Anda di halaman 1dari 37

TOPIK 1 : PENGENDALIAN INFEKSI Rantai Proses Infeksi

.Rantai Proses Infeksi Rantai proses infeksi adalah rangkaian proses masuknya kuman ke dalam tubuh manusia yang dapat menimbulkan radang atau penyakit. Proses tersebut melibatkan beberapa unsur, diantaranya: 1. Reservoir, merupakan habitat pertumbuhan dan perkembangan berupa manusia, binatang, tumbuh maupun tanah. mikroorganisme, dapat

2. Jalan masuk, merupakan jalan msuknya mikroorganisme ke tempat penampungan dari berbagai kuman, seperti saluran pernapasan, pencernaan, kulit dan lain-lain. 3. Inang (host), merupakan tempat berkembangnya suatu mikroorganisme yang dapat didukung oleh ketahanan kuman. 4. Jalan keluar, merupakan tempat keluar mikroorganisme dari reservior, seperti sistem pernapasan, sistem pencernaan, alat kelamin dan lain-lain. 5. Jalur penyebaran, merupakan jalur yang dapat menyebarkan berbagai mikroorganisme ke berbagai tempat, seperti air, makanan,udara dan lain-lain kuman

Cara Penularan Mikroorganisme

Cara Penularan Mikroorganisme Proses penyebaran mikroorganisme ke dalam tubuh, baik pada manusia maupun hewan, dapat melalui berbagai cara, diantaranya: 1. Kontak Tubuh. Kuman masuk ke dalam tubuh melalui proses penyebaran secara langsung maupun tidak langsung. Penyebaran secara langsung melalui sentuhan dengan kulit, sedangkan secara tidak langsung dapat melalui benda yang terkontaminasi kuman. 2. Makanan dan Minuman. Terjadinya penyebaran dapat melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi, seperti pada penyakit tifus abdominalis, penyakit infeksi cacing, dan lain-lain. 3. Serangga. Contoh proses penyebaran kuman melalui serangga adalah penyebaran penyakit malaria oleh plasmodium pada nyamuk aedes dan beberapa penyakit saluran pencernaan yang dapat ditularkan melalui lalat. 4. Udara. Proses penyebaran kuman melalui udara dapat dijumpai pada penyebaran penyakit sistem pernapasan (penyebaran kuman tuberkulosis) atau jenisnya.

Faktor yang Mempengaruhi Proses Infeksi

Faktor yang Mempengaruhi Proses Infeksi Faktor yang mempengaruhi proses infeksi adalah: 1. Sumber penyakit. Sumber penyakit dapat mempengaruhi apakah infeksi berjalan dengan cepat atau lambat. 2. Kuman penyebab. Kuman penyebab dapat menentukan jumlah mikroorganisme, masuk ke dalam tubuh, dan virulensinya. 3. Cara membebaskan sumber dari kuman. Cara membebaskan kuman dapat menentukan apakah proses infeksi cepat teratasi atau diperlambat, seperti tingkat keasaman (pH), suhu, penyinaran (cahaya), dan lain-lain. 4. Cara penularan. Cara penularan seperti kontak langsung, melalui makanan atau udara, dapat menyebabkan penyebaran kuman ke dalam tubuh. 5. Cara masuknya kuman. Proses penyebaran kuman berbeda, tergantung dari sifatnya. Kuman dapat masuk melalui saluran pernapasan, saluran pencernaan, kulit dan lain-lain. 6. Daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang baik dapat memperlambat proses infeksi atau mempercepat proses penyembuhan. Demikian pula sebaliknya, daya tubuh yang buruk dapat memperburuk proses infeksi. Selainfaktor-faktor diatas, terdapat faktor lain seperti status gizi atau nutrisi, tingkat stres pada tubuh, faktor usia, dan kebiasaan yang tidak sehat. Infeksi Nosokomial

Pengertian Infeksi nosokomial adalah infeksi yang diakibatkan dari pemberian pelayanan kesehatan atau terjadi pada fasilitas pelayanan kesehatan. Infeksi ini berhubungan dengan prosedur diagnostik atau terapetik dan sering termasuk memanjangnya waktu tinggal di rumah sakit, sehingga meninggalkan biaya perawatan kesehatan bagi klien dan tenaga pelayanan kesehatan. Sejalan dengan alat bantu untuk pengendalian infeksi ini, perawat harus mengingat bahwa mencuci tangan merupakan teknik yang paling penting dan mendasar dalam mencegah dan mengendalikan infeksi (CDC, 1988). Namun lama ideal untuk mencuci tangan tidak diketahui. Pusat Pengendalian Penyakit (Center Disease Control ) dan Pelayanan Kesehatan Masyarakat mencatat bahwa waktu mencuci tangan sedikitnya 10 sampai 15 detik akan menghilangkan sebagian besar mikroorganisme transien dari kulit (Garner dan Favero, 1985) Infeksi Nosokomial Infeksi nosokomial adalah infeksi yang terjadi dirumah sakit atau dalam sistem pelayanan kesehatan yang berasal dari proses penyebaran di sumber pelayanan kesehatan, baik melalui pasien, petugas kesehatan, pengunjung, maupun sumber lainnya. Sumber Infeksi Nosokomial

Beberapa sumber penyebab terjadinya infeksi nosokomial adalah: 1. Pasien. Pasien merupakan unsur pertama yang dapat menyebarkan infeksi kepada pasien lainnya, petugas kesehatan, pengunjung, atau benda dan alat kesehatan lainnya. 2. Petugas kesehatan. Petugas kesehatan dapat menyebarkan infeksi melalui kontak langsung, yang dapat menularkan berbagai kuman ke tempat lain. 3. Pengunjung. Pengunjung dapat menyebarkan infeksi yang didapat dari luar ke dalam lingkungan rumah sakit, atau sebaliknya yang didapat dari dalam rumah sakit ke luar rumah sakit. 4. Sumber lain. Sumber lain yang dimaksud disini adalah lingkungan rumah sakit yang meliputi lingkungan umum atau kondisi kebersihan rumah sakit, atau alat yang ada dirumah sakit yang dibawa oleh pengunjung atau petugas kesehatan kepada pasien dan sebaliknya.

Sterilisasi dan Disinfeksi Sterilisasi adalah proses (kimia atau fisik) yang dapat membunuh semua jenis mikroorganisme sedangkan desinfeksi adalah proses yang membunuh atau menghilangkan mikroorganisme patogen kecuali spora terutama idealnya semua yang bentuk vegetatif mikroorganisme mati, namun dengan terjadinya pengurangan jumlah mikroorganisme patogen sampai pada tingkat yang tidak membahayakan masih dapat diterima. Sterilisasi dilakukan dalam 4 tahap : Pembersihan sebelum sterilisasi Pembungkusan Proses sterilisasi Penyimpanan yang aseptik.

TUJUANSTERILISASI/DESINFEKSI Adapun tujuan dari sterilisasi dan desinfeksi tersebut adalah Mencegah terjadinya infeksi Mencegah makanan menjadi rusak Mencegah kontaminasi mikroorganisme dalam industri Mencegah kontaminasi terhadap bahan- bahan yg dipakai dalam melakukan biakan murni. JENIS-JENIS STERILISASI Sterilisasi Panas/Fisik

Sterilisasi Filtrasi Sterilisasi Radiasi Sterilisasi Kimia a. Sterilisasi dengan cara Panas Panas Kering o Pembakaran (inceneration) - 100% efektif - Terbatas penggunaannya: ose dan sengkelit o Sterlisasi dengan udara panas (hot air terilization) - menggunakan oven suhu 160-180 0C - Waktu relatif lama sekitar 1-2 jam - Digunakan untuk alat-alat yang tahan panas (petridis, pipet, tabung reaksi, labu erlenmayer, dll) o Hubungan antara waktu sterilisasi dengan suhu PANAS BASAH o Otoklaf menggunakan suhu 121 C dan tekanan 15 lbs Cara kerjaterjadi koagulasi Untuk mengetahui autoklaf berfungsi dengan baik digunakan Bacillus stearothermophilus Bila media yang telah distrerilkan diinkubasi selama 7 hari berturut-turut selama 7 hari: - Media keruh otoklaf rusak - Media jernih otoklaf baik o Keterkaitan antara suhu dan tekanan dalam autoklaf Merebus (boiling) - Teknik disinfeksi termurah

- Waktu 15 menit setelah air mendidih - Beberapa bakteri tidak terbunuh dengan teknik ini: Clostridium perfingens dan Cl. botulinum Pasteurisasi - Pertama dilakukan oleh Pasteur - Digunakan pada sterilisasi susu - Membunuh kuman: tbc, brucella, Streptokokus, Staphilokokus, Salmonella, Shigella dan difteri (kuman yang berasal dari sapi/pemerah) - Suhu 65 C 30 menit b. Sterilisasi dengan Cara Kimia Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada disinfeksi kimia Rongga (space) Sebaiknya bersifat membunuh (germisid) Waktu (lamanya) disinfeksi harus tepat Pengenceran harus sesuai dengan anjuran Solusi yang biasa dipakai untuk membunuh spora kuman biasanya bersifat sangat mudah menguap Sebaiknya menyediakan hand lation merawat tangan setelah berkontak dengan disinfekstan

Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi dengan cara kimia: 1. Jenis bahan yang digunakan 2. Konsentrasi bahan kimia 3. Sifat Kuman 4. pH 5. Suhu Beberapa Zat Kimia yang sering digunakan untuk sterilisasi

Alkohol - Paling efektif utk sterilisasi dan desinfeksi - Mendenaturasi protein dengan jalan dehidrasi membran sel rusak & enzim tdk aktif

Halogen - Mengoksidasi protein kuman

Yodium - Konsentrasi yg tepat tdk mengganggu kulit - Efektif terhadap berbagai protozoa

Klorin - Memiliki warna khas dan bau tajam - Desinfeksi ruangan, permukaan serta alat non bedah

Fenol (as. Karbol) - Mempresipitasikan protein secara aktif, merusak membran sel menurunkan tegangan permukaan - Standar pembanding untuk menentukan aktivitas suatu desinfektan

Peroksida (H2O2) - Efektif dan nontoksid - Molekulnya tidak stabil - Menginaktif enzim mikroba

Gas Etilen Oksida - Mensterilkan bahan yang terbuat dari plastik c. Sterilisasi dengan Radiasi

Sinar Ungu Ultra (Ultraviolet) - Memiliki daya antimikrobial sangat kuat - Daya kerja absorbsi as. Nukleat - Panjang gelombang: 220-290 nm paling efektif 253,7 nm

- Kelemahan penetrasi lemah Sinar Gamma - Daya kerjanya ion bersifat hiperaktif - Sering digunakan pada sterilisasi bahan makanan, terutama bila panas menyebabkan perubahan rasa, rupa atau penampilan - Bahan disposable: alat suntikan cawan petri dpt distrelkan dgn teknik ini - Sterilisasi dengan sinar gamma disebut juga sterilisasi dingin - Sterilisasi dengan Cara Penyaringan Menyaring cairan - Digunakan untuk bahan yang peka terhadap panas: serum, urea, enzim - Menggunakan berbagai filter - Saringan Sietz asbes - Berkefeld tanah diatomae - Chamberland porselen - Fritted glass filter serbuk gelas - Cellulose Asetat pada industri minuman - Kelemahan banyak filtrat tersisa pada saringan, virus lolos, hanya sekali pakai Menyaring udara - Menggunakan penyaring HIPA (High-Efficiency Particulate Air) - Filter terdiri dari lipatan selulose asetat - Memungkinkan udara tersaring bebas dari debu dan bakteri - Sistem pengaliran udara menggunakan laminar flow bench udara yang masuk tersaring lebih dahulu. 2.4 DESINFEKSI Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen. Disinfektan yang tidak berbahaya bagi permukaan tubuh dapat digunakan

dan bahan ini dinamakan antiseptik. Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan mikroorganisme pada jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan pada benda mati. Desinfektan dapat pula digunakan sebagai antiseptik atau sebaliknya tergantung dari toksisitasnya. Sebelum dilakukan desinfeksi, penting untuk membersihkan alat-alat tersebut dari debris organik dan bahan-bahan berminyak karena dapat menghambat proses disinfeksi. Disinfektan dapat membunuh mikroorganisme patogen pada benda mati. Disinfektan dibedakan menurut kemampuannya membunuh beberapa kelompok mikroorganisme, disinfektan "tingkat tinggi" dapat membunuh virus seperti virus influenza dan herpes, tetapi tidak dapat membunuh virus polio, hepatitis B atau M. tuberculosis. Untuk mendesinfeksi permukaan dapat dipakai salah satu dari tiga desinfektan seperti iodophor, derifat fenol atau sodium hipokrit. Untuk mendesinfeksi permukaan, umumnya dapat dipakai satu dari tiga desinfektan diatas. Tiap desinfektan tersebut memiliki efektifitas "tingkat menengah" bila permukaan tersebut dibiarkan basah untuk waktu 10 menit. Kriteria desinfeksi yang ideal: Bekerja dengan cepat untuk menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur dan kelembaban Tidak toksik pada hewan dan manusia Tidak bersifat korosif Tidak berwarna dan meninggalkan noda Tidak berbau/ baunya disenangi Bersifat biodegradable/ mudah diurai Larutan stabil Mudah digunakan dan ekonomis Aktivitas berspektrum luas

Pencegahan Infeksi 1. Beberapa definisi dalam pencegahan infeksi, antara lain adalah : a. Antisepsis Antisepsis adalah usaha mencegah infeksi dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada kulit atau jaringan tubuh lainnya.

b. Asepsis atau Teknik Aseptik Asepsis atau teknik aseptik adalah semua usaha yang dilakukan dalam mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang mungkin akan menyebabkan infeksi. Caranya adalah menghilangkan dan atau menurunkan jumlah mikroorganisme pada kulit, jaringan dan benda - benda mati hingga tingkat aman. c. Dekontaminasi Dekontaminasi adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan dapat menangani secara aman benda-benda (peralatan medis, sarung tangan, meja pemeriksaan) yang terkontaminasi darah dan cairan tubuh. Cara memastikannya adalah segera melakukan dekontaminasi terhadap benda - benda tersebut setelah terpapar/terkontaminasi darah atau cairan tubuh d. Disinfeksi Tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan hampir semua mikroorganisme penyebab penyakit pada benda benda mati atau instrumen. e. Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT) Suatu proses yang menghilangkan mikro organisme kecuali beberapa endospora bakteri pada benda mati dengan merebus, mengukus, atau penggunaan desinfektan kimia. f. Mencuci dan membilas Suatu proses yang secara fisik menghilangkan semua debu, kotoran, darah, dan bagian tubuh lain yang tampak pada objek mati dan membuang sejumlah besar mikro organisme untuk mengurangi resiko bagi mereka yang menyentuh kulit atau menangani benda tersebut (proses ini terdiri dari pencucian dengan sabun atau deterjen dan air, pembilasan dengan air bersih dan pengeringan secara seksama). g. Sterilisasi Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit), termasuk endospora bakteri pada benda-benda mati atau instrumen. 2. Prinsip-prinsip pencegahan infeksi yang efektif berdasarkan : a. Setiap orang (ibu, bayi baru lahir, penolong persalinan) harus dianggap dapat menularkan penyakit karena infeksi yang terjadi bersifat asimptomatik (tanpa gejala). b. Setiap orang harus dianggap beresiko terkena infeksi. c. Permukaan tempat pemeriksaan, peralatan dan benda-benda lain yang akan dan telah bersentuhan dengan kulit tak utuh, selaput mukosa, atau darah harus dianggap

terkontaminasi sehingga setelah selesai digunakan harus dilakukan proses pencegahan infeksi secara benar. d. Jika tidak diketahui apakah permukaan, peralatan atau benda lainnya telah diproses dengan benar, harus dianggap telah terkontaminasi. e. Resiko infeksi tidak bisa dihilangkan secara total tetapi dapat dikurangi hingga sekecil mungkin dengan menerapkan tindakan-tindakan pencegahan infeksi yang benar dan konsisten. 3. Tindakan-tindakan pencegahan infeksi meliputi : a. Cuci tangan b. Memakai sarung tangan c. Memakai perlengkapan pelindung d. Menggunakan asepsis atau teknik aseptik e. Memproses alat bekas pakai f. Menangani peralatan tajam dengan aman g. Menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan serta pembuangan sampah secara benar. Proses Keperawatan

Proses Keperawatan : Masalah-masalah pada Pengendalian Infeksi, Etiologi (Patofisiologi) tiap masalah kebutuhan, Pengkajian Keperawatan, Diagnosa Perawatan, Perencanaan Keperawatan tiap DP,Tindakan Keperawatan tiap DP,dan Evaluasi tiap DP

Evaluasi keperawatan

Evaluasi terhadap masalah resiko infeksi (penyebaran kuman) secara umum dilakukan untuk menilai ada atau tidaknya tanda infeksi nosokomial seperti penyebaran kuman ke pasien atau orang lain.

Evaluasi Keperawatan Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilaukan dengan cara bersinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya.

Penilaian dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam melaksanakan rencana tindakan yang telah ditentukan, untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan klien secara optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan. Penilaian keperawatan adalah mungukur keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan dalam memenuhi kebutuhan klien.

TUJUAN Tujuan umum : 1. Menjamin asuhan keperawatan secara optimal 2. Meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.

Tujuan khusus : 1. Mengakhiri rencana tindakan keperawatan 2. Menyatakan apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum 3. Meneruskan rencana tindakan keperawatan 4. Memodifikasi rencana tindakan keperawatan 5. Dapat menentukan penyebab apabila tujuan asuhan keperawatan belum tercapai MANFAAT : 1. Untuk menentukan perkembangan kesehatan klien 2. Untuk menilai efektifitas, efisiensi dan produktifitas asuhan keperawatan yang diberikan 3. Untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan 4. Sebagai umpan balik untuk memperbaiki atau menyusun siklus baru dalam proses keperawatan 5. Menunjang tanggung gugat dan tanggung jawab dalam pelaksanaan keperawatan

KRITERIA : Kriteria Proses (evaluasi proses) : menilai jalannya pelaksanaan proses keperawatan sesuai dengan situasi, kondisi dan kebutuhan klien. Evaluasi proses harus dilaksanakan segera setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk membantu keefektifan terhadap tindakan. Kriteria keberhasilan (evaluasi hasil/sumatif) : menilai hasil asuhan eperawatan yang diperlihatkan dengan perubahan tingkah laku klien. Evaluasi ini dilaksanakan pada akhir tindakan keperawatan secara paripurna.

TEKNIK PENILAIAN : 1. Wawancara 2. Pengamatan 3. Studi dokumentasi

LANGKAH-LANGKAH EVALUASI : 1. Menentukan kriteria, standar dan pertanyaan evaluasi 2. Mengumpulkan data baru tentang klien 3. Menafsirkan data baru 4. Membandingkan data baru dengan standar yang berlaku 5. Merangkum hasil dan membuat kesimpulan 6. Melaksanakan tindakan yang sesuai berdasarkan kesimpulan

MENGUKUR PENCAPAIAN TUJUAN : Kognitif : meliputi pengetahuan klien terhadap penyakitnya, mengontrol gejala, pengobatan, diet, aktifitas, persediaan alat, resiko komplikasi, gejala yang harus dilaporkan, pencegahan, pengukuran dan lainnya. Interview : recall knowledge (mengingat), komprehensif (menyatakan informasi dengan kata-kata klien sendiri), dan aplikasi fakta (menanyakan tindakan apa yang akan klien ambil terait dengan status kesehatannya) Kertas dan pensil Affektif : meliputi tukar-menukar perasaan, cemas yang berurang, kemauan berkomunikasi, dsb. Observasi secara langsung Feedback dari staf esehatan yang lainnya Psikomotor : observasi secara langsung apa yang telah dilakukan oleh lien Perubahan fungsi tubuh dan gejala

HASIL EVALUASI : Tujuan tercapai : jika klien menunjukkan perubahan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan

Tujuan tercapai sebagian : jika klien menunjukkan perubahan sebagian dari standar dan kriteria yang telah ditetapan Tujuan tidak tercapai : jika klien tidak menunjukkan perubahan dan kemajuan sama sekali dan bahkan timbul masalah baru.

BEBERAPA HAL YANG PERLU DIPERTANYAKAN DALAM EVALUASI : Kecukupan informasi Relevansi faktor-faktor yang berkaitan Prioritas masalah yang disusun Kesesuaian rencana dengan masalah Pertimbangan fator-faktor yang unik Perhatian terhadap rencana medis untuk terapi Logika hasil yang diharapkan Penjelasan dari tindakan keperawatan yang dilakukan Keberhasilan rencana yang telah disusun Kualitas penyusunan rencana Timbulnya masalah baru

Diagnosis Keperawatan PENGERTIAN Diagnosis Keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976 & NANDA). Diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan analisis dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian keperawatan klien. Diagnosis keperawatan memberikan gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata (aktual) dan kemungkinan akan terjadi, dimana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat. KOMPONEN DIAGNOSIS KEPERAWATAN Rumusan diagnosis keperawatan mengandung tiga komponen utama, yaitu :

1. Problem (P/masalah), merupakan gambaran keadaan klien dimana tindakan keperawatan dapat diberikan. Masalah adalah kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya tidak terjadi. Tujuan : menjelaskan status kesehatan klien atau masalah kesehatan klien secara jelas dan sesingkat mungkin. Diagnosis keperawatan disusun dengan menggunakan standart yang telah disepakati (NANDA, Doengoes, Carpenito, Gordon, dll), supaya : Perawat dapat berkomunikasi dengan istilah yang dimengerti secara umum Memfasilitasi dan mengakses diagnosa keperawatan Sebagai metode untuk mengidentifikasi perbedaan masalah keperawatan dengan masalah medis Meningkatkan kerjasama perawat dalam mendefinisikan diagnosis dari data pengkajian dan intervensi keperawatan, sehingga dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan.

2. Etiologi (E/penyebab), keadaan ini menunjukkan penyebab keadaan atau masalah kesehatan yang memberikan arah terhadap terapi keperawatan. Penyebabnya meliputi : perilaku, lingkungan, interaksi antara perilaku dan lingkungan.

Unsur-unsur dalam identifikasi etiologi : Patofisiologi penyakit : adalah semua proses penyakit, akut atau kronis yang dapat menyebabkan / mendukung masalah. Situasional : personal dan lingkungan (kurang pengetahuan, isolasi sosial, dll) Medikasi (berhubungan dengan program pengobatan/perawatan) : keterbatasan institusi atau rumah sakit, sehingga tidak mampu memberikan perawatan. Maturasional : Adolesent : ketergantungan dalam kelompok Young Adult : menikah, hamil, menjadi orang tua Dewasa : tekanan karier, tanda-tanda pubertas.

3. Sign & symptom (S/tanda & gejala), adalah ciri, tanda atau gejala, yang merupakan informasi yang diperlukan untuk merumuskan diagnosis keperawatan. Jadi rumus diagnosis keperawatan adalah : PE / PES.

Persyaratan Penyusunan Diagnosis Keperawatan

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Perumusan harus jelas dan singkat dari respon klien terhadap situasi atau keadaan yang dihadapi Spesifi dan akurat (pasti) Dapat merupakan pernyataan dari penyebab Memberikan arahan pada asuhan keperawatan Dapat dilaksanakan oleh perawat Mencerminan keadaan kesehatan klien.

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Menentukan Diagnosis Keperawatan 1. 2. 3. Berorientasi kepada klien, keluarga dan masyarakat Bersifat aktual atau potensial Dapat diatasi dengan intervensi keperawatan

4. Menyatakan masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat, serta faktor-faktor penyebab timbulnya masalah tersebut.

Pengkajian Keperawatan Merupakan tindakan mengkaji ada atau tidaknya faktor yang mempengaruhi atau menyebabkan infeksi, seperti penurunan daya tahan tubuh, status nutrisi, usia stres, dan lain-lain. Pengakajian selanjutnya adalah memeriksa ada atau tidaknya tanda klinik infeksi (seperti pembengkakan, kemerahan, panas, nyeri pada daerah lokalisasi infeksi) dan tanda sistematik (seperti demam, malaise, anoreksia, sakit kepala, muntah, atau diare). 2. Diagnosis Keperawatan Hal yang perlu diperhatikan adalah resiko terjadinya infeksi yang berhubungan dengan proses penyebaran kuman. 3. Perencanaan Keperawatan Tujuan : Mencegah terjadinya infeksi atau penyebaran kuman. Rencana Tindakan : Melakukan tindakan untuk menghambat penyebaran kuman, seperti mencuci tangan, memakai masker, memakai sarung tangan, sterilisasi, dan desinfeksi

Pelaksanaan (tindakan) Keperawatan 1)Cara mencuci tangan

Mencuci kedua tangan merupakan prosedur awal yang dilakukan perawat dalam memberikan tindakan keperawatan yang bertujuan membersihkan tangan dari segala kotoran, mencegah terjadinya infeksi silang melalui tangan, dan mempersiapkan bedah atau tindakan pembedahan. Prosedur kerja Lepaskan segala benda yang melekat pada daerah tangan, seperti cincin atau jam tangan. Basahi jari tangan, lengan, hingga siku dengan air, kemudian sabuni dan sikat bila perlu. Bilas dengan air bersih yang mengalir dan keringkan dengan handuk atau lap kering.

a)Teknik mencuci biasa Alat dan bahan Air bersih Handuk Sabun Sikat lunak

b)Teknik mencuci dengan disinfektan Alat dan bahan Air bersih Larutan disinfektan lisol atau savlon. Handuk atau lap kering

c)Teknik mencuci steril Alat dan bahan Air mengalir Sikat steril dalam tempat Alkohol 70% Sabun

Pengkajian Keperawatan

Pengkajian merupakan tahap awal proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. Tahap pengkajian merupakan pemikiran dasar dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. Pengkajian yang lengkap, akurat, sesuai kenyataan, kebenaran data sangat penting untuk merumuskan suatu diagnosa keperawatan dan dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan respon individu. Data Dasar adalah kumpulan data yang berisikan mengenai status kesehatan klien,kemampuan klien untuk mengelola kesehatan terhadap dirinya sendiri, dan hasil konsultasi dari medis atau profesi kesehatan lainnya. Data Fokus adalah data tentang perubahan-perubahan atau respon klien terhadap kesehatan dan masalah kesehatannya serta hal-hal yang mencakup tindakan yang dilaksanakan terhadap klien. Fokus Pengkajian Keperawatan Pengkajian keperawatan tidak sama dengan pengkajian medis. Pengkajian medis difokuskan pada keadaan patologis, sedangkan pengkajian keperawatan ditujukan pada respon klien terhadap masalah-masalah kesehatan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Misalnya dapatkah klien melakukan aktivitas sehari-hari, sehingga fokus pengkajian klien adalah respon klien yang nyata maupun potensial terhadap masalah-masalah aktifitas harian. Pulta (Pengumpulan Data) Pengumpulan data adalah pengumpulan informasi tentang klien yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah-masalah, serta kebutuhan-kebutuhan keperawatan dan kesehatan klien. Pengumpulan informasi merupakan tahap awal dalam proses keperawatan. Dari informasi yang terkumpul, didapatkan data dasar tentang masalah-masalah yang dihadapi klien. Selanjutnya data dasar tersebut digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan, merencanakan asuhan keperawatan, serta tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah-masalah klien. Pengumpulan data dimulai sejak klien masuk ke rumah sakit (initial assessment), selama klien dirawat secara terus-menerus (ongoing assessment), serta pengkajian ulang untuk menambah / melengkapi data (re-assessment). Tujuan Pengumpulan Data 1. 2. 3. 4. Memperoleh informasi tentang keadaan kesehatan klien. Untuk menentukan masalah keperawatan dan kesehatan klien. Untuk menilai keadaan kesehatan klien. Untuk membuat keputusan yang tepat dalam menentukan langah-langkah berikutnya.

Tipe Data : 1. Data Subjektif

adalah data yang didapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian. Informasi tersebut tidak bisa ditentukan oleh perawat, mencakup persepsi, perasaan, ide klien tentang status kesehatannya. Misalnya tentang nyeri, perasaan lemah, ketakutan, kecemasan, frustrasi, mual, perasaan malu. 2. Data Objektif adalah data yang dapat diobservasi dan diukur, dapat diperoleh menggunakan panca indera (lihat, dengar, cium, raba) selama pemeriksaan fisik. Misalnya frekuensi nadi, pernafasan, tekanan darah, edema, berat badan, tingkat kesadaran. Karakteristik Data 1. Lengkap Data yang terkumpul harus lengkap guna membantu mengatasi masalah klien yang adekuat. Misalnya klien tidak mau makan selama 3 hari. Perawat harus mengkaji lebih dalam mengenai masalah klien tersebut dengan menanyakan hal-hal sebagai berikut: apakan tidak mau makan karena tidak ada nafsu makan atau disengaja? Apakah karena adanya perubahan pola makan atau hal-hal yang patologis? Bagaimana respon klien mengapa tidak mau makan. 2. Akurat dan nyata Untuk menghindari kesalahan, maka perawat harus berfikir secara akurat dan nyata untuk membuktikan benar tidaknya apa yang didengar, dilihat, diamati dan diukur melalui pemeriksaan ada tidaknya validasi terhadap semua data yang mungkin meragukan. Apabila perawat merasa kurang jelas atau kurang mengerti terhadap data yang telah dikumpulkan, maka perawat harus berkonsultasi dengan perawat yang lebih mengerti. Misalnya, pada observasi : klien selalu diam dan sering menutup mukanya dengan kedua tangannya. Perawat berusaha mengajak klien berkomunikasi, tetapi klien selalu diam dan tidak menjawab pertanyaan perawat. Selama sehari klien tidak mau makan makanan yang diberikan, jika keadaan klien tersebut ditulis oleh perawat bahwa klien depresi berat, maka hal itu merupakan perkiraan dari perilaku klien dan bukan data yang aktual. Diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk menetapkan kondisi klien. Dokumentasikan apa adanya sesuai yang ditemukan pada saat pengkajian. 3. Relevan Pencatatan data yang komprehensif biasanya menyebabkan banyak sekali data yang harus dikumpulkan, sehingga menyita waktu dalam mengidentifikasi. Kondisi seperti ini bisa diantisipasi dengan membuat data komprehensif tapi singkat dan jelas. Dengan mencatat data yang relevan sesuai dengan masalah klien, yang merupakan data fokus terhadap masalah klien dan sesuai dengan situasi khusus. Sumber Data 1. Sumber data primer Klien adalah sumber utama data (primer) dan perawat dapat menggali informasi yang sebenarnya mengenai masalah kesehatan klien. 2. Sumber data sekunder

Orang terdekat, informasi dapat diperoleh melalui orang tua, suami atau istri, anak, teman klien, jika klien mengalami gangguan keterbatasan dalam berkomunikasi atau kesadaran yang menurun, misalnya klien bayi atau anak-anak, atau klien dalam kondisi tidak sadar. 3. Sumber data lainnya

1. Catatan medis dan anggota tim kesehatan lainnya. Catatan kesehatan terdahulu dapat digunakan sebagai sumber informasi yang dapat mendukung rencana tindakan perawatan. 2. Riwayat penyakit Pemeriksaan fisik dan catatan perkembangan merupakan riwayat penyakit yang diperoleh dari terapis. Informasi yang diperoleh adalah hal-hal yang difokuskan pada identifikasi patologis dan untuk menentukan rencana tindakan medis. 3. Konsultasi Kadang terapis memerlukan konsultasi dengan anggota tim kesehatan spesialis, khususnya dalam menentukan diagnosa medis atau dalam merencanakan dan melakukan tindakan medis. Informasi tersebut dapat diambil guna membantu menegakkan diagnosa. 4. Hasil pemeriksaan diagnostik Seperti hasil pemeriksaan laboratorium dan tes diagnostik, dapat digunakan perawat sebagai data objektif yang dapat disesuaikan dengan masalah kesehatan klien. Hasil pemeriksaan diagnostik dapat digunakan membantu mengevaluasi keberhasilan dari tindakan keperawatan. 5. Perawat lain Jika klien adalah rujukan dari pelayanan kesehatan lainnya, maka perawat harus meminta informasi kepada perawat yang telah merawat klien sebelumnya. Hal ini untuk kelanjutan tindakan keperawatan yang telah diberikan. 6. Kepustakaan. Untuk mendapatkan data dasar klien yang komprehensif, perawat dapat membaca literatur yang berhubungan dengan masalah klien. Memperoleh literatur sangat membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang benar dan tepat. Metoda Pengumpulan Data 1. Wawancara 2. Observasi 3. Pemeriksaan fisik 4. Studi Dokumentasi KEBUTUHAN OKSIGENASI

Pengertian Oksigenasi Kebutuhan oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang di gunakan untuk kelangsungan metabolism sel tubuh mempertahankan hidup dan aktivitas berbagai organ atau sel. Oksigenasi adalah pemenuhan akan kebutuhan oksigen (O2). Kebutuhan fisiologis oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, untuk mempertahankan hidupnya, dan untuk aktivitas berbagai organ atau sel. Apabila lebih dari 4 menit orang tidak mendapatkan oksigen maka akan berakibat pada kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki dan biasanya pasien akan meninggal.

I.

II. Sistem Tubuh Yang Berperan Dalam Kebutuhan Oksigenasi 1. Sistem Pernafasan Sistem pernafasan terdiri dari organ pertukaran gas yaitu paru-paru dan sebuah pompa ventilasi yang terdiri atas dinding dada, otot-otot pernafasan, diagfragma, isi abdomen, dinding abdomen dan pusat pernafasan di otak. Pada keadaan istirahat frekuensi pernafasan 12-15 kali per menit. Ada 3 langkah dalam proses oksigenasi yaitu ventilasi, perfusi paru dan difusi. 1). Ventilasi Ventilasi adalah proses keluar masuknya udara dari dan paru-paru, jumlahnya sekitar 500 ml. Ventilasi membutuhkan koordinasi otot paru dan thoraks yang elastis serta persyarafan yang utuh. Otot pernapasan inspirasi utama adalah diagfragma.Diafragma dipersyarafi oleh saraf frenik, yang keluarnya dari medulla spinalis pada vertebra servikal keempat. Udara yang masuk dan keluar terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara antara intrapleura dengan tekanan atmosfer, dimana pada inspirasi tekanan intrapleural lebih negative (725 mmHg) daripada tekanan atmosfer (760 mmHG) sehingga udara masuk ke alveoli. Kepatenan Ventilasi terganutung pada faktor : 1. Kebersihan jalan nafas, adanya sumbatan atau obstruksi jalan napas akan menghalangi masuk dan keluarnya udara dari dan ke paru-paru. 2. Adekuatnya sistem saraf pusat dan pusat pernafasan 3. Adekuatnya pengembangan dan pengempisan paru-paru 4. Kemampuan otot-otot pernafasan seperti diafragma, eksternal interkosa, internal interkosa, otot abdominal.

2). Perfusi Paru

Perfusi paru adalah gerakan darah melewati sirkulasi paru untuk dioksigenasi, dimana pada sirkulasi paru adalah darah deoksigenasi yang mengalir dalam arteri pulmonaris dari ventrikel kanan jantung.Darah ini memperfusi paru bagian respirasi dan ikut serta dalam proses pertukaan oksigen dan karbondioksida di kapiler dan alveolus. Sirkulasi paru merupakan 8-9% dari curah jantung. Sirkulasi paru bersifat fleksibel dan dapat mengakodasi variasi volume darah yang besar sehingga digunakan jika sewaktu-waktu terjadi penurunan voleme atau tekanan darah sistemik. 3). Difusi Oksigen terus-menerus berdifusi dari udara dalam alveoli ke dalam aliran darah dan karbon dioksida (CO2) terus berdifusi dari darah ke dalam alveoli. Difusi adalah pergerakan molekul dari area dengan konsentrasi tinggi ke area konsentrasi rendah. Difusi udara respirasi terjadi antara alveolus dengan membrane kapiler. Perbedaan tekanan pada area membran respirasi akan mempengaruhi proses difusi. Misalnya pada tekanan parsial (P) O2 di alveoli sekitar 100 mmHg sedangkan tekanan parsial pada kapiler pulmonal 60 mmHg sehingga oksigen akan berdifusi masuk ke dalam darah. Berbeda halnya dengan CO 2 dengan PCO2 dalam kapiler 45 mmHg sedangkan pada alveoli 40 mmHg maka CO2 akan berdifusi keluar alveoli. Anatomi paru Paru-paru merupakan sebuah organ yang sebagian terdiri dari gelembung-gelembung udara atau alveoli. Paru-paru dibagi menjadi 2 bagian, yaitu : 1) Paru-paru kanan, terdiri dari 3 lobus, yaitu lobus superior, lobus media, dan lobus inferior. 2) Paru-paru kiri, terdiri dari 2 lobus, yaitu lobus superior dan lobus inferior. (Syaifuddin, 1997).

Gambar 1. Lobus Pulmo Sinistra dan dekstra. (Syaifuddin, 1997)

Bronkhus terminalis masuk ke dalam saluran yang agak lain yang disebut Vestibula, dan di sini membrane pelapisnya mulai berubah sifatnya; lapisan epitelium bersilia diganti dengan sel epitelium yang pipih. Dari Vestibula berjalan beberapa Infundibula dan di dalam dindingnya dijumpai kantongkantong udara itu. Kantong udara atau Alveoli itu terdiri atas satu lapis tunggal sel epitelium pipih, dan di sinilah darah hamper langsung bersentuhan dengan udara hingga suatu jaringan pembuluh darah kapiler mengitari Alveoli dan pertukaran gas pun terjadi. (Evelyn C. P, 2002).

Gambar Bronkhliolus didalam Alveoli. (Pearce. E. C, 2002) 3. Sistem Kardiovaskuler a. Struktur dan letak jantung

2.

Diagram

dari

akhiran

sebuah

Jantung terbagi oleh sebuah septum (sekat) menjadi dua belah, yaitu kiri dan kanan. Setiap belahan kemudian dibagi menjadi dua ruang, pada bagian di atas disebut atrium dan bagian bawah disebut ventrikel. Pada masing-masing belahan terdapat satu atrium dan satu ventrikel. Atrium dan ventrikel dihubungkan oleh lubang yang terdapat katup, pada bagian sebelah kanan disebut katup (valvula) trikuspidalis dan pada bagian sebelah kiri disebut katub mitral atau katub bikuspidalis. (Pearce, 1999) Jantung terbungkus oleh membran yang disebut perikardium. Membran ini terdiri atas dua lapisan dalam dan luar. Lapisan dalam disebut perikardium viseralis (membran serus yang lekat sekali pada jantungnya) dan lapisan luar disebut perikardium parentalis (lapisan yang membungkus jantung sebagai kantong longgar). Keduanya dipisahkan oleh cairan pelumas yaitu cairan serus yang berfungsi mengurangi gesekan pada gerakan memompa dari jantung itu sendiri. Jantung terdiri dari tiga lapisan, antara lain: epikardium (luar), miokardium (otot), endokardium (lapisan dalam/endotel).

Gambar 1. Struktur jantung dan perjalanan aliran darah melalui kamar jantung, sesuai petunjuk anak panah b. Fisiologi jantung

Jantung berfungsi sebagai pemompa darah dari pembuluh vena ke dalam sirkulasi pulpomal paru-paru vena, vena pulmonalis, atrium kiri, lewat katup mitral, ventrikel kiri, katup aorta, arteri, arteriola, kapiler, venula, vena, vena cava inferior, dan kembali ke atrium kanan yang disebut sirkulasi sistematik, sedangkan aliran darah dari atrium kanan masuk lewat katup trikuspidalis, sirkulasi paru-paru yang disebut sirkulasi pulmonalis. Gangguan aliran dalam jantung mengakibatkan oksigenasi tidak adekuat, darah arteri dan vena tercampur yang mengakibatkan perfusi sel-sel berkurang. Gerakan jantung terdiri atas dua jenis, yaitu kontraksi (systole) dan relaksasi (diastole). Kontraksi kedua atrium terjadi serentak disebut systole atrial dan relaksasi atrium disebut diastole atrial, demikian pula untuk kontraksi ventrikel disebut systole ventrikel dan relaksasi ventrikel disebut diastole ventrikel. Kontraksi ventrikel lamanya 0,3 detik dan relaksasi lamanya 0,5 detik. Kontraksi kedua atrium pendek sedangkan kontraksi ventrikel lebih lama dan kuat. Daya pompa jantung pada organ yang sedang istirahat berdebar sekitar 70 kali/menit dan memompa 70 ml setiap denyutan. Dengan demikian jumlah darah yang dipompa setiap menit sekitar 5 liter. Sewaktu banyak bergerak kecepatan denyut jantung dapat mencapai 150 kali/menit, sehingga daya pompa jantung adalah 20-25 liter/menit. (Evelya C. Pearce, 2002).

Gambar 2. Gambaran skematik aliran darah melalui system kardiovaskuler 4. Hematologi Oksigen membutuhkan transport dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida dari jaringan ke paru-paru. Sekitar 97% oksigen dalam darah dibawa eritrosit yang telah berikatan dengan hemoglobin (Hb) dan 3% oksigen larut dalam plasma. Setiap sel darah merah mengandung 280 juta molekul Hb dan setiap molekul dari keempat molekul besi dalam hemoglobin berikatan dengan satu molekul oksigen membentuk oksihemoglobin (HbO2). Reaksi pengikatan Hb dengan O2 dipengaruhi oleh suhu, Ph, konsentrasi 2,3 difosfogliserat dalam darah merah. Dengan demikian besarnya Hemoglobin (Hb) dan jumlah eritrosit akan mempengaruhi transport gas. III. Proses Oksigenasi a) Ventilasi

merupakan proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer. Proses ventilasi di pengaruhi oleh beberapa hal, yaitu adanya perbedaan tekanan antara atmosfer dengan paru, semakin tinggi tempat maka tekanan udara semakin rendah, demikian sebaliknya, semakin rendah tempat tekanan udara semakin tinggi. Pengaruh proses ventilasi selanjutnya adalah complienci dan recoil. Complience merupakan kemampuan paru untuk mengembang. sedangkan recoil adalah kemampua CO2 atau kontraksi menyempitnya paru. b) Difusi Gas Difusi gas merupakan pertukaran antara oksigen dialveoli dengan kapiler paru dan co2 di kapiler dengan alveoli.Proses pertukaran ini dipengaruhi oleh beberapa paktor, yaiti luasnya permukaan paru, tebal membran respirasi / permeabilitas yang terdiri atas epitel alveoli dan interstisial( keduanya dapat mempengaruhi proses difusi apabila terjadi proses penebalan).Perbedaan tekanan dan konsentrasi O2 (hal ini sebagai mana o2 dari alveoli masuk kedalam darah oleh karena tekanan O2 dalam rongga alveoli lebih tinggi dari tekanan O2 dalam darah vena pulmonalis, masuk dalam darah secara difusi).

c)

Transfortasi Gas Transfortasi gas merupakan proses pendistribusian O2 kapiler ke jaringan tubuh dan Co2 jaringan tubuh ke kaviler.Transfortasi gas dapat dipengaruhi olehy beberapa factor, yaitu curah jantung (kardiak output), kondisi pembuluh darah,latihan (exercise), perbandingan sel darah dengan darah secara keseluruhan (hematokrit), serta elitrosit dan kadar Hb.

IV.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Oksigenasi

Saraf Otonomik Rangsangan simpatis dan parasimpatis dari saraf otonomik dapat mempengaruhi kemampuan untuk dilatasi dan konstriksi, hal ini dapat terlihat simpatis maupun parasimpatis. Ketika terjadi rangsangan, ujung saraf dapat mengeluarkan neurotsransmiter (untuk simpatis dapat mengeluarkan norodrenalin yang berpengaruh pada bronkodilatasi dan untuk parasimpatis mengeluarkan asetilkolin yang berpengaruh pada bronkhokonstriksi) karena pada saluran pernapasan terdapat reseptor adrenergenik dan reseptor kolinergik.

Pengaruh saraf otonomik

Simpatis

Parasimpatis

Ujung saraf mengeluarkan neurotransmiter

Noradrenalin

Aserilkolin

Bronkondilatasi

Bronkontriksi

Semua hormon termasuk derivate catecholamine dapat melebarkan saluran pernapasan. Alergi pada Saluran Napas Banyak faktor yang dapat menimbulkan alergi, antara lain debu yang terdapat dalam hawa pernapasan , bulu binatang, serbuk benang sari bunga, kapuk, makanan, dan lain-lain. Perkembangan Tahap perkembangan anak dapat memengaruhi jumlah kebutuhan oksigenasi, karena usia organ dalam tubuh berkembang seiring usia perkembangan. Lingkungan Kondisi lingkungan dapat memengaruhi kebutuhan oksigenasi, seperti faktor alergi, ketinggian tanah, dan suhu.kondisi tersebut memengaruhi kemampuan adaptasi. Perilaku Factor perilaku yang dapat memengaruhi kebutuhan oksigenasi adalah perilaku dalam mengoonsumsi makanan (status nutrisi).

V. Jenis Pernapasan Pernapasan Eksternal Pernapasan eksternal merupakan proses masuknya O2 dan keluarnya CO2 dari tubuh, sering disebut sebagai pernapasan biasa. Proses pernapasan ini dimulai dari masuknya oksigen melalui hidung dan mulut pada waktu bernapas, kemudian oksigen masuk melalui trakea dan pipa bronchial ke alveoli, lalu oksigen akan menembus membrane yang akan diikat oleh Hb sel darah merah dan dibawa ke jantung. Setelah itu, sel darah

merah dipompa oleh arteri ke seluruh tubuh untuk kemudian meninggalkan paru dengan tekanan oksigen 100 mmHg. Pernapasan Internal Pernapasan internal merupakan proses terjadinya pertukaran gas antar sel jaringan dengan cairan sekitarnya yang sering melibatkan proses metabolism tubuh, atau juga dapat di katakana bahwa proses pernapasan ini di awali dengan darah yang telah menjenuhkan Hb-nya kemudian mengitari seluruh tubuh dan akhirnya mencapai kapiler dan bergerak sangat lambat.

VI. Pengukuran Fungsi Paru Kemampuam faal paru dapat di nilai dari volume dan kapasitas paru. Volume Paru 1. Volume pasang surut merupakan jumlah udara keluar-masuk paru pada saat terjadi pernapasan biasa. Pada orang sehat, besarnya volume pasang surut rata-rata adalah 500 cc. 2. Volume cadangan hisap merupakan jumlah udara yang masih bias di hirup secara maksimal setelah menghirup udara pada pernapasan biasa. Pada orang dewasa, besarnya volume cadangan hisap adalah 300 cc. 3. Volume cadangan hembus merupakan jumlah adara yang masih bisa dihembuskan secara maksimal setelah menghembuskan udara pada pernapasan biasa. Pada orang dewasa, besarnya volume cadangan hembus dapat mencapai 1100 cc. 4. Volume sisa merupakan jumlah udara yang masih tertinggal di dalam paru meskipun telah menghembuskan nafas secara maksimal. Pada orang dewasa, besarnya volume sisa rata-rata adalah 1200 cc. Kapasitas Paru 1. Kapasitas hisap merupakan jumlah dari volume pasang surut dan volume cadangan hisap. 2. Kapasitas cadangan fungsional merupakan jumlah dari volume cadangan hembus dengan volume sisa. 3. Kapasitas vital merupakan jumlah dari volume cadangan hembus, volume pasang surut, dan volume cadangan hisap. 4. Jumlah keseluruhan volume udara yang ada di dalam paru terdiri atas volume pangan surut, volume cadangan hembus, volume cadangan hisap, dan volume hisap. VII. Masalah Kebutuhan Oksigen Hipoksia Hipoksia merupakan kondisi tidak tercukupinya pemenuhan kebutuhan oksigen dalam tubuh akibat difisiensi oksigen atau peningkatan penggunaan oksigen dalam tingkat sel, di tandai dengan adanya warna kebiruan pada kulit (sianosis).

Perubahan pola pernapasan 1. Tachipnea, merupakan pernafasan yang memiliki frekuensi lebih dari 24 kali per menit. 2. Bradypnea, merupakan pola pernapasan yang lambat dan kurang dari 10 kali per menit. 3. Hiperventilasi, merupakan cara tubuh dalam mengompensasi peningkatan jumlah oksigen dalam paru agar pernapasan lebih cepat dan dalam. 4. Kusmaul, merupakan pola pernapasan cepat dan dangkal yang dapat ditemukan pada orang dalam keadaan asidosis metabolic. 5. Hipovontilasi, merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan karbondioksida dengan cukup yang dilakukan pada saat ventilasi alveolar serta tidak cukupnya penggunaan oksigen yang ditandai dengan adanya nyeri kepala, penurunan kesadaran disorientasi, atau ketidakseimbangan elektrolit yang dapat terjadi akibat atelektasis, lumpuhnya otototot pernafasan, defresi pusat pernafasan, peningkatan tahanan jalan udara, penurunan tahanan jaringan paru, dan toraks, sertta penurunan compliance paru dan toraks. 6. Dispnea, merupakan perasaan sesal dan berat saat pernafasan. 7. Orthopnea, merupakan kesulitan bernafas kecuali dalam posisi duduk atau berdiri dan pola ini sering ditemukan pada seseorang yang mengalami kongestif paru. 8. Cheyne stokes, merupakan siklus pernafasan yang amplitudonya mula-mula naik, turun, berhenti, kemudian mulai dari siklus baru. 9. Pernapasan paradoksial, merupakan pernapasan yang ditandai dengan pergerakan dinding paru yang berlawanan atah dari keadaan normal, seriong ditemukan pada keadaan atelektasis. 10. Biot, merupakan pernapasan dengan irama yang mirip dengan cheyne stokes, tetapi amplitudonya tidak teratur. 11. Esteridor, merupakan pernapasan bising yang terjadi karena penyempitan pada saluran pernapasan.

Obstuksi jalan napas Obstuksi jalan napas (bersihan jalan napas) merupakan kondisi pernapasan yang tidak normal akibat ketidakmampuan bentuk secara efektif, dapat disebabkan oleh sekresi yang kental atau berlebihan akibat penyakit infeksi, imobilisasi, statis sekresi, dan batuk tidak efektif karena penyakit persarapan.

Pertukaran gas Pertukaran gas merupakan kondisi penurunan gas, baik oksigen maupuin karbondioksida antara alveoli paru dan system vascular, dapat disebabkan oleh sekresi yang kental atau imobilisasi akibat penyakit system saraf, depresi susunan saraf pusat, atau penyakit radang pada paru. VIII. Proses Keperawatan Pada Masalah Kebutuhan Oksigenasi Pengkajian Keperawatan

1. Riwayat Keperawatan Pengkajian riwayat keperawatan pada masalah kebutuhan oksigen meliputi: ada atau tidaknya riwayat gangguan pernapasan ( gangguan hidung dan tenggorokan), seperti epsitaksis (kondisi akibat luka/kecelakaan,penyakit rematik akut,sinusitis akut, hipertensi, gangguan pada sstem peredaran darah, dan kanker), obstuksinasal (kondisi akibat polip,hipertropi tulang hidung,tumor, dan inpluenz), dan keadaan lain yang menyebabkan gangguan pernapasan. Pada tahap pengkajian keluhan atau gejala, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan infeksi kronis dari hidung,sakit pada daerah sinus, otitis media, keluhan nyeri pada tenggorokan, kenaikan suhu tubuh hingga sekitar 38,5 C, sakit kepala, lemas ,sakit perut hingga muntah-muntah(pada anak-anak), faring berwarna merah dan adanya edema. 2. Pola Batuk dan Produksi Sputum Tahap pengkajian pola batuk dilakukan dengan cara menilai apakah batuktermasuk batuk kering,keras,dan kuat dengan suara mendesing, berat, dan berubah-ubah seperti kondisi pasien mengalami penyakit kanker. Juga dilakukan pengkajian apakah pasien mengalami sakit pada bagian tenggorokan saat batuk kronis dan produktif serta saat di mana pasien sedang makan, merokok, atau saat malam hari. Pengkajian terhadap lingkungan tempat tinggal pasien (apakah berdebu, penuh asap, dan adanya kecendrungan mengakibatkan alergi) perlu dilakukan. Pengkajhian sputum dilakukan dengan cara memeriksa warna, kejernihan, dan apakah bercampur darah terhadap sputum yang dikeluarkan oleh pasien. 3. Sakit dada Pengkajian terhadap sakit dada dilakukan untuk mengetahui bagian yang sakit, luas, intensitas, factor yang menyebabkan rasa sakit, perubahan nyeri dada apabila posisi pasien berubah, serta ada atau tidaknya hubungan antara waktu insfirasi dan ekspirasi dengan rasa sakit. 4. Pengkajian fisik Inspeksi. Pengkajian ini meliputi: pertama, penentuan tipe jalan napas, seperti menilai apakah napas spontan melalui hidung, mulut, oral, nasal, atau menggunakan selang endotrakeal atau tracheostomi, kemudian menentukan status kondisi seperti kebersihan, ada atau tidaknya secret, pendarahan, bengkak, atau obstruksi mekanik; kedua, penghitungan frekuensi pernapasan dalam waktu satu menit (umumnya, wanita bernapas sedikit lebih cepat; ketiga, pemeriksaan sifat parnapasan, yaitu torakal, abdominal, atau kombinasi keduanya (pernapasan torakal atau dada adalah mengembang dan mengempisnya rongga toraks sesuau dengan irama inspirasi dan ekspirasi. Palpasi. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi kelainan, seperti tekanan yang dapat timbul akibat luka, peradangan setempat, metastasis tumor ganas, pleuritis, atau pembengkokan dan benjolan pada dada.palpasi dilakukan untuk menentukan besar, konsistensi, suhu, apakah dapat atau tidak digerakkan dari dasarnya. Melalui palpasi dapat diteliti gerakan dinding toraks pada saat inspirasi dan ekspirasi terjadi. Cara ini juga dapat dilakukan dari belakang dengan meletakkan kedua tangan pada kedua sisi tulang belakang.

Perkusi. Pengkajian ini bertujuan untuk menilai norma atau tidaknya suara perkusi paru. Suara perkusi normal adalah suara perkusi sonor, yang bunyinya seperti kata dug-dug. Suara perkusi lain yang dianggap tidak normal adalah redup, seperti pada infiltrate, konsolidasi, dan epusi pleura. Auskultasi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai adanya suara napas, diantaranya suara napas dasar dan suara napas tambahan. Sura napas dasar adalah suara napas pada orang dengan paru yang sehat. Suara napas tambahan adalah suara yang terdengar pada dinding toraks berasal dari kelainan pada paru, termasuk bronkus, alveoli, dan pleura. 5. Pemeriksaan Laboratorium Selain pemeriksaan laboratorium Hb, leukosit, dan lain-lain yang dilakukan secara rutin, juga dilakukan pemeriksaan sputum guna melihat kuman dengan cara mikroskopis. Uji resistensi dapat dilakukan secara kultu, untuk melihat sel tumor dengan pemeriksaan sitologi. Bagi pasien yang menerima pengobatan dalam waktu lama, harus dilakukan pemeriksaan sputum secara periodi. 6. Pemeriksaan Diagnostik Rontgen Dada. Penapisan yang dapat dilakukan, misalnya untuk melihat lesi paru pada penyakit tuberculosis, mendeteksi adanya tumor, benda asing, pembengkakan paru, penyakit jantung, dan untuk melihat struktur yang abnormal. Juga penting untuk melengkapi pemeriksaan pisik dengan gejala tidak jelas, sehingga dapat menentukan besarnya kelainan, lokasi, dan keadanya, misalnya kelainan jaringan dan tulang pada dinding toraks, difragma yang abnormal, kemampuan berkembang diafragma pada waktu respirasi, dan keadan abnormal posisi jantung. Fluoroskopi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui mekanisme kardiopulmonum, misalnya kerja jantung,diafragma, Bronkografi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat secara visual bronkus sampai dengan cabang brokus apda penyakit gangguan bronkus atau kasus displacement dari bronkus. Angiografi. Pemeriksaan ini untuk membantu menegakan diagnosis tentang keadaan paru, emboli atau tumor paru, aneurisma, emfisema, kelainan konginetal,dan lain-lain. Endoskopi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melakukan dianostik dengan cara mengambil sekret untuk pemeriksaan,melihat lokasi kerusakan, biopsy jaringan, unt, uk pemeriksaan sitilogi, mengetahui adanya tumor, melihat letak terjadinya pendarahan; untuk terapeutik, misalnya mengambil benda asing dan menghilangkan sekret yang menutupi lesi. Radio Isotop. Pemeriksaan ini bertujuan untuk manila lobus paru, melihat adanya emboli paru. Ventilasi scaning untuk mendeteksi ketidaknormalan ventilasi, misalnya pada emfisema. Scaning gallium untuk mendeteksiperadangan pada paru. Pada keadaan normal paru hanya menerima sedikit atau sama sekali tidak gallium yang lewat, tetapi gallium sangat banyak terdapat pada infeksi. Mediastenoskopi. Mediastenoskopi merupakan endoskopi mediastinum untuk melihat penyebaran tumor.mediastenistomi bertujuan untuk memeriksa medisatinim bagian depan dan menilai, aliran limpa pada paru, biasanya dilakukan pada penyakit saluran pernapasan bagian atas.

7. Diagnosis Keperawatan 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan: Produksi sekresi yang kental atau belebihan akibat penyakit infeksi. Imobilisasi, setatis sekresi, batuk tidak efektif akibat penyakit system saraf, depresi susunan saraf pusat, dan CVA. Efek sedatif dari obat, pembedahan (bedah torak), trauma, nyeri, kelelahan, gangguan kognitif dan persepsi. Depresi refleks batuk. Penurunan oksigen dalam udara inspirasi. Berkurangnya mekanisme pembersihan silia dan respons peradangan. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan: Penyakit infeksi pada paru. Depresi pusat pernafasan. Lemahnya otot pernafasan. Turunnya ekspansi paru. Obstruksi trakea. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan: Perubahan suplai oksigen. Obstruksi saluran pernafasan. Adanya penumpukan cairan dalam paru. Atelektaksis. Bronkospasme. Adanya edema paru. Tindakan pembedahan paru. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan: Adanya perdarahan. Adanya edema. Imobilisasi. Menurunnya aliran darah. Vasokonstriksi. Hipovolumik. Perencaanan keperawatan Tujuan: 1. Mempertahankan jalan nafas agar efektif. 2. Mempertahankan pola nafas agar kembali efektif. 3. Mempertahankan pertukaran gas. 4. Memperbaiki perfusi jaringan. Rencana Tindakan:

1. Mempertahankan jalan nafas agar efektif. Awasi perubahan status jalan nafas dengan memonitor jumlah, bunyi, atau status kebersihannya. Berikan humidifier (pelembab). latihan tindakan pembersihan jalan nafas dengan fibrasi,clapping, atau postural drainase (jika perlu lakukan suction). Ajarkan teknik batuk yang efektif dan cara menghindari allergen. Pertahankan jalan nafas agar tetap terbuka dengan memasang jalan nafas buatan, seperti oropharyngeal/ nasopharyngeal airway, intubasi endotrakea, atau trankheostomi sesuai dengan indikasi. Kerja sama dengan tim medis dalam memberikan obat bronkhodilataor. 2. Mempertahankan pola pernafasan kembali efektif. Awasi perubahan status pola pernafasan. Atur posisi sesuai dengan kebutuhan (semifowler. Berikan oksigenasi. Lakukan suction bila memungkinkan. Berikan nutrisi tinggi protein dan rendah lemak. Ajarkan teknik pernapasan dan relaksasi yang benar. 3. Mempertahankan pertukaran gas Awasi perubahan status pernapasan. Atur posisi sesuai dengan kebutuhan (semifowler) Berikan oksigenasi. Lakukan suction bila memungkinkan. Berikan nutrisi tinggi protein dan rendah lemak. Ajarkan teknik bernapas dan relaksasi yang benar. Pertahankan berkembangnya paru dengan memasang ventilasi mekanis,chest tube, dan chest drainase sesuai dengan indikasi. 4. Memperbaiki perfusi jaringan. Kaji perubahan tingkat perfusi jaringan (capillary refill time). Berikan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan. Pertahankan asupan dan pengeluaran. Cegah adanya perdarahan. Hindari terjadinya valsava maneuver seperti mengedan, menahan napas, dan batuk. Pertahankan perfpeusi dengan tranfusi sesuai dengan indikasi.

Pelaksanaan (Tindakan) Keperawatn 1. Latihan Napas Tujuan Tujuan pemberian terapi oksigen adalah :

Mempertahankan oksigen jaringan yang adekuat. Menurunkan kerja nafas Menurunkan kerja jantung. Indikasi Pemberian Terapi Oksigen

Mencegah atau mengatasi hypoxia Penurunan PaCO2 dengan gejala dan tanda-tanda hypoxia, dyspneu, tachypneu, gelisah disorentasi, apatis, kesadaran menurun. Keadaan lain : gagal nafas akut, shock, keracunan CO Latihan napas merupakan cara bernapas untuk memperbaiki ventiasi alveoliatau memelihara petukaran gas,mencegah atelektaksis, meningkatkan efisiensi batuk,dan mengurangi stress. Prosedur kerja: 1. 2. 3. 4. Cuci tangan Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. Atur posisi(duduk atau tidur telentang). Anjurkan untuk mulai latihan dengan cara menarik napas melalui hidung dengan mulut tertutup. 5. Anjurkan untuk menahan napas selama 1-1,5 detik ,kemudian disusun dengan menghembuskan napas melalui bibir dengan bentuk mulut mencuci atau seperti orang meniup. 6. Catat respon yang terjadi. 7. Cuci tangan. 2. Latihan Batuk Efektif Latihan batuk efektif merupakan cara untuk melatih pasien yang tidcara ak memiliki kemampuan batuk secara efektif dengan tujuan untuk membersihkan laring, trakea, dan beronkeolus dari sekret atau benda asing di jalan napas. Prosedur Kerja Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan di lakukan. Atur posisi pasien dengan duduk di tepi tempat tidur membungkuk ke depan. Anjurkan untuk menarik napas secara pelan dan dalam denagan menggunakan pernapasan diafragma. 5. Setelah itu tahan napas kurang lebih 2 detik. 6. Batukan 2 kali dengan mulut terbuka. 7. Tarik napas dengan ringan. 8. Istirahat. 9. Catat respon yang terjadi. 10. Cuci tangan. 3. Pemberian Oksigen Pemberian oksigen merupakan tindakan keperawatan dengan cara memberikan oksigen ke dalam paru melalui saluran pernapasan dengan menggunakan alat bantu oksigen.Pemberian oksigen 1. 2. 3. 4.

pada pasien dapat dilakukan melalui tiga cara,yaitu melalui kanula,nasal,dan masker dengan tujuan memenuhi kebuthan oksigen dan mencegah terjadinya hipoksia. Alat dan Bahan: 1. Tabung oksigen lengkap dengan flowmeter dan humifer. 2. Nasal kateter,kanula,atau masker. 3. vaselin/jeli. Prosedur Kerja: Cuci tangan. jelaskan prosedur yang akan dilakukan. Cek flowmeter dan humidifier. Hidupkan tabung oksigen. Atur pasien pada posisi semifowler atau sesuai dengan kondisi pasien. Berikan oksigen melalui kanula atau masker. Apabila menggunakan kateter,terlebih dulu ukur jarak hidung dengan telinga,setelah itu beri jeli dan masukkan. 8. Catat pemberian dan lakukan observasi. 9. Cuci tangan. 4. Fisiotrapi Dada Fisiotrapi dada merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan dengan cara postural drainase, clapping, dan vibrating pada pasien dengan gangguan system perapasan. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan efisiensi pola pernafasan dan membersihkan jalan nafas. Alat dan Bahan: 1. 2. 3. 4. Pot sputum berisi desinfektan. Kertas tisu. Dua balok tempat tidur (uantuk postural drainase). Satu bantal (untuk postural drainase). Postural Drainase Posisi untuk postural drainage 1) Bronkhus apikal lobus anterior kanan dan kiri atas dengan klien duduk di kursi, bersandar pada bantal 2) Bronkhus apikal lobus posterior kanan dan kiri atas dengan klien duduk di kursi, menyandar ke depan pada bantal atau meja 3) Bronkhus lobus anterior kanan dan kiri atas dengan klien berbaring datar pada bantal kecil dibawah lutut 4) Bronkhus lobus lingual kiri atas dengan klien berbaring miring ke kanan dan lengan di atas kepala pada posisi trendelenberg, dengan kaki tempat tidur ditinggikan 30 cm. Letakan bantal di belakang punggung dan klien digulingkan seperempat putaran keatas bantal 5) Bronkhus lobus kanan tengah klien berbaring miring ke kiri dan tinggikan kaki tempat tidur 30 cm. Letakkan bantal di belakang punggung, dan klien digulingkan seperempat putaran ke atas bantal 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

6) Bronkhus lobus anterior kanan dan kiri bawah klien berbaring terlentang dengan posisi trendelenberg, kaki tempat tidur ditinggikan 45-50 cm. Biarkan lutut menekuk di atas bantal 7) Bronkhus lobus lateral kanan bawah klien berbaring miring ke kiri pada posisi trendelenberg dengan kaki tempat tidur ditinggikan 45-5O cm 8) Bronkhus lobus lateral kiri bawah klien berbaring miring ke kanan pada posisi trendelenberg dengan kaki tempat tidur ditinggikan 40-50 cm 9) Bronkhus lobus superior kanan dan kiri bawah klien berbaring tengkurap dengan bantal di bawah lambung 10) Bronkhus basalis posterior kanan dan kiri klien berbaring tengkurap dalam posisi trendelenberg dengan kaki tempat tidur ditinggikan 45-50 cm Prosedur kerja: 1. 2. 3. 4. 5. Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan. Miringkan tubuh pasien kea rah kiri (untuk membersihkan paru bagian kanan). Miringkan paru kea rah kanan (untuk membersihkan paru ke arah kiri). Miringkan tubuh pasien kea rah kiri dan tubuh bagian belakang kanan disokong dengan satu bantal (untuk membersihkan lobus bagian tengah). 6. Lakukan postural drainase kurang lebih 10-15 menit. 7. Observasi tanda vital selam prosedur. 8. Setelah pelaksanaan postural drainase, lakukan clapping,vibrating, dan suction. 9. Lakukan hingga lender bersih. 10. Catat respon yang terjadi. 11. Cuci tangan. Clapping 1. Cuci tangan. 2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. 3. Atur posisi pasien sesuai dengan kondisinya. 4. Lakuakan clapping dengan cara kedua tangan perawat menepuk punggung pasien secara bergantian untuk merangsang terjadinya batuk. 5. Bila pasien sudah batuk, berhenti sebenar dan anjurkan untuk menapung pada pot sputum. 6. Lakukan hingga lender bersih. 7. Catat respon yang terjadi. 8. Cuci tangan. Vibrating 1. Cuci tangan. 2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. 3. Atur posisi pasien sesuai dengan kondisi. 4. Lakukan vibrating dengan cara anjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.Kedua tangan perawat diletakan dibagian atas samping depan cekungan iga, kemudian getarkan secara perlahan, dan lakukan berkali-kali sehingga pasien terbatuk.

5. Bila pasien sudah terbatuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk menampungnya apda pot sputum. 6. Lakukan hingga lender bersih. 7. Catat respons yang terjadi. 8. Cuci tangan 5. Penghisapan Lendir Penghisapan lendir ( suction) merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien tidak mampu mengeluarkan sekret atau lendir sendiri.Tindakan ini bertujuan membersihkan jalan napas dan memenuhi kebutuhan oksigenasi.

Alat dan Bahan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Alat penghisap lendir dengan botol berisi laruntan desinfektan. Kateter penghisap lendir. Pinset steril. Sarung tangan steril. Dua buah kom berisi larutan aqua des atau NaCl 0,9% dan larutan desinfektan. Kasa steril. Kertas tisu.

Prosedur Kerja: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Cuci tangan. Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan. Atur pasien pada posisi telentang dengan kepala miring ke arah perawat. Gunakan sarung tangan. Hubungkan kateter penghisap denmgan selang penghisap. Hidupkan mesin penghisap. Lakukan penghisapan lendir dengan memasukan kateter penghisap ke dalam kom berisi aquades atau NaCl 0,9% untuk mencegah trauma mukosa. 8. Masukan kateter penghisap dalam keadaan tidak menghisap. 9. Tarik dengan memutar kateter penghisap kurang dari 3-5 detik. 10. Bilas kateter dengan aquades atau NaCl 0,9%. 11. Lakukan hingga lendir bersih. 12. Catac respons yang terjadi. 13. Cuci tangan Evaluasi Keperawatan Evaluasi terhadap masalah kebutuhan oksigen secara umum dapat dinilai dari adanya kemampuan dalam: 1. Mempertahankan jalan napas secara efektif yang ditunjukan dengan adanya kemampuan untuk bernapas, jalan napas bersih, tidakl ada sumbatan, frekuensi, irama, dan kedalaman napas normal, serta tidak ditemukan adanya tanda hipoksia.

2. Mempertahankan pola napas secara efektif yang ditunjukan dengan adanya kemampuan untuk bernapas, frekuensi, irama, dan kedalaman napas normal, tidak ditemukan adanya hipoksia, serta kemampuan paru berkembang dengan baik. 3. Mempertahankan pertukaran gas secara efektif yang ditunjukan dengan adanya kemampuan untuk bernapas, tidak ditemukan dispnea pada usaha napas, inspirasi dan ekspirasi dalam batas normal,serta saturasi oksigen dan pCo2 dalam keadaan normal. 4. Meningkatkan perfusi jaringan yang ditunjukan dengan adanya kemampuan pengisian kapiler, frekuensi, irama, kekuatan nadi dalam batas normal, dan status hidrasi normal.

KESIMPULAN

Kebutuhan oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang di gunakan untuk kelangsungan metabolism sel tubuh mempertahankan hidup dan aktivitas berbagai organ atau sel. Proses Oksigenasi : Transfortasi Gas Ventilasi Difusi Gas Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Oksigenasi Saraf Otonomik Alergi pada Saluran Napas Perkembangan Perilaku Lingkungan Jenis Pernapasan Pernapasan Eksternal Pernapasan Internal

DAFTAR PUSTAKA

A.Aziz Alimul H. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Salemba Medika. 2006 . Jakarta. http://iwansain.wordpress.com/2007/08/22/kebutuhan-oksigenasi/