Anda di halaman 1dari 40

PEDIATRIC LOGISTIC ORGAN DYSFUNCTION (PELOD) SKOR SEBAGAI PROGNOSIS KEGAGALAN MULTI ORGAN

PADA SEPSIS

Hendaria, Ari Lukas Runtunuwu, Jeanette Irene Chistie Manoppo


Titia Rahmania Farina septiana Pembimbing : dari. Fadil Rulian Sp.A

DAFTAR SINGKATAN

PELOD

: Pediatric Logistic Organ Dysfunction

PICU
HB HT

: Pediatric Intensive Care Unit


: Hemoglobin : Hematokrit

SGOT
SGPT BUN INR GCS

: Serum glutamic oksaloasetat transminase


: Serum glutamic piruvat transminase : Blood Urea Nitrogen :International normalised ratio : Glasgow Coma Scale

Pendahuluan

Sepsis keadaan darurat yang sering ditemukan di unit perawatan intensif pediatrik. Insiden : 1-10 per 1.000 kelahiran hidup &

kematian antara 13-50%

Di Indonesia, angka kematian akibat sepsis 5070%

Jika syok septik & berbagai organ disfungsi


terjadi, kematian 80%

American College of Chest Physicians dan The Society of

Critical Care Medicine


Infeksi & tanda sindariom respon inflamasi sistemik (SIRS), berupa :

Suhu >38C atau <36C, Denyut jantung > 90 kali / menit Atau >2 SD berdasarkn usia Pernapasan> 30 kali / menit, Atau >2 SD berdasarkn usia Leukosit > 15.000/L atau <5.000 / uL dg sel imatur lebih dari 10%

Pediatric Logistic Organ Dysfunction (PELOD) skor

Alat yang digunakan untuk mengetahui keparahan disfungsi

organ pd kondisi anak kritis

Skor yang diberikan untuk masing2 organ akan meningkat sesuai keparahan disfungsi organ memprediksi keparahan disfungsi

organ.

Studi kegagalan organ pd pasien dg sepsis menggunakan PELOD skor jarang ditemukan

Tujuan penelitian

meneliti hubungan skor PELOD pd sepsis & kegagalan berbagai organ

metode

Desain, lokasi dan waktu


Penelitian cross sectional dilakukan pada Pediatric Intensive Care Unit (PICU) di
Rumah Sakit RD Kandou dari Juni 2009 - September 2009.

Populasi dan sampel


Inklusi :Anak usia 1 bln - 13 th yang didiagnosis sepsis ekslusi : pasien dg malaria berat, gizi buruk & dehidariasi berat. Jmlah subjek diperkirakan dg menggunakan = 0,05, dan 80% memiliki kaitan

klinis trhdp koefisiesn skor PELOD & kegagalan berbagai organ (r) = 0,40.

Total sampel sebanyak 37 anak.

Metode Sampling

Setiap Orang tua menandatangani informed consent.


Data yangg dikumpulkan : riwayat, pemeriksaan fisik,& laboratorium Darah vena yang diperiksa : Hb, Ht, leukosit, trombosit, parasit malaria, SGOT, SGPT, BUN, kreatinin & waktu protrombin / INR. Darah yang diambil 6 ml :

2 ml dalam EDTA, 2,5 ml dalam jarum suntik 3ml sekali pakai,

1,5 ml untuk kultur darah & analisis gas darah

Setiap variabel diberi skor & jumlah akhir PELOD skor.

Lanjutan

Penilaian skor berupa:


GCS, reaksi pupil, denyut jantung, tekanan darah sistolik, kreatinin,

PaCO2, leukosit, trombosit, dan

aspartat transaminase.

Untuk skor PELOD, menggunakan nilai tertinggi untuk masing-masing disfungsi organ. Misalnya : Detak jantung 200 x/menit (PELOD skor 10) TD sistolik 30 mmHg (PELOD skor 20) skor yang diambil adalah 20.

analisa

Data dianalisa : studi deskriptif dan korelatif.

Analisa deskriptif karakteristik data, disajikan dalam tabel


distribusi.

Analisa korelatif hubungan antara skor PELOD dan kegagalan multiorgan.

Data diolah menggunakan software SPSS versi 17.

hasil

Tabel PELOD score

Organ dysfunction and variable 1 Nervous system, Pediatric Glasgow Coma Scale 12-15 and both Reaktive

Scoring system 2 7-11 4-6 or both Fixed 10 3 20

Pupillary reaction
Cardiovascular Heart rate (beats/min) < 12 years 12 years Systolic blood pressure (mmHg) < 1 month 1 month 1 year 1 12 years 12 years Renal Creatinine (mol/L) < 7 days 7 days 1 year 1 12 years 12 years Respiratory PaO2 (kPa)/FiO2 ratio PaCO2 (kPa) Mechanical ventilation Hematologic White blood cell count (x 109/L) Platelets (x 109/L) Hepatic Aspartate transaminase (IU/L) Prothrombin time (or INR)

195 150 >65 >75 >85 >95

>195 >150 35-65 35-75 45-85 55-95 <35 <35 <45 <55

<140 <55 <100 <140 >9,3 and 11,7 No ventilation 4,5 and 35

140 55 100 140

Ventilation 1,5-4,4 Or <35

9,3 or >11,7 <1,5

<950 and >60 (1,40)

>950 or 60 (1,40)

Distribusi jenis kelamin

kegagalan multi organ <2 : 8 & 3

kegagalan multi organ >2 14 (53.8%) & 12 (46.2%)

Tdk trdpt perbedaan signifikan pd jenis kelamin, status gizi & kultur darah

Distribusi penyakit
Meningitis (2 pasien)

Encephalitis (6 pasien)

gastroenteritis (11 pasien)

Bronkopneumoni (18 pasien)

Rerata usia anak dg kegagalan organ : <2 berusia 46,1 bln >2 berusia 27,9 bln

Ditemukan adanya 2 anak (5,4%) yang tdk mengalami kegagalan organ.

terdapat 2 anak yang memiliki 6 gagal organ.

Kultur darah

Kultur darah

+ (16 anak)

(21 anak)

13 Gram negatif

3 gram positif

Hubungan PELOD Skor terhadap kegagalan multi organ

DISKUSI

Watson 1492 anak

(54.8%) dan 1232 anak (45.2%). dan 401 (38%) anak , dan terdapat

Prolux 657 (62%) anak 26

(70.3%) dg kegagalan multi organ > 2 & 11 anak (29.7%) dg

kegagalan multi organ <2.

Sae 197 (24%) pasien sepsis dg kegagalan multi organ. Duke 64% pasien sepsis dg kegagalan multiorgan.

Prolux 145 (76%) pasien sepsis dg kegagalan multi organ .


Thukral A dkk 190 (90.9%) anak dengan kegagalan organ >2.

Pada studi ini, ditemukan 43.2% anak dg kultur darah (+) dan 56.8% dg kultur darah (-) Infeksi awal dari sepsis dpt berupa :

bronkopneumonia (18), gastroenteritis (11), encephalitis (6) meninigitis (2).

Hasil penelitian ini sama halnya dg yang dilakukan oleh xavier :


o o

Bronkopneumonia 38%, gastroenteritis 18%, post operasi 9%, meningitis 6%, infeksi saluran kemih 5% dan

demam dengan penyebab yang tak jelas 24%

Kegagalan multi organ

respon inflamasi sistemik yang tak terkontrol


Inflamasi : proses aktivasi gabungan berbagai mediator pro inflamasi yang pd kondisi normal nilainya seimbang dg mediator anti inflamasi

Jika mediator pro inflamasi lebih dominan, maka hal ini akan mengarahkan ke kegagalan fungsi organ

Literatur menyatakan :

Anak dg sepsis & malnutrisi (cadangan glikogen terbatas


dan jaringan lemak ) metabolisme glikogen

Anak dg sepsis berada pd kondisi hipermetabolisme &


katabolisme, remodelling sakit berat & protein anak dg kondisi malnutrisi lebih gampang mengalami

kegagalan organ

Leclerc dkk skoring PELOD untuk mengevaluasi anak yang

memiliki kondisi kritis pd unit perawatan intensif pediatrik.

PELOD mengevaluasi 6 sistem organ dg menilai 12 manifestasi klinis & hasil laboratorium.

Studi ini menunjukkan 70.3% anak yang mengalami kegagalan


multi organ.

Hub. antara PELOD skor & kegagalan multi organ dpt

ditunjukkan dg persamaan :
P= 1/(1+e^(2.56-0.137 PELOD) ),p=0.02 Persamaan ini menunjukan trdpt hub. signifikan antara PELOD skor kegagalan multi organ,p = 0.002.

Semakin tingginya skor PELOD akan meningkatkan kemungkinan seorang anak mengalami kegagalan multi organ.

KESIMPULAN

Telaah jurnal PICO VIA

PATIENT
Seluruh anak berusia 1bulan- 13 tahun yang didiagnosa sepsis menggunakan kriteriaACCP dan dirawat di PICU RS.Kandou yang tidak disertai kondisi dehidrasi berat, malnutris berat dan malaria berat

PROBLEM

Perlunya deteksi dini dan penatalaksanaan

optimal pada sepsis

sebelum

berkembang

menjadi kegagalan multi organ.

Tidak

adanya

pengukuran

alternatif

untuk

menentukan prognosis pada kegagalan multi organ akibat sepsis

INTERVENTION
Pemeriksaan fisik dan laboratorium (hb, hematokrit, trombosit, leukosit, parrasit malaria, SGOT, SGPT, BUN, kreatinin dan waktu protombin

COMPARE
Penelitian ini membandingkan dengan

penelitian sebelumnya mengenai

Skor pelod biasa digunakan untuk evaluasi


anak terhadap kondisi kritis, namun tidak untuk penilaian hubungan skor pelod

OUTCOME
Terdapat hubungan antara skor pelod terhadap kegagalan multi organ

VALIDITAS
Apakah penelitian ini valid ? Ya, sebab penelitian ini menggunakan skor PELOD, salah satu alat yang sering digunakan untuk menilai derajat disfungsi organ pada pasien sakit berat

Dari segi sampel, nilai CI 95% menunjukan bahwa sampel ini sesuai dan dapat digunakan pada penelitian

Dari penggunaan kriteria inklusi dan ekslusi, batasan yang digunakan sudah jelas.

IMPORTANT
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu acuan untuk menilai prognosis dari kegagalan multi organ akibat sepsis

APLICABLE
Penelitian ini applicable sebab dapat dilakukan di RS manapun