Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH KECEPATAN LAJU MASA BAHAN TERHADAP LAJU PENGERINGAN VENEER / KAYU LAPIS

Tegar Adhi Santoso (06.11.044) Jurusan Teknik Mesin S-1, Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Nasional Malang Jl. Raya Karanglo, Km2 Malang Email : gory_chan88@yahoo.co.id ABSTRAK Veneer / kayu lapis merupakan produk komposit yang terbuat dari lembaran-lembaran veneer yang direkat bersama. Seiring dengan meningkatnya nilai ekonomis veneer, perhatian produsen atau konsumen sendiri terhadap veneer / kayu lapis sangatlah kurang, terutama mengenai masalah pengeringan veneer. Oleh karena itu banyak penelitian yang menitik beratkan pengoptimalan mesin pengering veneer yang telah ada. Mesin pengeringan disini menggunakan system conveyor dan pipa-pipa pemanas untuk meneruskan uap panas dari tungku pembakaran. Tujuan dari penelitian adalah untuk mencari solusi guna mendapatkan hasil veneer yang bermutu baik, untuk itu perlu mengoptimalkan proses pengeringan veneer agar mendapatkan bahan veneer dengan kadar air tidak lebih dari 20%. Variasi yang digunakan adalah dengan memvariasikan putaran roller 5rpm, 10rpm, 15rpm dan 20rpm. Sebagai hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada saat putaran motor 5rpm rata-rata kadar air yang diuapkan sebesar 3.27%. sedangkan pada saat putaran 10rpm kadar air yang diuapkan adalah 2.24% dan 0.76% pada putaran 23rpm. Dapat disimpulkan bahwa semakin pelan putaran roller, semakin tinggi pula kadar air yang diuapkan.

Kata kunci : Kadar air, pengering kayu lapis, Veneer dryer

PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan produsen kayu lapis terbesar di dunia, lebih dari 75% kayu lapis diproduksi oleh Indonesia. Baldwin (1995) menyatakan bahwa Indonesia menduduki

Adanya tantangan tersebut, maka setiap produsen kayu lapis dituntut untuk dapat meningkatkan kualitas kayu lapis yang

dihasilkan. Salah satu cara untuk memperbaiki kualitas kayu lapis tersebut adalah dengan meningkatkan kualitas veneernya. Seperti yang telah dikemukakan oleh Bakar (1996), kualitas kayu lapis ini ditentukan oleh banyak faktor, namun yang terpenting diantaranya adalah kualitas veneer yang dihasilkan. Untuk mendapatkan kualitas veneer yang baik tentunya diperlukan kualitas log yang baik pula. Padahal sekarang ini log yang berkualitas baik sudah sangat langka, sehingga setiap produsen kayu lapis harus dapat memanfaatkan log yang ada. Dalam kondisi demikian , log perlu diberikan suatu perlakuan khusus seperti perlakuan awal (pre-treatment). Perlakuan awal (pre-treatment) pada log sendiri dilakukan dengan cara merebus log sehingga log yang tadinya keras menjadi log yang lunak. Perebusan log sebelum dikupas akan memberikan keuntungan yaitu

posisi kedua setelah Amerika Serikat dalam produksi kayu lapis di dunia pada tahun 1991. Dengan demikian kayu lapis merupakan suatu produk industri hasil hutan yang telah

menempati kedudukan yang penting dalam pembangunan di Indonesia. Pesatnya industri kayu lapis di Indonesia bermula sejak

dikeluarkannya surat keputusan bersama tiga menteri nomor : 317/Kpts/Um/1980, nomor : 196/Kpb/V/1980, M/Sk/5/1980 pengurangan yang ekspor dan nomor : 182/ pada dan

menitikberatkan kayu bulat

meningkatkan ekspor kayu olahan, baik berupa barang jadi maupun barang setengah jadi. Sejak saat itu kayu yang berintikan kayu lapis berkembang pesat. Tantangan yang muncul dengan semakin pesatnya perkembangan industri kayu lapis ini adalah bahwa perusahaan dihadapkan pada masalah kualitas dan kuantitas bahan baku (log) yang semakin turun. Penurunan tersebut terjadi karena pada kenyataannya jumlah log yang ada semakin langka, dan log yang dihasilkan mempunyai kualitas yang semakin rendah.

memperlunak log yang keras, mempermudah pengupasan, meningkatkan kualitas veneer kupasan, meningkatkan rendemen pengupasan. Mengingat pentingnya kualitas veneer yang baik maka proses awal dan proses

pengeringan veneer harus dilakukan secara optimal. Maka pada penelitian ini peneliti membahas
2

masalah

tentang

pengaruh

kecepatan laju masa bahan terhadap laju pengeringan veneer/ kayu lapis untuk

Tidak membahas analisa biaya. Parameter yang digunakan dalam

meningkatkan efisiensi dan kualitas yang dihasilkan.

penelitian adalah variasi putaran rotor terhadap optimasi pengeringan veneer / kayu lapis.

Rumusan Masalah Pada penelitian ini dapat dirumuskan permasalahan pada variasi pengaruh kecepatan putaran rotor (RPM) terhadap laju pengeringan veneer / kayu lapis. Dan hasil penelitian diharapkan dapat

Bahan baku yang digunakan sebagai pengujian adalah veneer / kayu lapis jenis meranti (Shorea spp)

Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar persentase kadar air pada veneer yang ditinjau dari kecepatan laju

memberikan penjelasan terhadap : 1. Berapakah laju masa bahan terhadap laju pengeringan? 2. Berapakah kecepatan putaran

masa bahan dengan variasi kecepatan putaran rotor terhadap proses pengeringan. Serta untuk mengetahui prinsip kerja pada mesin pengering kayu lapis.

terhadap optimasi pengeringan? 3. Berapakah bahan prosentase dan kadar air

sebelum

sesudah

TINJAUAN PUSTAKA

pengeringan ? Pengeringan adalah suatu proses Batasan Masalah Untuk mencegah agar tidak meluasnya pembahasan dalam penyusunan skripsi ini, maka perlu dilakukan pembatasan masalah. Batasan masalah ini akan menuntun penulisan skripsi dengan perencanaan yang jelas, baik, dan terarah, serta mengena pada permasalahan utama. Adapun batasan masalahnya adalah : Tidak membahas masalah konstruksi, komposisi bahan dan sifat sifatnya.
3

perpindahan panas pada uap air dari suatu bahan secara simultan yang memerlukan energi untuk menguapkan kandungan air dari bahan yang akan dikeringkan oleh media pengering, yang biasanya berupa panas. Dan pengering pada dasarnya merupakan proses pengeluaran kandungan air bahan hingga mencapai

kandungan atau kadar air tertentu agar tidak terjadi kerusakan pada bahan tersebut dan tahan dalam kurun waktu tertentu.

Peristiwa yang terjadi selama pengeringan meliputi 2 (dua) proses yaitu: 1. Proses perpindahan panas Yaitu proses panas dari media pengering ke media yang

tahun, kayu gubal, cara penumpukan, kondisi tempat dan faktor iklim. d) Pengendalian kadar air, perubahan kadar air kayu selama pengeringan udara dapat diketahui. Pengukuran dimaksudkan untuk mempercepat atau memperlambat keluarnya air dari kayu sampai dengan tingkat tertentu (dibawah 20%). Pengeringan dengan kiln pengering (Konvensional) Kiln drying biasanya menggunakan

dikeringkan baik secara konduksi, konveksi ataupun radiasi. 2. Proses perpindahan massa Yaitu proses perpindahan massa uap air dari permukaan bahan yang dikeringkan ke udara sekitar. Metode Pengeringan Kayu Lapis Metode pengeringan kayu yang

uap panas, peralatan dilengkapi dengan pengendali suhu dan kelembaban, sirkulasi udara, dan buangan uap air. a) Tipe kiln, ada dua tipe kiln-

biasanya digunakan antara lain: Pengeringan udara (alami) a) Pemilihan tempat, kriteria dalam memilih tempat untuk pengeringan udara adalah ukuran luas, permukaan datar, terbuka (aerasi baik), serta kering. b) Penumpukan, diperhatikan pada yang dalam harus

kompartement dan progressive. Pada kiln kompartemen pengeringan

dilaksanakan secara tetap (kayu tidak bergerak). Pada kiln progressive (kayu secara bergerak), bertahap kayu sampai berjalan dengan

penumpukan adalah pola

pengeringan

kering dan langsung keluar. b) Penumpukan, penumpukan prinsip kayu pada umum kiln

penumpukan, dimensi penumpukan, fondasi, stiker, atap, perlindungan akhir dan tingkat pengeringan. c) Kecepatan pengeringan, kecepatan pengeringan dipengaruhi oleh

pengering sama dengan penumpukan pada pengeringan alami. c) Kadar air akhir, penentuan kadar air kayu yang dikeringkan tergantung pada tujuan pengeringan dan tujuan penggunaan kayu tersebut.
4

beberapa faktor antara lain jenis kayu, ketebalan kayu, pola lingkaran

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kecepatan Pengeringan Faktor utama yang mempengaruhi

sekitar. Sirkulasi udara yang baik akan mempercepat perambatan gelombang panas pada udara sehingga mempercepat

pengeringan adalah panas, RH (kelembaban relatif), dan sirkulasi udara. 1. Panas Merupakan energi yang diperlukan oleh molekul air untuk melepaskan diri dari ikatan antara molekul pada air bebas dalam rongga sel atau melepaskan diri dari ikatan dengan tangan hidroksil pada air terikat. Pada suhu tinggi, udara cenderung menghisap

pengeringan. Alat Penukar Kalor (Heat Echanger) Pada Alat Pengering Penerapan prinsip prinsip perpindahan kalor untuk merancang (design) alat-alat guna mencapai tujuan sangat penting. Rancang bangun serta analisa semua jenis alat penukar kalor panas memerlukan pengetahuan tentang koefisien perpindahan panas antara dinding saluran dan fluida yang mengalir di dalamnya. Bila koefisien perpindahan panas untuk suatu geometri tertentu serta kondisi aliran yang di tetapkan telah diketahui, maka laju

kelembaban atau uap air di bandingkan dengan udara bersuhu rendah. Panas thermal udara sangat berpengaruh terhadap nilai kelembaban udara. Tetapi nilai kelembaban udara tidak akan berubah walaupun

perpindahan panas pada beda suhu dapat dihitung. Q=U.A. Dimana pada persamaan ini : Q : Kuantitas perpindahan panas (laju perpindahan panas/watt) U konveksi ( A : Luas permukaan perpindahan panas ( ) : Perbedaan temperatur pada saat perpindahan panas ( ) : koefisien perpindahan panas

dipanaskan atau didinginkan. 2. Kelembaban Relatif (air humidity) Menentukan kapasitas pengeringan udara. Udara yang lebih kering (kelembaban relatif lebih rendah) memiliki kapasitas pengeringan yang lebih tinggi dan dapat menahan uap air lebih banyak. Kapasitas pengeringan

dipengaruhi oleh temperatur karena udara yang panas memiliki kapasitas pengeringan yang lebih tinggi. 3. Sirkulasi udara (air velocity) Berfungsi sebagai pengantar panas ke kayu lapis yang digunakan untuk menguapkan air dari dalam kayu lapis dan memindahkan uap air dari permukaan kayu lapis ke udara
5

Alat pembakaran berupa bahan bakar kayu, sebagai penimbul kalor dengan temperatur . E. Blower tiup Digunakan untuk menghembuskan udara panas yang dihasilkan oleh tungku pembakaran ke Gambar 1 Susunan pipa penukar kalor (Sumber: J.P.Holman; 1997:489) Bagian bagian alat pengering kayu lapis (veneer dryer) A. Mesin pengering veneer dryer tipe rak. Satu (1) unit mesin Veneer Dryer tipe rak dua pintu ( ruang pengering ) di lengkapi dengan 1 (satu) unit blower tiup HP, 1 unit blower hisap HP, coil pemanas (heater), 30 (tiga puluh unit) roller sch. 20, motor listrik 2 HP 3 phase, pipa penyalur panas, sprocket type Z 60, rantai type Z 60, roda gigi dan gearbox rasio 1:20. B. Motor Listrik Motor listrik merupakan komponen utama dalam menggerakkan roller pada mesin veneer dryer. C. Gear Box Gearbox atau transmisi adalah salah satu komponen utama mesin veneer dryer. Gearbox berfungsi untuk memindahkan dan mengubah tenaga dari motor listrik yang berputar yang kemudian diteruskan ke roller D. Tungku Pembakaran
1

dalam

ruang

pengering

agar

dapat

bersirkulasi di dalam mesin pengering. F. Blower Hisap Blower hisap berfungsi untuk menghisap uap jenuh akibat proses pengeringan

berlangsung pada ruang pengering G. Inverter Inventer adalah komponen yang penting dalam proses pengambilan data. Prinsip kerja inverter adalah dengan mengubah input motor (listrik AC) menjadi DC dan kemudian dijadikan AC lagi dengan frekuensi yang dikehendaki sehingga motor dapat dikontrol sesuai dengan kecepatan yang diinginkan. H. Panelbox Panelbox berfungsi untuk menampilkan ukurun temperature tungku pembakaran, ruang pengering serta temperatur buang.

Rumus-rumus yang digunakan Massa air yang diuapkan dari bahan


1 2

Dimana : massa penguapan benda uji (gr). massa benda uji sebelum pengeringan.

massa benda uji sedadah pengeringan.

d = Diameter puli motor (mm)

Menghitung kadar air Untuk menghitung jumlah kadar air bahan dapat dihitung dengan: METODE PENELITIAN Diagram Alir Penelitian
Mulai

Dimana : H : Kadar Air (%) : Berat awal (g)


Pengujian Set Up Alat

: Berat setelah pengeringan (g) Menghitung laju pengeringan air dari bahan ke udara sekeliling dapat di hitung menggunakan rumus :
Data hasil pengujian Kecepatan putaran motor 2. Pengurangan kadar air benda uji 1. literatur Perhitungan

Keterangan : w M benda (gr). T

= Laju perpindahan air.


Hasil perhitungan

Tidak

= Massa air yang di keringkan


pembahasan

= Waktu pengeringan (menit).

Kecepatan yang terjadi pada roller ..(Sularso, 1994 : 166) Dimana : = Putaran poros pertama (rpm) = Putaran poros kedua (rpm) = Diameter puli penggerak (mm) = Diameter puli yang digerakkan (mm) 2.6.1 Kecepatan sabuk Waktu dan Tempat

kesimpulan

selesai

Adapun waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada tanggal 3 agustus 20013 hingga selesai, yang dilaksanakan di bengkel pengembangan kreatifitas mahasiswa Institut Teknologi Nasional Malang Kampus II karang

V= Kecepatan sabuk (m/s) n = Putaran motor (rpm)


7

ploso.

Bahan Spesifikasi bahan uji : Ketebalan Lebar Panjang : 4mm : 19 cm : 83 cm

4. Mempersiapkan lembar data untuk mencatat hasil percobaan.

Langkah-Langkah Pengujian Apabila semua peralatan telah dipersiapkan, maka pengujian siap untuk dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Periksa pengujian sekitar). 2. Menyalakan tungku untuk memanaskan pipa-pipa exchanger. 3. Siapkan bahan uji (veneer / kayu lapis) yang ada pada heat temperatur (temperatur pada ruang

Berat bahan uji per lembar @ : 360gr Total berat bahan yang di uji : 1500 gr

lingkungan

Pada proses pengeringan ini variasi yang digunakan adalah kecepatan putar roller, yaitu 5rpm, 10rpm dan 23rpm, dengan menggunakan inverter.

yang mempunyai dimensi dan kadar air yang sama. 4. Letakkan bahan uji ke dalam ruang pengeringan.

Persiapan Pengujian Sebelum pelaksanaan pengujian dimulai ada hal yang perlu di persiapkan: 1. Memastikan alat pengering sudah bekerja dengan baik, pengecekan panas: sambungan koil

5. Menghidupkan

blower

untuk

menghembuskan udara panas dari heat echanger ke dalam ruang pengering, denga demikian proses pengeringa telah dimulai kemudian nyalakan stopwatch untuk mrngetahui waktu yang

saluran-saluran

pipa-pipa

pemanas, Saluran buang, mengecek kondisi dapur (tungku) dan jumlah bahan bakar. 2. Mempersiapkan alat ukur yang

dibutuhkan selama proses. 6. Periksa temperatur udara keluar dari blower, temperatur udara setelah

dipergunakan yaitu thermometer, stopwatch, wood moisture, anemometer dan timbangan. 3. Mempersiapkan bahan yang akan di uji (veneer) ditimbang dalam keadaan basah.

pemanasan dan temperatur udara keluar dari cerobong lemari pengering. 7. Ulangi proses pengujian dengan

menggunakan variasi putaran motor.


8

Analisa dan Pembahasan Data hasil pengujian Pada analisa perhitungan ini akan di buat dengan metode statistic untuk menentukan

H = Kadar air yang diuapkan (%) Temperatur Dapur : Temperatur Ruang pengering : Pengujian Sample Ketebalan : 4mm : 19 cm : 83 cm : 360 gr : 1500 gr

hubungan-hubungan antara yang berkaitan dengan data-data yang di hasilkan pada saat pengujian. Keterangan: M = Massa pengeringan bahan
0

Lebar Panjang

Berat bahan per lembar @ Total Berat yang diuji Tabel Data pengujian veneer Berat sample Kecepatan Bahan (rpm) Temperatur ruangan pengering M0 M1 uji Massa Pengeringan (gr)
0 1

Kadar air yang diuapkan (%) Waktu (dt)

5 10 15 23

1500 1452.5 1500 1467

47.5 33 22.3 11.4

3.27 2.24 1.50 0.76

37.02 34.27 32.06 27.02

1500 1477.7 1500 1488.6

Perhitungan Massa Pengeringan Bahan


0 1

Massa Pengeringan (gr)

Dimana :
0

50 40 30 20 10 0

47.5 33 22.3 11.4 5 10 15 25 Kecepatan Bahan (rpm) Massa Pengeringa n

Grafik 4.1 Hubungan Antara Kecepatan Bahan Laju Pengeringan Bahan (gr/det) Terhadap Massa Pengeringan Perhitungan Kadar Air Bahan Yang Diuapkan Untuk menghitung jumlah kadar air bahan dapat dihitung dengan:

1.5 1 0.5 0 5 10 15 25 Kecepatan Bahan (rpm) 1.28 0.96 0.69 0.42

Laju Pengeringa n

Dimana : H : Kadar Air (%) : Berat awal (g) : Berat setelah pengeringan (g) Kadar Air (%) 4.00% 3.00% 2.00% 1.00% 0.00% 3.27% 2.24% 1.50% 0.76% Kadar Air 5 10 15 25 Kecepatan Bahan (rpm) Grafik 4.2 Hubungan Antara Kecepatan Bahan Terhadap Kadar Air Bahan Yang Diuapkan

Grafik 4.3 Hubungan Antara Kecepatan Bahan Terhadap Laju Pengeringan

KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Dari pengujian yang telah peneliti

lakukan dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Variasi kecepatan pada bahan proses sangatlah pengeringan,

berpengaruh

dilihat dari grafik 4.1 Hubungan Antara Kecepatan Bahan Terhadap Massa

Pengeringan bahwa pada saat kecepatan diatur pada 5 rpm penurunan massa pada bahan mencapai 47.5 gr dan penurunan kadar air sebesar 3.27%. sedangkan pada saat kecepatan bahan 15 rpm dan 25 rpm, penurunan massa bahan sekitar 22.3 - 11.4 gr, dan kadar air yang diturunkan sekitar 0.76% - 1.50%.

Laju Perpindahan Massa Pada Bahan (gr/detik) Laju perpindahan massa air yang di

keluarkan dari bahan (veneer) ke udara dapat di hitung menggunakan rumus :

Dimana :

2. Semakin lambat kecepatan bahan, maka pengeringan yang didapatkan akan semakin maksimal, asalkan tetap mengontrol

temperatur pada ruang pengering. Apabila bahan yang dikeringkan semakin cepat

10

melewati ruang pengering maka kadar air yang diuapkan dari bahan juga sangat kecil. 3. Semakin besar temperatur panas didalam ruang pengering dan semakin kecilnya temperature panas yang keluar atau dibuang maka semakin besar penyerapan kalor dan dapat menguapkan kadar air pada bahan veneer dengan maksimal

DAFTAR PUSTAKA Budianto, A. Dodong, 1996. Sistem Pengeringan Kayu. Penerbit Kanisius, Semarang Buku Proses Pengeringan Kayu, PIKA Semarang, Penerbit Kanisius Jogjakarta. Fadillah H.Usman . Moisture Content and Dimension Stability Based on the FanAir Frank, Company, Kreith, product Arko presentation. Perpindahan

www.fanair.com/products.pdf SARAN - SARAN Dalam melakukan pengujian, peneliti banyak menemukan kendala maka peneliti dapat memberikan saran berupa : 1. Dalam melakukan pengujian sebaiknya Prijono, Panas. Edisi Ketiga. Penerbit Erlangga. Jakarta 1997. http://grindingmillforsale.com/penghancur/teknikproses-pengeringan-veneer-pada-press-dryer J.P. Holman, E. Jasjfi. Perpindahan Kalor, Edisi Keenam. Penerbit Erlangga. Jakarta 1997. alat ukur (temperature dan Kern Donald Q ; 1995 : Process Heat Transfer M. Necati Ozisik ; 1997; Heat Transfer A Basic Approach Prof.DR.Sujana,M.A.M.sc;metode statistic;Tarsito, Bandung; 1992; hal 305 Pusat perkayuan 2012. Modul bimbingan teknis pengering kayu. Efrida Basri , Jakarta. Saad. M.A, Termodinamika, Prinsip dan Aplikasi Temperature of Dry Kiln and Wood Types: Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Tsoumis, G. 1991. Science and Technology of Wood: Structure, Properties, utilization. Van Nostrand Reinhold, New York. USA.

melakukan rancangan alat yang semaksimal mungkin. 2. Untuk

timbangan) sebaiknya menggunakan yang lebih akurat dan spesifik. 3. Agar pengeringan menjadi optimal, maka sebaiknya merancang tungku pembakaran lagi, dengan menambahkan isolator panas dari batu tahan api, agar panas dari tungku pembakaran tidak banyak terbuang. 4. Ukuran pipa dari tungku pembakaran

sebaiknya di buat dengan diameter agak besar dan dibentuk mengerucut, agar panas yang berasal dari tungku bisa cepat masuk ke ruang pengering. 5. Ketebalan pipa pemanas sebaiknya sekitar 1mm. agar udara panas yang dialirkan cepat merata di ruang pengering.

11