Anda di halaman 1dari 21

PKL DAN PENGGUSURAN PKL

KELOMPOK 2: RIZKI TRI H NI LUH DESY AYU S LIA LISTIANI ROGA SINGGIH HARSENO ANGELINA PUTRI LESTARI BETA NOVIA RIZKY AGNIZ NUR AULIA YANSHA MUTIA DYAH K INGRID WIDANTY OKI FADHILA ANISSA ALDA GERMANYTA AULYA SETYO PRATIWI IVAN SETIAWAN DJUARSA RANGGI HARDIAN NUGRO A

(021211131015) (021211131016) (021211131017) (021211131018) (021211131019) (021211131020) (021211131021) (021211131022) (021211131023) (021211131024) (021211131025) (021211131026) (021211131027) (021211131028)

pengertian

KASUS

pkl
SOLUSI

kesimpulan

PENGERTIAN
Pengertian pedagang kaki lima dapat dijelaskan melalui ciri- ciri umum yang dikemukakan oleh kartono dkk. (1980: 3-7), yaitu: (1) merupakan pedagang yang kadang- kadang juga sekaligus berarti produsen; (2) ada yang menetap pada lokasi tertentu, ada yang bergerak dari tempat satu ketempat yang lain (menggunakan pikulan, kereta dorong, tempat atau stan yang tidak permanent serta bongkar pasang); (3) menjajakan bahan makanan, minuman, barang- barang konsumsi lainnya yang tahan lama secara eceran; (4) umumnya bermodal kecil,kadang hanya merupakan alat bagi pemilik modal dengan mendapatakan sekedar komisi sebagai imbalan atas jerih payahnya; (5) kualitas barang- barang yang diperdagangkan relativ rendah dan biasanya tidak bersetandart;

(6) Volume peredaran uang tidak seberapa besar, para pembeli merupakan pembeli yang berdaya beli rendah; (7) usaha skala kecil bisa berupa family enterprise, dimana ibu dan anak- anak turut membantu dalam usaha tersebu, baik langsung maupun tidak langsung; (8) tawar menawar antar penjual dan pembeli merupakan relasi ciri yang khas pada usaha pedagang kaki lima; (9) dalam melaksanakan pekerjaannya ada yang secara penuh, sebagian lagi melaksanakan setelah kerja atau pada waktu senggang, dan ada pula yang melaksanakan musiman.

Faktor bertambahnya jumlah pkl Penggusuran pkl dan faktor pkl tdk ingin direlokasi

kasus

Tanggapan nasib pkl sekarang

FAKTOR BERTAMBAHNYA JUMLAH PKL


1.Faktor ekonomi 2. Faktor demografi 3. Faktor ketenagakerjaan

PENGGUSURAN PKL
Faktor-faktor penyebab penggusuran PKL: Kebijakan pembangunan yang lebih mengarah pada pembangunan investasi. Pembangunan yang dilakukan pada saat sekarang ini cenderung lebih mengarah pada pengembangan investasi yang semata-mata tujuannya hanyalah bisnis komersialisasi, tanpa memperhatikan hak-hak warga yang kurang mampu. Dengan adanya kebijakan tersebut, maka kegiatan ekonomi lebih terpusat di daerah perkotaan dan semakin meminggirkan warga yang kurang mampu karena mereka tidak sanggup untuk memenuhi biaya sewa lahan yang semakin mahal, baik untuk perumahan maupun untuk tempat usaha.

Peraturan Pemerintah ataupun Peraturan Daerah yang tidak berpihak kepada rakyat miskin. Kita ambil contoh misalnya penerapan Perda No. 11/1988 di DKI Jakarta. Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 1988 tentang Ketertiban Umum, perda ini juga menjadi pedoman/dasar dalam melindungi warga kota dan prasarana kota beserta kelengkapanya dengan Objek Hukumnya adalah masyarakat miskin kota (gelandangan, pengemis, pedagang kaki lima, WTS dan lainnya). Pragmatism dari Perda ini nyata-nyata dituangkan dalam GBHN tahun 1988, yakni merubah arah kebijakan perumahan, yang semula ditujukan untuk kesejahteraan rakyat menjadi perumahan untuk tujuan komersil, begitu juga dengan fasilitas-fasilitas umum lainnya.

Tidak adanya koordinasi antar lembaga kepemerintahan. Lihat saja diberbagai kasus masalah pertanahan. Para pedagang kaki lima yang tiap bulannya membayar uang retribusi kepada petugas masih saja digusur tanpa di relokasi ke tempat yang lebih baik. Daerah-daerah yang telah ditetapkan oleh pemerintah bahwa tidak boleh untuk dihuni maupun tempat usaha, tapi mengapa pihak PLN/Telkom masih saja dapat mengabulkan izin pemasangan instalasi listrik/telepon. Hal ini menunjukan bahwa antar lembaga kepemerintahan tidak adanya saling koodinasi. Ketimpangan social yang cukup tinggi. Kalau kita amati sekarang ini masyarakat miskin kota semakin terpojok, mereka hidup dalam kecemasan, karena mereka tinggal di daerah-daerah yang suatu saat dapat saja tergusur, seperti tinggal dibantaran kali dilahan-lahan yang tak jelas siapa pemiliknya/lahan kosong, membuka usaha di pinggiran trotoar atau di perempat jalan/lampu merah.

Sengketa lahan. Lahan yang telah bertahun-tahun didiami oleh seorang warga atau beberapa warga dan telah memiliki Sertifikat, tiba-taba ada yang mengakui lahan tersebut miliknya, kemudian ia melaporkan kejadian tersebut ke pengadilan dan putusannya dikabulkan oleh pengadilan tersebut, maka terjadilah eksekusi lahan secara paksa, tanpa mengindahkan hak - hak warga tersebut. Aparat pemerintah yang semena-mena terhadap rakyat miskin. Penegakan Peraturan pemerintah ataupun Peraturan Daerah melibatkan petugas Kepolisian, Polisi Pamong Praja dan masalah sengketa lahan melibatkan Juru Sita. Akan tetapi pada kenyataan dilapangan yang lebih berperan aktif justru aparat Polisi Pamong Praja. Kita lihat saja di dalam penanganan berbagai kasus, bagaimana cara-cara yang dilakukan oleh petugas Pol PP sangat arogan

FAKTOR PKL TDK INGIN DIRELOKASI


1. Adanya penggusuran, atau relokasi yang tidak dilalui upaya dialog dengan sektor informal. Dengan kata lain, tidak ada konsep kebersamaan dalam melakukan penataan antara sektor informal dan pemkot (society participatory defelopment). 2. Tidak adanya pengakuan eksistensi. 3. Adanya penggusuran tempat- tempat sektor informal dijalurjalur utama. 4. Adanya aksi represif dari Dispol PP saat melakukan penertiban. 5. adanya perbedaan makna antara pemerintah kota dan sektor informal,masing- masing melakukan pembenaran atas tindakannya. 6. Adanya Perda yang tidak memihak sektor informal

TANGGAPAN NASIB PKL SEKARANG


Nasib yang menimpa para Pedagang Kaki Lima sungguh amat menderita. Dianggap biang kemacetan lalu lintas dan memperburuk wajah kota karena menggelar dagangannya sampai masuk ke badan ruas jalan, trotoar dan kocar-kacir di saat petugas Satpol PP datang dengan dalih menertibkan yang tak jarang melakukannya dengan cara kekerasan dan sewenang-wenang. Belum lagi keberadaan kaum bermodal yang membuka pasar modern dan jauh dari kesan kumuh. Seolah, perlahan tapi pasti, pedagang kaki lima makin lama makin tenggelam, terabaikan dan terancam sumber pendapatannya.

SOLUSI
pemerintah daerah perlu mencarikan lahan-lahan khusus di lokasi-lokasi strategis untuk para pedagang kaki lima PKL tidak ditarik pajaknya selama menempati tempat PKL yang disediakan.

Merembukkan jalan penyelesaiannya antar pemerintah daerah dan PKL

KESIMPULAN
Pedagang Kaki Lima (PKL) sering kali dianggap mengganggu ketertiban lalu lintas. Efek lain dari keberadaan PKL di jalanan adalah terciptanya kawasan kumuh, kesemrawutan, dan mengurangi keindahan atau estetika kota. Faktor-faktor lain penyebab penggusuran yaitu kebijakan pembangunan yang lebih mengarah pada pembangunan investasi, Peraturan Pemerintah ataupun Peraturan Daerah yang tidak berpihak kepada rakyat miskin, tidak adanya koordinasi antar lembaga kepemerintahan, ketimpangan social yang cukup tinggi, dan sengketa lahan, serta aparat pemerintah yang semena-mena terhadap rakyat miskin.

Sebagai solusi untuk mengatasi masalah pedagang kaki lima yang telah menjadi "fenomena" di kota-kota besar Indonesia adalah pemerintah daerah perlu mencarikan lahan-lahan khusus di lokasi-lokasi strategis untuk para pedagang kaki lima, PKL tidak ditarik pajaknya selama menempati tempat PKL yang disediakan. Merembukkan jalan penyelesaiannya antar pemerintah daerah dan PKL.