Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI ANASTESI LOKAL BLOK XX KEGAWATDARURATAN BEDAH

DESSY VINORICKA ANDRIYANA 0808015022

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2011

1. Mekanisme kerja obat anastesi, yaitu: Pusat mekanisme anastesi lokal adalah di membran sel. Potensial aksi dari sel saraf terjadi karena adanya proses depolarisasi yang ditandai sebelumnya dengan peningkatan permeabilitas membran sel terhadap ion Na+. Dalam kerjanya maka anastesi lokal memblokir penerusan impuls dengan jalan mencegah kenaikan permeabilitas membran sel terhadap ion-ion natrium yang perlu bagi fungsi sel yang layak. Dengan semakin bertambahnya efek anastesi pada sel saraf, maka pada waktu yang bersamaan ambang kepekaan terhadap rangsangan listrik lambat-laun meningkat, kecepatan potensial aksi menurun yang pada akhirnya memblokir penerusan (konduksi) impuls. Anastesi lokal meninggikan tegangan dari permukaan molekul lipid pada membran sel. Diperkirakan bahwa stabilisasi membran tersebut ion-ion kalsium memegang peranan penting yakni molekul-molekul lipofil besar dari anastetik lokal mungkin mendesak sebagian ion-ion kalsium di dalam membran sel tanpa mengambil alih fungsinya. Dengan demikian membran sel menjadi lebih padat dan stabil serta dapat lebih baik melakukan segala sesuatu perubahan dalam permeabilitas. Dengan meningginya permukaan membran sel saraf menyebabkan penghambatan dari gerak ion melalui membran. Hal ini menyebabkan penurunan dari permeabilitas membran dalam keadaan istirahat sehingga membatasi peningkatan permeabilitas Na+. Dan juga anastetik lokal ini menduduki reseptor spesifik terdapat pada kanal Na, sehingga menyebabkan blokade pada kanal tersebut, dan hal ini akan mengakibatkan hambatan gerakan ion melalui membran.

2. Pengaruh lingkungan (adanya infeksi) pada tempat yang akan diberikan obat anatesi lokal terhadap efek farmakologik obat anastesi adalah adanya infeksi pada tempat anastesi tersebut akan mengurangi pengaruh dari efek anastesi lokal, karena : Pada kondisi infeksi akut, pus merubah pH pingkungan menjadi asam. Asidosis lokal menghalangi kerja anastesi. Selain lingkungan menjadi asam, infeksi akut menyebabkan kenaikan vaskularisasi jaringan. Akibatnya anastesi menjadi tidak efektif karena larutan anastesi cepat diserap oleh pembuluh darah yang banyak tersebut.
1

3. Perbedaan obat anastesi lokal golongan ester dan amida dalam metabolisme dan potensi dalam menimbulkan alergi Perbedaan obat anastesi lokal golongan ester dan amide dalam metabolismenya yaitu pada golongan ester mengalami degradasi di dalam hati oleh esterase dan sebagian di dalam plasma. Sedangkan golongan amida akan mengalami degradasi di dalam hati tepatnya di retikulum endoplasma. Perbedaan obat anastesi lokal golongan ester dan amide dalam potensinya untuk menimbulkan alergi yaitu reaksi alergi seperti dermatitis alergik, asma, atau serangan anafilaktik dapat ditimbulkan oleh anastetik lokal golongan ester. Diperkirakan saat hidrolisis ester dihasilkan asam paraaminobenziat (PABA), yang dapat menyebabkan timbulnya reaksi alergi. Sedangkan pada golongan amida, tidak menimbulkan reaksi alergi karena amida tidak dimetabolisir menjadi PABA, namun reaksi alergi mungkin bisa terjadi dikarenakan bahan pengawet yang terdapat didalam cairan.

4. Keuntungan dan kerugian penambahan adrenalin pada obat anastesi Keuntungan : Dapat memperpanjang dan memperkuat kerja dari anastesi lokal dikarenakan efek adrenalin sebagai vasikonstriktor, dengan demikian dapat memperlambat penyerapan anastesi lokal tersebut. Dapat mengurangi kecepatan absorbs anastetik lokal sehingga dapat mengurangi juga dari efek toksisitas sistemiknya Kerugian : Dapat menimbulkan efek gelisah, takikardi, palpitasi, dan nyeri dada. Dapat menyebabkan perlambatan dari penyembuhan luka, edema, atau nekrosis setempat. Dikarenakan efek dari amin simpatomimetik menyebabkan peninggian dari pemakaian oksigen jaringan, dan dengan adanya vasokonstriksi terjadi hipoksia serta kerusakan jaringan setempat.

5. Beberapa efek samping pemberian obat lokal anastesi yaitu pada sistem saraf pusat memiliki efek mengantuk, parastesia, pusing, kedutan otot, gangguan mental, kejang, dan bisa sampai koma.
2

6. Beberapa macam cara pemberian anastesi lokal, yaitu : Anestesi permukaan pada selaput lendir mulut, faring dan saluran cerna bagian atas, dengan sediaan berbentuk krim. Anestesi infiltrasi dengan cara disuntikkan secara intradermal atau subkutan. Tujuan infiltrasi ini adalah adalah menimbulkan anstesi pada ujung saraf. Teknik yang sering digunakan adalah ring block. Perlu diperhatikan bahwa pada tekik pemberian ini tidak dianjurkan menggunakan campuran epinefrin karena dapat terjadi iskemik setempat misalnya untuk menganastesi ujung jari atau penis. Anestesi blok dengan memblokade pada saraf tunggal, seperti saraf oksipital, pleksus brakialis, dan pleksus seliakus. Cara ini dapat digunakan untuk tindakan pembedahan untuk diagnostic maupun terapi. Contoh anastesi blok ini diberikan pada anestesi spinal (blokade subaraknoid atau intra tekal), anestesi epidural, dan anestesi kaudal