 6

dengan kepastian yang sempurna, seperti kepastian hasil perkalian dua dengan dua yang menghasilkan jumlah empat. Misalnya, orang yang tidak dapat menerima eksistensi Allah, keazalian-Nya, sifat-sifatNya yang Maha luas, keagungan-Nya, dan keagungan sifat-sifat-Nya yang Maha Agung, akan meyakini kekafirannya dengan memberikan sifat-sifat keharusan eksistensi-Nya, keazalian-Nya dan UluhiyahanNya kepada seluruh makhluk hingga atom-atom sekalipun. Atau dia harus melepas akalnya, seperti golongan Sophist yang bodoh karena telah mengingkari keberadaan dirinya sendiri dan menafikan keberadaan alam semesta. Demikianlah, semua hakikat keimanan dan keislaman akan stabil dengan bersandar pada sifat keagungan (Allah)yang merupakan pondasi dan dasar hakikat tersebutdan melekat dalam hati yang suci dan akal yang sehat dengan ketundukan yang sempurna dan kepasrahan yang menentramkan. Hal itu juga akan menyelamatkan pemeluknya dari kekafiran, anggapan mustahil, khurafat, dan kebodohan yang menyesatkannya. Memang benar bahwa keagungan dan kebesaran yang diumumkan pada sebagian besar syiar Islam seperti adzan dan shalat, dengan ucapan yang mengulang-ulang: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Hal ini juga jelas dalam sebuah hadits qudsi. Sebagaimana disebutkan Keagungan adalah pakaian-Ku dan kebesaran adalah jubah-Ku1 Jelas pula tercantum di dalam poin kedelapan puluh enam di dalam munajat Muhammad SAW pada kitab Al-Jausyan Al-Kabir2:

Asli dari bunyi hadits tersebut adalah, Allah berfirman, Kebesaran itu adalah penutup dan keagungan adalah tirai, siapa yang mencabutnya dari-Ku salah satu dari keduanya maka Aku akan melemparkannya ke dalam neraka. .Al- Jausyan al-Kabir merupakan doa Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Zainal Abidin dengan Mutawatir 2

Wahai Dzat yang tidak ada kerajaan selain kerajaan-Nya Wahai Dzat yang tidak terhitung pujian hamba terhadap-Nya Wahai Dzat yang tidak mungkin para makhluk mampu menyifati kebesaran-Nya Wahai Dzat yang esensi-Nya tidak diragukan Wahai Dzat yang kesempurnaan-Nya tidak dapat dilihat dengan mata Wahai Dzat yang sifat-sifat-Nya tidak mungkin dapat terjangkau oleh pemahaman Wahai Dzat yang kebesaran-Nya tidak dapat dicerna oleh pikiran Wahai Dzat yang manusia tidak akan mampu mensifati-Nya dengan sifat terbaik Wahai Dzat yang ketentuan-Nya tidak dapat ditolak oleh hamba-hamba Wahai Dzat yang tanda-tanda kebesaran-Nya tampak pada setiap sesuatu Maha Suci Engkau wahai Dzat yang tidak ada Tuhan selain diri-Mu. Wahai pemberi keamanan dan ketenangan, selamatkanlah kami dari api neraka. Munajat ini menunjukkan bahwa kebesaran dan keagungan merupakan tirai yang perlu. AYAT- AL KUBRA (TANDA-TANDA KEBESARAN) Penyaksian seorang Musafir yang Bertanya Kepada Alam Tentang Penciptanya

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Al-Israa: 44) [Maqam kedua ini menafsirkan ayat mulia ini dan sekaligus menjelaskan bukti-bukti, hujjah-hujjah, terjemahan penjelasan
yang singkat dari maqam pertama.]

Banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Qur`anyang semisal dengan ayat agung di atasyang pada mukaddimah pendefinisiannya menyebutkan Sang Pencipta langit (semesta) yang merupakan puncak lembaran tauhid. Di mana tidaklah seseorang merenunginya melainkan dia akan merasa heran dan diselimuti rasa takjub. Dengan penelaahannya dia akan dapat menikmati dengan segala perasaan dan kenikmatan. Jadi, hendaknya memulai pembahasan dengan langit. Benar, setiap musafir yang datang ke ruang tamu dan kerajaan dunia ini, setiap kali membuka kedua matanya dan memandang akan melihat bagaikan perjamuan yang sangat mulia, pameran yang 8

penuh seni, kemah dan tempat latihan yang menakjubkan, tempat rekreasi yang sangat mengagumkan, tempat tafakkur yang penuh hikmah dan bermakna. Ketika sang tamu tersebut ingin mengetahui dan mengenal sang pemilik ruang tamu yang indah, penulis kitab yang agung, dan raja dari kerajaan yang berwibawa ini, ternyata wajah langit yang sangat indah yang tertulis dengan pancaran bintang muncul dihadapannya dan berseru, Lihatlah aku! aku akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang sedang kamu cari. Tamu tersebut memandang dan melihat bahwa kerububiyahan-Nya sangat jelas sekali. Pada ratusan ribu benda-benda langit diketinggiannya tanpa ada pondasi dan sandaran. Di antaranya terdapat benda yang lebih besar lebih dari seribu kali lipat bumi kita ini. Ada pula yang pergerakannya lebih cepat dari busur panah sebanyak tujuh kali lipat kecepatannya. Dalam bergerak dan berjalannya benda-benda tersebut berjalan bersama-sama dengan pergerakan yang sangat cepat, namun tanpa berdesakan dan berbenturan. Manifestasi Rububiyyah yang menyalakan lampu-lampu tak terhingga itu secara terus-menerus tanpa minyak dan dipadamkan, mengatur bendabenda yang sangat besar tanpa menimbulkan keributan dan kekacauan, memperkerjakan makhlukmakhluk yang besar itu dengan tugas tanpa ada pemberontakan seperti tugasnya matahari dan bulan, mengatur makhluk-makhluk itu yang sangat jauh yang tidak bisa diukur dengan angka di antara dua kutub dalam satu waktu, satu kekuatan, satu gaya, cap fitrah yang sama, bentuk yang sama dan bersama tanpa ada kekurangan. Kerububiyahan ini juga menundukkan guna membawa kekuatan-kekuatan besar yang melebihi batasnya terhadap aturan main yang ada tanpa melanggar, menyuruh membersihkan langit dengan sangat indah dan cerah tanpa mengizinkan sampah seperti bekas-bekas yang mengotori wajah langit, menjalankan benda-benda langit dengan gerakan terencana seperti halnya taktik pasukan yang teratur, serta mempertunjukkan gaya gerakan yang menakjubkan itu secara hakiki dan khayali pada setiap malam dan tahun kepada makhluk-makhluk yang menontonnya seperti layar bioskop. Hakikat yang terdiri dari sikap menundukkan, mengatur, mengurus, mengorganisir, mensucikan, dan memberikan tugas terlihat dalam tindakan kerububiyahan-Nya menjadi saksi atas wajibul wujud (kemutlakan eksistensi) pencipta langit-langit dan kesatuan-Nya dan bersaksi atas keberadaaan Allah itu lebih jelas daripada keberadaan langit-langit tersebut dengan keagungan dan keluasan kekuasaan-Nya. Makna seperti ini telah disebutkan pada tingkat pertama dari maqam pertama sebagai berikut:

: :
Tidak ada Tuhan selain Allah yang eksistensi-Nya merupakan kemutlakan; yang keharusan eksistensi-Nya tersebut diindikasikan oleh langit-langit dan apa-apa yang ada di dalamnya, berupa bukti 9

yang sangat agung, luas, dan hakiki, yaitu: proses penciptaan, pengaturan, perputaran, pengorganisiran, pensucian, dan penugasan yang luas di dalam kerajaan ini dengan metode musyahadah (kesaksian). *** Kemudian, angkasa yang merupakan tempat berkumpulnya keajaiban-keajaiban dan sesuatu yang luar biasa diberikan nama dengan sebutan cuaca, berseru dengan suara lantang terhadap orang yang datang ke dunia, yaitu tamu tersebut, Perhatikanlah aku! Niscaya engkau dapat mengetahui dan menemukan melalui saya apa yang sedang engkau cari, yakni siapa yang telah mengirim engkau ke sini. Sang musafir memandang wajah angkasa yang buram, tetapi penuh dengan rahmat dan mendengar seruannya yang menakutkan, tetapi membawa khabar gembira. Ia akan melihat bahwa: Awan yang tergantung di antara langit dan bumi menumpahkan air ke taman bumi dengan gaya yang penuh hikmah dan kasih sayang. Ia membawa air kehidupan untuk penduduk bumi dan menyeimbangkan hawa yang sangat panas. Meski awan yang berat dan besar itu melaksanakan banyak tugas seperti yang disebutkan tadi, dia akan bersembunyi setelah memenuhi sudut-sudut udara, seluruh bagian-bagiannya menghilang untuk beristirahat dan tidak terlihat jejaknya, persis seperti muncul dan bersembunyinya para tentara yang teratur yang menuruti perintah sang komandan. Kemudian, ketika menerima perintah Turunkanlah air hujan, maka awan berkumpul dalam satu jam, bahkan dalam beberapa detik saja. Mereka berarakan seperti halnya tentara yang menunggu perintah sang panglima. Kemudian, musafir tersebut melihat ke arah udara yang berkeliling di langit. Dia melihat bahwa udara dapat digunakan untuk tugas yang sangat banyak, dan tugas yang penuh hikmah dan kemuliaan, seolah-olah setiap atom udara dari atom-atom udara yang tidak berkesadaran mendengarkan perintah yang disampaikan kepadanya dari Sang Raja semesta alam ini. Ia melaksanakan perintah itu dengan teratur dan cermat, tanpa menangguhkan sebagiannya dengan kekuatan Raja tersebut, seperti memberikan pernafasan kepada seluruh makhluk hidup di muka bumi, memindahkan suara, bahan-bahan pokok bagi kehidupan, seperti hawa panas, cahaya, dan pasokan energi listrik. Juga, menjadi sarana untuk mengembangbiakkan tumbuh-tumbuhan, serta berbagai tugas kehidupan lainnya. Semua tugas tersebut dilaksanakan dengan penuh kesadaran, ilmu, dan kedinamisan yang dirancang oleh Tangan gaib. Kemudian dia memperhatikan air hujan. Dia akan melihat bahwa percikan-percikan hujan yang dikirimkan dari sebuah gudang rahmat yang lembut, bening, manis, dan gaib memancarkan hadiah berupa rahmat dan melakukan tugas yang sangat banyak. Seolah-olah hadiah berupa rahmat tersebut tercermin dibalik percikan air hujan tersebut. Karena alasan itulah, air hujan sering disebut juga sebagai rahmat. Kemudian dia mengarahkan penglihatannya ke arah kilat dan mendengar suara petir. Dia akan melihat bahwa keduanya digunakan untuk perkara-perkara yang sangat mengagumkan dan 10

mengherankan. Lalu, perhatiannya kembali kepada akalnya. Dia berbicara dengan dirinya seraya berkata, Awan yang merupakan benda mati dan tidak memiliki kesadaran bagaikan sebuah kumpulan kapas. Tidak diragukan bahwa ia tidak dapat mengetahui dan mengenal kita. Tidak mungkin dia berusaha sendiri untuk membantu kita karena rasa sayang dan simpatik terhadap diri kita. Tidak mungkin dia akan dapat terlihat jelas di atas langit kemudian bersembunyi tanpa adanya perintah. Akan tetapi, pasti dia bergerak dengan perintah seorang komandan yang berkuasa dan bijaksana, sehingga dia tersembunyi tanpa bekas, tiba-tiba tampil kembali dan mulai kerja. Dengan perintah dan kekuatan seorang raja yang sangat aktif, mulia, dan sangat indah serta gemilang, ia mengisi dan mengosongkan atmosfer. Dengan keagungan hikmah-Nya, ia mampu mengukir atmosfer yang indah dan melenyapkannya dalam seketika, sebagai cerminan mengenai hari kiamat dan kebangkitan. Awan mengikuti angin dan membawa air hujan yang seluas pegunungan dengan perintah Sang Pencipta, Pengatur Yang Maha Lembut dan Baik, serta memiliki kemuliaan dan membawanya ke tempat yang memerlukan hujan. Seolah-olah awan menangisi keadaan mereka dan kemudian membuat mereka tersenyum dengan bunga-bunga, membuat udara panas yang disebabkan oleh matahari sejuk dan menyirami taman-taman bumi serta membersihkan muka bumi. Musafir yang penuh dengan keingintahuan berkata kepada akalnya: Udara yang tidak memiliki kehidupan, kesadaran, dan selalu berada dalam kebimbangan dan kegundahan yang tak dapat tenang itu secara lahir mewujudkan dan menyebabkan munculnya ratusan ribu aktifitas, tugas, dan kenikmatan yang diliputi oleh hikmah, rahmat, dan keyakinan. Di mana semua itu membuktikan bahwa udara tersebut sebenarnya tidak memiliki gerakan yang bersifat dzatiyah, yakni bergerak dengan dorongan dirinya sendiri. Akan tetapi yang menggerakkannya adalah perintah yang berasal dari Dzat Yang Maha Mengetahui, Bijaksana, dan memiliki kemuliaan yang mutlak. Seolah-olah setiap atom udara mengetahui semua pekerjaan seperti seorang prajurit yang mendengar dan memahami perintah dari seorang komandan. Udara juga mendengar dan menaati perintah rabbani, sehingga ia diperkerjakan oleh tangan hikmah dengan teratur, selain sebagai pelayan universal seperti menjadi sarana untuk pernafasan dan kehidupan binatang; membiakkan tanaman, mengembangkannya, dan membawa bahan-bahan yang diperlukannya; mengerakkan, mengatur awan, dan berkelilingnya kapal-kapal langit; khususnya memindahkan suara, percakapan dengan telepon, telegraf, dan radio. Atom-atom udara yang terdiri dari bahan sederhana, yaitu oksigen dan hidrogen digunakan di dalam ciptaan rabbani yang dalam bentuk ratusan ribu di muka bumi walaupun atom-atom tersebut sangat mirip satu sama lain. Orang itu kemudian berkata dengan lantang, Sungguh benar bahwa ini semua sama dengan yang 11

dijelaskan dalam sebuah ayat yang berbunyi:


Dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. (Al-Baqarah: 164). Dzat yang memberikan perintah kepada angin dan mempergunakannya untuk berbagai pelayanan dan tugas rabbani tidak terbatas, mengisarkan angin, dan menggunakannya dalam berbagai tugas rahmani serta menciptakan udara dalam bentuk tertentu adalah tidak lain Rab yang eksistensinya merupakan keharusan mutlak, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Tahu akan segala sesuatu, serta Pemilik keagungan dan kemuliaan. Kemudian, dia melihat bahwa air hujan mengandung manfaat sebanyak tetesannya, memiliki manifestasi rahmani sebanyak partikelnya, dan mempunyai hikmah sebanyak atom-atomnya. Dan juga tetesan air hujan yang elok, lembut, dan penuh berkah diciptakan dengan begitu teratur dan indah, khususnya hujan salju yang turun pada musim panas dikirim dengan sangat terukur dan teratur bahwa angin kencang yang membuat benturan antara benda-benda besar tidak merusak keteraturan mereka, tidak membuat tetesan hujan salju menjadi benda-benda yang berbahaya dengan mengumpulkan dan mempertemukan tetesan-tetesan air hujan. Air yang terdiri dari dua bahan yang sederhana, yaitu oksigen dan hidrogen yang mati dan tidak memiliki kesadaran diperkerjakan dengan pekerjaan yang penuh hikmah untuk makhluk hidup. Selain itu, ia ditundukkan untuk pelayanan yang memiliki beribu-ribu hikmah dan puspa ragam kesadaran. Jadi air hujan yang berupa rahmat hanya dibuat di perbendaharaan rahmat gaib Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Turunnya hujan menafsirkan secara materi ayat mulia ini,


Dan Dia-lah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmatNya. (Asy-Syuura: 28) Kemudian, dia mendengarkan suara petir dan melihat kilat bahwa kedua peristiwa atmosfer yang ajaib ini menafsirkan ayat-ayat mulia berikut:


Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah. (Ar-Rad: 13) 12

Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (An-Nuur: 43) Dan sekaligus memberitahukan kedatangan air hujan dan memberikan kabar gembira bagi mereka yang membutuhkannya. Benar, fenomena yang ajaib dan bijaksana seperti membuat atmosfer berbicara dengan suara dahsyat secara tiba-tiba, mengisi atmosfer yang gelap dengan cahaya dan api besar, menggerakkan awan seperti kapas sebesar gunung yang merupakan sumber embun, salju, dan air, maka semua fenomena itu mengingatkan dan membangunkan manusia-manusia yang lalai dengan sebuah peringatan: Angkatlah kepalamu, lihatlah keajaiban pekerjaan Sang Maha Kuasa yang Aktif dan ingin memperkenalkan diriNya kepadamu! Sebagaimana engkau tidak bebas dan tanpa tujuan, peristiwa-peristiwa ini juga tidak siasia dan tanpa tujuan. Masing-masing peristiwa tersebut diperkerjakan untuk tugas-tugas yang sangat bijaksana. Mereka ditundukkan oleh Dzat Yang Maha Mengatur dan Maha Bijaksana. Demikianlah, musafir yang penuh dengan keingintahuan mendengar kesaksian jelas dan mulia dari sebuah hakikat yang terdiri dari penundukan awan, penggunaan angin, penurunan hujan, dan pengaturan peristiwa-peristiwa yang terjadi di atmosfer. Musafir berkata Amantu Billah (Aku beriman kepada Allah SWT). Tingkat kedua dari maqam pertama memberikan gambaran mengenai kesaksian musafir tersebut mengenai cuaca, yaitu:

: :
Tidak ada Tuhan selain Allah yang eksistensi-Nya merupakan kemutlakan. Cuaca dengan seluruh yang ada di dalamnya adalah ciptaan, aturan, sesuatu yang diturunkan, diurus, memiliki aturan yang luas dan sempurna, yaitu dengan cara musyahadah (menyaksikan).
***

Kemudian, turis pemikir yang terbiasa melakukan wisata pemikiran dibisiki oleh bola bumi, Mengapa engkau mengelilingi udara dan berputar diseluruh sudut langit dan ruang angkasa? Mari turun ke tempatku agar aku dapat memperkenalkan apa yang engkau cari. Perhatikanlah tugas-tugasku dan bacalah apa yang tertulis di dalam lembaran-lembaranku. Orang itu pun lalu memperhatikan dan dia

Peringatan: Saya ingin menjelaskan 33 pembahasan tauhid yang ada di maqam pertama. Namun, karena keadaan saya yang tidak memungkinkan sekarang, saya terpaksa cukup dengan bukti dan terjemahannya yang sangat singkat. Karena pembahasan tersebut telah dijelaskan di Risalah Nur dengan gaya yang berbeda, maka perinciannya kami serahkan kepada Risalah Nur.

13

melihat: Bumi seperti seorang maulawi (pengikut tarekat maulawiyyah) melingkari sebuah lingkaran yang menyebabkan terjadinya hari, tahun, dan musim dengan dua gerakannya di sekeliling medan kebangkitan agung. Ia seperti sebuah kapal rabbani yang cemerlang dan tunduk yang berkeliling di rotasi matahari dan laut angkasa secara teratur dan terukur sambil membawa seratus ribu macam makhluk hidup dengan seluruh rezeki dan kebutuhan mereka. Kemudian dia memperhatikan lembaran-lembaran bumi. Dia melihat bahwa masing-masing lembaran tersebut memperkenalkan Tuhannya dengan ribuan ayat-ayatnya. Karena ketika dia tidak mendapatkan keluasan waktu untuk dapat menelaah seluruh lembaran tersebut, dia hanya memperhatikan satu lembaran, yaitu lembaran berupa penciptaan dan pengaturan makhluk hidup pada musim semi. Dia melihat bahwa bentuk anggota yang tak terhingga dari seratus ribu jenis makhluk hidup diciptakan dari materi yang sederhana dengan sangat teratur; dididik dengan penuh kasih sayang; disebarkan melalui diterbangkannya benih sebagian makhluk hidup secara menakjubkan; diatur secara teratur; diberi makanan dan diasuh dengan kasih sayang; dikembangkan makanan-makanan yang bermacam-macam, lezat, dan manis dari tanah kering, tetesan air, benih-benih, serta akar-akar sekeras tulang yang perbedaanya sangat sedikit dengan kasih sayang. Seratus ribu jenis makanan dan keperluan dikirim kepada makhluk hidup dari perbendaharaan gaib secara teratur melalui musim semi yang bagaikan gerbong. Khususnya pengiriman pompa susu manis yang tergantung di dada ibu yang penuh kasih sayang dan susu kaleng yang terdapat dalam bingkisan rezeki yang dikirim untuk bayi dengan penuh kasih sayang, kemurahan hati dan hikmah bahwa hal itu membuktikan secara jelas manifestasi rahmat dan kemurahan hati Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dengan penuh kasih sayang dan secara mendidik. Kesimpulan: Lembaran kehidupan musim semi ini mempertunjukkan seratus ribu contoh dari kebangkitan besar (Al-Hasyrul Azam) dan menafsirkan ayat berikut dengan jelas secara materi:


Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (ArRuum: 50) Ayat ini juga mengungkapkan makna-makna yang menakjubkan dibalik lembaran ini. Sang musafir telah memahami bahwa bumi mengucapkan ( Lailaha illahu) dengan kebesaran dan 14

kekuatannya. Demikianlah, disebutkan pada tingkat ketiga dari maqam pertama untuk mengungkapkan penyaksian-penyaksian yang dilakukan oleh musafir tersebut dari lembaran-lembaran lain dengan intisari penyaksian terhadap salah satu aspek dari lembaran besar yang terdapat pada bola bumi:

: :
Tidak ada Tuhan selain Allah yang eksistensinya merupakan kewajiban yang telah menunjukkan kewajiban keberadaannya dalam keesan-Nya bahwa bumi dengan seluruh yang ada di dalamnya dan di atasnya memberikan kesaksian yang agung dan hakiki mengenai penciptaan, pengaturan, pendidikan, permulaan, pembagian benih, pemeliharaan, pengurusan, dan penghidupan terhadap seluruh makhluk hidup. Dan, kasih sayang dan rahmat-Nya yang umum, mencakup, dan sempurna dengan cara musyahadah (menyaksikan). *** Kemudian sesungguhnya musafir yang berpikir tersebut setiap kali menelaah lembaran maka setiap itu pula bertambah keimanannya yang merupakan kunci kebahagiaannya. Bertambah pula makrifahnya kepada Allah yang merupakan kunci menuju tangga kebahagiaan maknawi. Terungkap dengan mata batinnya hakikat keimanan kepada Allah yang merupakan pondasi kokoh bagi segala kesempurnaan. Di samping dia juga telah memetik pelajaran hikmah yang sangat berharga dari langit, cuaca, dan bumi. Setiap kali lembaran itu memberikan rasa nyaman dan kesejukan rohani bagi dirinya, maka dia akan berkata, Apakah ada yang lebih? Kemudian dia mendengar dzikir-dzikir khusus yang menambah kekhusyuan dan kerinduan dari laut dan sungai-sungai besar, sehingga dia dapat mendengar bisikan suara yang membawa kesedihan yang membawa rasa nikmat dalam dirinya. Mereka berkata baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan nyata (lisanul hal), Perhatikanlah kepada kami dan telaahlah! Maka dia pun memperhatikan dan melihat bahwa: Meskipun laut yang selalu bergejolak secara vital dan memiliki fitrah seperti tertumpah dan menaklukkan diperjalankan pada sebuah lingkaran yang jaraknya dua puluh lima ribu tahun dengan sangat cepat bersama bumi, namun mereka tidak bubar, tertumpah, dan melampaui darat. Jadi mereka bergerak dan dijaga dengan perintah dan kekuatan Dzat yang berkuasa dan perkasa. Lalu dia melihat dalamnya laut dan menyaksikan bahwa ia memiliki permata-permata yang sangat indah, terhias, dan teratur. Pemberian rezeki, pengaturan, kelahiran, dan kematian ribuan jenis 15

binatang sangat teratur. Selain itu rezeki dan makanan mereka yang diberikan dari pasir sederhana dan air pahit dengan sempurna membuktikan secara jelas bahwa semua terjadi dengan pemeliharaan dan pengaturan Dzat yang Maha Agung, Maha Kuasa dan Maha Pengasih lagi Maha Indah. Kemudian sang musafir tersebut memandang ke arah sungai. Di sana dia melihat manfaatmanfaat, tugas-tugas, pemasukan, dan pengeluaran sungai betapa bijaksana dan penuh kasih sayang bahwa hal ini membuktikan semua sungai, mata air, kali, dan sungai-sungai besar bersumber dan mengalir dari perbendaharaan rahmat Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa lagi Maha Pemurah. Bahkan mereka disimpan dan digunakan dengan luar biasa, sehingga diriwayatkan bahwa ada empat sungai yang berasal dari syurga.3 Yakni, sungai-sungai tersebut di luar sebab-akibat pada umumnya. Mereka mengalir dari khazanah syurga maknawi dan sumber yang tidak akan pernah habis. Misalnya Sungai Nilpenuh berkahyang merubah daerah gurun Mesir menjadi sebuah syurga mengalir seperti sebuah laut kecil secara kontinyu dari sebuah gunung bernama Gunung Qomar yang terletak di daerah selatan. Jika pengeluarannya dikumpulkan dalam bentuk gunung selama enam bulan dan dibekukan, maka pengeluarannya lebih besar daripada gunung itu. Padahal tempat yang disediakan untuk mata air tidak sampai besarnya 1/6 dari gunung. Karena hujan yang turun sedikit dan mengalir sedikit ke sumber air dikarenakan tanah yang haus meminumnya, maka hujan tidak bisa menjaga keseimbangan sungai yang luas. Hal ini mengungkapkan sebuah hakikat indah yang sangat bermakna dari sebuah riwayat yang mengatakan sungai Nil yang diberkahi itu bersumber dari sebuah syurga gaib di luar hukum alam yang berlaku di bola bumi. Demikianlah, sang musafir telah melihat salah satu dari ribuan penyaksian dan hakikat seluas laut dari sungai dan laut. Dia pun telah memahami bahwa semuanya (sungai dan laut) secara bulat mengucapkan ( La ilaha illahu) dengan sebuah kekuatan sebesar laut dan penyaksian ini disaksikan oleh saksi sebanyak makhluk-makhluk yang ada di laut. Untuk mengungkapkan kesaksian umum laut dan sungai disebutkan pada tingkat keempat dari maqam pertama sebagai berikut:

: :
Tidak ada Tuhan selain Allah yang eksistensi-Nya merupakan keharusan; yang keharusan eksistensi tersebut mengindikasikan keesaan-Nya: seluruh lautan dan sungai-sungai beserta seluruh
3

Dari Abu Hurairah, dia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, Sungai Saihan, Jaihan, Eufrat, dan Nil, semuanya adalah sungai yang berasal dari surga. (HR. Muslim) pada pembahasan tentang surga: 26. Di dalam tulisan Al-Khathib Al-Baghdadi disebutkan Tidak ada di bumi ini sesuatu yang berasal dari surga selain tiga hal: tanaman kurma, hajar aswad, dan awaq. Setiap hari turun keberkahan yang bersal dari surga kepada sungai Eufrat. Lihat pula kitab Faidhul Qadir 5/381.

16

makhluk yang ada di dalamnya. Itu semua tergambar melalui kesaksian agung dan hakiki, yaitu dalam proses penciptaan, pemeliharaan, dan pengaturuan yang teratur, yang dapat diketahui dengan cara musyahadah. *** Kemudian, gunung dan daerah gurun memanggil musafir yang tengah tenggelam dalam perjalanan intelektualnya. Gunung-gunung dan daerah gurun tersebut berseru, Bacalah (menelaah) lembaran kami pula! Musafir tersebut pun menelaah dan dia melihat bahwa tugas-tugas gunung yang sangat menyeluruh dan pelayanan gunung yang bersifat umum itu merupakan bagian dari keagungan dan hikmah yang menakjubkan akal siapapun yang melihatnya. Misalnya munculnya gunung dari dasar bumi dengan perintah rabbani menenangkan kemarahan, kemurkaan, dan kekacauan yang muncul dari goncangan yang terjadi pada perut bumi dengan meletus. Muka bumi bernafas dengan meletusnya gunung seraya bumi terselamat dari goncangan dan gempa bumi yang berbahaya, sehingga bumi tidak mengganggu kenyamanan penghuninya selama perputarannya. Jadi sebagaimana tiang di atas kapal untuk menjaga keseimbangan dan menghindari dari goncangan, begitu juga gunung-gunung merupakan tiang-tiang yang penuh khazanah bagi kapal bumi. Hal ini diungkapkan dalam banyak ayat al-Quran seperti

Dan gunung-gunung sebagai pasak. (An-Naba`: 7) Dan menjadikan padanya gunung-gunung. (Al-Hijr: 19) Dan gunung-gunung yang dipancangkan dengan teguh. (An-Naziat: 32) Contoh lainnya, segala sesuatu yang berada dalam gunung berupa air, tambang, materi, dan obatobatan yang dibutuhkan oleh makhluk hidup disediakan dan disusun dengan betapa bijaksana, teratur, murah hati, dan berhati-hati bahwa secara jelas dibuktikan mereka merupakan khazanah, gudang, dan pelayan Dzat yang memiliki khazanah yang tak terbatas, dan kekuasaan yang tak terhingga. Musafir memahami hal ini. Dia membandingkan tugas dan hikmah dataran dan gunung yang lainnya sebesar gunung dengan kedua mutiara ini dan melihat dengan kekuatan gunung dan keluasan dataran hikmahhikmah umum gunung dan dataran, khususnya kesaksian mereka dari segi penyimpanan cadangan dan ucapan tauhid ( Lailaha illa hu). Sang musafir mengucapkan amantu billah. Berikut ini tulisan yang disebutkan pada tingkat kelima dari maqam pertama untuk menjelaskan makna di atas: 17

: :
Tidak ada Tuhan selain Allah yang eksistensinya merupakan keharusan mutlak; yang kemutlakan eksistensi-Nya ditunjukkan oleh seluruh pegunungan, gurun, dan apa-apa yang ada di dalam dan di atasnya; dengan kesaksian agung cadangan hakiki, yaitu: adanya penyimpanan, keteraturan, penyebaran benih, pemeliharaan, pengurusan, pemeliharaan dari Allah yang bersifat luas, umum, teratur, dan sempurna dengan proses musyahadah. *** Ketika pikiran musafir tersebut tengah mengembara mencermati gunung dan gurun, tiba-tiba dalam pikirannya terbuka pintu alam pepohonan dan tumbuh-tumbuhan . Alam tersebut berseru, Kemarilah menemui kami, berjalan-jalanlah di taman kami, kemudian cermatilah tulisan-tulisan yang ada pada kami. Musafir tersebut pun lalu masuk ke dalam taman dan melihat bahwa pepohonan dan tumbuhtumbuhan telah membentuk sebuah majlis tahlil dan tauhid serta lingkaran dzikir dan syukur yang besar dan terhias. Sang musafir telah memahami dari keadaan mereka bahwa seolah-olah semua jenis pepohonan dan tumbuh-tumbuhan bersama secara bulat mengucapkan ( Lailaha illa hu). Karena dia melihat ada tiga hakikat unversal yang bersaksi dan menjadi bukti terhadap ucapan

( Lailaha illa hu) dari pepohonan dan tumbuh-tumbuhan yang berbuah secara bersama dengan lisanlisan dedaunan yang terukur dan fasih, ucapan-ucapan bunga yang terhias dan elok, serta kalimat buahbuahan yang teratur. Pertama, secara jelas dirasakan sebuah makna dan hakikat pemberian nikmat, kemurahan hati dan ihsan secara sengaja pada masing-masing pepohonan dan tumbuh-tumbuhan, begitu juga terlihat pada semuanya secara jelas sejelas sinar matahari. Kedua, terlihat sejelas siang hari sebuah makna dan hakikat perbedaan sengaja dan bijaksana yang tidak mungkin diserahkan kepada kebetulan, melainkan perhiasan dan pemberian rupa dengan sengaja dan kasih sayang pada jenis-jenis dan masing-masing pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Hal ini menunjukkan semua itu merupakan karya dan pahatan sang Pencipta Yang Maha Bijaksana. Ketiga, terbukannya bentuk dua ratus ribu jenis makhluk dalam keadaan berbeda, teratur, seimbang, vital, bijaksana, tanpa ada kesalahan dan kekurangan dari biji dan benih yang terbatas, mirip, sederhana, berbeda sedikit dan tercampur dengan sangat teratur, terukur, dan indah. Hal ini merupakan 18

sebuah hakikat yang lebih terang daripada matahari. Musafir telah mengetahui adanya saksi-saksi yang membuktikan hakikat itu sebanyak bunga-bunga, buah-buah, daun-daun, dan makhluk-makhluk pada musim semi dan mengucapkan Demikianlah, untuk menjelaskan hakikat dan

kesaksian ini, disebutkan pada tingkat keenam dari maqam pertama hal berikut ini:

: : : : .
Tidak ada Tuhan selain Allah yang eksistensi-Nya merupakan keharusan mutlak; yang kemutlakan eksistensi-Nya ditunjukkan oleh keseragaman seluruh jenis pepohonan dan tumbuhtumbuhan. Mereka bertasbih dengan mengungkapkan kalimat-kalimat yang fasih. Demikian pula dengan bunga-bunga yang indah dan buah-buahan yang teratur, berupa kesaksian yang agung mengenai hakikat kenikmatan, kemuliaan, dan keihsanan yang bertujuan sebagai bentuk kasih sayang. Demikian pula dengan hakikat keistimewaan, perhiasan, dan gambaran dengan kehendak dan hikmah-Nya. Demikian pula halnya dengan dalil yang bersifat pasti dan hakiki yang menjadi pembuka terciptanya bentuk-bentuk yang berimbang dan indah, yang jumlahnya beragam hingga tidak terbatas. Yaitu berupa benih yang hampir sama yang jumlahnya terbatas dan terhingga. *** Kemudian, musafir yang dalam perjalanan, pemikirannya bertambah semangat dan kesenangan dengan peningkatan. Ketika dia datang sambil mengambil setangkai makrifat dan iman sebesar musim semi dari taman musim semi, terbuka alam binatang, dan burung-burung pada akalnya yang mencari hakikat dan pemikirannya yang terbiasa dengan makrifat. Mereka memanggil sang musafir ke dalam alam mereka dengan seratus ribu suara yang berbeda dan lisan-lisan yang bermacam-macam. Mereka mengucapkan silahkan. Musafir pun telah masuk dan melihat bahwa: Semua jenis binatang dan burung secara bersama mengucapkan ( Lailaha illa hu) dengan lisan ucapan dan perbuatan. Mereka merubah muka bumi ini menjadi dalam bentuk sebuah tempat dzikir dan majlis tahlil yang besar. Dia melihat mereka mensifati-Nya dan memuji-Nya seolaholah masing-masing mereka merupakan kasidah rabbani, kalimat subhani, dan huruf rahmani yang bermakna. Seolah-olah perasaan, indera, organ-organ, dan alat binatang dan burung-burung merupakan 19

kalimat yang teratur dan seimbang, serta ucapan yang teratur dan sempurna. Sang musafir telah menyaksikan tiga hakikat besar dan menyeluruh yang membuktikan bahwa mereka bersyukur kepada Sang Pemberi Rezeki dan Sang Pencipta melalui peralatan mereka dan bersaksi atas keesaan Allah SWT. Pertama, hakikat penciptaan dengan bijaksana dan penuh kreasi, penciptaan dengan kehendak dan ilmu, pemberian ruh dari ketiadaan menunjukkan manifestasi ilmu, hikmah, dan kehendak dengan dua puluh aspek bahwa hakikat ini bersaksi atas kemutlakan eksistensi ( wajibul wujud), tujuh sifat dan keesaan Dzat Yang Maha Hidup dan Yang Berdiri sendiri sebagai bukti luas yang memiliki saksi sebanyak makhluk hidup. Kedua, terlihat sebuah hakikat agung dan kuat yang muncul dari perbedaan, perhiasan, dan gambaran yang berbeda dari segi wajah, terhias dari segi bentuk, seimbang dalam hal jumlahnya dan teratur dalam bentuk pada makhluk-makhluk yang tidak terhingga bahwa selain Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui atas segala sesuatu tidak memiliki perbuatan menyeluruh yang menunjukkan ribuan keluarbiasaan dan hikmah pada setiap sisinya. Tidak mungkin! Ketiga, penciptaan ratusan ribu jenis binatang dengan bermacam-macam gaya dan bentukbentuknya yang mengandung mukjizat hikmah dari tetesan air yang disebut nutfah dan telur-telur yang sama, mirip, berbeda sedikit dan terbatas dengan sangat teratur, terukur dan tanpa kesalahan merupakan sebuah hakikat yang terang bahwa bukti-bukti sebanyak jumlah binatang menerangkan hakikat ini. Demikianlah, musafir telah melihat dan mengambil pelajaran bahwa dengan kesepakatan tiga hakikat di atas semua jenis alam binatang secara bersama bersyahadat dengan , seolah-olah muka bumi seperti seorang manusia yang mengucapkan sesuai dengan kebesaranya dan mendengarkan kepada penghuni langit. Disebutkan pada tingkat ketujuh dari maqam pertama mengenai penjelasan hakikat-hakikat tersebut seperti berikut ini:

: : : . :
Tidak ada Tuhan selain Allah yang keberadaan-Nya bersifat wajib. Yang menunjukkan kewajiban keberadaan-Nya itu: seluruh jenis hewan dan burung-burung bersaksi dengan ucapan 20

inderanya, kekuatannya, kelembutannya, anggota tubuhnya berupa kesaksian hakikat penciptaan dan hakikat keistimewaan dan keindahan, serta hakikat kekuasaan Allah. Di mana di dalamnya terdapat petunjuk yang bersifat pasti bahwa seluruh bentuk hewan-hewan tersebut bersifat teratur dan beragam tanpa batas. Padahal mereka berasal dari telur dan benih yang sejenis dan hampir sama bentuknya dalam jumlah yang terbatas. *** Kemudian ketika sang musafir yang berfikir ingin masuk ke alam manusia untuk meningkatkan makrifah ilahiyah di jenjang yang tak terhingga, dzauk, dan cahayanya yang tak terujung. Terutama para nabi mengundang dia ke alam mereka. Sang musafir masuk, pertama-tama dia memandang masa lampau dan melihat: Para nabi yang merupakan yang paling bercahaya dan yang paling sempurna di alam manusia secara bersama mengucapkan . Mereka mengklaim tauhid dengan kekuatan mukjizatmukjizat mereka tak terbatas yang terang dan terpercaya. Mereka memberikan pelajaran kepada manusia dengan mengajak mereka agar beriman kepada Allah SWT untuk meningkatkan derajat manusia dari derajat hewani ke derajat malaikat. Sang musafir duduk dan mendengar pelajaran di madrasah yang nurani itu. Karena para pelopor (para nabi) yang paling tinggi dan terkenal di antara manusia-manusia yang terkenal masing-masing mereka memegang mukjizat-mukjizat sebagai tanda persetujuan yang diberikan oleh Sang Pencipta alam semesta, dengan pemberitahuan mereka sebuah kaum besar dan sebuah ummah menyetujuinya dan beriman, maka sebuah hakikat yang disetujui oleh para nabi yang tegas dan jujur secara bersama betapa kuat dan pasti. Sang musafir telah memahami bahwa orang-orang sesat yang mengingkari hakikat ini yang dibuktikan oleh betapa banyak pelopor terpercaya dengan mukjizat yang tak terhingga melakukan kesalahan besar, kriminal, dan melayakkan mereka untuk mendapatkan azab yang tak terbatas. Dia mengetahui orang-orang yang membenarkan para nabi dan beriman kepada mereka adalah benar dan terlihat kepadanya derajat besar dari kesucian iman. Benar, selain mukjizat tak terbatas para nabi yang merupakan persetujuan fili oleh Tuhan yang Maha Kuasa, banyak tamparan samawi yang datang untuk musuh-musuh mereka sebagai kebenaran terhadap para nabi. Kesempurnaan kepribadian mereka yang menjadi bukti untuk mereka, seruan mereka yang bersifat hakikat, kekuatan iman mereka yang bersaksi terhadap kejujuran mereka, ketegasan dan pengorbanan mereka, kitab dan suhuf suci yang mereka pegang, murid tak terhingga yang mencapai hakikat, kesempurnaan dan nur dengan mengikuti para nabi yang bersaksi atas jalan dan manhaj para nabi yang hak dan benar, ijma dan kesepakatan para nabi dalam masalah-masalah positif dan 21

kesesuaian, solidaritas, sehingga kesepakatan para nabi dalam hal pembuktian merupakan sebuah hujjah dan kekuatan bahwa tidak ada kekuatan yang ada di dalam dunia ini menghadapi hakikat ini dan membuat keraguan terhadapnya. Persetujuan terhadap para nabi yang ada di rukun iman merupakan sebuah sumber kekuatan. Dia mendapatkan kelezatan iman dari pelajaran mereka. Telah disebutkan pada tingkat kedelapan dari maqam pertama pelajaran yang dapat diambil yang disebutkan untuk musafir tersebut, sebagai berikut:

:
Tidak ada Tuhan selain Allah yang telah menunjukkan kemutlakan eksistensi-Nya dalam ketauhidan-Nya, yaitu bahwa seluruh nabi memiliki mukjizat yang dahsyat, yang bersifat benar, dan dapat dipercaya. *** Ketika sang musafir yang mendapatkan sebuah kelezatan hakikat dari kekuatan imanya pulang dari majlis para nabi, para mujtahid yang disebut siddiqun dan ulama yang membuktikan dakwah para nabi secara ilm al yaqin dengan bukti yang pasti dan kuat memanggil dia ke madrasah mereka. Dia masuk dan melihat bahwa: Ribuan orang jenius, ratusan ribu ulama yang teliti dan tinggi membuktikan terutama kemutlakan eksistensi Tuhan, keesaan-Nya dan masalah-masalah keimanan dengan penelitian mendalam yang tidak menyisakan keraguan sedikit pun. Benar, walaupun kemampuan dan jalan mereka yang berbeda-beda, kesepakatan para ulama pada rukun-rukun dan usul keimanan dan masing-masing penyandaran mereka terhadap bukti mereka yang kuat dan meyakinkan merupakan sebuah bukti bahwa jika ada orang yang memiliki kecerdasan sebanyak para ulama dan mendapatkan bukti sebanyak bukti para ulama, maka bisa mengahadapi para ulama. Jika tidak, orang-orang yang ingkar bisa menghadapi mereka dengan menutup mata dan menjadi keras kepala mengenai kebodohan, pengingkaran, dan masalah-masalah negatif yang tidak bisa dibuktikan. Secara metaforis, orang yang menutup matanya membuat siang hari menjadi malam baginya. Sang musafir telah mengetahui di madrasah yang cemerlang dan luas ini bahwa cahaya yang disebarkan oleh para ustad yang terhormat dan luas ilmunya menerangi separuh muka bumi sejak lebih dari seribu tahun. Dia telah mendapatkan kekuatan maknawi, sehingga jika semua orang-orang yang ingkar berkumpul, hal ini tidak mengherankan dan menggoyangkan sedikit pun keyakinannya. Demikianlah, telah disebutkan pada tingkat kesembilan dari maqam pertama ketika musafir tersebut mengambil pelajaran di madrasah tersebut isyarat berikut ini: 22

:
Tidak ada Tuhan selain Allah, yang telah menunjukkan kewajiban eksistensi-Nya dalam keesaan-Nya adalah bersatunya seluruh ulama dengan kekuatan petunjuk mereka yang beragam. *** Kemudian ketika sang musafir yang ingin melihat nur dan kelezatan pada peningkatan dari derajat ilmul yaqin ke ainul yaqin, penguatan iman dan perkembangannya datang dari madrasah, ribuan, dan jutaan mursyid yang mencapai hakikat derajat ainul yaqin dan bekerja untuk hakikat di bawah naungan Miraj Muhammad SAW dan manhaj besar di sebuah tempat dzikir yang sangat terang, bercahaya, dan sebesar gurun yang luas. Karena penggabungan tempat-tempat dzikir kecil yang memanggil dia ke tempat dzikir mereka. Dia masuk dan melihat bahwa: Para mursyid yang memiliki kasyaf (penyingkapan) dan karomah mengucapkan secara bersama

berdasarkan pada kasyaf, musyahadah dan karomah. Mereka pun mengumumkan kemutlakan
eksistensi Tuhan dan keesaan rabbani kepada alam semesta. Dia telah menyaksikan dengan ainul yaqin bahwa seperti halnya mengenal matahari dengan tujuh warna yang ada di sinarnya, mengenal dengan tujuh puluh warna, bahkan sebanyak asmaul husna tentang sebuah hakikat yang ditandatangani secara bersama oleh orang-orang jenius dan para arif yang bercahaya dengan beragam warna, tariqat hak yang bermacam-macam, jalan-jalan benar yang beragam, manhaj hak yang bermacam-macam yang terjelma dari sinar Matahari Azali. Dia melihat ijma para nabi, kesepakatan para ulama, kesesuaian para wali, dan persatuan ketiga pandangan lebih terang daripada siang hari yang menunjukkan matahari. Demikianlah, berikut ini kalimat yang disebutkan pada tingkat kesepuluh dari maqam pertama berupa isyarat yang telah disimpulkan oleh musafir tersebut yang dipetik olehnya dari tempat-tempat dzikir:

:
Tidak ada Tuhan selain Allah, yang kemutlakan eksistensi-Nya dan keesaan-Nya ditunjukkan dengan ijma para wali melalui kasyaf dan karomah mereka yang jelas dan benar. *** Kemudian, sang musafir dunia yang memahami mahabbatullah (cinta terhadap Allah SWT) yang bersumber dari iman kepada Allah SWT dan makrifatullah merupakan yang paling penting dan besar 23

bagi kesempurnaan manusia, bahkan merupakan dasar dan sumber kesempurnaan manusia secara umum, mengangkat kepalanya dan melihat di langit dengan segala kekuatan dan perasaannya untuk meningkatkan makrifat dan menguatkan iman. Dia berkata kepada akalnya bahwa: Selama sesuatu yang paling berharga di alam semesta adalah kehidupan, makhluk-makhluk yang ada di alam semesta ditundukkan kepada kehidupan. Yang paling berharga dari makhluk-makhluk hidup adalah makhluk yang memiliki ruh dan yang paling berharga dari makhluk yang memiliki ruh adalah makhluk yang berkesadaran, serta untuk penghargaan ini muka bumi diisi dan dikosongkan setiap tahun dan abad demi memperbanyak makhluk hidup. Tentu saja langit yang cemerlang dan terhias juga memiliki penghuni sesuai dengan kondisinya dari makhluk hidup, yang memiliki ruh dan makhluk yang berkesadaran bahwa berbicara dengan malaikat dan melihat mereka seperti penampakan Jibril as yang terlihat kepada para sahabat di depan Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dengan mutawatir sejak dahulu. Jika demikian, sang musafir berkata Andai saja saya bertemu dengan penghuni langit dan mengetahui apa pendapat mereka tentang hal ini. Ketika dia berfikir bahwa mereka yang memiliki ucapan yang paling penting tentang Sang Pencipta alam semesta, tiba-tiba dia mendengar sebuah suara dari langit: Jika ingin bertemu dengan kami dan mendapatkan pelajaran dari kami, kamilah yang pertama kali mengimani masalah-masalah keimanan yang datang kepada para nabi terutama melalui Nabi Muhammad SAW dan al-Quran al Mukjizul Bayan. Dan seluruh arwah tayyibah (ruh-ruh bersih) yang terlihat kepada manusia dari kelompok kami tanpa terkecuali dan secara bersama bersaksi atas kemutlakan wujud (wajibul wujud), keesaan dan sifat-sifat suci-Nya Sang Pencipta alam semesta dan menginformasikan dengan sesuai dan sepakat. Kesesuaian dan kesepakatan terhadap berita tak terhingga ini merupakan sebuah pedoman seperti matahari bagimu. Cahaya iman sang musafir menjadi lebih terang dan dia naik dari muka bumi ke langit. Berikut ini disebutkan ringkasan yang dapat dipetik oleh musafir tersebut dari pelajaran malaikat itu, yang tercantum pada tingkat kesebelas dari maqam pertama, yaitu:

:
Tidak ada Tuhan selain Allah yang keberadaan-Nya dan keesaan-Nya bersifat wajib. Yang ditunjukkan oleh kesesuaian berita dari malaikat yang dapat dilihat oleh para manusia dan dapat berbicara dengan manusia-manusia pilihan dengan berita-berita manusia (para nabi). *** 24

Kemudian, karena sang musafir yang penuh keingintahuan dan semangat mendapatkan pelajaran dari lisan kelompok-kelompok khusus dari aspek alam nyata, jasmani, materi, dan dari keadaan mereka, maka dia ingin sebuah perjalanan dengan menelaah dan mencari hakikat di alam gaib dan barzakh. Ketika itu, terbukalah pintu-pintu seluruh akal yang bercahaya dan lurus, hati yang sehat dan nurani yang mana mereka menjadi luas seluas alam semesta secara maknawi walaupun ukuran mereka kecil. Mereka adalah benih manusia yang merupakan buah dari alam semesta. Dia melihat: Mereka adalah barzakh insani di antara alam gaib dan alam nyata. Karena persentuhan dan muamalah antara mereka sesama terjadi pada titik-titik itu dibandingkan manusia. Ia berkata kepada akal dan hatinya sendiri: Marilah! Jalan yang menuju hakikat dari kedua perantara (akal dan hati) ini lebih pendek. Tidak seperti kita mendapatkan pelajaran dari lisan di jalan-jalan yang lain, tetapi kita perlu bermanfaat dengan menelaah dari sifat-sifat dan warna-warna mereka dari sisi iman. Dia mulai menelaah dan melihat bahwa: Keyakinan pada iman dan tauhid dengan teguh dan pendapat, keyakinan dengan sesuai, tabah dan puas seluruh akal yang lurus dan bercahaya yang kemampuannya sangat beragam dan mazhabmazhabnya yang sangat berbeda sepakat. Jadi mereka bersandar pada sebuah hakikat yang tdak bisa dirubah dan memegangnya. Akar-akar mereka masuk ke dalam sebuah hakikat yang kuat, sehingga tidak terputus. Jika demikian, Ijma mereka dalam hal iman, wujud dan tauhid merupakan sebuah rantai nurani yang tidak terputus dan sebuah jendela bersinar yang terbuka untuk hakikat. Dia juga melihat dan memahami bahwa: Secara umum kasyaf (penyingkapan) dan penyaksian semua hati nurani yang sehat yang berbeda dalam hal jalan dan metode sesuai antar sesama tentang rukun-rukun iman dan sepakat tentang tauhid dengan suara bulat, yakin, dan luhur. Jadi hati nurani yang merupakan arasy makrifat rabbani yang kecil dan cermin shamadaniyyah4 yang lengkap yang mencapai hakikat merupakan sebuah jendela yang terbuka terhadap hakikat matahari dan sebuah cermin seperti sebuah laut yang menjadi cermin bagi matahari. Ijma dan kesepakatan mereka mengenai kemutlakan eksistensi dan tauhid merupakan sebuah pedoman yang sempurna dan mursyid besar. Karena tidak ada kemungkinan dari aspek apa pun bahwa sebuah anggapan selain hakikat, sebuah pemikiran yang tak benar, dan sebuah sifat yang salah menipu mata yang sangat besar dan tajam secara kontinyu dan meyakinkan. Para Sofis bodoh yang mengingkari alam semesta menolak akal yang rusak yang memberikan kemungkinan terhadap hal ini. Dia lalu berkata bersama akal dan hatinya, Amantu Billah (Aku beriman kepada Allah). Sebagai isyarat yang menunjukkan kepada adanya marifah imaniyyah yang dapat dipetik oleh
.Sifat Allah SWT, yaitu ketergantungan segala sesuatu kepada-Nya, tetapi Dia tidak membutuhkan apappun dari siapapun
4

25

musafir tersebut dari akal yang lurus dan hati yang bercahaya ini disebutkan pada tingkat ketiga belas dari maqam pertama, yaitu:

:
Tidak ada Tuhan selain Allah yang keberadaan-Nya dan keesaan-Nya bersifat wajib. Yang membuktikan hal itu adalah kesepakatan akal yang lurus dan keyakinannya, meski mazhab yang dianutnya berbeda-beda. Demikian pula dibuktikan oleh hati yang sehat dan bercahaya, yaitu dengan kasyaf dan musyahadahnya, meski cara yang ditempuh berbeda-beda. *** Kemudian, musafir yang melihat alam gaib dari dekat dan berjalan dengan hati dan akal mengetuk pintu alam gaib dengan pikiran seperti ini Apa yang dikatakan oleh alam gaib. Yakni seorang Dzat yang memperkenalkan diri-Nya dengan ciptaan tak terbatas yang terhias dan penuh kreasi membuat diri-Nya dicintai dengan nikmat-nikmat yang manis, terhias, dan tak terhingga, memberitahukan kesempurnaan rahasia-Nya dengan karya tak terhingga yang penuh mukjizat dan kepandaian. Hal ini membuat kita mengetahui secara jelas Dzat yang ingin secara fili lebih dari ucapan dan memberitahukan dengan keadaan di balik tabir alam gaib. Sebagaimana dengan fili dan keadaan, Dia juga berbicara dengan ucapan, memperkenalkan diri-Nya dan membuat yang lain mencintai-Nya. Sang musafir berkata Kita harus mengenal Dia dari penjelmaan-Nya dari aspek alam gaib. Hatinya masuk dalam alam gaib dan melihat dengan mata akal. Hakikat wahyu berlaku di alam gaib dengan penjelmaan yang sangat kuat. Kesaksian wujud dan tauhid yang sangat kuat yang lebih dari kesaksian alam semesta dan para makhluknya datang dari Allaamul Guyub (Sang Maha Mengetahui fenomena gaib) dengan hakikat wahyu dan ilham. Allah SWT. tidak hanya menyerahkan kesaksian ciptaan-Nya mengenai diri, wujud, dan keesaan-Nya, melainkan Diri-Nya berbicara dengan Kalam Azali sesuai dengan Dzat-Nya. Dzat yang hadir di setiap tempat dengan ilmu dan kekuasan memiliki Kalam yang tak terhingga, sebagimana makna kalam-Nya memberitahukan diri-Nya, pembicaraan-Nya juga memberitahukan Dia dengan sifat-sifat-Nya. Benar, sang musafir mengetahui kenyataan dan ketetapan hakikat wahyu jelas dengan kesepakatan para nabi, persatuan berita mereka dari aspek bersandar pada wahyu Ilahi, bukti, dan mukjizat kitab-kitab suci dan suhuf samawi yang menjadi pengesahan, pedoman, serta tauladan bagi sebagian besar manusia dan buah wahyu dan wahyu nyata. Dia telah memahami bahwa hakikat wahyu menjelaskan lima hakikat suci: 26

Pertama, berbicara sesuai dengan pemahaman manusia dan tingkat akal mereka yang disebut

( menurunkan ajaran Ilahi yang sesuai dengan kapasitas akal manusia)


merupakan sebuah penurunan Ilahi. Benar, Dzat yang membuat para makhluk yang memiliki ruh dapat berbicara dan mengetahui apa mereka ucapkan, tentu saja Rububiyah-Nya memerlukan keterlibatan-Nya terhadap pembicaraan mereka dengan pembicaraan-Nya. Kedua, untuk memperkenalkan diri-Nya, Dzat yang menciptakan alam semesta dalam keadaan sangat menakjubkan dengan biaya yang tak terhingga dan membuat makhluk lain mengungkapkan kesempurnaan-Nya dengan ribuan lisan, tentu saja Dia memperkenalkan diri-Nya dengan ucapan-Nya sendiri. Ketiga, sebagaimana Dzat yang menjawab secara fili munajat dan syukur manusia hakiki yang paling terpilih, yang paling memerlukan kebutuhan, lembut dan bersemangat, jawaban dengan KalamNya juga merupakan fungsi penciptaan. Keempat, Sifat Kalam yang merupakan sebuah keperluan bagi Sifat Ilmu dan Hidup dan sebuah penjelmaan bersinar bagi kedua sifat tersebut, tentu saja berada pada Dzat yang memiliki ilmu yang luas dan kehidupan yang kekal dalam bentuk luas dan abadi. Kelima, Dzat yang memberikan ketidakberdayaan, semangat, kefakiran, kebutuhan, sifat bimbang terhadap masa depan dan rasa cinta terhadap makhluk-makhluk-Nya yang manis, penuh cinta, bimbang, memerlukan tempat sandaran, bersemangat untuk mengenal pemiliknya, fakir dan tak berdaya, tentu saja mengumumkan diri-Nya melalui pembicaraan-Nya. Hal ini merupakan konsekuensi dari fungsi ketuhanan-Nya. Demikianlah, sang musafir telah memahami pembuktian wahyu samawi yang mengandung penurunan Ilahi, pengenalan rabbani, pembalasan rahmani, pembicaraan subhani, pemberitahuan shamadani terhadap wujud wajibul wujud dan keesaan-Nya secara bulat merupakan sebuah hujjah yang lebih kuat daripada kesaksian sinar matahari kepada matahari pada siang hari. Kemudian, Dia melihat pada sisi ilham. Dia menyaksikan bahwa ilham-ilham yang benar mirip dengan wahyu pada satu sisi dan merupakan sejenis pembicaraan rabbani, namun ada dua perbedaan: Perbedaan pertama, wahyu yang lebih tinggi daripada ilham terjadi sebagian besarnya melalui malaikat, sedangkan ilham kebanyakan terjadi tanpa perantara. Misalnya, seorang raja memiliki pembicaraan dan perintah dalam dua bentuk: 1- Raja mengirimkan seorang ajudannya kepada seorang gubernur dengan sifat keperkasaan kesultanan dan kekuasaan umum. Terkadang untuk menunjukkan pentingnya keperkasaan kekuasaan dan perintah dia membuat pertemuan dengan ajudan dan setelah itu disampaikan perintah sang raja. 27

2- Percakapan khusus seorang raja yang mengatasnamakan dirinya bukan dengan gelar raja atau sultan dengan pelayan khusus atau rakyat jelata yang ada hubungan khusus dengan sang raja melalui telefon khususnya. Demikian pula, Raja Azali mempunyai percakapan melaui wahyu dan ilham dengan gelar Sang Pencipta alam semesta dan nama Rab seluruh alam. Dia juga memiliki bentuk percakapan sebagai Rab dan Pencipta dengan masing-masing makhluk hidup sesuai dengan kemampuan mereka, tetapi di balik tirai atau tabir. Perbedaan kedua, wahyu bersifat tanpa bayangan, murni, dan khusus pada orang-orang khusus. Sedangkan ilham mempunyai bayangan, campur dengan warna, dan bersifat umum. Dengan bentuk yang beragam dan berbeda seperti ilham malaikat, manusia, dan binatang, ilham menjadi penyebab untuk memperbanyak kalimat rabbani sebanyak tetesan laut. Sang musafir telah memahami bahwa hal ini menafsirkan salah satu aspek dari ayat ini:


Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku. (Al-Kahfi: 109) Kemudian, dia memperhatikan kandungan, hikmah, dan kesaksian ilham dan melihat bahwa: kandungan, hikmah, dan hasil ilham terdiri dari empat cahaya. Pertama, sebagaimana Dzat yang membuat makhluk-Nya cinta terhadap-Nya dengan perbuatanperbuatan-Nya yang disebut cinta ilahi. Dia juga membuat makhluk-makhluk-Nya cinta dengan ucapan, kehadiran, dan percakapan-Nya. Hal ini merupakan fungsi Sang Maha Cinta lagi Maha Pengasih. Kedua, sebagaimana Dzat yang memberikan jawaban terhadap doa-doa hamba-Nya dengan perbuatan-perbuatan-Nya, jawaban dengan ucapan di balik tirai merupakan fungsi Sang Maha Penyayang. Ketiga, sebagaimana Dzat yang membantu kebutuhan dan permohonan para makhluk yang tertimpa musibah besar dan memiliki keadaan yang sulit dengan tindakan-tindakan-Nya, pertolonganNya dengan ucapan-ucapan ilhamiyah yang termasuk sebuah percakapan merupakan keharusan Rububiyah-Nya. Keempat, sebagaimana Dzat yang membuat keberadaan, kehadiran dan perlindungan-Nya dengan tindakan-tindakan-Nya dirasakan oleh makhluk-makhluk-Nya yang sangat tidak berdaya, lemah, fakir, membutuhkan dan bersemangat untuk mencari raja, pelindung, pengatur, dan pemeliharanya, begitu juga pemberitahuan kehadiran dan keberadaan diri-Nya sesuai dengan kemampuan makhluk-Nya 28

dengan ucapan melalui telepon hati mereka pada aspek tertentu yang terkait dengan makhluk-Nya dan di balik tirai ilham-ilham yang benar yang merupakan sejenis percakapan rabbani adalah konsekuensi dari kasih sayang Uluhiyyah dan rahmat Rububiyah. Kemudian dia telah melihat pada kesaksian ilham dan menyaksikan bahwa seandainya matahari memiliki kesadaran, kehidupan dan tujuh warna yang ada pada sinarnya merupakan tujuh sifatnya, matahari memiliki cara berbicara dengan percikan cahaya dan manifestasi yang ada pada sinarnya. Sebagaimana dalam keadaan ini terlihat pantulan matahari ada pada sesuatu yang transparan, matahari dapat berbicara dengan kaca, sesuatu yang terang, tetesan air, bahkan dengan atom-atom transparan sesuai dengan kemampuan mereka dan memberikan jawaban kepada kebutuhan mereka, semuanya bersaksi atas keberadaan matahari, tidak ada tugasnya yang menghalangi tugas lain. Seperti itu juga, dapat dipahami secara jelas bahwa tidak ada halangan dan pencampuradukan dalam percakapan Matahari Abadi yang merupakan Raja Agung keabadiaan dan keazalian, Pencipta Yang Maha Mulia dan Maha Indah bagi segala makhluk seperti ilmu dan kekuasan-Nya menjelma secara luas dan universal sesuai dengan kemampuan sesuatu, tidak ada persoalan, perkara yang mengahalangi sebuah persoalan atau perkara lain. Sang musafir telah mengetahui secara ilmul yaqin yang mendekati ainul yaqin bahwa semua penjelmaan, percakapan, dan ilham-ilham masing-masing dan bersama menjadi bukti dan saksi atas kehadiran, kewajiban eksistensi, dan keesaan-Nya. Berikut ini isyarat singkat yang dapat dipetik oleh musafir tersebut dari pelajaran tentang makrifah alam ghaib pada tingkat keempat belas dan kelima belas dari maqam pertama, yaitu:

: :
Tidak ada Tuhan selain Allah al-wajib al-wujud (yang keberadaan dan keesaan-Nya bersifat wajib), yang kemutlakan eksistensi-Nya ditunjukkan oleh kesamaan seluruh wahyu yang mengandung firman-firman Ilahi, firman Allah, perkenalan dan pertemuan dengan Allah ketika para hamba bermunajat kepada-Nya. Selain itu, yang menunjukkan bahwa keberadaan-Nya itu bersifat wajib adalah: kesamaan ilham-ilham yang mengandung unsur kasih sayang Allah, pengabulan Allah atas doa-doa makhluk-Nya, pertolongan Allah atas permohonan hamba-hamba-Nya, dan kemampuan para makhlukNya untuk dapat merasakan keberadaan-Nya. 29

*** Kemudian, musafir dunia itu berkata kepada akalnya Selama aku mencari raja dan penciptaku melalui makhluk-makhluk alam semesta, tentu saja pertama-tama pergi ke abad kebahagiaan bersama engkau untuk mengunjungi Muhammad SAW yang paling terkenal di alam semesta, yang paling sempurna dengan persetujuan musuh-musuhnya, komandan yang paling besar, raja yang termasyhur, paling tinggi ucapannya, dan yang paling bercahaya akalnya menerangi 14 abad dengan fadhilahnya dan al-Quran dan menanyakan kepadanya apa yang saya cari. Dan dia telah masuk bersama akalnya dan melihat bahwa: Abad itu secara hakikat menjadi masa kebahagiaan umat manusia dengan pribadi Nabi SAW. Karena dia mampu merubah sebuah kaum yang paling primitif dan buta huruf menjadi guru dan pemimpin bagi dunia dalam waktu yang singkat melalui cahaya yang dia bawa. Musafir berkata kepada akalnya lagi Kami terlebih dahulu perlu mengetahui nilai pribadi Nabi SAW yang luar biasa ini, kebenaran ucapan-ucapan dan berita-berita yang dia bawa dan setelah itu bertanya mengenai pencipta kita. Sambil mengucapkan perkataan ini, dia mulai menelaah. Dijelaskan 9 hal dari bukti-bukti pasti yang dia dapat. Pertama, semua sifat baik dan akhlak terpuji ada pada pribadi ini (SAW) dengan pengesahan musuh-musuhnya. Terjadi ratusan mukjizat di tangannya dengan naqli qati (pasti) dan mutawatir seperti terbelahnya bulan menjadi dua bagian dengan menunjuk jarinya yang dijelaskan pada ayat

(Dan telah terbelah bulan, QS. Al-Qamar: 1), sedikit tanah yang dilemparkan oleh (Dan bukan kamu yang melempar, tetapi Allah-lah yang

tangannya kepada pasukan musuhnya masuk mata mereka dan mereka lari dijelaskan pada ayat:

melempar, QS. Al-Anfal: 17), ketika pasukannya sendiri kehausan memberikan air secukupnya bagaikan air kausar dari lima jarinya. Karena lebih dari 300 mukjizat telah dijelaskan pada sebuah risalah yang luar biasa dan berkaromah yang disebut Mukjizat Muhammad SAW., sang musafir telah menyerahkan masalah mukjizat kepada pembahasan tersebut dan berkata: Pribadi SAW. yang memiliki akhlak mulia dan akhlak sempurna, begitu banyak mukjizat-mukjizat, tentu saja dia berbicara dengan benar. Tidak mungkin dia mencoba penipuan, kebohongan, dan kesalahan yang merupakan pekerjaan orang-orang yang tidak bermoral. Kedua, terpegang erat di tangannya sebuah firman pemilik alam semesta, firman itu diakui dan disetejui oleh lebih dari tiga ratus juta manusia pada setiap abad dan firman itu, al-Quran, memiliki keluarbiasaan dengan tujuh aspek. Karena 40 aspek kemukjizatan al-Quran dan ia merupakan kalam 30

Pencipta alam semesta dijelaskan secara rinci pada sebuah risalah terkenal yang merupakan salah satu matahari Risalah Nur yang disebut Mukjizat al-Quran dengan bukti-bukti kuat. Risalah ini terdapat pada kalimat ke-25 dari buku berjudul al-Kalimat. Sang musafir menyerahkan topik ini kepada risalah-risalah tersebut dan berkata: Tidak ada kebohongan yang merupakan tindakan kriminal terhadap firman dan penghianatan terhadap pemilik firman pada pribadi yang merupakan penerjemah firman yang penuh hakikat dan penyampai firman tersebut. Ketiga, pribadi Nabi SAW. itu muncul di tengah masyarakat dengan sebuah syariat, Islam, penghambaan, doa, dakwah dan iman yang tidak ada bandingannya. Tidak akan ada yang lebih sempurna. Karena syariat yang berasal dari pribadi Nabi SAW yang ummi mampu mengatur secara adil dan hak selama 14 abad dan seperlima manusia dengan undang-undang yang tak terhingga. Hal ini tidak ada bandingannya. Islam yang muncul dari tindakan, ucapan, dan hal seorang pribadi Nabi SAW yang ummi menjadi pedoman dan pelindung bagi tiga ratus juta manusia pada setiap abad, menjadi guru dan mursyid bagi mereka, penerang dan pembersih bagi hati mereka, murabbi (pendidik) dan pemurni bagi nafsu mereka dan sumber kemajuan dan peningkatan bagi ruh mereka. Hal ini tak ada bandingnya dan tidak akan pernah ada. Pribadi yang paling depan pada semua jenis ibadah yang ada pada agamanya, ia paling bertakwa, takut kepada Allah SWT, mengikuti detail rahasia ubudiyyah secara utuh dalam keadaan perjuangan dan aktivitas, tidak meniru orang lain, dengan penuh makna, pertama dia lakukan, tetapi yang paling sempurna dan dia lakukan dengan menggabungkan awal dan akhir. Hal ini tidak ada bandingannya. Dia mensifati Tuhannya pada derajat tertentu dengan al-Jausyan al-Kabir yang terdiri dari ribuan doa dan munajat beliau dan makrifah rabbaniyah bahwa ahli makrifah dan para wali yang ada sejak masa itu tidak mencapai derajat makrifah dan sifatnya. Hal ini menunjukkan bahwa dia tak ada bandingannya. Orang yang melihat penjelasan terjemahan sebuah bagian dari sembilan puluh sembilan bagian yang ada di al-Jausyan di awal Risalah Munajat mengatakan al-Jausyan tak ada bandingannya. Dia menunjukkan kekuatan, ketabahan, dan keberanian dalam hal menyampaikan risalahnya dan dakwah terhadap manusia demi kebenaran, walaupun negara-negara besar, agama-agama besar, bahkan kaum, dan pamannya sendiri memusuhinya. Dia tidak menunjukkan tanda keraguan, kebingungan, dan ketakutan sezarah pun, dia menantang seluruh dunia dengan dirinya sendiri dan membuat Islam dapat menguasai dunia. Hal ini membuktikan bahwa dia tidak ada bandingannya dalam dakwah. Dalam hal keimanan, dia memiliki kekuatan yang luar biasa, keyakinan yang mengagumkan, penyingkapan yang menakjubkan, itiqad mulia yang menerangi dunia, sehingga walaupun semua pemikiran, aqidah, hikmah para filosof, ilmu para pemimpin rohani yang mendominasi pada masa itu 31

menentang dan mengingkari Rasulullah, maka penentangan itu tidak memberikan keraguan, kelemahan, waswas terhadap keyakinan, aqidah, kepercayaan dan kepuasaanya. Terutama para sahabat yang meningkatkan derajat keimanan dan kerohanian, semua wali mendapatkan fadhilah dari derajat keimanannya dan percaya Rasulullah berada pada derajat yang paling tinggi. Hal ini menunjukkan secara jelas keimannya yang tiada bandingnya. Sang musafir telah memahami dan akalnya membenarkan bahwa tidak ada kebohongan dan penipuan dari aspek apapun pada pribadi yang memiliki Syariah dan Islam yang tak ada bandingannya, ubudiyyah yang menakjubkan, doa yang luar biasa, dakwah yang universal, dan keimanan yang ajaib. Keempat, sebagaimana ijma para nabi merupakan sebuah dalil yang kuat terhadap eksistensi Allah dan keesaan-Nya, begitu juga ijma para nabi merupakan sebuah kesaksian yang sangat kuat terhadap kebenaran dan risalahnya pribadi Nabi SAW. Karena, betapa banyak sifat suci, mukjizatmukjizat, dan tugas-tugas yang membuktikan kebenaran para nabi dan kenabian mereka terbukti oleh sejarah bahwa semuanya ada pada pribadi Nabi SAW dengan derajat tertinggi. Jadi, mereka memberitahukan kedatangan pribadi Nabi SAW pada Taurat, Injil, Zabur, dan suhuf-suhuf secara ucapan dan memberikan kabar gembira kepada umat manusia. Lebih dari dua puluh isyarat dari kitab-kitab suci telah dijelaskan pada surat ke-19 dalam buku al-Maktubat. Begitu juga dengan perbuatan, yakni dengan kenabian dan mukjizat-mukjizat mereka, membenarkan pribadi ini yang merupakan pribadi yang paling tinggi dan sempurna pada manhaj dan tugas mereka, menandatangani dakwah Rasulullah. Sebagaimana mereka menjadi bukti atas keesaan Allah SWT. dengan ijma, begitu juga mereka bersaksi atas kejujuran pribadi ini secara sepakat. Kelima, sebagaimana ribuan wali yang mencapai hak, hakikat, kesempurnaan, karomah, kasyaf (penyingkapan) dan penyaksian dengan prinsip-prinsip, pendidikan pribadi Nabi SAW ini dan mengikutinya menjadi bukti atas keesaan Allah SWT, begitu juga mereka bersaksi atas kebenaran dan kerasulan pribadi ini yang merupakan guru mereka secara ijma dan sepakat. Sang musafir telah melihat bahwa penyaksian mereka melalui kewalian terhadap sebagian berita-berita yang diberikan oleh Rasulullah dari alam gaib, pembenaran dan keyakinan mereka dalam bentuk ilmul yaqin atau ainul yaqin atau haqqul yaqin dengan cahaya iman terhadap berita-berita tersebut menunjukkan tingkat kebenaran dan kejujuran pribadi SAW. yang merupakan guru mereka. Keenam, sebagaimana jutaan ulama, peneliti ahli, dan muhaqqiq yang jujur serta filosof Islam yang mencapai derajat tertinggi pada tingkat keilmuan dengan pelajaran dan pendidikan dari hakikat suci, ilmu-ilmu yang tinggi, makrifah Ilahi yang dibawakan oleh pribadi Nabi SAW. dengan keummiannya membuktikan secara sepakat keesaan Allah SWT. yang merupakan dakwah utama Nabi Muhammad SAW dengan bukti-bukti kuat, begitu juga kesaksian mereka secara sepakat terhadap 32

kebenaran guru terbesar ini dan kebenaran ucapan-ucapannya. Misalnya Risalah Nur merupakan salah satu bukti atas kebenaran pribadi Nabi SAW. dengan seratus bagiannya. Ketujuh, kaum besar yang disebut keluarga dan para sahabat yang paling terkenal dalam hal firasat, keuletan, dan kesempurnaan setelah para nabi yang terhormat, masyhur, yang paling relijius, paling tajam pandangan mata hatinya meneliti, memeriksa segala keadaan pribadi Nabi SAW baik yang rahasia maupun yang nampak, pemikiran dan keadaan. Hasil dari penelitian tersebut adalah pembenaran mereka yang tak tergoyahkan dan keimanan mereka yang kuat secara ijma dan sepakat terhadap pribadi Nabi SAW bahwa ia adalah orang yang paling jujur, tinggi, benar dan memegang hakikat kerasulan. Sang musafir telah memahami hal ini sebagai sebuah bukti seperti halnya siang hari membuktikan adanya sinar matahari. Kedelapan, sebagaimana alam semesta ini membuktikan pencipta, penulis dan pemahat yang mengatur, menciptakan dengan ukuran tertentu dan teratur seperti sebuah isatana, buku, pameran, dan tempat rekreasi, begitu juga memerlukan dan membuktikan adanya seorang pelopor yang mulia, penemu yang jujur, ustad yang teliti dan guru yang jujur yang mengetahui dan memberitahukan maksud-maksud Ilahi dari penciptaan alam semesta, mempelajari hikmah-hikmah rabbani dari perubahannya, memberikan pelajaran hasil dari gerakan-gerakan alam semesta demi melaksanakan tugas, mengumumkan pentingnya esensi dan makhluk-makhluk yang ada di dalamnya dan mengungkapkan makna-makna di balik buku besar ini. Sang musafir yang telah mengetahui hal ini bersaksi atas kebenaran pribadi SAW. dan dia merupakan seorang petugas yang mulia dan jujur dari Sang Pencipta alam semesta. Kesembilan, di balik tirai ada Dzat yang ingin menunjukkan kebenaran dan keadilan-Nya dengan mempertunjukkan kesempurnaan kemahiran dan kreasi-Nya dengan makhluk-makhluk yang naif dan bijaksana; memperkenalkan dan membuat yang lain mencintai-Nya dengan makhluk-makhluk-Nya tak terhingga yang terhias dan indah; membuat makhluk lain bersyukur kepada-Nya dengan nikmat-nikmat yang tak terhitung yang lezat dan bernilai; membuat makhluk-makhluk-Nya beribadah kepada-Nya dengan pendidikan dan pemberian rezeki yang penuh kasih sayang dan perlindungan, bahkan dengan hidangan dan jamuan rabbani yang disediakan dalam rangka memuaskan perasaan dan nafsu makan mulut; menjelaskan Uluhiyah-Nya dengan pengolahan besar, perbuatan dan penciptaan besar dan penuh hikmah seperti perubahan musim dan perputaran malam dan siang; membuat makhluk-mahkluk-Nya beriman, berserah diri, menunduk dan taat terhadap ke-Uluhiyah-an itu; selalu melindungi orang-orang baik dan kebaikan, menghilangkan keburukan dan orang-orang jahat dengan menghancurkan orangorang dzalim dan pembohong dengan tamparan-tamparan samawi. Tentu saja, ada pribadi yang disebut Muhammad Quraisyi SAW. yang merupakan makhluk 33

tersayang dan hamba yang paling jujur di sisi Dzat SWT. yang gaib itu. Muhammad SAW. telah melayani sepenuhnya pada tujuan-tujuan-Nya yang telah disebut di atas, menemukan dan menjelaskan rahasia penciptaan alam semesta, selalu bertindak atas nama sang Pencipta, meminta bantuan dan keberhasilan dari-Nya dan mendapatkan bantuan dan kesuksesan dari-Nya. Sang musafir lalu berkata kepada akal pikirannya sendiri, Semua dalil di atas telah menjadi saksi atas kebenaran Rasulullah, maka tidak diragukan lagi bahwa beliau adalah manusia yang paling mulia dan paling dibanggakan di alam ini. Dia layak memperoleh gelar sebagai Kebanggaan alam semesta dan anak Adam. Kekuasaan maknawi al-Quran yang merupakan firman Rahman (Maha Pengasih) yang dipegang oleh Rasulullah menguasai separuh bumi, kesempurnaan pribadi dan sifat-sifat mulia yang dia miliki menunjukkan pribadi yang paling penting adalah Muhammad SAW., ucapan yang paling penting dia miliki mengenai Sang Pencipta kita. Oleh karena itu, akal dan pikiranku, dasar segala dakwah dan tujuan hidupnya adalah memberikan bukti dan kesaksian atas eksistensi, keesaan, sifat-sifat dan nama-nama wajibul wujud itu serta membuktikan dan memberitahukan wajibul wujud (keharusan eksistensi Allah SWT). Jadi matahari maknawi alam semesta ini dan bukti yang paling terang tentang Sang Pencipta adalah pribadi ini yang disebut Habibullah bahwa ada tiga ijma besar yang tidak tertipu dan tidak menipu yang membenarkan dan mendukung kesaksian beliau: Pertama, adalah pembenaran jamaah nurani yang terkenal sebagai keluarga nabi dan terdiri dari ribuan kutub dan wali besar yang memiliki pandangan yang tajam dan mata yang menembus fenomena gaib seperti Imam Ali yang mengatakan Jika tirai gaib terbuka, tidak akan bertambah keyakinanku, dan Abdulkadir Jaelani yang mampu melihat arasy dan Israfil. Kedua, adalah pembenaran jamaah masyhur, yaitu para sahabat dengan iman kuat yang mengorbankan nyawa, harta, nenek moyang, dan kabilah mereka yang mengatur dari timur sampai ke Barat sebagai ustad, pedoman, diplomat dan hakim adil bagi bangsa dan pemerintahan madani, berilmu dan paling depan di kehidupan sosial dan politik dari keadaan bodoh tentang kehidupan sosial, pemikiran politik dan berada pada kegelapan masa fatrah di lingkungan sebuah kaum badawi dan ummi. Ketiga, adalah pembenaran dengan derajat ilmul yaqin dari jamaah besar yang terdiri dari banyak ulama teliti dan luas ilmunya. Mereka memiliki ribuan individu pada setiap abad, meningkatkan diri mereka pada setiap ilmu secara jenius, bekerja di berbagai profesi, lahir dan besar dalam ummat Islam. Jadi sang musafir menyimpulkan bahwa kesaksian pribadi Nabi SAW. terhadap keesaan Allah SWT bukanlah secara individu dan parsial, melainkan umum, universal dan merupakan sebuah kesaksian yang tidak bisa dihadapi oleh semua syetan. Sebagai isyarat singkat dari pelajaran madrasah nurani yang didapat oleh musafir dunia dan penumpang kehidupan yang berjalan dengan akalnya pada masa 34

kebahagiaan, disebutkan pada tingkat keenam belas dari maqam pertama:

: .
Tiada Tuhan selain Allah yang keberadaan-Nya bersifat wajib dan bersifat Esa. Yang menunjukkan kewajiban keberadaan-Nya dan keesaan-Nya adalah: adanya manusia yang paling membanggakan dan mulia, keagungan al-Qur`an, keluasan ajaran agamanya, kesempurnaannya, dan keluhuran pekertinya. Hingga, musuh-musuhnya pun mengakui keluhuran akhlaknya itu. Demikian pula hal itu dibuktikan dengan adanya ratusan mukjizat yang dapat dipercaya kebenarannya, ijma para wali, sahabat, dan para ulama. *** Sang musafir yang tidak pernah mengenal lelah dan menyadari bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah keimanan, berkata kepada hatinya sendiri: Perlu kita mengetahui apa yang diucapkan oleh al-Quran al-Mukjizul Bayan yang merupakan ucapan dan kalam Dzat yang kita cari, paling terkenal di dunia, paling terang, paling berkuasa dan menentang terhadap semua orang yang tidak tunduk kepadanya pada setiap masa. Tetapi pertama-tama kita perlu membuktikan kitab ini merupakan kitab Sang Pencipta dan mulai menelaah. Karena musafir ini hidup di masa kini, maka yang pertama dia pelajari Risalah Nur yang merupakan cahaya dari kemukjizatan maknawi al-Quran dan telah melihat seratus tiga puluh risalah dari Risalah Nur merupakan poin, sinar dan penafsiran terhadap ayat-ayat furqani. Meskipun Risalah Nur menyebarkan hakikat-hakikat al-Quran dengan perjuangan kepada seluruh manusia pada abad yang keras kepala dan atheis. Tidak ada seorang pun yang menentangnya. Hal ini membuktikan bahwa alQuran yang merupakan ustad, sumber, pelindung dan matahari bagi Risalah Nur, bersifat samawi, bukanlah perkataan manusia. Bahkan bagian akhir dari surat ke-19 (bagian dari buku berjudul al-Maktubat, ed.) dan Kalimat ke-25 (bagian dari buku berjudul al-Kalimat) yang merupakan salah satu hujjah Qurani dari hujjahhujjah Risalah Nur membuktikan kemukjizatan al-Quran dengan 40 aspek bahwa siapa yang melihatnya tidak mengritik dan menolak, melainkan kagum terhadap pembuktian ini dan memujinya dengan penghargaan. Sang musafir telah menyerahkan aspek pembuktian kemukjizatan al-Quran dan al-Quran sebagai kalam Allah SWT. kepada Risalah Nur dan memperhatikan beberapa poin yang memperlihatkan 35

kebesaran al-Quran dengan sebuah isyarat. Poin pertama, sebagaimana al-Quran merupakan sebuah mukjizat Nabi Muhammad SAW. dengan seluruh mukjizat-mukjizatnya dan semua hakikat yang merupakan bukti bagi kebenaran alQuran, begitu juga Nabi Muhammad SAW merupakan mukjizat al-Quran dengan seluruh mukjizatmukjizatnya, bukti-bukti kenabiannya, kesempurnaan ilmunya dan Nabi SAW juga merupakan sebuah bukti pasti bahwa al-Quran adalah kalam Allah SWT. Poin kedua, di dunia ini, al-Quran merubah dan mengatur nafsu, hati, ruh, akal manusia, kehidupan individu, kehidupan sosial dan politik dengan perubahan sosial secara nurani, membahagiakan dan hakikat bahwa 6666 ayat al-Quran dibaca oleh minimal lebih dari seratus juta lidah manusia dengan hormat pada setiap detik selama 14 abad. Hal ini mendidik manusia, mensucikan nafsu mereka, membersihkan hati mereka, mengembangkan dan memajukan ruh, memberikan istiqomah dan cahaya kepada akal, memberikan kebahagiaan dalam kehidupan. Tentu saja buku seperti ini tidak ada bandingannya, luar biasa, dan merupakan sebuah mukjizat. Poin ketiga, al-Quran memperlihatkan sebuah balaghah sejak abad yang diturunkannya sampai sekarang bahwa ia menurunkan derajat kasidah-kasidah yang terkenal dengan sebutan Muallakat-i Saba yang ditulis oleh syair-syair terkenal dengan tinta emas dan digantungkan di Kabah, sehingga ketika putri Labid5 menurunkan kasidah ayahnya dari Kabah, mengatakan Tidak ada nilainya lagi tulisan ini dibandingkan ayat-ayat al-Quran. Demikian pula, ketika seorang syair badui mendengar ayat

( Maka

sampaikanlah olehmu secara terang-terangan, Al-Hijr: 94) dan bersujud. Ada orang-orang yang bertanya kepadanya: Apakah kamu menjadi Muslim? Dia menjawab: Tidak, saya telah bersujud karena balaghahnya ayat ini. Ribuan imam-imam jenius dan sastrawan-sastrawan berilmu seperti Abdulkahir Jurjani, Sakkaki, dan Az-Zamahsyari yang merupakan orang jenius dalam ilmu balaghah memutuskan secara ijma dan sepakat bahwa Balaghah al-Quran berada di atas kemampuan manusia, tidak mungkin dicapai oleh manusia. Sejak masa itu, al-Quran selalu mengajak manusia ke medan kompetisi dan menyinggung perasaan para sastrawan, ahli balaghah yang sombong dan egois dengan mengatakan Bawalah semisal sebuah surat, kalau tidak, akuilah kehinaan di dunia dan akhirat. Meskipun al-Quran mengumumkan ucapan tersebut, para ahli balaghah abad itu yang keras kepala tidak menyelasaikan kompetisi melalui membawa sebuah surat yang mirip dengan surat al-Quran, tetapi mereka memilih perang sebagai jalan
5

Labid bin Rabiah adalah salah satu penyair Persia paling tenar pada masa jahiliyah, kemudian memeluk Islam dan menjadi salah seorang sahabat nabi SAW (al-Alaam karya Az-Zarkasyi, 5/240)

36

panjang yang membahayakan nyawa dan harta mereka. Hal ini membuktikan bahwa tidak mungkin menempuh jalan yang pendek (membawa surat semisal surat al-Quran) itu. Para penggemar al-Quran dengan semangat meniru dan menyerupai al-Quran dan para musuh al-Quran dengan motivasi mengkritik menulis jutaan buku berbahasa Arab yang ditulis sejak waktu itu dan meningkat dengan pengabungan pikiran, beredar di tengah masyarakat. Tidak ada seorang pun mencapai tujuan itu, bahkan ketika seorang awam mendengar al-Quran, dia mengatakan al-Quran ini tidak mirip dan tidak sederajat dengan buku-buku di atas. Jadi derajatnya harus berada di bawah bukubuku itu atau di atasnya. Seseorang di dunia ini, seorang kafir, bahkan seorang yang bodoh tidak bisa mengatakan bahwa al-Quran berada di bawah buku-buku tersebut. Jadi derajat balaghahnya di atas semua buku. Bahkan seseorang membaca ayat ini balaghah ayat yang dianggap luar biasa. Dikatakan kepadanya: Kamu juga pergi ke masa itu seperti sang musafir dan mendengar disana. Dia telah melihat ketika dia berkhayal masa itu sebelum al-Quran: Makhluk-makhluk alam berada di angkasa yang kosong, tanpa batas dan dunia yang fana dan tidak konsisten dalam keadaan berantakan, gelap, mati, tanpa kesadaran dan tidak bertugas. Tiba-tiba, ketika dia mendengar ayat ini dari lisan al-Quran dan melihat ayat ini membuka tabir di atas alam semesta, di wajah dunia dan menerangkan bahwa pidato azali dan firman abadi ini memberikan pelajaran kepada orang-orang yang berkesadaran pada setiap abad dan menunjukkan bahwa alam semesta seperti sebuah masjid besar membuat makhluk-makhluk terutama langit dan bumi berdzikir, bertasbih, bertugas dengan semangat dan berada dalam keadaan bahagia dan senang. Demikianlah sang musafir telah mendapatkan kelezatan dari derajat balaghah ayat di atas dan membandingkannya dengan ayat-ayat yang lain, sehingga dia telah memahami satu hikmah dari ribuan hikmah mengenai kenapa kecemerlangan kekuasaan al-Quran melanjutkan secara terus-menerus dengan kehormatan sempurna dikarenakan balaghah al-Quran yang menguasai separuh bumi dan seperlima umat manusia. Poin Keempat, al-Quran telah menampakkan sifat manis yang memiliki hakikat bahwa pengulangan yang membosankan dari sesuatu yang paling manis tidak membosankan bagi pembaca alQuran, melainkan membaca al-Quran berulang-ulang menambah kelezatan bagi pembaca jika hati dan perasaan mereka tidak rusak. Hal ini diakui oleh semua orang sejak dahulu dan menjadi pepatah. Al-Quran juga menunjukkan kesegaran, keremajaan dan orisinalitas bahwa al-Quran menjaga kesegarannya seolah diturunkan pada masa kini walaupun hidup sejak 14 abad dan semua orang 37

( Semua yang berada

di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah, Al-Hadid: 1) dan berkata: Saya tidak melihat

mendapatkannya dengan mudah. Setiap abad menyaksikan al-Quran dalam keadaan keremajaan seolah al-Quran berdialog dengannya. Meskipun setiap kelompok ilmuwan selalu bersamanya demi memanfaatkan darinya dan mengikuti gaya ungkapannya, al-Quran menjaga orisinalitas uslub dan gaya penjelasannya. Poin Kelima, al-Quran satu sayapnya berada di masa yang lalu, satunya di masa depan, akar dan satu sayapnya lagi merupakan hakikat-hakikat para nabi yang sepakat. Al-Quran membenarkan hakikat itu dan mereka membenarkan al-Quran. Begitu juga buah-buah yang mendapatkan kehidupan darinya seperti para wali dan ulama; semua tariqat-tariqat hak dan ilmu-ilmu hakikat Islam yang membuktikan pohon berkah mereka hidup, bersinar, berhakikat dan lahir, hidup di bawah pengawasan sayapnya yang kedua menyaksikan al-Quran penuh hakikat dan luar biasa dalam hal isinya. Poin keenam, enam aspek al-Quran bercahaya dan menunjukkan kejujuran dan kebenarannya. Di bawahnya ada tiang bukti dan hujjah, di atasnya cahaya-cahaya cap kemukjizatan, di depannya ada hadiah-hadiah kebahagiaan kedua dunia, di belakangnya titik sandarannya hakikat wahyu samawi, di sebelah kanannya pembenaran akal yang istiqomah dengan berbagai bukti, di sebelah kirinya kepuasan, ketertarikan dan penyerahan yang serius dari kalbu sehat dan hati nurani yang bersih. Enam aspek ini membuktikan bahwa al-Quran merupakan benteng bumi yang samawi yang luar biasa, kuat dan tidak dapat diserang. Enam aspek juga menjelaskan Pengatur alam ini yang membenarkan al-Quran adalah hak dan benar serta bukanlah kalam manusia, terutama selalu menampakkan keindahan, melindungi kebaikan dan kejujuran, menghancurkan orang-orang yang dusta dan membuat fitnah, hal ini dianggap sebagai prinsip tindakan-Nya. Sebagaimana Dia membenarkan al-Quran dengan memberikan tingkat kehormatan dan keberhasilan yang paling maqbul (diterima), yang paling tinggi dan bijaksana, begitu juga pribadi Nabi SAW. yang merupakan sumber Islam dan penerjemah al-Quran meyakini dan menghormati al-Quran, waktu diturunkannya dia berada dalam kondisi seperti tidur, ucapan-ucapan lainnya tidak mencapai alQuran, berbeda dengannya, menjelaskan dengan tenang, tanpa ragu peristiwa-peristiwa masa lalu dan akan datang melalui al-Quran. Penerjemah SAW. yang tidak ada penipuannya, keadaan salahnya di bawah pengawasan mata orang-orang yang teliti, beriman dan membenarkan setiap hukum al-Quran dengan segala kekuatannya dan tidak ada sesuatu pun yang meragukan dia, membenarkan al-Quran adalah samawi, hak dan kalam Pencipta Yang Maha Penyayang. Hubungan seperlima umat manusia, bahkan sebagian besar manusia dengan al-Quran secara tertarik dan religi, penyimakan mereka terhadapnya secara hakikat dan semangat, menurut kesaksian tanda-tanda, peristiwa dan penyingkapan bahwa berkumpulnya para jin, malaikat dan ruh di sekelilingnya ketika dibacakan merupakan persetujuan bahwa al-Quran diterima oleh alam semesta dan 38

berada di tempat tinggi. Demikian setiap kelas manusia mulai dari yang awam hingga yang cerdas dan berilmu masingmasing mendapatkan pelajaran dari al-Quran, memahami hakikat-hakikatnya yang mendalam, terkhusus setiap kelompok seperti para mujtahid dari ilmu Syariah dan para ilmuwan jenius yang dari Ushuluddin dan Ilmu Kalam mendapatkan jawaban dan kebutuhan mereka terkait dengan bidang ilmu mereka masing-masing dari al-Quran. Hal ini membuktikan bahwa al-Quran adalah sumber hak dan tambang hakikat. Demikian pula, para sastrawan yang tidak memeluk Islam yang paling tinggi di bidang Sastra membutuhkan bersaing dengan al-Quran, tetapi mereka menghindari membawa sebuah surat yang mirip dengan surat al-Quran dari segi ilmu balaghah saja, padahal al-Quran memiliki tujuh aspek kemujikzatan. Para ahli balaghah dan tokoh jenius yang ingin mendapatkan reputasi dengan perdebatan sejak dahulu tidak bisa menentang aspek kemukjizatan al-Quran ( Ijaz al Quran). Hal ini merupakan tanda bahwa al-Quran adalah sebuah mukjizat dan berada di atas kemampuan manusia. Benar, sebuah ucapan bisa diketahui nilai, ketinggian balaghahnya dengan ungkapan Siapa yang mengucapkannya, kepada siapa Dia ucapkan dan untuk apa Dia ucapkan. Dalam hal ini al-Quran tidak bisa ditandingi dan dicapai. Karena al-Quran merupakan percakapan Rab dan Pencipta alam semesta dan tidak ada di dalamnya yang mengindikasikan peniruan dan kepura-puraan dari aspek apa pun. Kekuatan dan keluasan iman Nabi SAW atas nama seluruh manusia bahkan semua makhluk, orang yang terkenal untuk berdialog dengan Allah SWT, melahirkan Islam dan menaikkan utusan tersebut ke maqam Kab-i Kavseyn , sehingga mencapai dialog shamadaniyyah dengan turunnya al-Quran. Tidak mungkin membawa kitab semisal al-Quran al Mujizul Bayan yang menjelaskan masalah-masalah mengenai kebahagiaan kedua dunia; hasil-hasil penciptaan alam semesta dan maksud-maksud rabbani darinya; menunjukkan setiap sisi alam semesta yang besar ini seperti sebuah peta, jam, dan rumah, seraya mengungkapkan dan memberikan pelajaran tentang Sang Pencipta yang mengatur dan membuat mereka. Tidak bisa tercapai kemukjizatan al-Quran. Demikian pula, ribuan ulama yang teliti dan cerdas yang telah menafsirkan al-Quran dan sebagiannya menulis 30-40 jilid tafsir bahkan 70 jilid, menjelaskan dengan sanad dan bukti bahwa sifatsifat, karakter-karakter, rahasia-rahasia, dan makna-makna tinggi yang terdapat dalam al-Quran. Mereka membuktikan dan menjelaskan berita-berita gaib dari semua jenis perkara gaib. Khususnya masingmasing 130 bagian dari Risalah Nur membuktikan sifat-sifat dan poin-poin al-Quran dengan buktibukti yang pasti, terkhusus Risalah Mukjizat al-Quraniyah; maqam kedua dari kalimat ke-20 yang mengungkapkan makna dari al-Quran mengenai kehebatan peradaban seperti kereta api dan pesawat; sinar pertama (Birinci ua) yang disebut isyarat-isyarat Qurani yang memberitahukan ayat-ayat yang 39

mengindikasikan Risalah Nur dan listrik. Delapan risalah kecil yang disebut Delapan Isyarat ( Rumuzat-i Semaniye) yang menunjukkan huruf-huruf al-Quran betapa teratur, penuh rahasia dan makna. Akhir ayat dari Surat al-Fath membuktikan kemukjizatan al-Quran aspek pemberitahuan dari gaib dengan lima aspek dan risalah-risalah lainnya menjelaskan sebuah hakikat dan nur dari al-Quran. Hal ini membuktikan bahwa al-Quran tidak ada tandingannya, mukjizat yang luar biasa. Al-Quran juga merupakan lisan alam gaib di alam nyata ini dan kalam Allam al Guyub (Dzat yang Maha Mengetahui gaib). Sang musafir dunia telah memahami bahwa karena sifat, karakter al-Quran tersebut yang dijelaskan enam poin, enam aspek dan enam maqam, al-Quran menerangi wajah setiap abad dengan kekuasaan nurani yang cemerlang dan kedaulatan sucinya yang agung. Dia juga melanjutkan dengan kehormatan sempurna melalui penerangan muka bumi sejak 1300 tahun. Karena karakter-karakternya alQuran, setiap hurufnya minimal ada sepuluh pahala dan memberikan sepuluh buah abadi, bahkan setiap huruf sebagian ayat dan surat memberikan seratus, seribu dan lebih banyak buah, setiap huruf mendapatkan kelebihan suci seperti nur, pahala dan nilai setiap huruf naik dari sepuluh menjadi seratus pada waktu-waktu penuh berkah. Dia berkata kepada hatinya: Sungguh, al-Quran ini yang bermukjizat dengan segala aspek bersaksi dalam bentuk pembuktian melalui bukti terhadap wujud, keesaan, sifat-sifat dan nama-nama Dzat yang wajibul wujud (kemutlakan eksistensi) yang Esa, sehingga kesaksian dari semua orang-orang beriman bersumber dari kesaksian al-Quran. Telah disebutkan pada tingkat ketujuh belas dari maqam pertama mengenai apa yang didapatkan oleh musafir tersebut, yaitu berupa pelajaran tauhid dan keimanan dari al-Qur`an:

: ..
Tidak ada Tuhan selain Allah yang keberadaan dan keesaan-Nya bersifat wajib. Yang kewajiban keberadaan-Nya dibuktikan oleh Al-Quran yang dapat diterima dan disenangi oleh malaikat, manusia, dan jin yang membaca setiap ayatnya dalam setiap detik dengan puncak penghormatan, dengan jutaan lisan manusia, yang kekuasaannya terhadap semesta bersifat kekal, serta yang dominasi sucinya terhadap 40

dunia selama empat belas abad. *** Sang musafir telah mengetahui iman merupakan modal manusia yang paling penting yang tidak hanya sekedar sebuah ladang atau rumah yang fana, melainkan juga sebuah harta abadi sebesar alam semesta yang besar ini bagi manusia; membuat manusia fana mendapatkan keperluannya di kehidupan abadi; menyelamatkan orang malang yang menunggu gantungan ajal dari ketiadaan abadi dan membuka perbendaharaan kebahagiaan abadi. Sang musafir berkata kepada nafsunya: Ayo majulah! Untuk mendapatkan satu derajat lagi dari derajat-derajat iman yang tak terhingga, kita menelaah alam semesta secara keseluruhan dan mendengar apa yang mereka katakan. Kita perlu menyempurnakan pelajaran-pelajaran yang kita ambil dari komponen dan bagian-bagian dari alam semesta. Lalu, dia telah melihat dengan teropong yang luas dan kompresensif yang dia dapatkan dari al-Quran: Alam semesta ini betapa penuh makna dan teratur bahwa terlihat dalam bentuk sebuah buku agung yang jasmani, Quran Rabbani yang jasmani, Istana Shamadani yang terhias dan kota Rahmani yang tertata rapi. Semua surat-surat, ayat-ayat, kalimat-kalimat, bahkan huruf-huruf, bab-bab dan halaman buku itu dirubah dan diperbarui secara bijaksana. Sebagaimana hal ini secara ijma membuktikan keberadaan Alim-i Kulli ey (Yang Maha Mengetahui segala sesuatu), Sang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Sang Pengatur, Pemahat Agung dan Penulis sempurna yang melihat segala sesuatu, mengetahui hubungan sesuatu dengan sesuatu yang lainya dan mengikutinya, dengan semua rukun, jenis, bagian, penghuni, kandungan, pemasukan, dan pengeluaran alam semesta dan perubahan dengan penuh maslahat padanya serta pembaharuannya secara hikmah memberitahukan wujud dan keesaan seorang ahli yang mulia, seorang Pencipta yang tak tertandingi yang bekerja dengan kekuasaan tak terbatas dan hikmah yang tak terhingga. Kesaksian dua hakikat yang besar dan luas yang sesuai dengan kebesaran alam semesta membuktikan kesaksian besar dari alam semesta. Hakikat Pertama: Hakikat huduts (perwujudan dari ketiadaan, wujud baru) dan imkan (kemungkinan) yang dilihat dan dibuktikan oleh ulama-ulama jenius di bidang Ushuluddin, Ilmu Kalam dan filosof-filosof Islam dengan bukti-bukti yang tak terhingga. Mereka mengatakan: Karena dalam alam dan segala sesuatu terdapat perubahan dan pergantian, maka semuanya bersifat fana, baru dan tidak kekal. Karena mereka baru, maka pasti ada pencipta yang menciptakannya. Karena segala sesuatu sama (sederajat) dalam hal perwujudan dan ketiadaan jika tidak ada sebuah sebab, maka mereka tidak wajib (harus ada) dan azali. Karena ketidakmungkinan penciptaan sesama makhluk dengan proses berkesinambungan yang mustahil dan batil dibuktikan dengan bukti-bukt yang pasti, maka perlu keberadaan wajibul wujud (keberadaanya wajib) bahwa miripnya mustahil, keserupaanya 41

tidak mungkin, sedangkan segala sesuatu selain diri-Nya bersifat mungkin dan hanya merupakan makhluk. Benar, hakikat huduts meliputi alam semesta. Kebanyakannya terlihat oleh mata, sisanya terlihat oleh akal. Karena di depan mata kita ada sebuah alam yang mati setiap tahun pada musim gugur bahwa seratus ribu jenis tumbuh-tumbuhan dan binatang kecil yang masing-masing memiliki anggota tak terhingga dan merupakan sebuah alam yang hidup mati bersama dengan alam itu. Tetapi betapa sebuah kematian teratur bahwa benih, biji dan telur mereka yang menyebabkan kebangkitan, merupakan mukjizat rahmat dan hikmah, mengandung keluarbiasaan kekuasaan dan ilmu mengambil alih dari makhluk-makhluk yang mati. Mereka menitip catatan amal dan program tugas-tugas yang mereka kerjakan kepada Dzat Pemelihara Yang Maha Agung melalui pemberian mereka kepada tangan-tangan makhluk baru dan setelah itu mereka wafat. Pada musim semi pohon-pohon, akar-akar, sebagian binatang yang telah mati dibangkitkan dan hidupkan kembali dalam keadaan serupa sebagai seratus ribu misal, contoh, dan bukti untuk kebangkitan besar (di akhirat). Sebagian lainnya juga diciptakan dan dihidupkan kembali dalam keadaan mirip. Makhluk-makhluk musim semi menyebarkan amal-amal yang mereka kerjakan, lembaran-lembaran tugas seperti sebuah pengumuman dan mereka menunjukkan permisalan dari ayat


Secara keseluruhan pada musim gugur dan semi sebuah alam mati dan sebuah alam baru terwujud. Kematian dan kebangkitan itu betapa berjalan dengan terukur dan terjadi betapa banyak kematian dan perwujudan pada jenis-jenis makhluk dengan sangat teratur dan terukur bahwa seolah-olah dunia merupakan sebuah rumah tamu yang alam-alam makhluk bertamu kepadanya, alam-alam dan dunia datang kepadanya, mengerjakan tugasnya dan pergi. Demikianlah kemutlakan eksistensi, kekuasaan yang tak terbatas dan hikmah yang tak terhingga Dzat Agung yang menciptakan dunia yang hidup dan alam yang bertugas berdasarkan ilmu, hikmah, keseimbangan, ukuran dan peraturan sempurna terlihat secara jelas seperti matahari kepada akal. Kita tutup pembahasan ini dengan menyerahkan masalah huduts kepada Risalah Nur dan buku-buku Ilmu Kalam. Adapun aspek imkan (kemungkinan), hakikat imkan juga meliputi alam semesta. Karena kita melihat bahwa segala sesuatu secara keseluruhan dan parsial, baik yang besar maupun yang kecil, dari arasy sampai bumi, dari atom sampai planet setiap makhluk dikirim ke dunia dengan esensi khusus, bentuk tertentu, identitas berbeda, sifat-sifat khas, kualitas bijaksana dan fasilitas-fasilitas yang 42

bermanfaat. Padahal memberikan kekhususan kepada esensi khusus itu dalam kemungkinan yang tak terhingga; memakai bentuk tertentu yang terhias, berbeda dan sesuai dalam kemungkinan sebanyak bentuk-bentuk itu; mengkhususkan makhluk itu yang terombak-ambik dengan identitas layak yang berbeda dalam kemungkinan sebanyak identitas sejenisnya; menaruh sifat-sifat dengan maslahatmaslahat yang sesuai dan khusus kepada makhluk yang berada dalam keadaan tanpa rupa dan ragu-ragu dalam kemungkinan sebanyak jenis dan derajat sifat; melengkapi dengan esensi bijaksana dan perlengkapan yang dianugerahkan kepada makhluk yang ragu-ragu, bingung dan tanpa tujuan dalam keadaan kemungkinan tak terhingga dari aspek kemungkinan jalan dan cara yang tak terbatas tentu saja membuktikan keharusan eksistensi, kekuasaan tak terbatas, hikmah tak terhingga dari Dzat Wajibul Wujud yang mengkhususkan, memilih, menentukan, menciptakan sebanyak kemungkinan yang umum dan parsial, setiap kemungkinan dengan esensi, identitas, bentuk, sifat dan keadaan. Tidak ada satu pun sesuatu atau perkara yang tersembunyi dari-Nya, tidak ada sesuatu pun yang berat bagi-Nya, sesuatu yang besar mudah bagi-Nya seperti sesuatu yang kecil, Dia mampu menciptakan musim semi semudah sebuah pohon dan sebuah pohon semudah sebuah biji. Pembuktian dan kesaksian yang muncul dari hakikat imkan adalah bagian dari kesaksian besar dari alam semesta. Karena bagian-bagian Risalah Nur dengan dua sayap dan dua hakikat, terkhusus kalimat ke-20, 32, surat ke-20, 33 secara keseluruhan membuktikan dan menjelaskan kesaksian alam semesta, maka kami menyelasaikan kisah panjang di atas dengan menyerahkan kepada Risalah Nur. Hakikat Kedua (yang membuktikan sayap kedua dari kesaksian besar dan universal yang datang dari alam semesta secara keseluruhan): Terlihat sebuah hakikat tolong menolong di luar kekuatan para makhluk yang menjaga keberadaan, pelayanannya, menjaga kehidupannya jika itu makhluk hidup, dan berusaha melakukan tugas-tugasnya dalam keadaan perubahan dan pengantian yang selalu terjadi. Misalnya banyak contoh hakikat tolong menolong dengan penundukan rabbani dan pekerjaan rahmani seperti bantuan unsur-unsur kepada makhluk hidup, khususnya awan kepada tumbuh-tumbuhan; bantuan tumbuh-tumbuhan kepada para binatang; bantuan binatang-binatang kepada manusia; pemberian susu seperti air kausar dari dada kepada para bayi; pemberian kebutuhan dan rezeki para makhluk hidup di luar kemampuan mereka dengan cara tak terduga; bahkan bantuan atom-atom makanan kepada sel-sel tubuh menunjukkan Rububiyyah-Nya Rabbul Alamin (Pemeliharaan Rab alam semesta) yang mengatur seluruh alam semesta seperti sebuah istana secara umum dan dengan kasih sayang. Benar, penolong-penolong yang mati, tanpa sadar dan kasih sayang yang menunjukkan keadaan penuh kasih sayang dan kesadaran kepada sesama makhluk, tentu saja diperbantukan dengan kekuatan, rahmat dan perintah Rab Agung yang Maha Penyayang dan Maha Bijaksana. Demikianlah kesaksian hakikat-hakikat besar seperti tolong menolong umum yang terjadi di alam 43

semesta; keseimbangan umum dan penjagaan universal yang berlaku pada planet-planet hingga organorgan, anggota-anggota dan atom-atom badan; perhiasan yang menggerakkan pena dari wajah langit yang menyepuh hingga wajah bumi yang terhias dan wajah bunga yang indah; keteraturan yang berlaku dari bimasakti hingga tata surya dan buah-buah seperti jagung dan delima; penugasan yang memberikan tugas kepada matahari, bulan, unsur-unsur, awan hingga lebah merupakan sayap kedua dari kesaksian alam semesta dan sebgai buktinya. Karena Risaalah Nur membuktikan dan menjelaskan kesaksian besar ini, maka kami mencukupi pembahasan ini dengan isyarat yang pendek. Berikut ini ringkasan yang disebutkan pada tingkat kedelapan belas dari maqam pertama dari pelajaran keimanan yang didapatkan oleh musafir dari alam ini:

: :
Tidak ada Tuhan selain Allah yang keberadaan-Nya bersifat wajib, tiada bandingan, yang selainNya hanya bersifat mungkin, dan yang Maha Esa. Yang membuktikan bahwa keberadaan-Nya bersifat wajib pada keesaan-Nya adalah: adanya alam ini, al-Qur`an yang agung dengan segala surat, ayat, kalimat, huruf, bab, pasal, lembaran, dan garisnya, serta kesepakatan rukun, macam, bagiannya, dan lain sebagainya, dengan Kesaksian keagungan hakikat yang bersifat baru, perubahan, dan kemungkinan, dengan kesepakatan para ulama ilmu kalam. Dan, dengan kesaksian hakikat perubahan bentuk dan kandungannya, hikmah dan keserasiannya, kebaruan huruf dan kalimat-kalimatnya, dengan cara yang teratur dan seimbang. Juga, dengan kesaksian keagungan hakikat: saling menolong, saling membantu, saling memberikan sandaran, saling memberikan keseimbangan, dan saling memelihara pada setiap makhluk-Nya. *** Kemudian musafir yang datang ke bumi, yang mencari siapa penciptanya, yang telah menaiki delapan belas martabat, yang telah menaiki sebuah maqam mukhatabah (dialog) dari maqam makrifah yang bersifat gaib dengan miraj iman yang mencapai arasy hakikat berkata kepada ruhnya sendiri: 44

Sebagaimana dari awal Surat al-Fatiha sampai ke kalimat mendatangkan ketenangan dengan pujian dan sanjungan secara gaib dan menaiki maqam mukhatabah (dialog), kita juga secara langsung meninggalkan pencarian secara gaib dan menanyakan apa yang kita cari dari Dzat yang kita cari. Selayaknya menanyakan tentang matahari yang menyinari segala sesuatu kepada matahari itu sendiri. Benar, matahari yang menyinari segala sesuatu menunjukkan dirinya lebih dari sesuatu yang lain. Jadi sebagaimana kita mengenal dan melihat matahari melalui sinarnya, begitu juga semampu mungkin kita berusaha mengenal pencipta kita melalui Asmaul Husna dan sifat-sifat suci-Nya. Kami akan jelaskan secara global dan singkat mengenai dua jalan dari jalan-jalan tak terhingga untuk tujuan ini, dua martabat dari martabat-martabat yang tak terbatas dari dua jalan tersebut, hanya dua hakikat dari banyak hakikat dan perincian panjang dari dua martabat tersebut pada risalah ini: Hakikat pertama: terlihat hakikat faaliyah mustauliyah (aktif dan menguasai) yang terlihat oleh mata, menguasai, permanen, teratur, dahsyat, mengatur semua makhluk yang ada di bumi dan langit, menggantikan dan memperbaharuinya dan menguasai alam semesta. Secara jelas terasa hakikat penampakan Rububiyyah dalam hakikat faaliyah yang bijaksana pada setiap sisinya. Diketahui hakikat penampakan Uluhiyyah (ketuhanan) dalam penampakan Rububiyyah yang menyebarkan rahmat pada setiap sisinya. Demikianlah dirasakan seperti terlihat tindakan Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui yang bertindak dari perbuatan-Nya permanen secara bijaksana, bersifat mutlak dan di balik tirainya. Diketahui secara jelas pada tingkat perasaan asma Ilahi yang memiliki penjelmaan pada setiap sesuatu dari tindakan-tindakan rabbani secara mendidik, teratur dan di balik tirainya. Dapat diketahui keberadaan dan kenyataan asmaul husna yang terjelma dengan keagungan dan keindahan, dan tujuh sifat suci di balik tirainya pada tingkat ilmul yaqin, ainul yaqin bahkan haqqul yaqin. Melalui tujuh sifat suci ini dengan kesaksian seluruh makhluk diketahui secara pasti seolah terlihat pada mata iman yang berada di hati dalam bentuk lebih jelas dari matahari dan lebih terang keberadaan sifat-sifat Wajibul Wujud, nama-nama Wahid, Ahad dan Perbuat Tunggal lagi Shamad secara jelas dan ilmul yaqin dengan penjelmaan tak terhingga dalam bentuk hidup, qudrah (kekuasaan), ilmu, mendengar, melihat, kehendak dan kalam. Karena sebuah buku yang indah dan bermakna, sebuah rumah yang teratur memerlukan secara jelas tindakan menulis dan membuat; menulis dengan indah dan membuat dengan teratur juga secara jelas memerlukan gelar penulis dan tukang bangunan; gelar penulis dan gelar pembangun secara jelas memerlukan seni dan sifat-sifat penulisan dan petukangan; seni dan sifat-sifat ini secara jelas memerlukan satu Dzat bahwa Dia memiliki sifat-sifat, nama-nama dan menjadi pembuat dan perbuat. Sebagaimana tidak mungkin sebuah tindakan tanpa pembuat, sebuah nama tanpa pemiliknya, begitu juga sebuah sifat tanpa pemiliknya dan sebuah seni tanpa senimannya. 45

Berdasarkan hakikat dan kaidah ini, alam semesta ini dengan seluruh makhluknya merupakan buku, surat, bangunan dan istana tak terhingga dan bermakna yang ditulis dengan pena taqdir, dibuat dengan palu qudrah (kekuasaan). Sebagaimana masing-masing makhluk dengan ribuan aspek bersaksi dan mengisyaratkan kemutlakan eksistensi dan keesaan Dzat Agung Azali dan Abadi yang menjadi tambang tujuh sifat yang universal dan suci dengan penjelmaan tak terhingga dari tujuh sifat shubhani yang menjadi sumber nama-nama-Nya yang indah dan dengan penjelmaan tak terhingga dari seribu satu nama Allah SWT yang merupakan sumber tindakan rabbani dan rahmani, begitu juga semua keindahan, nilai, kesempurnaan yang ada di alam semesta bersaksi secara jelas atas tindakan-tindakan rabbani, asma Ilahi, sifat-sifat shamadani, dan fungsi-fungsi subhani sesuai dengan keindahan dan kesempurnaan Dzat suci. Demikianlah hakikat Rububiyyah yang terjelma dalam hakikat faaliyah menunjukkan dan memperkenalkan keberadaan, tindakan, dan perbuatannya seperti penciptaan dengan ilmu dan hikmah; taqdir, pembentukan, pengaturan, dan perubahan dengan keteraturan dan keseimbangan; tranformasi, perubahan, penurunan, dan penyempurnaan dengan kesengajaan dan kehendak; pemberian rezeki dan nikmat, ihsan dengan kasih sayang dan rahmat. Hakikat penjelmaan Uluhiyyah yang dirasakan secara jelas di dalam hakikat penjelmaan Rububiyyah juga memperkenalkan dan memberitahukan dirinya dengan manifestasi asmaul husna yang menjelma dalam kasih sayang dan kemurahan hati dan manifestasi sifat-sifat hidup, berilmu, qudrah, kehendak, mendengar, melihat dan kalam yang merupakan tujuh sifat shubutiyyah secara agung dan indah. Benar, sebagaimana sifat kalam memperkenalkan Dzat Suci melalui wahyu dan ilham, begitu juga sifat qudrah memberitahukan Dzat Suci itu melalui karya-karya seni yang merupakan kalimat jasmani dan menunjukkan setiap sisi alam semesta sebagai benda-benda furqani seraya mensifati dan memperkenalkan Dzat Yang Maha Kuasa dan Agung. Sifat berilmu juga memberitahukan Dzat Suci yang Tunggal yang memiliki sifat sebanyak semua makhluk yang bijaksana, teratur, terukur dan seluruh makhluk yang diatur dengan ilmu, diurus, dihias, dan dibedakan dengan yang lain. Adapun mengenai sifat hidup, karya-karya yang memberitahukan qudrah, semua bentuk dan hal yang teratur, bijaksana, terukur, dan terhias yang memberitahukan keberadaan ilmu, dan semua bukti yang memberitahukan sifat-sifat yang lain bersama bukti-bukti sifat hidup menjadi bukti bagi kenyataan sifat hidup. Sifat hidup juga dengan bukti-buktinya memberitahukan Dzat Hayy Qayyum (Maha Hidup dan Berdiri Sendiri) melalui kesaksian seluruh makhluk yang merupakan cerminya. Dia merubah alam semesta menjadi cermin terbesar yang selalu dirubah, diperbaharui dan terdiri dari cermin-cermin tak 46

terhingga untuk menunjukkan penjelmaan dan pahatan yang baru dan berbeda-beda pada setiap waktu. Dengan pertimbangan di atas, sifat melihat, mendengar, kehendak dan kalam juga masing-masing sebesar alam semesta memberitahukan dan memperkenalkan Dzat Suci. Sebagaimana sifat-sifat di atas membuktikan keberadaan Dzat Agung, begitu juga membuktikan secara jelas keberadaan kehidupan dan kenyataannya dan Dzat SWT. hidup. Karena mengetahui adalah tanda kehidupan; mendengar adalah isyarat untuk kehidupan; melihat adalah khusus bagi yang hidup; kehendak terjadi dengan adanya kehidupan. Kekuatan dengan kehendak ada pada makhluk hidup, adapun sifat berbicara merupakan sebuah perkara bagi makhluk hidup yang mengetahui. Demikianlah, dari uraian di atas dapat dipahami bahwa sifat hidup memiliki bukti-bukti sebesar tujuh kali lipat alam semesta dan dalil-dalil yang memberitahukan keberadaan dirinya dan yang dia sifati bahwa menjadi dasar dan sumber Ismul Azham (Nama Agung) bagi semua sifat-sifat. Karena Risalah Nur telah membuktikan dan menjelaskan hakikat pertama ini dengan bukti-bukti kuat, maka sekarang kami mencukupi pembahasan ini dengan tetesan yang disebut di atas dari laut. Hakikat Kedua, kalam Ilahi yang bersumber dari sifat Kalam

( Katakanlah,

kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk

(menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, Al-Kahfi: 109) dengan rahasia ayat ini kalam Ilahi tak terhingga. Berbicara merupakan tanda yang paling jelas untuk memberitahukan keberadaan seseorang. Jadi hakikat ini bersaksi mengenai keberadaan dan keesaan Maha Berbicara Azali dalam bentuk tak terhingga. Karena dua kesaksian kuat dari hakikat ini adalah wahyu dan ilham yang dijelaskan pada tingkat ke-14 dan 15 pada risalah ini, sebagai kesaksian yang luas adalah kitab-kitab samawi yang suci telah dibahas pada tingkat ke-10 dan kesaksian lain yang sangat terang dan luas adalah al-Quran yang dibahas pada tingkat ke-17, maka kami menyerahkan penjelasan dan kesaksian hakikat ini kepada tingkat-tingkat itu dan cahaya-cahaya dan rahasia-rahasia dari ayat besar ini

(perlu ditulis lafaz ayat)


Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran [3]: 18). Ayat ini mengumumkan hakikat di atas secara mukjizat dan mengungkapkan kesaksiannya dengan kesaksian-kesaksian hakikat lain cukup bagi sang musafir dan dia tidak bisa maju ke depan lagi. Disebutkan pada tingkat kesembilan belas dari maqam pertama, dari makna yang dapat 47

dipetiknya dari pelajaran yang terdapat pada kedudukan suci:

: . : ( )
Tidak ada Tuhan selain Allah yang keberadaan-Nya bersifat wajib dan Maha Esa. Dia memiliki asmaul husna, sifat-sifat yang luhur, dan teladan yang terbaik. Yang menunjukkan akan wajibnya keberadaan diri-Nya dan keesaan-Nya adalah: Dzat-Nya yang keberadaan-Nya bersifat wajib, sifat-sifatNya yang suci dan bersifat menyeluruh, seluruh asma-Nya yang baik, dan perbuatan-perbuatan-Nya, dengan kesaksian keagungan hakikat yang menampakkan keuluhiyahan pada rububiyah-Nya. Yaitu atas dasar penciptaan, kekuasaan, pengaturan, dan hikmah-Nya. Juga, dengan pemeliharaan dan penghidupan yang diberikan-Nya untuk menunjukkan rahmat-Nya. Dan dengan kesaksian yang meliputi rahasia firman Allah, Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran [3]: 18).

Peringatan Sebagaimana masing-masing hakikat yang bersaksi atas 19 tingkat pada bab pertama dari maqam kedua menjadi bukti kepada Wajibul Wujud dengan kenyataan dan keberadaan mereka, begitu juga mereka menjadi bukti atas ketunggalan dan keesaan Allah SWT dengan keluasan mereka. Tetapi pada awal, karena mereka membuktikan secara jelas keberadaan, dianggap sebagai bukti untuk wajibul wujud. Karena Bab kedua dari maqam kedua pada awal dan secara jelas membuktikan keesaan Allah SWT., maka disebut bukti-bukti keesaan Allah SWT. Sebenarnya keduanya membuktikan sama. Untuk mengetahui perbedaanya, pada bab pertama , pada bab kedua sebagai isyarat penampakan keesaan seperti diulang saya ingin menjelaskan tingkat-tingkat 48

pada bab kedua seperti di bab pertama. Namun dengan halangan dari beberapa hal, saya terpaksa mempersingkat bab ini dan penjelasannya dengan seksama saya serahkan kepada Risalah Nur.

Bab Kedua Argumentasi Tauhid Sesungguhnya sang musafir yang diutus ke dunia untuk beriman, melakukan petualangan

pemikiran di alam semesta, menanyakan tentang Sang Penciptanya tentang segala sesuatu, mencari Tuhannya di setiap tempat dan mendapatkan Tuhannya pada sisi wajibul wujud di tingkat haqul-yaqiin berujar kepada akalnya: Mari kita kembali berpetualang, agar kita dapat melihat argumentasi-argumentasi Sang Pencipta kita yang wajibul wujud. Keduanya (sang musafir dan jiwanya) menemukan bahwa pada tingkatan yang pertama terdapat empat hakikat suci yang menguasai alam semesta ini, dan keempat hakikat tersebut secara jelas dapat membimbing mereka kepada tauhid. *** Hakikat Pertama: Uluhiyyah (Ketuhanan) yang Mutlak Kesibukan setiap kelompok umat manusia mengenai jenis ibadah secara fitrah; pelaksanaan jenis ibadah oleh makhluk hidup yang lain, bahkan pelayanan fitri dari benda mati; perwasilahan masingmasing nikmat dan anugerah yang bersifat materil dan maknawi untuk nikmat yang membuat makhluk beribadah dan bersyukur; pengumuman dari manifestasi ghaib dan penjelmaan maknawi seperti wahyu dan ilham terhadap ketuhanan Yang Maha Esa, tentu saja hal ini membuktikan kenyataan dan dominasi dimensi ketuhanan secara mutlak. Sepanjang ada sebuah hakikat ketuhanan seperti ini, maka tidak bisa diterima kemusyrikan. Karena mereka yang membalas dengan rasa syukur dan ibadah terhadap Tuhan merupakan buah yang memiliki kesadaran yang berada di puncak pohon alam semesta. Yang lain menarik perhatian orang-orang yang memiliki kesadaran itu dengan membuat mereka senang dan berterimakasih dan membuat mereka lupa Tuhan hakiki mereka yang disembah yang sangat mungkin cepat dilupakan, 49

karena ketidakkasatan-Nya merupakan sebuah pertentangan dengan esensi dan tujuan suci ketuhanan bahwa tidak dapat diterima dari aspek apa pun. Dari sinilah al-Quran menolak kemusyrikan secara berulang-ulang dan tegas, dan mengancam orang-orang musyrik dengan neraka jahannam. Hakikat Kedua: Rububiyyah (Pemeliharaan) Mutlak Tindakan umum yang gayanya sama pada setiap sisi, dalam bentuk yang tak terduga, dengan bijaksana dan penyayang pada seluruh alam semesta, khusunya pada makhluk hidup terutama pendidikan dan pemberian rezeki, merupakan sumber dan sinar Rububiyyah mutlak. Dan merupakan sebuah bukti yang pasti bagi kenyataannya. Selama Rububiyyah mutlak masih ada, maka secara pasti syirik dan kemusyrikan tidak bisa diterima. Karena maksud dan tujuan Rububiyyah yang paling penting seperti memunculkan keindahan, mengumumkan kesempurnaan, memberitahukan seni-seni yang bernilai, dan menunjukkan kemahiranNya yang rahasia terpusat dan terkumpul pada bagian-bagian kecil dan makhluk hidup, maka sebuah syirik yang mencampuri urusan sesuatu yang kecil dan makhluk yang paling kecil dengan dirinya merusak tujuan itu dan menghancurkan maksud-maksud di atas. Syirik juga memalingkan wajah makhluk-makhluk berkesadaran dari tujuan-tujuan itu dan yang menginginkan tujuan-tujuan tersebut (Allah SWT.) dan mengarahkan kepada sebab-sebab. Karena hal ini benar-benar merupakan pertentangan dan permusuhan terhadap esensi Rububiyyah, maka secara pasti Rububiyyah mutlak seperti ini tidak mengizinkan kemusyrikan dari aspek apa pun. Al-Quran sering kali menyucikan dan selalu membimbing menuju sikap tauhid dengan berbagai ayat, kalimat, huruf, dan bagian-bagiannya. Hal ini bersumber dari rahasia besar di atas. Hakikat Ketiga: Kesempurnaan Benar, apapun yang ada di alam raya ini berupa hikmah-hikmah yang tinggi, keindahankeindahan yang luar biasa, aturan-aturan yang adil, dan tujuan-tujuan yang bijaksana, semua itu secara jelas menjadi bukti atas keberadaan hakikat kesempurnaan, terkhusus bersaksi atas kesempurnaan Sang Pencipta yang telah menciptakan alam semesta ini dari ketiadaan, sekaligus mengaturnya pada setiap sisi dengan kemukjizatan dan keindahan. Terlebih lagi, semua itu merupakan petunjuk nyata atas kesempurnaan manusia, yang nota bene adalah cermin yang memantulkan pancaran kesempurnaan Allah SWT. Jadi sepanjang ada hakikat kesempurnaan; sepanjang kesempurnaan Sang Khaliq yang 50

menciptakan semesta alam dalam kesempurnaan itu merupakan kenyataan; sepanjang kesempurnaan manusia yang merupakan buah paling istimewa untuk alam semesta, khalifah di muka bumi, ciptaan yang paling mulia dan makhluk yang dicintai-Nya merupakan hakikat yang nyata dan pasti, maka kemusyrikan yang merubah alam semesta yang mempunyai kesempurnaan dan hikmah yang nyata menjadi sebuah tempat yang tergilincir pada kefanaan, mainan kebetulan tanpa tujuan, tempat permainan alam, tempat pemotongan makhluk hidup dengan kezaliman dan tempat kesedihan bagi makhluk yang memiliki kesadaran; menurunkan derajat manusia yang terlihat kesempurnaannya dengan karyakaryanya menjadi derajat hewan yang paling malang, hina; menutupi kesempurnaan Sang Pencipta yang memiliki kesempurnaan suci dengan kesaksian seluruh makhluk yang merupakan cermin kesempurnaan Sang Pencipta dan membatalkan hasil aktivitas dan penciptaan-Nya sehingga tidak menjelma, tidak mungkin terjadi dan tidak ada hakikatnya. Karena kemusyrikan merupakan pertentangan dengan kesempurnaan Ilahi, manusia dan alam; merusak kesempurnaan itu dibuktikan dan dijelaskan pada maqam pertama yang terkait dengan tiga buah tauhid dari Risalah sinar kedua (2. ua) dengan bukti-bukti yang kuat dan pasti, maka kami menyerahkan pembahasan ini kepada risalah itu dan mempersingkat di sini. Hakikat Keempat:Kekuasaan yang Absolut Benar, siapa yang memperhatikan alam semesta ini dengan perhatian luas, tentu dia akan melihat bahwa alam semesta ini seperti sebuah negeri yang sangat menakjubkan dan aktif serta sebuah kota dengan pengaturan yang sangat bijaksana dan kekuasaan yang sangat kuat. Dia akan menemukan segala sesuatu dan setiap jenis dalam keadaan sibuk dengan sebuah tugas. Menurut misal yang mengisyaratkan makna ketentaraan pada ayat


Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. (Al-Fath : 7)

bahwa penerapan perintah-perintah taqwini dengan kekuasaan, hukum-hukum dengan perintah, aturanaturan agung pada petugas-petugas yang kecil dan prajurit-prajurit yang besar dari tentara-tentara rabbbani yang mulai dari tentara atom, batalyon tumbuh-tumbuhan, pasukan binatang sampai tentara bintang gemintang secara jelas membuktikan keberadaan sebuah kekuasaan mutlak dan otoritas universal. Sepanjang ada sebuah hakikat kekuasaan mutlak, tentu kemusyrikan tidak ada hakikatnya. 51

Karena dengan hakikat pasti dari ayat ini


Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya rusak binasa. (Al-Anbiya: 22) bahwa jika banyak tangan yang terlibat dalam satu urusan secara paksa, maka urusan itu menjadi kacau. Jika ada dua penguasa pada sebuah negara dan dua kepala desa di sebuah desa, maka peraturan menjadi kacau dan hancur, manajemen pun menjadi berantakan. Padahal ada sebuah aturan dari sayap lalat sampai bintang-bintang langit, dari sel-sel tubuh sampai gugusan planet-planet bahwa tidak mungkin keterlibatan kemusyrikan separtikel pun. Kekuasaan absolut merupakan sebuah maqam kehormatan. Menerima pesaing menodai kehormatan kekuasaan. Benar manusia yang membutuhkan banyak pembantu karena ketidakberdayaanya membunuh saudara atau anaknya secara dzalim demi sebuah kekuasaan yang parsial, lahir, dan temporal. Hal ini menunjukkan kekuasaan tidak menerima pesaing. Jika manusia yang tak berdaya melakukan demikian demi kekuasaan parsial, maka tentu tidak mungkin Dzat Yang Maha Kuasa Lagi Maha Mutlak yang merupakan pemilik alam semesta, tidak akan mengizinkan campur tangan atau kemusyrikan dari sesuatu dalam kekuasaan suci-Nya yang menyebabkan terjadinya Rububiyyah dan ketuhanan-Nya yang hakiki dan universal. Karena hakikat ini telah dibuktikan pada maqam kedua dari sinar kedua (2. ua) dan sebagian besar Risalah Nur dengan bukti-bukti yang kuat, maka kami menyerahkan pembahasan ini kepada mereka. Demikianlah, setelah menyaksikan empat hakikat tersebut, sang musafir akan mendapat kepastian tentang keesaan Allah dengan tingkat kesaksian. Oleh karena itulah keimanannya menjadi semakin kuat. Dengan segala kekuatannya dia mengucapkan itu telah

Tidak ada Tuhan (yang hak) selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Menyinggung pelajaran yang telah diberikan pada pembahasan ini, sesungguhnya pada bagian yang pertama dalam bab yang kedua ini pernah disebutkan:

.
Tidak ada Tuhan [yang hak] selain Allah yang Maha Esa lagi tunggal, yang menunjukan atas 52

keesaan-Nya dan kepastian para tentara-Nya merupakan kesaksian yang agung dan hakiki yang memunculkan ketuhanan yang absolut. Demikian juga, hal itu merupakan kesaksian yang agung, menyeluruh dan hakiki yang dapat memunculkan kemahaan yang absolut, yang mengharuskan pada keesaan. Kata itu pun merupakan kesaksian yang agung dan meliputi hakikat kesempurnaan yang muncul dari keesaan. Kata itu pun merupakan kesaksian yang agung dan meliputi hakikat kekuasaan yang absolut, yang mencegah serta meniadakan kemusyrikan. **** Musafir yang tidak pernah tenang itu kemudian berbisik kepada hatinya: Ucapan yang diucapkan berulang-ulang oleh orang-orang yang beriman, terkhusus oleh ahli tariqat dan pengumuman serta dzikir mereka tentang tauhid menunjukkan bahwa tauhid memiliki banyak tingkatan. Juga, tauhid merupakan tugas yang sakral yang paling penting, manis, dan tinggi, kewajiban fitrah dan kepatuhan pada keimanan. Jika demikian, mari kita buka satu pintu lagi dari rumah pembelajaran ini untuk mendapatkan satu tingkatan tauhid lagi. Karena tauhid yang kita cari tidak terbatas pada sebuah makrifah yang terdiri dari imajinasi, melainkan pembenaran yang seperti imajinasi yang ada pada ilmu logika, lebih penting daripada makrifat imajinasi, hasil dari bukti-bukti dan yang disebut ilmu. Tauhid yang hakiki merupakan sebuah keputusan, pembenaran, pengakuan, dan penerimaan bahwa seseorang menemukan Tuhannya melalui segala sesuatu. Dia melihat sebuah jalan yang menuju kepada Sang Pencipta pada segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang menghalangi kehadiran-Nya. Jika tidak demikian, Dia harus menyobek dan membuka tirai alam semesta pada setiap waktu untuk menemukan Tuhannya. Demikianlah, Dia mengucapkan Marilah maju! seraya mengetuk pintu keagungan dan kebesaran. Dia telah masuk tempat tindakan dan perbuatan dan alam pembentukan dan penciptaan. Dia telah melihat ada lima hakikat yang meliputi yang menguasai alam semesta dan secara jelas membuktikan tauhid: Pertama: Hakikat Keagungan dan Kebesaran Karena hakikat ini telah dijelaskan dengan bukti pada maqam kedua dari Sinar kedua (2. ua) dan beberapa bagian dari Risalah Nur, maka kami merasa cukup dengan mengungkapkan uraian berikut: Dzat yang menciptakan dan mengatur bintang-bintang yang berada jarak ribuan tahun antara satu dengan yang lain pada waktu yang sama, bentuk yang sama; menciptakan beragam jenis bunga yang terdapat di belahan bumi, timur, barat, selatan, dan utara pada satu waktu, dan satu bentuk; juga 53

membuktikan sebuah peristiwa masa lalu, gaib, dan ajaib. Seperti firman Allah ( Al-Hadid: 4)

yakni penciptaan langit dan bumi dalam enam masa dengan sebuah peristiwa yang nyata dan berada di hadapan mata dan sebagai misal yang ajaib bagi masalah tersebut, Dia menciptakan lebih dari dua ratus ribu jenis tumbuh-tumbuhan dan binatang dalam waktu lima atau enam minggu pada musim semi yang ada di muka bumi seolah-olah menunjukkan lebih dari seratus ribu contoh untuk Hasyrul Azham (kebangkitan besar di akhirat) sekaligus mengatur, mendidik, memberikan rezeki, membedakan satu sama lainnya dan menghiasi mereka tanpa kekacauan, kekerurangan, kesalahan, dan bersama dengan keteraturan dan keseimbangan sempurna; memutar bumi, membuat dan menggantikan malam dan siang, menulis dan menggantikan apa yang terjadi selama satu hari. Sebagaimana dijelaskan pada ayat:


Memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, (Luqman: 29); Dzat yang sama mengetahui dan mengatur dengan peraturan-Nya apa yang terlintas dalam hati yang rahasia dan kecil pada waktu yang sama. Karena masing-masing tindakan tersebut bersumber dari satu tindakan, maka secara jelas Pelaku Yang Maha Esa, Maha Kuasa, Pemilik keagungan, dan kebesaran bahwa kedua sifat tersebut memotong akar kemungkinan adanya perilaku syirik pada satu tempat atau segala sesuatu. Jadi sepanjang ada keagungan dan kebesaran, kekuasaan dan keagungan itu berada pada tingkat sempurna dan meliputi, tentu tidak mungkin mengizinkan adanya syirik yang memberikan ketidakberdayaan kepada kekuasaan itu, kesalahan kepada keagungan, kekurangan kepada kesempurnaan, batasan kepada cakupan itu dan mengakhiri ketidakterbatasan-Nya. Tidak ada satu akal pun tidak menerima hal ini jika fitrahnya tidak rusak. Demikianlah, kemusyrikan merupakan sebuah kriminal dari segi melukai perasaan dan kehormatan keagungan serta kebesaran bahwa tidak mungkin dimaafkan sebagaimana dijelaskan pada alQuran dengan ancaman yang besar


Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. (An-Nisa` : 48) ***

54

Hakikat Kedua: Penampakan tindakan Rabbani yang terlihat pada pengaturan alam semesta secara meliputi, universal dan tak terhingga. Yang membatasi tindakan-tindakan itu adalah hanya hikmah, kehendak-Nya, dan kemampuan makhluk yang terkena tindakan itu. Kebetulan yang menjelma, alam yang dungu, kekuatan yang buta, sebab-sebab yang mati dan unsur-unsur yang tanpa batasan, menyebar dan mencampuradukkan tidak berpengaruh pada tindakan-tindakan-Nya yang sangat terukur, bijaksana, teratur, kuat, seolah-olah melihat dan hidup. Tetapi mereka dipergunakan sebagai tirai kekuasan oleh Pembuat Agung dengan perintah, kehendak, dan kekuasaan-Nya. Tiga misal di antara contoh-contoh yang tak terhingga sebagai berikut: Kami jelaskan tiga poin dari poin-poin yang tak terhingga dari tiga tindakan yang mengisyaratkan tiga ayat yang bersambung pada satu halaman dari Surat An-Nahl. Ayat Pertama: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohonpohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. (Surat An-Nahl: 68) Benar, lebah merupakan mukjizat kekuasaan Tuhan secara fitrah dan tugasnya bahwa Surat AnNahl yang besar dinamakan dengan namanya. Karena penulisan program tugas yang penting secara sempurna pada kepala kecil dari mesin madu itu; penempatan dan pemasakan makanan yang paling manis pada perutnya yang kecil; penempatan racun yang dapat menghancurkan dan mematikan organorgan tubuh pada sengatan lebah tanpa mengganggu tubuhnya, terjadi dengan perhatian dan ilmu yang tak terhingga melalui hikmah, kehendak yang tak terbatas dan dengan peraturan dan keseimbangan yang sempurna, sehingga sesuatu seperti alam dan kebetulan yang tidak memiliki kesadaran, keteraturan, dan keseimbangan tidak mungkin turut campur dan berpartisipasi. Demikianlah, penampakan dan peliputan ciptaan Ilahi dan tindakan rabbani yang memiliki tiga aspek mukjizat pada lebah-lebah tak terhingga yang ada di muka bumi dengan hikmah, perhatian, kesimbangan, waktu, dan gaya yang sama secara jelas membuktikan keesaan Allah SWT. Ayat Kedua:

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang berada dalam perutnya, (yaitu berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (An-Nahl: 66) Ayat ini merupakan sebuah firman yang memberikan pelajaran. Benar, ditaruhnya susu yang bersih, murni, bergizi, sedap, dan putih pada dada ibu yang merupakan pabrik susu terutama sapi, unta, kambing, dan domba tanpa tercampur dengan darah dan tahi, lebih dari itu menaruh kasih sayang yang 55

lebih lezat, lebih manis, lebih nikmat, dan lebih mahal dari air susu itu di hati ibu, tentu memerlukan sebuah rahmat, hikmah, ilmu, kekuasaan, kehendak dan perhatian yang besar menunjukkan bahwa kebetulan yang bergolah, unsur-unsur yang mencampuradukkan dan kekuatan yang buta tidak mendapat bagian dari kerjaan ini. Demikianlah, penjelmaan, pengaturan, pembuatan dan peliputan ciptaan rabbani dan tindakan Ilahi yang sangat bermukjizat dan bijaksana pada muka bumi, hati dan dada ibu-ibu seratus ribu jenis binatang dalam waktu, gaya, hikmah dan perhatian yang sama secara jelas membuktikan keesaan Allah SWT. Ayat ketiga: Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar (ada) tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. (an-Nahl: 67) Ayat ini mengalihkan perhatian kita pada buah kurma dan anggur bahwa ada sebuah tanda, bukti dan hujjah besar untuk tauhid pada kedua buah ini bagi orang-orang yang berakal. Benar, kedua buah ini di samping sebagai makanan, gizi, manisan, dan sumber makanan-makanan yang lezat, pohon-pohon ini yang bertumbuh pada pasir dan tanah kering juga merupakan sebuah kemukjizatan kekuasaan dan hikmah yang luar biasa. Mereka merupakan pabrik gula yang manis, mesin syirup madu dan ciptaan yang seimbang dengan teliti, teratur dengan sempurna, bijaksana dan penuh perhatian bahwa orang yang memiliki akal hanya sezarah pun harus mengatakan Dzat yang membuat seperti di atas adalah Dzat yang menciptakan alam semesta. Sebagai contoh, di hadapan kita ada dua puluh tandan pada sebuah ranting anggur setebal jari di mana ranting anggur tersebut memiliki dua puluh tandan. Masing-masing tandan mempunyai hampir seratus butir anggur yang manis, dan masing-masing butir anggur dibalut dengan kulit yang sangat tipis, cantik, berwarna-warni; penempatan biji yang berkulit keras yang merupakan daya jaga, program dan riwayat kehidupan pada hati anggur yang lembut; pembuatan sebuah manisan seperti manisan syurga dan sebuah madu seperti air kausar; penciptaan dengan perhatian, hikmah, keluarbiasaan ciptaan pada waktu dan gaya yang sama di seluruh muka bumi secara jelas menunjukkan bahwa yang mengerjakan hal ini adalah Sang Pencipta alam semesta secara keseluruhan. Tindakan yang memerlukan sebuah kekuasaan yang tak terhingga dan sebuah hikmah yang tak terbatas hanya merupakan tindakan-Nya. Benar, kekuatan, alam dan sebab-sebab yang buta, berkeliaran, tak teratur, tak berkesadaran, tak bertujuan, semua hal ini tidak mencampuri dan berpengaruh terhadap keseimbangan yang sangat sensitif, sebuah ciptaan yang pandai dan keteraturan yang bijaksana. Hanya saja mereka dititahkan oleh perintah 56

rabbani sebagai tabir, tirai dan objek. Demikianlah, sebagaimana ketiga poin yang membuktikan tiga hakikat tauhid yang mengisyaratkan tiga ayat di atas, begitu juga penjelmaan dan pengaruh yang tak terhingga dari tindakantindakan rabbani yang tak terbatas secara bulat bersaksi atas keesaan Dzat Agung Yang Wahid dan Esa. Hakikat Ketiga: adalah penciptaan makhluk-makhluk terutama tumbuh-tumbuhan dan binatang dengan kuantitas yang banyak dan keteraturan mutlak dalam kecepatan mutlak; keindahan seni, kemahiran, kekuatan dan keteraturan dalam kemudahan mutlak; sangat bernilai dan pembedaan satu sama lainya dalam kelimpahan mutlak dan pencampurbauran mutlak. Benar, bahwa mengadakan sesuatu dalam jumlah yang banyak namun dalam waktu yang sangat singkat, dalam keadaan yang sangat mudah namun dengan sangat terampil, pandai dan sistematis; dalam keadaan kelimpahan dan percampuran namun sangat bernilai tinggi, berbeda antara satu dengan lainnya dan sangat banyak, tanpa ada kerancuan atau kekeliruan, semua itu hanya dapat terlaksana dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Tunggal dan Maha Esa. Tak ada satu pun yang sulit bagi kekuasaan-Nya. Benar, membuat bintang-bintang semudah atom; sesuatu yang paling besar seperti sesuatu yang paling kecil; sebuah jenis yang tak terbatas individunya semudah sebuah individu; semua yang luas dan besar semudah bagian yang sempit dan kecil; kebangkitan bumi ini sama dengan sebuah pohon; penciptaan pohon sebesar gunung semudah sebuah biji yang sebesar kuku bagi kekuasaan-Nya agar dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang ada depan mata kita. Demikianlah, rahasia penting dalam tingkatan tauhid ini, hakikat ketiga ini serta dengan kalimat tauhid: yakni semua yang paling besar sama dengan sesuatu yang paling kecil; tidak ada perbedaan antara yang paling banyak dan yang paling sedikit; dengan penjelasan dan pembuktian hikmah yang menakjubkan, rahasia besar, teka-tekinya yang di luar kemampuan akal, dasar Islam yang paling penting, sebab yang paling dalam dari iman dan fondasi yang paling besar dari tauhid dapat terbuka teka-teki alQuran dan diketahui teka-teki yang paling rahasia dan tidak diketahui dari alam semesta dan membuat filsafat tidak sanggup untuk memahaminya. Saya panjatkan ribuan puji syukur dan sanjungan kepada Sang Pencipta Yang Maha Penyayang sebanyak seratus ribu kali lipat huruf-huruf Risalah Nur bahwa Risalah Nur telah menemukan dan membuktikan rahasia yang menakjubkan ini dan teka-teki yang ajaib. Dan khususnya pada pembahasan

( Dan Dia atas segala sesuatu itu Maha Kuasa) yang bagian akhir dari surat ke-20,
pembahasan tentang Sang Pelaku Yang Maha Kuasa yang terdapat dalam kalimat ke-29 yang terkait dengan masalah kebangkitan, pembuktian kekuasaan Ilahi dari martabat Allah Maha Besar yang ada dalam Cahaya ke-29 yang saya susun dengan bahasa Arab dibuktikan seperti dua kali dua 57

sama dengan empat. Oleh karena itu saya serahkan penjelasannya kepada risalah-risalah itu dan ingin menyinggung tiga belas rahasia yang menjelaskan secara singkat dasar-dasar dan bukti-bukti yang membuka rahasia ini sebagai indeks. Dari tiga belas tingkatan saya telah menulis rahasia pertama dan kedua. Tetapi sayang sekali dua halangan yang kuat baik materil maupun maknawi membuat saya meninggalkan sisanya. Rahasia pertama: Jika sesuatu adalah substansi, maka lawan dari sesuatu tersebut tidak akan memasukinya. Sebab, hal tersebut sama saja dengan menyatunya dua hal yang kontradiksi, merupakan suatu hal yang mustahil. Berdasarkan rahasia ini sepanjang kekuasaan Tuhan adalah Dzati (substansi), dan merupakan keharusan bagi Dzat Yang Maha Suci, tentu ketidakberdayaanyang merupakan lawan dari kekuasaantidak akan pernah masuk dan berpengaruh kepada Dzat Yang Maha Kuasa itu. Ada tingkatan pada sesuatu dikarenakan lawannya masuk ke dalamnya. Misal, derajat terang menjadi kuat atau lemah tergantung pengaruh kegelapan. Derajat panas tinggi atau rendah tergantung pada masuknya dingin. Derajat kekuatan menjadi kuat atau lemah tergantung kekuatan lawannya. Tentu tidak ada tingkatan pada kekuasaan Dzati Allah SWT. Dia menciptakan segala sesuatu seperti sesuatu. Sepanjang pada kekuasaan-Nya tidak ada tingkatan, kelemahan dan kekurangan, tentu tidak ada halangan yang dihadapi-Nya dan tidak ada penciptaan yang sulit bagi-Nya. Sepanjang tidak ada sesuatu pun yang sulit bagi-Nya, tentu sebagaimana Dia menciptakan Hasyrul Azham (kebangkitan besar) semudah musim semi, menciptakan musim semi semudah sebatang pohon, sebatang pohon semudah sebuah bunga, begitu juga menciptakan sebuah bunga sama nilai seninya dengan pohon, sebuah pohon semukjizat musim semi, musim semi seluar biasa dengan kebangkitan. Dan kesemuanya itu diciptakan di depan mata kita. Telah dibuktikan dengan bukti-bukti yang pasti dan kuat pada Risalah Nur bahwa jika tidak ada keesaan Allah dan tauhid, maka penciptaan sebuah bunga sesulit sebuah pohon bahkan lebih sulit, sebuah pohon sesulit musim semi bahkan lebih sulit. Dari segi nilai dan seni, mereka benar-benar jatuh. Sebuah makhluk yang diciptakan dalam waktu satu menit akan diciptakan dalam satu tahun, bahkan tidak mungkin diciptakannya. Demikianlah, berdasarkan rahasia di atas, buah-buah, bunga-bunga, pohon-pohon, dan binatangbinatang kecil yang diciptakan dengan sangat banyak, tetapi bernilai, dengan mudah dan cepat tetapi penuh seni muncul secara teratur dan melakukan tugas mereka. Mereka bertasbih dan meninggalkan dunia dengan mewakilkan benih-benihnya sebagai penggantinya. Rahasia kedua: Sebagaimana satu matahari dengan rahasia kenuraniyahannya, transparasi dan penundukan dan dengan sebuah penjelmaan dari kekuasan Ilahi terpantul sinarnya pada sebuah cermin, begitu juga memberikan pantulannya yang terang dan panas dari aktivitas kekuasaan yang tak terbatas 58

kepada cermin, sesuatu yang terang dan tetesan yang tak terhingga dengan perintah Ilahi. Sedikit atau banyak sama, tidak ada perbedaan. Apabila sebuah kata diucapkan, sebagaimana kata ini dapat masuk dalam telinga seseorang disebabkan keluasan penciptaan yang tak terbatas tanpa ada kesulitan, dia juga masuk telinga satu juta orang dengan izin rabbani. Ribuan orang mendengar sama seperti seorang yang mendengar, tidak ada perbedaan. Sebagaimana sebuah cahaya seperti mata atau makhluk nurani seperti Jibril as. melihat dan pergi ke satu tempat dan berada di satu tempat dengan mudah dikarenakan keluasan sempurna tindakan rabbani yang di dalam penjelmaan rahmat, begitu juga dia berada, melihat dan pergi di ribuan tempat dengan kekuasaan Ilahi. Sedikit atau banyak tidak ada perbedaan. Sama halnya, karena kekuasaan Dzat Azali merupakan yang paling lembut, sebuah cahaya yang khas dan cahaya di atas semua cahaya; esensi, hakikat dan dimensi dalam segala sesuatu bersifat transparan dan terang seperti cermin; segala sesuatu mulai dari atom, tumbuh-tumbuhan, makhluk hidup sampai bintang-bintang, matahari dan bulan taat dan tunduk kepada kekuasaan esensial itu dengan sungguh-sungguh, mereka tunduk melayani perintah-perintah kekuasaan Azali itu, tentu Dia yang telah menciptakan segala sesuatu seperti sesuatu dan berada di samping mereka. Satu perkara tidak menghalangi perkara lain. Sesuatu yang besar maupun kecil, banyak maupun sedikit, bagian maupun seluruhnya sama. Tidak ada sesuatu pun yang berat bagi-Nya. Sebagiamana diungkapkan pada kalimat ke-10 dan 29, dengan rahasia keteraturan, keseimbangan, taat terhadap hukum, dan menaati perintah, seorang anak kecil memutar dan menjalankan sebuah kapal besar sebesar seratus rumah seperti halnya dia memutar permainan dengan jarinya. Sebagaimana seorang komandan membuat tentaranya menyerang dengan perintah maju, begitu juga dia menggerakkan sebuah pasukan untuk menyerang dengan satu perintah. Jika dua gunung secara seimbang berada di kedua ujung timbangan; sebagaimana sebuah kenari menaikkan satu ujung timbangan dan menurunkan yang satunnya pada timbangan yang kedua ujungnya terdapat dua telur, begitu juga dia menaikkan ujung timbangan yang ada gunung ke puncak dan menurunkan yang satunya ke perut lembah dengan aturan hikmah. Seperti itu pula, karena terdapat sebuah hikmah yang tak terhingga pada kekuasaan rabbani yang tanpa batas, nurani, esensial, sarmadi (abadi) dan hikmah tak terhingga yang merupakan sumber segala keteraturan, pengaturan, dan keseimbangan; terdapat keadilan Ilahi yang sangat sensitif; segala sesuatu yang bagian, keseluruhan, besar dan kecil tunduk terhadap kekuasaan dan pengaturan-Nya, maka tentu sebagaimana Dia memutar dan menggerakkan atom-atom dengan mudah, begitu juga Dia secara mudah memutar bintang-bintang dengan hikmah pengaturan. 59

Sebagaimana Dia secara mudah menghidupkan seekor lalat pada musim semi dengan satu perintah, begitu juga Dia menghidupkan jenis-jenis lalat, seluruh tumbuh-tumbuhan, pasukan binatangbinatang kecil melalui hikmah dan keseimbangan yang ada pada kekuasaan-Nya dengan perintah dan kemudahan yang sama dan mengirim mereka ke medan kehidupan. Sebagaimana Allah menghidupkan sebuah pohon pada musim semi dengan cepat dan memberikan kehidupan kepada tulang-belulangnya, begitu juga Dia menghidupkan bumi yang luas pada musim semi semudah sebuah pohon dengan kekuasaan mutlak-Nya yang bijaksana dan adil dan menciptakan seratus ribu contoh kebangkitan. Sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan amr takwini (perintah pembentukan), begitu juga Dia berkata dengan firman-Nya (AYAT LAFADZ ARABNYA) Semua manusia dan jin berkumpul di samping kami dan medan kebangkitan dengan sebuah teriakan dan perintah. (Yasin: 53)

(ayat lafadz arabnya)


Perkara kiamat, kebangkitan dan kejadiannya terjadi dalam sekejap mata atau lebih cepat. ( An-Nahl: 77) dan

(ayat lafadz arabnya)


Wahai Manusia! Penciptaan, penghidupan, kebangkitan dan penyebaran kalian semudah menghidupkan satu jiwa, tidak sulit bagi kekuasaan-Ku.(Luqman: 77) Dengan makna tiga ayat di atas, Dia membawa semua manusia, jin, hewan, ruhani, dan malaikat ke medan kebangkitan yang agung dan peradilan yang besar dengan perintah dan kemudahan yang sama. Satu pekerjaan tidak meghalangi pekerjaan lain. Di luar keinginan saya, saya menangguhkan pembahasan ini dari rahasia ketiga sampai ke-13. *** Hakikat keempat: menjelaskan perwujudan, kemunculan makhluk-makhluk, kebersamaan mereka; persatuan dalam kebersamaan; kemiripan sesama; sebagiannya menjadi miniatur dan contoh besar kepada yang lainnya; sebagian menjadi keseluruhan dan sebagian lainnya menjadi bagian dan anggota mereka; kemiripan sesama secara fitrah; hubungan erat antara pahatan ciptaan; saling tolongmenolong sesama; saling melengkapi tugas fitrah mereka. Seperti itu pula pada aspek keesaan secara jelas mengumumkan tauhid; membuktikan bahwa Sang Pencipta mereka adalah Esa; menjelaskan alam semesta merupakan kesatuan dan keseluruhan yang tidak dapat dibagi-bagi dan dipisah pada sisi Rububiyyah. Misalnya menciptakan, mengatur dan memberikan rezeki individu yang tak terhingga dari empat 60

ratus ribu jenis tumbuh-tumbuhan dan binatang dalam keadaan bersama, pada satu waktu dan gaya, dengan hikmah sempurna, seni indah tanpa kesalahan dan kekurangan; menciptakan individu tak terhingga mulai dari lalat-lalat yang merupakan miniatur burung-burung hingga rajawali yang merupakan contoh besar, memperjalankan mereka dengan memberikan perlengkapan yang membantu perjalanan dan kehidupan mereka dan menaruh cap ciptaan pada masing-masing wajah mereka secara menakjubkan, cap hikmah pada pada masing-masing tubuh mereka, cap keesaan pada masing-masing esensi mereka dengan mendidik; mengirim dan menggerakkan bantuan dari atom-atom makanan kepada sel-sel tubuh, dari tumbuh-tumbuhan kepada binatang, dari binatang kepada manusia, dari para ibu kepada bayi yang tak berdaya dengan hikmah dan kasih sayang; mengatur baik yang kecil maupun yang besar mulai dari bimasakti, tata surya, unsur-unsur bumi, hingga selubung manik mata, bunga mawar, kulit bulir jagung dan biji melon dengan keteraturan, seni indah, tindakan dan hikmah sempurna yang sama, tentu membuktikan secara jelas bahwa Dzat yang membuat pekerjaan-pekerjaan di atas adalah Esa, tunggal dan memiliki cap pada segala sesuatu. Sebagaimana Dia tidak dibatasi oleh tempat, maka Dia pun selalu berada di semua tempat. Seperti halnya matahari, segala sesuatu jauh dari-Nya, tetapi Dia dekat kepada segala sesuatu. Sebagaimana bimasakti dan tata surya tidak berat bagi-Nya, begitu juga sel yang ada di darah dan ingatan di hati tidak tersembunyi bagi-Nya, tidak terlepas dari pengaturan-Nya. Segala sesuatu yang sangat besar dan banyak pun mudah bagi-Nya seperti sesuatu yang kecil dan sedikit bahwa Dia menciptakan dengan mudah lalat dalam sistem rajawali, biji dalam esensi pohon, sebuah pohon dalam bentuk kebun, sebuah pohon seindah musim semi dan sebuah musim semi dalam keadaan kebangkitan. Dia memberikan sesuatu yang sangat berharga dari segi seni kepada kita dengan harga murah. Adapun harga yang Dia minta dari kita adalah dan , yakni harga nikmatnikmat yang sangat berharga adalah ucapan Bismillahirrahmanirrahim pada awalnya dan Alhamdulillah pada akhir nikmat. Karena hakikat keempat ini juga telah dijelaskan dan dibuktikan pada Risalah Nur, maka kami mencukupi dengan pembahasan pendek ini. *** Hakikat Kelima: adanya keteraturan sempurna pada keseluruhan dan bagian-bagian alam semesta dan pada seluruh makhluk; tunggalnya masing-masing bahan-bahan dan petugas-petugas yang menyebabkan pengurusan dan pengaturan yang khas dan berkaitan dengan keselurahan kerajaan; nama-nama dan tindakan-tindakan yang mengatur sebuah kota dan pameran besar dalam keadaan bersama dan satu esensi, di samping pada setiap tempat ada nama dan tindakan yang sama, penguasaan dan peliputan mereka terhadap segala sesuatu atau kebanyakannya; unsur-unsur dan jenis-jenis yang menyebabkan istana yang terhias itu diurus, terhibur dan dibangun, di samping adanya satu esensi, unsur dan jenis yang sama di setiap tempat, peliputan mereka terhadap muka bumi dan penyebarannya, tentu secara jelas 61

memerlukan, membuktikan, bersaksi dan menunjukkan bahwa pencipta dan pengatur alam semeta ini, Raja dan Pendidik kerajaan ini, Pemilik dan Pembangun istana ini adalah satu, tunggal, wahid dan esa. Tidak mungkin adanya kemiripan bagi-Nya, tidak ada menteri dan pembantu-Nya. Tidak mungkin ada sekutu dan lawan-Nya. Dia mustahil tersentuh ketidakberdayaan dan kesalahan. Benar, keteraturan merupakan kesatuan yang nyata dan menginginkan adanya pengatur tunggal. Tidak ingin adanya syirik yang menyebabkan perdebatan. Jadi sepanjang ada sebuah keteraturan yang bijaksana dan hati-hati pada segala sesuatu baik yang kecil maupun yang besar mulai dari alam semesta secara keseluruhan, perputaran bumi harian dan tahunan, hingga wajah manusia, perasaan-perasaan yang ada di kepala, sirkulasi dan aliran sel darah merah dan darah putih di dalam darah, maka tentu sesuatu selain Dzat Yang Maha Kuasa Mutlak dan Maha Bijaksana Mutlak tidak mungkin campur tangan dengan sesuatu dalam bentuk kehendak dan penciptaan. Mungkin saja mereka hanya menerima, menjadi tempat manifestasi dan berada dalam keadaan pasif. Sepanjang mengatur dengan mengikuti tujuan-tujuan dan kemaslahatan terjadi dengan ilmu dan hikmah dan dilakukan dengan kehendak dan ikhtiar, tentu saja keraturan secara bijaksana dan jenis-jenis pengaturan makhluk dengan kemaslahatan yang terlihat di depan mata kita secara jelas membuktikan dan bersaksi bahwa Pencipta dan Pengatur alam ini adalah satu, Sang Pelaku dan Pemilik kehendak. Segala sesuatu terwujud dengan kekuasaan-Nya, mendapatkan keadaan khusus dengan iradah-Nya dan memakai bentuk yang teratur dengan kehendak-Nya. Sepanjang lentera ruang tamu dunia ini yang memberikan kepanasan adalah satu; tabung lentara yang menunjukkan waktu adalah satu; sepon yang bermurah hati adalah satu; tukang masak yang berapi-api adalah satu; syirup yang hidup adalah satu; sawah yang terjaga baik itu satu. Satu, satu hingga ribuan satu. Tentu satu dan satuan ini secara jelas bersaksi bahwa Pencipta dan Pemilik ruang tamu ini adalah satu. Dia sangat murah hati dan ramah bahwa Dia membuat makhluk-makhluk di atas yang tinggi dan besar melayani para kelana kehidupan seraya memperkerjakan untuk istirahat mereka. Sepanjang nama-nama Allah seperti Maha Bijaksana (al-Hakim), Maha Penyayang (ar-Rahim), Maha Pemberi bentuk (al-Mushawwir), Maha Mengatur (al-Mudabbir), Maha Memberi kehidupan (alMuhyi), dan Maha Mendidik (al-Murrabbi); perbuatan-perbuatan seperti Hikmah, Rahmat dan nayah; tindakan-tindakan seperti pemberian bentuk, memutar dan mendidik yang mengatur di setiap sisi dunia dan terlihat pahatan dan penjelmaanya adalah satu. Nama dan tindakan yang sama berada pada martabat yang tinggi di setiap tempat dan meliputi segalanya. Juga mereka menyempurnakan pahatannya masing-masing bahwa seolah-olah nama-nama dan tindakan-tindakan itu menyatu dan kekuasaan menjadi hikmah dan kasih sayang, hikmah menjadi inayah dan kehidupan. 62

Misalnya ketika terlihat pengaturan nama yang memberikan kehidupan (al-Muhyi), terlihat pula pengaturan banyak nama seperti yang menciptakan (al-Khaliq), yang memberikan bentuk (alMushawwir), dan yang memberikan rezeki (ar-Razzaq) pada waktu yang sama di setiap tempat dengan sistem yang sama. Hal ini secara jelas bersaksi bahwa pemilik nama-nama yang meliputi dan Pelaku tindakan-tindakan yang universal dengan gaya yang sama di setiap tempat adalah satu, tunggal, wahid, dan esa. Kami beriman dan membenarkannya. Sepanjang unsur-unsur yang merupakan bahan-bahan, dasar-dasar bagi ciptaan meliputi muka bumi. Meskipun masing-masing jenis-jenis yang membawa bermacam-macam cap yang menunjukkan keesaan dari makhluk-makhluk adalah satu, mereka menyebar dan meliputi muka bumi. Tentu hal ini membuktikan bahwa unsur-unsur itu dengan cakupannya dan jenis-jenis itu dengan individu-individunya merupakan milik Dzat Yang Maha Esa. Mereka merupakan ciptaan dan pelayan Dzat yang Wahid dan Maha Kuasa bahwa Dia memperkerjakan unsur-unsur yang menguasai itu sebagai pelayan yang sangat patuh dan jenis-jenis yang tersebar di setiap sisi bumi sebagai sebuah tentara yang sangat teratur. Karena hakikat ini juga telah dibuktikan dan dijelaskan pada Risalah Nur, maka kami mencukupi pembahasan ini dengan isyarat yang singkat ini. Sang musafir menyimpulkan penyaksiannya dan menerjemahkan perasaanya dengan kesenangan yang didapatkan kelimpahan imani dan kelezatan tauhid dari lima hakikat di atas dan berkata kepada hatinya: Lihatlah! lembar berwarna-warni buku alam semesta, Apa yang digambar oleh pena kekuasaan, Tidak ada titik kelam bagi orang-orang yang memiliki mata hati, Seolah-olah ayat-ayat Tuhan menulis dengan cahaya. Ketahui juga bahwa, Jarak jauh yang tidak terbatas merupakan lembaran buku alam semesta, Karya-karya yang tak terhitung ini merupakan garis-garis peristiwa, Telah tertulis pada lembar hakikat yang terpelihara (lauwh-i Mahfudz), Segala yang ada di dunia ini adalah ucapan bermakna yang terwujud. Simak juga,


Segala sesuatu yang ada (di dunia ini) selalu mengatakan, Tidak ada Tuhan yang hak selain Allah. Setiap waktu mereka pun selalu melapalkan, Wahai Dzat yang Maha benar. Jadi, semua dan 63

seluruh yang ada selalu mengatakan dan membisikan, Wahai Dzat Yang Maha Hidup, Yang Maha menerjemahkan apa yang ada dalam hati. Benar, pada setiap sesuatu terdapat tanda-tanda yang menunjukan bahwa Dia adalah Esa. Demikianlah, akhirnya hati sang musafir itu membenarkan jiwanya. Keduanya kemudian berkata serempak, Ya, ya. Demikianlah pada pembahasan kedua bab kedua bagian yang pertama, dijelaskan secara singkat mengenai apa yang disaksikan sang musafir alam semesta itu, yaitu berupa hakikat tauhid yang lima. Yaitu,

: . . . . . .
Tidak ada Tuhan (yang hak) selain Allah yang Esa dan Tunggal, yang menunjukkan atas kepastian keesaan wujud-Nya merupakan sebuah kesaksian tentang hakikat keagungan dan kebesaran dalam kesempurnaan dan pencakupan. Demikian juga, kata itupun merupakan sebuah kesaksian tentang hakikat munculnya berbagai perbuatan secara absolut dan tidak terbatas. Tidak ada yang dapat membatasi munculnya perbuatan itu selain dari kehendak dan kebijaksanaan. Demikian juga, kata itupun merupakan sebuah kesaksian tentang hakikat adanya segala sesuatu yang ada dengan kuantitas yang absolut dan kecepatan yang mutlak. Juga merupakan sebuah kesaksian tentang hakikat penciptaan makhluk dengan kemudahan yang mutlak dalam kesempurnaan yang absolut. Juga merupakan kesaksian tentang hakikat penciptaan produk dengan pengorbanan yang mutlak, dalam penyelesaian yang sangat baik dan sangat bernilai. Demikian juga, kata itu pun merupakan sebuah kesaksian tentang hakikat adanya segala sesuatu yang ada secara keseluruhan, kemajemukan, kebersamaan, saling mempengaruhi, dan keselarasan. Demikian pula, kata itupun merupakan sebuah kesaksian tentang hakikat keteraturan yang menyeluruh dan meniadakan kesyirikan. Demikian juga, kata itupun merupakan kesaksian tentang manunggalnya pusat pengaturan alam semesta yang secara nyata menunjukan bahwa Dzat yang menciptakannya adalah satu. Demikian juga, kata itupun merupakan kesatuan nama dan perbuatan yang berperan. Demikian juga, kata itupun merupakan kesatuan unsur dan jenis yang tersebar dan menguasai 64

permukaan bumi. *** Kemudian ketika sang musafir berkeliling pada abad-abad terdahulu, ia telah bertemu dengan madrasah Imam ar-Rabbani Ahmad al-Faruqi yang merupakan pembaharu milenium kedua, masuk dan mendengar beliau. Sang Imam berkata ketika dia mengajar bahwa Hasil terpenting dari semua tariqat adalah peningkatan hakikat-hakikat keimanan. Peningkatan suatu masalah keimanan terpilih daripada seribu karomah dan dzauq.. Beliau juga telah berkata, Dahulu ulama-ulama besar telah mengatakan: Akan datang seorang ulama ilmu kalam dan membuktikan semua hakikat-hakikat keimanan dan keislaman dengan argumentasi yang logis dan penjelasan yang sempurna. Saya ingin bahwa akulah sosok yang dimaksud. Bahkan, mungkin saja yang dimaksud dengan sosok itu adalah aku... Iman dan tauhid merupakan dasar, pokok, cahaya dan kehidupan bagi seluruh kesempurnaan manusia. Dan prinsip adalah lebih

(Bertafakkur satu jam itu lebih baik daripada beribadah (sunnah) satu

tahun) terkait dengan tafakkur imani. Adapun pentingnya dzikir dalam hati dari Tarikat Naqsyabandiyah dikarenakan dzikir tersebut adalah salah satu jenis dari tafakkur yang sangat penting itu. Sang musafir telah mendengar secara keseluruhan dan berkata kepada nafsunya: Sepanjang sang imam berkata demikian. Sepanjang bertambahnya iman sebesar biji zarah lebih berharga daripada satu ton makrifat dan kesempurnaan, serta lebih manis daripada dzauq. Sepanjang bantahan dan syubhat para filosof Eropa yang bertumpuk terhadap keimanan dan alQuran sejak seribu tahun telah menemukan jalan dan menyerang orang-orang yang beriman. Mereka berupaya untuk mengguncangkan rukun-rukun keimanan yang merupakan kunci, sumber, dan dasar bagi kebahagiaan abadi, kehidupan kekal, dan surga yang kekal. Tentu kita harus mempertebal keimanan kita melalui perubahan dari keimanan yang taqlidi menjadi keimanan yang hakiki. Jika demikian, marilah maju! Kita harus mengetuk dan membuka pintu pengaturan dan pemberian rezeki rabbani yang ada pada alam makhluk hidup melalui membaca bismillahirrahmanirahiim untuk melihat tempat ketiga dari tempat pelajaran ini dengan pikiran dua puluh sembilan martabat (tingkatan) keimanan yang sekuat gunung yang telah kita dapatkan menjadi tigapuluh tiga martabat yang merupakan angka tasbih sholat yang masing-masing penuh berkah. Sang musafir telah mengetuk pintu tempat ketiga yang merupakan tempat berkumpulnya keajaiban dan keanehan. Dia buka dengan( Dengan menyebut nama Allah yang Maha Membuka). Tempat ketiga terlihat. Dia telah masuk dan melihat bahwa empat hakikat yang besar dan menyeluruh menerangi tempat tersebut, dan menunjukkan tauhid seperti matahari. 65

**** Hakikat Pertama: adalah Fattahiyyat (Pembukaan). Yang dimaksud adalah terbukanya bentuk-bentuk teratur yang berbeda-beda, bermacam-macam dan tak terhingga dari sebuah materi yang sederhana pada setiap sisi, waktu dan tindakan yang sama dengan penjelmaan nama al-Fattah (Maha Membuka). Benar, sebagaimana kekuasaan yang menciptakan itu membuka dan memberikan bentuk yang teratur dan identitas yang berbeda kepada masing-masing makhluk tak terhingga yang ada di taman alam semesta ini dengan nama al-Fattah, begitu juga, bahkan lebih menakjubkan kekuasaan itu memberikan bentuk yang seimbang, terhias dan berbeda kepada masing-masing empat ratus ribu jenis makhluk yang ada di taman bumi. Bentuk-bentuk itu penuh seni dan hikmah.

(ayat lafadz arabnya)


Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (membuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maka, bagaimana kamu dapat dipalingkan? (AzZumar: 6)

(ayat lafadz arabnya)


Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran: 5-6) Dengan penjelasan ayat-ayat di atas, bukti yang paling kuat terhadap tauhid, dan mukjizat yang paling mengagumkan bagi kekuasaan Tuhan adalah pembukaan bentuk. Berdasarkan pada hikmah ini, karena hakikat pembukaan bentuk ini telah dibuktikan dan dijelaskan pada Risalah Nur, terkhusus pada tingkat keenam dan ketujuh dari bab pertama maqam kedua dalam Risalah ini, maka kami serahkan pembahasan ini kepada bagian-bagian itu, dan merasa cukup dengan mengatakan: Ada kelengkapan, universalisme dan seni pada pembukaan bentuk dengan kesaksian dan riset yang cermat dari ilmu tumbuh-tumbuhan dan hewan bahwa selain Dzat Yang Wahid dan Esa, Dzat Yang Maha Kuasa yang dapat melihat segala sesuatu dan menciptakannya, tidak mungkin memiliki tindakan yang lengkap dan universal ini. Karena tindakan pembukaan bentuk ini memerlukan sebuah hikmah, perhatian, dan universalisme pada tingkat tertinggi di dalam sebuah kekuasaan tak terhingga yang berada 66

di setiap tempat dan waktu. Kekuasaan seperti ini hanya dimiliki oleh Dzat Tunggal yang mengatur seluruh alam semesta. Benar, misalnya sebagaimana dijelaskan pada ayat-ayat di atas, pembukaan yang membuka dan menciptakan bentuk manusia yang ada di rahim ibu -dalam tiga kegelapan- dari bahan yang sederhana dalam keadaan berbeda-beda, keseimbangan, perhiasan dan keteraturan tanpa ada kebingungan, kesalahan dan ketercampuran; hakikat pembukaan bentuk yang meliputi seluruh manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan yang ada di muka bumi dengan kekuasaan, hikmah dan seni yang sama merupakan sebuah bukti yang paling kuat tentang ketunggalan Allah SWT. Karena universalisme merupakan sebuah kesatuan dan tidak menyisakan tempat bagi kemusyrikan. Sebagaimana sembilan belas hakikat yang bersaksi atas wajibul wujud pada bab pertama telah membuktikan keberadaan Sang Pencipta dengan keberadaan mereka, juga dengan universalisme mereka bersaksi atas keesaan Allah SWT. *** Hakikat Kedua: adalah hakikat belas kasih (Rahmaniyyah). Yakni kita melihat dengan mata kita bahwa ada Dzat yang mengisi muka bumi dengan ribuan hadiah rahmat untuk kita. Dia menyiapkan sebuah jamuan. Dia membuat sebuah hidangan yang tersusun seratus ribuan makanan-makanan lezat yang bersumber dari sifat belas kasih. Dia juga menjadikan dalam bumi sebuah gudang yang terisi dengan nikmat-nikmat kasih sayang dan kebijaksanaan-Nya. Dia menjadikan muka bumi sebagai kapal dagang pada rotasi tahunannya, seperti sebuah kapal atau kereta api yang mengandung bahan terbagus dari seratus ribu jenis kebutuhan manusia dan binatang yang bersumber dari alam gaib pada setiap tahun; mengirim musim semi sebagai gerbong yang membawa makanan dan pakaian kita dan memberikan makanan kepada kita dengan penuh kasih sayang. Dia juga telah memberikan ratusan dan ribuan keinginan, kebutuhan, perasaan dan indera kepada kita agar kita memanfaatkan dari hadiah-hadiah dan nikmat-nikmat tersebut. Benar, sebagaimana dijelaskan dan dibuktikan pada sinar keempat yang terkait dengan ayat alQuran

(Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-

baik Pelindung, Ali Imran: 173) Allah SWT telah memberikan perut kepada kita bahwa perut kita mendapatkan kelezatan dari makanan-makanan yang tak terhingga dan menganugerahkan kehidupan kepada kita agar kehidupan kita memanfaatkan nikmat-nikmat yang tak terbatas seperti hidangan nikmat pada alam jasmani yang besar ini dengan perasaan-perasaannya. Dia juga mengaruniai kemanusiaan kepada kita agar mendapatkan kelezatan dari hadiah-hadiah yang tak terhingga baik di alam materi maupun di alam maknawi dengan 67

alat-alat seperti akal dan hati. Dia memberitahukan sebuah Islam kepada kita bahwa Islam itu sendiri mendapatkan cahaya dari perbendaharaan tak terhingga baik alam gaib maupun alam nyata. Allah SWT menganugerahkan sebuah iman bahwa iman itu sendiri diterangi cahaya dan hadiah yang tak terbatas dari alam dunia, akhirat dan kita memanfaatkannya. Seolah-olah alam semesta ini sebuah istana yang dihiasi oleh rahmat dengan sesuatu yang antik, menakjubkan dan bernilai. Kuncikunci yang dapat membuka seluruh peti dan tempat pada istana ini diberikan kepada manusia. Kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaan yang memanfaatkan segala sesuatu dari istana telah diberikan kepada fitrah manusia. Dengan demikian, sebuah belas kasih yang meliputi dunia, akhirat dan segala sesuatu, tentu adalah sebuah penjelmaan dari Ahadiyyah (keesaan) yang ada di dalam Wahidiyyah-Nya (ketunggalan). Maksudnya sebagaimana sinar matahari menjadi contoh untuk ketunggalan dengan meliputi segala sesuatu yang ada di hadapannya, begitu juga segala sesuatu yang berkilau dan transparan sesuai dengan kemampuannya- menjadi contoh bagi keesaan dengan mendapatkan sinar, kepanasan, tujuh warna yang ada pada sinarnya, pantulan dari matahari, sehingga tentu orang yang melihat sinar yang meliputi itu berkesimpulan bahwa Matahari bumi adalah tunggal dan satu. Orang yang menyaksikan pantulan matahari yang bersinar dan panas pada segala sesuatu yang berkilau, bahkan pada tetesan, mengetahui keesaan matahari, yakni matahari itu sendiri bersama sifat-sifatnya dengan mengatakan Matahari ada di samping segala sesuatu dan pada cermin hati segala sesuatu. Begitu juga, sebagaimana cakupan belas kasih yang luas dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Indah terhadap segala sesuatu seperti sinar menunjukkan ketunggalan belas kasih-Nya dan tidak adanya syirik pada sisi apapun, begitu juga cahaya-cahaya kebanyakan nama-nama Tuhan Yang Maha Pengasih itu dan sejenis penjelmaan esensi-Nya yang ada pada segala sesuatu, terutama pada semua makhluk hidup, khususnya pada manusia di bawah tirai kasih sayang yang meliputi itu, memberikan kehidupan yang kompherensif yang membuat seseorang melihat alam semesta dan menjalin hubungan dengannya. Hal ini membuktikan keesaan Tuhan Yang Maha Pengasih, kehadiran-Nya di samping segala sesuatu dan Dialah yang mengerjakan segala sesuatu dari segala sesuatu. Benar, sebagaimana Dzat Yang Maha Pengasih itu dengan ketunggalan dan belas kasih-Nya menunjukkan kebesaran sekaligus keagungan-Nya pada keseluruhan alam semesta dan muka bumi, begitu juga penghimpunan contoh-contoh semua nikmat pada masing-masing makhluk hidup, khususnya pada manusia dengan penjelmaan keesaan-Nya dan pemberian keseluruhan alam tanpa ada pembagian kepada seseorang dengan memasukkan dan mengatur nikmat-nikmat itu kepada anggota dan organ tubuh makhluk hidup, mengumumkan kasih sayang yang khusus dari keagungan-Nya dan memberitahukan kumpulnya nikmat-nikmat pada manusia. 68

Sebagaimana buah melon, misalnya, dipusatkan pada sebuah biji melon. Dzat yang menciptakan biji itu tentu Dialah menciptakan melon dan kemudian memeras, mengumpulkan, dan membentuk biji dari melon dengan keseimbangan ilmu dan aturan hikmah-Nya yang khusus. Tidak ada sesuatu pun yang dapat membuat biji itu, selain dari Dzat Maha Tunggal yang menciptakan melon itu. Begitu juga, dengan penjelmaan belas kasih (Rahmaniyyah), alam semesta menjadi seperti sebuah pohon atau kebun, muka bumi seperti sebuah buah atau melon dan makhluk hidup, manusia seperti biji, maka Sang Pencipta dan Rab makhluk hidup yang paling kecil merupakan Pencipta seluruh alam dan bumi. Kesimpulan: Sebagaiamana penciptaan dan pembukaan bentuk-bentuk teratur seluruh makhluk dari bahan yang sederhana dengan hakikat pembukaan yang meliputi, secara jelas membuktikan ketunggalan. Begitu juga juga hakikat belas kasih yang meliputi segala sesuatu secara jelas menunjukkan ketunggalan-Nya dan keesaan dalam ketunggalan-Nya dengan pemberian rezeki secara teratur kepada makhluk yang mendapatkan perwujudan dan seluruh makhluk hidup yang baru datang ke kehidupan dunia, pemenuhan kebutuhan mereka dan tidak melupakan seorang pun, pencampaian belas kasih terhadap setiap individu pada tempat dan waktu yang sama. Karena nama al-Hakim dan ar-Rahim terjelma pada Risalah Nur, poin-poin dan penjelmaan hakikat belas kasih telah dijelaskan dan dibuktikan pada pembahasan yang banyak dari Risalah Nur, maka kami tunjukkan samudera itu dengan tetesan ini dan memperpendek pembahasan yang panjang itu. *** Hakikat Ketiga: adalah hakikat pengaturan dan administrasi. Yang dimaksud adalah hakikat pengaturan bintang-bintang di langit yang sangat dahsyat dan cepat, unsur-unsur yang bersifat menyerbu dan mencampuri, makhluk-makhluk di muka bumi yang sangat membutuhkan dan lemah dengan keteraturan dan keseimbangan yang sempurna; menjadikan mereka saling tolong-menolong; pengaturan mereka secara harmonis dan membuat alam yang besar ini menjadi sebuah kerajaan sempurna, kota yang megah, dan istana yang terhias. Kita tinggalkan wilayah-wilayah besar dari pengaturan ini yang bersifat agung dan belas kasih, karena Risalah Nur telah menjelaskan dan membuktikan pada risalah-risalah penting seperti kalimat ke10 mengenai pengaturan di muka bumi pada musim semi, maka kami akan tunjukkan satu bentuknya yang singkat dengan sebuah perumpamaan sebagai berikut: Misalnya jika seorang yang luar biasa dan menaklukkan dunia membentuk sebuah pasukan yang terdiri dari empat ratus ribu bangsa dan kelompok yang berbeda-beda, orang itu memberikan semua keperluan tentara masing-masing berupa pakaian, persenjataan, makanan, arahan, pembebasan dan tugastugas tanpa ada kekurangan, kesalahan, kekeliruan, keterlambatan, keracuan, dan pada tepat waktu dengan keteraturan sempurna dan dalam keadaan sempurna, maka tentu tidak ada sebuah sebab pun, 69

selain komandan yang luar biasa itu, melakukan intervensi pengaturan yang sangat luas, kompleks, teliti, seimbang, banyak dan adil. Jika ada sebuah sebab yang melakukan intervensi ke dalam pengaturan itu, niscaya hal tersebut akan merusak dan mencampuradukkan keseimbangan. Begitu juga, kita melihat dengan mata kita bahwa sebuah tangan yang ghaib menciptakan dan mengatur sebuah pasukan yang luar biasa terdiri dari empat ratus ribu jenis makhluk pada setiap musim semi. Tangan yang ghaib itu membebaskan tiga ratus ribu jenis tanaman dan binatang yang merupakan bagian dari empat ratus ribu jenis dari tugas mereka dengan kematian pada musim gugur yang merupakan contoh hari kiamat. Sementara tangan yang ghaib itu menumbuhkan tiga ratus ribu contoh kebangkitan besar dalam waktu beberapa minggu dengan keteraturan sempurna pada musim semi yang merupakan contoh hari kebangkitan dan bahkan menunjukkan kepada kita empat kebangkitan kecil pada sebatang pohon, yaitu menyamai pohon itu sendiri, daun-daunnya, bunga-bunganya dan buahbuahnya seperti pada musim semi sebelumnya. Tangan yang ghaib itu membuktikan keesaan, ketunggalan-Nya dalam Rububiyyah, kedaulatan dan hikmah; kekuasaan dan belas kasih-Nya yang tak terbatas dengan pemberian rezeki, senjata, pakaian, arahan, pembebasan, perlengkapan dan keperluan yang berbeda-beda dan khusus setiap jenis dan kelompok dari pasukan subhani yang mencapai empat ratus ribu jenis dengan keteraturan sempurna, tepat waktu dan dari tempat yang tak terduga tanpa ada kesalahan, kekurangan, percampuran dan kelupaan dan menulis proklamasi tauhid dengan pena taqdir di muka bumi pada setiap lembar musim semi. Setelah sang musafir membaca sebuah lembar dari proklamasi ini pada satu musim semi, berkata kepada nafsunya: Azab neraka jahannam merupakan inti keadilan bagi yang melakukan pengingkaran terhadap kebangkitan yang merupakan penyangkalan terhadap perjanjian dan pengingkaran terhadap kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa (al-Qadir al-Jabbar) dan Maha Memaksa (al-Qahhar) yang memiliki keagungan yang membangun ribuan kebangkitan yang lebih ajaib dari hari kebangkitan besar pada setiap musim semi; menjanjikan ribuan kali kepada para nabi-Nya akan menciptakan hari kebangkitan besar yang lebih mudah daripada musim semi bagi kekuasaan-Nya dan membawa hari kiamat untuk memberikan pahala dan hukuman; di samping Dia menunjukkan ribuan isyarat mengenai hari kebangkitan dalam al-Quran, menjanjikan dan memberikan ancaman secara jelas dalam seribu ayat al-Quran. Nafsu sang musafir telah berkata Amanna (Kami beriman). *** Hakikat Keempat (yang merupakan tingkatan yang ketiga puluh tiga): adalah hakikat kasih sayang dan pemberian rezeki . Yang dimaksud adalah hakikat pemberian rezeki baik bersifat materil maupun bersifat maknawi dari ribuan kilo makanan yang diciptakan dari tanah yang tandus, 70

potongan kayu yang kering seperti tulang, terkhusus muncul dari sesuatu yang lembut yang terletak di antara kotoran dan darah, satu benih seberat satu dirham seperti tulang dengan kasih sayang kepada makhluk hidup, khususnya makhluk-makhluk yang memiliki ruh, khususnya lagi makhluk-makhluk yang tak berdaya dan lemah dan terutama anak-anak oleh sebuah tangan yang ghaibpada tepat waktu, dalam bentuk kontinyu, tanpa dilupakan dan kebingungan di depan mata kita. Benar, sebagaimana

Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh (Adz-Dzariyyat: 58) ayat ini mengkhususkan dan menentukan bahwa pemberian rezeki itu hanya milik Allah, begitu juga

(ayat lafadz arabnya)


Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (lauh al-mahfuzh). (Hud: 6). Ayat ini memberitahukan seluruh rezeki manusia dan hewan berada di bawah janji dan tanggung jawab Allah SWT. Demikian pula sebagaimana

(ayat lafadz arabnya)


Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Ankabut: 60) Ayat ini membuktikan dan memberitahukan bahwa rezeki makhluk-makhluk yang tidak mampu, lemah dan tak berdaya diberikan dari tempat yang tak terduga, ghaib dan bahkan dari ketiadaan. Misalnya pemberian rezeki kepada serangga yang ada di dalam laut dari ketiadaan; rezeki seluruh anak-anak dari tempat yang tak terduga; rezeki semua binatang dari sumber ghaib pada setiap musim semi dan Dia juga memberikan rezeki kepada orang-orang yang mengagungkan sebab-sebab melalui sebab-sebab itu sendiri. Begitu juga banyak ayat al-Quran dan saksi-saksi mengenai alam secara bulat menunjukkan bahwa masing-masing setiap makhluk diberikan rezeki oleh kasih sayang Tuhan Yang Maha Pemberi Rezeki (ar-Razzaq) yang memiliki keagungan. Benar, datangnya rezeki kepada pohon-pohon yang meminta rezeki ketika mereka menunggunya dengan tawakkal dikarenakan mereka tidak berdaya dan tidak memiliki ikhtiar; pengaliran rezeki anak71

anak yang tak berdaya kepada mulut mereka dari pompa yang mengagumkan; berhentinya air susu ketika sang anak sudah mempunyai sedikit kemampuan dan kehendak; khususnya pemberian kasih sayang ibu sebagai penolong kepada anaknya, secara jelas membuktikan bahwa rezeki halal tidak sebanding dengan kekuasaan dan kehendak, melainkan dia akan datang dibanding dengan kelemahan dan ketidakberdayaan yang memberikan tawakkal. Pada umumnya kekuasaan, kehendak, dan kecerdasan yang membangkitkan kerakusan yang menyebabkan kerugian, mengantarkan kepada sejenis meminta-minta bagi sastrawan-sastrawan besar, sementara ketidakmampuan orang-orang yang bodoh dan awam mengantarkan mereka kepada kekayaan dengan bertawakkal; dan

jadinya frasa ini sebagai

peribahasa, membuktikan bahwa rezeki halal tidak didapatkan dengan kekuatan kekuasaan, dan kehendak, melainkan diberikan oleh kasih sayang yang menerima kerja keras dan usaha mereka. Rezeki itu dianugerahkan dari sisi kasih sayang yang mengasihani kebutuhan-kebutuhan mereka. Namun demikian, rezeki itu ada dua bagian: Pertama, rezeki yang hakiki dan fitrah untuk keberlangsungan kehidupan berada dalam jaminan rabbani. Bahkan rezeki ini begitu teratur bahwa rezeki fitrah yang tersimpan dalam bentuk minyak atau yang lainnya pada tubuh, membuat seseorang mampu bertahan hidup dan melanjutkan kehidupannya minimal lebih dari dua puluh hari. Jadi orang-orang yang meninggal dunia karena kelaparan dalam waktu kurang dari dua puluh atau tiga puluh, dan sebelum habisnya rezeki fitrah yang tersimpan di tubuh, meninggal bukan karena tidak adanya rezeki, melainkan karena suatu penyakit yang timbul akibat kebiasaan buruk atau akibat meninggalkan kebiasaannya. Kedua, rezeki majazi dan buatan karena akibat kecanduan terhadap kebiasaan, pemborosan, dan penyalahgunaan menjadi keharusan. Rezeki ini tidak berada dalam jaminan Allah, melainkan tergantung pada kemurahan hati-Nya. Boleh jadi Dia akan memberikannya, boleh jadi pula Dia tidak akan memberikannya. Orang yang bahagia pada rezeki yang kedua ini adalah orang yang menganggap usaha yang halal dengan penghematan dan qanaah (merasa cukup) kedua hal ini merupakan sarana untuk mencapai kebahagiaan dan kenikmatan sebagai sejenis ibadah dan doa fili (aktif) untuk mendapatkan rezeki. Oleh karena itulah orang ini akan menerima nikmat itu dengan berterima kasih dan apresiasi. Dia menjalankan kehidupannya dalam kebahagiaan. Sementara orang yang malang pada rezeki yang kedua ini adalah orang yang meninggalkan usaha halal dan mengetuk setiap pintu dengan melakukan pemborosan dan bersikap rakus yang merupakan penyebab terjadinya kesengsaraan, kerugian dan kesedihan, akan menjalankan, bahkan mengakhiri kehidupannya dengan kemalasan, kelaliman, dan keluhan. 72

Sebagaimana perut memerlukan rezeki; begitu juga organ-organ dan perasaan-perasaan manusia seperti kalbu, ruh, akal, mata, telinga, dan mulut memerlukan rezeki dan mereka mengambilnya dengan ucapan terima kasih. Rezeki mereka masing-masing yang berbeda-beda, layak dan menyenangkan dianugerahkan dari perbendaharaan rahmat-Nya. Bahkan Dzat Yang Maha Memberi rezeki dan Maha Pengasih (ar-Razzaq ar-Rahim) menciptakan perasaan-perasaan dan organ-organ tubuh manusia seperti mata, telinga, hati, khayalan, akal dan yang lainnya masing-masing sebagai kunci bagi perbedaharaan rahmat-Nya, agar Allah SWT. memberikan rezeki yang lebih luas. Misalnya, sebagaimana mata merupakan sebuah kunci bagi perbedaharaan mutiara yang sangat bernilai seperti keindahan yang ada di wajah alam semesta ini, begitu juga masing-masing perasaan dan organ yang lain menjadi kunci alam dan memanfaatkan darinya dengan iman. Marilah kita kembali kepada konteks pembahasan. Sebagaimana Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana yang telah menciptakan alam semesta ini menciptakan kehidupan dari alam semesta sebagai rangkuman lengkap, menghimpun tujuan-tujuanNya yang umum dan penjelmaan nama-nama-Nya pada kehidupan, demikian pula Allah SWT membuat makhluk-makhluk-Nya senantiasa mengucapkan terima kasih universal yang merupakan tujuan yang paling penting dari penciptaan alam semesta berikut hikmah terhadap Rububiyyah-Nya serta mencintai Dzat-Nya dengan membuat rezeki menjadi pusat urusan yang lengkap di alam kehidupan dan menciptakan keinginan dan kelezatan rezeki. Misalnya, sebagaimana Allah SWT. meramaikan setiap sisi kerajaan Rububiyyah-Nya yang sangat luas, khususnya meramaikan langit dengan para malaikat dan ruhani, alam ghaib dengan ruh-ruh, begitu juga Allah menyeramakkan alam nyata, khususnya atmosfir dan bumi dengan keberadaan makhluk-makhluk yang memiliki ruh, terlebih keberadaan burung-burung dan anak-anak burung pada setiap waktu dan sisi. Dengan hikmah ini, kebutuhan dan kelezatan rezeki sebagai cemeti komando yang menggerakkan dengan membuat manusia dan binatang mengejar rezeki dan menyelamatkan mereka dari kemalasan. Hal ini merupakan hikmah ketuhanan-Nya. Seandainya tidak ada hikmah-hikmah yang penting seperti ini, sebagaimana Allah SWT membuat rezeki mendatangi pohon-pohon, begitu juga rezeki tertentu bagi binatang akan didatangkan dalam bentuk tanpa kesulitan sesuai dengan kebutuhan fitrah mereka. Seandainya ada sebuah mata yang dapat menguasai muka bumi dan menyaksikan keindahan nama Tuhan Yang Maha Pengasih (ar-Rahim) dan Maha Pemberi rezeki (ar-Razzaq) dan kesaksian mereka untuk ketunggalan Allah SWT., mata tersebut akan melihat keberadaan sebuah keindahan yang manis pada penjelmaan kasih sayang dari Tuhan Yang Maha Pemberi rezeki dan Maha Pengasih yang mengirim makanan-makanan dan nikmat-nikmat yang sangat lezat, banyak dan bermacam-macam 73

kepada kelompok-kelompok binatang yang nyaris kehabisan rezeki pada akhir musim dingin, makanan dan nikmat yang diberikan kepada tangan-tangan tanaman sebagai bantuan ghaibi dan anugerah rahmani, yang ditempatkan pada puncak-puncak pohon, dan yang digantung pada dada-dada para ibu dari perbendaharaan kasih sayang yang ghaib. Dan mata itu mengetahui bahwa: Dzat yang menciptakan sebuah apel, misalnya dan memberikan kepada seseorang sebagai rezeki hakiki dan nikmat adalah Dzat yang memutar musim-musim, malam dan siang, membawa hasil musimmusim kepada tamu-tamu bumi yang memerlukannya dengan menjalankan bola bumi seperti kapal dagang. Karena cap fitrah, stempel hikmah, tanda Shamadaniyyah dan cap belas kasih yang terdapat pada sebuah apel tersebut juga terdapat pada seluruh buah apel, buah-buah yang lain, seluruh tanaman dan binatang. Pemilik dan Pencipta hakiki yang menciptakan apel itu, tentu adalah Pemilik yang memiliki keagungan dan Pencipta Yang Maha Indah bagi seluruh penghuni bumi yang semisal, sejenis dan saudaranya apel, bumi besar yang merupakan kebun apel itu, pepohonan yang merupakan pabriknya, musim yang merupakan bengkelnya dan musim semi serta musim panas yang merupakan tempat pendidikannya bagi mereka. Jadi masing-masing setiap buah merupakan sebuah cap tauhid bahwa kemudian cap ini memberitahukan Penulis dan Pencipta bumi yang merupakan pohonnya buah dan kitab alam semesta yang merupakan kebunnya, menunjukkan keesaan-Nya. Cap itu juga mengisyaratkan firman Wahdaniyyah (ketunggalan) distempel sebanyak buah-buahan. Karena nama Yang Maha Pengasih dan Maha Bijaksana terjelma pada Risalah Nur, banyak cahaya dan rahasia dari hakikat kasih sayang ini dijelaskan dan dibuktikan pada bagian-bagian Risalah Nur, maka kami mencukupi dengan isyarat singkat ini dari perbendaharan yang melimpah dan besar itu. Hal itu terjadi karena kondisi yang tidak mengizinkan. Demikianlah, sang musafir kita berkata: aku telah melihat dan mendengar bahwa Segala puji bagi Allah! Tiga puluh tiga hakikat yang bersaksi atas kemutlakan eksistensi dan keesaan Sang Pencipta dan Pemilik saya. Dialah yang selama ini saya cari di setiap tempat dan selalu saya tanyakan kepada segala sesuatu. Masing-masing hakikat tersebut terang seperti matahari dan memecah kegelapan. Mereka masing-masing kokoh seperti gunung dan tak terguncang. Masing-masing mereka bersaksi dengan sangat pasti atas keberadaan Allah dengan kenyataannya. Mereka secara jelas membuktikan keesaan-Nya dengan universalitas mereka. Di samping mereka masing-masing membuktikan rukun-rukun iman yang lainnya dengan kuat, kebulatan dan persatuan, semua hakikat-hakikat tersebut telah merubah keimanan kita dari keimanan taqlidi ke keimanan hakiki, dari keimanan hakiki ke keimanan ilmul yaqin, dari keimanan ilmul yaqin ke keimanan ainul yaqin, dan dari keimanan ainu -yaqin ke keimanan haqul yaqin. Segala puji bagi Allah. Ini adalah sebagian dari rahmat Tuhanku. 74

(ayat lafadz arabnya)


"Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran. (Al-Araf: 43) Demikianlah, sebagai isyarat singkat terhadap cahaya-cahaya keimanan yang diperoleh sang musafir dari empat hakikat besar yang menyaksikan tempat ketiga ini, disebutkan yang terkait dengan tempat ketiga pada bab kedua dari maqam pertama:

: .. .. ..
Tidak ada Tuhan (yang hak) kecuali Allah yang Maha Esa lagi Maha Tunggal, yang menunjukan atas keesaan-Nya dalam kemutlakan keberadaan-Nya, merupakan kesaksian yang agung dan meliputi hakikat Maha membuka, yaitu dengan membukakan empat ratus ribu makhluk hidup secara sempurna, tanpa ada kecerobohan, melalui kesaksian ilmu pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan. Demikian juga, kata itu pun merupakan kesaksian yang agung dan meliputi hakikat Maha Pengasih yang luas dan teratur, tanpa ada pengurangan, melalui kesaksian dan kepastian. Demikian juga, kata itu pun merupakan kesaksian yang agung dan meliputi hakikat Maha Pengasih dan memberi penghidupan yang menyeluruh bagi setiap makhluk yang diberikan rezeki pada setiap waktu membutuhkan, tanpa ada kelalaian atau kealfaan. Mereka semua diberikan rezeki oleh Tuhan Yang Maha pengasih, Maha Penyayang, Maha Lembut dan Maha Memberi rezeki. Pemberian-Nya adalah menyeluruh dan kebaikan-Nya adalah mencakup semua makhluk. Tidak ada Tuhan selain Dia.


Maha

Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada ***

kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Al-Baqarah: 32)

75

Ya Tuhan, dengan kebenaran bismillahirrahmaniirahim (dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim, sampaikanlah shalawat dan salam kepada tuan kami Muhammad SAW, juga kepada keluarga dan para sahabatnya, sebanyak bilangan huruf dalam Risalah Nur -yang dibuat hanya dalam sepuluh menit sepanjang umurku di dunia dan akhirat- dikali partikel-partikel yang ada dalam keberadaanku, di sepanjang hidupku. Ampunilah aku dan orang-orang yang membantuku dalam menulis dan menyebarkan Risalah Nur, karena shadaqah dan setiap shalat (yang dia laksanakan untuk itu). Ampuni juga bapak-bapak kami, tuan-tuan kami, guru-guru kami, saudara-saudara kami, kawan-kawan kami, dan para pencari Risalah Nur yang jujur, terutama mereka yang telah menulis dan menyalin risalah ini, berkat rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih. Amin.

(ayat lafadz arabnya)


Dan penutup doa mereka ialah, Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamin (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. (QS Yunus [10: 10) *** Misi Risalah Nur Dewasa ini saya telah mendengar tanya-jawab dalam sebuah dialog maknawi. Saya akan mengemukakan tanya-jawab itu kepada Anda secara ringkas. Salah seorang hadirin berkata, Semakin banyak penekanan-penekanan besar dan perlengkapanperlengkapan dari Risalah Nur untuk iman dan tauhid. Padahal cukup seper seratusnya untuk membungkam seorang atheis yang keras kepala, kenapa Risalah Nur melakukan penekanan-penekanan baru secara berapi-api? Mereka menjawab: Risalah Nur tidak hanya merekonstruksi kerusakan parsial dan sebuah rumah kecil, melainkan ia merekonstruksi kehancuran yang menyeluruh dan benteng besar yang mengelilingi Islam dan memiliki batu-batu sebesar gunung. Ia tidak hanya berusaha untuk memperbaiki hati dan hati nurani yang khusus, melainkan ia berusaha mengobati hati dan pemikiran umum yang telah terluka secara dahsyat oleh alat-alat perusak yang dipersiapkan dan dihimpun sejak seribu tahun dan mengobati hati nurani umum yang menghadapi kerusakan akibat runtuhnya dasar, aliran dan syiar Islami yang merupakan sandaran bagi semua orang, terlebih kalangan awam kaum mu`minin dengan kemukjizatan al-Quran, obat al-Quran dan keimanan. Tentu harus ada argumentasi-argumentasi yang sekuat gunung pada tingkat haqul-yaqin dan obatobat mujarab yang berkhasiat dan manjur terhadap kerusakan-kerusakan dan luka-luka yang menyeluruh dan dahsyat. Pada masa kini, Risalah Nur yang muncul dari kemujikzatan maknawi al-Qur`an, melaksanakan tugas itu dan menjadi sarana untuk peningkatan pada tingkat-tingkat keimanan yang tak 76

terbatas. Saya telah mendengar secara keseluruhan dan bersyukur ribuan kali kepada Allah SWT. Demikianlah pemaparan global yang dapat saya kemukaan kepada Anda. Said Nursi ***

77