Anda di halaman 1dari 15

Adanya hukum Lian / menuduh zina pertama yang terjadi dalam Islam (disebabkan), Syarik bin Sahma dituduh

berzina oleh Hilal bin Umayyah dengan isterinya (Hilal), maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, (Tunjukkan) bukti, bila tidak, maka hadd (hukuman cambuk) di punggungmu. (Hadits ini dikeluarkan Abu Yala, Secara hukum asal, siapa yang menuduh berzina terhadap laki-laki Muhshan (yang sudah beristeri), maka maka ia harus mengajukan bukti. Bukti dalam kasus zina adalah berupa persaksian empat orang laki-laki; bila tidak mengajukan bukti ini, maka orang tersebut (si penuduh) harus dikenakan hukum Hadd Qadzf sebanyak 80 kali cambuk. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT, Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka orang menuduh itu) delapan puluh kali dera (QS.an-Nur:4) Terkecuali dari makna umum ayat di atas, kasus seorang laki-laki (suami) menuduh isterinya berzina; maka ia harus mengajukan empat orang saksi; jika tidak ada, maka Hadd Qadzf bisa dicegah dengan syarat ia bersumpah sebanyak empat kali bahwa ia berkata benar terhadap tuduhan zina itu dan kali kelimanya, ia melaknat dirinya sendiri seraya mengatakan, Dan laknat Allah lah atasnya bila ia berdusta. Dengan begitu, persaksian itu baru bisa diajukan bila sudah melengkapi empat orang saksi. Hal itu, karena seorang laki-laki (suami) tidak mungkin berdiam saja ketika melihat isterinya melakukan perbuatan keji (zina) sebagaimana kalau ada orang melihatnya bersama wanita asing, sebab hal itu merupakan aib baginya (suami), dan pelanggaran terhadap kehormatannya dan perusak ranjangnya. Karena itu, ia tidak boleh menuduh isterinya kecuali setelah melakukan pengecekan sebab tindakannya itu biasanya didorong oleh faktor kecemburuan yang teramat sangat, sebab pada dasarnya, aib akan diterima mereka berdua (sebagai suami-isteri). Jadi, inilah yang menguatkan kebenaran klaimnya. Dua Imam madzhab; Abu Hanifah dan Imam Malik memandang bahwa orang yang menuduh laki-laki lain berzina dengan isterinya, maka ia harus mengajukan bukti atas hal itu, sebab bila tidak, maka ia dikenakan hukuman Hadd. Alasannya, karena hal itu merupakan tuduhan berzina terhadap orang yang seharusnya tidak perlu dituduh sehingga ia berada dalam posisi hukum asal Hadd Qadzf. Sementara dua Imam madzhab lagi; imam asy-Syafii dan Ahmad memandang bahwa bila suami menuduh isterinya berzina dengan laki-laki tertentu ,jika istrinya terbukti berjinah , maka telah

gugur atasnya Hadd dan jatuh kepada isterinya. Siapa yang menuduhnya (isterinya) berzina, maka dia harus menyebutkannya dalam Lian atau tidak menyebutnya sebab Lian membutuhkan bukti dari salah satu dari kedua belah pihak, sehingga ia menjadi bukti pada pihak yang lain seperti kedudukan persaksian. Jika suami tidak melakukan Lian, maka bagi masing-masing dari suami dan laki-laki yang dituduh berzina dengan isterinya itu harus menuntut dilakukannya Hadd; siapa saja di antara keduanya yang meminta, maka ia sendiri yang dihukum Hadd dan tidak dapat dikenakan kepada yang belum memintanya. (sumber:http://dirga-sma-khadijah-surabaya.blogspot.com/2009/03/pengertian-zina.html) (SUMBER: Tawdhiih al-Ahkaam Min Buluugh al-Maraam karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam, Jld.V, hal.302-303)

HUKUM MENUDUH BERZINA

1. Pengertian Qadzf Secara bahasa makna kata Qadzf adalah ar-Romyu bisySyayi (menuduh sesuatu).Sedangkan secara istilah adalah menuduh berzina atau melakukan liwath (homoseksual) Qadzf terbagi kepada dua jenis: Pertama, Qadzf yang pelakunya dikenai hukum Hadd (hukuman yang telah ditetapkan ukurannya berdasarkan al-Quran atau hadits) Kedua, Qadzf yang pelakunya dikenai sanksi Tazir (hukuman yang dijatuhkan berdasarkan kebijakan penguasa pemerintahan Islam) Bentuk Qadzf yang pelakunya (Qadzif) dikenai hukuman Hadd adalah menuduh seorang Muhshon (yang sudah menikah) melakukan zina, menafikan nasabnya atau menuduhnya melakukan liwath. Sedangkan bentuk Qadzf yang pelakunya dikenai sanksi Tazir adalah

menuduh secara tidak terang-terangan terkait dengan hal-hal di atas atau menuduh dengan selain itu. Hukum Qadzf adalah HARAM berdasarkan nash al-Quran, hadits dan Ijma. Allah SWTberfirman, Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS.an-Nur:4) Di dalam kitab ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Muslim), dari hadits Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW bersabda, Jauhilah tujuh perkara yang mencampakkan. (salah satunya beliau menyebutkan) al-Qadzf. Para ulama juga telah bersepakat (Ijma) bahwasanya Qadzf tersebut merupakan salah satu dosa besar (Kabair). Ibn Rusyd mengatakan, Para ulama sepakat bahwa disamping diwajibkannya hukum hadd, maka persaksiannya (Qadzif) gugur selama belum bertaubat. Mereka juga bersepakat bahwa taubat tidak dapat membatalkan hukuman hadd.

MENUDUH ZINA Qadzaf atau menuduh berzina merupakan suatu kesalahan yang harus dikenai hukuman karena merupakan dosa. Islam mengharamkan qadzar karena melindungi kehormatan manusia, menjaga reputasinya dan memelihara kemuliannya. Dengan demikian orang-orang yang bermaksud melukai perasaan orang lain dan menginjak-injak kehormatan orang lain dapat dicegah. Islam melarang mensyiarkan berita jelek pada diri orang-orang yang beriman, sehingga dengan demikian kehidupan orang Islam dapat bersih dari noda kejelakan. Tuduhan berzina akan membawa akibat buruk dalam kehidupan manusia, karena dengan tuduhan berzina selain akan menghilangkan kehormatan, dan nama baik orang yang dituduh berzina itu bisa dikucilkan dalam masyarakat atau lingkungannya. Islam mengajarkan agar manusia selalu berbuat baik dan tidak membuat kerusakan. Karena orang yang menuduh berzina yang tidak dapat memberikan kesaksian maka dia juga akan disebut sebagai orang yang tidak dapat dipercaya dan orang yang membuat kerusakan.Jadi Qadzaf merupakan perbuatan yang diharamkan, karena membawa dampak buruk pada

kehidupan manusia. Bukan orang yang dituduh saja yang akan hancur, akan tetapi yang menuduhkan bisa hancur kalau dia tidak bisa menunjukkan kebenaran tuduhan itu atau mempunyai maksud buruk untuk melawan hukum. Dan orang orang yang menuduh itu akan diberi hukuman dera delapan puluh kali tuduhannya itu terbukti tidak benar. Dasar hukum yanmg menerangkan larangan Qadzaf : Al-Qur'an Surat An-Nur ayat 4 :

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur: 4)

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la'nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. (QS. An-Nur: 23) Surat An-Nur ayat 19

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui (QS. An-Nur: 19) Hadist

: (

Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW. Beliau bersabda: Jauhilah tujuh macam perbuatan yang merusak. Para sahabat bertanya: Wahai Rosulullah apakah yang tujuh perkara itu? Nabi menjawab: menyekutukan Allah, sihir, membunuh manusia yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari pada waktu pertempuran, menuduh wanita baik-baik, beriman dengan lenah (berbuat zina) Dan hadis berikut (Terjemahnya): Dari Ibnu Abbas bahwa Hilal bin Umayyah menuduh istrinya berzina di zaman Nabi Saw. Hilal menuduh istrinya berzina dengan Syuraik bin Samha`. Maka Nabi Saw bersabda: Pilih membawa bukti atau dihukum jilid punggungmu? Hilal menjawab: Bagaimanakah jika salah seorang dari kami melihat istri berzina dengan seorang laki-laki, apakah dia harus pergi mencari saksi sebagai bukti ya Rasullullah? Beliau bersabda: pilih membawa bukti atau dihukum jilid punggung kamu? Hilal berkata: Demi Allah yang mengutus tuan dengan benar, sungguh aku yang benar dan Allah pasti menurunkan wahyu yang menyelamatkan punggungku dari hukuman. Maka Jibril turun menyampaikan wahyu (Al-Quran S.24 An-Nur 6 Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar) Lalu Nabi Saw pergi memerintahkan mencari istri Hilal. Kemudian hilal datang dan bersaksi. Tetapi Nabi Saw bersabda: Allah mengetahui bahwa salah seorang kalian itu bohong, maukah kalian bertobat Lalu si perempuan itu berdiri dan bersumpah. Ketika sampai sumpahnya yang ke-5 para sahabat menghentikannya dan mereka berkata: Sudah cukup kuat. Ibnu Abbas berkata: Perempuan itu memperlambat dan mundur, sampai aku menduga dia akan kembali Lalu perempuan itu berkata: Aku tidak mau membuka kejelekan kaumku sepenuh hari Nabi Saw bersabda: Perhatikanlah perempuan itu bila dia datang dengan celak mata yang hitam betisnya agak besar artinya untuk Syuraik bin Samha`. Maka waktu perempuan itu datang persis seperti yang digambarkan tadi maka Nabi Saw bersdabda: Jika seandainya belum terjadi firman Allah berarti untuk aku sedangkan perempuan tadi mempunyai masalah (HR Bukhari no.4378).

D.Hukum suami mengatakan pada istrinya pelacur Bagaimana hukumnya suami mengatakan pada Istrinya Pelacur,hal ini dikarenakan istri yang tidak patuh /berbuat salah pada suami Ucapan itu dosa besar dua dosa besar, yg pertama pada Allah, maka hendaknya pelaku beristighfar dan bersungguh sungguh dalam usahanya menghindari hal serupa. yg kedua adalah dosa pada istrinya, ia mesti meminta maaf pada istrinya dan bersungguh sungguh untuk tak mengulanginya lagi, Beda dengan menuduh, kalau menuduh maka hukumnya berat, terkena hukum Qadzaf dan Lian, yaitu adalah suami atau istri yg menuduh suaminya atau istrinya berzina dan ada 4 orang saksi yg melihat perzinahan dg matanya) jikapun ada 4 saksi atau lebih yg melihat perbuatan zina itu, tapi diantara mereka tak ada 4 orang yg mau bersaksi, maka yg 3 saksi akan terkena hukum qadzaf, yaitu dicambuk 80x karena divonis menuduh zina tanpa cukup bukti. jika tak ada saksi, khusus untuk istri/suami yg menuduh suami/istrinya berzina dan yg dituduh tak terima/tidak mengaku, atau yg menuduh mempermasalahkan, maka keduanya dihadirkan di sidang pengadilan syariah, keduanya bersumpah 5X. suami bersumpah dengan Nama Allah bahwa ia betul bahwa istrinya berzina, ia ulangi lagi sumpahnya yg sama, demikian sampai 4X sumpah dg nama Allah bahwa istrinya berzina, lalu ia bersumpah lagi yg kelima Dengan Nama Allah, agar laknat Allah turun padanya jika ia dusta. demikian 5x sumpah. lalu istrinya (tertuduh) jika tak merasa melakukan, atau menolak tuduhan itu, ia mesti bersumpah pula 4X Dengan Nama Allah bahwa ia tidak berzina dan tuduhan itu dusta, dan sumpah lagi yg kelima dg Nama Allah agar Laknat Allah turun padanya jika ia berdusta. (QS Annur 6-10) jika keduanya sampai melakukan sumpah itu maka hakim menjatuhkan Talaq 3 (cerai) dan tak akan bisa kembali lagi sebagai suami istri selama lamanya. ini talaq yg paling berat, sebab talaq 1 tentunya bisa rujuk kembali, demikian talak 2, bisa rujuk dan kembali, namun talaq 3 maka cerai tanpa bisa kembali kecuali kalau istri sudah menikah dg orang lain hingga bersetubuh dg suaminya yg baru, lalu mungkin kalau sampai bercerai, maka baru bisa menikah kembali dg suaminya yg pertama. namun talak yg disertai sumpah diatas itu, tak bisa kembali selama lamanya.

Bab II

Landasan teori A.pengertian zina


Zina bisa dipilah menjadi dua macam pengertian, yaitu pengertian zina yang bersifat khusus dan yang dalam pengertian yang bersifat umum. Pengertian yang bersifat umum meliputi zina yang berkonsekuensi dihukum hudud dan yang tidak. Dan dalam pengertian khusus adalah yang semata-mata mengandung konsekuensi hukum hudud. Beberapa Pengertian Zina : 1. Zina dalam pengertian khusus Zina dalam pengertian khusus hanyalah yang berkonsekuensi pelaksanaan hukum hudud. Yaitu zina yang melahirkan konsekuensi hukum hudud, baik rajam atau cambuk. Bentuknya adalah hubungan kelamin yang dilakukan oleh seorang mukallaf yang dilakukan dengan keinginannya pada wanita yang bukan haknya di wilayah negeri berhukum Islam.Untuk itu konsekuensi hukumya adalah cambuk 100 kali sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dalam AlQuran Al-Kariem :Wanita dan laki-laki yang berzina maka jilidlah masing-masing mereka 100 kali. Dan janganlah belas kasihan kepada mereka mencegah kamu dari menjalankan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman. (QS. An-Nuur : 2) Sedangkan Al-Malikiyah mendefinisikan bahwa zina itu adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh seorang mukallaf muslim pada kemaluan wanita yang bukan haknya (bukan istri atau budak) tanpa syubhat atau disengaja. Sedangkan As-syafi'iyyah mendefiniskan bahwa zina adalah masuknya kemaluan laki-laki atau bagiannya ke dalam kemaluan wanita yang bukan mahram dengan dilakukan dengan keinginannya di luar hal yang syubhat. Dan Al-Hanabilah mendefinisikan bahwa zina adalah perbuatan fahisyah (hubungan seksual di luar nikah) yang dilakukan pada kemaluan atau dubur.Namun untuk menjalankan hukum zina seperti ini, maka ada beberapa syarat penting yang harus dipenuhi antara lain : Pelakunya adalah seorang mukallaf , yaitu aqil dan baligh. Sedangkan bila seorang anak kecil atau orang gila melakukan hubungan seksual di luar nikah maka tidak termasuk

dalam kategori zina secara syar`i yang wajib dikenakan sangsi yang sudah baku. Begitu juga bila dilakukan oleh seorang idiot yang para medis mengakui kekuranganya itu. Pasangan zinanya itu adalah seorang manusia baik laki-laki ataupun seorang wanita. Sehingga bila seorang laki-laki berhubungan seksual dengan binatang seperti anjing, sapi dan lain-lain tidak termasuk dalam kategori zina, namun punya hukum tersendiri. Dilakukan dengan manusia yang masih hidup. Sedangkan bila seseorang menyetubuhi seorang mayat yang telah mati, juga tidak termasuk dalam kategori zina yang dimaksud dan memiliki konsekuensi hukum tersendiri. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa zina itu hanyalah bila dilakukan dengan memasukkan kemaluan lak-laki ke dalam kemaluan wanita . Jadi bila dimasukkan ke dalam dubur (anus), tidak termasuk kategori zina yang dimaksud dan memiliki hukum tersendiri. Namun Imam Asy-Syafi`i dan Imam Malik dan Imam Ahmad tetap menyatakan bahwa hal itu termasuk zina yang dimaksud. Perbuatan itu dilakukan bukan dalam keadaan terpaksa baik oleh pihak laki-laki maupun wanita. Perbuatan itu dilakukan di negeri yang secara resmi berdiri tegak hukum Islam secara formal , yaitu di negeri yang 'adil'atau 'darul-Islam'. Sedangkan bila dilakukan di negeri yang tidak berlaku hukum Islam, maka pelakunya tidak bisa dihukum sesuai dengan ayat hudud. 2. ZINA DALAM PENGERTIAN UMUM Zina Dalam Pengertian Umum seperti Zina tangan, mata, telinga dan hati merupakan pengertian zina yang bermakna luas. Tentu saja zina seperti ini tidak berkonsekuensi kepada hukum hudud baik rajam atau cambuk dan pengasingan setahun. Namun zina dalam pengertian ini juga melahirkan dosa dan ancaman siksa dari Allah SWT. Dalil larangan zina secara umum adalah firman Allah SWT :Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Israa' : 32) Yang termasuk zina adalah apa-apa yang telah ditetapkan oleh Hukum Syar'i contohnya ialah seperti keterangan diatas baik menurut imam Madzhab Yang termasuk Zina Besar adalah masuknya kemaluan laki-laki atau bagiannya ke dalam kemaluan wanita yang bukan mahram dengan dilakukan dengan keinginannya di luar hal yang syubhat.dan yang termasuk zina kecil

seperti keterangan hadist dibawah iniDari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw. Sabdanya : Nasib anak Adam mengenai zina telah ditetapkan. Tidak mustahil dia pernah melakukannya. Dua mata, zinanya memandang. Dua telinga, zinanya mendengar. Lidah, zinanya berkata. Tangan zinanya memegang. Kaki, zinanya melangkah. Hati, zinanya ingin dan rindu, sedangkan faraj (kemaluan) hanya mengikuti dan tidak mengikuti. (Hadis Shahih Muslim No. 2282) Jika kita melihat dari Hadis Shahih Muslim tersebut, sudah jelas-jelas bahwa Pacaran itu termasuk Zina. Zina Mata = Memandang, Zina Telinga = Mendengar, Zina Lidah = Berkata, Zina Tangan = Memegang, Zina Kaki = Melangkah, Zina Hati = Ingin dan RinduMemang ini semua masuk dalam kategori Zina kecil. Tapi ini semua menjadi pintu untuk melakukan Zina besar , seperti dijelaskan pada akhir hadis yang berbunyi sedangkan faraj (kemaluan) hanya mengikuti dan tidak mengikuti.Kenapa? Karena tidaklah mungkin orang akan berzina besar, jika zina kecil ini tidak dilakukan terlebih dahulu. Jadi meskipun zina kecil, hal ini juga tetap haram hukumnya. B. HUKUM MENUDUH ZINA 1. Pengertian Qadzf Secara bahasa makna kata Qadzf adalah ar-Romyu bisySyayi (menuduh sesuatu).Sedangkan secara istilah adalah menuduh berzina atau melakukan liwath (homoseksual) Qadzf terbagi kepada dua jenis: Pertama, Qadzf yang pelakunya dikenai hukum Hadd (hukuman yang telah ditetapkan ukurannya berdasarkan al-Quran atau hadits) Kedua, Qadzf yang pelakunya dikenai sanksi Tazir (hukuman yang dijatuhkan berdasarkan kebijakan penguasa pemerintahan Islam) Bentuk Qadzf yang pelakunya (Qadzif) dikenai hukuman Hadd adalah menuduh seorang Muhshon (yang sudah menikah) melakukan zina, menafikan nasabnya atau menuduhnya melakukan liwath. Sedangkan bentuk Qadzf yang pelakunya dikenai sanksi Tazir adalah menuduh secara tidak terang-terangan terkait dengan hal-hal di atas atau menuduh dengan selain itu.

Hukum Qadzf adalah HARAM berdasarkan nash al-Quran, hadits dan Ijma. Allah SWTberfirman, Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS.an-Nur:4) Di dalam kitab ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Muslim), dari hadits Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW bersabda, Jauhilah tujuh perkara yang mencampakkan. (salah satunya beliau menyebutkan) al-Qadzf. Para ulama juga telah bersepakat (Ijma) bahwasanya Qadzf tersebut merupakan salah satu dosa besar (Kabair). Ibn Rusyd mengatakan, Para ulama sepakat bahwa disamping diwajibkannya hukum hadd, maka persaksiannya (Qadzif) gugur selama belum bertaubat. Mereka juga bersepakat bahwa taubat tidak dapat membatalkan hukuman hadd. 2. Pengertian lian Adanya hukum Lian / menuduh zina pertama yang terjadi dalam Islam (disebabkan), Syarik bin Sahma dituduh berzina oleh Hilal bin Umayyah dengan isterinya (Hilal), maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, (Tunjukkan) bukti, bila tidak, maka hadd (hukuman cambuk) di punggungmu. (Hadits ini dikeluarkan Abu Yala, Secara hukum asal, siapa yang menuduh berzina terhadap laki-laki Muhshan (yang sudah beristeri), maka maka ia harus mengajukan bukti. Bukti dalam kasus zina adalah berupa persaksian empat orang laki-laki; bila tidak mengajukan bukti ini, maka orang tersebut (si penuduh) harus dikenakan hukum Hadd Qadzf sebanyak 80 kali cambuk. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT, Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka orang menuduh itu) delapan puluh kali dera (QS.an-Nur:4) Terkecuali dari makna umum ayat di atas, kasus seorang laki-laki (suami) menuduh isterinya berzina; maka ia harus mengajukan empat orang saksi; jika tidak ada, maka Hadd Qadzf bisa dicegah dengan syarat ia bersumpah sebanyak empat kali bahwa ia berkata benar terhadap tuduhan zina itu dan kali kelimanya, ia melaknat dirinya sendiri seraya mengatakan, Dan laknat Allah lah atasnya bila ia berdusta. Dengan begitu, persaksian itu baru bisa diajukan bila sudah melengkapi empat orang saksi. Hal itu, karena seorang laki-laki (suami) tidak mungkin berdiam saja ketika melihat isterinya melakukan perbuatan keji (zina) sebagaimana kalau ada orang melihatnya bersama wanita asing,

sebab hal itu merupakan aib baginya (suami), dan pelanggaran terhadap kehormatannya dan perusak ranjangnya. Karena itu, ia tidak boleh menuduh isterinya kecuali setelah melakukan pengecekan sebab tindakannya itu biasanya didorong oleh faktor kecemburuan yang teramat sangat, sebab pada dasarnya, aib akan diterima mereka berdua (sebagai suami-isteri). Jadi, inilah yang menguatkan kebenaran klaimnya. Dua Imam madzhab; Abu Hanifah dan Imam Malik memandang bahwa orang yang menuduh laki-laki lain berzina dengan isterinya, maka ia harus mengajukan bukti atas hal itu, sebab bila tidak, maka ia dikenakan hukuman Hadd. Alasannya, karena hal itu merupakan tuduhan berzina terhadap orang yang seharusnya tidak perlu dituduh sehingga ia berada dalam posisi hukum asal Hadd Qadzf. Sementara dua Imam madzhab lagi; imam asy-Syafii dan Ahmad memandang bahwa bila suami menuduh isterinya berzina dengan laki-laki tertentu ,jika istrinya terbukti berjinah , maka telah gugur atasnya Hadd dan jatuh kepada isterinya. Siapa yang menuduhnya (isterinya) berzina, maka dia harus menyebutkannya dalam Lian atau tidak menyebutnya sebab Lian membutuhkan bukti dari salah satu dari kedua belah pihak, sehingga ia menjadi bukti pada pihak yang lain seperti kedudukan persaksian. Jika suami tidak melakukan Lian, maka bagi masing-masing dari suami dan laki-laki yang dituduh berzina dengan isterinya itu harus menuntut dilakukannya Hadd; siapa saja di antara keduanya yang meminta, maka ia sendiri yang dihukum Hadd dan tidak dapat dikenakan kepada yang belum memintanya.

C . DASAR HUKUM YANMG MENERANGKAN LARANGAN QADZAF

1. al-qur'an Surat An-Nur ayat 4 :

Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur: 4)

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la'nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. (QS. An-Nur: 23) Surat An-Nur ayat 19

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui (QS. An-Nur: 19) 2. Hadist

: (

Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW. Beliau bersabda: Jauhilah tujuh macam perbuatan yang merusak. Para sahabat bertanya: Wahai Rosulullah apakah yang tujuh perkara itu? Nabi menjawab: menyekutukan Allah, sihir, membunuh manusia yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari pada waktu pertempuran, menuduh wanita baik-baik, beriman dengan lenah (berbuat zina) Dan hadis berikut (Terjemahnya): Dari Ibnu Abbas bahwa Hilal bin Umayyah menuduh istrinya berzina di zaman Nabi Saw. Hilal menuduh istrinya berzina dengan Syuraik bin Samha`. Maka Nabi Saw bersabda: Pilih membawa bukti atau dihukum jilid punggungmu? Hilal menjawab: Bagaimanakah jika salah seorang dari kami melihat istri berzina dengan seorang laki-laki, apakah dia harus pergi mencari saksi sebagai bukti ya Rasullullah? Beliau bersabda: pilih membawa bukti atau dihukum jilid punggung kamu? Hilal berkata: Demi Allah yang mengutus tuan dengan benar, sungguh aku yang benar dan Allah pasti menurunkan wahyu yang menyelamatkan punggungku dari hukuman. Maka Jibril turun menyampaikan wahyu (Al-Quran S.24 An-Nur 6 Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar) Lalu Nabi Saw pergi memerintahkan mencari istri Hilal. Kemudian hilal datang dan bersaksi. Tetapi Nabi Saw bersabda: Allah mengetahui bahwa salah seorang kalian itu bohong, maukah kalian bertobat Lalu si perempuan itu berdiri dan bersumpah. Ketika sampai sumpahnya yang ke-5 para sahabat menghentikannya dan mereka berkata: Sudah cukup kuat. Ibnu Abbas berkata: Perempuan itu memperlambat dan mundur, sampai aku menduga dia akan kembali Lalu perempuan itu berkata: Aku tidak mau membuka kejelekan kaumku sepenuh hari Nabi Saw bersabda: Perhatikanlah perempuan itu bila dia datang dengan celak mata yang hitam betisnya agak besar artinya untuk Syuraik bin Samha`. Maka waktu perempuan itu datang persis seperti yang digambarkan tadi maka Nabi Saw bersdabda: Jika seandainya belum terjadi firman Allah berarti untuk aku sedangkan perempuan tadi mempunyai masalah (HR Bukhari no.4378).

D.HUKUM SUAMI MENGATAKAN PADA ISTRINYA PELACUR Bagaimana hukumnya suami mengatakan pada Istrinya Pelacur,hal ini dikarenakan istri yang tidak patuh /berbuat salah pada suami Ucapan itu dosa besar dua dosa besar, yg pertama pada Allah, maka hendaknya pelaku beristighfar dan bersungguh sungguh dalam usahanya menghindari hal serupa. yg kedua adalah dosa pada istrinya, ia mesti meminta maaf pada istrinya dan bersungguh sungguh untuk tak mengulanginya lagi, Beda dengan menuduh, kalau menuduh maka hukumnya berat, terkena hukum Qadzaf dan Lian, yaitu adalah suami atau istri yg menuduh suaminya atau istrinya berzina dan ada 4 orang saksi yg melihat perzinahan dg matanya) jikapun ada 4 saksi atau lebih yg melihat perbuatan zina itu, tapi diantara mereka tak ada 4 orang yg mau bersaksi, maka yg 3 saksi akan terkena hukum qadzaf, yaitu dicambuk 80x karena divonis menuduh zina tanpa cukup bukti. jika tak ada saksi, khusus untuk istri/suami yg menuduh suami/istrinya berzina dan yg dituduh tak terima/tidak mengaku, atau yg menuduh mempermasalahkan, maka keduanya dihadirkan di sidang pengadilan syariah, keduanya bersumpah 5X. suami bersumpah dengan Nama Allah bahwa ia betul bahwa istrinya berzina, ia ulangi lagi sumpahnya yg sama, demikian sampai 4X sumpah dg nama Allah bahwa istrinya berzina, lalu ia bersumpah lagi yg kelima Dengan Nama Allah, agar laknat Allah turun padanya jika ia dusta. demikian 5x sumpah. lalu istrinya (tertuduh) jika tak merasa melakukan, atau menolak tuduhan itu, ia mesti bersumpah pula 4X Dengan Nama Allah bahwa ia tidak berzina dan tuduhan itu dusta, dan sumpah lagi yg kelima dg Nama Allah agar Laknat Allah turun padanya jika ia berdusta. (QS Annur 6-10) jika keduanya sampai melakukan sumpah itu maka hakim menjatuhkan Talaq 3 (cerai) dan tak akan bisa kembali lagi sebagai suami istri selama lamanya. ini talaq yg paling berat, sebab talaq 1 tentunya bisa rujuk kembali, demikian talak 2, bisa rujuk dan kembali, namun talaq 3 maka cerai tanpa bisa kembali kecuali kalau istri sudah menikah dg orang lain hingga bersetubuh dg suaminya yg baru, lalu mungkin kalau sampai bercerai, maka baru bisa menikah kembali dg suaminya yg pertama. namun talak yg disertai sumpah diatas itu, tak bisa kembali selama lamanya.

BAB III KESIMPULAN Islam melarang mensyiarkan berita jelek pada diri orang-orang yang beriman, sehingga dengan demikian kehidupan orang Islam dapat bersih dari noda kejelakan. Tuduhan berzina akan membawa akibat buruk dalam kehidupan manusia, karena dengan tuduhan berzina selain akan menghilangkan kehormatan, dan nama baik orang yang dituduh berzina itu bisa dikucilkan dalam masyarakat atau lingkungannya. Islam mengajarkan agar manusia selalu berbuat baik dan tidak membuat kerusakan. Karena orang yang menuduh berzina yang tidak dapat memberikan kesaksian maka dia juga akan disebut sebagai orang yang tidak dapat dipercaya dan orang yang membuat kerusakan. Jadi Qadzaf merupakan perbuatan yang diharamkan, karena membawa dampak buruk pada kehidupan manusia. Bukan orang yang dituduh saja yang akan hancur, akan tetapi yang menuduhkan bisa hancur kalau dia tidak bisa menunjukkan kebenaran tuduhan itu atau mempunyai maksud buruk untuk melawan hukum. Dan orang orang yang menuduh itu akan diberi hukuman dera delapan puluh kali tuduhannya itu terbukti tidak benar.