Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................ PENDAHULUAN............................................................................................. ISI ......................................................................................................................

1 2 3 3 3 3 3 3

1. Nama atau Tema Blok .................................................................................... 2. Fasilitator/Tutor .............................................................................................. 3. Data Pelaksanaan ............................................................................................ 4. Pemicu ....................................................................................................... 5. More Info ..... 7. Pertanyaan yang Muncul dalam Curah Pendapat ........................................... 9. Kesimpulan .....................................................................................................
Daftar Pustaka ................................................................................................

6. Tujuan Pembelajaran ....................................................................................... 3


3

8. Jawaban atas Pertanyaan ................................................................................. 4


13 14

BAB 1 PENDAHULUAN

Penulisan laporan hasil diskusi kelompok ini disusun untuk menunjukkan seberapa jauh pencapaian pembelajaran mahasiswa. Dengan tersusunnya laporan yang baik maka diharapkan akan terlihat tingkat pencapaian dari tiap-tiap individu mahasiswa yang turut serta mengikuti kegiatan diskusi kelompok. Penulisan laporan juga bermanfaat untuk belajar dalam menulis laporan-laporan ilmiah yang pasti akan dilaksanakan dikemudian hari nanti. Berdasarkan konferensi WHO-WONCA (organisasi Dokter keluarga Sedunia), kompetensi kedokteran di Indonesia difokuskan pada pendekatan kedokteran keluarga. Berdasarkan konferensi juga direkomendasikan penyelarasan program pendidikan kedokteran dasar untuk menanggapi kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu, dengan memasukkan pendekatan kedokteran keluarga. Kedokteran keluarga adalah solusi bagi kesehatan dunia, dimana peran kedokteran tidak hanya berperan untuk mengobati orang sakit, melainkan berfungsi sebagai sarana promosi, preventif dan kuratif untuk mencegah terjadinya suatu penyakit pada keluarga dan masyarakat sekitarnya. Dalam makalah ini dibahas tentang peran kedokteran keluarga terhadap

penatalaksanaan nyeri yang merupakan keluhan umum yang membuat pasien datang ke dokter. Dalam hal ini tatalaksana nyeri meliputi pengobatan dan pencegahan nyeri terutama pada nyeri gigi.

BAB 2 ISI 2

1. Nama atau tema blok : Family Medicine, merupakan blok yang mempelajari tentang peran dan fungsi kedokteran dalam keluarga. 2. Fasilitator : dr. Rasita Sembiring 3. Data Pelaksanaan : A. Tanggal Tutorial: 27 September 2010, 30 September 2010 dan 01 September 2010 B. Pemicu ke-2 C. Pukul : 10.30-13.00 WIB dan 07.00-09.00 WIB D. Ruangan : Ruang Diskusi A-9 4. Pemicu : Remaja R, perempuan 14 tahun, BB 28 kg, TB 120 cm, datang ke praktek dokter umum dengan keluhan nyeri yang bersangatan pada gigi geraham kiri bawah. Sebelumnya R selalu mengeluhkan gigi sakit dengan pembengkakan pada gusi yang berulang. Oleh dokter umum, sesuai dengan kompetensinya R dikonsulkan ke dokter gigi. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter gigi menetapkan diagnosa nekrosis pulpa dengan abses perapikal akut yang disebabkan karies. Selanjutnya dokter gigi melakukan tindakan trepanasi melalui atap pulpa dan meresepkan ciprofoxacin 2x250 mg, etoricoxib 1x120 mg, kalium diklofenak 2x25 mg, vitamin C dosis tinggi untuk waktu 5 hari. Tepatkan pemilihan obat pada pasien R? 5. Tujuan Pembelajaran a. Memahami penyebab nyeri pada gigi b. Memahami penatalaksanaan nyeri c. Mengetahui konsep dokter keluarga terhadap penatalaksanaan nyeri 6. Pertanyaan/Learning Issue a. Nyeri : Defenisi, klasifikasi, patofisiologi, etiologi nyeri rahang, b. Painkiller c. Obat terhadap tumbuh kembang d. Prinsip dokter keluarga 7. PEMBAHASAN A. Nyeri 3

a. Defenisi Nyeri merupakan perasaan tidak nyaman baik ringan maupun berat yang hanya dapat dirasakan oleh individu tersebut tanpa dapat dirasakan oleh orang lain. Karies gigi adalah Kerusakan jaringan keras gigi yang disebabkan oleh asam yang ada dalam. Karbohidrat melalui perantara mikroorganisme yang ada dalam saliva b. Etiologi Sakit gigi dapat muncul tiba-tiba. Penyebab paling umum sakit gigi adalah lubang pada gigi yang disebut karies gigi atau kavitasi. Sakit gigi juga dapat disebabkan oleh hal lain seperti gigi longgar, erosi gusi, atau infeksi kanal akar gigi. Jika ada peradangan saraf, sakit yang dirasakan bisa sangat intens.
1) Karies Gigi

Karies adalah nama kolektif untuk kerusakan gigi di enamel (zat di mahkota gigi), sementum (zat di akar gigi), dan dentin (zat di tengah antara mahkota dan akar).Gigi dapat berlubang karena bakteri tertentu yang memproduksi asam laktat dari hasil fermentasi karbohidrat seperti sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Gigi terutama terdiri dari mineral yang secara konstan mengalami proses demineralisasi dan remineralisasi. Demineralisasi terjadi karena pemakaian gigi, terutama karena makan makanan yang mengandung asam. Remineralisasi gigi terjadi dengan bantuan air liur, pasta gigi ber-flouride, dan obat kumur. Ketika pH pada permukaan gigi turun di bawah 5,5 karena asam laktat yang diproduksi bakteri, demineralisasi lebih cepat dari remineralisasi sehingga gigi tekor mineral. Hal ini dapat mengarah ke gigi berlubang. Gigi berlubang harus segera ditangani oleh dokter gigi agar tidak berkembang menjadi parah sehingga harus dicabut, atau bahkan menyebabkan infeksi berbahaya. Dokter gigi akan membor lubang untuk membersihkan kerusakan dan kemudian menambal gigi dengan implan. 2) Gigi longgar

Gigi longgar dapat terasa sangat menyakitkan saat mengunyah makanan. Penyebab gigi longgar biasanya adalah penyakit pada gusi (gingivitis, periodontitis), meskipun bisa juga disebabkan oleh kecelakaan atau benturan. Untuk mengatasi gigi longgar, dokter gigi harus menghilangkan penyakit pada gusi dengan pembersihan gigi (scaling) dan pengobatan. Gigi yang sedikit goyang masih dapat diperkuat dengan menambatkan ke gigi di dekatnya. Gigi yang goyang ke segala arah harus dicabut. 3) Erosi gusi Gusi yang mengalami erosi akan mengekspos akarnya sehingga menjadi sensitif terhadap makanan/minuman panas, dingin dan asam. Erosi gusi bisa disebabkan karena menyikat gigi terlalu keras atau karena penyakit gusi.Erosi gusi berlangsung bertahap dalam waktu lama sehingga lebih umum pada mereka yang berusia di atas 40 tahun. Penderitanya tidak memperhatikan atau menganggap serius sampai menjadi masalah. Bila penyebab erosi adalah terlalu keras menyikat gigi, Anda harus mengganti sikat dengan yang lebih halus dan mengurangi tekanan. Erosi gusi hanya bisa dibetulkan dengan cangkok gusi, sebuah prosedur operasi plastik yang hanya bisa dilakukan oleh dokter gigi spesialis. 4) Infeksi kanal akar gigi Kanal akar gigi yang terinfeksi bisa sangat menyakitkan dengan rasa nyeri yang menyebar ke daerah lain di wajah dan tengkorak. Tubuh mempertahankan diri dari infeksi sehingga menyebabkan peradangan. Kadang-kadang terjadi abses (nanah) dalam akar gigi yang dapat menetap di dalam tulang rahang pasien selama bertahun-tahun dan terus-menerus menyebarkan bakteri ke dalam aliran darah penderitanya.Infeksi kanal akar gigi dapat membuat gigi mati sehingga harus dicabut. Mempertahankan gigi mati bukanlah pilihan. Penggunakan herbal, vitamin, atau bahkan resep antibiotik biasanya tidak memecahkan masalah bila tanpa diikuti ekstraksi dan pembersihan kanal akar gigi dan jaringan sekitarnya. 5

c. Klasifikasi nyeri 1) Berdasarkan sumbernya Cutaneus/ superfisial, yaitu nyeri yang mengenai kulit/ jaringan subkutan. Biasanya bersifat burning (seperti terbakar). Contohnya terkena ujung pisau atau gunting. Deep somatic/ nyeri dalam, yaitu nyeri yang muncul dari ligament, pemb. Darah, tendon dan syaraf, nyeri menyebar & lbh lama daripada cutaneus. Contohnya sprain sendi. Visceral (pada organ dalam), stimulasi reseptor nyeri dlm rongga abdomen, cranium dan thorak. Biasanya terjadi karena spasme otot, iskemia, regangan jaringan

2) Berdasarkan penyebab:

Fisik; Bisa terjadi karena stimulus fisik (Ex: fraktur femur) Psycogenic: terjadi karena sebab yang kurang jelas/susah

diidentifikasi, bersumber dari emosi/psikis dan biasanya tidak disadari. (Ex: orang yang marah-marah, tiba-tiba merasa nyeri pada dadanya) Biasanya nyeri terjadi karena perpaduan 2 sebab tersebut. 3) Berdasarkan lama/durasinya Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi segera setelah tubuh terkena cidera, atau intervensi bedah dan memiliki awitan yan cepat, dengan intensitas bervariasi dari berat sampai ringan . Fungsi nyeri ini adalah sebagai pemberi peringatan akan adanya cidera atau penyakit yang akan datang. Nyeri ini terkadang bisa hilang sendiri tanpa adanya intervensi medis, setelah keadaan pulih pada area yang rusak. Apabila nyeri akut ini muncul, biasanya tenaga kesehatan sangat agresif untuk segera menghilangkan nyeri. Nyeri akut secara serius mengancam proses penyembuhan klien, untuk itu harus menjadi prioritas perawatan. Rehabilitasi bisa tertunda dan hospitalisasi bisa memanjang dengan adanya nyeri akut yang tidak terkontrol. 6

Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang suatu periode tertentu, berlangsung lama, intensitas bervariasi, dan biasanya berlangsung lebih dari enam bulan. Nyeri ini disebabkan oleh kanker yang tidak terkontrol, karena pengobatan kanker tersebut atau karena gangguan progresif lain. Nyeri ini bisa berlangsung terus sampai kematian. Pada nyeri kronik, tenaga kesehatan tidak seagresif pada nyeri akut. Klien yang mengalami nyeri kronik akan mengalami periode remisi (gejala hilang sebagian atau keseluruhan) dan eksaserbasi (keparahan meningkat). Nyeri ini biasanya tidak memberikan respon terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya. Nyeri ini merupakan penyebab utama ketidakmampunan fisik dan psikologis. Sifat nyeri kronik yang tidak dapat diprediksi membuat klien menjadi frustasi dan seringkali mengarah pada depresi psikologis. Individu yang mengalami nyeri kronik akan timbul perasaan yan gtidak aman, karena ia tidak pernah tahu apa yang akan dirasakannya dari hari ke hari.

4) Berdasarkan lokasi/letak Radiating pain adalah nyeri menyebar dr sumber nyeri ke jaringan di dekatnya, contohnya adalah cardiac pain. Referred pain adalah nyeri dirasakan pada bagian tubuh tertentu yg diperkirakan berasal dari jaringan penyebab Intractable pain adalah nyeri yg sangat susah dihilangkan, contohnya nyeri kanker maligna. Phantom pain adalah Sensasi nyeri dirasakan pada bagian.Tubuh yg hilang contoh bagian tubuh yang diamputasi atau bagian tubuh yang lumpuh karena injuri medulla spinalis.

B. Pain Killer Merupakan istilah yang digunakan untuk obat-obatan strong opioid dimana bisanya digunakan untuk menghilangkan rasa sakit akut yang sangat hebat 7

WHO ANALGESIC LADDER


Choos ing pain killer and its com binations

NSAID adjuvant analg esic weak opioid (codeine) paracetamol or NSAID a djuvant analg esic
Pain Painthreshold threshold Pain tolerance

Strong opioid NSAID adjuvant analg esic

10

m ild

m oderate

severe

Karakteristik beberapa strong opioid

Golongan Obat Penghilang Nyeri Analgesik Narcosis Analgesik non Narcosis Analgesik Narcosis Mekanisme Kerja Opioid Sebagai analgesic, opioid memeiliki dua mekanisme kerja yang umum, yaitu:

1. Spinal analgesia terjadi melalui aktivasi reseptor opioid di presinaps- menurunkan influx kalsium----- penurunan pelepasan neurotransmitter yang terlibat dalam nociseptif 2. Supraspinal terjadi melalui aktivasi resptor opioid di postsinaps yang terletak di medulla, otak tengah menginhibisi neuron yang terlibat penghantaran rangsang nyeri dengan meningkatkan pengaliran ion kalium RESEPTOR OPIOID DI DALAM TUBUH Ada 4 jenis yang telah diketahui : Reseptor : 1 dan 2 Reseptor : 1,2 dan 3 Reseptor : 1 dan 2 Reseptor : 1 dan 2 Reseptor (mu) (kappa) (delta) (sigma) Antagonis Analgesia supraspinal, euforia, myosis, depresi pernapasan, sedasi, konstipasi Analgesia spinal, disforia, depresi pernapasan, sedasi, myosis Belum diketahui pada manusia, tetapi analgesia pada hewan Disforia, halusinasi, efek psikomimetik, midriasis

Analgesik non narcosis = NSAIDs Umumnya bekerja menginhibisi sistem sikloksigenase Selektivitas terhadap COX-1 atau COX-2 Indikasi klinik penggunaanny sebagai: Analgesic Antipyretic Anti-inflammatory

Memiliki ceiling effect

phospholipids arachidonic acid


COX-2

COX

COX-1

LOX
5-HPETE

cyclic endoperoxides PGI2


inhibits platelet aggregation hyperalgesia, vasodilator

TXA2
stimulates platelet aggregation, vasoconstriction

LTA4 LTB4
chemotaxis

PGD2
inhibits platelet aggregation, vasodilator

PGE2
vasodilator, hyperalgesia

PGF2alfa
bronchodilator myometrial contr. hyperalgesia

LTC4 LTD4 LTE4

brochoconstriction increase vascular permeability

Less GI side effects More GI side effects

Acetosal Diclofenac Indomethacin Ibuprofen Ketorolac Meloxicam Piroxicam Ketoprofen Resveratrol Nimesulide

COXIB

Celecoxib Rofecoxib Valdecoxib

COX-1 selective inhibitor

preferentially

COX-1 selective inhibitor

nonselective COX inhibitor

preferentially

COX-2 selective inhibitor

COX-2 selective inhibitor

anti-inflammatory analgesic

C. Obat terhadap Tumbuh Kembang Ciprofloxacin golongan fluoroquinolon mengandung gugus fluor (alkaloid, gol 7A) dapat mengganggu pertumbuhan tulang pada anak dan remaja.

10

D. Dokter Keluarga a. Aspek Etik Pemberian Obat Memenuhi prinsip etik umum Menghargai hak asasi/atonomi seseorang dalam pengambilan keputusan Berbuat baik tidak merugikan berkeadilan Standard operating procedure (SOP) Anamnesis Pemeriksaan Diagnosis, tentukan problema utama penderita yang merupakan sasaran pengobatan Pemilihan obat Pengobatan Evaluasi

b. Diagnostik Holistik Adalah kegiatan untuk mengidentifikasi dan menentukan dasar dan penyebab penyakit (disease), luka (injury), serta kegawatan yang diperoleh dari: keluhan, riwayat penyakit pasien, pemeriksaan, hasil pemeriksaan penunjang, dan penilaian risiko internal dan eksternal dalam kehidupan pasien dan keluarganya. Tujuan : - Penyembuhan penyakit dengan pengobatan yang tepat - Hilangnya keluhan yang dirasakan pasien - Pembatasan kecacatan - Penyelesaian pemicu dalam keluarga (masalah sosial dalam kehidupannya) - Jangka waktu pengobatan lebih pendek - Tercapainya percepatan perbaikan fungsi sosial - Terproteksi dari risiko yang ditemukan 11

- Terwujudnya partisipasi keluarga untuk penyelesaian masalah Langkah Pelaksanaan Diagnosis Holistik 1. Menentukan keluhan yang dialami (alasan kedatangan), harapan serta kekhawatiran 2. Melakukan pemeriksaan klinis, dibantu penunjang serta menilai risiko, masalah dalam kehidupan sebagai anggota keluarganya 3. Menentukan diagnosis klinis atau diagnosis kerja (bio-fisik-

mentalpsikologikal) Family/ Clinical Practice Guidelines 4. Mencari kemungkinan lain yang dapat menyebabkan kelainan serupa (DD) 5. Menentukan pajanan/ exposure masalah perilaku, mentalpsikologikal confounding 6. Menentukan besarnya pajanan/ exposure dari masalah psikososial dalam kehidupannya faktor penentu terhadap penyakit 7. Menentukan fungsi sosial sesorang dalam kehidupannya

KESIMPULAN : 1. Penggunaan ciprofloxacin kurang tepat, karena infeksi mulut lebih sering disebabkan oleh gram +, sedangkan ciprofloxacin efektif terhadap gram -. Oleh karena itu sebaiknya gunakan antibiotik broad spektrum 12

2. Penggunaan etericoxib dan kalium diclofenak secara bersamaan tidak dianjurkan, sebaiknya gunakan salah satu karena dapat menimbulkan efek toxic

DAFTAR PUSTAKA

13

1. Bence, R. 1990. Buku Pedoman Endodontik Klinik. Terjemahan dari

Handbook of Clinical Endodontics. Sundoro, E.H. (Penterjemah). Jakarta: Universitas Indonesia Press.
2. Gremillion HA. Multidisciplinary diagnosis and management of

orofacial pain. General dentistry. 2002; 15: 178-184.


3. Komalawati, D Veronica, SH, M.H., 1989. Hukum dalam Praktek

Dokter. Sinar Harapan: Jakarta.


4. Lasagna L.: The management of pain. Drug 32 (Supp1.4): 1-7,1986. 5. Moll

JMH.: NSAIDs in clinical practica: dosage regimens and formulations. Med. Digest: 2-11, 1989.

6. Rahayu, Y.C. 2007. Infeksi Anaerob Dentofasial dan Nyeri Orofasial.

Jember: Laboratorium Biologi Mulut FKG Universitas Jember.


7. Walton, R.E. & Torabinejad, M. 1997. Prinsip dan Praktik Ilmu

Endodonsi. Terjemahan dari Principles and Practice of Endodontics. Narlan Sumawinata (Ed). Jakarta: EGC.

14