Anda di halaman 1dari 0

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Promosi kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan
kesehatan nasional. Hal ini dapat dilihat bahwa promosi kesehatan merupakan
salah satu pilar dalam rencana pembangunan kesehatan menuju indonesia
sehat 2010 (RPKMIS) melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat setinggi-tingginya melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan
negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku
hidup bersih dan sehat serta dalam lingkungan yang sehat, memiliki
kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil
dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di
seluruh wilayah Republik Indonesia. (DepKes RI. 1999)
Dalam perkembangnnya, pusat promosi kesehatan melihat ada beberapa
hal yang perlu dilihat kembali sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan
kebijakan promosi kesehatan baik di pusat maupun didaerah, serta masalah-
masalah yang menyangkut kesehatan yang sering terjadi pada saat ini yang
sangat terkait dengan promosi kesehatan. Masalah yang penting dan perlu
disikapi adalah 1) kurang fokus dan konsistennya program promosi kesehatan
dalam pencapaian indikator PHBS 65% pada tahun 2010 yang tertuang dalam
kegiatan pertahunnya, 2) sukarnya merubah mind-set paradigma sakit ke
2
paradigma sehat yang sudah tidak sesuai lagi dalam pembangunan kesehatan,
4) lemahnya kemauan dan kemampuan dalam menyusun rencana promosi
kesehatan dan strateginya yang bersifat makro dan berjangka panjang, dan 5)
kurang kuatnya memahami konsep promosi kesehatan dan berbagai metode
promosi kesehatan. 6) koordinasi atar pusat dan provinsi serta antar provinsi
yang masih kurang 7) terbatasnya sumber daya yang dapat menunjang upaya
promosi kesehatan. (DepKes RI. 1999)
Perubahan paradigma kesehatan yang kini lebih menekankan pada upaya
promotif-preventif dibandingkan dengan upaya kuratif dan rehabilitatif
diharapkan merupakan titik balik kebijakan Depkes dalam menangani
kesehatan penduduk yang berarti program kesehatan yang menitikberatkan
pada pembinaan kesehatan bangsa bukan sekedar penyembuhan
penyakit.(Toto Castro, 2004)
Keberhasilan upaya kesehatan mendatang ditentukan oleh upaya sekarang
ini, untuk itu sudah saatnya para ahli kesehatan masyarakat mengambil peran
dominan untuk membuat pendidikan kesehatan sebagai pilar utama
pembangunan kesehatan. Pendidikan diakui akan sangat besar perannya dalam
upaya mencapai tinggal landas bidang kesehatan, terutama mengingat adanya
transisi perubahan pola penyakit. Sebenarnya, masalah-masalah kesehatan
masyarakat yang dihadapi dapat dicegah dengan intervensi-intervensi, atau
pendekatan pendidikan kesehatan yang tidak memerlukan biaya cukup besar
tapi cukup efektif
3
Dalam upaya mewujudkan hal tersebut diatas telah disusun pokok-pokok
program pembangunan kesehatan yang salah satunya pokok program upaya
kesehatan yang antara lain mencakup program pemberantasan penyakit
menular dan imunisasi. Selain itu perlu dikembangkan pemberantasan
penyakit menular dan penyehatan lingkungan secara terpadu berbasis wilayah
melalui peningkatan surveilans, advokasi, kemitraan dan perencanaan
penganggaran kesehatan terpadu (P2KT). Pelaksanaan program
pemberantasan penyakit infeksi saluran pernapasan akut adalah bagian dari
pembangunan kesehatan, dan merupakan upaya yang mendukung peningkatan
kualitas sumber daya manusia serta merupakan bagian dari upaya
pemberantasan dan pencegahan penyakit menular. (Keputusan menteri
kesehatan nomor : 1537.A / Menkes/ SK/XII/ 2002)
Jumlah kejadian penyakit menular semakin meningkat pada tahun-tahun
terakhir ini. Ada beberapa penyebabnya, yaitu program pengendalian vektor
penyakit seperti serangga dan tikus yang terbengkalai, kepadatan penduduk
secara berlebihan disertai kondisi sanitasi yang jelek (Bres, 1995). Salah satu
contoh penyakit menular yang sampai saat ini angka kejadiannya masih tinggi
adalah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Penyakit ISPA menyebabkan
beban morbiditas dan beban biaya yang tinggi, baik untuk pengobatan yang
memang sangat dibutuhkan maupun pada pemberian pengobatan sebenarnya
tidak dibutuhkan. Bila penyakit ISPA dapat dideteksi lebih dini dan diobati
secara tepat, maka angka kejadian penyakit ISPA dapat diturunkan secara
drastis. (http://www.penyakitmenular.info/detil.asp?m)
4
Kelompok yang paling rentan terserang ISPA adalah balita usia dua bulan
sampai 5 tahun, oleh karena itu diperlukan pengetahuan yang memadai agar
orangtua bisa mengetahui dan menangani anaknya yang terkena ISPA
sehingga pada akhirnya tingkat kesembuhan anak bisa dicapai maksimal.
World health organization (WHO) memperkirakan insidens infeksi
saluran pernapasan akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian
balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada
golongan usia balita. Menurut WHO 13 juta anak balita di negara
berkembang meninggal setiap tahun, dimana pneumonia merupakan salah satu
penyebab utama kematian dengan membunuh 4 juta anak balita setiap tahun
(Depkes,2000). Pada tahun 2005 WHO mencatat penyebab kematian balita di
seluruh dunia terdiri atas pneumonia 19 persen, diare 17 persen, malaria 8
persen, dan campak 4 persen. (http://www.acehforum.or.id/deteksi-ispadarit
7359.html?s =a440462909e338f9d e3b5d5 41d10992d &1)
Hasil konferensi mengenai ISPA di Canberra, Australia pada juli 1997,
menemukan empat juta bayi dan balita di negara-negara berkembang
meninggal setiap tahun akibat ISPA (silalahi, 2007). Pneumonia sendiri
dijuluki penyebab utama kematian bayi serta balita di Indonesia. Survey
kesehatan rumah tangga (SKRT) melaporkan proporsi hasil ekstrapolasi data
SKRT 2001 menunjukkan bahwa angka kematian balita akibat penyakit
sistem pernapasan adalah 4,9/1.000 balita. (Departemen Kesehatan RI, 2006).
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
5
Tabel 1.1
Proporsi Kematian ISPA (SKRT) di Indonesia
Kriteria Umur SKRT 1986 SKRT 1992 SKRT 1995 SKRT 2001
Bayi (0 - <1 th) 18,85% 36,4% 32,1% 27,6%
Balita (1- 4 th) 22,8% 18,2% 38,8% 22,8%
Tahun 2000, diperkirakan kematian akibat pneumonia ( sebagai penyebab
utama ISPA) di Indonesia mencapai 5 kasus di antara 1000 bayi/balita artinya
pneumonia mengakibatkan 150 ribu bayi atau balita meninggal setiap tahunya,
atau 12.500 perbulan, atau 416 kasus sehari, atau 17 anak per jam, atau
seorang bayi dalam lima menit. (Depkes, 2004)
Data angka kematian balita (AKABA) terakhir berasal dari survey
demografi kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2005 yaitu 46 per 1000 kelahiran
hidup. Meskipun di Indonesia angka kematian balita cenderung menunjukan
penurunan yang cukup signifikan, ISPA masih merupakan penyebab kematian
terbesar baik pada bayi maupun pada anak balita. Hal ini dapat dilihat melalui
hasil survey mortalitas subdit ISPA pada table 1.2 tahun 2005. (Sumber Ditjen
PP-PL Depkes RI.2005)
6
Table 1.2
Penyebab Kematian Balita Di Indonesia
(Survey Mortalitas Subdit Ispa Tahun 2005)
NO PENYEBAB KEMATIAN %
1 Pneumonia 23,6
2 Diare 15,3
3 Infeksi berat 15,1
4 Masalah lain termasuk kecelakaan 14,7
5 Neonatal 11,2
6 Tifoid 3,8
7 Gizi Buruk Dan BGM 3,6
Sumber : Ditjen PP-PL Depkes RI
Pada tahun 2006 didapatkan 642.700 kasus pneumonia pada balita, lebih
tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 600.720 pada tahun 2005. Tahun
2007, angka kejadian pneumonia mencapai 21,52%.(Ditjen PP-Pl,Depkes RI
2008)
Secara umum penyebab dari infeksi saluran napas adalah berbagai
mikroorganisme, namun yang terbanyak akibat infeksi virus dan bakteri.
Infeksi saluran napas dapat terjadi sepanjang tahun, meskipun beberapa
infeksi lebih mudah terjadi pada musim hujan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi penyebaran infeksi saluran napas antara lain faktor lingkungan,
perilaku masyarakat yang kurang baik terhadap kesehatan diri maupun publik,
serta rendahnya gizi. Faktor lingkungan meliputi belum terpenuhinya sanitasi
dasar seperti air bersih, jamban, pengelolaan sampah, limbah, pemukiman
sehat hingga pencemaran air dan udara. Perilaku masyarakat yang kurang baik
tercermin dari belum terbiasanya cuci tangan, membuang sampah dan
7
meludah di sembarang tempat. Kesadaran untuk mengisolasi diri dengan cara
menutup mulut dan hidung pada saat bersin ataupun menggunakan masker
pada saat mengalami flu supaya tidak menulari orang lain masih rendah.
(http://id.wikipedia.org).
Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA
pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di
keluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga lainnya.
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang berkumpul dan tinggal
dalam suatu rumah tangga, satu dengan lainnya saling tergantung dan
berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai
masalah kesehatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga
lainnya.
Keluarga perlu mengetahui serta mengamati tanda keluhan dini pneumonia
dan kapan mencari pertolongan dan rujukan pada sistem pelayanan kesehatan
agar penyakit anak balitanya tidak menjadi lebih berat. Berdasarkan hal
tersebut dapat diartikan dengan jelas bahwa peran keluarga dalam praktek
penanganan dini bagi balita sakit ISPA sangatlah penting, sebab bila praktek
penanganan ISPA tingkat keluarga yang kurang/buruk akan berpengaruh pada
perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi bertambah berat.
Pengetahuan dan pemahaman tentang infeksi ini menjadi penting
disamping karena penyebarannya sangat luas yaitu melanda bayi, anak-anak
dan dewasa, komplikasinya yang membahayakan serta menyebabkan
hilangnya hari kerja ataupun hari sekolah, bahkan berakibat kematian
8
(khususnya pneumonia). Dalam upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat
mengenai penyakit ISPA ini maka perlu diadakan pendidikan kesehatan.
Pendidikan kesehatan adalah kesempatan untuk belajar tentang kesehatan,
meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan dan melakukan perubahan-
perubahan secara suka rela dalam tingkah lakunya, melalui berbagai bentuk
komunikasi yang direncanakan.
Pendidikan kesehatan tidak hanya memberi perhatian pada komunikasi
informasi, tetapi juga membantu pengembangan motivasi, ketrampilan, dan
kepercayaan diri, yang diperlukan untuk membuat langkah dalam
meningkatkan derajat kesehatan. Komunikasi dalam pendidikan kesehatan
menyampaikan informasi tentang faktor risiko atau perilaku berisiko dan
pemanfaatan sistem pelayanan kesehatan (fasilitas/sumber daya), dalam
kerangka kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Saat ini sudah sering dilakukan pemberian pendidikan kesehatan kepada
masyarakat, tetapi belum banyak dilakukan evaluasi seberapa efektif
dilaksanakannya pendidikan kesehatan tersebut mengingat masih tingginya
angka kejadian ISPA yang terjadi saat ini. ISPA merupakan penyakit yang
utama dari layanan rawat jalan meliputi 25-40% balita yang berobat, dan ISPA
pula yang merupakan penyebab rawat inap balita di rumah sakit sekitar 30-
35% dari seluruh balita yang dirawat inap. Ditinjau dari prevalensinya, infeksi
ini menempati urutan pertama pada tahun 1999 dan menjadi kedua pada tahun
2000 dari 10 Penyakit Terbanyak Rawat Jalan.
9
Berdasarkan data di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas) Grogol kecamatan Limo kota Depok, penemuan penderita ISPA
pada balita selama tahun 2009 dari bulan januari sampai april yaitu sebanyak
1.729 balita. ISPA merupakan penyakit yang paling banyak diderita oleh
balita di sekitar wilayah puskesmas Grogol.(Puskesmas Grogol)
Berdasarkan survey yang dilakukan oleh program profesi Ners reguler S1
Keperawatan UPN Veteran Jakarta pada saat praktek keperawatan
komunitas tahun 2008 di RW 06 kelurahan Krukut Kota Depok, didapatkan
data bahwa penyakit yang paling sering dialami oleh warga kelurahan krukut
khususnya balita yaitu penyakit ISPA 84,62%, Diare sebanyak 10,65%,
Gastritis 2,37%, Deman berdarah 1,76%, dll. Penyakit ISPA umumnya sering
terjadi pada anak-anak karena anak-anak lebih rentan terkena penyakit dan
juga karena anak-anak paling sering jajan diluar rumah. Upaya yang dapat
dilakukan untuk mencegah penyakit tersebut yaitu dengan cara menghimbau
masyarakat untuk menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan serta rutin
memantau kesehatan dan pertumbuhan balita ke
posyandu/puskesmas.(Laporan study kasus komunitas program profesi
keperawatan reguler UPN tahun 2008)
Berdasarkan penelitian Yulita Riza tahun 2003 dengan judul faktor-faktor
yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita dari hasil penelitian
bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kejadian ISPA dimana
semakin tinggi pengetahuan tentang penyakit ISPA maka pencegahan dan
upaya perawatan semakin meningkat. Dalam penelitian ini pengetahuan
10
merupakan salah satu pendorong seseorang untuk merubah perilaku,
diharapkan semakin tinggi pengetahuan seseorang tentang penyakit ISPA dan
bahaya yang ditimbulkan maka partisipasi masyarakat tinggi dalam upaya
pengendalian penyakit ISPA.
Pencegahan lebih baik daripada pengobatan adalah semboyan yang
paling tepat dalam usaha kesehatan masyarakat sekaligus dalam meningkatkan
status kesehatan. Salah satu upaya dalam meningkatkan kesehatan adalah
melalui pendidikan kesehatan dan penerapan pola hidup sehat. Pendidikan
kesehatan dan penerapan pola hidup sehat yang sudah dibina sejak dini pada
setiap manusia Indonesia akan menghasilkan generasi masa depan yang
berkualitas, baik mental maupun fisik dan dapat memodifikasi perilaku
masyarakat dalam menjaga kesehatan sehingga dapat menurunkan timbulnya
penyakit khususnya ISPA. Seperti kata pepatah Didalam tubuh yang sehat
terdapat jiwa yang sehat"'.
Berdasarkan uraian diatas untuk meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman masyarakat tentang penyakit ISPA pada balita, diperlukan
pendidikan kesehatan yang dapat memberikan informasi dan edukasi yang
tepat mengenai penyakit ISPA, baik pencegahan, perawatan dan
komplikasinya. Dipilihnya keluarga yang memiliki balita di kelurahan Krukut
dengan alasan di kelurahan tersebut sudah pernah diadakan pendidikan
kesehatan tentang ISPA sehingga dapat memudahkan proses penelitian.
Banyak faktor yang berpengaruh terhadap kejadian ISPA, yang dapat
meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian akibat pneumonia. Oleh
11
sebab itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan
pendidikan kesehatan dan pengetahuan tentang ISPA pada masyarakat dengan
perilaku pencegahan ISPA pada balita di RW 06 Kelurahan Krukut kecamatan
Limo Kota Depok tahun 2009.
B. Rumusan Penelitian
1. Identifikasi Masalah
Keberhasilan upaya kesehatan mendatang sangat ditentukan oleh
upaya apa yang dilakukan sekarang ini. Sehubungan hal tersebut diatas,
sudah saatnya para ahli kesehatan masyarakat mengambil peran dominan,
untuk membuat pendidikan kesehatan sebagai pilar utama pembangunan
kesehatan. Pendidikan diakui akan sangat besar perannya dalam upaya
mencapai tinggal landas bidang kesehatan, terutama mengingat adanya
transisi perubahan pola penyakit. Sebenarnya, masalah-masalah kesehatan
masyarakat yang dihadapi dapat dicegah dengan intervensi-intervensi, atau
pendekatan pendidikan kesehatan yang tidak memerlukan biaya cukup
besar tapi cukup efektif
World health organization (WHO) memperkirakan insidens infeksi
saluran pernapasan akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka
kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20%
pertahun pada golongan usia balita. Menurut WHO 13 juta anak balita di
negara berkembang meninggal setiap tahun, dimana pneumonia
merupakan salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh 4 juta
anak balita setiap tahun (Depkes,2000). Pada tahun 2005 WHO mencatat
12
penyebab kematian balita di seluruh dunia terdiri atas pneumonia 19
persen, diare 17 persen, malaria 8 persen, dan campak 4 persen.
Pada tahun 2006 didapatkan 642.700 kasus pneumonia pada balita,
lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 600.720 pada tahun
2005. Tahun 2007, angka kejadian pneumonia mencapai 21,52%.(Ditjen
PP-Pl,Depkes RI 2008)
Hasil konferensi mengenai ISPA di Canberra, Australia pada juli 1997,
menemukan empat juta bayi dan balita di negara-negara berkembang
meninggal setiap tahun akibat ISPA (silalahi, 2007). Pneumonia sendiri
dijuluki penyebab utama kematian bayi serta balita di Indonesia. Survey
kesehatan rumah tangga (SKRT) melaporkan proporsi kematian bayi
akibat penyakit pernapasan mencapai 32,1 persen, sementara pada balita
38,8 persen. Tahun 2000, diperkirakan kematian akibat pneumonia (
sebagai penyebab utama ISPA) di Indonesia mencapai 5 kasus di antara
1000 bayi/balita artinya pneumonia mengakibatkan 150 ribu bayi atau
balita meninggal setiap tahunya, atau 12.500 perbulan, atau 416 kasus
sehari, atau 17 anak per jam, atau seorang bayi dalam lima menit.( depkes,
2004)
Upaya yang dilakukan pemerintah dan lembaga kesehatan untuk
menurunkan angka kejadian ISPA adalah salah satunya melalui
penyuluhan. saat ini penyuluhan sudah sering dilakukan kepada
masyarakat, tetapi angka kejadian ISPA masih tetap tinggi. Berdasarkan
latar belakang diatas masih perlu dilakukan penelitian tentang hubungan
13
pendidikan kesehatan tentang ISPA yang terkait dengan pengetahuan
masyarakat dan perilaku masyarakat terhadap pencegahan ISPA pada
balita ?
2. Pertanyaan Penelitian
a. Bagaimana gambaran karakteristik responden individu (usia, tingkat
pendidikan dan pekerjaan) di RW 06 kelurahan Krukut kecamatan
Limo kota Depok tahun 2009?
b. Bagaimana gambaran pendidikan kesehatan di RW 06 kelurahan
Krukut kecamatan Limo kota Depok tahun 2009?
c. Bagaimana gambaran pengetahuan tentang penyakit ISPA pada
masyarakat di RW 06 kelurahan Krukut kecamatan Limo kota Depok
tahun 2009?
d. Bagaimana gambaran perilaku pencegahan ISPA pada balita di RW
06 kelurahan Krukut kecamatan Limo kota Depok tahun 2009?
e. Apakah karakteristik responden (usia, tingkat pendidikan dan
pekerjaan) berhubungan dengan perilaku pencegahan ISPA pada
balita ?
f. Apakah pendidikan kesehatan berhubungan dengan perilaku
pencegahan ISPA pada balita ?
g. Apakah pengetahuan tentang ISPA pada masyarakat berhubungan
dengan perilaku pencegahan ISPA pada balita ?
14
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang
hubungan pendidikan kesehatan dan pengetahuan tentang ISPA pada
masyarakat dengan perilaku pencegahan ISPA pada balita di RW 06
kelurahan Krukut kecamatan Limo kota Depok tahun 2009.
2. Tujuan Khusus
a. Diperolehnya informasi tentang karakteristik responden ( usia, tingkat
pendidikan dan pekerjaan) di RW 06 kelurahan Krukut kecamatan
Limo kota Depok tahun 2009
b. Diperolehnya informasi tentang keefektifan pendidikan kesehatan di
RW 06 kelurahan Krukut kecamatan Limo kota Depok tahun 2009
c. Diperolehnya informasi tentang tingkat pengetahuan masyarakat
tentang penyakit ISPA pada balita di RW 06 kelurahan Krukut
kecamatan Limo kota Depok tahun 2009
d. Diperolehnya informasi tentang perilaku pencegahan ISPA pada balita
di RW 06 kelurahan Krukut kecamatan Limo kota Depok tahun 2009
e. Diperolehnya informasi tentang hubungan karakteristik responden
(usia, tingkat pendidikan dan pekerjaan) dengan perilaku pencegahan
ISPA pada balita di RW 06 kelurahan Krukut kecamatan Limo kota
Depok tahun 2009
15
f. Diperolehnya informasi tentang hubungan pendidikan kesehatan
dengan perilaku pencegahan ISPA pada balita di RW 06 kelurahan
Krukut kecamatan Limo kota Depok tahun 2009
g. Diperolehnya informasi tentang hubungan pengetahuan tentang ISPA
pada masyarakat dengan perilaku pencegahan ISPA pada balita di RW
06 kelurahan Krukut kecamatan Limo kota Depok tahun 2009
D. Manfaat Penelitian
1. Dinas Kesehatan
Sebagai bahan masukan bagi pemerintah khususnya bagi dinas kesehatan
kota Depok dalam penentuan arah kebijakan program penanggulangan
penyakit menular khususnya ISPA.
2. Bagi puskesmas
Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan melalui
pemberian pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang penyakit
ISPA.
3. Bagi pendidikan keperawatan
Diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan mahasiswa
khususnya mahasiswa keperawatan dan staf pendidikan pada umumnya
mengenai penyakit ISPA pada balita sehingga dapat menerapkan
pendidikan kesehatan kepada masyarakat baik dalam proses belajar
mengajar di komunitas maupun di masyarakat lingkungan sekitar dengan
baik.
16
4. Bagi keluarga
Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan pemahaman keluarga tentang
tanda dan gejala penyakit ISPA sehingga dapat mengambil tindakan untuk
pencegahan, perawatan dan pengobatan untuk menghindari komplikasi
lebih lanjut dari penyakit ISPA tersebut.
5. Bagi masyarakat
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman
masyarakat tentang penyakit ISPA melalui pemberian materi dan
penggunaan metode yang tepat oleh pihak pemberi penyuluhan.
6. Bagi Peneliti
Diharapkan menjadi pengalaman belajar dalam meningkatkan
pengetahuan dan ketrampilan serta menambah wawasan untuk penelitian
dalam bidang kesehatan. Khususnya yang berkaitan dengan pendidikan
kesehatan dan pengetahuan masyarakat tentang perilaku pencegahan
ISPA.
7. Bagi Peneliti lain
Diharapkan dapat menjadi bahan kajian memberikan motivasi untuk
penelitian lebih lanjut guna menurunkan kejadian ISPA pada balita
E. Ruang Lingkup penelitian
Ruang lingkup atau batasan penelitian ini hanya dalam konteks hubungan
pendidikan kesehatan dan pengetahuan tentang ISPA pada masyarakat
dengan perilaku pencegahan ISPA pada balita di RW 06 kelurahan Krukut
kecamatan Limo kota Depok tahun 2009