Anda di halaman 1dari 2

Puji syukur marilah senantiasa kita panjatkan ke hadirat Ilahi Robbi, atas segala karunia yang diberikatn kepada

kita setiap waktu, baik karunia berupa kesenangan hidup, maupun karunia tertinggi berupa iman dan Islam dan oleh karena Iman dan Islam itulah yang menyebabkan kita semakin takwa, yaitu melaksanakan segala yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala yang dilarangn-NYA. Shalawat serta salam, semoga senantiasa tercurah kepada junjungan umat, pemimpin terbesar manusia hingga akhir zaman, Rasulullah Muhammad saw. Hari ini, khatib menyampaikan khutbah dengan judul :

Sidang Jemaah Jumat yang dirahmati Allah ... Menengok kisah ini, kita sungguh malu jika melihat kehidupan kita hari ini. Adakah kita pernah bertanya kepada teman yang dapat dipercaya atau kepada seorang ustadz yang kita anggap shaleh tentang aib diri kita ? Pernahkah kita, dengan hati yang ikhlas dan jujur, berusaha mencari tahu apa saja kekurangan-kekurangan diri kita selama ini sebagai pijakan untuk memperbaikinya di kemudian hari ? Tentu sulit menjawab, bahwa hal ini sudah atau kerap kita lakukan. Yang terjadi barangkali malah bisa sangat berlainan. Aib yang terkadang sudah sangat jelas terlihat, bukanlah satu hal yang memalukan saat ini dan bukan pula satu hal yang menjadi cambuk diri untuk segera diperbaiki. Aib bahkan dirayakan dan di lain pihak dicari pembenarannya terus-menerus. Aib, bahkan dibungkus dengan kesing yang baru dan cantik agar kelihatan rapi. Aib, bisa berarti bukan aib, bagi orang-orang yang sudah dicabut rasa malunya. Dalam kondisi lain, dan ini yang sering kita hadapi, adalah kondisi saat kita begitu mudah melihat kesalahan/aib orang lain namun tak mampu melihat kesalahan/aib diri sendiri. Kita terlalu mudah mengkritik dan membeberkan kekurangan orang lain tapi sedikitpun tak tahu kekurangan diri sendiri yang terkadang jauh lebih banyak dan lebih besar dari kesalahan orang lain. Hal inilah yang terkadang membuat kegiatan mengkritik sangat dekat dengan sifat kedengkian. Jika Umar ra. yang seorang Amirul Mukminin, sampai tergopoh-gopoh bertanya pada sahabatnya tentang aib dirinya, tentulah perkara ini sangat berarti dan besar nilainya. Umar bahkan mengirim doa bagi siapapun yang membeberkan secara langsung aib dirinya kepadanya. Karena hal itu adalah kebaikan baginya sekaligus point penting untuk menjadi hamba yang lebih bertakwa dan lebih ikhlas. Bagaimana dengan kita, bisakah kita seperti Umar ibnu Khattab ? Kaum muslimin, Jemaah Jumat rohimani rohimakumullah ... Aib yang diketahui sama dengan penyakit yang berhasil ditemukan/didiagnosa oleh dokter, sehingga mudahlah menentukan jenis pengobatannya. Inilah hakikat dari penyucian jiwa yang sering diajarkan orang-orang shaleh, yaitu dengan : Takhliyah : mengosongkan jiwa dari perbuatan tercela, yang dilanjutkan dengan Tahliyah (menghiasinya dengan sifat terpuji). Melihat aib diri, memungkinkan manusia menerima pengertian SIAPA SEBENARNYA DIRINYA. Melihat aib diri, membawa manfaat atau kebaikan bagi manusia yang mengaku sebagai mukmin dan bertakwa karena merupakan bagian dari mengoreksi diri sendiri. Dan setiap kita memang dituntut untuk melakukannya,sebagaimana Firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Hasyr ayat 18 :

MELIHAT AIB DIRI


Kaum muslimin, Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Suatu hari, Khalifah Umar ra. berkata kepada Salman, Apa saja yang kau dengar tentang diriku yang tak kau sukai, wahai Salman ? Mendengar pertanyaan yang tak disangkanya itu, Salman hanya diam. Hatinya memang menyimpan gunjingan orang tentang Umar ra., tapi demi menjaga persahabatan mereka, ia tak akan menyampaikan gunjingan itu. Salman tak bersedia menjawabnya. Tapi, rupanya Umar ra. terus mendesak. Akhirnya Salman pun berkata, Aku mendengar bahwa engkau menumpuk dua lauk dalam satu piring dan engkau memiliki dua pakaian, pakaian siang dan pakaian malam. Adakah hal lain yang kau dengar ? tanya Umar ra. lagi. Tidak, kata Salman. Kedua hal itu sudah kutinggalkan. kata Umar ra. dengan lega. Dari cerita singkat di atas, Umar ra. tentulah merupakan orang yang suka bermuhasabah (menilai diri sendiri) dan bertafakkur tentang amal dirinya. Umar mengajukan pertanyaan tersebut kepada Salman, dengan satu tujuan yang pasti : Mengetahui Aib Diri. Kegiatan melihat aib diri sendiri itu pasti sudah sering Umar ra. lakukan. Tapi Amirul Mukminin setelah Abu Bakar itu, masih merasa kurang. Ia takut keterbatasan dan kelemahan yang ada pada dirinya, membuatnya lengah melihat aib dirinya secara menyeluruh. Makanya ia menemui Salman sebagaimana beliau juga menemui Khudzaifah, seorang sahabat yang dipandang sangat rapi memegang rahasia Rasulullah serta sangat tajam pandangannya dalam melihat orang munafik. Meskipun sebagai seorang khalifah, Umar tidak segan-segan bertanya kepada Khudzaifah dengan pertanyaan, Adakah kau melihat tanda-tanda kemunafikan dalam diriku, Khudzaifah ? Kaum muslimin, rohimani rohimakumullah ... Yang dianggap aib oleh Salman dan dibenarkan oleh Umar ra. tentu bukanlah perkara besar jika diukur dengan kebiasaan yang berlaku di zaman kita sekarang ini. Makan dengan dua lauk dalam satu piring bukanlah hal yang patut dicela karena sekarang sudah lazim orang makan dengan lauk beraneka ragam. Begitu pun memiliki dua pakaian berdasarkan waktu siang dan malam juga bukan hal yang merupakan aib saat ini. Tetapi hal ini menjadi gunjingan di masa Nabi SAW, karena nilai dan akhlak waktu itu memang masih demikian murni. Jika Rasulullah SAW sendiri menganggap Aisyah, istri kesayangannya, makan terlalu banyak, ketika didapatinya Aisyah makan dua kali sehari, tentulah, apa yang dilakukan Umar ra. bisa dipandang sebagai hal yang berlebih-lebihan. Dan Umar, dengan ketakwaannya, tidak lagi mengulangi dua perbuatan tersebut.

Maknanya :

Hai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (yaitu Akhirat), dan takutlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.

Amal perbuatan manusia, menurut orang-orang bijak, dapat diumpamakan dengan barang bawaan yang dikirim terlebih dahulu kemudian dijemput oleh pemiliknya. Dengan demikian, siapa saja yang percaya akan keadilan Allah, ia harus memperhitungkan (menghisab) diri, minimal melihat aib dirinya dan merenungi lembaran-lembaran sejarah hidupnya sendiri. Kelak, pada hari kebangkitan, lembaran itu, disampaikan kepada kita untuk dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Pengadilan Agung milik Pemerintahan Langit, sebagaimana Firman Allah berikut :

Artinya :

Bacalah lembaran kitabmu,cukuplah engkau sendiri yang melakukan perhitungan atas dirimu. ( Q.S. : Al- Israa = 14 )

Maksiral muslimin, sidang Jumat yang dimuliakan Allah ... Banyak kisah menggugah dari orang saleh tentang bagaimana mereka melihat aib diri dan menghisab diri mereka sendiri. Sebagai contoh : Umar ra. sendiri sangat terkenal dengan perbuatannya ketika malam sudah larut. Beliau memukul kedua kakinya dengan cemeti sambil berkata, , Apa yang telah kau perbuat hari ini ? Sementara Abu Thalhah menyedekahkan kebunnya karena merasa shalatnya terganggu hanya karena gara-gara mengurus seekor burung. Sebagai penutup, mari kita renungkan, apa yang dikatakan oleh Al-Hasan berikut ini : Seorang muslim selalu dalam keadaan melihat aib diri dan menghisab dirinya. Ia melontarkan pertanyaan pada jiwanya, Apa yang kau inginkan dengan itu? Apa yang kau inginkan dengan ini ? Sedang orang yang durhaka berjalan tanpa pernah mengevaluasi (menghisab) dirinya sendiri, merasa aman dari azab Allah. Mudah-mudahan khutbah ini bermanfaat bagi diri khatib pribadi dan bermanfaat bagi kita bersama, menjadi bahan perenungan, tadabbur, tafakkur, dan bermunajat kpada Allah swt. tentang apa saja yang ada di sekitar kita karena akan mewariskan kesadaran yang baik, tajam dan lurus, dan dapat membawa kita kepada kesempurnaan akal, menjadi manusia yang berkualitas iman dan berprodiktivitas ibadah. Amin ...