Anda di halaman 1dari 4

Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT).

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pemerintah Daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus diri sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi luas kepada Daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Good Governance merupakan tuntutan yang paling aktual dalam pengelolaan administrasi publik dewasa ini. Tuntutan masyarakat terhadap pemerintah untuk menjalankan roda pemerintahan dengan baik merupakan implikasi meningkatnya pengetahuan masyarakat dalam pengaruh globalisasi. Kondisi demikian menuntut perubahan paradigma dalam pelayanan publik yang menghendaki adanya prilaku pemerintah yang lebih transparan, partisipatif dan akuntabel. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Kapuas, sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Kapuas untuk menyelenggarakan pelayanan perizinan yang prima dan satu pintu dapat sesuai prinsip dan pelayanan prima sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menpan Nomor 63 Tahun 2003 antara lain: kesederhanaan, kejelasan, kepastian waktu, akurasi keamanan, tanggung jawab, kelengkapan sarana dan prasarana, kemudahan akses, kedisiplinan, kesopanan dan keramahan serta kenyamanan. Badan ini mengambil alih proses administrasi perizinan di dinas pemerintahan Kabupaten Kapuas. Adapun tujuan pembentukan badan layanan izin terpadu ini prinsipnya bukan untuk mengekploitasinya sebagai pendongkrak Pendapatan Asli Daerah. Akan tetapi, lebih pada pengendalian pemberian izin dalam satu atap, sekaligus memangkas birokrasi plus biaya silumannya. Adapun tujuan lain terbentuknya badan ini adalah untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kapuas. Dengan adanya kemudahan dan kepastian perizinan maka akan menjadi salah satu pertimbangan para investor untuk berinvestasi di Kabupaten Kapuas. Untuk itu perlu pihak BPPT perlu memaksimalkan sistem pelayanan yang berkaitan dengan tarif dan jangka waktu dengan berkomitmen untuk memberikan kepastian bagi calon investor, baik dalam hal tarif, maupun jangka waktu proses perizinan. Salah satu caranya adalah dengan cara menerapkan standar zero gratification. BPPT harus mengoptimalkan kualitas pelayanan dan berorientasi pada kepuasan consumer (pemohon izin). Karena pelayanan yang berkualitas itu adalah keinginan masyarakat sebagai pemohon izin yang menginginkan pelayanan perizinan dapat dilakukan secara cepat, mudah, dan transparan. BPPT perlu mendapatkan dorongan agar bisa mendapatkan seritifikat ISO dalam hal pelayanan. Standar pelayanan yang diberikan oleh petugas badan harus bisa diketahui publik menyangkut lama pengerjaan serta biayanya hingga bisa dinilai kinerjanya.

Saat ini masih sering didengar keluhan dari warga yang berurusan ke badan dalam pengurusan berbagai perizinan membutuhkan waktu panjang dan proses rumit. Bila ISO sudah didapat, petugas badan sudah punya standar operasional prosedur dalam melaksanakan tugas-tugasnya hingga kinerja mereka bisa ditingkatkan. Penerapan ISO perlu jadi pertimbangan dalam peningkatan pelayanan. Penerapan tersebut salah satunya adalah perlu didukung oleh SDM yang memadai, karena diperlukan SDM yang memahami aspek teknis masalah pengurusan perizinan, mengingat sebelum mengeluarkan izin ada banyak syarat dan rekomendasi yang harus dipenuhi dan bentuknya juga beragam. Untuk meningkatkan kualifikasi SDM ini, Pemerintah seharusnya melaksanakan kegiatan pelatihan, seminar, dan bengkel kerja.

Permenkes VS Perda Peraturan perundang-undangan, dalam konteks negara Indonesia, adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. Hierarki maksudnya peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Berikut adalah hierarki Peraturan Perundang-undangan di Indonesia menurut UU No. 12/2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan: 1. UUD 1945, merupakan hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan. UUD 1945 ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. 2. Ketetapan MPR 3. Undang-Undang (UU)/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) 4. Peraturan Pemerintah (PP) 5. Peraturan Presiden (Perpres) 6. Peraturan Daerah (Perda), termasuk pula Qanun yang berlaku di Nanggroe Aceh Darussalam, serta Perdasus dan Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua dan Papua Barat. Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. Materi muatan Peraturan Pemerintah adalah materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama kepala daerah (gubernur atau bupati/walikota). Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Pada tanggal 3 Mei 2011, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 889/MENKES/PER/V/2011 TENTANG REGISTRASI, IZIN PRAKTIK, DAN IZIN KERJA TENAGA KEFARMASIAN. Berikut ini ringkasan dari peraturan tersebut: Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Tenaga kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian Apoteker adalah Sarjana Farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker; Setiap tenaga kefarmasian yang menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib memiliki surat tanda registrasi berupa: Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) yang dikeluarkan oleh Komite Farmasi Nasional (KFN) Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian (STRTTK) yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi

STRA dan STRTTK berlaku untuk jangka waktu 5 tahun dan dapat diregistrasi ulang selama memenuhi persyaratan. Persyaratan untuk memiliki STRK meliputi: memiliki ijazah Apoteker; memiliki sertifikat kompetensi profesi; memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji Apoteker; memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktik; dan membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi. Persyaratan untuk memiliki STRTTK: memiliki ijazah sesuai dengan pendidikannya; memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktik; memiliki rekomendasi tentang kemampuan dari Apoteker yang telah memiliki STRA, atau pimpinan institusi pendidikan lulusan, atau organisasi yang menghimpun Tenaga Teknis Kefarmasian; dan membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika kefarmasian. Apoteker warga negara asing lulusan luar negeri yang akan menjalankan pekerjaan kefarmasian di Indonesia dalam rangka alih teknologi atau bakti sosial harus memiliki STRA Khusus yang dikeluarkan KFN dan berlaku selama 1 Tahun. Setiap tenaga kefarmasian yang akan menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib memiliki surat izin sesuai tempat tenaga kefarmasian bekerja yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Surat izin yang dimaksud berupa: Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) Surat Izin Kerja Apoteker (SIKA) Surat Izin Kerja Tenaga Teknis Kefarmasian (SIKTTK) Peraturan ini juga mengatur tentang Komite Farmasi Nasional (KFN). KFN adalah lembaga yang dibentuk oleh Menteri Kesehatan yang berfungsi untuk meningkatkan mutu Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian dalam melakukan pekerjaan kefarmasian pada fasilitas kefarmasian Peraturan Menteri ini mencabut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 184/Menkes/Per/II/1995 tentang Penyempurnaan Pelaksanaan Masa Bakti dan Izin Kerja Apoteker dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 679/Menkes/SK/V/2003 tentang Registrasi dan Izin Kerja Asisten Apoteker. Keduanya dinyatakan tidak berlaku sejak tanggal 3 Mei 2011. Semoga bermanfaat. SUmber : http://tasbul.blogdetik.com/2011/06/07/tenaga-kefarmasian/ dan http://desaobat.wordpress.com/2011/06/11/rangkuman-permenkes-ri-no-889menkesv2011tentang-registerasi-izin-praktik-dan-izin-kerja-tenaga-kefarmasian/ PP 51 TAHUN 2011 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN Pemahaman yang komprehensif tentang maksud dan tujuan lahirnya suatu peraturan perundangundangan adalah dengan mengetahui latar belakang dan urgensi lahirnya peraturan-perundangundangan tersebut.[3] Dari sini dapat ditentukan berbagai peraturan pelaksanaan dari UndangUndang dimaksud dan lembaga mana yang mempunyai kewenangan untuk melahirkan berbagai peraturan pelaksanaanya. Undang-Undang No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan menetapkan bahwa jenis dan hierarki Peraturan Perundang-Undangan adalah sebagai berikut: a. UUD 1945, b. UU/ PERPU, c. Peraturan Pemerintah, d. Peraturan Presiden, e. Peraturan daerah.[4] Selanjutnya dinyatakan bahwa jenis peraturan perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud di atas diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.[5] Peraturan perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud di atas adalah peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya seperti peraturan

menteri, instruksi menteri dan lain-lainnya, yang jika dibuat harus dengan tegas berdasar dan bersumber dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.[6] Fungsi Peraturan Pemerintah adalah: a. Pengaturan lebih lanjut ketentuan dalam Undang-Undang yang tegas-tegas menyebutnya, b. Menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut ketentuan lain dalam Undang-Undang yang mengatur meskipun tidak tegas-tegas menyebutnya. Sedangkan menurut pasal 10 UU No. 10 tahun 2004, materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. Maksud dari sebagaimana mestinya adalah materi muatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tidak boleh menyimpang dari materi yang diatur dalam Undang-Undang bersangkutan. Sesuai dengan pasal 17 UUD 1945, maka fungsi dari Peraturan Menteri adalah sebagai berikut: a. Menyelenggarakan pengaturan secara umum dalam rangka penyelenggaraan kekuasaan pemerintahan di bidangnya, b. Menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut ketentuan dalam Peraturan Presiden, c. Menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut ketentuan dalam Undang-Undang yang tegas-tegas menyebutnya, d. Menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut ketentuan dalam Peraturan Pemerintah yang tegas-tegas menyebutnya. Permenkes No 889 Tahun 2011 diperintahkan oleh peraturan perundangan di atasnya (UU No 36 Tahun 2009, PP No 51 Tahun 2009, perpres) jelas lebih kuat dari perda sesuai UU no.12/2011.

[3] Pasal 1 angka (2) UU No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan: Peraturan perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. [4] Pasal 7 ayat (1) UU No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan [5] Pasal 7 ayat (4) UU No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan [6] Maria Farida Indrati S, Ilmu Perundang-undangan. Jenis, Fungsi, dan Materi Muatan, Penerbit Kanisius, Jakarta, Cet. 5, hal. 73, 74