Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENGELOLAAN KESEHATAN HEWAN DAN LINGKUNGAN

PENGENALAN BERBAGAI BANGSA TERNAK TROPIS

Disusun oleh: Kelompok 7 Fredi Praja Himawan Adam Kustiadi Nugraha Sistha Pangastuti Khusnul Khotimah Fitriah Idris Nadia Nur Hasreena B04090124 B04100154 B04100195 B04100200 B04100201 B04108009

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

BAB I. PENDAHULUAN Latar Belakang Domba merupakan ternak yang bermanfaat bagi kepentingan manusia yaitu sebagai bahan pangan sumber protein hewani. Domba Garut, domba Ekor Tipis dan domba Ekor Gemuk sangat berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai karakteristik morfometrik berdasarkan ukuran (size) dan bentuk (shape) tubuh pada domba Garut, domba Ekor Tipis dan domba Ekor Gemuk serta menduga bobot badan berdasarkan ukuran- ukuran linear tubuh. Domba termasuk ternak penghasil daging yang sangat potensial. Peluang pasar untuk domba di dalam negeri sangat terbuka lebar hal ini terlihat dari permintaan akan domba cukup tinggi. Potensi pasar ini akan terus berkembang sejalan dengan pesatnya pertambahan penduduk (saat ini penduduk di Indonesia telah mencapai 225 juta orang dan diproyeksikan akan mencapai 234 juta orang pada tahun 2010), di samping itu peningkatan pendapatan, peningkatan kesadaran akan pentingnya gizi asal protein hewani, dan kesadaran masyarakat akan pentingnya domba untuk meningkatkan kecerdasan balita ini berdampak pada peningkatan permintaan akan domba di dalam negeri Domba lokal merupakan domba asli Indonesia yang mempunyai daya adaptasi yang baik terhadap iklim tropis, makanan yang kualitasnya rendah, penyakit dan gangguan caplak, sumber gen yang khas, produktif dipelihara dengan biaya rendah serta dapat beranak sepanjang tahun. Jenis domba lokal yang ada di Indonesia ada tiga jenis yaitu domba ekor tipis (DET), domba ekor gemuk (DEG), dan domba Priangan atau yang dikenal dengan domba Garut. Asal usul domba ini belum diketahui dengan pasti, namun diduga berasal dari India dan domba ekor gemuk berasal dari Asia Barat.

Tujuan Mahasiswa harus mengetahui ciri khas morfologi, sejarah pengembangan, distribusi geografis, kemampuan produksi, serta keunggulan atau kelemahan bangsa ternak domba ekor tipis.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA Sumberdaya genetik ternak dihadapkan pada dua tantangan yang saling bertolak belakang yaitu pemanfaatan ternak unggul eksotis untuk memenuhi kebutuhan daging dan susu, sementara disisi lain sumberdaya genetik ternak lokal terus berkurang. Permintaan produksi asal ternak terus meningkat di negaranegara sedang berkembang. FAO memperkirakan kebutuhan daging akan

meningkat dua kali lipat pada tahun 2030 dibandingkan dengan kebutuhan pada tahun 2000 dan kebutuhan susu meningkat menjadi lebih dari dua kali lipat. Selain itu, ada kecenderungan penggunaan ternak unggul eksotis untuk mencapai target produksi ternak secara maksimal sehingga perhatian terhadap

pengembangan ternak lokal termarjinalkan. Dampak negatif peningkatan ternak unggul eksotis adalah penurunan populasi sumberdaya genetik ternak lokal secara cepat terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Salah satu komoditas kekayaan plasma nutfah nasional di sub sektor peternakan adalah ternak kambing. Kambing menyebar di berbagai daerah

dengan iklim yang berbeda dan terpisah dalam jangka waktu yang lama. Faktor lingkungan dan perlakuan seleksi yang sangat bervariasi mengakibatkan laju perubahan genetik yang sangat beragam. Di Asia Tenggara khususnya di Indonesia, ternak kambing memegang peranan penting pada petani ternak kecil untuk meningkatkan pendapatan dan juga sebagai sumber daging, pupuk, pengoptimalan tenaga kerja keluarga dan status sosial serta dibutuhkan dalam aspek budaya (Subandriyo 2008). Hampir 99% ternak ruminansia kecil di Indonesia merupakan skala usaha ternak kecil (Soedjana 2008). Kontribusi ternak ruminansia kecil dalam usahatani sangat berperanan penting. Ternak kambing dapat mengkonversi hijauan berkualitas rendah menjadi protein hewani, sebagai sumber pupuk kandang serta sebagai tabungan. Usaha tani ternak kambing merupakan bagian dari sistem usaha tani secara umum di Indonesia. Sampai saat ini, tampilan morfologi masih umum digunakan secara praktis untuk mengkarakterisasi dan menyeleksi ternak. Penampilan morfologi ini banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan luar seperti ketersediaan pakan dan iklim. Hal ini menjadikan seleksi ternak berdasarkan morfologi membutuhkan waktu lebih lama.

BAB III. PEMBAHASAN Ciri khas morfologi domba ekor tipis Domba ekor tipis memiliki ciri-ciri bulu badan berupa wool kasar yang berwarna putih atau cokelat gelap, terdapat belang-belang hitam di sekitar mata, hidung atau bagian lainnya. Jantannya memiliki tanduk melingkar, sedangkan betinanya umumnya tidak bertanduk. Badannya yang kecil juga disertai dengan ekor relatif kecil, tidak berlemak dan tipis. (Mulyaningsih 1990) Dewasa kelamin adalah keadaan ternak domba atau kambing yang sudah memasuki masa birahi yang pertama kali dan sudah siap melaksanakan proses reproduksi untuk menghasilkan keturunan. Pada fase ini, alat reproduksi sudah mulai berfungsi. Fase dewasa kelamin ini umumnya telah dicapai pada saat domba atau kambing berumur 6-8 bulan, baik pada yang jantan maupun yang betina. Pada masa dewasa kelamin, domba atau kambing tidak boleh dipaksa melakukan perkawinan, terutama terhadap domba atau kambing betina yang tidak birahi. Domba atau kambing yang dipaksa kawin sebelum birahi kemungkinan akan melahirkan anak yang cacat, proses kelahirannya sulit karena keadaan pinggul masih sempit, risiko kematian pada induk saat melahirkan tinggi, induk yang melahirkan menjadi kerdil, dan sebagainya. (Prihatman 2000) Domba ekor tipis jantan yang memiliki bobot badan 20,24 kg, panjang badan 51,00 cm, lingkar dada 55,90 cm, lebar pinggul 12,10 cm, lebar dada 13,50cm, tinggi badan 51,17 cm, tinggi pinggul 49,76 cm, dalam dada 24,43 cm dan panjang pinggul 15,09 cm. Ukuran tubuh seperti dalam dada, tinggi pundak, lebar pinggul. tinggi pinggul, lingkar dada dan lebar dada pada domba ekor tipis, domba ekor gemuk dan domba Merino lebih rendah dibandingkan domba garut. (Tirtosiwi 2011) Sejarah pengembangan domba ekor tipis Domba adalah mamalia yang termasuk pertama kali dijinakkan dan dijadikan sebagai hewan ternak oleh manusia. Literatur menyebutkan bahwa mula diternakkan pertama kali sekitar 9000-11000 tahun yang lalu

di Mesopotamia. Pada saat ini kelangsungan hidup domba sangat tergantung pada manusia, dikarenakan mereka sudah berevolusi sebagai hewan ternak dan tidak hidup liar di alam lagi (Bambang 1993) Domba yang kita kenal sekarang merupakan hasil domestikasi manusia yang sejarahnya diturunkan dari 3 jenis domba liar, yaitu Mouflon (Ovis muslimon) yang berasal dari Asia Tenggara, Urial (Ovis vignei) yang berasal dari Asia. Awalnya domba disimpan hanya untuk daging, susu, dan kulitnya. Bukti arkeologis dari patung-patung ditemukan bahwa domba diambil tambutnya (wol) sejak 6000 M. Tetapi pakaian bulu domba tenun yang paling awal hanya sudah dibubuhi tanggal sampai 2 sampai 3 ribu tahun yang lalu (Peternak 2009) Sebanyak satu dari beberapa jenis domba adalah domba ekor tipis. Domba ekor tipis dikenal sebagai domba asli Indonesia serta berkembang di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Domba ini berukuran sangat kecil dan lambat dewasa sehingga dagingnya relatif sedikit. Berat badan domba jantan 30-40 kg dan domba betina 15-20 kg. Warna rambutnya putih dominan dengan warna hitam di seputar mata, hidung, dan beberapa bagian tubuh lain. Domba jantan memiliki tanduk kecil dan melingkar sedangkan domba betina tidak bertanduk. Keunggulan domba ini adalah sifatnya yang prolifik, karena mampu melahirkan kembar (2-5 ekor setiap kelahiran). (Ridwan 2010) Distribusi geografis domba ekor tipis Di Indonesia sentra peternakan domba berada di daerah Aceh dan Sumatra Utara. Di Aceh pada tahun 1993 tercatat sekitar 106 ribu ekor domba, sementara di Sumatera Utara sekitar 95 ribu ekor domba yang diternakan. Lahan yang digunakan untuk berternak di daerah Aceh berdasarkan data Puslit Tanah dan Agroklimat Deptan tahun 1979, seluas 5,5 juta hektar mulai dari kemampuan kelas I sampai VIII, sedangkan di Sumatera Utara luas lahan yang digunakan sekitar 7 juta hektar. (Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas, 2008) Sekitar 80% populasi domba ekor tipis ada di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Kemampuan produksi domba ekor tipis Salah satu keunggulan domba ekor tipis adalah sifatnya yang prolifik, karena mampu melahirkan anakan kembar, yakni 2 - 5 ekor setiap kelahiran. (Sodiq 2008)

Keunggulan dan kelemahan Keunggulan daging domba merupakan sumber protein dan lemak hewani. Walaupun belum memasyarakat, susu domba merupakan minuman yang bergizi. Manfaat lain dari berternak domba adalah bulunya dapat digunakan sebagai industri tekstil serta kulitnya yang dapat dijadikan kerajinan. Kekurangan domba ekor tipis yaitu proses penggemukkan ternak ini membutuhkan waktu yang cukup lama.

BAB 1V. KESIMPULAN Domba ekor tipis merupakan hewan ternak yang memiliki banyak keunggulan dalam dunia peternakan, hanya saja dalam pemeliharaannya membutuhkan kondisi iklim yang sesuai dengan kondisi fisiologis domba ekor tipis.

DAFTAR PUSTAKA Ridwan. 2010. Jenis-jenis Hewan Ternak Domba. [terhubung http://www.kambingakikah.com (30 September 2013) berkala]

Peternak. 2009. Domba. [terhubung berkala] http://www.infoternak.com (30 September 2013) Mahmilia F, Tarigan A. 2004. Karakteristik morfologi dan performans Kambing Kacang, Kambing Boer dan persilangannya. Prosiding Lokakarya Nasional Kambing Potong: Kebutuhan Inovasi mendukung Agribisnis yang

berdayasaing Bogor, 6 Agustus 2004. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Murtidjo, Bambang A. 1993. Memelihara Domba. Yogyakarta: Kanisius. Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan

Sodiq, Akhmad & Zainal Abidin. 2008. Sukses Menggemukan Domba. Jakarta: PT. AgroMedia Pustaka.

Soedjana TD. 2008. Goat Development in Indonesia. In: International Seminar on Dairy and Meat goat production, Bogor August 5-6, 2008. Bogor. Subandriyo. 2004. Strategi Pemanfaatan Plasma Nutfah Kambing Lokal dan Peningkatan Mutu Genetik Kambing di Indonesia. Lokakarya Nasional Kambing Potong, Bogor 6 Agustus 2004. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Tirtosiwi, Betari Umi. 2011. Ukuran & Bentuk Tubuh Serta Pendugaan Bobot Badan Domba Garut, Domba Ekor Tipis, dan Domba Ekor Gemuk, Skripsi. Peternakan, Prihatman, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Institut Pertanian Bogor Kemal. 2000. Budidaya Ternak Domba. Jakarta: Proyek Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan

Pengembangan

Ekonomi Masyarakat pedesaan.