Anda di halaman 1dari 13

1. Pengkajian a. Data Umum Nama KK Umur Alamat Pekerjaan KK Pendidikan : Tn. A : 60 Tahun : Ds. Sumberjo RT.02/Rw.

01 : Petani : SR

Komposisi Keluarga : No 1 Nama Ny. N Hub. dg Umur L/P KK Istri 57 th P Status perkawinan Kawin Pendidikan SR Pekerjaan IRT Keterangan imunisasi _

Tipe Keluarga : Nuklear Family (Keluarga inti)

Suku Bangsa: Semua anggota keluarga berasal dari suku Jawa, dengan kultur budaya Jawa. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa jawa ngoko halus. Tidak ada pantangan dalam makanan atau hal-hal yang lain asalkan tidak bertentangan dengan budaya dan agama. Hanya saja terkadang apabila Ny. N sakit sering pergi ke orang pintar (dukun).

Agama: Semua anggota keluarga beragama Islam, taat menjalankan sholat. Sholat dilakukan dengan berjamaah dan selalu membaca Al Quran setelah sholat. Tiap malam selalu sholat tahajud. Tahun ini rencana mau naik Haji. Menurut keluarga Tn.A, Daging babi tidak boleh dimakan.

Status Sosial ekonomi keluarga Keluarga Tn.A termasuk keluarga dengan ekonomi menengah ke atas. Hasil keuntungan toko 500 ribu perbulan. Hasil pertanian jika panen bisa mencapai 10 juta terutama apabila musim tembakau. Biaya makan tiap hari 30 ribu, listrik 80 ribu. Dengan perabot rumah yaitu TV 24 inci, kulkas 2 pintu, sofa, dispenser, kompor gas, radio, sepeda dll. Selain itu menyewakan barang-barang untuk hajatan.

Aktivitas rekreasi keluarga Kelurga Tn A beraktivitas rekreasi dengan menonton Tv dan mendengarkan radio. Sambil bercengkrama dan tidak pernah pergi ke tempat rekreasi atau jalan-jalan ke Mall.

b. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga Tahap Perkembangan keluarga saat ini : Tahap perkembangan Tn. A untuk saat ini berada pada tahap perkembangan keluarga usia pertengahan.

Tugas perkembangan kelurga yang belum terpenuhi : Tugas perkembangan keluarga pada usia pertengahan yang belum terpenuhi adalah belum dapat memodifikasi lingkungan kesehatan. Ini dapat diketahui dari pernyataan Tn. A bahwa Tn.A suka makan asin dan berlemak.

Riwayat keluarga inti : Dalam keluarga Tn. A, Tn. A menderita hipertensi 190/100 mmHg tapi tidak merasakan pusing ataupun keluhan lainnya. Tn. A jarang melakukan kontrol ke pelayanan kesehatan dan belum pernah opname di Rumah Sakit. Ny. N tidak mempunyai riwayat kesehatan yang bermasalah.

Riwayat Kesehatan Sebelumnya; Ayah dari Tn. A menderita penyakit hipertensi dan adik dari Tn . A yang berumur 55 th menderita stroke. Dalam keluarga Tn. A tidak ada yang mempunyai penyakit menular.

c.

Pengkajian Lingkungan Karakteristik rumah Jenis bangunan rumah Tn. A bersifat permanent dengan ukuran 11x5 m2, dengan lantai keramik yang terdiri dari 1 ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 tempat sholat dan ruang makan serta 1 ruang keluarga. Dan mempunyai toko yang terletak di samping rumah dengan ukuran 3x5 m2. Ventilasi rumah baik dengan 1 jendela tiap ruangan, kecuali ruang tamu mempunyai 2 jendela, kondisi rumah bersih dan tertata rapi. Pembuangan sampah ada di belakang rumah, kondisi air bening tidak berbau. Setiap hari lantai disapu, kadang-kadang dipel.

Karakteristik tetangga dan komunitas Lingkungan rumah Tn. A mayoritas sebagai petani tiap pagi berangkat ke sawah dengan naik sepeda. Sedangkan transportasi yang berada di desa Tn. A adalah angkutan pedesaan. Mobilitas geografis keluarga Keluarga Tn. A belum pernah berpindah tempat, apabila ada anggota keluarga yang sakit menggunakan transportasi sepeda motor atau angkutan untuk mencapai tempat pelayanan kesehatan.

Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat Dalam keluarga Tn A sering dikunjungi oleh anaknya. Dan kesempatan ini digunakan oleh keluarga untuk saling bercerita dan bercanda gurau. . Hubungan keluarga Tn. A dengan tetangga tampak baik dan harmonis. Ny. N ikut dalam perkumpulan PKK RT setiap bulan sekali dan pengajian seminggu sekali setiap hari kamis. Tn. A juga ikut perkumpulan RT setiap bulan sekali serta aktif mengikuti Yasinan setiap malam Jumat.

System Pendukung Keluarga Anggota keluarga Tn. A yang sehat adalah Ny. N, apabila ada keluarga Tn. A akan berobat dengan menggunakan sepeda motor, apabila ada salah satu anggota keluarga yang sakit maka anggota yang lain memberikan dorongan atau mengingatkan serta mengantar untuk berobat ke pelayanan kesehatan. Sedangkan masyarakat menjenguk apabila ada anggota keluarga Tn. A yang sakit.

d. Struktur Keluarga Pola komunikasi keluarga Dalam berkomunikasi sehari-hari Tn. A dan anggota keluarga menggunakan bahasa Jawa dengan komunikasi secara verbal. Dan kalau ada masalah dimusyawarahkan. Setiap anggota keluarga menerima dan menghargai hasil keputusan terakhir. Akan tetapi pengambil keputusan adalah Tn. A selaku kepala rumah tangga.

Struktur Peran Peran formal Tn. A mampu menjalankan perannya sebagai kepala keluarga, Ny. N juga mampu menjalankan perannya sebagai Ibu rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, manager keuangan, dan membantu mencari tambahan nafkah dengan menjaga toko.

Peran Informal Setiap anggota keluarga berperan sebagai pendorong jika ada salah satu anggota keluarga yang bermasalah, sebagai sahabat bagi semua anggota keluarga dan sebagai penghibur apabila ada anggota keluarga yang sedang bersedih.

Nilai atau norma keluarga Nilai yang dianut keluarga adalah saling menghormati antar anggota keluarga yang satu dengan yang lain, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Menurut Ny, M semau anggota keluarga berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, nilai yang ada dikeluarga merupakan gambaran diri dari agama yang dianut, tidak terlihat adanya konflik dalam nilai. Keluarga Tn. A mempunyai persepsi bahwa penyakitnya sudah biasa dan tidak dirasakan sehingga jarang kontrol.

e.

Fungsi Keluarga Fungsi Afektif Keluarga Tn. A tampak sangat harmonis, antar anggota keluarga saling menghargai dan menghormati. Tn. A menerapkan disiplin yang tinggi terhadap anaknya yang sudah menikah. Sehingga menjadikan anaknya berhasil dalam pendidikannya dan bahagia dalam rumah tangganya bersama istri dan anaknya.

Fungsi Sosialisasi Hubungan antara anggota keluarga tampak baik dimana anak dan menantu beserta cucu-cucunya menjenguk Tn. A sekeluarga. Tn. A menerapkan disiplin yang tinggi pada anaknya baik disiplin

waktu maupun disiplin dalam janji. Keluarga Tn.A mengikuti adaptasi dan norma yang ada di masyarakat.

Fungsi Perawatan Kesehatan Makan sehari 3 kali berupa nasi, lauk pauk, sayuran, buah dan susu (4 sehat lima sempurna). Sedang pola istirahat pada keluarga Tn. A : Tn. A tidur jam 23.00 dan bangun jam 04.00 serta tidak pernah tidur siang. Ny. N tidur jam 23.00 bangun jam 04.30 dan tidak pernah tidur siang karena harus menjaga toko. Keluarga Tn. A kurang mengenal masalah karena Tn. A sering makan yang asin dan berlemak serta jarang control ke pelayanan kesehatan. Keluarga Tn. A belum dapat mengambil keputusan untuk mengatasi masalah kesehatan, hal ini bisa dilihat Tn. A jarang Kontrol. Apabila ada anggota keluarga yang sakit langsung dibawa ke pelayanan kesehatan. Keluarga Tn. A kurang tahu bagaimana memodifikasi lingkungan kaitannya dengan pola makan dalam keluarga tersebut. Keluarga Tn. A jarang menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada yaitu Puskesmas, dokter swasta ataupun bidan untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada pada keluarga.

Fungsi reproduksi Jumlah anak keluarga Tn. A satu, saat ini sudah berkeluarga dan tinggal bersama istrinya. Dulu pada saat masa muda, setelah melahirkan anak pertamanya Ny. N menggunakan KB suntik. Setelah 5 tahun berhenti menggunakan KB.

Fungsi ekonomi Dalam memenuhi kebutuhan makan, keluarga Tn. A sering makan makanan yang berlemak, walaupun diselingi dengan makanan yang lain. Pakaian yang penting bersih, beli baju setahun sekali kalau mau lebaran. Keluarga Tn. A mempunyai rumah sendiri. Apabila sakit Tn. A jarang kontrol ke RS karena merasa bahwa penyakitnya merupakan hal yang biasa. Sedangkan Ny.M apabila sakit pergi ke RS, tetapi lebih sering pergi ke orang pintar ( dukun ) apabila telah berobat tidak sembuh.

f.

Stress dan Koping Keluraga Stresor jangka pendek dan jangka panjang. Stresor pendak : Yang menjadi pemikiran keluarga saat ini adalah merasa ditinggal oleh anak satu-satunya. Kadang merasa sepi dan sendiri apabila anak dan cucunya tidak datang menjenguknya. Stresor jangka panjang : Bagaimana jika tiba-tiba meninggal tetapi tidak ada anak disampingnya.

Strategi koping yang di gunakan Apabila ada masalah di selesaikan dengan cara musyawarah dan mufakat. Dan dicari jalan yang terbaik serta tidak lupa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kemampuan keluarga dalam berespon terhadap stressor Keluarga tidak bisa apa-apa, hanya bisa menuggu anak dan cucunya dating dan mengusir kesepiannya dengan berjualan di toko untuk mengisi kesibukannya. g. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik TD N RR BB/TB Rambut Tn A 190/100mmHg 96x/mt 20x/mt 60 kg/160 cm Beruban, tidak ada ketombe Konjungtiva Sklera Hidung Tidak anemi Tidak ikterik Tidak ada secret, simetris Ny. N 120/80 mmHg 92x/mt 24x/mt 55 kg/ 155cm Beruban, tidak ada ketombe Tidak anemi Tidak ikterik Tidak ada secret, simetris Telinga Mulut Tidak keluar seruman Mukosa bibir lembab, Tidak keluar serumen Mukosa bibir lembab,

tidak sariawan Leher Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe Dada: Paru Tidak ada keluhan Tidak ada bunyi nafas yang abnormal Jantung Irama jantung teratur dan tampak jelas Abdomen Datar, ada bising usus20x/mt, tidak nyeri tekan Ekstremitas Tidak edema, apabila berjalan tampak tertatih dan lambat Kulit Bersih, sawo matang, tampak keriput dan kering Turgor kulit Keluhan h. Harapan Keluarga Cukup baik Tidak ada keluhan

tidak sariawan Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe Tidak ada keluhan Tidak ada bunyi nafas paru yang abnormal Irama jantung teratur

Datar, ada bising usus 25x/mt, tidak nyeri tekan Tidak edema, berjalan agak trtatih dan lambat

Bersih, sawo matang, tampak keriput dan kering Cukup Baik Tidak ada keluhan

Harapan keluarga Tn A pada petugas kesehatan adalah Mendapatkan infornasi yang berguna bagi kesehatan anggota keluarganya.

2. Analisa Data Data DS : Tn. A mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya dan tidak merasakan keluhan apa-apa. Keluarga merasa masalah ini Masalah Risiko gangguan Perfusi jaringan Etiologi Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah

merupakan hal yang biasa. DO : TD = 190/100 mmHg, N : 72 x/mt, RR : 20 x/mt, S : 37 C. DS: Tn. A mengatakan suka makanan yanga asin dan berlemak. Apabila kambuh keluarga hanya memberikan obat gosok atau kerokan. Jarang periksa ke Yan Kes DO: Makanan terasa asin Tn. A tidak mau minum obat dan tidak mau periksa , TD : 190/ 100 mmHg, RR : 20 x/mt, N : 72 x/mt 3. Diagnosa Keperawatan 1) Resiko gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga mengenal masalah 2) Ketidak efektifan keluarga dalam penatalaksanaan program terapeutik berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga dalam merawat anggota kelurga yang sakit. ketidak efektifan penatalaksanaan program terapeutik. Ketidak mampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

Skoring Resiko gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah No 1 Kriteria Sifat masalah : Ancaman kesehatan Skore 2 Bobot 1 Jumlah 2/3 x 1 Total 2/3 Pembenaran Apabila masalah yang dialami Tn A berkelanjutan maka akan mengakibatkan suatu masalah yang semakin fatal yaitu stroke 2 Kemungkinan masalah dapat diubah :Masalah mudah diubah 2 2 2/2 x 1 1 Masalah dapat mudah diubah karena dalam hal ini keluarga belum mengenal masalah dan jarang pergi ke YanKes sehingga diharapkan dengan pendekatan yang baik dari petugas bisa mengubah kebiasaan diet makanannya dan dengan bantuan peran serta anggota keluarga 3 Potensi untuk dicegah : cukup 2 1 2/3 x 1 2/3 Masalah belum berat walaupun Tn.A tidak merasakan keluhan apa-apa, tetapi TD Tn.A apabila tidak mendapatkan tindakan akan membahayakan

Menonjolnya masalah : Masalah tidak dirasakan

0/1

Tn.A tidak merasakan keluhan apa-apa.Dan keluarga menganggap masalah ini hal yang biasa

Jumlah

Ketidak efektifan keluarga dalam penatalaksanaan program terapeutik berhubungan dengan ketidakmampuan kelurga dalam merawat anggota keluarga yang sakit hipertensi

No 1

Kriteria Sifat masalah: actual

Skore 3

Bobot 1

Jumlah 3/3 x 1

Total 1

Pembenaran Masalah adalah actual sudah terjadi untuk itu perlu tindakan perawatan, sehingga tidak berdampak pada masalah lain (stroke)

Kemungkinan masalah dapat diubah: sebagian

x2

Masalah dapat dicegah untuk lebih parah, dan membutuhkan peran serta keluarga yang amat besar, dalam merubah perilaku pemenuhan nutrisi, ada tenaga kesehatan yang akan membina.

Potensial untuk dicegah: cukup

2/3 x 1

2/3

Masalah belum berat, dan membutuhkan waktu untuk mengubah kebiasaan keluarga

Menonjolnya masalah tidak dirasakan

0x1

Anggapan keluarga, bahwa masalah Ht ini adalah masalah yang biasa dan oleh Tn.A tidak dirasakan

Jumlan

Prioritas masalah keperawatan 1) Ketidakefektifan keluarga dalam penatalaksanaan program terapeutik berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit. 2) Resiko gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga dalam mengenal masalah.

4. Perencanaan Keperawatan Keluarga

Tujuan Dx Jangka Panjang Ketidak efektifan keluarga dalam penatalaksanaan Setelah dilakukan tindakan Jangka Pendek Setelah dilakukan pertemuan 1x 20 menit, keluarga mampu: mengenal masalah tentang penyakit Ht: Keluarga mampu menyebutk an kembali pengertian Ht 6) Respon verbal Ht adalah1) Suatu kenaikan TD yang 2) diakibatka n oleh adanya peningkata 4) n tekanan dalam perifer 5) 3) Beri kesempatan pada keluarga untuk menyebutkan pengertian Ht Beri reinforcement positif atas jawaban yang benar Tanyakan kembali hal-hal yang telah didiskusikan Beri kesempatan keluarga untuk brtanya tentang halhal yang belum diket. Beri kesempatan pada keluarga untuk menyebutkan pengertian Ht Beri reinforcement positif atas jawaban yang benar Kriteria Standar Intervensi

program terapeutik perawatan berhubungan dengan ketidak selama 1 minggu pada

mampuan keluarga keluarga, dalam merawat anggota keluarga yang sakit Tn.A dapat melakukan perawatan anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan