Anda di halaman 1dari 24

TUGAS KELOMPOK BELAJAR DAN PEMBELAJARAN Untuk Memenuhi Persyaratan Mengikuti Salah Satu Mata Kuliah Diampu oleh

Prof. Dr. H. Karwono, M.Pd Teori Belajar Behavioristik

Disusun Oleh: Jepfri Tambunan Viani sari Ria okta sari Eka puspita sari Agnes tiara putri Apri liliani Eko suci Ariyanto (10211579) (10211601) (10211767) (10211556) (10211525) (10211532) (10211558)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO TAHUN 2011

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah makalah yang berjudul Teori Belajar Behavioristik dengan kerja sama yang baik. Dalam kesempatan ini penulis tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Serta ucapan terima kasih kepada Prof. Dr. H. Karwono. M. Pd selaku pembimbing ( Tim Dosen Pengajar ) pada mata kuliah ini. Penulis merasa bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangannya, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat berguna bagi semua pihak untuk kemajuan dalam bidang pendidikan dan menambah pengetahuan serta dapat menambah meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Amin.

Metro, 30 September 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR................................................................................... DAFTAR ISI................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN............................................................................. A. Latar belakang........................................................................................... B. Rumusan Masalah...................................................................................... C. Tujuan dan mamfaat pembelajaran .......................................................... BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 1.Menjelaskan pengertian belajar menurut pandangan behaviorisme........... 2.Membahas teori pembelajaran menurut Psikologi behaviorisme............... 3.Membahas kasus belajar/aplikasi pembelajaran......................................... BAB III PENUTUP....................................................................................... A. Kesimpulan................................................................................................ B. Saran.......................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... i ii 1 1 1 1 2 2 4 19 22 22 22 23

BAB I

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang paling penting dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri dalam proses perubahan perilaku yang disebabkan oleh pengalaman. Dalam dunia pendidikan belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar. Melalui belajar seseorang dapat memahami sesuatu konsep yang baru, dan atau mengalami perubahan tingkah laku, sikap, dan ketrampilan. Perubahan perilaku tersebut dapat berupa perubahan yang tidak nampak yaitu dapat berupa bertambahnya pengetahuan maupun yang nampak yaitu dapat berupa kemampuan psikomotorik dan afektif. Perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan bukan dinyatakan sebagai hasil belajar pada waktu lahir tiap individu tidak memiliki karakteristik tertentu seperti refleksi dan respon terhadap kelaparan namun manusia selalu belajar setiap hari belajar untuk makan, berbicara, berjalan dan lain-lain. Anak yang merasa ketakutan ketika berjalan sendiri pada malam hari merupakan hasil dari belajar anak telah belajar menghubungkan kegelapan dengan suatu keadaan yang menyeramkan. Reaksi ini dapat diperoleh secara tidak sadar maupun secara sadar dan juga dapat diperoleh dari hasil belajar. Dalam makalah ini akan dipaparkan pengertian belajar dan kasus belajar berdasar teori belajar behavioristik. B. Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran behaviorisme ? 2. Bagaimana teori behaviorisme ? belajar menurut pandangan psikologi

3. Kasus belajar/aplikasi bagaimana dalam pembelajaran ? C. Tujuan dan mamfaat pembahasan Tujuan : 1. Supaya kita pendidikan mampu menerapkan teori-teori belajar dalam

2. Mengkaji implikasi dan teori-teori tersebut Mamfaat :

1. Mengkaji ilmu pendidikan khususnya dalam memahami impliksi pendidikan pembelajaran prinsip-prinsip pembelajaran dan perkembangan teori pembelajaran. 2. Bagi para pendidik agar pendidikan tidak salah persepsi tentang pendidikan, pembelajaran, dan pengajaran serta dapat menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran dan teori pembelajaran sesungguhnya. 3. Bagi mahasiswa dapat memahami perkembangan teori pembelajaran. tentang pengertian dan

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Teori Belajar 1. Teori Behaviorisme

Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gagne dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik memandang individu hanya dari sisi jasmaniah, dan mengabaikan aspek aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih siswa sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pembelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. Dapat dijelaskan kembali, stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi

penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R (stimulusRespon). Teori Behavioristik: 1. Mementingkan faktor lingkungan 2. Menekankan pada faktor bagian 3. Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif. 4. Sifatnya mekanis 5. Mementingkan masa lalu Pendidikan behaviorisme merupakan kunci dalam mengembangkan keterampilan dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang subjek dan manajemen kelas. Ada ahli yang menyebutkan bahwa teori belajar behavioristik adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Ciri dari teori behaviorisme adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar. Dalam hal konsep pembelajaran, proses cenderung pasif berkenaan dengan teori behavioris. Pelajar menggunakan tingkat keterampilan pengolahan rendah untuk memahami materi dan material sering terisolasi dari konteks dunia nyata atau situasi. Little tanggung jawab ditempatkan pada pembelajar mengenai pendidikannya sendiri. 2. Prinsip-Prinsip dalam Teori Belajar Behavioristik

Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik yang dianggap menjadi faktor penting, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of Responses. Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pembelajar dalam berperilaku. Prinsip Prinsip Belajar : a. Reinforcement and Punishment

Konsekuansi yang menyenangkan akan memperkuat perilaku disebut penguatan (reinforcement) sedangkan konsekuansi yang tidak menyenangkan akan memperlemah perilaku disebut hukuman (punishment) 1) Penguatan positif dan negative Pemberian stimulus positif yang diikuti respon disebut penguatan positif misalnya memuji siswa setelah dapat merespon pertanyaan guru. Sedangkan mengganti peristiwa yang dinilai negative untuk memperkuat perilaku disebut penguatan negative, misalnya apabila mahasiswa dapat mengerjakan tugas dengan sempurna maka diperbolehkan tidak mengikuti mid semester. 2) Penguatan primer dan sekunder Penguat primer adalah penguatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan fisik seperti air, makanan, udara, dan lain-lain. Sedangkan penguatan sekunder adalah penguatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan non fisik seperti pujian, pangkat, uang dan sejenisnya. Dalam pembelajaran Skinner menyatakan bahwa pemberian hadiah lebih efektif dalam merubah perilaku seseorang daripada menggunakan hukuman b. Kesegeraan pemberian penguatan (immediacy) Penguatan hendaknya diberikan segera setelah perilaku muncul karena akan menimbulkan perubahan perilaku yang jauh lebih baik dari pada pemberian penguatan yang diulur-ulur waktunya 1) Pembentukan perilaku (shapping) Menurut Skinner untuk membentuk perilaku seseorang diperlukan langkah-langkah sebagai berikut : Mengurai perilaku yang akan dibentuk menjadi tahapa-tahapan yang lebih rinci Menentukan penguatan yang akan digunakan Penguatan diberikan terhadap perilaku yang mekin dekat dengan perilaku yang akan dibentuk. 2) Kepunahan (extinction) Apabila respon yang telah terbentuk tidak mendapat penguatan lagi dalam waktu tertentu maka akan mengalami kepunahan perilaku misalnya siswa harus meletakkan sandal didalam loker setiap kali mau masuk kelas, suatu ketika siswa tidak meletakkan sandal didalam loker sampai beberapa kali dan tidak ditegur maka setelah itu siswa tidak akan pernah meletakkan sandal didalam loker. B. Membahas teori behaviorisme belajar menurut pandangan psikologi

Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike,Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik. a.1 Teori Belajar Menurut Thorndike

Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000). Ada tiga hukum belajar yang utama, yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991). Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon. a.2 Teori Belajar Menurut Watson Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur. a.3 Teori Belajar Menurut Clark Hull Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991). a.4 Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku

seseorang. Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Siswa harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991). a.5 Tori Belajar Menurut Skinner Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensikonsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuaensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengmukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya. Asas pengkondisian B.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an, pada waktu keluarnya teori S-R. model kondisian klasik dari Pavlov telah memberikan pengaruh yang kuat pada pelaksanaan penelitian. Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur. Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya. Bukan begitu, banyak tingkah laku menghasilkan perubahan atau konsekuensi pada lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap organisme dan dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti. Tidak seperti halnya teoritikus-teoritikus S-R lainnya, Skinner menghindari kontradiksi yang ditampilkan oleh model kondisioning klasik dari Pavlov dan kondisioning instrumental dari Thorndike. Ia mengajukan suatu paradigma yang mencakup kedua jenis respon itu dan berlanjut dengan mengupas kondisi-kondisi yang bertanggung jawab atas munculnya respons atau tingkah laku operan. Kondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi. Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning operan). Ada 6 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E. Bell Gredler, hlm 122). Asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut: 1. Belajar itu adalah tingkah laku. 2. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.

3. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama. 4. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku. Menurut Skinner (J.W. Santrock, 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment).Penguatan dan Hukuman. Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Menurut Skinner penguatan berarti memperkuat, penguatan dibagi menjadi dua bagian yaitu : a. Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding) . Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb). b. Penguatan negatif, adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll). Satu cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan penguatan negatif adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan. Adalah mudah mengacaukan penguatan negatif dengan hukuman. Agar istilah ini tidak rancu, ingat bahwa penguatan negatif meningkatkan probabilitas terjadinya suatu prilaku, sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku. Skinner menggambarkan praktek tugas dan ujian sebagai suatu contoh menempatkan pelajar yang manusia itu dalam kontigensi terminal juga. Skinner menyarankan penerapan cara pemberian penguatan komponen tingkah laku seperti menunjukkan perhatian pada stimulus dan melakukan studi yang cocok terhadap tingkah laku. Hukuman harus dihindari karena adanya hasil sampingan yang bersifat emosional dan tidak menjamin timbulnya tingkah laku positif yang diinginkan. Analisa yang dilakukan Skinner tersebut diatas meliputi peran penguat berkondisi dan alami, penguat positif dan negative, dan penguat umum. Dengan demikian beberapa prinsip belajar yang dikembangkan oleh Skinner antara lain:

Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.

Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri. Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Namun ini lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan Hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforce sebagainya.

Adanya Jadual Pemberian Penguatan : 1. Continuous Reinforcement Penguatan diberikan secara terus-menerus setiap permunculan respons atau perilaku yang diharapkan. Contoh, setiap anak mau mengerjakan PR ( meskipun banyak yang salah ), orang tua selalu menghilangkan kritikan ( memberikan penguat negatif ). Setiap anak sering bertnya kepada orang tuanya, orang tua menanggapi dan selalu mengarahkan yang baik kepada anaknya ( memberikan penguat positif ) 2. Partial Reinforcement Jadwal Ratio Tetap ( fixed interval schedule FR ), yaitu pemberian penguatan berdasarkan frekuensiatau jumlah respon/tingkah laku tertentu secara tetep. Contoh : kata ibu, Jika Andi mampu menjadi peringkat pertama dikelas, ibu akan membelikan handphone ibu merasa senang tanpa mempedulikan seberapa besar biaya yang dikeluarkan. Si anak mampu mendapat rangking kelas ( jumlah perilaku tetap yang diharapkan ) dan mendapat hadiah handphone ( merupakan satu penguatan ). Dalam pembelajaran, pelaksanaan penguatan ini dapat ditingkatkan jumlah perilakunya secara bertahap, masalnya meningkat mulai peringkat ketiga (FR-5) menjadi peringkat kedua sehingga mampu beroleh satu penguatan (FR-5). Akhirnya peserta didik mampu mandapat peringkat baik dengan satu penguatan atau bahkan tanpa adanya penguatan. Jadwal Interval Tetap ( Fixed Interval Schejule-FI ), pemberian penguatan berdasarkan jumlah waktu tertentu secara tetap. Jika dalam FR, jumlah perilakunya tetap. Contoh : ini sangat cock digunakan seorang ibu untuk melatih anak kecilnya agar mengurangi kebiasaan makan atau minum susu berlebih. Ibu berkata pada susternya, si Badu hanya diberikan susu setiap satu jam sekali. Jadi, meskipun si Badu menangis, karena belum 1 jam, suster tidak boleh memberikan susu. Minum susu 1 jam ( perilaku yang diharapkan ) dan pemberian susu oleh suster ( penguatan yang diberikan ). Jumlah waktu yang ditingkatkan menjadi setiap 2 jam (FI-2), 3 jam (FI-3), sampai akhirnya menjadim 4 sekali (FI-4). Jadwal Rasio Variabel (Variabel Ratio Schejule-VR), pemberian penguatan berdasarkan perilaku, tetapi jumlah perilakunya tidak tetap. Jadi, penguatan tetap diberikan untuk perilakuyang diharapkan, tetapi jumlah perilakunya tidak tetap. Contoh

paling tepat adalah permainan anak-anak denga cara memasukan koin ke mesin untuk mendapatkan hadiah. Anak tersebut tidak tahu pada perilaku memasukan koin yang ke berapa kali, baru memperoleh hadiah. Contoh dalam pembelajaran adalah guru akan memberi nilai tambahan setiap peserta didik (dari 40 peserta di kelas) yang menjawab benar. Peserta didik akan mencoba menjawab benar berkali-kali karena jawabvan belum tentu benar (perilaku menjawab benar berkali-kali-VR) dan tambahan nilai (penguat-VR). Jadwal Interval Variabel (Variabel Interval Schejule-VI), pemberian penguatan pada suatu perilaku, tetapi jumlah waktunya tidak tetap yaitu tidak sapat ditentukan kapan waktunya. Jika dalam VR, jumlah perilakunya tetap. Dalam VI, jumlah waktunya tidak tetap. Contoh guru secara acak melakukan pemeriksaan secara keliling di kelas terhadap pekerjaan peserta didik yang menjawab benar dan guru memberikan pujian setiap menemukan jawaban benar peserta didik. Peserta didik tidak tahu kapan guru menghampiri dan melihat pekerjaannya jika jawabannya benar. Karena peserta didik tidak tahu kapan guru menghampiri, peserta didk tersebut selalu berusaha mengerjakan dengan benar setiap saat (perilaku-VI) dan guru yang sempat menghampiri dan memberikan pujian pada waktu yang tidak tetap (penguat-VI) 3. Keefektifan Hukuman Hukuman hendaknya diberikan untuk perilaku yang sesuai. Terkadang hukuman diberikan terlalu berat, terlalu ringan, bahkan bentuk hukuman yang tidak ada kaitannya denga perilaku yang ingin dihilangkan. Contoh : Peserta didik yang terlambat masuk sekolah harus keliling lapangan 20 kali (hukuman tidak sesuai), mungkin hukuman yang cocok, peserta didik di berikan PR yang lebih banyak dari pada temannya atau keliling lapangan cukup 5 kali saja dan lain-lain. Analisis Tentang Teori Behavioristik Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang siswa dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997) Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner. Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.

Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi siswa, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut. Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang berpengaruh yang mempengaruhi proses belajar. Jadi teori belajar tidak sesederhana yang dilukiskan teori behavioristik. Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi siswa untuk berpikir dan berimajinasi. Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu: 1) Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara. 2) Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama. 3) Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya. Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang siswa perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika siswa tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan siswa (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong siswa untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons. C. Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran Siswa 1) Pengembangan Perilaku Perspektif Teori belajar Behavioristik Prosedur-prosedur pengembangan tingkah laku baru

Di samping penggunaan reinforcement untuk memperkuat tingkah laku, ada dua metode lain yang penting untuk mengembangkan pola tingkah laku baru yakni shaping dan modelling. Shaping Kebanyakan yang diajarkan di sekolah adalah urutan tingkah laku yang kompleks, bukan hanya simple response. Tingkah laku yang kompleks ini dapat diajarkan melalui proses shaping atau successive approximations (menguatkan komponen-komponen respon final dalam usaha mengarahkan subyek kepada respon final tersebut), beberapa tingkah laku yang mendekati respon tersekolahnal. Bila guru membimbing siswa menuju pencapaian tujuan dengan memberikan reinforcement pada langkah-langkah menuju keberhasilan, maka guru itu menggunakan teknik yang disebut shaping. Reinforcement dan extinction merupakan alat agar terbentuknya tingkah laku operant baru.

Frazier dalam (Sri Esti,2006: 139) menyampaikan penggunaan shaping untuk memperbaiki tingkah laku belajar. Ia mengemukakan lima langkah perbaikan tingkah laku belajar murid antara lain: Datang di kelas pada waktunya . Berpartisipasi dalam belajar dan merespon guru. Menunjukkan hasil-hasil tes dengan baik. Mengerjakan pokerjaan rumah. Penyempurnaan. Hasil dari lima komponen untuk memperbaiki tingkah laku menunjukkan bahwa kehadiran masuk sekolah bertambah setelah beberapa bulan. Yang lebih penting lagi ialah para siswa menjadi lebih bisa bekerja sama di kelas dan menggunakan waktu belajar mereka lebih efektif. Modelling. Modelling adalah suatu bentuk belajar yang dapat diterangkan secara tepat oleh classical conditioning maupun oleh operant conditioning. Dalam modelling, seorang individu belajar menyaksikan tingkah laku orang lain sebagai model. Tingkah laku manusia lebih banyak dipelajari melalui modeling atau isekolahtasi, sehingga kadang-kadang disebut belajar dengan pengajaran langsung. Pola bahasa, gaya pakaian, dan musik dipelajari dengan mengamati tingkah laku orang lain. Modelling dapat terjadi, baik dengan direct reinforcement maupun dengan vicarious reinforcement. Sekolahsalnya, seseorang yang menjadi idola kita menawarkan produk tertentu di layar TV. Kita akan merasa senang jika bisa memakai produk serupa. Sangat mungkin kita belajar meniru karena di-reinforced untuk melakukannya. Hampir sebagian besar anak mempunyai pengalaman belajar pertama termasuk reinforcement langsung dengan meniru model (orang tuanya). Hal yang biasa jika kita mendengar bahwa anak kita dengan bangga mengatakan, bahwa dia telah mengerjakan sebagaimana yang telah dikerjakan orang tuanya. Modelling juga dapat dipakai untuk mengajarkan ketrampilan-ketrampilan akadesekolahs dan motorik.

Clarizio (1981) memberi contoh bagus tentang bagaimana guru menggunakan modelling untuk mengembangkan sekolahnat murid-murid terhadap literatur bahasa Inggris. la memberi contoh membaca buku bahasa Inggris kadang-kadang tertawa terbahak-bahak, tersenyum, mengerutkan dahi dan sebagainya, untuk membangkitkan sekolahnat anak terhadap buku itu. Modelling bisa diterapkan di SEKOLAH dengan mengambil guru maupun orang lain atau anak lain yang sebaya sebagai model dari suatu tingkah laku, mungkin pelajaran akidah akhlak, Quran Hadits, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan lain-lain. Berkaitan dengan pengajaran keterampilan motorik dan akadesekolahs. Suatu sekolahsal siswa diajak ke suatu tempat di mana terdapat sesuatu yang bisa ditiru oleh anak atau menghadirkan model tersebut ke dalam kelas/ sekolah. 2) Prosedur-prosedur Pengendalian atau Perbaikan Tingkah Laku. Memperkuat Tingkah Laku Bersaing Dalam usaha merubah tingkah laku yang tak diinginkan diadakan penguatan tingkah laku yang diinginkan sekolahsalnya dengan kegiatan kegiatan kerjasama, membaca dan bekerja di satu meja untuk mengatasi kelakuan-kelakuan menentang, melamun, dan hilir mudik. Sekolahsalnya, sekelompok siswa sekolah memperlihatkan tingkah laku yang tidak diinginkan, yaitu menarik rambut, mengabaikan perintah guru, berkelahi, berjalan sekeliling kelas. Sesudah menerapkan aturan-aturan kelas kepada siswa, guru melupakan atau mengabaikan tingkah laku siswa yang mengacau dan memuji tingkah laku siswa yang memberi kesempatan guru untuk mengajar. Dalam beberapa waktu, social reinforcement untuk tingkah laku yang tepat mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan. Ekstingsi Ekstingsi ialah proses di mana suatu operant yang telah terbentuk tidak mendapat reinforcement lagi. Ekstingsi dilakukan dengan membuat/meniadakan peristiwa-peristiwa penguat tingkah laku. Ekstingsi dapat dipakai bersama-sama dengan metode lain seperti modelling dan social reinforcement. Sekolahsalnya, Ana salah seorang siswi kelas tiga SEKOLAH selalu mengacungkan tangan ketika guru mesekolahnta para siswa untuk menjawab pertanyaan. Tetapi guru tidak memberikan perhatian pada Ana yang ingin menjawab pertanyaan gurunya tersebut. Suatu ketika Ana tidak mau lagi mengacungkan tangan ketika guru mesekolahnta para siswa untuk menjawab pertanyannya meskipun ia bisa menjawabnya. Guru-guru sering mengala di sekolah kesulitan mengadakan ekstingsi karena mereka harus belajar mengabaikan sekolahsbehaviors tertentu. Tentu saja ada jenis-jenis tingkah laku yang tidak dapat diabaikan oleh guru-guru terutama tingkah laku yang menyinggung perasaan murid-murid. Ekstingsi berlangsung terutama jika reinforcement adalah perhatian. Apabila murid memperhatikan ke sana ke mari, maka perubahan interaksi guru murid akan menghentikan tingkah laku murid tersebut. Satiasi Satiasi adalah suatu prosedur menyuruh seseorang melakukan perbuatan berulang-ulang sehingga ia menjadi lelah atau jera. Contoh: seorang ayah yang memergoki anak kecilnya

merokok menyuruh anak merokok sampai habis satu pak sehingga anak itu bosan. Krumboltz dan Krumboltz (1972) menyatakan jika tingkah laku yang diulang berbeda dengan tingkah laku yang tidak diinginkan maka satiasi tidak tepat. Yang tepat adalah menerapkan metode disiplin seperti menulis 100 kali. Guru sebaiknya mencoba memperkuat tingkah laku yang tepat untuk menggantikan tingkah laku yang tidak diinginkan. Perubahan Lingkungan Stimuli Beberapa tingkah laku dapat dikendalikan oleh perubahan kondisi stimuli yang mempengaruhi tingkah laku itu. Jika murid terganggu oleh suara gaduh di luar kelas, ketukan jendela dapat menghentikan gangguan itu. Jika suatu tugas yang sulit mengecewakan murid, maka guru dapat mengganti dengan tugas yang kurang begitu sulit. Jika di kelas ada dua orang murid yang termenung saja, guru dapat menghampiri atau duduk di dekat mereka. Hukuman Untuk memperbaiki tingkah laku, hukuman hendaknya diterapkan di kelas dengan bijaksana. Hukuman dapat mengatasi tingkah laku yang tak diinginkan dalam waktu singkat, untuk itu perlu disertai dengan reinforcement. Hukuman menunjukkan apa yang tak boleh dilakukan murid, sedangkan reward menunjukkan apa yang mesti dilakukan oleh murid. Bukti menunjukkan, bahwa hukuman atas kelakuan murid yang tak pantas lebih efektif daripada tidak menghukum. Ada dua bentuk hukuman :

Pemberian stimulus derita, sekolahsalnya: bentakan, cemoohan, atau ancaman. Pembatalan perlakuan positif, sekolahsalnya: mengambil kembali suatu mainan atau mencegah anak untuk bermain-main bersama teman-temannya. Harus kita ingat dalam memberikan hukuman, bahwa hukuman sering tidak disetujui oleh kelompok teman sebaya. Sia-sialah guru menghukum seorang anak jika temantemannya kelihatan tidak setuju terhadap hukuman itu. Hukuman hendaknya dilaksanakan Iangsung, secara kalem, disertai reinforcement dan konsisten. 3) Langkah-langkah Dasar Modifikasi Tingkah Laku Berikut ini adalah langkah-langkah bagi guru SEKOLAH dalam mengadakan analisa dan modifikasi tingkah laku pada peserta didik: Mendefinisikan dan menyatakan secara operasional tingkah laku yang dapat diubah. Contoh, guru mendefinisikan dan menyatakan secara operasional tingkah laku yang akan diubah. Guru menulis tingkah laku khusus pada papan yang ditempelkan di kelas: (a) Saya akan tetap di tempat duduk, kecuali diberi izin untuk meninggalkannya dan (b) Saya tidak akan bicara dengan teman dan gaduh selama mengikuti pelajaran. Melakukan pengamatan terhadap frekuensi tingkah laku yang perlu diubah. Sekolahsalnya, berapa kali siswa meninggalkan tempat duduk dalam waktu satu jam atau selama pelajaran berlangsung? Guru kemudian membuat catatan rata-rata pelanggaran dari aturan yang dia buat. Dia mengacak 12 observasi yang dia lakukan selama 5 menit tiap hari dalam beberapa

hari. Ditemukan bahwa rata-rata siswa meninggalkan tempat duduk 12 kali. Bicara dengan teman selama mengikuti pelajaran rata-rata 15 kali dalam satu hari. Dan sebagainya. Menciptakan situasi belajar atau treatment sehingga terjadi tingkah laku yang diinginkan. Sebelum memulai reinforcement untuk tingkah laku yang tepat, cobalah periksa untuk menentukan apakah individu dapat mengatasi hambatan sehingga sampai pada tingkah laku yang diinginkan seperti dengan persekolahntaan verbal atau dengan mengembangkan suatu situasi di mana tingkah laku yang kita inginkan itu barangkali terjadi. Contoh, marilah anakanak kita bersihkan masjid agar bisa kita pakai untuk sholat berjamaah. Mengidentifikasi reinforcers yang potensial. Suatu stimuli tidak diperkuat secara tepat. Selain itu, apakah diperkuat pada suatu waktu tidak akan diperkuat lagi. Contoh, guru menciptakan menu dari reinforcement dengan mesekolahnta siswa untuk mengisi suatu survey reinforcement. Angket ini menanyakan tentang kegiatan yang mereka lakukan di kelas, makanan cesekolahlan yang mereka sukai, barang-barang yang mereka sukai, dan lainlain. Memperkuat tingkah laku yang diinginkan, dan jika perlu menggunakan prosedur-prosedur untuk memperlemah tingkah laku yang tidak pantas. Sekolahsalnya, guru memberi system token kepada kelas. Ia menjelaskan bagaimana setiap siswa akan mendapatkan angka setiap kali guru menangkap siswa mengikuti aturan kelas. Angka ini dicatat oleh guru pada kartu identitas dan kemudian akan dibagikan pada hari tertentu. Menyusun rekaman/ catatan tingkah laku yang diperkuat untuk menentukan kekuatankekuatan atau frekuensi respon telah bertambah. Dengan membandingkan kemajuan pada waktu perlakuan (treatment) atau pada waktu belajar pada awal atau pada pertengahan belajar, kita akan tahu apakah kemungkinan reinforcement akan mempunyai dampak pada modifikasi tingkah laku. Jika reinforcement tidak berpengaruh pada tingkah laku, kita kemudian harus menentukan mengapa hal itu terjadi kemudian membuat penyesuaian. Sekolahsalnya, guru berusaha mesekolahnimalisir tingkah laku siswa yang tidak diinginkan agar pada gilirannya tingkah laku tersebut tidak muncul sama sekali. Pengajaran Terprogram Pengajaran terprogram menerapkan prinsip-prinsip operant conditioning bagi belajar siswa di sekolah. Pengajaran ini berlangsung seperti halnya paket pengajaran diri sendiri yang menyajikan suatu topik yang disusun secara cermat untuk dipelajari dan dikerjakan oleh murid. Tiap-tiap pekerjaan murid langsung diberi feedback. Program dapat tertuang dalam buku-buku, mesin-mesin mengajar, atau komputer (Computer Asisten Instruction). Pengajaran terprogram berusaha memajukan belajar dengan Memerinci bahan pelajaran menjadi unit-unit kecil. Memaksa murid mereaksi unit-unit kecil itu. Memberitahukan hasil belajar secara langsung, dan Memberi kesempatan untuk bekerja sendiri. Ada bermacam-macarn pengajaran terprogram, antara lain : :

Program linear: program ini dikembangkan oleh Skinner. Penyusun Program menentukan urut-urutan kegiatan murid untuk menyelesaikan program. Tiap bagian program berisi perincian kecil pengetahuan. Program intrinsik atau branching program: Program ini dikembangkan oleh Croder. Dalam program ini respon-respon murid menentukan rute atau arah kegiatan murid-murid menentukan rute atau arah kegiatan murid itu. Rute-rute alternatif disebut branches yang merupakan prediktor-prediktor permasalahan yang akan memperbaiki respon murid, Crowder menggunakan peryataan-pernyataan pilihan ganda. Dalam pengajaran terprogram ada tiga kelakuan pokok murid dalam belajar, yaitu review, under-lining, dan note taking. Beberapa kriteria terhadap metode pengajaran terprogram, antara lain : kurang mengembangkan kreatifitas, kurang memberi pengalaman humanisasi, kurang memberi kesempatan untuk merespon dengan berbagai aktivitas. 4) Program Pengajaran Individual Prinsip-prinsip pengajaran terprogram telah diterapkan dalam program-program pengajaran individual. Program pengajaran individual telah dikembangkan pada beberapa lembaga pendidikan seperti: Program for learning in Accordance With Needs (PLAN), pada Westinghouse Corporation. Individually Guide Education (IGE), pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Belajar Kognitif Universitas Pittsburgh. Program pengajaran individual disusun dalam bentuk unit-unit belajar-mengajar dengan rumusan tujuan, bahan pelajaran, dan cara-cara untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tiap-tiap unit belajar mengajar dimulai dengan tujuan belajar yang akan dicapai oleh murid, baru kemudian aktivitas belajarnya. Aktivitas belajar terdiri atas bahan-bahan pelajaran, pertanyaan tes, dan pertanyaan-pertanyaan diskusi. Jika murid dapat menyelesaikan tes-tes dengan baik, ia melanjutkan belajar pada unit-unit berikutnya. Jika ia gagal, ia hendaknya berkonsultasi dengan guru. Bagi siswa SEKOLAH, sistem ini dipakai untuk memantau kemajuan dan performance siswa dengan selalu didampingi oleh guru terutama bagi kelas rendah di SEKOLAH. Dengan menentukan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, serta Indikator siswa diarahkan dalam kegiatan belajar atau les baik privat maupun non privat. Dalam hal ini, bisa dicontohkan homeschooling seperti marak disekolahnati masyarakat saat ini. 5) Analisa Tugas Komponen-komponen pengajaran yang penting menurut pandangan behaviorisme adalah kebutuhan akan : Perumusan tugas atau tujuan belajar secara behavioral. Membagi task menjadi subtasks. Menentukan hubungan dan aturan logis antara subtasks. Menetapkan bahan dan prosedur pengajaran tiap-tiap subtasks

Memberi feedback pada setiap penyelesaian subtasks atau tujuan-tujuan tiap kompetensi dasar. Salah satu fungsi guru yang terpenting setelah ia menentukan tujuan ialah menganalisa tugas. Analisa tugas akan membantu guru dalam membimbing belajar murid. Bagi penyusun program, analisa tugas membantu menentukan susunan bahan pelajaran dalam mesin mengajar. Perencanaan kurikulum dapat mengatur urutan unit-unit belajar. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan behavioristik adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu: a. Mementingkan pengaruh lingkungan b. Mementingkan bagian-bagian c. Mementingkan peranan reaksi d. Mengutamakan mekanisme terbentuknya melalui prosedur stimulus respon e. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya f. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan g. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan. hasil belajar teori

Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana samapi pada yang kompleks. Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan.

Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Kritik terhadap behavioristik adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru, bersifaat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. Kritik ini sangat tidak berdasar karena penggunaan teori behavioristik mempunyai persyartan tertentu sesuai dengan ciri yang dimunculkannya. Tidak setiap mata pelajaran bisa memakai metode ini, sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik. Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian. Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif , perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oelh para tokoh

behavioristik

justru

dianggap

metode

yang

paling

efektif

untuk

menertibkan siswa.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Behavioristik salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behavioristik juga memandang individu hanya dari sisi venomena jasmani dan mengabaikan aspek-aspek mental. Denga kata lain Behavioristik tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, manat, dan perasaaan individu dalam suatu belajar. Tujuan pembelajaran manurut Behavioristik ditekankan pada

penambahan penekanan, sedangkan belajar sebagai aktifitas mimentic

yang menuntut pembelajaran untuk mengungkap keembali pengetahuan yang sudah mempelajari dalam bentuk laporan kuis atau test. B. Saran Pengertian, prinsip-prinsip dan perkembangan teori pembelajaran hendaknya dipahami oleh para pendidik dan di terapkan dalam dunia pendidikan dengan benar, sehingga tujuan pendidikan akan benar-benar dapat dicapai dengan memahami berkembangnya di bangsa kita, niscaya akan menghasilkan secepatnya yang berkualitas yang mampu membentuk manusia indonesia seutuhnya.

DAFTAR PUSTAKA Trimanjuniarso.wordpress.com https://www.msu.edu/~purcelll/behaviorism%20theory.htm http://www.scumdoctor.com/psychology/behaviorism/Theory-And-Definition-OfBehaviorism.html http://www.funderstanding.com/content/behaviorism http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Belajar_Behavioristik

"http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Belajar_Behavioristik" hing ini Higher Education. London: Paul Chapman Publising Slavin, R.E. 1991. Educational Psychology. Third Edition. Boston: Allyn and Bacon Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Sixth Edition. Boston: Allyn and Bacon Anni, catharina T. (2004). Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK unnes. Sugandhi, ahmad. (2004). Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK unnes Karwono dan Mulastri, Heni. (2010). Belajar Dan Pembelajaran Serta Pemamfaatan Sumber belajar. Cadas Jaya. Ciputat