Anda di halaman 1dari 8

MODEL AKAR SEMANGGI: SOLUSI PENANGANAN KETIDAKTERCAPAIAN KUOTA SISWA MISKIN PADA PENERIMAAN PESERTA DIDIK RINTISAN SEKOLAH

BERATARAF INTERNASIONAL (RSBI) KOTA SEMARANG Nanik Setyawati, Larasati, Zainal Arifin, Arisul Ulumuddin PENDAHULUAN Latar Belakang Kebijakan pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 78 Tahun 20091, mengisyaratkan kewajiban sekolah dengan status Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) untuk menyediakan kuota 20 persen bagi siswa miskin. Kebijakan yang berorientasi pada pemberian hak yang sama terhadap semua siswa tanpa melihat derajat sosialnya tersebut dipersiapkan untuk mengantisipasi eklusivitas sekolah RSBI di mata masyarakat. Semula kebijakan kuota siswa miskin sebanyak 20 persen belum dapat diimplementasikan dalam sistem seleksi Penerimaan Peserta Didik (PPD) Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Maka dari itu, kebijakan yang telah diimplemantasikan secara penuh ini mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat. Sayangnya, respon tersebut hanya sebatas ungkapan bibir, sebab kenyataanya sekolah RSBI gagal untuk memenuhi target 20 persen dari kuota penerimaan siswa baru mereka (Suara Merdeka, 21 Mei 2010). Alih-alih kelebihan kuota, ada sekolah yang hanya kuota siswa miskinnya tidak sampai 50 persen dari total yang disediakan. Bahkan di Kota Semarang saja, semua sekolah yang berstatus RSBI, gagal untuk memenuhi kuota siswa miskin. Padahal, pemerintah sendiri memberikan jaminan luar biasa pada siswa miskin untuk belajar di sekolah berstatus RSBI. Untuk membiayai kebutuhan proses belajar mereka, ada alokasi dana khusus yang dialirkan pada sekolah.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 78 Tahun 2009 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan penjabaran Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Untuk Jawa Tengah sendiri, pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan (Diknas) Jawa Tengah, menyediakan anggaran sebesar 2,56 miliar rupiah 2. Mekanisme penyaluran dananya dikucurkan langsung pada sekolah-sekolah RSBI untuk menutup biaya belajar siswa miskin di sekolah yang dikenal berbiaya selangit tersebut. Populasi Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah warga miskin yang ada di Kota Semarang. Kota Semarang sendiri terbagi menjadi 16 kecamatan, yakni Semarang Barat, Semarang Timur, Semarang Tengah, Semarang Utara, Semarang Selatan, Candisari, Gajahmungkur, Gayamsari, Pedurungan, Genuk, Tembalang, Banyumanik, Gunungpati, Mijen, Ngaliyan, dan Tugu. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Persoalan ketidaktercapaian kuota siswa tidak mampu pada PPD RSBI di Kota Semarang menjadi permasalahan yang cukup menarik untuk dibahas. Persoalan tersebut begitu mengemuka mengingat kebijakan yang dikeluarkan baru pertama kali diterapkan dan gagal untuk dipenuhi. Berdasarkan data-data yang diperoleh ada lima alasan mendasar yang membuat kuota siswa tidak mampu tidak terpenuhi. Alasan-alasan tersebut di antaranya, tingkat kepahaman masyarakat, kesan masyarakat terhadap status RSBI, pengetahuan masyarakat terhadap kebijakan sekolah berstatus RSBI, ketertarikan masyarakat terhadap sekolah RSBI, dan penggunaan istilah tidak mampu. Ketidakpahaman responden terhadap sekolah berstatus RSBI yang mencapai angka 16,7 persen menunjukkan bila keberadaan sekolah RSBI belum sepenuhnya dapat menyatu dengan pikiran masyarakat. Padahal, sebagai program yang telah berjalan selama bertahun-tahun, seharusnya persoalan RSBI sudah tersosialisasi secara baik. Kendati demikian, setelah diteliti secara mendalam
2

melalui proses interview, ketidakpahaman responden ternyata lebih banyak dikarenakan ketidakpahaman mereka terhadap penggunaan istilah RSBI. Responden mengaku merasa bingung dengan banyaknya istilah yang digunakan sebagai status sekolah. Beberapa istilah yang sering membuat responden bingung di antaranya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), Sekolah Bertaraf Nasional (SBN), Rintisan Sekolah Kejuruan Menengah (RSKM), dan beberapa status sekolah lainnya. Adanya responden yang merasa bingung dengan penggunaan istilah RSBI perlu mendapatkan perhatian khusus dari pengambil kebijakan. Pengambil kebijakan perlu melakukan evaluasi terprogram terhadap penggunaan istilahistilah dalam status sekolah supaya berhamburannya istilah-istilah tersebut tidak membuat masyarakat semakin binggung. Di samping itu, pemakaian istilah yang lebih mengedepankan penggunaan singkatan juga perlu dikaji ulang. Dalam kajian ilmu bahasa, singkatan memang mempermudah untuk pengucapan, tetapi kesukaan orang Indonesia untuk menyingkat sesuatu sering membuat singkatansingkatan tersebut tumpang tindih dengan istilah lainnya. Kesan masyarakat terhadap RSBI juga menjadi faktor penting yang menyebabkan kegagalan pemenuhan kuota 10 persen untuk siswa miskin. Munculnya kesan bahwa sekolah yang berstatus RSBI sebagai sekolah yang terkesan elit dan mahal adalah penyebabnya. Hal ini terlihat dari hasil penelusuran melalui interview yang mengisyarakatkan kesan mahal dan elit membuat siswa yang notabene tidak mampu menjadi tidak berani mendaftar. Citra negatif tersebut membuat RSBI seolah-olah mirip menara gading yang berdiri megah di tengah hutan belantara, hanya menjadi pandangan indah tapi tak terjamah. Pembenahan citra menjadi sesuatu yang bersifat urgen supaya masyarakat tidak lagi menangkap RSBI sebagai sekolah mahal dan elit. Pencitraan negatif yang muncul di masyarakat tidak semata-mata menunjukkan kegagalan proses sosialisasi, hal ini terbukti dari masih adanya responden yang menyatakan sekolah RSBI sebagai sekolah orang-orang pintar. Pengambil kebijakan hanya perlu

melakukan proses ulang pencitraan dengan memperkuat kesan RSBI sebagai sekolah orang pintar. Hanya saja, kebijakan tersebut harus didukung pula dengan sokongan finansial terkait dengan penambahan sarana prasarana sekolah yang dibutuhkan bagi siswa RSBI. Pengetahuan masyarakat terhadap kebijakan sekolah berstatus RSBI juga turut menentukan kegagalan dalam memenuhi kuota siswa tidak mampu. Hal ini terlihat dari respon masyarakat yang menunjukkan responden sebanyak 60 persen menyatakan tidak tahu terhadap kebijakan kuota siswa tidak mampu. Besarnya persentase warga yang tidak paham tentu saja bergaris lurus dengan tidak tercapainya kuota siswa tidak mampu dalam proses seleksi. Dari hasil interview yang dilakukan, sebagian besar masyarakat yang tidak tahu terhadap kebijakan menyatakan ketidaktahuan mereka lebih dilatarbelakangi oleh faktor minimnya informasi yang didapatkan. Sedangkan sebagian besar responden yang menyatakan tahu mengaku mendapatkan informasi dari media massa. Persoalan terakhir yang mendorong ketidaktercapaian kuota siswa tidak mampu adalah penggunaan istilah tidak mampu dalam sistem rekrutmen. Penggunaan istilah tidak mampu menimbulkan polemik hebat di mata masyarakat. Polemik tersebut terkait dengan adanya kesan pemerintah sedang memetakan masyarakat dalam dikotomi mampu-tidak mampu. Penggunaan istilah tidak mampu tanpa disadari akan membentuk pola diskriminatif terhadap masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Dengan demikian, istilah tidak mampu memiliki nilai rasa yang cenderung melecehkan masyarakat. Dari hasil interview, hal yang paling mencemaskan dari penggunaan istilah tidak mampu adalah terganggunya aspek psikis siswa tidak mampu ketika statusnya terlihat jelas di mata siswa lain. Dikhawatirkan, bila penggunaan istilah siswa tidak mampu tetap diberlakukan, pemberlakuannya justru akan memberi dampak psikologis terutama akan membuat siswa jatuh rasa percaya dirinya, atau siswa menjadi terisolir di sekolah. Sedangkan responden yang menyatakan tak

acuh rata-rata memberikan alasan, penggunaan istilah bukanlah sesuatu yang esensial sehingga tidak masalah istilah tidak perlu menjadi bahan perdebatan. Dari berbagai permasalahan di atas, penggunaan model akar semanggi dianggap cukup efektif untuk mengatasi masalah ketidaktercapaiannya kuota siswa tidak mampu pada seleksi PPD RSBI. Kondisi tersebut terlihat dari perolehan persentase absolud (100 persen) dari total responden. Setidaknya kondisi tersebut dapat terlihat dari kesepakatan responden untuk mendukung sistem rekrutmen yang mengedepankan pemberian usulan dari kelurahan. Sistem penerimaan dengan menerapkan usulan dari kelurahan dianggap lebih efektif karena kelurahan merupakan satu-satunya pihak yang tahu status sosial ekonomi masyarakatnya. Sedangkan cara untuk menjaga keabsahannya dari proses penipuan, usulan dari pihak kelurahan kemudian verifikasi oleh pihak sekolah untuk menentuka kebenaran data. PENUTUP Simpulan Penelitian yang dilakukan menghasilkan beberapa simpulan penting. Simpulan-simpulan tersebut merupakan hasil resepsi masyarakat yang diambil secara random di tiga kecamatan miskin di Kota Semarang. Adapun hasil-hasil penelitian tersebut antara lain; a. Pemahaman terhadap sekolah berstatus RSBI menunjukkan angka sebesar 83,3 persen menyatakan paham dan angka sebesar 16,7 persen menyatakan belum paham terhadap RSBI. b. Kesan terhadap sekolah berstatus RSBI menunjukkan angka sebesar 63,3 persen menyatakan sebagai sekolah berbiaya tinggi/mahal, 10 persen menyatakan sebagai sekolah elit, dan 26,7 persen menyatakan sekolah bagi orang-orang pintar.

c. Pengetahuan terhadap kebijakan 10 persen bagi warga miskin menunjukkan angka sebesar 60 persen menyatakan tidak tahu terhadap kebijakan, dan angka sebesar 40 persen menyatakan tahu terhadap kebijakan. d. Respon terhadap kebijakan menunjukkan angka sebesar 16 persen menyatakan tidak tertarik terhadap kebijakan, 0 persen menyatakan tak acuh/cuek, dan 83,3 persen menyatakan tertarik kebijakan. e. Respon terhadap penggunaan istilah tidak mampu menunjukkan angka sebesar 60 persen menyatakan tidak sepakat dengan penggunaan istilah tersebut, 40 persen menyatakan tak acuh/cuek, dan 0 persen menyatakan sepakat. f. Penerapan model akar semanggi mendapatkan respon sangat bagus, yakni absulud (100 persen) yang tercermin melalui respon masyarakat terhadap dua pertanyaan berpola hidden system yang mengupas masalah efektivitas rekrutmen dan respon terhadap proses verifikasi data. Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa masalah membuat kouta 10 persen bagi siswa tidak mampu di sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) tidak tercapai. Adapun beberapa permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian serius tersebut antara lain: a. Masalah pengetahuan masyarakat terhadap program kebijakan yang belum sepenuhnya diserap masyarakat. Artinya, proses sosialisasi kebijakan masih belum berjalan sebagaimana mestinya. b. Masalah kekurangsepakatan terhadap penggunaan istilah tidak mampu. Artinya, perlu dicari istilah lain yang tidak mendikotomikan masyarakat melalui istilah mampu-tidak mampu. c. Masalah kesan RSBI yang dianggap sebagai sekolah mahal dan elit. Artinya, citra yang diusung RSBI tersebut membuat masyarakat tidak mampu menjadi takut untuk mendaftar.

Berbagai permasalahan tersebut dapat ditangani dengan model akar semanggi yang menerapkan sistem usulan siswa tidak mampu dari pihak masyarakat (kelurahan), dan pihak sekolah hanya melakukan verifikasi data ke masyarakat yang diajukan. Hal ini tercermin dari dukungan masyarakat terhadap model akar semanggi yang menunjukkan dukungan absolud (100 persen). Saran Berdasarkan simpulan di atas, beberapa saran yang dapat diberikan antara lain tertera di bawah ini: a. Pemerintah perlu melakukan sosialisasi secara lebih intensif supaya program kebijakan sampai dan diterima masyarakat secara baik. b. Pemerintah perlu mencari alternatif lain untuk menggantikan penggunaan istilah tidak mampu supaya tidak membuat warga tidak mampu merasa minder dan terlecehkan oleh dikotomi mampu tidak mampu. c. Pemerintah perlu membangun ulang citra RSBI sebab citra yang terbangun saat ini cenderung mengarah pada sekolah yang mahal dan elit. Perubahan citra sebaiknya mengarah pada sekolah yang inovatif, bermutu, dan berdaya saing tinggi di kancah internasional.

DAFTAR PUSTAKA -----. 2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. -----, 2005. Peraturan Pemerintah (PP) No 19 Tahun 2005. Jakarta: Kesekretariatan Negara. -----, 2009. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 78 Tahun 2009. Jakarta: Kemendiknas. Depdiknas. 2005. Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional 20052009. Jakarta: Depdiknas. Dit.PSMK. 2008. Pedoman Pemberdayaan SMK-SBI Invest. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Hadari Nawawi. 1998. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Hermana Soemantri. 2007. Sekolah/ Madrasah Bertaraf Internasional (Penyelenggaraan dan Penjamin Mutu) Jurnal Pendidikan dan kebudayaan. Jakarta Tahun ke 13, No. 068 ISSN 0215-2673. H.B Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press. Budyarti, Hevy. 2009. Studi Tentang Pelaksanaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) di SMK Negeri 6 Surakarta. Surakarta: Skripsi Mahasiswa Universitas Sebelas Maret. LKBN Antara. 7 Januari 2010. Warga Miskin di Semarang Masih 120.811 KK. Soedomo Hadi. 2003. Pendidikan Suatu Pengantar. Surakarta: UNS Press. Suara Merdeka. 21 Mei 2011. Kuota Siswa Niskin Tak Terpenuhi. Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

ISBN : 978-602-8047-50-0