Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN INKONTINENSIA URIN PADA LANSIA

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Keperawatan Gerontik

Nama Kelompok : Anisa Umairoh Ika Putri Nur Pramita Nurhasanah Rizky Maulana Rachmat

STIKes Jayakarta 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Inkontinensia urine merupakan eliminasi urine dari kandung kemih yang tidak terkendali atau terjadi diluar keinginan (Brunner and Suddarth, 2002). Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita yang pernah melahirkan daripada yang belum pernah melahirkan (nulipara). Diduga disebabkan oleh perubahan otot dan fasia di dasar panggul. Kebanyakan penderita inkontinensia telah menderita desensus dinding depan vagina disertai sisto-uretrokel. Tetapi kadang-kadang dijumpai penderita dengan prolapsus total uterus dan vagina dengan kontinensia urine yang baik. Angka kejadian bervariasi, karena banyak yang tidak dilaporkan dan diobati. Di Amerika Serikat, diperkirakan sekitar 10-12 juta orang dewasa mengalami gangguan ini. Gangguan ini bisa mengenai wanita segala usia. Prevalensi dan berat gangguan meningkat dengan bertambahnya umur dan paritas. Pada usia 15 tahun atau lebih didapatkan kejadian 10%, sedangkan pada usia 35-65 tahun mencapai 12%. Prevalansi meningkat sampai 16% pada wanita usia lebih dari 65 tahun. Pada nulipara didapatkan kejadian 5%, pada wanita dengan anak satu mencapai 10% dan meningkat sampai 20% pada wanita dengan 5 anak. Diperkirakan prevalensi inkontinensia urin berkisar antara 15 30% usia lanjut di masyarakat dan 20-30% pasien geriatri yang dirawat di rumah sakit mengalami inkontinensia urin, dan kemungkinan bertambah berat inkontinensia urinnya 25-30% saat berumur 65-74 tahun. Masalah inkontinensia urin ini angka kejadiannya meningkat dua kali lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria. Perubahan-perubahan akibat proses menua mempengaruhi saluran kemih bagian bawah. Perubahan tersebut merupakan predisposisi bagi lansia untuk mengalami inkontinensia, tetapi tidak menyebabkan inkontinensia. Jadi inkontinensia bukan bagian normal proses menua. Pada wanita umumnya inkontinensia merupakan inkontinensia stres, artinya keluarnya urine semata-mata karena batuk, bersin dan segala gerakan lain dan jarang ditemukan adanya inkontinensia desakan, dimana didapatkan keinginan miksi mendadak. Keinginan ini demikian mendesaknya sehingga sebelum mencapai kamar kecil penderita telah membasahkan celananya. Jenis inkontinensia ini dikenal karena gangguan neuropatik pada kandung kemih. Sistitis yang sering kambuh, juga kelainan

anatomik yang dianggap sebagai penyebab inkontinensia stres, dapat menyebabkan inkontinensia desakan. Sering didapati inkontinensia stres dan desakan secara bersamaan.
1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum

Mahasiswa mampu menjelaskan tentang Asuhan Keperawatan pasien dengan


inkontinensia urin. 1.2.2 Tujuan Khusus Mahasiswa mampu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Untuk memahami pengertian dari inkontinesia urin. Untuk mengetahui klasifikasi dari inkontinensia urin. Untuk mengetahui etiologi inkontinensia urin. Untuk mengetahui patofisiologi inkontinensia urin. Untuk mengetahui maninfestasi klinis inkontinensia urin. Untuk mengetahui penatalaksanaan inkontinensia urin

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Anatomi Fisiologi Sistem Perkemihan Pada Orang Dewasa

A. Ginjal Ginjal terletak dibagian belakang abdomen atas, dibelakang peritonium, di depan dua kosta terakhir dan tiga otot-otot besar transversus abdominalis,kuadratus lumborum dan psoas mayor. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan lemak yang tebal. Disebelah posterior dilindungi oleh kosta dan otot-otot yang meliputi kosta, sedangkan dianterior dilindungi oleh bantaan usus yang tebal. Pada orang dewasa ginjal panjangnya 12-13 cm, lebarnya 6 cm dan beratnya antara 120-150 gram. Ukurannya tidak berbeda menurut bentuk dan ukuran tubuh. 95 % orang dewasa memiliki jarak antara katup ginjal antara 11-15 cm. Perbedaan panjang dari kedua ginjal lebih dari 1,5 cm atau perubahan bentuk merupakan tanda yang penting karena kebanyakan penyakit ginjal dimanifestasikan dengan perubahan struktur. Ginjal diliputi oleh suatu kapsula tribosa tipis mengkilat, yang berikatan longgar dengan jaringan dibawahnya dan dapat dilepaskan dengan mudah dari permukaan ginjal. (Syaifuddin. 2003). a. Bagian Bagian Ginjal Tiga bagian ginjal, yaitu : 1) Kulit Ginjal (Korteks) Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan penyaringan darah yang disebut nefron. Pada tempat penyaringan darah ini banyak mengandung kapiler kapiler darah yang tersusun bergumpal gumpal disebut glomerolus. Tiap

glomerolus dikelilingi oleh simpai bowman, dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bowman disebut badan malphigi. Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi, yaitu diantara glomerolus dan simpai bowman. Zat zat yang terlarut dalam darah akan masuk kedalam simpai bowman. Dari sini maka zat zat tersebut akan menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai bowman yang terdapat di dalam sumsum ginjal. 2) Sumsum Ginjal (Medula) Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut piramid renal. Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau papila renis, mengarah ke bagian dalam ginjal. Satu piramid dengan jaringan korteks di dalamnya disebut lobus ginjal. Piramid antara 8 hingga 18 buah tampak bergaris garis karena terdiri atas berkas saluran paralel (tubuli dan duktuskoligentes). Diantara pyramid terdapat jaringan korteks yang disebut dengan kolumna renal. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yangmerupakan lanjutan dari simpai bowman. Di dalam pembuluh halus ini terangkut urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi, setelah mengalami berbagai proses. 3) Rongga Ginjal (Pelvis Renalis) Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk corong lebar. Sebelum berbatasan dengan jaringan ginjal, pelvis renalis bercabang dua atau tiga disebut kaliks mayor, yang masing masing bercabang membentuk beberapa kaliks minor yang langsung menutupi papila renis dari piramid. Kaliks minor ini menampung urine yang terus keluar dari papila. Dari Kaliks minor, urine masuk ke kaliks mayor, ke pelvis renis ke ureter, hingga di tampung dalam kandung kemih (vesikula urinaria). b. Fungsi Ginjal Menurut Pearce, Evelyn C (2006) Ginjal berfungsi sebagai berikut : 1) Mengatur volume air (cairan) dalam tubuh. Kelebihan air dalam tubuh akan dieksresikan oleh ginjal sebagai urine (kemih) yang encer dalam jumlah besar, kekurangan air (kelebihan keringat) menyebabkan urine yang di eksresi berkurang dan konsentrasinya lebih pekat sehingga susunan dan volume cairan tubuh dapat dipertahankan relatif normal. 2) Mengatur keseimbangan osmotic dan mempertahankan keseimbangan ion yang optimal dalam plasma (keseimbangan elektrolit). Bila terjadi pemasukan/pengeluaran yang abnormal ion ion akibat pemasukan garam yang berlebihan/penyakit

perdarahan (diare, muntah) ginjal akan meningkatkan eksresi ion ion yang penting (mis. Na, K, Cl, Ca dan fosfat). 3) Mengatur keseimbangan asam basa cairan tubuh bergantung pada apa yang dimakan, campuran makanan menghasilkan urine yang bersifat agak asam, pH kurang dari 6 ini disebabkan hasil akhir metabolisme protein. Apabila banyak makan sayur sayuran, urine akan bersifat basa. pH urine bervariasiantara 4 , 8 8,2. Ginjal menyekreksi urine sesuai dengan perubahan pH darah. 4) Eksresi sisa hasil metabolisme (ureum, asam urat, kreatinin) zat zat toksik , obat obatan, hasil metabolisme hemoglobin dan bahan kimia asing (pestisida). 5) Fungsi hormonal dan metabolisme. Ginjal menyekresi hormon rennin yang mempunyai peranan penting mengatur tekanan darah (system rennin angiotensin aldesteron) membentuk eritropoiesis mempunyai peranan penting untuk memproses pembentukan sel darah merah (eritropoiesis). B. Nefron Pada manusia setiap ginjal mengandung 1-1,5 juta nefron yang pada dasarnya mempunyai struktur dan fungsi yang sama. 1. Bagian-bagian nefron: a) Glomerolus Suatu jaringan kapiler berbentuk bola yang berasal dari arteriol afferent yang kemudian bersatu menuju arteriol efferent, Berfungsi sebagai tempat filtrasi sebagian air dan zat yang terlarut dari darah yang melewatinya. b) Kapsula Bowman Bagian dari tubulus yang melingkupi glomerolus untuk mengumpulkan cairan yang difiltrasi oleh kapiler glomerolus. c) Tubulus, terbagi menjadi 3 yaitu: Tubulus proksimal

Tubulus proksimal berfungsi mengadakan reabsorbsi bahan-bahan dari cairan tubuli dan mensekresikan bahan-bahan ke dalam cairan tubuli. Lengkung Henle

Lengkung henle membentuk lengkungan tajam berbentuk U. Terdiri dari pars descendens yaitu bagian yang menurun terbenam dari korteks ke medula, dan pars ascendens yaitu bagian yang naik kembali ke korteks. Bagian bawah dari lengkung henle mempunyai dinding yang sangat tipis sehingga disebut segmen tipis, sedangkan

bagian atas yang lebih tebal disebut segmen tebal. Lengkung henle berfungsi reabsorbsi bahan-bahan dari cairan tubulus dan sekresi bahan-bahan ke dalam cairan tubulus. Selain itu, berperan penting dalam mekanisme konsentrasi dan dilusi urin. Tubulus distal

Berfungsi dalam reabsorbsi dan sekresi zat-zat tertentu. Duktus pengumpul (duktus kolektifus)

Satu duktus pengumpul mungkin menerima cairan dari delapan nefron yang berlainan. Setiap duktus pengumpul terbenam ke dalam medula untuk mengosongkan cairan isinya (urin) ke dalam pelvis ginjal. C. Ureter Ureter adalah tabung/saluran yang menghubungkan ginjal dengan kandung kemih. Ureter merupakan lanjutan pelvis renis, menuju distal & bermuara pada vesica urinaria. Panjangnya 25 30 cm. Persarafan ureter oleh plexus hypogastricus inferior T11- L2 melalui neuron simpatis. Terdiri dari dua bagian: pars abdominalis pars pelvina, Tiga tempat penyempitan pada ureter: uretero - pelvic junction tempat penyilangan ureter dengan vassa iliaca sama dengan flexura marginalis muara ureter ke dalam vesica urinaria. Terdiri dari 2 saluran pipa masing masing bersambung dari ginjal kekandung kemih (vesika urinaria) panjangnya 25 30 cm dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis. Lapisan dinding ureter terdiri dari : a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa) b. Lapisan tengah otot polos c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria). Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih. Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.

D. Vesica Urinaria Disebut juga bladder/kandung kemih. Vesica urinaria merupakan kantung berongga yang dapat diregangkan dan volumenya dapat disesuaikan dengan mengubah status kontraktil otot polos di dindingnya. Secara berkala urin dikosongkan dari kandung kemih ke luar tubuh melalui ureter. Organ ini mempunyai fungsi sebagai reservoir urine (200 - 400 cc). Dindingnya mempunyai lapisan otot yang kuat. Letaknya di belakang os pubis. Bentuk bila penuh seperti telur (ovoid). Apabila kosong seperti limas. Apex (puncak) vesica urinaria terletak di belakang symphysis pubis. Fungsi vesica urinaria: (1) Sebagai tempat penyimpanan urine (2) Mendorong urine keluar dari tubuh. E. Uretra Merupakan saluran keluar dari urin yang diekskresikan oleh tubuh melalui ginjal, ureter, vesica urinaria. Uretra adalah saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar.Pada laki- laki uretra bewrjalan berkelok kelok melalui tengah tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagia penis panjangnya 20 cm. Uretra pada laki laki terdiri dari : 1. Uretra Prostaria 2. Uretra Membranosa 3. Uretra Kavernosa Lapisan uretra laki laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan submukosa. Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubis berjalan miring sedikit kearah atas, panjangnya 3 4 cm. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari tunika muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena vena, dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam). Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi.

2.2 Anatomi Fisiologi Sistem Perkemihan Pada Lansia A. Perubahan Ginjal pada Lansia Pada lansia ginjal berukuran lebih kecil dibanding dengan ginjal pada usia muda. Pada usia 90 tahun beratnya berkurang 20-30% atau 110-150 gram bersamaan dengan pengurangan ukuran ginjal. Pada studi kasus dari McLachlan dan Wasserman bahwa panjang ginjal berkurang 0,5 cm per dekade setelah mencapai usia 50 tahun. Dengan bertambahnya usia, banyak jaringan yang hilang dari korteks ginjal, glomerulus dan tubulus. Jumlah total glomerulus berkurang 30-40% pada usia 80 tahun, dan permukaan glomerulus berkurang secara progresif setelah 40 tahun, dan yang terpenting adalah terjadi penambahan dari jumlah jaringan sklerotik. Meskipun kurang dari 1% glomerulus sklerotik pada usia muda, persentase ini meningkat 10-30% pada usia 80 tahun. Terdapat beberapa perubahan pada pembuluh darah ginjal pada lansia. Pada korteks ginjal, arteri aferen dan eferen cenderung untuk atrofi yang berarti terjadi pengurangan jumlah darah yang terdapat di glomerulus. Atrofi arteri aferen dan eferen pada jukstaglomerulus terjadi tidak simetris sehingga timbul fistel. Jadi ketika aliran darah di korteks berkurang, aliran di jukstaglomerular akan meningkat. Ini berpengaruh pada konsentrasi urin yang berkurang pada usia lanjut akibat gangguan pengaturan sistem keseimbangan. B. Perubahan Aliran Darah Ginjal pada Lansia Ginjal menerima sekitar 20% dari aliran darah jantung atau sekitar 1 liter per menit darah dari 40% hematokrit, plasma ginjal mengalir sekitar 600 ml/menit. Normalnya 20% dari plasma disaring di glomerulus dengan GFR 120 ml/menit atau sekitar 170 liter per hari. Penyaringan terjadi di tubular ginjal dengan lebih dari 99% yang terserap kembali meninggalkan pengeluaran urin terakhir 1-1,5 liter per hari. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, memperlihatkan bahwa aliran darah ginjal pada usia 80 tahun hanya menjadi sekitar 300 ml/menit. Pengurangan dari aliran darah ginjal terutama berasal dari korteks. Pengurangan aliran darah ginjal mungkin sebagai hasil dari kombinasi pengurangan curah jantung dan perubahan dari hilus besar, arcus aorta dan arteri interlobaris yang berhubungan dengan usia. C. Perubahan Fungsi Ginjal pada Lansia Pada lansia banyak fungsi hemostasis dari ginjal yang berkurang, sehingga merupakan predisposisi untuk terjadinya gagal ginjal. Ginjal yang sudah tua tetap memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan fungsi

hemostasis, kecuali bila timbul beberapa penyakit yang dapat merusak ginjal. Penurunan fungsi ginjal mulai terjadi pada saat seseorang mulai memasuki usia 30 tahun dan 60 tahun, fungsi ginjal menurun sampai 50% yang diakibatkan karena berkurangnya jumlah nefron dan tidak adanya kemampuan untuk regenerasi. Beberapa hal yang berkaitan dengan faal ginjal pada lanjut usia antara lain : (Cox, Jr dkk, 1985) 1) Fungsi konsentrasi dan pengenceran menurun. 2) Keseimbangan elektrolit dan asam basa lebih mudah terganggu bila dibandingkan dengan usia muda. 3) Ureum darah normal karena masukan protein terbatas dan produksi ureum yang menurun. 4) Kreatinin darah normal karena produksi yang menurun serta massa otot yang berkurang. 5) Maka yang paling tepat untuk menilai faal ginjal pada lanjut usia adalah dengan memeriksa Creatinine Clearance. 6) Renal Plasma Flow (RPF) dan Glomerular Filtration Rate (GFR) menurun sejak usia 30 tahun. D. Perubahan Laju Filtrasi Glomerulus pada Lansia Salah satu indeks fungsi ginjal yang paling penting adalah laju filtrasi glomerulus (GFR). Pada usia lanjut terjadi penurunan GFR. Hal ini dapat disebabkan karena total aliran darah ginjal dan pengurangan dari ukuran dan jumlah glomerulus. Pada beberapa penelitian yang menggunakan bermacam-macam metode, menunjukkan bahwa GFR tetap stabil setelah usia remaja hingga usia 30-35 tahun, kemudian menurun hingga 8-10 ml/menit/1,73 m2/dekade. Penurunan bersihan kreatinin dengan usia tidak berhubungan dengan peningkatan konsentrasi kreatinin serum. Produksi kreatinin sehari-hari (dari pengeluaran kreatinin di urin) menurun sejalan dengan penurunan bersihan kreatinin. Untuk menilai GFR/creatinine clearance rumus di bawah ini cukup akurat bila digunakan pada usia lanjut. Cratinine Clearance (pria) = (140-umur) x BB (kg) ml/menit

72 x serum cretinine (mg/dl) Cretinine Clearance (wanita) = 0,85 X CC pria. E. Perubahan Fungsi Tubulus pada Lansia Aliran plasma ginjal yang efektif (terutama tes eksresi PAH) menurun sejalan dari usia 40 ke 90-an. Umumnya filtrasi tetap ada pada usia muda, kemudian berkurang

tetapi tidak terlalu banyak pada usia 70, 80 dan 90 tahunan. Transpor maksimal tubulus untuk tes ekskresi PAH (paraaminohipurat) menurun progresif sejalan dengan peningkatan usia dan penurunan GFR. Penemuan ini mendukung hipotesis untuk menentukan jumlah nefron yang masih berfungsi, misalnya hipotesis yang menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara usia dengan gangguan pada transpor tubulus, tetapi berhubungan dengan atrofi nefron sehingga kapasitas total untuk transpor menurun. Transpor glukosa oleh ginjal dievaluasi oleh Miller, Mc Donald dan Shiock pada kelompok usia antara 20-90 tahun. Transpor maksimal Glukosa (TmG) diukur dengan metode clearance. Pengurangan TmG sejalan dengan GFR oleh karena itu rasio GFR : TmG tetap pada beberapa dekade. Penemuan ini mendukung hipotesis jumlah nefron yang masih berfungsi, kapasitas total untuk transpor menurun sejalan dengan atrofi nefron. Sebaliknya dari penurunan TmG, ambang ginjal untuk glukosa meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Ketidaksesuaian ini tidak dapat dijelaskan tetapi mungkin dapat disebabkan karena kehilangan nefron secara selektif. F. Perubahan Pengaturan Keseimbangan Air pada Lansia Perubahan fungsi ginjal berhubungan dengan usia, dimana pada peningkatan usia maka pengaturan metabolisme air menjadi terganggu yang sering terjadi pada lanjut usia. Jumlah total air dalam tubuh menurun sejalan dengan peningkatan usia. Penurunan ini lebih berarti pada perempuan daripada laki-laki, prinsipnya adalah penurunan indeks massa tubuh karena terjadi peningkatan jumlah lemak dalam tubuh. Pada lanjut usia, untuk mensekresi sejumlah urin atau kehilangan air dapat meningkatkan osmolaritas cairan ekstraseluler dan menyebabkan penurunan volume yang mengakibatkan timbulnya rasa haus subjektif. Pusat-pusat yang mengatur perasaan haus timbul terletak pada daerah yang menghasilkan ADH di hypothalamus. Pada lanjut usia, respon ginjal pada vasopressin berkurang biladibandingkan dengan usia muda yang menyebabkan konsentrasi urin juga berkurang, Kemampuan ginjal pada kelompok lanjut usia untuk mencairkan dan mengeluarkan kelebihan air tidak dievaluasi secara intensif. Orang dewasa sehat mengeluarkan 80% atau lebih dari air yang diminum (20 ml/kgBB) dalam 5 jam.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA INKONTINENSIA URINE

1. Pengertian Inkontinensia urine merupakan eliminasi urine dari kandung kemih yang tidak terkendali atau terjadi diluar keinginan (Brunner and Suddarth, 2002). Inkontinensia urine didefinisikan sebagai keluarnya urine yang tidak terkendali pada waktu yang tidak dikehendaki tanpa memperhatikan frekuensi dan jumlahnya,yang mengakibatkan masalah social dan higienis penderitanya (FKUI, 2006). Menurut International Continence Sosiety, inkontinensia urine adalah kondisi keluarnya urin tak terkendali yang dapat didemonstrasikan secara obyektif dan menimbulkan gangguan hygiene dan social.

2. Klasifikasi Klasifikasi Inkontinensia Urine menurut (H. Alimun Azis, 2006) a. Inkontinensia Dorongan Inkontinensia dorongan merupakan keadaan dimana seseorang mengalami pengluaran urin tanpa sadar, terjadi segera setelah merasa dorongan yang kuat untuk berkemih. b. Inkontinensia Total Inkontinensia Total merupakan keadaan dimana seseorang mengalami

pengeluaran urin terus menerus dan tidak dapat diperkirakan. c. Inkontinensia Stres Merupakan keadaan dimana seseorang mengalami kehilangan urin kurang dari 50 ml, terjadi dengan peningkatan tekanan abdomen. d. Inkontinensia refleks Merupakan keadaan dimana seseorang mengalami pengeluran urin yang tidak dirasakan, terjadi pada interval yang dapat diperkirakan bila volume kandung kemih mencapai jumlah tertentu. e. Inkontinensia fungsional Merupakan keadaan dimana seseorang mengalami pengeluaran urin tanpa disadari dan tidak dapat diperkirakan.

3. Etiologi Etiologi Inkontinensia Urine menurut (Soeparman & Waspadji Sarwono, 2001) : a. b. c. d. Poliuria, nokturia Gagal jantung Faktor usia : lebih banyak ditemukan pada usia >50 tahun. Lebih banyak terjadi pada lansia wanita dari pada pria hal ini disebabkan oleh : 1) Penurunan produksi esterogen menyebabkan atropi jaringan uretra dan efek akibat melahirkan dapat mgengakibatkan penurunan otot-otot dasar panggul. 2) Perokok, Minum alkohol. 3) Obesitas 4) Infeksi saluran kemih (ISK)

4. Tanda dan Gejala a. Tanda-tanda Inkontinensia Urine menurut (H.Alimun Azis, 2006) 1) Inkontinensia Dorongan a) Sering miksi

b) Spasme kandung kemih 2) Inkontinensia total a) Aliran konstan terjadi pada saat tidak diperkirakan. b) Tidak ada distensi kandung kemih. c) Nokturia dan Pengobatan Inkontinensia tidak berhasil. 3) Inkontinensia stres a) Adanya urin menetes dan peningkatan tekanan abdomen. b) Adanya dorongan berkemih. c) Sering miksi. d) Otot pelvis dan struktur penunjang lemah. 4) Inkontinensia refleks a) Tidak dorongan untuk berkemih. b) Merasa bahwa kandung kemih penuh. c) Kontraksi atau spesme kandung kemih tidak dihambat pada interval. 5) Inkontinensia fungsional a) Adanya dorongan berkemih. b) Kontraksi kandung kemih cukup kuat untuk mengeluarkan urin.

5. Patofisiologi Inkontinensia urine dapat terjadi dengan berbagai manifestasi, antara lain: 1. Perubahan yang terkait dengan usia pada sistem Perkemihan Vesika Urinaria (Kandung Kemih). Kapasitas kandung kemih yang normal sekitar 300-600 ml. Dengan sensasi keinginan untuk berkemih diantara 150-350 ml. Berkemih dapat ditundas 1-2 jam sejak keinginan berkemih dirasakan. Ketika keinginan berkemih atau miksi terjadi pada otot detrusor kontraksi dan sfingter internal dan sfingter ekternal relaksasi,yang membuka uretra. Pada orang dewasa muda hampir semua urine dikeluarkan dengan proses ini. Pada lansia tidak semua urine dikeluarkan, tetapi residu urine 50 ml atau kurang dianggap adekuat. Jumlah yang lebih dari 100 ml mengindikasikan adanya retensi urine. Perubahan yang lainnya pada peroses penuaan adalah terjadinya kontrasi kandung kemih tanpa disadari. Wanita lansia, terjadi penurunan produksi esterogen menyebabkan atrofi jaringan uretra dan efek akibat melahirkan mengakibatkan penurunan pada otot-otot dasar (Stanley M & Beare G Patricia, 2006). 2. Fungsi otak besar yang terganggu dan mengakibatkan kontraksi kandung kemih. Terjadi hambatan pengeluaran urine dengan pelebaran kandung kemih, urine banyak dalam kandung kemih sampai kapasitas berlebihan. Fungsi sfingter yang terganggu menyebabkan kandung kemih bocor bila batuk atau bersin.

6. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan Penunjang Inkontinensia Urine menurut (Soeparman&Waspadji S, 2001). Uji urodinamik sederhana dapat dilakukan tanpa menggunakan alat-alat mahal. Sisa-sisa urin pasca berkemih perlu diperkirakan pada pemeriksaan fisis. Pengukuran yang spesifik dapat dilakukan dengan ultrasound atau kateterisasi urin. Merembesnya urin pada saat dilakukan penekanan dapat juga dilakukan. Evaluasi tersebut juga harus dikerjakan ketika kandung kemih penuh dan ada desakan keinginan untuk berkemih. Diminta untuk batuk ketika sedang diperiksa dalam posisi litotomi atau berdiri. Merembesnya urin seringkali dapat dilihat. Informasi yang dapat diperoleh antara lain saat pertama ada keinginan berkemih, ada atau tidak adanya kontraksi kandung kemih tak terkendali, dan kapasitas kandung kemih. a. Elektrolit, ureum, creatinin, glukosa, dan kalsium serum dikaji untuk menentukan fungsi ginjal dan kondisi yang menyebabkan poliuria. Tes laboratorium tambahan seperti kultur urin, blood urea nitrogen, creatinin, kalsium glukosasitol.

b. Catatan Berkemih dilakukan untuk mengetahui pola berkemih. Catatan ini digunakan untuk mencatat waktu dan jumlah urin saat mengalami inkontinensia urine dan tidak inkontinensia urine, dan gejala berkaitan denga inkontinensia urine. Pencatatan pola berkemih tersebut dilakukan selam 1-3 hari. Catatan tersebut dapat digunakan untuk memantau respons terapi dan juga dapat dipakai sebagai intervensi terapeutik karena dapat menyadarkan pasien faktor pemicu.

7. Penatalaksanaan Penatalaksanaan inkontinensia urin adalah untuk mengurangi faktor resiko, mempertahankan homeostasis, mengontrol inkontinensia urin, modifikasi lingkungan, medikasi, latihan otot pelvis dan pembedahan. Dari beberapa hal tersebut di atas, dapat dilakukan sebagai berikut : a. Pemanfaatan kartu catatan berkemih yang dicatat pada kartu tersebut misalnya waktu berkemih dan jumlah urin yang keluar, baik yang keluar secara normal, maupun yang keluar karena tak tertahan, selain itu dicatat pula waktu, jumlah dan jenis minuman yang diminum. b. Terapi non farmakologi Dilakukan dengan mengoreksi penyebab yang mendasari timbulnya

inkontinensia urin, seperti hiperplasia prostat, infeksi saluran kemih, diuretik, gula darah tinggi, dan lain-lain. Adapun terapi yang dapat dilakukan adalah : Melakukan latihan menahan kemih (memperpanjang interval waktu berkemih) dengan teknik relaksasi dan distraksi sehingga frekwensi berkemih 6-7 x/hari. Lansia diharapkan dapat menahan keinginan untuk berkemih bila belum waktunya. Lansia dianjurkan untuk berkemih pada interval waktu tertentu, mula-mula setiap jam, selanjutnya diperpanjang secara bertahap sampai lansia ingin berkemih setiap 2-3 jam. Membiasakan berkemih pada waktu-waktu yang telah ditentukan sesuai dengan kebiasaan lansia. Promted voiding dilakukan dengan cara mengajari lansia mengenal kondisi berkemih mereka serta dapat memberitahukan petugas atau pengasuhnya bila ingin berkemih. Teknik ini dilakukan pada lansia dengan gangguan fungsi kognitif (berpikir). Melakukan latihan otot dasar panggul dengan mengkontraksikan otot dasar panggul secara berulang-ulang. Adapun cara-cara mengkontraksikan otot dasar panggul tersebut adalah dengan cara :

Berdiri di lantai dengan kedua kaki diletakkan dalam keadaan terbuka, kemudian pinggul digoyangkan ke kanan dan ke kiri 10 kali, ke depan ke belakang 10 kali. Gerakan seolah-olah memotong feses pada saat kita buang air besar dilakukan 10 kali. Hal ini dilakukan agar otot dasar panggul menjadi lebih kuat dan urethra dapat tertutup dengan baik. c. Terapi farmakologi Obat-obat yang dapat diberikan pada inkontinensia urgen adalah

antikolinergik seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine, flavoxate, Imipramine. Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu pseudoephedrine untuk meningkatkan retensi urethra. Pada sfingter relax diberikan kolinergik

agonis seperti Bethanechol atau alfakolinergik antagonis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, dan terapi diberikan secara singkat. d. Terapi pembedahan Terapi ini dapat dipertimbangkan pada inkontinensia tipe stress dan urgensi, bila terapi non farmakologis dan farmakologis tidak berhasil. Inkontinensia tipe overflow umumnya memerlukan tindakan pembedahan untuk menghilangkan retensi urin. Terapi ini dilakukan terhadap tumor, batu, divertikulum, hiperplasia prostat, dan prolaps pelvic (pada wanita). e. Modalitas lain Sambil melakukan terapi dan mengobati masalah medik yang menyebabkan inkontinensia urin, dapat pula digunakan beberapa alat bantu bagi lansia yang mengalami inkontinensia urin, diantaranya adalah pampers, kateter. f. Pemantauan Asupan Cairan Pada orang dewasa minimal asupan cairan adalah 1500 ml perhari dengan rentan yang lebih adekuat antara 2500 dan 3500 ml perhari dengan asumsi tidak ada kondisi kontraindikasi. Lansia yang kontinen dapat membatasi asupan cairan secara tidak tepat untuk mencegah kejadian-kejadian yang memalukan. Pengurangan asupan cairan sebelum waktu tidur dapat mengurangi inkontinensia pada malam hari, tetapi cairan harus diminum lebih banyak selama siang hari sehingga total asupan cairan setiap harinya tetap sama.

8. Asuhan Keperawatan Inkontinensia Urine 1. Pengkajian Adapun data-data yang akan dikumpulkan dikaji pada asuhan keperawatan klien dengan diagnosa medis Inkontinensia Urine : 1) Identitas Klien Meliputi nama, jenis kelamin, umur, agama/kepercayaan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, alamat, diagnosa medis. 2) Keluhan Utama Pada kelayan Inkontinensia Urine keluhan-keluhan yang ada adalah nokturia, urgence, disuria, poliuria, oliguri, dan staguri. 3) Riwayat Penyakit Sekarang Memuat tentang perjalanan penyakit sekarang sejak timbul keluhan, usaha yang telah dilakukan untuk mengatasi keluhan. 4) Riwayat Penyakit Dahulu Adanya penyakit yang berhubungan dengan ISK (Infeksi Saluran Kemih) yang berulang. penyakit kronis yang pernah diderita. 5) Riwayat Penyakit keluarga Apakah ada penyakit keturunan dari salah satu anggota keluarga yang menderita penyakit Inkontinensia Urine, adakah anggota keluarga yang menderita DM, Hipertensi. 6) Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Fisik yang digunakan adalah B1-B6 : a) B1 (breathing) Kaji pernapasan adanya gangguan pada pola nafas, sianosis karena suplai oksigen menurun. kaji ekspansi dada, adakah kelainan pada perkusi. b) B2 (blood) Terjadi peningkatan tekanan darah, biasanya pasien bingung dan gelisah c) B3 (brain) Kesadaran biasanya sadar penuh d) B4 (bladder) Inspeksi :periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau menyengat karena adanya aktivitas mikroorganisme (bakteri) dalam kandung kemih serta disertai keluarnya darah apabila ada lesi pada bladder, pembesaran daerah supra pubik lesi pada meatus uretra, banyak kencing dan nyeri saat

berkemih menandakan disuria akibat dari infeksi, apakah klien terpasang kateter sebelumnya. Palpasi : Rasa nyeri di dapat pada daerah supra pubik / pelvis, seperti rasa terbakar di uretra luar sewaktu kencing / dapat juga di luar waktu kencing. e) B5 (bowel) Bising usus adakah peningkatan atau penurunan, Adanya nyeri tekan abdomen, adanya ketidaknormalan perkusi, adanya ketidaknormalan palpasi pada ginjal. f) B6 (bone) Pemeriksaan kekuatan otot dan membandingkannya dengan ekstremitas yang lain, adakah nyeri pada persendian.

9. Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan tidak adanya sensasi untuk berkemih dan kehilangan kemampuan untuk menghambat kontraksi kandung kemih 2. Resiko infeksi berhubungan dengan pemasangan kateter dalam waktu yang lama. 3. Resiko kerusakan integitas kulit yang berhubungan dengan irigasi konstan oleh urine. 4. Resiko kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat

10. Intervensi 1) Diagnosa 1 Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan tidak adanya sensasi untuk berkemih dan kehilangan kemampuan untuk menghambat kontraksi kandung kemih. Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien akan bisa melaporkan suatu pengurangan / penghilangan inkontinensia Kriteria Hasil : 0Klien dapat menjelaskan penyebab inkonteninsia dan rasional penatalaksanaan.

Intervensi : 1. Kaji kebiasaan pola berkemih dan gunakan catatan berkemih sehari. R: Berkemih yang sering dapat mengurangi dorongan beri distensi kandung kemih

2. Ajarkan untuk membatasi masukan cairan selama malam hari R: Pembatasan cairan pada malam hari dapat mencegah terjadinya enurasis 3. Bila masih terjadi inkontinensia kurangi waktu antara berkemih yang telah direncanakan R: Kapasitas kandung kemih mungkin tidak cukup untuk menampung volume urine sehingga diperlukan untuk lebih sering berkemih. 4. Instruksikan klien batuk dalam posisi litotomi, jika tidak ada kebocoran, ulangi dengan posisi klien membentuk sudut 45, lanjutkan dengan klien berdiri jika tidak ada kebocoran yang lebih dulu. R: Untuk membantu dan melatih pengosongan kandung kemih. 5. Pantau masukan dan pengeluaran, pastikan klien mendapat masukan cairan 2000 ml, kecuali harus dibatasi. R: Hidrasi optimal diperlukan untuk mencegah ISK dan batu ginjal. 6. Kolaborasi dengan dokter dalam mengkaji efek medikasi dan tentukan kemungkinan perubahan obat, dosis / jadwal pemberian obat untuk menurunkan frekuensi inkonteninsia.

2) Diagnosa 2 Resiko infeksi berhubungan dengan inkontinensia, imobilitas dalam waktu yang lama. Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat berkemih dengan nyaman. Kriteria Hasil : Urine jernih, urinalisis dalam batas normal, kultur urine menunjukkan tidak adanya bakteri. Intervensi : 1. Berikan perawatan perineal dengan air sabun setiap shift. Jika pasien inkontinensia, cuci daerah perineal sesegera mungkin. R: Untuk mencegah kontaminasi uretra. 2. Jika di pasang kateter indwelling, berikan perawatan kateter 2x sehari (merupakan bagian dari waktu mandi pagi dan pada waktu akan tidur) dan setelah buang air besar.

R: Kateter memberikan jalan pada bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan. 3. Ikuti kewaspadaan umum (cuci tangan sebelum dan sesudah kontak langsung, pemakaian sarung tangan), bila kontak dengan cairan tubuh atau darah yang terjadi (memberikan perawatan perianal, pengosongan kantung drainase urine, penampungan spesimen urine). Pertahankan teknik aseptik bila melakukan kateterisasi, bila mengambil contoh urine dari kateter indwelling. R: Untuk mencegah kontaminasi silang. 4. Kecuali dikontra indikasikan, ubah posisi pasien setiap 2jam dan anjurkan masukan sekurang-kurangnya 2400 ml / hari. Bantu melakukan ambulasi sesuai dengan kebutuhan. R: Untuk mencegah stasis urine. 5. Lakukan tindakan untuk memelihara asam urine. Tingkatkan masukan sari buah berri. Berikan obat-obat, untuk meningkatkan asam urine.

R: Asam urine menghalangi tumbuhnya kuman. Karena jumlah sari buah berri diperlukan untuk mencapai dan memelihara keasaman urine. Peningkatan masukan cairan sari buah dapat berpengaruh dalam pengobatan infeksi saluran kemih.

3) Diagnosa 3 Resiko kerusakan integitas kulit yang berhubungan dengan irigasi konstan oleh urine Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan keruskan integritas kulit teratasi. Kriteria Hasil : Jumlah bakteri <100.000/ml. Kulit periostomal tetap utuh. Suhu 37 C. Urine jernih dengan sedimen minimal. Intervensi : 1. Pantau penampilan kulit periostomal setiap 8 jam. R: Untuk mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.

2. Ganti wafer stomehesif setiap minggu atau bila bocor terdeteksi. Yakinkan kulit bersih dan kering sebelum memasang wafer yang baru. Potong lubang wafer kirakira setengah inci lebih besar dar diameter stoma untuk menjamin ketepatan ukuran kantung yang benar-benar menutupi kulit periostomal. Kosongkan kantung urostomi bila telah seperempat sampai setengah penuh. R: Peningkatan berat urine dapat merusak segel periostomal, memungkinkan kebocoran urine. Pemajanan menetap pada kulit periostomal terhadap asam urine dapat menyebabkan kerusakan kulit dan peningkatan resiko infeksi.

4) Diagnosa 4 Resiko kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan volume cairan seimbang Kriteria Hasil : pengeluaran urine tepat, berat badan 50 kg Intervensi 1. Awasi TTV R: Pengawasan invasive diperlukan untuk mengkaji volume intravascular, khususnya pada pasien dengan fungsi jantung buruk. 2. Catat pemasukan dan pengeluaran R: Untuk menentukan fungsi ginjal, kebutuhan penggantian cairan dan penurunan resiko kelebihan cairan 3. Awasi berat jenis urine R: Untuk mengukur kemampuan ginjal dalam mengkonsestrasikn urine 4. Berikan minuman yang disukai sepanjang 24 jam R: Membantu periode tanpa cairan, meminimalkan kebosanan pilihan yang terbatas dan menurunkan rasa haus 5. Timbang BB setiap hari R: Untuk mengawasi status cairan

11. Evaluasi Evaluasi keperawatan terhadap gangguan inkontinensia dapat dinilai dari adanya kemampuan dalam : a) Miksi dengan normal, ditunjukkan dengan kemampuan berkemih sesuai dengan asupan cairan dan pasien mampu berkemih tanpa menggunakan obat, kompresi pada kandung kemih atau kateter b) Mempertahankan intergritas kulit, ditunjukkan dengan adanya perineal kering tanpa inflamasi dan kulit di sekitar uterostomi kering. c) Memerikan rasa nyaman, ditunjukkan dengan berkurangnya disuria, tidak ditemukan adanya distensi kandung kemih dan adanya ekspresi senang. d) Melakukan Bladder training, ditunjukkan dengan berkurangnya frekuensi inkontinensia dan mampu berkemih di saat ingin berkemih.

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA

Kasus Ny M (60 thn) datang ke RS. B diantar keluarga. Keluarga mengatakan Ny. M sering kencing tanpa disadari (ngompol). Klien sendiri mengatakan tidak bisa menahan jika sudah terasa ingin BAK. Frekuensi berkemih tiap hari 15-18x/hari. Klien juga mengatakan saat dia bersin, membungkuk, batuk tiba-tiba keluar sedikit air kencing. Klien memakai popok dan menggantinya 2x sehari sehingga terasa lembab. Kira-kira Ny.M minumnya tiap hari sekitar 200 ml. Sebelumnya Ny. M ada riwayat hipertensi 2 tahun lalu dan mengonsumsi obat diuretik. Klien mengatakan disekitar area genitalia/perineal terasa nyeri, panas dan gatal. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan data TB&BB Ny M adalah 150cm, 45kg, TD 180/140mmHg, Nadi 80 x/menit, respirasi 18 x/menit dan suhu 36,50C, output 2100cc. Terdapat ruam kemerahan pada sekitar area genitalia, kelembaban bibir kering. Terdapat distensi kandung kemih. Saat ini klien terpasang infuse RL 2000cc/24 jam, kateter indwelling. Kegiatan sehari-hari Ny. M adalah menjadi guru mengaji, akan tetapi semenjak ia sering mengompol kegiatan menjadi terganggu.

1. Pengkajian A. Data Biografi Nama Umur Jenis Kelamin Suku/Bangsa Agama Status Perkawinan Tinggi badan/berat badan Penampilan umum Alamat Orang yang mudah dihubungi Hubungan dengan klien Alamat dan telepon Diagnosa medis : Ny. M : 60 Tahun. : Perempuan : Jawa/Indonesia : Islam : Menikah : TB : 150 cm BB : 45 kg : Baik : Jl. Tanah Merdeka 7 : Tn. P : Anak : Jl. Tanah Merdeka 7 (021) 8678869 : Inkontinensia Urine

B. Riwayat Keluarga Genogram

Ny. M

60 thn

Keterangan : = Meninggal = Laki-laki

= Perempuan

= Pasien

= tinggal serumah

Penjelasan: Klien anak kedua dari 3 bersaudara. Klien mempunyai riwayat keturunan hipertensi dari ayahnya yang meninggal karena hipertensi sedang ibunya meninggal karena sudah tua. Klien tidak memiliki riwayat penyakit menular, degeneratif, dan obesitas. Klien mempunyai 4 orang anak.

C. Riwayat Pekerjaan Pekerjaan saat ini Pekerjaan sebelumnya Sumber-sumber pendapatan Kecukupan terhadap kebutuhan : Guru mengaji :: uang dari anak-anaknya : Cukup

D. Riwayat Lingkungan Hidup Type tempat tinggal Jumlah kamar Kondisi tempat tinggal Jumlah orang yang tinggal dalam satu rumah Derajat privasi Tetangga terdekat Alamat dan telepon : 16x8 m :2 : Baik :3 : Aman : Baik :

E. Riwayat Rekreasi Hobi/minat Keanggotaan dalam organisasi Liburan/perjalanan :::-

F. Sistem Pendukung Perawat/bidan/dokter/fisioterapi Jarak dari rumah Rumah sakit Klinik Pelayanan kesehatan dirumah Makanan yang dihantarkan : dokter : 2 km : 6 km :::-

Perawatan sehari-hari yang dilakukan keluarga mengganti popok 2x sehari,

: keluarga merawat klien dengan

G. Deskripsi kekhususan Kebiasaan ritual Yang lain : Sholat, membaca Al Quran : Doa-doa yang lain

H. Status Kesehatan Status kesehatan umum selama lima tahun yang lalu Klien mengatakan dua tahun lalu terkena hipertensi dan rutin mengonsumsi obat diuretik Keluhan utama Provokative/palliative Quality/quantity Region Severity scale Timming :::::: obat diuretic, furosemide : lengkap

Obat-obatan Status imunisasi

Alergi (obat-obatan/makanan/faktor lingkungan) : tidak ada Penyakit yang diderita : Hipertensi

I. Aktivitas Hidup Sehari-hari (berdasarkan indeks Katz, disimpulkan Skore..)


Pengukuran pada kondisi ini meliputi Indeks Katz 1 2 3 4 5 6 Mandi Berpakaian Pergi ke toilet Berpindah (berjalan) BAB dan BAK Makan Dapat mengerjakan sendiri Seluruhnya tanpa bantuan Memerlukan bantuan Tanpa bantuan Kadang-kadang ngompol / defekasi di tempat tidur Tanpa bantuan

Berdasarkan indeks KATZS, pemenuhan kebutuhan ADL klien diskor dengan C karena berdasarkan pengamatan, klien hanya mampu memenuhi 4 kebutuhan dasar yaitu mandi, berpakaian, berjalan. dan makan Psikologis persepsi klien merasa wajar karena sudah tua konsep diri secara positif emosi adaptasi mekanisme pertahanan diri : stabil : klien mampu beradaptasi dengan baik : klien mengatakan lebih senang tinggal dirumah : baik karena klien mampu memandang dirinya : persepsi klien terhadap penyakitnya klien

karena bisa berkumpul dengan anak-anaknya

J. Pemeriksaan Fisik (Tinjauan Sistem) 1. Keadaan umum Baik, klien tampak bersih 2. Tingkat kesadaran Refleks membuka mata (eye): Spontan = 4 Respon Motorik (motorik):Respon baik dengan perintah: 6 Respon Verbal (verbal) : Orientasi baik : 5 Jumlah Nilai GCS = 15 Interpretasi GCS : Normal (Compos Mentis)

3. Tanda-tanda vital TD :180/140 mmHg Nadi : 80 kali/menit RR : 18 kali/menit Suhu : 36,5 C

4. Sistem kardiovaskuler Inspeksi: ictus cordis pada ICS-5 pada linea medio klavikularis kiri Palpasi: teraba ictus kordis dengan telapak jari II-III-IV dan lebar iktus kordis 1 cm Perkusi:

- batas atas jantung : ICS 3 -batas kanan : linea midsternalis dextra -batas kiri : mid aksilaris sinistra Auskultasi : bunyi jantung I dan II terkesan murni,tunggal,irama jantung teratur 5. Sistem pernafasan Inspeksi : dada simetris, tidak ada penggunaan otot bantu nafas Palpasi : tidak ada pembesaran abnormal, fremitus taktil normal Perkusi : bunyi normal, resonan/vesikuler, suara paru ka/ki sama dan seimbang Auskultasi : tidak ada ronkhi, wheezing, krekels basah

6. Sistem integumen
-

Inspeksi: tekstur kulit terlihat kendur, keriput (+) Palpasi: turgor kulit jelek Inspeksi : terdapat ruam kemerahan pada sekitar area genitalia

7. Sistem perkemihan Inspeksi : saat ini klien terpasang kateter indwelling Palpasi : terdapat distensi pada kandung kemih

8. Sistem muskuloskeletal ROM klien baik/penuh Ekstremitas atas : Terpasang infuse Rl 2000cc/24 jam pada tangan kanan, tonus otot baik,kekuatan otot tangan kiri kanan sama yaitu pada skala 5 Ekstremitas bawah : Kekuatan otot kaki kiri dan kanan sama yaitu pada skala 5 Tidak ada nyeri persendian Osteoporosis (-), tidak ada kelainan tulang

9. Sistem endokrin Klien mengatakan tidak menderita kencing manis. Palpasi: tidak ada pembesaran kelenjar

10. Sistem immune Klien mengatakan sudah lengkap imunisasi Riwayat penyakit yang berkaitan dengan imunisasi tidak ada

11. Sistem gastrointestinal

Bising usus normal pada auskultasi abdomen Klien mengatakan tidak ada kesulitan mengunyah makanan

12. Sistem reproduksi Klien mempunyai 2 orang anak dari hasil pernikahannya, riwayat berhenti menstruasi 10 tahun yang lalu. 13. Sistem persyarafan N.I (Olfaktorius):fungsi penghiduan/penciuman Ketika pasien diminta menutup mata dan menutup salah satu lubang hidung kemudian disuruh untuk menghidu bau kopi, pasien dapat menyebutkan dengan benar N.II (Optikus) fungsi penglihatan Pasien dapat menyebutkan angka yang ditunjukan pada jarak 2 meter N.III,IV,VI(Okulomotorius,Troklearis,Abdusens) Ukuran pupil kiri kanan sama (Isokor) Refleks cahaya lambat,bola mata mampu digerakkan ke segala arah. N.V (Trigeminus) Sensorik:Pasien dapat merasakan usapan kapas pada daerah pipi dengan mata tertutup setelah dilakukan berulang-ulang Motorik:Terdapat gerakan tonus muskulus maseter ketika pasien disuruh mengunyah N.VII (Fascialis) Sensorik:Pasien dapat merasakan teh manis yang diberikan Motorik:Pasien dapat menaikan alis mata dan mengerutkan dahi N.VIII (Akustikus) Pasien dapat mendengar detakan jam perawat ketika diletakan dibelakang telinga N.IX (Glossofaringeus) Kemampuan menelan baik walaupun dilakukan perlahan-lahan ketika minum air N.X (Vagus) Gerakan uvula saat pasien mengatakan ah dan letak uvula di tengah N.XI ( Assesorius) Pasien mampu menggerakan bahu kiri dan kanan dengan perlahan-lahan

N.XII (Hypoglosus) Pasien dapat menjulurkan lidah keluar ,dan gerakan lidah mendorong pipi kiri dan kanan dari arah dalam

K. Pemeriksaan status kognitif/afektif/sosial 1. Status kognitif/afektif - Short potable mental status questionaire (SPMSQ) dengan skor: 10, fungsi intelektual utuh - Mini mental state exam (MMSE) dengan skor: 25, aspek kognitif dari fungsi mental dalam keadaan baik - Inventaris depresi beck, dengan skor: 3. Tidak ada tanda-tanda depresi pada klien. 2. Status sosial - Apgar keluarga dengan lansia, skor: 8 dimana fungsi social klien dalam keadaan normal

L. Pemeriksaan Penunjang Elektrolit, ureum, creatinin, glukosa, dan kalsium serum dikaji untuk menentukan fungsi ginjal dan kondisi yang menyebabkan poliuria. Tes laboratorium tambahan seperti kultur urin, blood urea nitrogen, creatinin, kalsium glukosasitol.

Analisa Data Data DS : Klien mengatakan tidak dapat menahan jika sudah terasa ingin BAK Klien juga mengatakan saat dia bersin, membungkuk, batuk tiba-tiba keluar sedikit air kencing Keluarga mengatakan Ny. M sering kencing tanpa disadari (ngompol). Sering ngompol terutama malam hari. Masalah Gangguan eliminasi urin Etiologi Kehilangan kemampuan untuk menghambat kontraksi kandung kemih

DO : Sebelumnya Ny. M ada riwayat hipertensi 2 tahun lalu dan mengonsumsi obat diuretik. DS : Klien mengatakan disekitar Frekuensi berkemih tiap hari sekitar 1518x Terdapat distensi kandung kemih Resiko kerusakan area integritas kulit Irigasi konstan oleh urine

genitalia terasa nyeri, panas dan gatal

DO : Terdapat iritasi dan ruam kemerahan pada sekitar area genitalia dan

pangkal paha. Klien menggunakan popok namun sehari hanya menggantinya 2x

sehingga terasa lembab DS : Resiko kekurangan Intake yang tidak Ny.M mengatakan minumnya tiap volume cairan hari sekitar 200 ml tubuh adekuat

DO : Saat dilakukan pengkajian Ny.M kelembaban bibir kering. TB&BB 150cm, 45kg Klien terpasang infuse RL 2000cc/24 jam output 2100cc, balance cairan 100cc

2. Diagnosa Keperawatan 1) Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan kehilangan kemampuan untuk menghambat kontraksi kandung kemih 2) Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan irigasi konstan oleh urine 3) Resiko kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat

3. Intervensi 1. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan kehilangan kemampuan untuk menghambat kontraksi kandung kemih Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam klien mampu mengontrol eliminasi urine. Kriteria Hasil : Klien dapat menjelaskan penyebab inkontinensia dan rasional

penatalaksanaan. Intervensi
Kaji kebiasaan pola berkemih dan gunakan catatan berkemih sehari.

Rasional
Berkemih yang sering dapat mengurangi dortongan beri distensi kandung kemih Pembatasan cairan pada malam hari dapat mencegah terjadinya enurasis Untuk membantu dan melatih pengosongan kandung kemih. Hidrasi

Ajarkan untuk membatasi masukan cairan pada malam hari. Ajarkan teknik untuk mencetuskan refleks berkemih (rangsangan putaneus dengan penepukan supra pubik).

Berikan

penjelasan

tentang

pentingnya

optimal

diperlukan

untuk

hidrasi optimal, sedikitnya 2000cc/hari bila tidak ada kontra indikasi. Bila masih terjadi inkontinensia kurangi waktu antara berkemih yang telah

mencegah ISK dan batu ginjal. Kapasitas kandung kemih mungkin tidak cukup untuk menampung volume urine sehingga diperlukan untuk lebih sering berkemih.

direncanakan Kolaborasi dengan dokter dalam mengkaji efek medikasi dan tentukan kemungkinan perubahan obat, dosis/jadwal pemberian obat untuk menurunkan frekuensi

inkontinensia.

2. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan irigasi konstan oleh urine Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam kulit periostomal klien kembali normal. Kriteria Hasil : o Jumlah bakteri <100.000/ml. o Kulit periostomal tetap utuh. o Suhu 37 C. o Urine jernih dengan sedimen minimal. Intervensi
Pantau penampilan kulit periostomal setiap 8 jam. Ganti wafer stomehesif setiap minggu atau bila bocor terdeteksi. Yakinkan kulit bersih dan kering sebelum memasang wafer yang baru. Potong lubang wafer kira-kira setengah inci lebih besar dar diameter stoma untuk menjamin ketepatan ukuran kantung yang benar-benar Kosongkan menutupi kantung kulit periostomal. telah

Rasional
Untuk mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Peningkatan berat urine dapat merusak segel periostomal, memungkinkan kebocoran urine. Pemajanan menetap pada kulit periostomal terhadap asam urine dapat menyebabkan kerusakan kulit dan peningkatan resiko infeksi.

urostomi bila

seperempat sampai setengah penuh.

3. Resiko kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam masalah teratasi. Kriteria Hasil : pengeluaran urine tepat, berat badan 50 kg Intervensi
Awasi TTV

Rasional
Pengawasan invasive diperlukan untuk mengkaji volume intravascular, khususnya pada pasien dengan fungsi jantung buruk. Untuk menentukan fungsi ginjal, kebutuhan penggantian cairan dan penurunan resiko kelebihan caian Untuk mengukur kemampuan ginjal dalam mengkonsestrasikn urine Membantu periode tanpa cairan,

Catat pemasukan dan pengeluaran

Awasi berat jenis urine

Berikan minuman yang disukai sepanjang 24 jam Timbang BB setiap hari

meminimalkan

kebosanan

pilihan

yang

terbatas dan menurunkan rasa haus Untuk mengawasi status cairan

4. Evaluasi keperawatan S : - Pasien mengatakan bahwa tidak mengeluarkan urin pada saat bersin dan tertawa. - Pasien mengatakan sudah bisa mengontrol berkemih O : - Setiap ada peningkatan tekanan intra abdomen urin pasien tidak menetes. - Pasien mengeluarkan urin lebih dari 2 jam sekali. A : Masalah teratasi P : Masalah teratasi pasien pulang.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner&Suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol 1. Jakarta: EGC. Hidayah, a. Aziz Alimul. 2007. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan (Edisi 2). Jakarta: Salemba Medika. Pearce, Evelyn C. 2006. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Stanley, Mickey dan Patricia G. Beare. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta: EGC Syaifuddin. 2003. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: EGC.