Anda di halaman 1dari 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1.

Pengertian Kecerdasan Emosi Daniel Goleman (1996) bahwa kecerdasan emosi meruju pada

kemampuanmengenali perasaan diri sendiri dan perasaaan orang lain, kemampuan memotivasidiri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dandalam hubungan dengan orang lain. Kecerdasan emosi mencakup kemampuan-kemampuan yang berbeda, tetapi saling melengkapi dengan kecerdasan akademikyaitu kemampuan-kemampuan kognitif murni yang diukur dengan IQ. Terdapat definisi lain dari Reuven Bar On (2001) mengatakan bahwa : Emotional intelligence is a multi-factorial array interrelated emotional, personal, and social abilities that help us cope with daily demands (Kecerdasan emosional adalah sebuah susunan pengaturan multi-factorial terhadap

keterkaitan/keterhubunganantara emosi, kepribadian, dan kemampuan social yang membantu mengatasistimulus hidup sehari-hari). Pengertian yang lebih dalam mengenai kecerdasan emosi dating dari John D.Mayer (2001), yang mengatakan bahwa : Kecerdasan emosi mengacu pada sebuahkemampuan untuk mengenali makna emosi dan semua keterkaitannya denganberbagai macam hal, sebab-sebab keterkaitan itu serta cara mengatur semua hal yangmendasar itu. Kecerdasan emosi itu meliputi kapasitas mengalami emosi, menerimaemosi, mencari muara emosi dalam aneka perasaan, mengetahui dan memahamisemua aneka gerak emosi, sehingga mampu menata kesemua hal tersebut. Ciarrochi,J. , Chan, A. , Caputi, P. , Roberts, R. (2001 : 26), yang menyatakan bahwa : Emotional intelligence has been defined as the ability to perceive, express, understand, and manage emotions (Kecerdasan emosi sudah 9 didefinisikan sebagi kemampuan merasakan, mengekspresikan, memahami, dan menata emosi). Namun Salovey & Mayer mendefinisikan kecerdasan emosi

sebagaikemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain, sertamenggunakan perasaan-perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan. Dari berbagai pandangan tersebut dapat disimpulkan, bahwa kecerdasan emosiadalah kemampuan yang dinuansai oleh kemampuan kognitif untuk

merasakan,mengenali, mengetahui, memahami emosi diri sendiri kemudian

merancang, menata,kemudian mengekspresikan emosi diri dalam aneka muara perasaan terhadap segalahal ketika berhadapan dengan aneka macam realita dan dalam konteks berhubungandengan orang lain. 2.Keterkaitan Kecerdasan Emosi dengan Kognitif dalam Perspektif Psikoneuorologi Kecerdasan emosi seperti halnya kecerdasan kognitif, merupakan hasil absraksidari fungsi organ otak, khusunya dibagian fungsi system limbik. Kecerdasan emosimelibatkan sirkuit yang berjalan diantara pusat-pusat pelaksanaan otak di lobusprefontral dan system limbic yang mengatur perasaan, impuls, dan dorongan(Goleman, 2005 : 120). System limbik bukanlah suatu struktur tersendiri tetapi mengarah pada sebuahcincin struktur-struktur otak depan yang mengelilingi batang otak dan dihubungkansatu sama lain oleh jalur-jalur saraf yang rumit. System ini mencakup bagian darimasing-masing berikut ini : Lobus-lobus korteks serebrum, nucleus basal, thalamus,dan hipotalamus. Jaringan ineraktif yang kompleks ini berkaitan dengan emosi, pola-pola perilaku sosioseksual dan kelangsungan hidup dasar, motivasi, dan belajar(Sherwood,1996 : 126) System limbik dan neokorteks mengabstraksi emosi sebagai cakupan perasaan emosional subyektif dan suasana hati (misalnya rasa marah, rasa takut, dan kebahagiaan) ditambah respon fisik yang nyata berkaitan dengan perasaan tesebut.Respon-respon tersebut mencakup pola-pola perilaku spesifik (misalnya persiapanmenyerang atau bertahan jika dibuat marah oleh musuh) dan ekspresi emosional yangdapat diamati (misalnya tertawa, menangis, atau tersipu). Bukti menunjukkan bahwasystem limbik berperan sentral dalam semua aspek emosi. Stimulasi beberapa daerahtertentu didalam system limbik manusia selama pembedahan otak menimbulkanberbagai sensasi subyektif yang tidak jelas, yang diutarakan oleh pasien sebagai rasatenang, kepuasan, atau kenikmatan di satu daerah serta keputusasaan, ketakutan, ataukecemasan dibagian lain. Pola-pola perilaku sebagian besar dikonrol oleh system limbik yang mencakuppola-pola yang ditujukan bagi kelangsungan hidup inividu dan yang

diarahkan untukkesinambungan spesies. Dalam aneka percobaan terhadap hewan, ditemukantimbulnya perilaku-perilaku yang kompleks. Sebagai contoh, stimulasi pada satudaerah dapat menimbulkan rspons kemarahan dan kegusaran pada hewan yang dalamkeadaan normal atau jinak. Sementara stimulasi di daerah lain

menyebabkanketenangan dan kejinakan, bahkan pada hewan yang biasanya buas. Stimulasi daerahlimbik lainnya dapat menginduksi perilaku-perilaku seksual misalnya gerakan-gerakan bersetubuh. Ada hubungan antara hipotalamus, system libik, dan daerah-daerah kortikal yanglebih tinggi berkenaan dengan emosi dan perilaku. Hubungan akan

berlangsungdemikian ; keterlibatan hipotalamus yang luas pada system limbic bertanggung jawabterhadap respon internal involunter berbagai system tubuh dalam mempersiapkantindakan yang sesuai untuk menyertai keadaan emosional tertentu. Dalam melaksanakan aktivitas perilaku yang kompleks, seperti

menyerang,berkelahi, atau bersetubuh, individu harus berinteraksi dengan lingkungan eksternal.Mekanisme-mekanisme korteks yang lebih tinggi dipanggil untuk ikut berperandalam menghubungkan system libik dan hipotalamus ke dunia luar, sehingga perilakuyang sesuai dimanifestasikan. Pada tingkat yang paling sederhana, korteksmenyediakan mekanisme-mekanisme saraf yang perlu untuk implementasi aktivitasseksual, atau memperlihatkan ekspresi emosi. Sebagai contoh, urutan gerakan http://www.scribd.com/doc/14185376/Bab-2