Anda di halaman 1dari 14

Perkembangan Masyarakat Madani di Indonesia

PERKEMBANGAN MASYARAKAT MADANI DI INDONESIA

M A K A L A H
Diajukan untuk Memenuhi Tugas individu Mata Kuliah Civic Education Oleh: Dosen:

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG T.ELKTRO PRODI T.LISTRIK 2010/2011

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah Civic Education ini dengan baik sebagai tugas individu untuk memenuhi persyaratan ujian tengah semester. Makalah Civic Education ini membahas tentang Perkembangan Masyarakat Madani di Indonesia yang pembahasan secara lengkap diuraikan dan dijelaskan dalam makalah ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Drs. A. Yasin selaku dosen pembimbing Civic Education. 2. Segenap pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini. Makalah Civic Education ini sangatlah jauh dari kesempurnaan dalam pengerjaannya. Untuk itu dimohon saran dan kritik yang membangun untuk lebih menyempurnakan makalah ini.

MAKASSAR, 20 November 2012

PENYUSUN

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................ ii DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 2 1.3 Tujuan ............................................................................................................... 2 BAB II PERMASALAHAN 2.1 Pengertian Masyarakat Madani.......................................................................... 3 2.2 Isu-isu Kontemporer.......................................................................................... 4 BAB III ANALISIS MASALAH 3.1 Ciri-ciri Masyarakat Madani ............................................................................. 6 3.2 Perkembangan Masyarakat Madani di Indonesia ............................................. 8 BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 12 DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Kita sering mendengar dan melihat berbagai kasus yang berkenaan dengan penindasan rakyat sudah sangat mendarah daging dalam pemberitaan pers. Baik melalui media elektronik maupun media cetak. Sebut saja kasus penindasan yang terjadi ketika orde baru masih berkuasa. Yaitu penindasan terhadap keberadaan hak tanah rakyat yang diambil oleh penguasa dengan alasan pembangunan dan juga contoh lainnya dengan adanya DOM (Daerah Operasional Militer di Aceh), juga kita sering mendengar dan mengetahui penculikan para aktifis demokrasi di berbagai negara, termasuk di Indonesia dan akhir yang paling menyakitkan adalah ketika kita kehilangan ruang untuk mengemukakan pendapat kita di depan publik. Pertanyaan pertanyaan tersebut pada akhirnya akan bermuara pada perlunya mengkaji kembali kekuatan rakyat atau masyarakat (civil) dalam konteks interaksi relationship, baik antara rakyat dengan negara, maupun antara rakyat dengan rakyat. Kedua pola hubungan interaksi tersebut akan memposisikan rakyat sebagai baghian integrasi dalam komunitas negara yang memiliki kekuatan bergening dan menjadi komunitas masyarakat sipil yang memiliki kecerdasan, analisi kritis yang tajam serta mampu berinteraksi di lingkungannya secara demokratis dan berkeadaban. Kemungkinan adanya kekuatan civil sebagai bagian dari komunitas bangsa ini akan mengantarkan pada sebuah wacana yang saat ini sedang berkembang, yakni masyarakat madani. Wacana masyarakat Madani ini, merupakan wacana yang telah mengalami proses yang panjang. Ia muncul bersamaan dengan proses modernisasi terutama pada saat terjadi transformasi dari masyarakat feodal menuju masyarakat Barat modern, yang dikenal dengan istilah civil society.

1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, maka kita dapat menyimpulkan beberapa rumusan masalah. Sebagai berikut :
1. Apa pengertian dari masyarakat madani? 2. Apa saja Isu-isu kontemporer yang ada? 3. Apa saja ciri khas masyarakat madani? 4. Bagaimana perkembangan masyarakat madani di indonesia?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian dari Masyarakat Madani itu sendiri. 2. Untuk mengetahui dan mempelajari tentang isu-isu kontemporer dalam perkembangan masyarakat madani. 3. Untuk mengetahui dan mempelajari ciri khas masyarakat madani. 4. Untuk mengetahui dan mempelajari perkembangan masyarakat madani di indonesia.

BAB II PERMASALAHAN
2.1 Pengertian Masyarakat Madani Sejak tahun 1990-an di indonesia istilah masyarakat madani sering diperbincangkan di kalangan kaum intelektual terbatas dari wacana ini semakin semarak ketika media massa. Pada awalnya istilah masyarakat madani merupakan salah satu terjemahan dari istilah civil society. Ernest gellner pernah menulis sebuah buku berjudul condition of liberty, civil society dan its rivals lalu diterjemahkan ke bahasa indonesia dengan judul membangun masyarakat sipil: prasyarat menuju kebebasan.[1] Masyarakat madani sebagai terjemahan dari civil society juga diperkenalkan pertama kali oleh Anwar Ibrahim (ketika itu Menteri Keuangan dan Timbalan Perdana Menteri Malaysia) dalam ceramah Simposium Nasional dalam rangka Forum Ilmiah pada Festival Istiqlal, 26 September 1995 (Hamim, 2000: 115). Istilah itu diterjemahkan dari bahasa Arab mujtama madani, yang diperkenalkan oleh Prof. Naquib Attas, seorang ahli sejarah dan peradaban Islam dari Malaysia, pendiri ISTAC (Ismail, 2000:180-181). Kata madani berarti civil atau civilized (beradab). Madani berarti juga peradaban, sebagaimana kata Arab lainnya seperti hadlari, tsaqafi atau tamaddun. Konsep madani bagi orang Arab memang mengacu pada hal-hal yang ideal dalam kehidupan.[2] Zbiqniew Ran mendefenisikan masyarakat madani, dengan latar belakang kaitannya pada kawasan Eropa Timur dan Uni Soviet, ia mengatakan bahwa yang dimakud dengan masyarakat madani adalah merupakan suatu masyarakat yang berkembang dari sejarah, yang mengendalikan ruang dimana individu dan perkumpulan tempat mereka bergabung, bersaing satu sama lain guna mencapai nilai nilai yang mereka yakini. Ruang ini timbul diantara hubungan hubungan yang merupakan hasil komitmen keluarga dan hubungan hubungan yang menyangkut kewajiban mereka terhadap negara. Oleh karenanya, maka yang dimaksud masyarakat madani adalah sebuah ruang yang bebas dari pengaruh keluarga dan kekuasaan negara, dan pengaruh kekuasaan keluarga dan negara dalam masyarakat madani ini diekspresikan dalam gambar ciri cirinya, yakni individualisme, pasar (market) dan pluralisme. Batasan yang dikemukakan oleh RAU ini menekankan pada adanya ruang hidup dalma kehidupan sehari hari serta memberikan integrasi sistem nilai yang harus ada dalam masyarakat madani, yakni individualisme pasar (market) dan pluralisme.[3] Sedangkan dalam paradigma sosial politik islam dengan melacak sumber-sumber doktrinalnya, ada dua kata kunci yang bisa menghampirkan kita pada konsep masyarakat madani

(civil society), yakni kata ummah dan madinah. Dua kata kunci ini yang memiliki eksistensi sosial kualitatif (memiliki keutamaan tertentu) inilah yang menjadi nilai-nilai dasar dan instrumental bagi terbentuknya masyarakat madani. Kata ummah misalnya yang biasanya dirangkaikan dengan sifat dan kualitas tertentu, seperti dalam istilah-istilah ummah islamiyah, ummah wasathan, ummah muhammadiyah, khaira ummah dan lain-lain merupakan pranata sosial utama yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw setelah hijrah dimadinah.[4] Meskipun istilah masyarakat madani atau civil society telah lama dikenal, namun sampai sekarang belum ada kesepakatan. Semua pengertian akan disesuaikan dengan pandangan dari pakar-pakar tersebut.[5] 2.2 Isu-isu kontemporer Isu-isu kontemporer atau yang isu-isu terbaru mengenai masyarakat madani di indonesia salah satunya mengenai penggunaan hak angket bank Century yang dilakukan oleh DPR yang menjadi sorotan dan berita utama beberapa waktu sebelumnya. Sejumlah tokoh nasional dan aktivis antikorupsi yang tergabung dalam Masyarakat Madani Indonesia Antikorupsi memperingatkan DPR agat tidak main-main soal penggunaan hak angket kasus Bank Century. Mereka bertekad mendukung dan mengawal DPR, agar kasus Century diusut sampai tuntas, dan kewaspadaan dijadikan alat tawar-menawar oleh elit partai politik terhadap Presiden SBY. Permintaan ini disampaikan dalam acara Rembug Masyarakat Madani bertema "Lanjutkan Pengusutan Tuntas Skandal Bank Century" di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin (30/11/2009). Hadir di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Dien Syamsuddin, mantan Menko Ekuin Kwik Kian Gie, AM Fatwa, Effendi Ghazali, seta aktivis pemuda, dan mahasiswa. Sebagai bentuk dukungan kepada DPR, mereka sepakat untuk menggelar unjuk rasa besar-besaran secara damai, besok, di depan Gedung DPR. Sebab, hari tersebut bertepatan dengan DPR yang akan mengesahkan pengusulun dan pembentukan panitia khusus angket Century dalam rapat paripurna.Guna memperlancar pengusutan kasus tersebut, mereka juga menyerukan agar pejabat negara yang diduga ikut bertanggung jawab seperti Sri Mulyani dan mantan Gubernur BI Boediono yang saat ini menjadi Wakil Presiden secara moril mengundurkan diri. "Agar dalam proses pemeriksaan nanti roda pemerintahan tetap berjalan," kata Dien.Dia mengatakan, seluruh elemen masyarakat betul-betul mengetuk hati DPR agar tetap komitmen kepada kebenaran, jangan ada agenda tersebunyi. Semua fraksi harus berketetapan hati untuk menuntaskan kasus Bank Century agar jangan sampai menjadi beban sejarah.[6]

BAB III ANALISIS MASALAH


3.1 Ciri-ciri Masyarakat Madani Seperti telah disinggung di pembahasan bab sebelumnya bahwa gagasan masyarakat madani merupakan kompenen penting dari demokrasi. Konsep masyarakat madani bisa dilihat dari dua aspek: positif dan negatif. Negatif jika dilihat dari sudut keterbatasan negara dalam mengontrol segala aktifitas yang dilakukan warganya dan menyerap bakat dan inisiatif sosial penduduknya. Sebaliknya positif, jika dilihat dari banyaknya organisasi, perkumpulan atau asosiasi yang mandiri dan independen dalam masyarakat dan mereka dapat bekerja bersama-sama dalam upaya menyelesaikan problem yang dihadapi tanpa adanya intervensi negara. Lebih penting bahwa mereka dapat melakukan proteksi yang diperlukan jika sewaktu-waktu terjadi pelanggaran hak asasi mereka.[7] Ada beberapa unsur dan persyaratan budaya yang harus dilalui menuju masyarakat madani, diantaranya: a. Pendidikan b. Reformasi politik c. Supremasi hukum d. Ekonomi yang kuat e. Media komunikasi yang independen Masyarakat yang maju dan berbudaya tidak akan terbentuk tanpa melalui pendidikan mengingat pendidikan merupakan faktor terpenting dan kunci bagi upaya demokrasi dalam berikutnya dalam berbagai kehidupan. Masyarakat yang buta huruf sulit menjadi warga dari suatu komunitas yang demokratis disebabkan ia tidak mengetahui hak-hak dan kewajiban secara tepat dan proporsional. Selanjutnya adalah reformasi politik dengan cara melakukan koreksi dan penyempurnaan terhadap penyimpangan dan kekurangan yang ada serta mengadopsinya suatu sistem yang lebih baik dari sebelumnya. Secara operasional, demokratisasi ini dilakukan dengan tujuan dasar: a. Membatasi kekuasaan presiden melalui konstitusi. b. Mengembalikan rasa saling percaya antar warga dan negara. c. Menciptakan kinerja politik yang transparan. Faktor berikutnya adalah tegaknya supremasi hukum. Hal ini penting karena penegakan hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya. Fenomena ini bisa dilihat dari: a. Sistem peradilan yang kurang mandiri dan inpenden. b. Inkonsistensi penegakan hukum. c. Besarnya intervensi kekuasaan terhadap hukum. d. Lemahnya perlindungan hukum terhadap masyarakat.

a. b. c. d. e.

a. b. c. d. e.

a. b. c. d. e. f.

Syarat lainnya adalah ekonomi yang kuat, hal ini berkaitan dengan faktor inheren dan ekonomi pasar yang bebas lahir dari ekonomi yang kuat, prasyarat lainnya adalah disiplin dan etos kerja yang tinggi. Dalam islam terdapat dua aspek disiplin rohaniah dan moral. Disiplin rohaniah berfungsi mendidik dan melatih batin manusia sebagai salah satu inti dari sistem islam dan disiplin ini akan membebaskan manusia dari kecenderungan mempertuntutkan hawa nafsu dan gaya hidup yang materialistik dan hedonistik. Kondisi-kondisi diatas juga harus ditunjang oleh media massa yang kuat dan independen guna mengkomunikasikan gagasan dan komitmen bersama tentang pembinaan masyarakat madani. Selain itu, media massa juga berfungsi untuk memberikan investigasi kepada pemerintah, memberikan informasi kepada publik, menyediakan forum debat politik, menyalurkan opini publik dan dalam tingkat tertentu memberikan tekanan kepada pemerintah. Selain itu civil society juga tersusun atas berbagai organisasi kemasyarakatan, yang mempunyai ciri-ciri:[8] Lahir secara mandiri, warga masyarakat sendiri membentuknya. Keanggotaannya bersifat sukarela dan atas kesadaran sendiri. Mencukupi kebutuhannya sendiri (swadaya) paling tidak untuk sebagian sehingga tidak bergantung kepada pemerintah. Bebas dan mandiri dari kekuasaan negara, sehingga berani mengontrol kekuasaan negara. Tunduk pada aturan hukum yang berlaku atau norma yang diyakini bersama. Sedangkan berdasarkan Alexis de Tocqueville, Muhammad AS Hikam mengemukakan bahwa masyarakat madani bercirikan antara lain: Kesukarelaan (voluntary). Keswasembadaan (self generating) Keswadayaan (self supporting). Kemadirian yang tinggi berhadapan dengan negara. Keterikatan dengan norma-norma atau nilai-nilai hukumyang diikuti oleh warganya. Sementara berdasarkan rumusan tim ICCE UIN Jakarta, masyarakat madani memiliki karakteristik antara lain:[9] Adanya free public sphare. Demokratis. Toleransi. Pluralisme. Keadilan sosial (social justice). Berkeadaban.

3.2 Perkembangan Masyrakat Madani di Indonesia Perkembangan masyarakat madani di indonesia diawali dengan kasus pelanggaran HAM dan pengekangan kebebasan berpendapat, berserikat dan kebebasan mengemukakan pendapat di muka umum kemudian dilanjutkan dengan munculnya berbagai lembaga non pemerintah yang mempunyai kekuatan dan bagian social control. Sejak zaman orde lama dengan rezim demokrasi

terpimpinnya Soekarno, sudah terjadi manipulasi peran serta masyarakat untuk kepentingan politis dan terhegomoni sebagai alat legitimasi politik. Sampai pada masa orde baru pengekangan demokrasi dan penindasan hak asasi manusia tersebut seakan menjadi tontonan gratis yang bisa dinikmati oleh siapa pun bahkan untuk segala usia (Tim ICCE UIN, 2003:257). Masyarakat madani sukar tumbuh dan berkembang pada rezim Orde Baru karena adanya sentralisasi kekuasaan melalui korporatisme dan birokratisasi di hampir seluruh aspek kehidupan, terutama terbentuknya organisasi-organisasi kemasyarakatan dan profesi dalam wadah tunggal, seperti MUI, KNPI, PWI, SPSI, HKTI, dan sebagainya.Organisasi-organisasi tersebut tidak memiliki kemandirian dalam pemilihan pemimpin maupun penyusunan programprogramnya, sehingga mereka tidak memiliki kekuatan kontrol terhadap jalannya roda pemerintahan. Kebijakan ini juga berlaku terhadap masyarakat politik (political societies), sehingga partaipartai politik pun tidak berdaya melakukan kontrol terhadap pemerintah dan tawar-menawar dengannya dalam menyampaikan aspirasi rakyat. Hanya beberapa organisasi keagamaan yang memiliki basis sosial besar yang agak memiliki kemandirian dan kekuatan dalam mempresentasikan diri sebagai unsur dari masyarakat madani, seperti Nahdlatul Ulama (NU) yang dimotori oleh KH Abdurrahman Wahid dan Muhammadiyah dengan motor Prof. Dr. Amien Rais. Pemerintah sulit untuk melakukan intervensi dalam pemilihan pimpinan organisasi keagamaan tersebut karena mereka memiliki otoritas dalam pemahaman ajaran Islam.[10] Pengaruh politik tokoh dan organisasi keagamaan ini bahkan lebih besar daripada partaipartai politik yang ada. Era Reformasi yang melindas rezim Soeharto (1966-1998) dan menampilkan Wakil Presiden Habibie sebagai presiden dalam masa transisi telah mempopulerkan konsep masyarakat madani karena presiden beserta kabinetnya selalu melontarkan diskursus tentang konsep itu pada berbagai kesempatan. Bahkan, Habibie mengeluarkan Keppres No 198 Tahun 1998 tanggal 27 Februari 1999 untuk membentuk suatu lembaga dengan tugas untuk merumuskan dan mensosialisasikan konsep masyarakat madani itu. Konsep masyarakat madani dikembangkan untuk menggantikan paradigma lama yang menekankan pada stabilitas dan keamanan yang terbukti sudah tidak cocok lagi. Soeharto terpaksa harus turun tahta pada tanggal 21 Mei 1998 oleh tekanan dari gerakan Reformasi yang sudah bosan dengan pemerintahan militer Soeharto yang otoriter. Gerakan Reformasi didukung oleh negara-negara Barat yang menggulirkan konsep civil society dengan tema pokok Hak Asasi Manusia (HAM). Presiden Habibie mendapat dukungan dari ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), suatu bentuk pressure group dari kalangan Islam, dimana ia duduk sebagai Ketua Umumnya. Terbentuknya ICMI merupakan suatu keberhasilan umat Islam dalam mendekati kekuasaan karena sebelumnya pemerintah sangat phobi terhadap Islam politik. Hal itu terjadi karena ada

perantara Habibie yang sangat dekat dengan Soeharto. Dengan demikian, pengembangan konsep masyarakat madani merupakan salah satu cara dari kelompok ICMI untuk merebut pengaruh dalam Pemilu 1997. Kemudian konsep masyarakat madani mendapat dukungan luas dari para politisi, akademisi, agamawan, dan media massa karena mereka semua merasa berkepentingan untuk menyelamatkan gerakan Reformasi yang hendak menegakkan prinsip-prinsip demokrasi, supremasi hukum, dan HAM.[11] Berdasarkan fakta tersebut, perlu ditegakkan masyarakat madani, penegakan masyarakat madani di Indonesia memerlukan pilar penegak, antara lain berupa lembaga swadaya masyarakat (LSM), PERS, Supermasi hukum, Perguruan Tinggi dan partai politik. Penegakan masyarakat madani di indonesia dapat mencapai hasil optimal apabila dilakukan dengan menerapkan strategi pemberdayaan yang tepat. Menurut Dewan sebagai mana dikutip Tim ICCE UIN (2003:257), ada tiga strategi yang salah satunya dapat digunakan sebagai strategi dalam memberdayakan masyarakat madani di indonesia.[12] a. Strategi yang lebih mementingkan integrasi nasional dan politik. Strategi ini berpandangan bahwa sistem demokrasi tidak berlangsung dalam masyarakat yang belum memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang kuat. Bagi penganut paham ini pelaksanaan demokrasi liberal hanya akan menimbulkan konflik, dan karena itu menjadi sumber instabilitas politik. Saat ini yang diperlukan adalah stabilitas politik sebagai landasan pembangunan, karena pembangunan lebih-lebih yang terbuka terhadap perekonomian global membutuhkan resiko politik yang minim. Dengan demikian persatuan dan kesatuan bangsa lebih diutamakan dari demokrasi. b. Strategi yang lebih mengutamakan reformasi sistem politik demokrasi. Strategi ini berpandangan bahwa untuk membangun demokrasi tidak usah menunggu rampungnya tahap pembangunan ekonomi. Sejak awal dan bersama-sama diperlukan proses demokratisasi yang pada esensinya adalah memperkuat partisipasi politik. Jika kerangka kelembagaan ini diciptakan, maka akan dengan sendirinya timbul masyarakat madani yang mampu mengontrol terhadap negara. c. Strategi yang memilih membangun masyarakat madani sebagai basis yang kuat ke arah demokratisasi. Strategi ini muncul akibat kekecewaan terhadap realisasi dari strategi pertama dan kedua. Dengan begitu strategi ini lebih mengutamakan pendidikan dan penyadaran politik, terutama pada golongan menengah yang makin luas.

BAB IV PENUTUP
3.3 Kesimpulan Civil society berasal dari barat dan diterjemahkan dalam bahasa indonesia menjadi masyarakat madani, dan para pakar sependapat bahwa istilah civil society berkaitan dengan interaksi-interaksi sosial yang tidak dikuasai oleh negara atau bisa juga berarti jaringan kerja yang kompleks dari organisasi-organisasi yang dibentuk secara sukarela yang berbeda dari lembaga negara resmi dan yang bertindak secara mandiri atau dalam kerja sama dengan lembaga-lembaga negara. Masyarakat madani ini mempunyai beberapa ciri-ciri, diantaranya: a. Free public sphare (kebebasan publik dalam berpendapat). b. Demokratis. c. Toleransi. d. Pluralisme. e. Keadilan sosial. f. Keadilan. Dan ada beberapa unsur dan persyaratan budaya yang harus dilalui menuju masyarakat madani, diantaranya: a. Pendidikan b. Reformasi politik c. Supremasi hukum d. Ekonomi yang kuat e. Media komunikasi yang independen Sedangkan untuk mewujudkan masyarakat madani ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya: a. Strategi yang lebih mementingkan integrasi nasional dan politik. b. Strategi yang lebih mengutamakan reformasi sistem politik demokrasi. c. Strategi yang memilih masyarakat yang madani sebagai basis yang kuat ke arah demokratisasi.

DAFTAR PUSTAKA
Bambang Suteng, dkk. Pendidikan Kewarganegaraan. Penerbit Erlangga. Jakarta: 2007. Tim Ekspresi. Pendidikan Kewarganegaraan. CV. Media Karya Putra. Kartasura: 2007. Dr. Masykur Hakim dan Drs. Tanu Widjaya. Model Masyarakat Madani. Intimedia Cipta Nusantara. Jakarta: 2003 Dr. M. Din Syamsuddin. Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Madani. PT. Logos Wacana Ilmu. Jakarta: 2000 Suryanti. Pendidikan Kewarganegaraan. PT. Bina Sarana Edukasi. Surakarta: 2007 http://rivafauziah.wordpress.com/2007/06/02/masyarakat-madani-dialog-islam-dan-modernitasdi-indonesia/ http://jariksumut.wordpress.com/2007/08/31/membentuk-masyarakat-madani-yang-demokratisharmonis-dan-partisifatif/ http://delanoprasetyo.blogspot.com/2008/02/perkembangan-masyarakat-madani-di.html http://news.okezone.com/read/2009/11/30/339/280245/dpr-jangan-main-main-dalam-angketcentury

[1]

Dr. Masykur Hakim dan Drs. Tanu Widjaya,M.A. Model Masyarakat Madani, (Jakarta : Intimedia Cipta Nusantara, 2003), hlm. 14. [2] http://rivafauziah.wordpress.com/2007/06/02/masyarakat-madani-dialog-islam-dan-modernitas-diindonesia/ [3] http://jariksumut.wordpress.com/2007/08/31/membentuk-masyarakat-madani-yang-demokratisharmonis-dan-partisifatif/ [4] Dr. M. Din Syamsuddin. Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Madani, (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 2000), hlm. 95. [5] Suryanti. Pendidikan Kewarganegaraan, (Surakarta: PT Bina Sarana Edukasi, 2007), hlm. 28. [6] http://news.okezone.com/read/2009/11/30/339/280245/dpr-jangan-main-main-fdalam-angket-century [7] Dr. Masykur Hakim dan Drs. Tanu Widjaya,M.A. Model Masyarakat Madani, (Jakarta : Intimedia Cipta Nusantara, 2003), hlm. 66.
[8] [9]

Bambang Suteng, dkk. Pendidikan Kewarganegaraan, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2007), hlm.38. Tim Ekspresi. Pendidikan Kewarganegaraan, (Kartasura: CV. Media Karya Putra, 2007), hlm.36. [10] http://rivafauziah.wordpress.com/2007/06/02/masyarakat-madani-dialog-islam-dan-modernitas-diindonesia/ [11] http://delanoprasetyo.blogspot.com/2008/02/perkembangan-masyarakat-madani-di.html [12] Tim Ekspresi. Pendidikan Kewarganegaraan, (Kartasura: CV. Media Karya Putra, 2007), hlm.36.