Anda di halaman 1dari 51

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Kejang demam merupakan salah satu kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada bayi dan anak. Dari penelitian oleh beberapa pakar didapatkan bahwa sekitar 2,2%-5% anak pernah mengalami kejang demam sebelum mereka mencapai umur 5 tahun. Penelitian di jepang bahkan mendapatkan angka kejadian (inseden) yang lebih tinggi, yaitu Maeda dkk, 1993 mendapatkan angka 9,7% (pada pria 10,5% dan pada wanita 8,9% dan Tsuboi mendapatkan angka sekitar 7%. Kejadian kejang demam diperkirakan 2-4% da Amerika Serikat, Amerika Selatan dan Eropa Barat. Di Asia lebih tinngi kira-kira 20% kasus merupakan kejang demam komplek.Akhir-akhir ini kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan yaitu kejang demam sederhana yang berlangsung kurang dari 15 menit dan umum, dan kejang demam komplek yang berlangsung lebih dari dari 15 menit, fokal atau multifel (lebih dari 1 kali kejang demam dalam 24 jam) (Arif Manajer, 2000). Kejang demam bisa diakibatkan oleh infeksi ekstrakranial seperti ISPA, radang telinga, campak, cacar air. Dalam keadaan demam, kenaikan suhu tubuh sebesar 10C pun bisa mengakibatkan kenaikan metabolisme basal yang mengakibatkan peningkatan kebutuhan oksigen jaringan sebesar 1015 % dan otak sebesar 20 %. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka anak akan kejang. Umumnya kejang tidak akan menimbulkan dampak sisa jika kejang tersebut berlangsung kurang dari 5 menit tetapi anak harus tetap mendapat penanganan agar tidak terjadi kejang ulang yang biasanya lebih lama frekuensinya dari kejang pertama. Timbulnya kejang pada anak akan menimbulkan berbagai masalah seperti resiko cidera, resiko terjadinya aspirasi atau yang lebih fatal adalah lidah jatuh ke belakang yang mengakibatkan obstruksi pada jalan nafas. Hemiparesis biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama (berlangsung lebih dari setengah jam) baik bersifat umum maaupunfokal,

kelumpuhannya sesuai dengan kejang vokal yang terjadi. Mula-mula kelumpuhannya bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu spasitisitas. Milichap (1998) melaporkan dari 1990 anak menderita kejang demam, hanya 0,2 % saja yang mengalami hemiparese sesudah kejang lama. Dengan melihat latar belakang tersebut, masalah atau kasus ini dapat diturubkan melalui upaya pencegahan dan penanggulangan optimal yang diberikan sedini mungkin pada anak. Dan perlu diingat bahwa maslah penanggulangan kejang demam ini bukan hanya masalah di rumah sakit tetapi mencskup permasalahan yang menyeluruh dimulai dari individu anak tersebut, keluarga, kelompok maupun masyarakat. B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan

uraian yang terdapat dalam latar belakang diatas, maka masalah dalam penelitian ini adalah Asuhan

diperoleh

rumusan

KeperawatanDengan Kejang Demam Pada An. A Umur 4 Bulan Pada Tanggal 20 Juli s/d 23 Juli 2013 Di Ruang RAB RSUD Kota Tasikmalaya. C. Tujuan Penulisan
1.

Tujuan umum Adapun tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk mendapatkan gambaran dan pelaksanaan Asuhan Keperawatan Dengan Kejang Demam Pada An. A Umur 4 Bulan Pada Tanggal 20 Juli s/d 23 Juli 2013 Di Ruang RAB RSUD Kota Tasikmalaya.

2.

Tujuan khusus
a.

Mengetahui dan menerapkan melalui hasil pengkajian Kejang Demam An.A Umur 4 Bulan Pada Tanggal 20 Juli s/d 23 Juli 2013 Di Ruang RAB RSUD Kota Tasikmalaya.

a.

Mengetahui dan menentukan prioritas masalah keperawatan Kejang Demam An.A Umur 4 Bulan Pada Tanggal 20 Juli s/d 23 Juli 2013 Di Ruang RAB RSUD Kota Tasikmalaya.

a.

Mengetahui dan menyusun rencana keperawatan Kejang Demam An.A Umur 4 Bulan Pada Tanggal 20 Juli s/d 23 Juli 2013 Di Ruang RAB

RSUD Kota Tasikmalaya.


b.

Mengetahui dan melakukan tindakan keperawatan Kejang Demam An.A Umur 4 Bulan Pada Tanggal 20 Juli s/d 23 Juli 2013 Di Ruang RAB RSUD Kota Tasikmalaya.

c.

Melakukan evaluasi keperawatan Kejang Demam Pada An.A Umur 4 Bulan Pada Tanggal 20 Juli s/d 23 Juli 2013 Di Ruang RAB RSUD Kota Tasikmalaya.

D. Manfaat Penulisan
1.

Bagi Rawat Inap Agar lebih bisa meningkatkan kualitaspelayanannya khususnya pada proses asuhan keperawatan.
1.

Bagi Penulis Untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan dalam penelitian serta menerapkan ilmu yang telah didapat selama studi, khususnya metodologi penelitian dalam rangka menganalisa masalah keperawatan anak khususnya tentang Kejang Demam.

2.

Bagi Institusi Pendidikan Sebagai bahan wacana diperpustakaan dan referensi awal penelitian selanjutnya bagi perpustakaan di institusi pendidikan.

3.

Bagi Masyarakat Agar masyarakat terutama bagi para ibu dapat menambah pengetahuannya tentang kejang demam dan mengetahui cara penanganan kejang demam dirumah.

BAB II PEMBAHASAN KEJANG DEMAM PADA ANAK

A.

Pengertian
1.

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada saat suhu meningkat disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Darto Suharso,1994;148)

2.

Kejang demam : bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu tubuh rectal diatas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (Mansjoer,A.dkk.2000:434)

3.

Kejang demam: kejang yang terjadi pada suhu badan yang tinggi yang disebabkan oleh kelainan ekstrakranium (Lumbantobing, 1995:1)

4.

Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal diatas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonikklonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia dibawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A, Price, Latrainc M, Wikson, 1995). Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah

bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh yaitu 38C yang sering dijumpai pada anak usia dibawah lima tahun.

B.

Etiologi Menurut Mansjoer, dkk (2000: 434) Lumban Tobing (1995: 18-19) dan Whaley and Wong (1995: 1929). Menurut staf pengajar ilmu kesehatan anak FKUI (1985: 50), faktor presipitasi kejang demam: cenderung timbul 24 jam pertama pada waktu sakit demam atau dimana mendadak tinggi karena infeksi pernafasan bagian atas.

Demam lebih sering disebabkan oleh virus daripada bakteri. C. Patofisiologi

D. Prognosa Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat prognosisnya baik dan tidak perlu menyebabkan kematian, resiko seorang anak sudah menderita kejang demam tergantung faktor:
1. 2.

Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak menderita kejang

3.

Kejang yang berlangsung lama atau kejang fokal Bila terdpat paling sedikit 2 dari 3 faktor tersebut diatas, dikemudian

hari akan mengalami serangan kejang tanpa demam sekitar 13%, dibanding bila hanya terdapat satu atau tidak sama sekali faktor tersebut, serangan kejang tanpa demam 2%-3% saja (Consensus Statement on Febrile Seizures 1981). E. Manifestasi Klinis Kebanyakan kejang demam berlangsung singkat, bilateral, serangan berupa klonik, atau tonik-klonik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf. Kejang demamdapat berlangsung lama dan atau parsial. Pada kejang yang unilateral kadang-kadang diikuti oleh hemiplegi sementara (todds hemiplegia) yang berlangsung beberapa jam atau beberapa hari. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiplegi yang menetap. (Lumbantobing, SM.1989:43) Menurut Behman (2000: 843) kejang demam terkait dengan kenaikan suhu yang tinggi dan biasanya berkembang bila suhu tubuh mencapai 39C atau lebih ditandai dengan adanya kejang khas menyeluruh tonik-klonik lama beberapa detik sampai 10 menit. Kejang demam yang menetap 15 menit menunjukkan penyebab organik seperti proses infeksi atau toksik selain itu juga dapat terjadi mata terbalik keatas dengan disertai kekakuan dan kelemahan serta gerakan sentakan terulang. F. Penatalaksanaan Menurut Ngastiyah (1997: 232-235) dan Hassan & Alatas (1995:850854) ada 4 faktor yang perlu dikerjakan

1.

Segera diberikan diazepam intravena atau Dosis rata-rata 0,3 mg diazepam rectal Bila kejang berhenti tunggu 15 menit Dapat diulangi dengan dosis/cara yang sama Kejang berhenti Berikan dosis awal fhenobarbital Neonatus=30 mg IM 1 bulan-1 tahun=50 mg IM 1 tahun = 75 mg IM Pengobatan rumat 4 jam kemudian Hari 1 dan 2 = Fenobaritol 8-10 mg/kg dibagi dalam 2 dosis Hari berikutnya = fenobaritol 4-5 mg/kg dibagi dalam 2 dosis Bila diazepam tidak tersedia langsung Dosis 10 kg = 5mg / kg BB / kg BB

memakai fenobarbital dengan dosis awal selanjutnya diteruskan dengan dosis rumat.
2. 3.

Membebaskan jalan nafas, oksigenasi secukupnya Menurunkan panas bila demam atau hipereaksi, dengan kompres seluruh tubuh dan bila telah memungkinkan dapat diberikan parasetamol 10mg/kgBB/kali kombinasi diazepam oral 0,3 mg/kgBB.

4.

Memberikan cairan yang cukup bila kejang berlangsung cukup lama (

10 menit) dengan IV : D5 1/5, RL. Ada juga penatalaksanaan yang lain yaitu:
a.

Bila etiologi telah diketahui pengobatan terhadap penyakit primer segera dilakukan. Bila terdapat hipoglikemia, beri larutan glukosa 20% dengan dosis 2-4 ml/kgBB secara intravena dan perlahan kemudian dilanjutkan dengan larutan glukosa 10% sebanyak 60-80 ml/kgBB secara intravena.Pemberian Ca-glukosa hendaknya disertai dengan monitoring jantung karena dapat menyebabkan bradikardi. Kemudian dilanjutkan dengan peroral sesuai kebutuhan. Bila secaraintravena tidak mungkin, berikan larutan Ca glukosa 10% sebanyak 10 ml peroral setiap sebelum minum susu.

b.

Bila kejang tidak hilang, harus pikirkan pemberian magnesium dalam bentuk larutan 50% Mg SO4 dengan dosis 0,2 ml/kgBB (IM) atau larutan 2-3% mg SO4 (IV) sebanyak 2-6 ml. Hati-hati terjadi hipermagnesemia sebab gejala hipotonia menyerupai floppy infant dapat muncul.

c.

Pengobatan dengan anti konvulsan dapat dimulai bila gangguan metabolik seperti hipoglikemia atau hipokalsemia tidak dijumpai. Obat konvulsan pilihan utama untuk bayi baru lahir adalah fenobarbital (efek mengatasi kejang, mengurangi metabolisme sel yang rusak dan memperbaiki sirkulasi otak sehingga melindungi sel yang rusak karena asfiksia dan anoxia). Fenobarbital dengan dosis awal 20 mg/kgBB (IV) berikan dalam 2 dosis selama 20 menit. Banyak penulis tidak atau jarang menggunakan diazepam untuk

memberantas kejang pada BBL dengan alasan efek diazepam hanya sebentar dan tidak dapat mencegah kejang berikutnya. Disamping itu pemberian bersama-sama dengan fenobarbital akan mempengaruhi pusat pernafasan karena zat pelarut diazepam mengandung natrium benzoat yang dapat menghalangi peningkatan bilirubin dalam darah.

G. Klasifikasi Menurut Ngastiyah (1997: 231) klasifikasi kejang demam, yaitu:


1.

Kejang demam sederhana Kejang demam sederhana adalah kejang yang berlangsung kurang dari 15 menit dan umum. Adapun pedoman untuk mendiagnosa kejang demam sederhana dapat diketahui melalui criteria livingstone, yaitu:
a) b) c) d) e) f)

Umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun Kejang berlangsung hanya sebentar, tidak lebih dari 15 menit Kejang bersifat umum Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbul demam Pemeriksaan syaraf sebelum dan sesudah kejang normal Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak menunjukan kelainan Frekuensi kejang bangkitan dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali Kejang kompleks adalah tidak memenuhi salah satu atau lebih dari

g) 2.

Kejang kompleks ketujuh Kriteria livingstone. Menurut Mansyur (2000: 434) biasanya dari kejang kompleks ditandai dengan kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit, fokal atau multiple (lebih dari 1 kali dalam 24 jam). Disini anak sebelumnya dapat mempunyai kelinan neurologi atau riwayat kejang dalam atau tanpa kejang dalam riwayat keluarga.

H. Komplikasi Menurut Lumbantobing (1995 : 31) dan Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI (1995: 849-850). Komplikasi kejang demam umumnya berlangsung lebih dari 15 menit yaitu:
1.

Kerusakan otak Terjadi melalui mekanisme eksitotoksik neuron syaraf yang aktif sewaktu kejang melepaskan glutamat yang mengikat reseptor MMDA (M metyl D Asparate) yang mengakibatkan ion kalsium dapat masuk ke sel otak yang merusak sel neuron secara irreversibel.

2.

Retardasi mental Dapat terjadi karena defisit neurologis pada demam neonatus.

I.

Pencegahan Menurut Ngastiyah (1997:236-239) pencegahan difokuskan pada pencegahan kekambuhan berulang dan pencegahan segera saat kejang berlangsung.
1.

Pencegahan berulang
a. b.

Mengobati infeksi yang mendasari kejang Pendidikan kesehatan tentang:


1) 2)

Tersedianya obat penurun panas yang didapat atas resep dokter Tersedianya alat pengukur suhu dan catatan penggunaan termometer, cara pengukuran suhu tubuh anak, serta keterangan batas-batas suhu normal pada anak (36-37C).

3)

Anak diberi obat antipiretik bila orangtua mengetahuinya pada saat mulai demam dan jangan menunggu sampai meningkat. Memberitahukan kepada petugas imunisasi bahwa anaknya pernah mengalami kejang demam bila anak akan diimunisasi.

4)

2.

Mencegah cedera saat kejang berlangsung kegiatan ini meliputi:


a. b. c. d. e.

Baringkan pasien pada tempat yang rata Kepala dimiringkan untuk menghindari aspirasi cairan tubuh Pertahankan lidah untuk tidak menutupi jalan napas Lepaskan pakaian yang ketat Jangan melawan gerakan pasien guna menghindari cedera

J.

Pemeriksaan Penunjang Menurut


1.

Kmite

Medik

RSUP

Dr.

Sarjito

(2000:

193)

dan

Lumbantobing dan Ismail (1989: 43), pemeriksaannya adalah: EEG Pemeriksaan EEG dibuat 10-14 hari setelah bebas panas tidak menunjukkan kelainan likuor. Gelombang EEG lambat didaerah belakang dan unilateral menunjukkan kejang demam kompleks

10

2.

Lumbal Fungsi Tes ini untuk memperoleh cairan cerebrospinalis dan untuk mengetahui keadaan lintas likuor. Tes ini dapat mendeteksi penyebab kejang demam atau kejang karena infeksi pada otak.
a)

Pada kejang demam tidak terdapat gambaran patologis dan pemeriksaan lumbal fungsi Pada kejang oleh infeksi pada otak ditemukan:
1)

b)

Warna cairan cerebrospinal : berwarna kuning menunjukkan pigmen kuning satokrom Jumlah cairan dalam cerebrospinal emningkat lebih dari normal (normal bayi 40-60 ml, anak 60-100 ml, anak lebih tua 80-120 ml dan dewasa 130-150 ml).

2)

3)

Perubahan biokimia : kadar kalium meningkat (normal dewasa 3,55,0 mEq/L, bayi 3,6-5,8 mEq/L).

K.

Konsep dasar Asuhan Keperawatan


1.

Pengkajian Pengkajian adalah pendekatan sistemik untuk mengumpulkan data dan menganalisa, sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut. (Santosa.NI, 1989,154). Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi, pengumpulan data, analisa data dan sintesa data serta perumusan diagnosa keperawatan. Pengumpulan data akan menentukan kebutuhan dan masalah kesehatan atau keperawatan yang meliputi kebutuhan fisik, psikososial dan lingkungan pasien. Sumber data didapatkan dari pasien, keluarga, teman, team kesehatan lain, catatan pasien dan hasil pemeriksaaan laboratorium. Metode pengumpulan data melalui observasi (yaitu dengan cara insfeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), wawancara (yaitu berupa percakapan untuk memperoleh data yang diperlukan), catatan (berupa catatan klinik, dokumen yang baru maupun yang lama), literatur (mencakup semua materi, buku-buku, makalah dan surat kabar).

11

Pengumpulan data paada kasus kejang demam ini meliputi:


a.

Data subyektif
1)

Biodata/identitas Biodata anak meliputi nama, umur, jenis kelamin Biodata orangtua perlu dipertanyakan untuk mengetagui status sosial anak meliputi nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan.

2)

Riwayat penyakit (Darto Suharso, 2000) Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang ditanyakan:
a) b)

Apakah betul ada kejang? Apakah disertai demam? Dengan mengetahui ada tidaknya demam yang menyertai kejang, maka diketahui apakah infeksi memegang peranan dalam terjadinya bangkitan kejang. Jarak antara timbulnya kejang dengan demam.

c)

Lama serangan Seorang ibu yang anaknya mengalami kejang merasakan waktu berlangsung lama. Lama bangkitan kejang kita dapat mengetahui kemungkinan respon terhadap prognosa pengobatan.

d)

Pola serangan Perlu diusahakan agar diperoleh gambaran lengkap mengenai pola serangan. Apakah bersifat umum, fokal, tonik,klonik?

e) f)

Frekuensi serangan Apakah penderita mengalami kejang sebelumnya, umur berapa kejang terjadi untuk pertama kali, dan berapa frekuensi kejang pertahun. Prognosa makin kurang baik apabila kejang timbul pertama kali pada umur muda dan bangkitan kejang sering timbul.

g) h)

Riwayat penyakit sekarang yang menyertai Apakah muntah, diare, trauma kepala, gagap bicara (khususnya pada penderita epilepsi), gagal ginjal, kelainan jantung, DHF, ISPA, OMA, Morbili dan lain-lain.

12

3)

Riwayat penyakit dahulu


a)

Sebelum penderita mengalami serangan kejang ini ditanyakan apakah penderita pernah mengalami kejang sebelumnya, umur berapa saat kejang terjadi untuk pertama kali?

b)

Apakah ada riwayat trauma kepala, radang selaput otak, KP, OMA, dan lain-lain.

4)

Riwayat kehamilan dan persalinan Keadaan ibu sewaktu hamil per trimester, apakah ibu pernah mengalami infeksi atau sakit panas sewaktu hamil. Riwayat trauma, perdarahan pervaginam sewaktu hamil, penggunaan obat-obatan maupun jamu selama hamil. Riwayat persalinan ditanyakan apakah sukar, spontan atau dengan tindakan (forcep /vacum), perdarahan anteu partum, asfiksia dan lain-lain. Keadaan selama neonatal apakah bayi panas, diare, muntah, tidak mau menetek, dan kejangkejang.

5)

Riwayat imunisasi Jenis imunisasi yang sudah didapatkan dan yang belum ditanyakan serta mendapatkan imunisasi DPT efek sampingnya adalah panas yang dapat menimbulkan kejang.

6)

Riwayat perkembangan
a)

Personal sosial (kepribadian / tingkah laku sosial) : berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan lingkungannya.

b)

Gerakan motorik halus: berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil dan memerlukan koordinasi yang cermat, misalnya menggambar, memegang suatu benda dan lain-lain.

c)

Gerakan motorik kasar : berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh Bahasa : kemampuan memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan.

d)

13

7)

Riwayat kesehatan keluarga Adakah anggota keluarga yang menderita kejang ( 25 % penderita kejang demam mempunyai faktor turunan).Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit syaraf atau lainnya? Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit ISPA, diare atau penyakit infeksi menular yang dapat mencetuskan terjadinya kejang demam.

8)

Riwayat sosial
a) b)

Siapakah yang mengasuh anak? Bagaimana hubungan dengan anggota keluarga dan teman sebayanya.

9)

Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan


a) b)

Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat Gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan, pengetahuan tentang kesehatan, pencegahan dan kepatuhan pada setiap perawatan dan tindakan medis.?

c)

Bagaimana pandangan terhadap penyakit yang diderita, pelayanan kesehatan yang diberikan, tindakan apabila ada anggota keluarga yang sakit, penggunaan obat-obatan pertolongan pertama.

d)

Pola nutrisi Untuk mengetahui asupan kebutuhan gizi anak. Ditanyakan bagaimana kualitas dan kuantitas dari makanan yang dikonsumsi oleh anak? Makanan apa saja yang disukai dan yang tidak? Bagaimana selera makan anak? Berapa kali minum, jenis dan jumlahnya perhari?

e)

Pola eliminasi : BAK : ditanyakanfrekuensinya, jumlahnya, secara makroskopis ditanyakan bagaimana warna, bau, dan apakah terdapat darah? Serta ditanyakan apakah disertai nyeri saat anak kencing. BAB : ditanyakan kapan waktu BAB, teratur atau tidak?

14

Bagaimana konsistensinya lunak, keras, cair atau berlendir.


f)

Pola aktivitas dan latihan Apakah anak senang bermain sendiri atau dengan teman sebayanya? Berkumpul dengan keluarga sehari berapa jam? Aktivitas apa yang disukai?

g)

Pola tidur / istirahat Berapa jam sehari tidur? Berangkat tidur jam berapa? Bangun tidur jam berapa? Kebiasaan sebelum tidur, bagaimana dengan tidur siang?

b.

Data objektif
1.

Pemeriksaan umum (Corry S, 2000 hal : 36) Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat kesadaran, tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu. Pada kejang demam sederhana akan didapatkan suhu tinggi sedangkan kesadaran setelah kejang akan kembali normal seperti sebelum kejang tanpa kelainan neurologi.

2.

Pemeriksaaan fisik
a)

Kepala Adakah tanda-tanda mikro atau makrosepali? Adakah dispersi bentuk kepala? Apakah tanda-tanda kenaikan tekanan intrakranial, yaitu ubun-ubun besar cembung, bagaimana keadaan ubun-ubun besar menutup atau belum?

b)

Rambut Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta karakteristik lain rambut. Pasien dengan malnutrisi energi protein mempunyai rambut yang jarang, kemerahan seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menyebabkan rasa sakit pada pasien.

c)

Muka / wajah Paralisis facialis menyebabkan asimetris wajah; sisi yang paresis tertinggal bila anak menangis atau tertawa, sehingga wajah tertarik kesisi sehat. Adakah tanda rhisus

15

sardonikus,epistotonus, trismus? Apakah ada gangguan nervus cranial?


d)

Mata Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu periksa pupil dan ketajaman penglihatan. Apakah keadaan sklera, konjungtiva?

e)

Telinga Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya infeksi seperti pembengkakan dan nyeri didaerah belakang telinga, keluar cairan dari telinga, berkurangnya pendengaran.

f)

Hidung Apakah ada pernapasan cuping hidung? Polip yang menyumbat jalan napas? Apakah keluar secret, bagaimana konsistensinya, jumlahnya?

g)

Mulut Adakah tanda-tanda peradangan tosil? Adakah tanda-tanda infeksi fharing, cairan eksudat?

h)

Leher Adakah tanda-tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar tyroid? Adakah pembesaran vena jugularis?

i)

Thorax Pada infeksi amati bentuk dada klien, bagaimana gerak pernapasan, frekuensinya, irama, kedalaman, adakah retraksi intercostale? Pada auskultasi adakah suara napas tambahan?

j)

Jantung Bagaimana keadaan dan frekuensi jantung serta irama? Adakah bunyi tambahan? Adakah bradicardi atau tachicardia?

k)

Abdomen Adakah distensi abdomen serta kekakuan otot pada abdomen? Bagaimana turgor kulit dan peristaltik usus? Adakah tanda meteorismus? Adakah pembesaran lien dan hepar?

16

l)

Kulit Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya? Apakah terdapat oedema, hemangioma? Bagaimana keadaan turgor kulit?

m) Ekstremitas

Apakah terdapat oedema, paralise terutama setelah terjadi kejang? Bagaimana suhunya pada daerah akral?
n)

Genetalia Adakah kelainan bentuk oedema, sekret yang keluar dari vagina, tanda-tanda infeksi?

2.

Diagnosa keperawatan Menurut Doengoes, dkk (1999 : 8760, Angram (1999 : 629-630) dan Carpenito (2000 : 132), diagnosa yang mungkin muncul pada pasien dengan kejang demam:
a. b.

Resiko tinggi terhadap cidera b/d aktivitas kejang Hypertermi b/d efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hypothalamus Perfusi jaringan cerebral tidak efektif b/d reduksi aliran darah keotak Kurang pengetahuan orang tua tentang kondisi, [prognosis, penatalaksanaan dan kebutuhan pengobatan b/d kurangnya informasi.

c. d.

3.

Intervensi Keperawatan Dx 1 : resiko tinggi terhadap cidera b/d aktifitas kejang Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan resiko cidera dapat dihindari kriteria hasil :
a. b. c.

Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan Mempertahankan tindakan yang mengontrol aktifitas kejang Mengidentifikasi yang harus diberikan ketika terjadi kejang Beri pengaman pada sisi tempat tidur dan penggunaan tempat tidur yang rendah Rasional: meminimalkan injuri saat kejang

Rencana tindakan:
1)

17

2)

Tinggalah bersama klien saat fase kejang Rasional: meningkatkan keamanan klien Berikan tongue spatel diantara gigi atas dan bawah Rasional: menurunkan resiko trauma pada mulut Letakkan klien di tempat yang lembut Rasional: membantu menurunkan resiko injuri fisik pada ekstremitas ketika kontrol otot volunter berkurang.

3)

4)

5)

Catat tipe kejang (lokasi, lama) dan frekuensi kejang Rasional: membantu menurunkan lokasi area cerebral yang terganggu Catat tanda-tanda vital sesudah fase kejang Rasional: mendeteksi secara dini keadaan yang abnormal.

6)

Dx 2: hypertermi b/d efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hypothalamus Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan suhu dalam rentang normal. Kriteria hasil :
a. b.

Suhu 36,5 - 37,5C (bayi), 36 - 37C (anak) Nadi 110 -120x/menit (bayi) 100 110x/menit (anak) Resprasi 30 40x/menit (bayi) 24 28x/menit (anak) Kesadaran compos mentis Rencana tindakan : Longgarkan pakaian, berikan pakaian tipis yang mudah menyerap keringat Rasional : proses konveksi akan terhalang oleh pakaian yang ketat dan tidak menyerap keringat.

c.

d.

1)

2)

Berikan kompres hangat Rasional : perpindahan panas secara konduksi Berikan ekstra cairan (susu, sari buah dan lain-lain) Rasional : saat demam kebutuhan akan cairan tubuh meningkat Batasi aktivitas selama anak panas

3)

4)

18

Rasional
5)

aktivitas

dapat

meningkatkan

metabolisme

dan

meningkatkan panas Berikan antipiretik dan pengobatan sesuai advis Rasional : menurunkan panas pada pusat hypotalamus dan sebagai profilaksis Dx 3 : perfusi jaringan cerebral tidak efektif berhubungan dengan reduksi aliran darah ke otak. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan suplai darah keotak dapat kembali normal. Kriteria hasil :
a. b.

Perfusi jaringan cerebral efektif Pasien tampak cerah Rencana tindakan : Monitor tanda-tanda vital Rasional : untuk mengetahui keadaan umum klien Monitor jumlah dan irama jantung Rasional : untuk mengetahui terjadinya perubahan suplai darah keotak Monitor tingkat kesadaran Rasional : untuk mengetahui perubahan tingkat kesadaran yang dialami pasien akibat ketidakefektipan suplai darah keotak.

1)

2)

3)

Dx 4 : kurang pengetahuan orangtua tentang kondisi, prognosis, penatalaksanaan dan kebutuhan pengobatan b/d kurang informasi Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan keluarga mengerti tentang kondisi pasien Kriteria hasil :
a. b. c.

Keluarga tidak sering bertanya tentang penyakit anaknya Keluarga mampu diikutsertakan dalam proses keperawatan Keluarga mentaati setiap proses keperawatan Kaji tingkat pengetahuan keluarga Rasional : mengetahui sejauhmana pengetahuan yang dimiliki keluarga dan kebenaran informasi yang didapat.

Rencana tindakan :
1)

19

2)

Beri penjelasan kepada keluarga sebab dan akibat kejang demam Rasional : penjelasan tentang kondisi yang dialami dapat membantu menambah wawasan keluarga

3)

Jelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilakukan Rasional : agar keluarga mengetahui tujuan setiap tindakan perawatan Berikan health education tentang cara menolong anak kejang demam dan mencegah kejang demam antara lain :
a) b) c) d)

4)

Jangan panik saat kejang Baringkan anak ditempat rata dan lembut Kepala dimiringkan Pasang gagang sendok yang telah dibungkus kain yang basah, lalu dimasukkan kemulut Setelah kejang berhenti dan pasien sadar segera minumkan obat tunggu sampai keadaan tenang Jika suhu tinggi saat kejang lakukan kompres hangat dan beri banyak minum setelah sadar Segera bawa ke rumah sakit bila kejang lama mandiri dalam mengatasi masalah kesehatan

e)

f)

g)

Rasional : sebagai upaya alih informasi dan mendidik keluarga agar


5)

Berikan health education agar selalu sedia obat penurun panas, bila anak panas Rasional : mencegah peningkatan suhu lebih tinggi dan serangan kejang ulang

6)

Jika anak sembuh, jaga agar anak tidak terkena penyakit infeksi dengan menghindari orang atau teman yang menderita penyakit menular sehingga tidak mencetuskan kenaikkan suhu. Rasional : sebagai upaya preventif serangan ulang

7)

Beritahukan keluarga jika anak akan mendapatkan imunisasi agar memberitahukan kepada petugas imunisasi bahwa anaknya pernah menderita kejang demam. Rasional : imunisasi pertusis memberikan reaksi panas yang dapat menyebabkan kejang demam

20

4.

Penatalaksanaan Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien (santosa, NI, 1989;162).

5.

Evaluasi Tahap evaluasi dalam asuhan keperawatan menyangkut pengumpulan data suyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum.

21

BAB III LAPORAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN.A UMUR 1 TH DENGAN KEJANG DEMAM SEDERHANA DI RUANG RAB RSUD KOTA TASIKMALAYA TANGGAL 29 APRIL S/D 01 MEI 2013 PENGKAJIAN
1.

Identitas Klien Tanggal Masuk RS Tanggal Pengkajian Diagnosa Nomor RM Nama Klien Umur Jenis Kelamin Suku Bahasa yang Dimengerti Alamat Identitas Orang Tua/Wali Nama Ayah/Ibu Pekerjaan Ayah/Ibu Agama Pendidikan Umur ayah/ibu Alamat : : : : : : Tn.A / Ny. D Buruh /Mengurus Rumah Tangga Islam SMP / SMP 35th/32th Karangmulya.Tasikmalaya : : : : : : : : : 20-07-2013 22-07-2013 220513 An. A (Anak pertama) 4 bulan laki-laki Sunda Sunda karangmulya.Tasikmalaya

: Kejang Demam Sederhana

2.

Keluhan Utama Demam

22

3.

Riwayat Kesehatan Saat Ini Menurut keterangan ibu sebelum masuk rumah sakit anaknya tiba-tiba demam dan kejang-kejang dirumah sampai 3 kali kejang dalam satu hari (24jam) yaitu pada jam sembilan, jam empat belas, jam tujuh belas, setelah kejang anak langsung menangis. Lamanya kejang ditiap periode > 5 menit. Pada kejang pertama klien d bawa ke Bidan dan diberi obat anti kejang,tetapi setelah beberapa jam kejang berulang kembali dan Bidan menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit. Tidak disertai muntah, batuk dan pilek. Pada saat dikaji ibu klien mengatakan anaknya panas, panas dirasakan suhu kulit panas, panas bertambah apabila beraktifitas berkurang saat tidur, ketika panas anak rewel, kejang tidak ada. Suhu 38C, panas sudah 3hari.

4.

Riwayat Kehamilan dan Persalinan


a)

Prenatal Sebelumnya ibu memakai alat kontrasepsi PIL selama 9 bulan. Selama hamil ibu kontrol rutin setiap 1 bulan di bidan, sejak usia kehamilan 2 bulan, tidak imunisasi, mendapat suplemen tambah darah dan vitamin. Selama hamil tidak mengalami masalah, tidak mual muntah berlebihan, tidak demam, tidak ada edema dan tidak mengalami hipertensi.

b)

Perinatal dan Post Natal Anak lahir Dirangsang di RSUD Kota Tasikmalaya pada usia kehamilan 9 bulan, presentasi kepala, setelah lahir anak langsung menangis. Gerak aktif, tidak biru dan tidak kuning. Berat badan lahir 2900 gr .

c)

Post natal Anak mendapat imunisasi di Puskesmas lengkap sampai usia 9 bulan.Setelah dilakukan imunisasi DPT klien tidak pernah kejang hanya panas biasa dan setelah diberi obat penurun panas sembuh.

23

5.

Riwayat Masa Lalu


a)

Penyakit waktu kecil Pada usia 2 bulan klien pernah mengalami panas, batuk, kemudian dirawat dirumah sakit dan diberi obat penurun panas dan klien belum pernah dilakukan tindakan operasi. Tidak ada riwayat alergi terhadap makanan, obat-obatan atau apapun.

6.

Riwayat Keluarga Genogram


Keterangan : Laki-laki Perempuan Klien Tinggal Serumah Meninggal Klien tinggal serumah dengan ayah dan ibunya, ada riwayat kejang dari anggota keluarga yaitu kakek klien meninggal karena kejang-kejang (ayan).

7.

Riwayat Sosial
a) b)

Yang mengasuh : yang mengasuh klien ibu dan ayah kandung klien Hubungan dengan anggota keluarga: hubungan dengan anggota keluarga baik,anak suka bermain dengan sepupunya Hubungan dengan teman sebaya : Baik, tetapi setelah sakit klien tidak mau bermain dengan teman sekamar yang seusianya dan klien terlihat rewel.

c)

d)

Pembawaan secara umum: Klien apabila dirumahnya periang, tetapi setelah sakit jadi pendiam dan rewel. Lingkungan rumah: Klien tinggal dilingkungan yang gaduh, karena dekat dengan jalan raya dan keramaian.

e)

8.

Tingkat Perkembangan Saat Ini (DDST-)


1. 2. 3. 4.

Anak dapat duduk sendiri tanpa bantuan orang lain Anak dapat menyebutkan kata mama, bapa dan mimi Anak bisa berjalan sendiri walaupun masih suka terjatuh Anak terlihat malu-malu ketika d dekati teman baru yg sekamarnya. : tingkat perkembangan sesuai dengan usia, tetapi dapat

Interpretasi

berjalannya agak lambat, anak sudah bisa berbicara mamah, bapak, makan,

24

mimi. 9. Pola Kebutuhan Dasar Klien Saat Ini A. Nutrisi Kondisi


1.

Sebelum Sakit BB 8,3 kg 8,8 kg

Saat Sakit BB

Selera makan B. Cairan

Kondisi 1. Jenis minuman


2. 3. 4.

Sebelum Sakit ASI dan air putih lapar) Tidak terhitung

Saat Sakit ASI, air putih -

Frekuensi minum Kebutuhan cairan Cara pemberian

Tidak terhitung (saat Sering tidak terhitung

Menetek C. Eliminasi (BAB&BAK) Kondisi 1. Tempat pembuangan


2. 3. 4. 5.

Sebelum Sakit Celana/pampers 1 kali/hari Lembek Tidak ada kesulitan Tidak memakai Sebelum Sakit Jam 10 dan jam 13.30wib Jam 20 s/d 04.30 wib -

Saat Sakit Selama klien dirawat dirumah sakit sudah 3x BAB

Frekuensi (waktu) Konsistensi Kesulitan Obat pencahar D. Istirahat tidur

Kondisi 1. Jam tidur Siang Malam


2. 3. 4.

Saat Sakit Tidak tentu Jam 21 kadang jam 22.00, tetapi sering terbangun Terganggu Menetek Klien sulit untuk tidur

Pola tidur Kebiasaan sebelum tidur Kesulitan tidur

Menetek tidak ada E. Personal Hygiene Kondisi Sebelum Sakit

Saat Sakit

25

1.

Mandi - Cara - Frekuensi - Alat mandi Dikamar mandi disiram 2 kali/hari Sabun,shampo,air hangat Tiap hari Disiram memakai air hangat 1 minggu sekali Dipotong oleh gunting kuku 1kali/hari Memakai sikat gigi kecil F. Aktifitas/Mobilitas Fisik Diseka 2 kali/hari Waslap dan air hangat Selama dirumah sakit belum dikeramas hanya diseka saja rambutnya Selama dirawat dirumah sakit belum pernah gunting kuku Belum pernah gosok gigi

2.

Cuci rambut - Frekuensi - Cara

3.

Gunting kuku - Frekuensi - Cara

4.

Gosok gigi - Frekuensi - Cara

Kondisi 1. Kegiatan sehari-hari 2. harian 3. Penggunaan alat Bantu aktifitas


1.

Sebelum Sakit Bermain -

Saat Sakit Tidur ditempat tidur -

Pengaturan jadwal -

Kesulitan pergerakan tubuh

26

10.

Pemeriksaan Fisik
A.

Keadaan umum Penampilan Tingkat kesadaran Nadi Suhu Pernapasan BB TB LK Kesadaran GCS
1.

: lemah : compos mentis : 128 x/m : 38,1 C : 30 x/m : 5,3 kg : 55 cm : 24 cm : Compos mentis : 15 (E4, M6, V5)

B. Pemeriksaan Persistem : Sistem Kardiovaskuler Inspeksi dan Palpasi Inspeksi pergerakan jantung setinggi garis mid klapikula kiri, interkosta 5, sianosis tidak ada; CRT < 3 detik; Frekuensi nadi : 124 x/menit, irama teratur, kedalaman dangkal dan cepat; suhu akral hangat; JVP tidak ada pembesaran. Perkusi Perkusi jantung redup. Auskultasi Apek jantung interkosta 4-5, irama bunyi jantung reguler, Suara lub dub (S1 S2 timbul akibat penutupan katup trikuspidalis dan mitralis), gallop tidak ada, murmur tidak ada.
2.

Sistem Pernapasan Inspeksi Dada : pergerakan saat inspirasi dada naik ke atas Pergerakan saat Expirasi dada turun ke bawah Bentuk dada simetris (normal). Tidak ada sianosis, tidak ada retraksi dada.

27

Hidung : lubang hidung 2 dan bersih,terpasang oksigenasi, pernapasa cuping hidung tidak ada. Fungsi penciman baik dan dapat membedakan bau, Klien batuk, Frekuensi napas 30 x / menit, Irama dan pola napas teratur. Palpasi Daerah torax / dada dan hidung tidak teraba benjolan / masa, Pergerakan paru-paru kanan dan kiri teratur (bersamaan), Focal fremitus (getaran yang dirasakan seimbang pada kedua sisi paru). Auskultasi Suara napas vesikuler,Ronchi tidak ada, wheezing tidak ada, crackles tidak ada. Perkusi Bunyi dada resonance
3.

Sistem Pencernaan Inspeksi Mulut Bibir : kering, sianosis tidak ada, edema tidak ada. Gigi : gigi susu atas tumbuh 4 dan gigi bawah 2, kebersihan bersih Gusi : Tidak bengkak, dan tidak berdarah, tidak ada lesi, warna merah muda Lidah : kotor, tidak ada lesi , tidak ada radang Tonsil simetris tidak ada pembengkakan. Fungsi pengecap dapat membedakan rasa, mual muntah tidak ada. Pharing: Dapat menelan, berwarna merah, sekret tidak ada Anus : tidak ada hemoroid, iritasi kulit tidak ada. Palpasi Anus : Tidak ada hemoroud Abdomen : Teraba feses di kuadran bawah kiri Auskultasi Bising usus 8 x / menit

28

Perkusi Tidak ada kembung


4.

Sistem Integumen Inspeksi Warna kulit sawo matang, kebersihan cukup. Kuku pendek dan bersih. Rambut : pirang, tidak mudah dicabut, tidak rontok, rambut bau keringat, kulit kepala bersih, distribusi rambut menyebar merata. Tanda tanda peradangan tidak ada. Palpasi Suhu akral panas. Sistem Genitourinaria Inspeksi Anatomi kelamin laki-laki : klien mengatakan tidak ada keluhan pada alat kelaminnya. Urinaria : warna urine kuning. Palpasi Tidak teraba pembesaran atau masa di daerah kandung kemih.

5.

6. Sistem Persyarafan NI (Olfaktorius) : klien dapat membedakan bau

N II (Optikus) : Ketajaman penglihatan baik N III (Okulomotorius); N IV (Troklearis); N VI (Abbusen) : Pupil bereaksi terhadap cahaya (miosis), ukuran pupil 2mm, isokor kanan dan kiri, bola mata dapat mengikuti objek, repleks kornea ada, ptosis tidak ada, nistagmus tidak ada. N V (Trigeminus) : Otot mengunyah tidak ada gangguan, sensasi wajah: Kliean dapat merasakan ketika wajah klien disentuh dengan tangan pemeriksa, dapat menggigit dan dapat menggerakan rahang. N VII ( Fasialis) : dapat mengangkat dahi, dapat menutup dan membuka mata, dapat mengembangkan pipi, dapat

29

menggerutkan dahi, dapat mengangkat alis, membedakan rasa. N VIII ( Akustikus) : bila dipanggil nama dapat menengok ,pendengaran baik. N IX (Glosoparingeal ); N X (Vagus) : Suara tidak parau, dapat menelan. N XI (Aksesoris) : Dapat menggerakan kepala ke kiri dan ke kanan dapat mengangkat bahu. N XII (Hipoglosus) : klien dapat menjulurkan lidah, membuka mulut, lidah tidak lumpuh. Sensibilitas : rasa raba, rasa nyeri
7.

Sistem Muskuloskeletal Inspeksi Bentuk/postur tubuh normal, terpasang infus di tangan kiri, tidak ada edema di ekstemitas bawah maupun atas. Palpasi ROM tidak berkurang rentang geraknya, nyeri tekan di ekstremitas tidak ada. Refleks biceps : + Refleks triseps : + Refleks achiles dan refleks plantar tidak dilakukan

C. Data psikologis
1.

Psikologis anak Dampak hospitalisasi pada anak, anak terlihat rewel, ruang perawatan di kelas tiga dengan kapasitas 8 tempat tidur dan pada saat pengkajian semua tempat tidur terisi oleh klien, anak lebih senang diluar digendong oleh ayah / ibunya.

2.

Psikologis ibu klien Ibu mengatakan khawatir dengan kondisi anaknya, panasnya yang belum turun ditakutkan terjadi kejang lagi. Ibu selalu bertanya mengenai kondisi anaknya.

30

11.

Pemeriksaan Diagnostik Jenis Hasil Satuan Nilai normal Interpretasi

Darah Perifer: Haemoglobin Leukosit Trombosit Hematokrit 10,4 11 503 38 g/dl ribu/mm3 ribu/mm3 % 14-16g/dl 7rb-13rb 150-350 40-50 Rendah Normal Tinggi Rendah

12.

Terapi Farmaka Cepotaxcim 3 x 205 gr IV Ambroksol Syr 3 x 1 Sanmol drof (3 x 0,8 cc). Diazepam 5 mg Analisa Data No Data Senjang DS: - Ibu klien mengatakan an. A panas. DO: - Suhu axila 38,1 C. 2 Anak rewel. Kulit teraba panas. DS: Ibu klien mengatakan khawatir anaknya kejang Kurang informasi tentang penyakit kejang demam Cemas Adanya infeksi bakteri/virus Etiologi Peningkatan metabolic Masalah Hipertermi IV jika kejang jam 10

13.

31

lagi DO: Suhu tubuh belum turun Anak rewel Ibu bertanya tentang kondisi klien Cemas 3 DS: DO: Demam, suhu 37,3 C. Riwayat kesehatan: Kejang 4 kali sebelum masuk rumah sakit. pelepasan muatan listrik yg meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dg bantuan neurotransmitter Fungsi regulatori biokimia (hipertermi dan konvulsi) Resiko Injuri Koping orang tua tidak adekut

Kejang

Resiko Cidera

32

DS :ibu mengatakan klien 4 susah untuk tidur DO: Pola tidur terganggu Tidur siang tidak tentu/susah Tidur malam jam 21 kadang jam 22 tetapi sering terbangun

Dampak Hospitalisasi

Kebutuhan istirahat tidur kurang

Strain

Mengaktifasi kebutuhan istirahat tidur Indikasi rawat inap

DO: Anak rewel Ruang perawatan kelas 3 dengan kapasitas tempat tidur 8 dan pada saat pengkajian tempat tidur penuh oleh klien Anak lebih senang diluar di gendong oleh ayah/ibunya.

Dampak hospitalisasi

Tindakan invasive

Dampak hosoitalisasi

14. No 1 2

Prioritas Masalah Diagnosa Keperawatan Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolik. Risiko injury berhubungan dengan fungsi regulatori biokimia (hipertermi dan konvulsi). Dampak hospitalisasi anak berhubungan dengan tindakan invasive selama perawatan dirumah sakit 4 Kebutuhan istirahat tidur kurang berhubungan dengan hypertermi ditandai dengan suhu 38,1C,pola tidur terganggu, tidur siang tidak tentu,tidur malam jam 21.00 kadang jam 22.00 dan sering terbangun.

33

Cemas pada keluarga berhubungan dengan koping orang tua / keluarga tidak adekuat.

15. NO DX 1.

Nursing Care Planing Tujuan Tupan : Setelah tindakan keperawatan dalam normal. Tupen : Dalam waktu 3 hari suhu tubuh dalam rentang
50

Intervensi
1)

Rasional memonitor kenaikan

Observasi Tanda-tanda 1) Untuk Vital temperatur terutama tingkat suhu

dilakukan suhu rentang


2)

Berikan kompres hangat

2)

Perpindahan

panas

secara konduksi.
3)

Anjurkan kepada ibu 3) Proses untuk memakaikan pakaian yang longgar dan pakaian yang tipis yang menyerap keringat kepada anaknya

konveksi

akan terhalang oleh pakaian yang ketat dan tidak menyerap keringat.

normal

dengan kriteria hasil : suhu 36, c. Nadi 100 x/menit Respirasi 24x/menit kesadaran mentis. compos
4)

Berikan/anjurkan untuk 4) Saat memberikan kuat). ekstra kebutuhan cairan meningkat. aktivitas dan 5) Aktivitas panas. cairan (asi yang lebih

demam akan tubuh

5)

Batasi

dapat

meningkatkan

meningkatkan metabolism

Selama anak panas.

6)

Kolaborasi

untuk 6) hypothalamus

dan

34

pemberian antipiretik.

sebagai profilaksis. Menurunkan panas pada

2.

Tupan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan resiko injury dapat dihindari. Tupen : Dalam waktu 3 hari resiko cedera dapat dihindari dengan kriteria hasil : Tidak fisik trauma selama

1)

Observasi kejang

tanda-tanda 1) Supaya kejang dapat segera

apabila berulang tertangani

2)

Catat tanda-tanda vital.

2)

Mengetahui/ mengidentifikasi secara dini keadaan yang abnormal.

3) 3)

Agar mempercepat penanganan sehingga cedera otak berkurang. resiko dapat

Anjurkan menghubungi jaga apabila berulang

kepada perawat kejang

keluarga untuk segera

keperawatan. Mempertahanka n tindakan yang mengontrol aktivitas kejang. Mengidentifikasi yang harus diberikan ketika terjadi kejang.
4)

Adakan dengan pemberian

kolaborasi dokter obat untuk anti

4)

Membantu menurunkan lokasi area cerebal yang terganggu.

kejang/penenang

35

Setelah selama

dilakukan 1. Kaji tingkat kooperatif 1. Untuk klien 2 hari

menentukan

asuhan keperawatan

kebutuhan tindakan selanjutnya

dampak hospitaliasi 2. Berikan bermain teratasi dengan kriteria: - anak tenang -anak cukup tidur
3.

therapy 2. Untuk mengalihkan sesuai usia perhatian anak pada dengan tekhnik distraksi saat tindakan ,sehingga klien tidak ketakutan Libatkan tua 3. agar klien tidak setiap akan melakukan ketakutan ketika tindakan akan dilakukan tindakan Kenalkan perawat yang 4. agar akan merawat klien hubungan percaya Kenalkan dengan klien anak lain yang akan menjadi nyaman teman sekamarnya aman dan
5.

orang

4.

terbina saling

5.

Agar klien mengenal teman-teman sekamarnya

Tupan : Setelah dilakukan 1. Berikan kenyamanan


2.

tindakan keperawatan kebutuhan istirahat tidur tercukupi Tupen : Dalam waktu 2 hari klien tidur 9 jam Kebutuhan cukup tidur

regimen 1. Agar anak dapat tidur

kepada 2. Memberi rasa tidak nyaman kepada keluarga agar penunggu klien klien satu orang Anjurkan Anjurkan selalu untuk 3. Memberi nyaman mendampingi ibu klien rasa kepada

3.

klien pada saat tidur

36

Tupan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan keluarga tidak cemas dan mengerti tentang kondisi pasien.
2) 1)

Beri penjelasan kepada 1) Penjelasan tentang keluarga sebab dan kondisi yang akibat kejang demam. dialami dapat membantu menambah wawasan keluarga. Jelaskan setiap tindakan 2) Agar keluarga perawatan. mengetahui tujuan setiap perawatan. tindakan

Tupen : Setelah dilakukan perawatan dalam 1x24 Jam klien memahami kondisi anaknya. dengan kriteria : sering bertanya mengenai penyakit anaknya. Keluarga mampu diikutsertakan dalam Keluarga mentaati setiap proses Kaji tingkat pengetahuan keluarga. 16. No Intervensi Keperawatan proses keperawatan.
3)

dan health 3) informasi mendidik keluarga education tentang cara agar mandiri dalam menolong anak kejang Berikan demam dan mencegah kejang sejauhmana pengetahuan kebenaran yang didapat. yang informasi dimiliki keluarga dan Mengetahui mengatasi masalah. Sebagai upaya alih

Implementasi

Evaluasi

37

DX 1

Tanggal 21 7 2013 Jam 10.15 WIB


1)

Tanggal 23- 7 -2013 Kesadaran mentis

Menganjurkan

kepada

ibu

untuk Hasil: kompos

memakaikan pakaian yang longgar dan pakaian yang tipis. Tanggal 21 7 2013 Jam 10.20 WIB
2)

Keluarga mengatakan keadaan suhu tubuh anaknya naik turun. Temperatur : 37oc. Kulit teraba hangat Klien rewel Nadi : 128 x /menit.

Menganjurkan kepada keluarga untuk mengompres hangat anaknya/klien.

Tanggal 21 7 2013 Jam 10.30 WIB


3)

Menganjurkan banyak.

kepada

ibu

untuk

memberikan asi dan minum yang

Respirasi 30 x/menit

Tanggal 21 7 2013 Jam 10.35 WIB


4)

Membatasi anak dalam beraktivitas selama anak panas.

Tanggal 21 7 2013 Jam 11.00 WIB


5)

Memberikan obat antipiretik sesuai advis. Tanggal 23-07-2013

1)

Tempat tidurkan klien rendah dan ada Hasil: o sisi pengamannya yaitu dihalangi oleh Temperatur : 37 c. besi Mengukur tanda-tanda vital.

2)

Kulit teraba hangat Klien rewel Nadi : 128 x /menit.

Respirasi 28 x/menit Kejang tidak berulang injury tidak terjadi Tanggal 23-7-2013

38

1. 2.

Menciptakan lingkungan yg nyaman Memberikan penjelasan kepada keluarga setiap melakukan tindakan yang diberikan kepada klien

Anak tidak rewel dan beristirahat tidurnya Anak lebih tenang ketika berada d tempat tidurnya Tanggal 23-07-2013 d tempat

1.

Menganjurkan kepada keluarga agar Hasil: Penunggu didalam kamar penunggu klien satu orang selalu satu klien satu orang Pola tidur klien teratasi mendampingi klien pada saat tidur Menganjurkan ibu untuk sebagian Tidur siang 1jam Tidur malam jam 19.00 s/d jam 03 terbangun 2 kali Tanggal 23-07-2013 dan Klien, memahami tentang penanganan kejang dirumah.

2.

Tanggal 21 7 2013 Jam 11.15 WIB. 5


1.

Mengkaji

tingkat

kecemasan

pengetahuan

keluarga

mengenai kejang demam dan cara

penanganan penyakit anaknya.

Tanggal 21 7 2013 Jam 11. 20 WIB.


2.

Menjelaskan kepada keluarga tentang penyakit kejang demam.

Tanggal 21 7 2013 Jam 11. 25 WIB.


3.

Menjelaskan kepada keluarga setiap tindakan yang dilakukan kepada klien.

Tanggal 21 7 2013 Jam 11. 35 WIB.


4.

Memberikan health education tentang cara menolong anak kejang demam dan mencegahnya hal itu dengan cara lain :

39

Jangan panik saat kejang. Baringkan anak di tempat rata dan lembut. Kepala dimiringkan. Pasang gagang sendok yang telah dibungkun kain yang basah, lalu dimasukan ke mulut.

Setelah kejang berhenti dan klien sadar segera minum obat penurun panas tenang. tunggu sampai keadaan

Jika suhu tinggi saat kejang lakukan kompres Masalah teratasi Tanggal 21-07-2013 Jam 15.00 WIB
5.

Hangat dan beri banyak minum setelah sadar. Segera bawa ke RS bila kejang lama

6.

40

17.

Catatan Perkembangan NO Dx 7.30 8.00 1+2 Operan jaga Visite perawat -anamnesa klien -pemeriksaan fisik Visite dokter 9.00 Menyiapkan obat untuk injeksi dan memberikan obat cepotaxcim 250 gr secara IV 10.00 Memberikan obat parasetamol Tidak ada efeksamping obat syr.peroral 85mg (3/4cth) 10.15 Jam Tindakan Tanggal 23-07-2013 Evaluasi Temperatur 36,8C Respirasi 24X/mnt Pulse 84X/mnt

Memberikan penkes kepada keluarga Keluarga faham tentang kejang demam mengenai kejang demam setelah diberi penjelasan

11.30

Menganjurkan kepada keluarga untuk membatasi pengunjung agar klien dapat beristirahat dengan nyaman Anamnesa Pemeriksaan TPRS Mengisi buku status klien Operan jaga Visite perawat Anamnesa Pemeriksaan TPRS

Pengunjung satu persatu untuk menengok klien

12.00

14.00

14.30

41

Mengisi buku status klien 15.30 S : Keluarga mengatakan anaknya masih panas. O : Suhu axiua : 381o c. Nadi : 130 x/menit Respirasi : 30 x/menit Batuk pilek Kesadaran, compos mentis, kulit teraba hangat.

42

BAB V PENUTUP Berdasarkan uraian-uraian dari bab sebelumnya maka penulis menarik beberapa kesimpulan dan memberikan saran sebagai berikut :
1.

Kesimpulan Kejang demam bisa diakibatkan oleh infeksi ekstrakranial seperti ISPA, radang telinga, campak, cacar air. Dalam keadaan demam, kenaikan suhu tubuh sebesar 10C pun bisa mengakibatkan kenaikan metabolisme basal yang mengakibatkan peningkatan kebutuhan oksigen jaringan sebesar 1015 % dan otak sebesar 20 %. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka anak akan kejang. Umumnya kejang tidak akan menimbulkan dampak sisa jika kejang tersebut berlangsung kurang dari 5 menit tetapi anak harus tetap mendapat penanganan agar tidak terjadi kejang ulang yang biasanya lebih lama frekuensinya dari kejang pertama. Timbulnya kejang pada anak akan menimbulkan berbagai masalah seperti resiko cidera, resiko terjadinya aspirasi atau yang lebih fatal adalah lidah jatuh ke belakang yang mengakibatkan obstruksi pada jalan nafas. Hemiparesis biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama (berlangsung lebih dari setengah jam) baik bersifat umum maaupunfokal,
kelumpuhannya

sesuai

dengan

kejang

vokal

yang

terjadi.

Mula-mula

kelumpuhannya bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu spasitisitas. Milichap (1998) melaporkan dari 1990 anak menderita kejang demam, hanya 0,2 % saja yang mengalami hemiparese sesudah kejang lama.

43

2.

Saran Adapun saran yang dapat diberikan setelah melakukan tinjauan kasus mengenai kejang demam adalah : Masalah atau kasus ini dapat diturubkan melalui upaya pencegahan dan penanggulangan optimal yang diberikan sedini mungkin pada anak. Dan perlu diingat bahwa maslah penanggulangan kejang demam ini bukan hanya masalah di rumah sakit tetapi mencskup permasalahan yang menyeluruh dimulai dari individu anak tersebut, keluarga, kelompok maupun masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA Depkes RI, 1989. Perawatan Bayi dan Anak. Ed, Jakarta : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan.

44

Lumbantobing,SM. 1989.Penatalaksanaan Mutakhir Kejang Pada Anak. Jakarta : FKUI Sachann,M Rossa, 1996. Prinsip Keperawatan Pediatric. Jakarta : EGC. Suriadi, dkk 2001, Askep Pada Anak, Jakarta, Pt Fajar Interpratama. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 2000. Buku Kuliah Dua Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta : Percetakan Info Medika Jakarta. Ngastiyah,2005, Perawatan Anak Sakit,ed 2. Jakarta ; EGC Hidayat, Aziz Alimul, 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak, Jakarta : Salemba.

45

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN KEJANG DEMAM SEDERHANAPADA AN.A UMUR 14 BL TAHUN PADA TANGGAL 26 S/D MARET 2013 DI RUANG MELATI RSUD KOTA BANJAR

Diajukan Oleh : Aulia Al-Azhar, S.Kep. Bety Hernawati, S.Kep. Dewi Hermanah, S. Kep. Endah Suhenda, S. Kep. Hilman Saepudin, S. Kep. Indra Arvianto, S. Kep Septi Asiani, S.Kep Telah disetujui oleh : Pembimbing Klinik Tanggal, Mei 2013

Ulung Hasanah, S.Kep., Ners. Pembimbing Akademik Tanggal, Mei 2013

Nina Rosdiana, SKp, M.Kep

46

KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji syukur atas Rahmat yang telah dilimpahkan oleh Allah SWT sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan laporan kasus yang berjudul ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KEJANG DEMAM An.A UMUR 15 BULAN PADA TANGGAL 29 APRIL S/D 1 MEI 2013 DI RUANG MELATI RSUD KOTA BANJAR. Laporan kasus ini disusun untuk memenuhi persyaratan menempuh seminar kasus pada Program Profesi Ners Angkatan Ke VIII Departemen KeperawatanAnak Di RSUD Kota Banjar. Penulis menyadari bahwa dalam proses penyusunan laporan kasus ini penulis banyak mendapat bantuan, masukan dan motivasi dari berbagai pihak, tanpa itu semua mungkin penulis tidak bisa menyelesaikan penyusunan laporan kasus ini dengan cepat. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan banyak terima kasih yang sebesarbesarnya kepada :
1.

H. Oman Rokhman, S.Sos., M.Kes selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Putera Banjar. dr. H. Herman Umar, M.Kes., selaku Direktur RSUD Kota Banjar yang telah memberikan izin praktek Profesi Ners Angkatan ke VII Aa Ahmad Suhendar, S.Kp, M.Kep, selaku Ketua Jurusan Ilmu Keperawatan. Nina Rosdiana, SKp, M.Kep selaku pembimbing akademik. Yayi siti khaeriyah, SKp selaku koordinator Departemen Keperawatan Anak Sri Mulyani Sukmayati, S.Kep. Ners., selaku Kasie Diklit RSUD Kota Banjar Umasih, Am.Kep selaku Kepala Ruangan Melati RSUD Kota Banjar Ulung Nurhasanah,S.Kep.,Ners selaku Pembimbing Klinik RSUD Kota Banjar Serta rekan-rekan seperjuangan dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah banyak membantu menyelesaikan penyusunan laporan kasus ini atas saran-sarannya. Semoga selalu diberikan Hidayah dan Inayah yang berlipat ganda oleh-

2.

3. 4. 5. 6. 7. 8.

9.

Nya atas segala kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Penulis menyadari

bahwa dalam penyusunan laporan kasus ini belum mendekati kata sempurna karena tak ada satupun yang dihasilkan manusia dalam bentuk yang sempurna kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.

Banjar,

Mei 2013

Penulis

ii

DAFTAR ISI Halaman LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR .................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ........................................................................
A. B. C. D.

i 1 1 2 2 3 4 4 4 5 5 6 6 9 9

DAFTAR ISI ................................................................................................. iii Latar Belakang ........................................................................ Identifikasi Masalah ................................................................ Tujuan Penulisan ..................................................................... Manfaat Penulisan ................................................................... Pengertian ................................................................................ Etiologi .................................................................................... Patofisiologi ............................................................................ Prognosa .................................................................................. Manifestasi Klinis ................................................................... Penatalaksanaan ...................................................................... Klasifikasi ............................................................................... Komplikasi ..............................................................................

BAB II

PEMBAHASAN...........................................................................
A. B. C. D. E. F. G. H. I. J. K.

Pencegahan .............................................................................. 10 Pemeriksaan Penunjang .......................................................... 10 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan ....................................... 11 Identitas Klien ......................................................................... 22 Keluhan Utama ........................................................................ 22 Riwayat Kesehatan Saat ini ..................................................... 23 Riwayat Kelahiran dan Persalinan .......................................... 23 Riwayat Masa Lalu .................................................................. 24 Riwayat Keluarga .................................................................... 24 Riwayat Sosial ......................................................................... 24 Tingkat Perkembangan Saat Ini (DDST) ................................ 24

BAB III LAPORAN KASUS ..................................................................... 22


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

iii

9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17.

Pola Kebutuhan Dasar Klien Saat Ini ...................................... 25 Pemeriksaan Fisik .................................................................... 27 Pemeriksaan Diagnostik .......................................................... 31 Terapi Farmaka ........................................................................ 32 Analisa Data ............................................................................ 32 Prioritas Masalah ..................................................................... 34 Nursing Care Planing .............................................................. 35 Intervensi Keperawatan ........................................................... 39 Catatan Perkembangan ............................................................ 43 Kesimpulan ............................................................................. 45 Saran ........................................................................................ 45

BAB IV PENUTUP ..................................................................................... 45


1. 2.

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 46

iv

RSUD KOTA BANJAR Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Mengadakan Seminar Kasus Departemen Keperawatan Anak

Disusun Oleh : Aulia Al-Azhar, S.Kep. Bety Hernawati, S.Kep. Dewi Hermanah, S. Kep. Endah Suhenda, S. Kep. Hilman Saepudin, S. Kep. Indra Arvianto, S. Kep Septi Asiani, S.KeP

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA PUTERA BANJAR PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN VIII TAHUN 2013