Anda di halaman 1dari 28

ASMA BRONKIAL

Disusun oleh : Yesi Fadhillah 1102007297 Preseptor : Dr. Nina Marlina, Sp.P

Definisi
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang akibat dari inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperresponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau dini hari.

Klasifikasi

1. Intermiten

Gejala < 1x/minggu Tanpa gejala di luar serangan Serangan singkat Gejala malam < 2x/ bln VEP atau APE > 80 %

2. Persisten Ringan Gejala > 1x/minggu tapi < 1x/hari Dapat mengganggu aktifitas dan tidur Gejala malam > 2x seminggu VEP atau APE > 80 % normal

3. Persisten Sedang Gejala harian Menggunakan obat setiap hari Mengganggu aktifitas dan tidur Serangan 2x/minggu, bisa berhari-hari Gejala malam > 1x/minggu VEP atau APE >60% tetapi <80% normal

4. Persisten Berat Gejala terus-menerus Aktifitas fisik terbatas Sering serangan Gejala malam sering VEP atau APE < 80% normal

Faktor Risiko
Risiko berkembangnya asma merupakan interaksi antara faktor pejamu (host factor) dan faktor lingkungan. Faktor Pejamu 1. Predisposisi genetik 2. Atopi 3. Hiperresponsif jalan napas 4. Jenis kelamin 5. Ras atau etnik

Faktor Lingkungan Bahan-bahan didalam ruangan : tungau debu, binatang, kecoa, jamur Bahan-bahan diluar ruangan : tepung sari bunga, jamur

Makanan-makanan tertentu, bahan pengawet, penyedap, pewarna makanan

Diet dan obat (salisilat, kodein, AINS, aspirin, propanolol)


Iritan (parfum, bau-bauan merangsang)

Ekspresi emosi yang berlebihan


Asap rokok dari perokok aktif dan pasif

Polusi udara dari luar dan dalam ruangan Infeksi saluran napas (virus: RSV,

parainfluenza ) Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan aktivitas fisik tertentu. Perubahan cuaca Obesitas

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan : 1. Anamnesis Tujuannya untuk menentukan waktu saat timbulnya serangan dan beratnya gejala. Tidak adanya riwayat asma sebelumnya terutama pada pasien dewasa, harus dipikirkan diagnosis banding lainnya seperti gagal jantung kongestif, PPOK dan lainnya. Pada anamnesis akan didapatkan : batuk, sesak nafas, mengi dan atau rasa berat di dada yang timbul secara tiba-tiba dan hilang secara spontan atau dengan pengobatan.

2. Pemeriksaan fisik Tekanan darah dapat meningkat, frekuensi pernapasan dan denyut nadi meningkat, mengi, ekspirasi memanjang (lebih dari 4 detik atau 3 kali lebih panjang dari inspirasi) dan ronkhi kering yang terdengar pada pemeriksaan auskultasi. Hiperinflasi paru dapat dilihat dari perkusi didapatkan hipersonor, pernapasan yang cepat dan sulit ditandai dengan pengaktifan otot-otot bantu pernapasan sehingga tampak retraksi dan pernapasan cuping hidung.

3. Pemeriksaan penunjang - Pemeriksaan laboratorium Pada pemeriksaan darah tepi jumlah eosinofil total sering meningkat

Pemeriksaan analisa gas darah Pada fase awal serangan terjadi hipoksemia dan hipokapnia (PaCO2 < 35 mmHg), kemudian pada fase berat PaCO2 justru mendekat normal sampai normokapnia. Pada asma yang sangat berat terjadi hiperkapnia (PaCO2 > 45 mmHg), hipoksemia dan asidosis respiratorik.

Pemeriksaan Spirometri Untuk mengukur faal ventilasi paru. Pengukuran volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan kapasiti vital paksa (KVP). Untuk mendapatkan nilai yang akurat, diambil nilai tertinggi dari 2-3 nilai yang reproducible dan acceptable

Penatalaksanaan

Tujuan terapi asma adalah: 1. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma. 2. Mencegah kekambuhan. 3. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya. 4. Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan exercise. 5. Menghindari efek samping obat asma. 6. Mencegah obstruksi jalan nafas yang ireversibel. Berdasarkan panduan asma internasional (GINA: Global Initiative for Asthma), tujuan penatalaksanaan asma yang berhasil adalah bagaimana penyakit asma tersebut bisa dikontrol.

Yang dimaksud dengan asma terkontrol :


Tidak ada gejala-gejala kronis Jarang terjadi kekambuhan Tidak ada kunjungan ke gawat darurat Tidak ada keterbatasan aktivitas fisik Fungsi paru normal atau mendekati normal

Minimal efek samping dari penggunaan obat

Dalam penatalaksanaan asma yang terpenting adalah menghindari pencetus (triger) serta pengobatan yang tepat.

Penatalaksanaan asma dibagi menjadi dua,

yaitu :
penatalaksanaan asma saat serangan (reliever)
penatalaksanaan asma diluar serangan (controller).

1. Pereda (reliever) Prinsipnya untuk dilatasi jalan nafas melalui relaksasi otot polos, memperbaiki dan atau menghambat bronkokonstriksi yang berkaitan dengan gejala.

Beta 2 agonis kerja singkat

Salbutamol, banyak digunakan oleh karena onset aksi obat terjadi cepat sekitar 5 menit dengan lama aksi sekitar 6 jam. Obat lainnya: terbutalin, fenoterol, metaproterenol. Antikolinergik Efeknya tidak sebaik beta 2 agonis. Obatnya adalah Ipratropium Bromida (IB).

Kortikosteroid sistemik

Tidak bersifat bronkodilator namun efektif dalam menurunkan inflamasi pada saluran nafas. Obatnya Hidrokortison 800 mg atau metilprednisolon 160 mg. Aminofilin Efektifitas tidak sebaik beta 2 agonis, kombinasi dengan beta 2 agonis tidak memberikan manfaat yang bermakna.

2. Pengendali (controller) Glukokortikosteroid inhalasi : medikasi jangka panjang yang paling efektif untuk mengontrol asma, ditoleransi dengan baik dan aman pada dosis yang direkomendasikan. Glukokortikosteroid sistemik : cara pemberian oral atau parenteral, kemungkinan digunakan sebagai pengontrol tetapi penggunaannya terbatas mengingat risiko efek sistemiknya. Obatnya : Beklometason dipropionat, budesonid, flunisolid, dll.

Kromolin antiinflamasi nonsteroid, menghambat pelepasan

mediator dari sel mast. Obatnya : Sodium kromoglikat dan nedokromil sodium. Beta 2 agonis kerja lama Mempunyai waktu kerja yang lama > 12 jam. Obatnya : Salmeterol dan formoterol. Leukotrine Menghambat 5-lipooksigenase sehingga memberikan efek bronkodilator minimal. Obatnya : Zafirlukas, pranlukas,dll.

Penatalaksanaan Asma Intermiten Tidak diperlukan pengobatan pencegahan jangka panjang, tetapi obat yang dipakai untuk menghilangkan gejala : beta 2 agonis inhalasi. Penatalaksanaan Asma Persisten Ringan Inhalasi kortikosteroid 200-500 mikrigram atau teofilin lepas lambat. Kalau perlu dosis kortikosteroid dapat ditingkatkan sampai 800 mikrogram.

Penatalaksanaan Asma Persisten Sedang Inhalasi kortikosteroid 400-800 mikrogram dan bronkodilator kerja lama. Penatalaksanaan Asma Persisten Berat Kombinasi inhalasi kortikosteroid > 800 mikrogram dan beta 2 agonis kerja lama ditambah >1 obat : teofilin lepas lambat,leukotrine dan glukokortikosteroid oral.

Penatalaksanaan yang baik dapat membuat asma menjadi terkontrol yaitu gejala penyakit berkurang dan faal paru menjadi optimal, kriteria asma yang terkontrol adalah: 1. Gejala klinik menghilang atau minimal termasuk gejala asma malam 2. 3. 4. 5. 6. Eksaserbasi jarang Kebutuhan 2-agonis minimal Aktivitas tidak terganggu Variasi APE < 15% Efek samping obat tidak ada / minimal

7.

Tidak ada kunjungan ke unit gawat darurat

Daftar Pustaka

1. 2.

Salim EM. Peranan Edukasi dalam Penatalaksanaan Asma yang Rasional Sehingga Meningkatkan Kualitas Hidup. Palembang: 2005. Sundaru H, Sukamto. Asma Bronkial dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam PAPDI. Editor: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, dkk. FK-UI. Jakarta: 2006, hal. 247-252. Guideline for the Diagnosis and Management of Asthma. 2007. P. 55.

3.

4.

Sundaru H, Sukamto. Asma Akut dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Editor: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, dkk. FK-UI. Jakarta: 2006, hal. 982-984. Jilid. II. Edisi. IV.