Anda di halaman 1dari 15

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................ PENDAHULUAN............................................................................................... ISI ........................................................................................................................

1 2 3 3 3 3 3 3

1. Nama atau Tema Blok .................................................................................... 2. Fasilitator/Tutor .............................................................................................. 3. Data Pelaksanaan ............................................................................................ 4. Pemicu ............................................................................................................ 5. More Info .... 7. Pertanyaan yang Muncul dalam Curah Pendapat ........................................... 9. Ulasan . 10. Kesimpulan .....................................................................................................
Daftar Pustaka .......................................................................................................

6. Tujuan Pembelajaran ....................................................................................... 4


4

8. Jawaban atas Pertanyaan ................................................................................. 5


14 14 15

BAB 1 PENDAHULUAN

Filariasis (penyakit kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasis adalah penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk. Di Indonesia, vektor penular filariasis hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan Armigeres. Filariasis dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, tangan, dan organ kelamin. Filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang dulunya sempat ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali. Kasus penderita filariasis khas ditemukan di wilayah dengan iklim sub tropis dan tropis seperti di Indonesia. Filariasis pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1877, setelah itu tidak muncul dan sekarang muncul kembali. Filariasis tersebar luas hampir di seluruh Propinsi di Indonesia. Untuk memberantas filariasis sampai tuntas, WHO sudah menetapkan Kesepakatan Global (The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health problem by The Year 2020) yaitu program pengeliminasian filariasis secara masal. Program ini dilaksanakan melalui pengobatan masal dengan DEC dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun dilokasi yang endemis dan perawatan kasus klinis untuk mencegah kecacatan. WHO sendiri telah menyatakan filariasis sebagai urutan kedua penyebab cacat permanen di dunia. Di Indonesia sendiri, telah melaksanakan eliminasi filariasis secara bertahap dimulai pada tahun 2002 di 5 Kabupaten percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan setiap tahunnya. Upaya pemberantasan filariasis tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata. Masyarakat juga harus ikut memberantas penyakit ini secara aktif. Dengan mengetahui mekanisme penyebaran filariasis dan upaya pencegahan, pengobatan serta rehabilitasinya, diharapkan program Indonesia Sehat Tahun 2010 dapat terwujud salah satunya adalah terbebas dari endemi filariasis BAB 2 2

ISI 1. Nama atau tema blok : Elective Infection, merupakan blok yang mempelajari tentang berbagai penyakit infeksi tropis di Indonesia. 2. Fasilitator : dr. Zairul Arifin, SpA, DAFK 3. Data Pelaksanaan : A. Tanggal tutorial B. Pemicu C. Pukul D. Ruangan 4. Pemicu : Seorang permpuan, berusia 35 tahun, tinggal didaerah Langkat datang ke Poliklinik Penyakit Dalam RS Adam Malik dengan keluhan bengkak pada kaki sebelah kiri mulai dari pangkal paha sampai mata kaki. Hal ini dialami sejak 2 bulan yang lalu, awalnya berupa pembengkakan pada mata kaki kiri, teraba keras dan nyeri. Keluhan lain adalah batuk dan sesak nafas dan sudah mendapat pengobatan tetapi tidak sembuh. Ada beberapa orang di sekitar tempat tinggal pasien yang mempunyai keluhan yang sama. Pada Pemeriksaan fisik diperoleh : kesadaran kompos mentis Tekanan darah 120/70 mmHg, denyut nadi 90x/menit, frekuensi nafas 28x/menit. Pada ekstermitas inferior sinistra diperoleh non pitting oedem (+), nyeri tekan (+), hiperemis (+), dan makula hiperpigmentasi (+). Pada auskultasi terdengar wheezing pada kedua lapangan paru. Apa yang terjadi pada pasien tersebut? More Info Laboratorium : Hb 10,8g/dL; Leukosit 9530/mm; Ht 36,80%; Trombosit 423.000/mm Hitung jenis : eosinofl 20%, basofil 4%, neutrofil batang 40%, neutrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit 1% Diperoleh parasit mikrofilaria inti tubuh teratur, ujung ekor runcing dan tidak berinti, dan selubung tubuh transparan. 3 : 1 November 2010 dan 4 November 2010 : I : 10.30-13.00 WIB : Ruang Diskusi A-8

5. Tujuan Pembelajaran a. Memahami Filariasis Bancrofti. b. Mengetahui mekanisme terjadinya pitting edema dan nonpitting edema serta diagnosis bandingnya. 6. Pertanyaan/Learning Issue a. Apa definisi, etiologi dan epidemiologi Filariasis Bancrofti? b. Bagaimana patogenesis dan patofisiologi Filariasis Bancrofti? c. Bagaimana mekanisme terjadinya non pitting edema? d. Bagaimana manifestasi klinis Filariasis Bancrofti? e. Bagaimana kriteria diagnosis Filariasis Bancrofti? f. Bagaimana penatalaksanaan dan prognosis Filariasis Bancrofti? g. Bagaimana pencegahan Filariasis Bancrofti?

7. PEMBAHASAN A. Filariasis Brancofti 4

a. Defenisi, etiologi, dan Morfologi Filariasis Bancrofti adalah infeksi yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti. Cacing dewasa hidupa dalam kelenjar dan saluran limfe, sedangka mikrofilaria ditemukan didalam darah. Etiologi filariasis adalah cacing filaria dari golongan nematoda. Wuchereria bancrofti yang akan mencapai kematangan seksual di kelenjar dan saluran limfe. Cacing dewasa bentuknya halus seperti benang dan bewarna putih susu. Cacing betina berukuran 65-100 mm x 0,25 mm dan yang jantan 40 mm x 0,1 mm. Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang bersarung dengan ukuran 250- 300 miron x 7-8 mikron. b. Epidemiologi Filariasis Bancrofti dapat dijumpai di perkotaan atau di pedesaan. Di Indonesia parasit ini lebih sering dijumapi di pedesaan daripada perkotaan dan penyebarannya bersifat lokal. Kurang lebih 20 juta penduduk Indonesia bermukim didaerah endemis filariasis bancrofti, malayi, timori dan mereka sewaktu-waktu dapat ditulari. Kelompok umur dewasa muda merupakan kelompok penduduk yang paling sering menderita terutama mereka yang tergolong penduduk berpenghasilan rendah. c. Patogenesis Larva yang infektif (larva stadium III) dilepaskan melalui proboscis (labela) nyamuk sewaktu menggigit manusia. Larva kemudian bermigrasi dalam saluran limfe dan kelenjar limfe, dimana akan tumbuh menjadi cacing dewasa betina dan jantan. Cacing betina dewasa dapat menghasilkan 50.000 mikrofilaria setiap hari. Mikrofilaria pertama sekali ditemuka di darah perifer 6 bulan- 1 tahun setelah infeksi, dan jika tidak terjadi re-infeksi mikrofilaremia dapat bertahan 5-10 tahun. Mikrofilaria Bancrofti bersifat periodesitas nokturna, artinya mikrofilaria hanya terdapat didalam darah tepi pada waktu malam. Pada siang hari, mikrofilaria terdapat dikapiler alat dalam (paru, jantung,ginjal, dan sebagainya). Hospes pertama mendapat infeksi dengan menghisap darah yang mengandung mikrofilaria. Mikrofilaria akan melepas sarungnya didalam lambung nyamuk.

Larva akan bermigrasi ke otot-otot dada. Mula-mula parasit ini memendek, bentuknya menyerupai sosis dan disebut Larva Stadium I. Dalam kurun waktu kurang lebih seminggu, larva ini bertukar kulit, tumbuh menjadi lebih gemuk dan panjang disebut Larva Stadium II. Pada hari kesepuluh dan selanjutnya larva bertukar kulit sekali lagi, tumbuh makin panjang dan lebih kurus disebut Larva Stadium III (larva infektif). Dan didalam tubuh hospes mengalami dua kali pergantian kulit, tumbuh menjadi Larva Stadium IV lalu Larva Stadium V atau cacing dewasa. d. Patofisiologi Perubahan patologi utama disebabkan oleh kerusakan pembuluh getah bening akibat inflamasi yang ditimbulkan oleh cacing dewasa, bukan oleh mikrofilaria. Cacing dewasa hidup di pembuluh getah bening aferen atau sinus kelenjar getah bening dan menyebabkan pelebaran pembuluh getah bening dan penebalan dinding pembuluh. Infiltrasi sel plasma, eosinofil, dan makrofag didlam sekitar pembuluh getah bening yang mengalami inflamasi bersama dengan proliferasi sel endotel dan jaringan penunjang, menyebabkan berlikulikunya sistem limfatik dan kerusakan atau inkompetensi katup pembuluh getah bening. Limfadema dan perubahan kronik akibat statis bersama edema keras terjadi pada kulit yang mendasarinya. Perubahan-perubahan yang terjadi akibat filariasis ini disebabkan oleh efek langsung dari cacing ini dan respon imun pejamu terhadap parasit.respon imun ini menyebabkan proses granulomatosa dan proliferasi yang menyebabkan obstruksi total pembuluh getah bening. Diduga bahwa pembuluh-pembuluh tersebut tetap paten selam cacing tetap hidup dan bahwa kematian cacing tersebut menyebabkan reaksi granulomatosa dan fibrosis. Dengan demikian terjadilah obstruksi limfatik dan penurunan fungsi limfatik. e. Manifestasi Klinis Asimptomatic Amicrofilaremia, adalah suatu keadaan yang terjadi apabila seseorang yang terinfeksi mengandung cacing dewasa, tetapi tidak ditemukan

mikrofilaria dalam darah, atau karena mikrofilaremia sangat rendah sehingga tidak terdeteksi dengan prosedur laboratorium yang biasa. Asimptomatic Microfilaremia, dimana pasien mengandung mikrofilaremia yang berat tanpa gejala sama sekali. Manifestasi akut, berupa demam tinggi (demam filarial atau elefantoid), menggigil, dan lesu disertai peradangan pada saluran dan kelenjar limfe berupa limfadenitis, berlangsung 3-15 hari dan dapat terjadi bebrapa kali dlam setahun. Limfangitis akan meluas ke daerah distal dari kelnjar yang terkena tempat cacing ini tinggal. Limfangitis dan Limfadenitis berkembang lebih sering pada ekstremitas bawah, selain pada tungkai dapat mengenai alat kelamin dan payudara. Manifestasi kronik, terjadi dalam beberapa bulan sampai bertahun-tahun dari terjadinya episode, bervariasi mulai dari ringan sampai berat yang diikuti dengan berkembangnya penyakit obstruksi kronik yang disebabkan oleh berkurangnya fungsi saluran limfe. Tanda klinis utama berupa hydrococele, lymphedema, elephantiasis, dan chyluria. Manifestasi genital dibanyak daerah, gambaran kronis yang terjadi adalah hydrococele. Selain itu, dapat dijumpai epididimitis kronik, folikulitis, edema karena penebalan kulit skrotum, sedangkan pada wanita dijumpai lympedema vulva. Limfedema pada filariasis bancrofti biasanya mengenai seluruh tungkai. Limfedema tungkai ini dapat dibagi atas: Derajat 1 Derajat 2 Derajat 3 Derajat 4 f. Diagnosis Diagnosis dipastikan dengan pemeriksaan: 7 : Edema pada tungkai yang dapat kembali normal (reversible) : Pitting/non pitting oedem yang tidak dapat kembali normal : Edema non pitting, tidak dapat kembali normal bila diangkat, : Edema non pitting dengan jaringan fibrosis dan verukosa pada bila tungkai diangkat. (irreversible) bila tungkai diangkat. kulit menjadi tebal. kulit (elephantiasis).

1. Diagnosis parasitologi Deteksi parasit yaitu menemukan mikrofilaria di dalam darah, cairan hidrokel, atau cairan kiluria pada pemeriksaan sediaan darah tebal dan teknik konsentrasi Knott,membran filtrasi. Pengambilan darah harus dilakuan pada malam hari (setelah pukul 20.00) mengingat periodesitas nokturna. Pada pemeriksaan histopatologi, kadang-kadang potongan cacing dapat dijumpai di saluran dan kelenjar limfe dari jaringan yang dicurigai tumor. Teknik biologi molekular dapat digunakan untuk mendeteksi parasit DNA parasit dengan menggunakan rantai polimerase (Polymerase Chain Reaction/PCR) 2. Radiologis Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada skrotum dan kelenjar getah bening inguinal pasien akan memberikan gambaran cacing bergerak-gerak. Ini berguna terutama untuk evaluasi hasil pengobatan. Pemeriksaan limfosintigrafi dengan menggunakan dekstran atau albumin yang ditandai dengan zat radioaktif menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik sekalipun pada penderita yang asimptomatik mikrofilaria. 3. Diagnosis Imunologi Deteksi antigen dengan Imunocromatografik Test (ICT) yang menggunakan antibodi monoklonal telah dikembangkan untuk mendeteksi antigen W. Bancrofti dalam sirkulasi darah. Hasil tes positif menunjukkan adanya infeksi aktif, walaupun mikrofilaria tidak ditemukan dalam darah g. Penatalaksanaan Perawatan umum : Perawatan di tempat tidur, pindah ke daerah yang dingin akan mengurangi derajat serangan akut. Antibiotik dapat diberikan untuk infeksi sekunder dan abses. Pengikatan di daerah pembendunagan akan mengurangi edema.

Pengobatan Sepesifik 8

Dietil Karbamasin sitrat (DEC) Cara Kerja : DEC bersifat membunuh mirofilaria dan juga cacing dewasa W. Bancrofti dan B. Malayi secara in vivo pada jangka panjang. Dosis : 6 mb/kgbb/hari selama 12 hari. Dosis harian obat tersebut dapat diberikan 3 kali pemberian sesudah makan. Efek Samping : Reaksi sistemik dengan atau tanpa demam, sakit kepala, sakit pada berbagi bagian tubuh, sendi-sendi, pusing, anoreksia, lemah dan asma. Reaksi ini terjadi beberapa jam setelah pemberian DECdan berlangsung tidak lebih dari 3 hari. sendirinya. Ivermectin Cara Kerja : antibiotik semisintetik dari golongan makrolid yang mempunyai aktivitas luas terhadap nematoda dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh mikrofilaria. Dosis Efek Samping Albendazole Dosis : 400mg dosis tunggal h. Pencegahan Program eliminasi filariasis melalui pengobatan masal di daerah endemis (prevalensi > 1 %) telah dicanagkan oleh organisasi kesehatan dunia. Obat yang dianjurkan adalah kombinasi DEC 6 mg/kgBB dan albendazole 400mg yang diberikan sekali setiap tahun selama 5-10 tahun pada penduduk diatas usia 2 tahun. B. Mekanisme Non-pitting Edema a. Defenisi Edema Edema adalah gejala klinis berupa peningkatan volume cairan interstisial. Pitting edema adalah edema yang jika dilakukan penekanan pada permukaan kulit di atasnya akan menimbulkan inflasi (cekungan) dari permukaan kulit : 400ug/kg bb setiap 6 bulan sekali : lebih ringan dari dibandingkan DEC. Reaksi ini akan hilang dengan

tersebut. Pitting edema dapat terjadi pada keadaan malnitrisi, dehidrasi, filariasis akut, gagal hati, gangguan ginjal dan gangguan jantung. Nonpitting edema adalah edema yang jika dilakukan penekanan pada permukaan kulit di atasnya tidak akan menimbulkan inflasi (cekungan) dari permukaan kulit tersebut. Nonpitting edema biasanya didahului oleh pitting edema. Nonpitting edema dapat terjadi pada kasus filariasis kronis yang menimbulkan penebalan kulit dan elefantiasis, edema akibat inflamasi dan kerusakan kapiler. b. Mekanisme Non-pitting edema Gagal jantung, hipertensi vena portal, oklusi dan insufisiensi vena Peningkatan tekanan hidrostatik Perembesan cairan intravaskular ke interstisial Ketidakmampuan menarik cairan dari interstisial ke intravaskular Pitting edema Perembesan cairan intravaskular ke interstisial Peningkatan permeabilitas kapiler Insufisiensi drainase limfatik Kerusakan fungsional dan obstruktif dari pembuluh limfa Toksin, inflamasi Kelainan kongenital, filariasis, limfangitis, sklerosis limfa Jika pitting edema berkepanjangan akan menimbulkan akibat sebagai berikut: Protein losing enteropathy, sirosis hepatis, malnutrisi, proteinuria Penurunan tekanan onkotik

10

1. Sklerosis akibat stimulasi proliferasi stroma fibroblas yang membentuk serat kolagen. Akibatnya timbul fibrosis dan pengerasan jaringan yang sebelumnya lunak dan edema. 2. Dermatopati diakibatkan atrofi dan hiperkeratosis bagian kulit yang edema. Kedua proses di atas akan mengakibatkan perubahan dari pitting edema menjadi nonpitting edema. C. Occult Filariasis (Tropical Pulmonary Eosinophilia) a. Defenisi, Etiologi Occult filariasis adalah penyakit filariasis limfatik yang disebabkan oleh penghancuran mikrofilaria dalam jumlah berlebihan oleh sistem kekebalan penderita. Mikrofilaria dihancurkan oleh zat anti dalam tubuh hospes akibat hipersensitivitas terhadap antigen mikrofilaria. Penyebabnya adalah spesies filaria yang menyebabkan filariasis pada manusia maupun hewan antara lain: Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia timori . Penyakit ini dilaporkan terdapat di Indonesia, Singapura, Vietnam, Muangthai, Afrika, Curacao dan India dan Asia Tenggara. b. Patogenesis Tropical pulmonary eosinophilia adalah penyakit filariasis limfatik yang disebabkan oleh penghancuran sejumlah mikrofilaria secara berlebihan oleh sistim kekebalan penderita. Akibatnya mikrofilaria tersebut tidak ditemukan dalam darah, tetapi ditemukan di dalam organ-organ dalam seperti paru, limpa, dan hati. Pada permukaan organ tersebut terdapat benjolan-benjolan kecil berwarna kuning kelabu dengan penampang 1-2 mm, terdiri dari infiltrasi sel eosinofil, dan dikenal dengan nama benda Meyers Kowenaar. Di dalam benda-benda inilah dapat ditemukan sisa-sisa mikrofilaria. c. Gejala klinis Tidak seperti gejala klasik filariasis limfatik yang berupa limfangitis, limfoedema, kiluria dan elephantiasis, gejala klinis Tropical Pulmonary Eosinophilia (TPE) adalah sebagai berikut: - Serangan batuk hebat malam hari. 11

- Sesak nafas mirip dengan asma bronkial. - Demam yang tidak terlalu tinggi. - Nyeri dada dan suara kasar ronkhi pada auskultasi. - Pembesaran kelenjar limfe di daerah inguinal, leher, siku atau kelenjar limfe ditempat lain. - Hepatosplenomegali. Histopatologi dan Kelainan Laboratorium/Radiologis : - Peningkatan laju sedimentasi darah (LED). - Hipereosinofilia (>3000/ml darah) atau jumlah eosinofil 3 kali dari jumlah normal. Pada umumnya jumlah eosinofil absolut berkisar 5000-50.000/ml darah . - Titer antibodi meningkat terutama Ig E antifilaria. - Kelainan radiologis berupa lesi miliaris yang difus dan peningkatan corakan bronkovaskuler terutama pada dasar paru. - Mikrofilaria tidak dijumpai dalam darah tetapi mikrofilaria atau sisasisanya dapat ditemukan di jaringan kelenjar limfe, paru, limpa dan hati yang disebut benda Meyers Kouwenaar d. Diagnosis Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis, hipereosinofilia, peningkatan kadar IgE yang tinggi, peningkatan zat anti terhadap mikrofilaria, dan gambaran rontgen paru. Konfirmasi diagnosis tersebut adalah menemukan benda Meyers Kouwenaar pada sediaan biopsi, atau dengan melihat perbaikan gejala dengan pengobatan dengan DEC. e. Pengobatan Obat pilihan adalah DEC dengan dosis 6 mg/kg BB/ hari selama 21-28 hari. Pada stadium didini penderita dapat disembuhkan dengan parameter darah dapat pulih kembali sampai kadar yang hampir normal. Pada stadium klinik lanjut, seringkali terdapat fibrosis dalam paru dan dalam keadaan tersebut, fungsi paru mungkin tidak dapat pulih sepenuhnya. Penderita TPE memberikan respon yang rendah dengan pengobatan bronkodilator dan steroid. 12

Ulasan : 1. Filariasis bancrofti dan Brugia malayi adalah penyakit yang menyerang sistem limfe. Gambaran khasnya adalah adanya parasitemia yang berulang disertai radang, nyeri sistem limfe dan diakhiri kerusakan, kekakuan dan bendungan pada pembuluh limfe. Kelainan ini terutama diketemukan di lengan, alat kelamin dan dada. Akhir gangguan aliran limfe berupa limfedema. 2. Tropical Pulmonary Eosinophilia merupakan penyakit Filariasis amikrofilaremik penyebabnya adalah spesies filaria Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia timori, Brugia pahangi . 13

3. TPE mempunyai respon imun yang sangat komplek, dapat mencakup jenis spesifik maupun non spesifik, dengan eosinofil yang berperanan penting. 4. TPE mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan asma (asthma like syndrome). Hal ini akibat fase istirahat mikrofilaria pada siang hari di paru. Pada saat itu terjadi pengeluaran enzim mikrofilaria (filarial gluaracyl transpeptidase) yang merangsang THelper 2 yang menyebabkan pengeluaran granul eosinofil seperti EDN,ECP, dan MBP 2 yang menyebabkan manifestasi airway hyper-responsive (AHR) sehingga menimbulkan gejala seperti asma.

Kesimpulan : Perempuan, menderita filariasis bancrofti stadium III dengan manifestasi kronis TPE (Tropical Pulmonary Eosinophilia).

DAFTAR PUSTAKA

Cermin Dunia Kedokteran, 2001. Tropical Pulmonary Eosinophilia. Available from:http://www.kalbe.co.id/ TropicalPulmonaryEosinophilia. Braunwald, Eugene, 2007. Edema. Dalam: Kasper, D.L., Braunwald, E., Fauci, A.S., Hauser, S.L., Longo, D.L., and Jameson, J.L. ed. Harrisons Principles of Internal Medicine. 16th ed. New York: McGraw-Hill, 212-216.

14

Djuandi Yenny, Felix Partono,2008.Occult Filariasis. Dalam: Sutanto, Ismid.,dkk.,ed. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Parasitologi FKUI, 42-43. Pohan, Herdiaman T, 2006. Filariasis. Dalam: Sudoyo, Aru.W., dkk., ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV, jilid III. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 1758 Supali Taniawati, Agnes Kurniawan, Felix Partono,2008.Wuchereria Bancrofti. Dalam: Sutanto, Ismid.,dkk.,ed. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Parasitologi FKUI, 32-38 Supali Taniawati, Agnes Kurniawan, Sri Oemijati,2008.Epidemiologi Filariasis. Dalam: Sutanto, Ismid.,dkk.,ed. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Edisi IV. Jakarta: Pusat

15