Anda di halaman 1dari 0

10

10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep kepatuhan
1. Pengertian
Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh, yang berarti disiplin dan
taat. Menurut Sacket dalam Niven (2000) kepatuhan adalah sejauh mana
perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh profesional
kesehatan.(Syakira,Ghana.2009.KonsepKepatuhan.http://syakirablogspot.
com/2009/ 01/konsep-kepatuhan.html_ diakses tanggal 22 April 2010).
2. Variabel yang mempengaruhi tingkat kepatuhan
Beberapa variabel yang mempengaruhi tingkat kepatuhan menurut
Brunner & Suddarth (2002) adalah :
a. Variabel demografi seperti usia, jenis kelamin, status sosio ekonomi
dan pendidikan.
b. Variabel penyakit seperti keparahan penyakit dan hilangnya gejala
akibat terapi.
c. Variabel program terapeutik seperti kompleksitas program dan efek
samping yang tidak menyenangkan.
d. Variabel psikososial seperti intelegensia, sikap terhadap tenaga
kesehatan, penerimaan, atau penyangkalan terhadap penyakit,
keyakinan agama atau budaya dan biaya finansial dan lainnya yang
11
termasuk dalam mengikuti regimen hal tersebut diatas juga ditemukan
oleh Bart Smet dalam psikologi kesehatan.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan
Faktor faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan dapat
digolongkan menjadi empat bagian menurut Niven (2002) antara lain :
a. Pemahaman tentang instruksi
Tak seorang pun dapat mematuhi instruksi jika ia salah paham
tentang instruksi yang diberikan padanya.
b. Kualitas interaksi
Kualitas interaksi antara profesional kesehatan dan pasien
merupakan bagian yang penting dalam menentukan derajat kepatuhan.
c. Isolasi sosial dan keluarga
Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam
menentukan keyakinan dan nilai kesehatan dan nilai kesehatan
individu serta juga dapat menentukan program pengobatan yang dapat
mereka terima.
12
d. Keyakinan, sikap dan kepribadian
Becker et al (1979) dalam Niven ( 2002) telah membuat suatu
usulan bahwa model keyakinan kesehatan berguna untuk
memperkirakan adanya ketidakpatuhan. (Syakira,Ghana.2009. Konsep
Kepatuhan.http://syakirablogspot.com/2009/01/konsep-.kepatuhan
html_ diakses tanggal 22 April 2010).
4. Faktor penentu derajat ketidakpatuhan
Neil Niven (2002: 193), juga mengungkapkan derajat
ketidakpatuhan itu ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Kompleksitas prosedur pengobatan.
b. Derajat perubahan gaya hidup yang dibutuhkan.
c. Lamanya waktu dimana pasien harus mematuhi program tersebut.
d. Apakah penyakit tersebut benar-benar menyakitkan.
e. Apakah pengobatan itu berpotensi menyelamatkan hidup.
f. Keparahan penyakit yang dipersepsikan sendiri oleh pasien dan bukan
petugas kesehatan. (Syakira,Ghana.2009. Konsep Kepatuhan. http://
syakira.blogspot.com/2009/01/konsep-.kepatuhan html_diakses tanggal
22 April 2010).
13
5. Strategi untuk meningkatkan kepatuhan
Menurut Smet (1994) berbagai strategi telah dicoba untuk
meningkatkan kepatuhan adalah :
a. Dukungan profesional kesehatan
Dukungan profesional kesehatan sangat diperlukan untuk
meningkatkan kepatuhan, contoh yang paling sederhana dalam hal
dukungan tersebut adalah dengan adanya teknik komunikasi.
Komunikasi memegang peranan penting karena komunikasi yang baik
diberikan oleh profesional kesehatan baik dokter/ perawat dapat
menanamkan ketaatan bagi pasien.
b. Dukungan sosial
Dukungan sosial yang dimaksud adalah keluarga. Para
profesional kesehatan yang dapat meyakinkan keluarga pasien untuk
menunjang peningkatan kesehatan pasien maka ketidakpatuhan dapat
dikurangi.
c. Perilaku sehat
Modifikasi perilaku sehat sangat diperlukan. Untuk pasien
dengan diabetes melitus diantaranya adalah tentang bagaimana cara
untuk menghindari komplikasi lebih lanjut apabila sudah menderita
diabetes. Modifikasi gaya hidup dan kontrol secara teratur atau minum
obat sangat perlu bagi pasien diabetes.
14
d. Pemberian informasi
Pemberian informasi yang jelas pada pasien dan keluarga
mengenai penyakit yang dideritanya serta cara pengobatannya
(http://syakira-blogspot.com/2009/01/konsep-kepatuhan.html_diakses
tanggal 22 April 2010).
B. Diabetes Melitus
1. Definisi
a. Diabetes melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai
berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang
menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan
pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam
pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Mansjoer, 2000 : 580).
b. Diabetes melitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai
oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Brunner
& Suddart, 2002 : 1220),
c. Diabetes melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada
seseorang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa
darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif
(Soegondo, 2007).
d. Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai oleh
ketiadaan absolut insulin atau insensitivitas sel terhadap insulin
(Corwin, 2001 : 542).
15
2. Klasifikasi Diabetes Melitus
Klasifikasi diabetes melitus dan penggolongan glukosa menurut
Riyadi (2007 : 70) antara lain :
a. Insulin Dependent Diabetes Melitus ( IDDM)
Defisiensi insulin karena kerusakan sel-sel langerhans yang
berhubungan dengan tipe HLA (Human Leucocyte Antigen) spesifik,
predisposisi pada insulitis fenomena autoimun (cenderung ketosis dan
terjadi pada semua usia muda). Kelainan ini terjadi karena kerusakan
sistem imunitas (kekebalan tubuh) yang kemudian merusak sel-sel
pulau Langerhans di pankreas. Kelainan ini berdampak pada
penurunan fungsi insulin.
b. Non Insulin Dependent Diabetes Melitus ( NIDDM)
Diabetes resisten, lebih sering pada dewasa, tapi dapat terjadi
pada semua umur. Kebanyakan penderita kelebihan berat badan, ada
kecenderungan familiar, mungkin perlu insulin pada saat
hiperglikemik selama stres.
c. Diabetes melitus tipe lain
DM yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom tertentu
hiperglikemik terjadi karena penyakit lain ; penyakit pankreas,
hormonal, alat/ bahan kimia, endokrinopati, kelainan reseptor insulin,
sindrom genetik tertentu.
d. Impaired Glukosa Tolerance (gangguan toleransi glukosa)
Kadar glukosa antara normal dan diabetes, dapat menjadi
diabetes/ menjadi normal atau tetap tidak berubah.
16
e. Gestational Diabetes Melitus (GDM)
Merupakan intoleransi glukosa yang terjadi selama kehamilan.
Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan
karbohidrat yang menunjang pemanasan makanan bagi janin serta
persiapan menyusui. Menjelang aterm, kebutuhan insulin meningkat
sehingga mencapai 3 kali lipat dari keadaan normal. Bila seorang ibu
tidak mampu meningkatkan produksi insulin sehingga relatif
hipoinsulin maka mengakibatkan hiperglikemi. Resistensi insulin juga
disebabkan oleh adanya hormon estrogen, progesteron, prolaktin dan
plasenta laktogen. Hormon tersebut mempengaruhi reseptor insulin
pada sel sehingga mengurangi aktivitas insulin.
3. Etiologi
a. Diabetes tipe I
Menurut Brunner & Suddarth (2002 : 1224), diabetes tipe I
ditandai oleh penghancuran sel sel beta pankreas. Kombinasi faktor
genetik, imunologi dan mungkin pula lingkungan (misalnya, infeksi
virus) diperkirakan turut menimbulkan destruksi sel beta.
1) Faktor faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri,
tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik
kearah terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetik ini
ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human
17
Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang
bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses imun
lainnya.
2) Faktor faktor imunologi
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respons
otoimun. Respons ini merupakan respons abnormal dimana
antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi
terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah olah sebagai
jaringan asing. Otoantibodi terhadap sel sel pulau Langerhans dan
insulin endogen (internal) terdeteksi pada saat diagnosis dibuat dan
bahkan beberapa tahun sebelum timbulnya tanda tanda klinis
diabetes tipe I.
3) Faktor faktor lingkungan
Penyelidikan sedang dilakukan terhadap kemungkinan
faktor faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel beta.
b. Diabetes tipe II
Faktor genetik diperkirakan memegang peranan dalam dalam
proses terjadinya resistensi insulin. Selain itu terdapat pula faktor
faktor resiko tertentu yang berhubungan dengan proses terjadinya
diabetes tipe II. Faktor faktor ini yaitu :
18
1) Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia diatas 65
tahun)
2) Obesitas
3) Riwayat keluarga
4) Kelompok etnik (di Amerika Serikat, golongan Hispanik serta
penduduk asli Amerika tertentu memiliki kemungkinan yang lebih
besar untuk terjadinya diabetes tipe II dibandingkan dengan
golongan Afro- Amerika).
4. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik yang sering dijumpai pada pasien diabetes
melitus menurut Riyadi (2007 : 80) yaitu :
a. Poliuria ( Peningkatan pengeluaran urin)
b. Polidipsia ( Peningkatan rasa haus) akibat volume urin yang sangat
besar dan keluarnya air menyebabkan dehidrasi ekstrasel.
Dehidrasi intrasel mengikuti dehidrasi ekstrasel karena air intrasel
akan berdifusi keluar sel mengikuti penurunan gradien konsentrasi
ke plasma yang hipertonik (sangat pekat). Dehidrasi intrasel
merangsang pengeluaran ADH (antidiuretik hormone) dan
menimbulkan rasa haus.
c. Rasa lelah dan kelemahan otot akibat gangguan aliran darah pada
pasien diabetes lama, katabolisme protein di otot dan
ketidakmampuan sebagian besar sel untuk menggunakan glukosa
sebagai energi.
d. Polifagia (Peningkatan rasa lapar)
19
e. Peningkatan angka infeksi akibat penurunan protein sebagai bahan
pembentukan antibodi, peningkatan konsentrasi glukosa disekresi
mukus, gangguan fungsi imun, dan penurunan aliran darah pada
penderita diabetes kronik.
f. Kelainan kulit : gatal, bisul bisul
Kelainan kulit berupa gatal gatal, biasanya terjadi
didaerah ginjal. Lipatan kulit seperti diketiak dan dibawah
payudara. Biasanya akibat tumbuhnya jamur.
g. Kelainan ginekologis
Keputihan dengan penyebab tersering yaitu jamur terutama
candida.
h. Kesemutan rasa baal akibat terjadinya neuropati.
Pada penderita diabetes melitus regenerasi sel persarafan
mengalami gangguan akibat kekurangan bahan dasar utama yang
berasal dari unsur protein. Akibatnya banyak sel persarafan
terutama perifer mengalami kerusakan.
i. Kelemahan tubuh
Kelemahan tubuh terjadi akibat penurunan produksi energi
metabolik yang dilakukan oleh sel melalui proses glikolisis tidak
dapat berlangsung secara optimal.
j. Luka/ bisul yang tidak sembuh-sembuh
Proses penyembuhan luka membutuhkan bahan dasar
utama dari protein dan unsur makanan yang lain. Pada penderita
diabetes melitus bahan protein banyak diformulasikan untuk
20
kebutuhan energi sel sehingga bahan yang dipergunakan untuk
penggantian jaringan yang rusak mengalami gangguan. Selain itu
luka yang sulit sembuh juga dapat diakibatkan oleh pertumbuhan
mikroorganisme yang cepat pada penderita diabetes melitus.
k. Pada laki-laki terkadang mengeluh impotensi
Penderita diabetes melitus mengalami penurunan produksi
hormon seksual akibat kerusakan testosteron dan sistem yang
berperanan.
l. Mata kabur
Disebabkan oleh katarak/ gangguan refraksi akibat
perubahan pada lensa oleh hiperglikemia, mungkin juga
disebabkan kelainan pada korpus vitreum.
5. Patofisiologi Diabetes Melitus
Patofisiologi diabetes melitus menurut Brunner & Suddarth (2002)
adalah sebagai berikut :
a. Diabetes tipe I
Terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin
karena sel-sel pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun.
Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati
meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia
postprandial (sesudah makan).
21
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal
tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar
akibatnya glukosa tersebut diekskresikan dalam urin (glukosuria).
Ekskresi ini akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elektrolit yang
berlebihan, keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Pasien
mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus
(polidipsi).
Defisiensi insulin juga mengganggu metabolisme protein dan
lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat
mengalami peningkatan selera makan (Polifagia) akibat menurunnya
simpanan kalori. Gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan.
Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolisis
(pemecahan glukosa yang disimpan) dan glukoneogenesis
(pembentukan glukosa baru dari asam-asam amino serta substansi
lain), namun pada penderita defisiensi insulin, proses ini akan terjadi
tanpa hambatan dan lebih lanjut turut menimbulkan hiperglikemia.
Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan
peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping
pemecahan lemak.
b. Diabetes tipe II
Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang
berhubungan dengan insulin, yaitu : resistensi insulin dan gangguan
22
sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor
khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan
reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme
glukosa didalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai
dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin
menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh
jaringan.
Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah
terbentuknya glukosa dalam darah, harus terdapat peningkatan
jumlah insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa
terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan
dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal/
sedikit meningkat. Namun demikian, jika sel sel beta tidak mampu
mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar
glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes melitus tipe II.
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan
ciri khas diabetes melitus tipe II, namun masih terdapat insulin
dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan
produksi badan keton yang menyertainya. Karena itu, ketoasidosis
diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II.
23
Skema 2.1 : Patofisiologi Diabetes Melitus
Kelainan genetik Gaya hidup stres Malnutrisi Obesitas Infeksi
Penyampaian kelainan meningkatkan beban Penurunan Peningkatan merusak
pankreas metabolik produksi insulin kebutuhan Pankreas
pankreas insulin

Penurunan insulin ( berakibat penyakit diabetes melitus )
Penurunan fasilitas glukosa dalam sel
Glukosa menumpuk Sel tidak memperoleh nutrisi
di darah
Starvasi seluler
Peningkatan tekanan
osmolalitas plasma Pembongkaran glikogen, Pembongkaran
asam lemak, keton untuk energi Protein& asam amino
Kelebihan ambang Penurunan Penumpukan
glukosa pada ginjal massa otot benda keton penurunan Penurunan
antibodi perbaikan
jaringan
Diuresis Osmotik Nutrisi asidosis Resiko tinggi Resiko
Kurang dari infeksi Perlukaan
Poliuria kebutuhan pola nafas
Tak efektif
Defisit volume cairan
Sumber : ( Riyadi, 2007)
24
Gambar 2.1 : Anatomi Pankreas
(Sumber : http://diabetesmellituscenter.files.wordpress.com/2010/01/diabetes)
Gambar 2.2 : Pembentukan insulin normal dan penurunan
pembentukan insulin
(Sumber : http://diabetesmellituscenter.files.wordpress.com/2010/01/11)
25
6. Komplikasi
a. Komplikasi akut
1) Ketoasidosis diabetik
Adalah keadaaan dekompesasi kekacauan metabolik yang
ditandai oleh trias, terutama diakibatkan oleh defisiensi insulin
absolut atau insulin relatif.
2) Hipoglikemi
Adalah penurunan kadar glukosa dalam darah.biasanya
disebabkan peningkatan kadar insulin yang kurang tepat atau
asupan karbohidrat kurang.
3) Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
Adalah suatu dekompensasi metabolik pada pasien diabetes
tanpa disertai adanya ketosis. Gejalanya pada dehirasi berat,
hiperglikemia berat dan gangguan neurologis.
b. Komplikasi kronis
1) Mikroangiopati
a) Retinopati diabetikum disebabkan karena kerusakan pembuluh
darah retina. Faktor tejadinya retinopati diabetikum: lamanya
menderita diabetes, umur penderita, kontrol gula darah, faktor
sistemik (hipertensi, kehamilan).
26
b) Nefropati diabetikum yang ditandai dengan ditemukannya
kadar protein yang tinggi dalam urin yang diisebabkan adanya
kerusakan pada glomerulus. Nefropati diabetikum merupakan
faktor resiko dari dari gagal ginjal kronik.
c) Neuropati diabetikum biasanya ditandai dengan hilangnya rasa
sensorik terutama bagian distal diikuti dengan hilangnya reflex.
Selain itu juga bisa terjadi poliradikulopati diabetikum yang
merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan gangguan pada
satu atau lebih akar saraf dan dapat disertai dengan kelemahan
motorik, biasanya dalam waktu 6-12 bulan.
2) Makroangiopati
a) Penyakit jantung koroner dimana diawali dari berbagai bentuk
dislipidemia, hipertrigliseridemia dan penurunan kadar HDL.
Pada DM sendiri tidak meningkatkan kadar LDL, namun
sedikit kadar LDL pada DM tipe II sangat bersifat atherogeni
karena mudah mengalami glikalisasi dan oksidasi.
b) Kaki Diabetik
Terdapat 4 faktor utama yang berperan pada kejadian
kaki diabetes melitus :
(1) Kelainan vaskular : Angiopati, contoh: aterosklerosis
(2) Kelainan saraf : Neuropati otonom dan perifer
(3) Infeksi
(4) Perubahan biomekanika kaki
27
7. Penatalaksanaan
Tujuan umum terapi diabetes adalah mencoba menormalkan
aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi
terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik. Tujuan terapeutik pada
setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal
(euglikemia) tanpa terjadinya hipoglikemia dan gangguan serius pada pola
aktivitas pasien.
Menurut Brunner & Suddarth (2002 : 1227), ada lima komponen
dalam pelaksanaan diabetes.
a. Diet
Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari
penatalaksanaan diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita
diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan berikut ini :
1) Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya, vitamin,
mineral)
2) Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
3) Memenuhi kebutuhan energi
4) Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan
mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui
cara-cara yang aman dan praktis.
5) Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat
28
Standar yang dianjurkan makanan dengan komposisi yang
seimbang dalam hal karbohidrat, protein, lemak, sesuai dengan
kecukupan gizi baik sebagai berikut :
Karbohidrat : 60 70 %
Protein : 10 15 %
Lemak : 20 25 %
Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur,
stres akut dan kegiatan jasmani untuk mencapai dan
mempertahankan berat badan idaman.
Bagi pasien yang memerlukan insulin untuk membantu
mengendalikan kadar glukosa darah, upaya untuk mempertahankan
konsistensi jumlah kalori dan karbohidrat yang dikonsumsi pada
jam-jam makan yang berbeda merupakan hal penting. Disamping
itu, konsistensi interval waktu diantara jam makan dengan
mengkonsumsi camilan (jika diperlukan), akan membantu
mencegah reaksi hipoglikemia dan pengendalian keseluruhan kadar
glukosa darah. Bagi pasien-pasien obesitas, khususnya pasien
diabetes tipe II, penurunan berat badan merupakan kunci dalam
penanganan diabetes.
29
b. Latihan
Latihan sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes
karena efeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dan
mengurangi faktor resiko kardiovaskuler. Latihan akan
menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan
pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian
insulin. Sirkulasi darah dan tonus otot juga diperbaiki dengan
berolahraga.
Penderita diabetes harus diajarkan untuk selalu melakukan
latihan pada saat yang sama (sebaiknya ketika kadar glukosa darah
mencapai puncaknya) dan intensitas yang sama setiap harinya.
Latihan yang dilakukan setiap hari secara teratur lebih dianjurkan
daripada latihan sporadik.
c. Pemantauan
1) Pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri
Dengan melakukan pemantauan kadar glukosa darah
secara mandiri, penderita diabetes kini dapat mengatur
terapinya untuk mengendalikan kadar glukosa darah secara
optimal. Cara ini memungkinkan deteksi dan pencegahan
hipoglikemia serta hiperglikemia dan berperan dalam
menentukan kadar glukosa darah normal yang kemungkinan
akan mengurangi komplikasi diabetes jangka panjang.
30
2) Hemoglobin glikosilasi
Pada orang normal sebagian kecil fraksi hemoglobin
akan mengalami glikosilasi. Artinya glukosa terikat pada
hemoglobin melalui proses non enzimatik dan bersifat
irreversibel. Pada penyandang DM, glikosilasi hemoglobin
meningkat secara proporsional dengan kadar rata rata
glukosa darah selama 8 10 minggu terakhir. Bila kadar
glukosa darah berada dalam kisaran normal antara 70 140
mg/ dl selama 8 10 minggu terakhir, maka hasil tes A1C akan
menunjukkan nilai normal. Pemeriksaan A1C dipengaruhi oleh
anemia berat, kehamilan, gagal ginjal dan hemoglinopati.
3) Pemeriksaan urin untuk glukosa
Pengukuran kadar glukosa urin menggambarkan kadar
glukosa darah secara tidak langsung dan bergantung pada batas
ambang rangsang ginjal bagi kebanyakan orang sekitar 180
mg/ dl. Uji glukosa urin dapat dipakai untuk pemantauan
pengendalian DM tipe II.
4) Pemeriksaan urin untuk keton
Kadar glukosa darah yang terlalu tinggi dan kurangnya
hormon insulin menyebabkan tubuh menggunakan lemak
sebagai sumber energi. Pada pemecahan lemak tersebut
dihasilkan benda - benda keton yang apabila berlebihan dapat
31
terdeteksi dalam darah dan urin. Pemeriksaan keton urin
penting pada penyandang DM tipe I yang cenderung untuk
mengalami ketosis. Sedangkan DM tipe II lebih resisten
terhadap terjadinya ketosis.
d. Terapi (jika diperlukan)
Pada diabetes tipe I, tubuh kehilangan kemampuan untuk
memproduksi insulin. Dengan demikian, insulin eksogenus harus
diberikan dalam jumlah tak terbatas. Pada diabetes tipe II, insulin
mungkin diperlukan sebagai terapi jangka panjang untuk
mengendalikan kadar glukosa darah jika diet dan obat
hipoglikemia oral tidak berhasil mengontrolnya. Disamping itu,
sebagian pasien diabetes tipe II yang biasanya mengendalikan
kadar glukosa darah dengan diet/ dengan diet dan obat kadang
membutuhkan insulin secara temporer selama mengalami sakit,
infeksi, kehamilan, pembedahan atau beberapa kejadian stres
lainnya.
e. Pendidikan
Pengelolaan mandiri diabetes secara optimal membutuhkan
partisipasi aktif pasien dalam merubah perilaku yang tidak sehat.
Tim kesehatan harus mendampingi pasien dalam perubahan
perilaku tersebut, yang berlangsung seumur hidup. Keberhasilan
dalam mencapai perubahan perilaku, membutuhkan edukasi,
32
pengembangan keterampilan (skill), dan motivasi yang berkenaan
dengan:
1) Makan makanan sehat
2) Kegiatan jasmani secara teratur
3) Menggunakan obat diabetes secara aman, teratur, dan pada
waktu-waktu yang spesifik
4) Melakukan pemantauan glukosa darah mandiri dan
memanfaatkan berbagai informasi yang ada.
5) Melakukan perawatan kaki secara berkala
6) Mengelola diabetes dengan tepat
7) Mengembangkan sistem pendukung dan mengajarkan
keterampilan
8) Dapat mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan.
Edukasi (penyuluhan) secara individual dan pendekatan
berdasarkan penyelesaian masalah merupakan inti perubahan
perilaku yang berhasil. Perubahan perilaku hampir sama dengan
proses edukasi dan memerlukan penilaian, perencanaan,
implementasi, dokumentasi, dan evaluasi.
C. Diet Diabetes Melitus
Diabetes melitus merupakan suatu penyakit dengan penyebab
heterogen, sehingga tidak ada satu cara makan khusus yang dapat mengatasi
kelainan ini secara umum. Perencanaan makan harus disesuaikan menurut
33
masing-masing individu. Banyak faktor yang berpengaruh pada respons
glikemik makanan, termasuk didalamnya adalah macam gula: (glukosa,
fruktosa, sukrosa, laktosa), bentuk tepung (amilose, amilopektin dan tepung
resisten), cara memasak, proses penyiapan makanan, dan bentuk makanan
serta komponen makanan lainnya (lemak, protein).
Tiga hal penting yang harus diperhatikan pada penderita diabetes
melitus adalah tiga J (jumlah, jadwal dan jenis makanan) yaitu :
J 1 : jumlah kalori sesuai dengan resep dokter harus dihabiskan.
J 2 : jadwal makanan harus diikuti sesuai dengan jam makan terdaftar.
J 3 : jenis makanan harus diperhatikan (pantangan gula dan makanan
manis)
Diet diabetes melitus meliputi kebutuhan kalori yang diperlukan oleh
pasien DM untuk kebutuhan sehari hari, komposisi makanan yang
seimbang sesuai kebutuhan tubuh, waktu makan, frekwensi makan dan
pengontrolan berat badan. (Harnawati.2010.Askep Diabetes Melitus.
http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/askepdiabetesmellitus/Dipero
leh tanggal 22 April 2010).
1. Kebutuhan Kalori
Menurut Smeltzer & Bare (2002 : 1228), diet untuk
mengendalikan kalori dapat dilakukan pertamatama dengan
menghitung kebutuhan kalori seseorang. Sedangkan menurut Sukardji
34
(2005), ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang
dibutuhkan orang dengan diabetes. Diantaranya adalah dengan
memperhitungkan berdasarkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-
30 kalori/ kgBB ideal, ditambah dan dikurangi bergantung pada
beberapa faktor yaitu jenis kelamin, umur, aktifitas, kehamilan/ laktasi,
adanya komplikasi dan berat badan.
Cara lain dalam menentukan jumlah kalori adalah dengan
pegangan kasar, yaitu pasien kurus 2300 2500 kalori, normal 1700
2100 kalori dan gemuk 1300 1500 kalori.
Penentuan status gizi dapat dipakai Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu :
berat badan (kg)
tinggi badan ( m
2
)
Berat ideal : IMT untuk wanita = 18,5 22,9 kg/m2
IMT untuk pria = 20 24,9 kg/ m2
Klasifikasi indeks massa tubuh ( IMT) :
1) Berat badan kurang < 18,5
2) Berat badan normal 18,5 22,9
3) Berat badan lebih 23,0
4) Dengan resiko 23 29,9
5) Obes I 25 29,9
35
6) Obes II 30
Perhitungan berat badan idaman dengan rumus Brocca adalah
sebagai berikut :
a. Berat badan idaman/ BBI (kg) = ( TB dalam cm 100 ) 10 %
Bagi pria dengan tinggi badan < 160 cm dan wanita < 150 cm,
perhitungan BB idaman tidak dikurangi 10 %.
b. Status gizi dihitung dari = BB aktual : BB idaman x 100
1) Berat badan kurang BB < 90 % BBI
2) Berat badan normal BB 90 110% BBI
3) Berat badan lebih BB 110 120 % BBI
4) Gemuk BB > 120 % BBI
Jumlah kalori yang diberikan perhari diperhitungkan dari BBI
dikali kebutuhan kalori basal (30 kkal/ kgBB untuk laki laki dan 25
kkal/ kg BB untuk wanita) ditambah kebutuhan kalori untuk aktivitas
(10 30 %) dan koreksi status gizi (ditambah kalau berat badan
kurang dan dikurangi kalau berat badan berlebih) serta kalau ada stres
akut. Makanan tersebut dibagi kedalam 3 porsi besar untuk makan pagi
(20%), makan siang (30%) dan makan malam (25%) serta 2 3 porsi
ringan (10 15 %) diantara makan besar. Pengaturan makan ini tidak
berbeda dengan orang normal, kecuali dalam pengaturan jadwal makan
dan jumlah kalori ( Em yunir, 2006 :122 ).
36
2. Komposisi Diet Diabetes Melitus
Menurut Em yunir ( 2006 : 118 ), standar komposisi makanan
yang dianjurkan terdiri dari karbohidrat 60 70 %, protein 10 15 %
dan lemak 20 30 %. Disarankan untuk mengurangi asupan kolesterol
sampai 300 gr/ hari dan memperbanyak lemak yang bersumber dari asam
lemak tidak jenuh (mono unsaturated fatty acid ) sampai 10 % dan
mengurangi konsumsi asam lemak jenuh serta poly unsaturated fatty
acid sampai 7%. Perbanyak makanan yang mengandung serat alami.
Pemberian vitamin dan mineral tidak jelas memberikan manfaat pada
pasien diabetes, kecuali jika terdapat indikasi defisiensi. Pemberian
vitamin dan mineral bermanfaat pada kelompok tertentu seperti orang
tua , wanita hamil dan menyusui.
a. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber tenaga utama untuk kegiatan
sehari-hari dan terdiri atas tepung-tepungan dan gula. Karbohidrat
terdiri dari karbohidrat sederhana ( buah, sirup jagung, sari pohon )
dan karbohidrat kompleks (padi-padian, biji-bijian, dan umbi-
umbian). Secara umum, sumber karbohidrat adalah padi-padian atau
serealia (beras, gandum, jagung) umbi-umbian (singkong, ubi jalar,
kentang), kacang-kacang kering dan gula (Yuniastuti, 2008 : 17).
Buah, sayuran, susu, gula pasir, sirup, madu dan lain-lain
merupakan contoh karbohidrat sederhana. Proses pencernaan dan
penyerapan karbohidrat kompleks di traktus gastrointestinal
berlangsung lama dan bertahap sehingga tidak begitu meningkatkan
37
kadar gula dalam darah. Sedangkan karbohidrat sederhana langsung
diserap dan dipergunakan tubuh sebagai energi, sehingga cepat
menimbulkan rasa lapar ( Smelzter & Bare, 2002 ).
Tujuan diet ini adalah meningkatkan konsumsi karbohidrat
komplek (khususnya yang berserat tinggi), seperti roti, gandum utuh,
nasi, beras tumbuk, sereal dan pasta/ mie yang berasal dari gandum
yang masih mengandung bekatul (Smelzter & Bare, 2002 : 1228).
Meskipun demikian anjuran untuk menghindari jenis makanan yang
mengandung gula sederhana (laktosa dan fruktosa) seperti susu dan
buah bukanlah tindakan yang tepat. Anjuran konsumsi gula pada
orang diabetes seperti orang normal, tidak lebih dari 5 % total kalori
(3-4 sendok makan) sehari.
Sebagai alternatif yang lain bagi orang dengan diabetes yang
tidak dapat meninggalkan rasa manis, dipasaran banyak tersedia
pemanis pengganti gula dan juga produk makanan pemanis yang
menggunakan pemanis alternatif, ada yang berkalori seperti fruktosa,
sorbital, dan dylitol dan ada yang tidak berkalori seperti sakarin dan
aspartam. Bila mengkonsumsi makanan yang mengandung pemanis
yang berkalori harus diperhitungkan sebagai bagian dari pemenuhan
kalori sehari (Soeyono, 2007).
b. Lemak
Lemak merupakan simpanan energi bagi manusia dan hewan.
Berdasarkan bentuknya lemak dapat digolongkan dalam lemak padat
(mentega, lemak hewan) dan lemak cair ( minyak kelapa). Menurut
38
penampakannya lemak digolongkan menjadi lemak kentara (lemak
daging sapi yang berwarna putih) dan lemak tak kentara (lemak
dalam telur). Sumber utama lemak adalah minyak tumbuh-tumbuhan
(minyak kelapa, kelapa sawit, kacang tanah, kacang kedelai, jagung,
dan sebagainya, mentega, margarine, dan lemak hewan (lemak
daging dan ayam). Sumber lemak lain adalah kacang-kacangan, biji-
bijian, krim, susu, keju dan kuning telur serta makanan yang dimasak
dengan lemak/ minyak (Yuniastuti, 2008 : 26).
Rekomendasi tentang kandungan lemak dalam diet diabetes
mencakup penurunan presentase total kalori yang berasal dari
sumber lemak hingga 30% dari total kalori dan pembatasan lemak
jenuh hingga 10 % total kalori. Selain itu, pembatasan asupan
kolesterol (hingga kurang dari 300mg/ hari) sangat dianjurkan
(Smelzter & Bare, 2002 : 1229). Rekomendasi ini bertujuan
mengurangi faktor resiko seperti kenaikan kadar serum yang
berhubungan dengan proses terjadinya penyakit jantung koroner.
Membiasakan makan ikan juga dapat mengurangi resiko penyakit
jantung koroner, karena lemak ikan mengandung asam omega 3.
Asam lemak omega 3 berperan mencegah terjadinya penyumbatan
lemak pada pembuluh darah. Klien diabetes dianjurkan untuk
mengurangi makanan makanan yang digoreng sebaiknya direbus,
dikukus atau dipanggang/ dibakar. Bila mungkin lebih baik
menggunakan minyak tidak jenuh, minyak bunga matahari/ minyak
39
kacang. Batasi konsumsi makanan tinggi kolesterol seperti otak,
jerohan, kuning telur.
c. Protein
Protein adalah zat gizi yang penting utuk pertumbuhan dan
pengganti jaringan yang rusak. Oleh karena itu perlu makan protein
setiap hari. Sumber protein banyak terdapat dalam ikan, ayam,
daging, tahu, tempe, dan kacang-kacangan.
Pasien diabetes dapat menggunakan beberapa makanan
sumber nabati (misalnya : kacang-kacangan dan biji-bijian yang
utuh), berguna untuk mengurangi asupan kolesterol serta lemak
jenuh (Smelzter & Bare, 2002 :1229).
d. Serat makanan
Diet tinggi serat - tinggi karbohidrat pada diabetes berperan
dalam penurunan kadar kolesterol dan Low Densiti Lipoprotein
(LDL). Peningkatan kandungan serat dalam diet dapat pula
memperbaiki kadar glukosa darah sehingga kebutuhan insulin dari
luar dapat dikurangi. Ada dua jenis serat makanan, yaitu serat
terlarut, terdapat dalam makanan seperti kacang kacangan,
havermut dan beberapa jenis buah yang mempunyai peran yang lebih
besar dalam menurunkan kadar glukosa darah dan lemak
dibandingkan serat tak larut. Efek penurunan glukosa yang potensial
oleh serat makanan tersebut mungkin disebabkan oleh kecepatan
absorpsi glukosa yang lebih lambat. Serat tak larut ditemukan dalam
40
roti gandum dan sereal serta dalam beberapa jenis sayuran.
(Smelzter & Bare, 2002 :1229)
e. Vitamin & mineral
Vitamin dan mineral terdapat pada sayuran dan buah-buahan,
berfungsi untuk membantu melancarkan kerja tubuh. Apabila kita
makan makanan yang bervariasi setiap harinya maka tidak perlu lagi
vitamin tambahan. Diabetisi perlu mencapai dan mempertahankan
tekanan darah yang normal. Oleh karena itu perlu membatasi
konsumsi natrium. Hindari makanan tinggi garam dan vetsin.
Anjuran makan garam dapur sehari kira-kira 6 - 7 gram (1 sendok
teh).
f. Alkohol
Anjuran penggunaan alkohol untuk orang dengan diabetes
sama dengan masyarakat umum. Dalam keadaan normal, kadar gula
darah tidak terpengaruh oleh penggunaan alkohol dalam jumlah
sedang apabila diabetes terkendali dengan baik. Alkohol dapat
meningkatkan resiko hipoglikemia pada mereka yang menggunakan
insulin atau sulfonylurea. Asupan kalori dari alkohol diperhitungkan
sebagai bagian dari asupan kalori total dan sebagai penukar lemak (1
minuman alkohol = 2 penukar lemak). Anjuran bagi orang diabetes
yang tidak dapat meninggalkan alkohol adalah sebagai berikut:
41
1) Alkohol tidak boleh dikonsumsi apabila:
a) Kadar glukosa darah belum terkendali.
b) Kadar trigliserida darah meningkat.
c) Menggunakan obat diabetes generasi pertama karena dapat
memberikan efek samping.
d) Menderita penyakit gastritis, pankreas, tipe tertentu
penyakit ginjal dan jantung. Alkohol mengandung kalori
tinggi sehingga tidak baik bagi yang kegemukan.
2) Tidak diminum bila perut kosong karena dapat menyebabkan
hipoglikemia.
3) Alkohol mengganggu kesadaran sehingga dalam membuat
perencanaan makan kurang bisa dipatuhi.
4) Batasi tidak lebih dari 1-2 minuman saja, tidak lebih dari dua kali
seminggu.
5) Untuk yang menggunakan insulin, tidak lebih dari 2 minuman
alkohol.
3. Jenis Makanan
Makanan yang dianjurkan pada orang-orang dengan sindrom
metabolik adalah makanan tinggi protein hewani, rendah lemak dan
karbohidrat serta sayur-sayuran yang tidak mengandung karbohidrat.
(H, Hermansyah.2010. Diet Penyakit DM. http:// Hermansyah H/ www.
docstoc /docs/6971035/diet penyakit DM-per.Diperoleh tanggal 1 April
2010).
42
a) Jenis makanan yang dianjurkan pada penderita DM yaitu :
1) Sumber protein hewani : daging kurus, ayam tanpa kulit, ikan
dan putih telur.
2) Sumber protein nabati : tempe, tahu, kacang-kacangan (kacang
ijo, kacang merah, kacang kedele).
3) Sayuran : kangkung, daun kacang, oyong, ketimun, tomat, labu
air, kol, kembang kol, sawi, lobak, seledri, selada, terong
4) Buah-buahan atau sari buah : jeruk siam, apel, pepaya, melon,
jambu air, salak, semangka, belimbing.
5) Susu skim atau susu rendah lemak misalnya yogurt, susu kacang.
6) Hindari makanan sumber karbohidrat seperti roti, pizza, pasta,
permen atau lain-lain. Sebaliknya konsumsi sayur sayuran segar
yang tidak mengandung karbohidrat seperti brokoli dan
campuran sayur-sayuran hijau lainnya.
7) Hindari konsumsi soft drinks dan jus karena mengandung banyak
gula. Selain itu, hindari mengkonsumsi alkohol karena dapat
merusak hati sebagai organ penting dalam metabolisme gula.
8) Hindari mengkonsumsi asam lemak omega-6 yang dapat
ditemukan dalam minyak jagung dan beberapa sayuran karena
dapat menurunkan persediaan vit E dalam tubuh. Bila makan
digoreng dengan menggunakan minyak ini maka dapat
meningkatkan oksidasi dari LDL.
9) Tingkatkan konsumsi dari asam lemak omega-3 yang dapat
ditemukan dalam ikan salmon dan mackerel karena bersifat
43
antiinflamasi dan dapat menurunkan resiko penyakit
kardiovaskular.
b) Bahan makanan yang dibatasi pada penderita DM yaitu :
a) Semua sumber hidrat arang: nasi, nasi tim, bubur, roti, jagung,
talas, ubi
b) Sumber protein hewani yang tinggi lemak jenuhnya: cornet,
sosis, jeroan, sarden, otak
c) Sayuran: bayam, buncis, labu siam, daun singkong, daun ketela,
jagung muda, kapri, kacang panjang.
d) Buah-buahan: nanas, anggur, mangga, sirsak, pisang, alpukat,
sawo.
c) Bahan makanan yang harus dihindari seperti yang terdapat pada:
a) Gula pasir, gula jawa.
b) Sirop, jam, jelly, buah buahan yang diawet dengan gula.
c) Susu kental manis, minuman botol ringan, es krim.
d) Kue kue manis, dodol, cake, tarcis.
e) Abon, dendeng, sarden.
4. Waktu Makan
Jadwal makan untuk pasien DM hendaknya konsisten dalam
waktu yang sama setiap hari, misalnya jadwal makan pagi setiap pukul
07.00 WIB, maka waktu tersebut konsisten dilaksanakan setiap hari
pukul 07.00, begitu juga jadwal makan siang dan makan malam harus
44
konsisten. Konsisten dalam jadwal makan dapat mencegah fluktuasi
kadar gula dalam darah (Moore,1997). (Pusat Lipid & Diabetes
RSCM/FKUI.Pengaturan makan Diabetisi. http://Pusat Lipid & Diabetes
RSCMFKUI/medicastore.com/diabetes/Pengaturan_Makan_Bagi_Diabe
tisi.php Diperoleh tanggal 1 April 2010).
5. Frekwensi Makan
Frekwensi makan untuk pasien DM pada prinsipnya sama dengan
orang normal, yaitu 3x sehari yang terdiri dari pagi, siang dan malam.
Pada pasien DM ditambah makan buah pada pukul 10.00 dan 16.00.
Porsi makanan hendaknya tersebar sepanjang hari yaitu makan pagi,
makan siang dan makan malam serta kudapan diantara waktu makan.
Diabetisi yang menggunakan insulin/ OHO sebaiknya memperhatikan
jadwal makan teratur, jenis serta jumlah makanan. Bila mereka makan
tidak teratur dapat menyebabkan hipoglikemia (penurunan kadar gula
darah < 60 mg/ dl) yang bisa membahayakan. (Pusat Lipid & Diabetes
RSCM/FKUI.Pengaturan makan Diabetisi. http://Pusat Lipid & Diabetes
RSCMFKUI/medicastore.com/diabetes/Pengaturan_Makan_Bagi_Diabe
tisi.php Diperoleh tanggal 1 April 2010).
D. Gula Darah
1. Definisi
Dalam ilmu kedokteran, gula darah adalah istilah yang mengacu
kepada tingkat glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau
tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang
45
dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh
(http://id.wikipedia.org/wiki/Gula_darah diakses tanggal 12 April 2010).
Menurut kamus kedokteran Dorlan (2000) gula darah adalah
produk akhir dan merupakan sumber energi utama organisme hidup yang
kegunaannya dikontrol oleh insulin. Umumnya tingkat gula darah bertahan
pada batas-batas yang sempit sepanjang hari: 4-8 mmol/l (70-150 mg/dl).
Tingkat ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada level
terendah pada pagi hari, sebelum orang makan.
Diabetes melitus adalah penyakit yang paling menonjol yang
disebabkan oleh gagalnya pengaturan gula darah. Meskipun disebut gula
darah, selain glukosa, kita juga menemukan jenis-jenis gula lainnya,
seperti fruktosa dan galaktosa. Namun demikian, hanya tingkatan glukosa
yang diatur melalui insulin dan leptin.
Gambar 2.3 : Struktur & molekul glukosa

Sumber : (http://id.wikipedia.org/wiki/Glukosa )
2. Mekanisme Pengaturan Gula Darah
Tingkat gula darah diatur melalui umpan balik negatif untuk
mempertahankan keseimbangan di dalam tubuh. Level glukosa di dalam
46
darah dimonitor oleh pankreas. Bila konsentrasi glukosa menurun,
karena dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh, pankreas
melepaskan glukagon, hormon yang menargetkan sel-sel di lever (hati).
Kemudian sel-sel ini mengubah glikogen menjadi glukosa (proses ini
disebut glikogenolisis). Glukosa dilepaskan ke dalam aliran darah,
hingga meningkatkan level gula darah.
Grafik 2.1 : Fluktuasi gula darah (merah), dan penurun gula
hormon insulin (biru) pada manusia sepanjang hari
dengan makan tiga kali.
Sumber: ( http://en.wikipedia.org/wiki/Blood_sugar diakses tanggal 23
April 2010)
Apabila level gula darah meningkat, entah karena perubahan
glikogen, atau karena pencernaan makanan, hormon yang lain dilepaskan
dari butir-butir sel yang terdapat di dalam pankreas. Hormon ini, yang
disebut insulin, menyebabkan hati mengubah lebih banyak glukosa
menjadi glikogen. Proses ini disebut glikogenosis, yang mengurangi level
gula darah.
47
Diabetes melitus tipe 1 disebabkan oleh tidak cukup atau tidak
dihasilkannya insulin, sementara tipe II disebabkan oleh respon yang tidak
memadai terhadap insulin yang dilepaskan ("resistensi insulin"). Kedua
jenis diabetes ini mengakibatkan terlalu banyaknya glukosa yang terdapat
di dalam darah.
Tabel 2.1 : Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa dengan metode
enzimatik sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM
Kadar glukosa darah
(mg/dl).
Bukan DM
Belum pasti
DM
DM
Kadar glukosa darah
sewaktu:
Plasma vena
Darah kapiler
<110
<90
110 - 199
90 - 199
>200
>200
Kadar glukosa darah
puasa:
Plasma vena
Darah kapiler
<110
<90
110 - 125
90 - 109
>126
>110
Sumber : (http://id.wikipedia.org/wiki/Gula_darah diakses tanggal 12
April 2010)
Panduan Federasi Diabetes Internasional (IDF) tentang pengelolaan
gula darah sesudah makan merekomendasi pasien diabetes untuk
menjaga kadar gulanya tidak lebih dari 140 mg/dL pada dua jam sesudah
makan. Patokan ini dipublikasi pertama kali pada September 2007 di
Amsterdam, Belanda. Panduan IDF ini menekankan pentingnya menjaga
gula darah sesudah makan agar terhindari dari resiko komplikasi
48
diabetes. (Triyono,Heru.(2009).Tempo Interaktif Kesehatan. http://www.
tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2009/07/21/id.html Diperoleh tanggal
23 April 2010).
Menurut Em yunir ( 2006 : 117 ), Kadar glukosa darah
preprandial 90 130 mg/ dL, kadar glukosa darah post prandial : < 180
mg/ dl.
3. Pengaruh Langsung Dari Masalah Gula Darah
Bila level gula darah menurun terlalu rendah, berkembanglah
kondisi yang bisa fatal yang disebut hipoglikemia. Gejala-gejalanya
adalah perasaan lelah, fungsi mental yang menurun, rasa mudah
tersinggung, dan kehilangan kesadaran.
Bila levelnya tetap tinggi, yang disebut hiperglikemia, nafsu
makan akan tertekan untuk waktu yang singkat. Hiperglikemia dalam
jangka panjang dapat menyebabkan masalah-masalah kesehatan yang
berkepanjangan pula yang berkaitan dengan diabetes, termasuk
kerusakan pada mata, ginjal, dan saraf.
4. Cara Mengontrol Kadar Gula Darah
Kadar gula darah dapat dikontrol dengan 3 cara yakni menjaga
berat badan ideal, diet makanan seimbang dan melakukan olah raga/
latihan fisik. Seiring dengan berjalannya waktu, ketiga cara tersebut
sering kali kurang memadai lagi. Kadar gula darah mungkin tidak
terkontrol dengan baik. Pada keadaan yang seperti inilah baru diperlukan
49
obat anti diabetes (OAD). Jadi, pada dasarnya obat baru diperlukan jika
dengan cara diet dan olahraga gula darah belum terkontrol dengan baik.
Tabel 2.2 : Kriteria Pengendalian DM
Baik Sedang Buruk
Glukosa darah puasa ( mg/ dL )
Glukosa darah 2 jam ( mg/ dL )
Glukosa sewaktu
A1C ( %)
Kolesterol total ( mg/ dL )
Kolesterol LDL ( mg/ dL )
Kolesterol HDL ( mg/ dL )
Trigliserida ( mg/ dL )
IMT ( kg/ m2 )
Tekanan darah ( mmHg )
80 109
110 144
80-144
< 6,5
< 200
< 100
> 45
< 150
18,5 22,9
< 130/80
110 125
145 179
145-179
6,5 8
200 239
100 129
150 - 199
23 25
130 140/80 - 90
126
180
>180
> 8
240
130
200
> 25
> 140/ 90
( Sumber : Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan DM tipe II Perkeni dalam
Sukardji: 2005)
E. Penelitian Terkait
1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rofiah (2003) dengan judul
penelitian hubungan antara kepatuhan klien DM dalam menjalankan
terapi diet dengan pengendalian kadar gula darah di Poliklinik Penyakit
Dalam RSUD Sleman Yogyakarta menunjukkan hasil ada hubungan
yang bermakna antara kepatuhan klien DM dalam menjalankan terapi diet
dengan pengendalian kadar gula darah (X2 = 7,972 p = 0,005 dengan =
0,05), dimana klien DM di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Sleman
50
umumnya 26 orang (86,67%) dalam menjalankan terapi diet patuh dan
sebagian responden yaitu sebanyak 19 orang (63,34%) memiliki kadar
gula darah puasa terkendali.
2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ernaeni (2005) dengan judul
penelitian hubungan kepatuhan diit dengan pengendalian kadar gula
darah penderita diabetes melitus usia lanjut dipuskesmas padang sari
Banyumik kecamatan Semarang dengan sampel populasi luas usia lanjut
yang memeriksakan kadar gula darah. Hasil penelitian menunjukkan
persentase responden yang tidak patuh sebesar 91,4%. Dan persentase gula
darah dalam ketegori buruk adalah sebesar 54,3%. Hasil penelitian
disimpulkan menunjukkan tidak ada hubungan antara kepatuhan diit
dengan kadar gula darah.
3. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dian febriana (2005) dengan
judul penelitian hubungan pola makan dengan kadar gula darah pasien
diabetes melitus di Laboratorium Klinik Pratama Analisa Pekalongan
dengan jumlah responden sebanyak 42 orang. Hasil penelitian menunjukan
bahwa umur sampel paling banyak (82,60%) terdapat pada kelompok
umur dewasa tua 50-69 tahun, pola makan sampel terbanyak (59,50%)
terdapat pada pola makan yang tidak baik yaitu jika salah satu dari
ketepatan jenis makanan, ketepatan jumlah kalori atau ketepatan waktu
makan tidak tepat. Kadar gula darah buruk (>>200mg/dl) dengan
persentase terbanyak pada sampel dengan pola makan tidak baik (41,20%).
Dari hasil uji statistik didapatkan persentase kadar gula darah buruk
dengan pola makan tidak baik sebesar 76,00%. Pada penelitian ini
51
ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara pola makan dengan
kadar gula darah pada penderita diabetes melitus.
4. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tri Agustina (2009) dengan
judul Gambaran sikap pasien Diabetes Melitus di Poli Penyakit Dalam
RSUD Dr. Moewardi Surakarta terhadap kunjungan ulang konsultasi gizi
Penelitian ini adalah penelitian Diskriptif Observasional. Populasi Penelitian
ini adalah 20 pasien Diabetes Melitus di Poli Penyakit Dalam yang mendapat
konsultasi gizi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Teknik pengumpulan data
menggunakan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan analisis
deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap pasien Diabetes
Melitus terhadap kunjungan ulang konsultasi gizi adalah pasien yang tidak
melakukan kunjungan ulang konsultasi gizi disebabkan oleh beberapa hal,
antara lain : Tidak melakukan konsultasi gizi ulang karena waktu sudah lama
menunggu pemeriksaan di Poli Penyakit Dalam. Tidak melakukan kunjungan
ulang konsultasi gizi karena dokter tidak menyarankan untuk konsultasi gizi
ulang.
5. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Esti Setyani (2004) dengan
judul Hubungan antara penyuluhan diit DM dengan kepatuhan
menjalankan diit DM dan terkendalinya kadar gula darah penderita kadar
gula darah penderita DM diklinik gizi RSUD. Penelitian ini mengunakan
pendekatan Cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 40 responden. Hasil
penelitian ini menunjukkan umur responden terbanyak pada kelompok
umur 65 - 60 tahun, yaitu 13 orang (32,5%), jenis kelamin responden lebih
banyak pada jenis kelamin laki-laki(52,5%), tingkat pendidikan responden
terbanyak pada SLTA (52,5%), frekuensi penyuluhan tentang diit DM
52
sebagai besar oleh responden dilakukan satu kali (87,5%0, kepatuhan
responden sebagaian besar baik (72,5%), kadar gula darah responden
cukup berimbang antara responden yang tergolong dalam kondisi tak
terkendali (52,5%) dengan yang terkendali (47,5%). Tidak terdapat
hubungan antara kepatuhan responden (p=0,894). Tidak terdapat hubungan
antara penyuluhan dengan terkendalinya kadar gula darah (P=1,000). Ada
hubungan antara kepatuhan menjalankan diit DM dengan terkendalinya
kadar gula darah responden (P=0,002).
F. Kerangka Teori
Menurut Green (dalam Notoatmodjo,2005) bahwa ada 3 faktor yang
mempengaruhi perilaku manusia dalam melakukan suatu kegiatan yaitu faktor
predisposisi atau faktor internal dalam diri manusia, faktor pendukung yaitu
faktor dukungan lingkungan fisik sekitar perilaku dan faktor pendorong/
penguat yaitu berhubungan dengan penyediaan faktor kesehatan. Maka dari
tinjauan pustaka diatas dapat dibuat kerangka teori dalam bentuk skema
dibawah ini. Untuk lebih jelasnya, kerangka teori dapat digambarkan sebagai
berikut :