Anda di halaman 1dari 7

ANALISA PENDANGKALAN PADA PELABUHAN BANDAR SRI SETIA RAJA DI SELAT BARU

Indah Fajar Mahasiswa Program Studi D3 Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bengkalis Email: indah.fajar89@yahoo.com Noerdin Basir ST MT. Dosen Jurusan Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bengkalis Email: noerdinbasir@polbeng.ac.id Rio Zambika S.ST. Dosen Jurusan Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bengkalis Email: rio_z4mbika@yahoo.com

Abstrak Penggunaan Pelabuhan Bandar Sri Setia Raja di Selat Baru ini kurang optimal, ini terlihat pada saat surut kapal yang akan berlabuh pada pelabuhan tersebut sering megalami kandas, kondisi itu akan sangat merisaukan terhadap keselamatan penumpang yang datang dari Malaka-Malaysia, untuk itu diperlukan analisis pendangkalan area masuk Pelabuhan Bandar Sri Setia Raja di Selat Baru. Metode yang digunakan untuk analisa pendangkalan ialah dengan pengambilan data perimer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi, pengukuran dan survey, sedangkan data sekunder melalui bahan-bahan tertulis, maupun informasi lain melalui pemerintah terkait dengan objek penelitian. Hasil penelitian kedalaman kurang lebih 2 sampai 5 meter dari muka air terendah, Setelah dilakukan perbandingan hasil penelitian survey menggunakan teknik Echosouder dengan mengunakan teknik bandul didapat pendangkalan alur pelayaran pada Pelabuhan Bandar Seri Setia Raja rata-rata 0,2 meter dan volume daerah pendangkalannya adalah 16000 m3 Kata kunci : Pelabuhan, Pendangkalan.

A. PENDAHULUAN Pulau Bengkalis merupakan suatu kawasan atau wilayah dataran dengan ketinggian ratarata 2 (dua) meter di atas permukaan laut, pada umumnya struktur tanah dalam bentuk rawarawa atau tanah basah (Basir, 2010). Di Pulau Bengkalis juga terdapat 33 buah sungai yang umumnya berupa sungai kecil-kecil salah satu nya sungai bantan tengah yang bermuara kearah utara yakni menuju selat melaka dan di muara Sungai tersebut tempat berdirinya Pelabuhan Bandar Sri Setia Raja di Selat Baru. Pulau Bengkalis lebih bercirikan kepada sifat dan bentuk geografis berupa perairan, hal ini tercantum banyaknya pelabuhan yang dapat disandari kapal berukuran besar maupun kecil, baik untuk angkutan penumpang maupun barang. Salah satunya yaitu Pelabuhan Bandar Sri Setia Raja di Selat Baru Kecamatan Bantan yang merupakan salah satu potensi kemajuan wisata di propinsi Riau dan fokus operasinya melayani pelayaran ke luar negeri, khususnya kenegara tetangga Malaysia. Penggunaan Pelabuhan Bandar Sri Setia Raja di Selat Baru ini kurang optimal, ini terlihat pada saat surut kapal yang akan berlabuh pada pelabuhan tersebut sering megalami kandas, kondisi itu akan sangat riskan terhadap keselamatan penumpang yang datang dari Malaka-Malaysia, untuk itu diperlukan analisis pendangkalan area masuk Pelabuhan Bandar Sri Setia Raja di Selat Baru (Pemerintah Kabupaten Bengkalis, 2011). Dengan memanfaatkan data kontur yang mengunakan survey bandul, dengan data

kedalaman laut mengunakan Echosounder dari kawasan pelabuhan bandar sri setia raja di selat baru, sehingga dari data ini kita dapat memprediksi pendangkalan pada Pelabuhan Bandar Sri Setia Raja di Selat Baru yang di peroleh dengan menggurangi data kontur mengunakan Echosounder dengan data kontur mengunakan bandul. B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengertian koordinat Koordinat adalah kedudukan suatu titik. Koordinat ditentukan dengan mengunakan suatu sistem sumbu, yaitu garis-garis yang saling berpotongan tegak lurus (Murtianto, 2008). Sistem kordinat yang resmi di pakai ada dua, yaitu: a. Koordinat geografis Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus terhadap katulistiwa, dan garis lintang utara dan selatan) yang sejajar dengan katulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derjat, menit, dan detik. b. Koordinat grid Dalam koordinat grid, kedudukan satu titik dinyatakan dalam ukuran jarak terhadap suatu titik acuan. Untuk wilayah indonesia, titik acuan nol terdapat di sebelah barat jakarta (60 derajat LU, 68 derajad BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Volume 1, No 1, Des, 2012 hlmn 111-117

utara, sedangkan garis horizontal dideri momor urut dari barat ke timur. 2. Pengertian kontur Kontur adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang berketinggian sama dari permukaan laut (Murtianto, 2008) a. Sedimentasi Sedimentasi adalah peristiwa pengendapan material batuan yang telah diangkut oleh tenaga air atau angin. Pada saat pengikisan terjadi, air membawa batuan mengalir ke sungai, danau, dan akhirnya sampai di laut. Pada saat kekuatan pengangkutannya berkurang atau habis, batuan diendapkan di daerah aliran air. Karena itu pengendapan ini bisa terjadi di sungai, danau, dan di laut. Batuan hasil pelapukan secara berangsur diangkut ke tempat lain oleh tenaga air, angin, dan gletser (es yang mengalir secara lambat). Air mengalir di permukaan tanah atau sungai membawa batuan halus baik terapung, melayang atau digeser di dasar sungai menuju tempat yang lebih rendah. Hembusan angin juga bisa mengangkat debu, pasir, bahkan bahan material yang lebih besar. Makin kuat hembusan itu, makin besar pula daya angkutnya. Di padang pasir misalnya, timbunan pasir yang luas dapat dihembuskan angin dan berpindah ke tempat lain. Sedangkan gletser, walaupun lambat gerakannya, tetapi memiliki daya angkut besar (Anwas, 1994). b. Asal Sedimen di Dasar Laut Sedimen yang di jumpai di dasar lautan dibedakan menjadi empat yaitu : 1) Lithougenus sedimen Lithougenus sedimen yaitu sedimen yang berasal dari erosi pantai dan material hasil erosi daerah up land. Material ini dapat sampai ke dasar laut melalui proses mekanik, yaitu tertransport oleh arus sungai dan atau arus laut dan akan terendapkan jika energi tertrransforkan telah melemah. 2) Biogeneuos sedimen

Biogeneuos sedimen yaitu sedimen yang bersumber dari sisa-sisa organisme yang hidup seperti cangkang dan rangka biota laut serta bahan-bahan organik yang mengalami dekomposisi. 3) Hidreogenous sedimen Hidreogenous sedimen yaitu sedimen yang terbentuk karena adanya reaksi kimia di dalam air laut dan membentuk partikel yang tidak larut dalam air laut sehingga akan tenggelam ke dasar laut, sebagai contoh dan sedimen jenis ini adalah magnetit, phosphorit dan glaukonit. 4) Cosmogerous sedimen Cosmogerous sedimen yaitu sedimen yang bersal dari berbagai sumber dan masuk ke laut melalui jalur media udara/angin. Sedimen jenis ini dapat bersumber dari luar angkasa, aktifitas gunung api atau berbagai partikel darat yang terbawa angin. Material yang bersal dari luar angkasa merupakan sisasisa meteorik yang meledak di atmosfir dan jatuh di laut. Sedimen yang bersal dari letusan gunung berapi dapat berukuran halus berupa debu volkanin, atau berupa fragmen-fragmen aglomerat. Sedangkan sedimen yang bersal dari partikel di darat dan terbawa angin banyak terjadi pada daerah kering dimana proses eolian dominan, namun demikian dapat juga terjadi pada daerah sub tropis saat musim kering dan angin bertiup kuat. Dalam hal ini umumnya sedimen tidak dalam jumlah yang dominan dibandingkan sumber-sumber yang lain. Dalam suatu proses sedimentasi, zatzat yang masuk ke laut berakhir menjadi sedimen. Dalam hal ini zat yang ada terlibat proses biologi dan kimia yang terjadi sepanjang kedalaman laut. Sebelum mencapai dasar laut dan menjadi sedimen, zat tersebut melayanglayang di dalam laut. Setelah mencapai dasar lautpun , sedimen tidak diam tetapi sedimen akan terganggu ketika hewan laut dalam mencari makan. Sebagian sedimen mengalami erosi dan tersusfensi kembali oleh arus bawah sebelum 112

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Volume 1, No 1, Des, 2012 hlmn 111-117

kemudian jatuh kembali dan tertimbun. Terjadi reaksi kimia antara butir-butir mineral dan air laut sepanjang perjalannya ke dasar laut dan reaksi tetap berlangsung penimbunan, yaitu ketika air laut terperangkap di antara butiran mineral. c. Proses Erosi Dan Sedimentasi proses erosi dan sedimen tasi tergantung sedimen dasar dan pengaruh hidrodinamika gelombang dan arus. Jika dasar laut terdiri dari material yang mudah bergerak, maka arus dan gelombang akan mengerosi sedimen dan membawanya searah dengan arus. Sedimen yang di traspor tersebut bisa berupa bet loat (menggelinding, menggeser di dasar laut seperti misal nya pasir atau melayang untuk sedimen suspensi (lumpur, lempung). Apa bila kecepatan arus berkurang (misalnya di perairan pelabuhan) maka arus tidak mampu lagi mengangkut sedimen maka akan terjadi sedimentasi di daerah tersebut (Triatmodjo, 1996). d. Pasang Surut (Ocean Tide) Pasang naik dan pasang surut merupakan bentuk gerakan air laut yang terjadi karena pengaruh gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi (Waldopo, 2008). Hal ini didasarkan pada hukum Newton yang berbunyi: Dua benda akan terjadi saling tarik menarik dengan kekuatan yang berbanding terbalik dengan pangkat dua jaraknya. Berdasarkan hukum tersebut berarti makin besar/jauh jaraknya makin kecil daya tariknya. Karena jarak dari bumi ke matahari lebih jauh dari pada ke jarak bulan, maka pasang surut permukaan air laut lebih banyak dipengaruhi oleh bulan. Ada dua macam pasang surut. 1) Pasang Purnama Pasang purnama ialah peristiwa terjadinya pasang naik dan pasang surut tertinggi (besar). Pasang besar terjadi pada tanggal 1 (berdasarkan kalender bulan) dan pada tanggal 14 (saat bulan purnama). Pada kedua tanggal tersebut posisi Bumi - Bulan

- Matahari berada satu garis (konjungsi) sehingga kekuatan gaya tarik bulan dan matahari berkumpul menjadi satu menarik permukaan bumi. Permukaan bumi yang menghadap ke bulan mengalami pasang naik besar. Sedangkan permukaan bumi yang tidak menghadap ke bulan mengalami pasang surut besar. 2) Pasang Perbani Pasang Perbani, ialah peristiwa terjadinya pasang naik dan psang surut terendah (kecil). Pasang kecil terjadi pada tanggal 7 dan 21 kalender bulan. Pada kedua tanggal tersebut posisi Matahari Bulan Bumi membentuk sudut 90. Gaya tarik Bulan dan Matahari terhadap Bumi berlawanan arah sehingga kekuatannya menjadi berkurang (saling melemahkan) dan terjadilah pasang terendah (rendah). 3. Kedalamannya Laut Dibedakan Menjadi 4 Wilayah (Zona) a. Zona Lithoral Zona Lithoral adalah wilayah pantai atau pesisir atau shore. Di wilayah ini pada saat air pasang tergenang air dan pada saat air laut surut berubah menjadi daratan (Waldopo, 2008). Oleh karena itu wilayah ini sering juga disebut wilayah pasang-surut. b. Zona Neritic (wilayah laut dangkal) Zona Neritic yaitu dari batas wilayah pasang surut hingga kedalaman 150 m. Pada zona ini masih dapat ditembus oleh sinar matahari sehingga pada wilayah ini paling banyak terdapat berbagai jenis kehidupan baik hewan maupun tumbuhtumbuhan. Contohnya laut Jawa, laut Natuna, selat Malaka dan laut-laut di sekitar kepulauan Riau. c. Zona Bathyal (wilayah laut dalam) Zona Bathyal adalah wilayah laut yang memiliki kedalaman antara 150 m hingga 1800 m. Wilayah ini tidak dapat tertembus sinar matahari, oleh karena itu kehidupan organismenya tidak sebanyak yang terdapat di wilayah Neritic. 113

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Volume 1, No 1, Des, 2012 hlmn 111-117

d. Zone Abyssal (wilayah laut sangat dalam) Zone Abyssal yaitu wilayah laut yang memiliki kedalaman di atas 1800 m. Di wilayah ini suhunya sangat dingin dan tidak ada tumbuh-tumbuhan. Jenis hewan yang dapat hidup di wilayah ini sangat terbatas. Untuk lebih memahami penjelasan di atas perhatikan gambar berikut ini.

Gambar 2. bandul timah untuk menggukur kedalaman laut Sumber: Perairaan Darat dan Laut (Waldopo, 2008)

Gambar 1. Zone (wilayah) Laut (Makmur Tanujaya, p.272). Sumber: Perairaan Darat dan Laut (Waldopo, 2008)

4. Bathymetri Bathymetri merupakan kegiatan pengumpulan data kedalaman dasar laut dengan untuk menunjukan kontur kedalaman dasar laut diukur dari posisi 0.00 m LWS (low water spring tide). Selain itu peta Bathymetri juga berfungsi untuk mengetahui kedalaman dasar laut sehingga dalam perencanaan dermaga, kapal dapat disediakan kedalaman yang cukup untuk beroperasi. Pengukuran Bathymetri dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain menggunakan Theodolit, EDM (Electronic Data Measurement) atau yang lebih teliti menggunakan GPS (Geographic Positioning System) sebagai alat ukut jarak jauh. Sedangkan alat ukur kedalaman menggunakan Echosounder beserta alat bantu lainnya Waldopo (2008). a. Teknik Mengukur Kedalaman Laut Ada dua cara yang dapat ditempuh untuk mengukur kedalaman laut yaitu dengan menggunakan teknik bandul timah hitam (dradloading) dan teknik Gema duga atau Echo Sounder atau Echoloading (Waldopo, 2008).

b. GPS (Geographic Positioning System) GPS adalah singkatan dari Global Positioning System yang merupakan sistem untuk menentukan posisi dan navigasi secara global dengan menggunakan satelit (Bakti, 2010). System yang pertamakali dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika ini digunaka untuk kepentingan militer maupun sipil (survei dan pemetaan) Pada dasarnya penentuan posisi dengan GPS adalah penggukuran jarak secara bersama-sama kebeberapa satelit (yang koordinatnya telah diketahui) sekaligus. Untuk menentukan koordinat suatu titik dibumi, setidaknya membutuhkan 4 satelit yang dapat di tengkap sinyalnya dengan baik. Secara posisi atau koordinat yang diperoleh berrefrensi ke global datum yaitu World Geodetic System 1984 atau disingkat WGS 84

Gambar 3. Alat GPSmap 420. (Sumber: Foto Dokumentasi Lapangan)

5. Taksiran Luas Daerah Bidang Tak Beraturan Diberikan bangun datar tak beraturan ABCD seperti pada gambar di bawah. Akan kita tentukan cara menghitung luasnya. Langkah-langkah menghitung luas bangun tak beraturan dengan metode trapesoida. Sisi AB dibagi menjadi n partisi (bagian) yang sama panjang. Misalnya AB dibagi menjadi empat partisi yang sama panjang yaitu t cm. Selanjutnya, tentukan tinggi tiap-tiap partisi (ordinat) yaitu AD, EJ, FI, GH, dan BC. Kemudian nyatakan tiap-tiap ordinat dengan y1, y2, . . . , yn + 1. 114

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Volume 1, No 1, Des, 2012 hlmn 111-117

Gambar 4. AB dibagi menjadi empat partisi. (Sumber: Geometri Dimensi Dua)

= Jadi, rumus mencari luas bangun tak beraturan dengan aturan trapesoida adalah: L= apabila partisi sebanyak 4. C. Metode Penelitian Berikut ini gambaran metode penelitian.

a. Data Pasang Surut Untuk mengetahui batas-batas muka air laut pada saat pasang tertinggi dan surut terendah maka perlu dilakukan pengukuran pasang surut. Batas muka air laut pada saat surut terendah biasanya disebut dengan Low Water Surface (LWS), berguna untuk menentukan alur pelayaran di perairan pelabuhan agar kapal yang akan masuk maupun yang akan keluar dan sebagai acuan untuk penetapan elevasi kontur Tanah, dengan priode pasang surut hasil pengamatan adalah 13 jam 30 menit. Dalam pengamatan ini di ambil satu lokasi di area pelabuahan. Dari hasil pengamatan serta analisa data didapatkan bahwa beda pasang surut sebesar 2 meter, pasang surut tertinggi sebesar 3,60 meter, pasang surut terendah sebesar 1,60 meter, dan muka air rerata sebesar 2,60meter. Tabel 1. Pengamatan pasang surut

Gambar 5. Metode penelitian

D. Hasil Dan Pembahasan 1. Umum Penelitian ini berada di wilayah pantai, tepatnya berada di desa selat baru kecamatan bantan, kabupaten bengkalis propinsi riau. Dengan Koordinat lokasi penelitian pada 48 N 195742 173020 berdasarkan koordinat hasil survey. Sebelum pembuatan kontur dan analisa pendangkalan terlebih dahulu dilakukan pengamatan dan survey dengan menggunakan alat bandul, Echosounder untuk mengetahui kedalaman laut di sekitar pelabuhan Bandar Sri Setia Raja Selat Baru. 2. Membuat Kontur Dasar Laut

Sumber: Data Survey

Gambar 6. Grafik pasang surut (Sumber: Foto Dokumentasi Lapangan)

115

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Volume 1, No 1, Des, 2012 hlmn 111-117

b. Pengolahan Data Tahapan pengolahan data dimulai dari data GPSmap 60 CSx dan GPSmap 420s yang didapat dari hasil survey pengukuran kedalaman dasar laut pada pelabuhan Bandar Sri Setia Raja di Selat Baru. Berikut ini hasil akhir pengolaham data kontur progam surfer 8

Gambar 7. Hasil kontur Map 2D. (Sumber: Hasil pengolahan program surfer8)

3. Anlisa Pendangkalan Analisa pendangkalan pada alur pelayaran Pelabuhan Bandar Sri Setia Raja di Selat Baru dilakukan dengan cara membandingkan dua kontur yaitu kontur hasil pengukuran menggunakan alat bandul dengan kontur hasil pengukuran menggunakan alat Echosounder. Analisa pendangkalan dilakukan dengan cara memotong alur sebayak 11 potongan dengan panjang potongan satu sampai empat 80 meter, jarak antar potongan 100 meter dan setiap potongan di beri titik koordinat sebanyak 5 titik. Berikut ini merupakan gambar potongan alur pelayaran:

pendangkalan alur pelayarn dihitung dengan rumus: Luas Potongan 1 Echosounder: T = 20 m y1 =2,1 m y4 = 2,3 m y2 = 2,1 m y5 = 1,3 m y3 = 2,4 m yi y5 y 2 y3 y 4 L=t 2 2,1 1,3 2,1 2,4 2,3 L = 20 2 L = 20 (1,7 + 6,8) L = 20 (8,5) L = 170 m2 Bandul: T = 20 m y1 = 1,7 m y4 = 2,1 m y2 = 1,9 m y5 = 1 m y3 = 2,3 m yi y5 y 2 y3 y 4 L=t 2 1,7 1 1,9 2,3 2,1 L = 20 2 L = 20 (1,35 + 6,3) L = 20 (7,65) L = 153 m2 Jadi luas daerah tak beraturan potongan 1 ialah L = Echosonder bandul L = 170 153 L = 17 m2 Jadi luas pendangkalan potongan satu adalah 17 m2 Selanjutnya perhitungan luas potongan pendangkalan dilanjutkan pada tabel 4.5, dari potongan 1 sampai 10 berikut: b. Volume pendangkalan Analisa pendangkalan dilanjutkan dengan menghitung volume. Volume ini dihitung dengan metode pendekatan. Yaitu luas pendangkalan dikalikan dengan panjang setiap segmen.

Gambar 8. Potongan Alur Pelayaran. (Sumber: Hasil pengolahan program surfer8).

a. Luas pendangkalan Kemudian nyatakan lima titik koordinat pada potongan dengan y1, y2, y3, y4, y5, Untuk itu salah satu potongan 116

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Volume 1, No 1, Des, 2012 hlmn 111-117

Tabel 2. Data volume pendangkalan

2100 m3 dan total pendangkalan pada pelabuhan Bandar Sri Setia Raja Di Selat Baru ialah 16000 m3 2. Saran Untuk dapat lebih meningkatkan lagi hasil penelitian ada beberapa masukan dan saran dari beberapa pihak yang berhubungan dengan masalah yang dimaksudkan. Dalam hal ini penulis mencoba untuk memberikan beberapa saran yang mungkin dapat menjadi bahan pertimbangan bersama antara lain: a. Bagi mahasiswa yang ingin melak sanakan Tugas Akhir hendaknya lebih di persiapkan lagi dengan membekalai pengetahuan serta ilmu yang cukup, agar selama kegiatan berlangsung mahasiswa tersebut dapat bersosialisasi dan dapat terlibat langsung dengan penelitian Tugas Akhir tersebut. b. Untuk penelitian kedepan sebaiknya dengan area yang lebih luas dan menggunakan perbandingan data kontur tahun sebelumnya. F. DAFTAR PUSTAKA Anwas, M. 1994. bentuk muka bumi. Melalui (http://elcom.umy.ac.id/elschool/muallimin_ muhammadiyah/file.php/1/materi/Geografi/ Bentuk%20muka%20bumi.Pdf). Basir, N. 2010. Model kerentanan pantai terhadapkenaikan muka Air laut dengan memanfaatkan teknologi Penginderaan jauh. Murtianto. 2008. Pengetahuan peta. Melalui (http://file.upi.edu/Direktori/Fpips/Jur._Pend ._Geografi/195805261986031Dede_Sugandi/Bahan-Kartografi.pdf). Pemerintah Kabupaten Bengkalis. 2011. Gambaran Umum Kabupaten Bengkalis. Melalui (http://www.depnakertrans.go.id). Triatmodjo, B. 1996. Pelabuhan. Penerbit Beta Offset. Yogyakarta. Waldopo. 2008. Perairaan Darat dan Laut. Melalui (http://elcom.umy.ac.id/muallimin_muham madiyah/file.php/1/materi/Gegrafi/Perairan %20darat%20dan%20laut.Pdf).

Sumber: Data Survey Dan Analisa Jadi total pendangkalan pada pelabuhan Bandar Sri Setia Raja Di Selat Baru ialah 16000 m3 E. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pembahasan dan analisa yang dilakukan pada bab-bab sebelumnya, maka pada bab terakhir ini penulis dapat menyajikan beberapa kesimpulan dan saran-saran yang bersifat membangun dan bermanfaat yaitu berupa hasil analisa dan pembahasan pendangkalan pada Pelabuhan Bandar Sri Setia Raja Di Selat Baru. Adapun kesimpulan dan sarannya adalah: 1. Kesimpulan Dari hasil analisa dan pembahasan yang dilakukan oleh penulis berdasarkan data survey menggunakan teknik Echosounder dan mengunakan teknik bandul pada pelabuhan Bandar Seri Setia Raja Di Selat Baru, maka disimpulan: a. Dari data survey yang didapatkan hasil pengukuran lapangan di olah menjadi kontur tiga dimensi dan dua dimensi dengan interval kontur 0,5 meter. b. Setelah dilakukan perhitungan hasil penelitian survey menggunakan teknik Echosounder dengan mengunakan teknik bandul, didapat volume pendangkalan yang terbesar pada segmen 4 yaitu pada titik koordinat 48 N 195715 172811 48 N 195635 172811 - 48 N 195653 172909 - 48 N 195733 172909 dengan pendangkalan sebesar

117