Anda di halaman 1dari 28

PERKEMBANGAN SPIRITUALITAS MAKALAH diajukan untuk memenuhi tugas pada Mata Kuliah Carring dan Spiritualitas Program studi

S1 Keperawatan

Oleh Albertus Budi (30120110001) Antonius Eko Y (30120110003) Jenni Veronika S (3012011000 ) Lenny Marlina A. (30120110012) Sunli Sipayung (30120110020) Yuliana Natalia N (30120110023)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO BORROMEUS PADALARANG 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat dan karunia yang telah diberikan, kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah tentang Perkembangan Spiritualitas. Pembuatan makalah ini, dimaksudkan untuk membantu para mahasiswa dalam mencapai tujuan mata ajar Caring dan Spiritualitas karya sehingga para mahasiswa mampu meningkatkan wawasan dan pengetahuannya. Penulisan isi makalah ini masih jauh dari sempurna serta masih perlu dikembangkan lebih lanjut lagi sebagaimana mestinya, mungkin hal ini dikarenakan faktor kemampuan dan lain sebagainya yang menghambat proses pembuatannya, namun untuk memenuhi tugas dengan dosen Sr. Sofie Gusnia CB; BSN ; M.Kep ini, penulis berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan dari semua pihak, guna untuk perbaikan dan kesempurnaan isi dari makalah ini. Semoga makalah ini mampu memberikan konstribusi positif dan bermakna dalam proses pembelajaran. Akhir kata kami sebagai penulis mengucapkan terimakasih bagi semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Bandung, April 2013

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Ketika merawat pasien dengan cara menghormati hubungan jiwa-tubuh-spirit dan hadir

bersama pasien, penyeia perawatan kesehatan menghormati pasien sebagai manusia utuh. Dengan cara membiasakan diri dengan karakteristik dan elemen hakiki spiritualitas untuk merawat pasien, perawat menjadi pembasmi penyakit namun mereka berperan sebagai penyembuh sejati. Para penyedia perawatan semakin sadar untuk memusatkan perhatian pada hubungan antara spiritualitas dan kesehatan. Perkembangan zaman menuntut tersedianya perawatan yang meliputi suatu prespektif yang lebih holistic mencakup seluruh aspek jiwa, tubuh dan spiritualitas seseorang. Namun dalam kenyataannya spiritualitas dalam perawatan pasien sering terabaikan, karena tidak ada definisi atau kerangka kerja konseptual yamg lengkap, ditambah dengan terbatasnya kesempatan unuk pelatihan spiritualitas dan pengembangan profesionalitas di kalangan penyedia perawatan kesehatan. 1.2. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan makalah tentang Perkembangan Spiritualitas sebagai berikut Tujuan umum : Mahasiswa S1 Keperawatan Tingkat3 dapat memahami konsep dasar mengenai perkembangan spiritualitas. Tujuan khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan Perkembangan Spiritualitas Mahasiswa mampu memahami beberapa teori mengenai perkembangan spiritualitas.

BAB II TINJAUAN TEOROTIS

A. PENGERTIAN 1. Spiritualitas merupakan hakikat daari siapa dan bagaimana manusia hidup di dunia dan seperti nafas, spiritualitas amat penting bagi kepentingan manusia. (Dorsey, et all.2000) 2. Istilah spiritualitas diturnkan dari kata latin spirtus yang berarti nafas. Istilah ini juga berkaitan erat dengan kata pneuma dari bahasa yunaniyang berarti nafas, yang mengacu pada hidup atau jiwa. 3. Dalam artikel berjudul Culture, Spirituality, and Womens Health lebih lanjut menjelaskan Jika kita percaya bahwa spiritualitas meresap dalam seluruh pengalaman manusia daripada sekedar tempelan, kita harus menerima kebenaran spiritualitas sebagai bagian integral bagi kesehatan atau kebugaran atau kesejahteraan. 4. Spiritualitas merupakan perasaan, pemikiran, pengalaman, dan perilaku tang timbul dari pencarian akan yang kudus. (Boudreaux, OHea dan Chasuk, 2002:39) 5. Spiritualitas merupakan daya semangat, prinsip hidup atau hakikat eksistensi manusia, yang meresapi hidup dan diungkapkan serta dialami dalam tali temali hubungan antara diri sendiri, sesame, alam dan ALLAH atau sumber hidup. Karena spiritual dibentuk melalui pengalaman cultural, spirituallitas merupakan pengalaman manusia yang bersifat universal. 6. Dalam buku spiritualitas care Taylor 2002 mencatat bahwa kamus mendefinisikan spiritualitas dalam banyak istilah sebagai berikut:

Suci Moral Kudus ilahi Berasal dari mukzizat murni Intelektual dan anugrah budi yang tinggi Roh atau entitas supranatural Sangat murni dalam pikiran dan perasaan

B. Perkembangan Spiritualitas 1. Perkembangan Spiritualitas dan iman Pada Anak- Anak

Selama proses ini, masing- masing anak semakin menyadari tentang arti, tujuan, dan nilainilai dalam hidup mereka. Begitu juga iman; ia berkembang melintasi waktu; ia adalah hasil sekaligus prasyarat bagi pertumbuhan spiritual ( Fultone dan Moore, 1995). Integritas spiritualitas adalah kebutuhan dasar manusia sebab hal itu memberikan makna bagi kehidupan sehari- hari. Spiritualitas pada anak juga bukanlah hal yang berbeda. Hart dan Schneidr 1997, mengartikan spiritualitas pada anak sebagai kemampuan seorang anak, lewat relasi- relasi dengan orang lain, untuk memperoleh nilai- nilai pribadi dan pemberdayaan diri ( Hlm. 263). Relasi anak dengan orang lain sebagaimana relasinya dengan Tuhan atau nilai- nilai membawa mereka pada perkembangan spiritualitas tersebut. Pengalaman religius dan spiritual dapat berpengaruh secara kuat pada kehidupan anakanak, maka mempengaruhi perkembangan moral, gagasan tentang relasi- relasi sosial, cara mempersepsikan diri dan perilaku mereka, dan cara menghubungkan peristiwa- peristiwa keseharian dengan pandangan spiritual yang lebih luas ( Barnes et. all.,2000).Pada masa ini perkembangan spiritulitas pada anak menurut beberapa ahli menyebutkan dapat di kelompkan menjadi:

A. Masa Bayi (Infancy) Kebutuhan spiritual pertama dari seorang bayi adalah kasih tanpa bersyarat dan kebutuhan ini pertama-tama terpenuhi lewat relasi bayi dengan orang tua atau pengasuh terdekatnya. Bayi sepenuhnya tergantung pada ibunya ( atau pengasuh terdekatnya) untuk mendapatkan kebutuhan- kebutuhan fisik, emosi, dan sosial, serta untuk menegmbangkan kepercayaan mereka. Lewat kepercayaan mereka, mereka mulai berharap bahwa kebutuhan mereka akan seterusnya dipenuhi di masa depan dan harapan bahwa orang- orang terdekat itu akan selalu membawa kenyamanan. a) Erikson menyebut periode psikososial ini ( kelahiran usia 2 tahun) sebagai tahap kepercayaan dasar versus kecurigaan dasar, saat dimana pondasi bagi pengharapan dan identitas diri dibangun. Pada tahap ini, pemahaman bayi tentang Tuhan masih samar- samar dan respon- respon lebih terarah pada lingkungan yang hangat dan penuh cinta daripada hukuman sebagai usaha memperbaiki kesalahan. (Hart &Schneider, 1997;Hitchcock, Schubert, dan Thomas, 1999; Shelly, 1982) b) Piaget menyebut fase ini (kelahiran usia 2 tahun ) sebagai fase sensori motor sebab bayi pertama- tama tergantug pada alat- alat inderanya, keterampilan motorik, dan reflek- reflek untuk memahami dunia dan menyelesaikan masalah. ( Hart& Schneider, 1997; Hitchcock 1999 et all). c) Fowler menyebut tahap perkembangan iman ini ( masa bayi hingga usia 3 tahun ) sebagai tahap 0 atau tak terdiferensiasikan yang berarti bahwa si bayi tidak memiliki kemampuan untuk merumuskan gagasan atau mengkomunikasikan pemahaman/ konsep tentang dirinya kepada lingkungan (Betz, 1981) bayi tidak memiliki penilaian benar salah dan belum ada keyakinan- keyakinan religius atau spiritual. ( Hart&Schneider; 1997) seluruh konsep mereka tentang diri dan dunia dikembangkan lewat alat- alat indera. d) Shelly 1982, kebutuhan seseorang akan makna dan tujuan akan hadir sejak masa bayi. Kebutuhan akan cinta dan keterhubungan adalah pondasi untuk bertahan hidup. Bayi yang tidak dicintai akan gagal untuk tumbuh, bahkan

akan meninggal. Ketika bayi dirawat oleh seorang ibu yang penuh kasih, baik hati, lembut, dan yang memenuhi kebutuhna- kebutuhannya, ia mulai mengembangkan kepercayaan dan terutama adalah iman yang dideskripsikan sebagai suatu kepercayaan kepada seseorang atau sesuatu (Betz, 1981, hlm. 22). e) Perkembangan iman pada masa bayi disebut dengan iman

indiferen/undifferentiated faith suatu tahap awal ( masa bayi) ketika benihbenih kepercayaan, keberanian, harapan, dan kasih menyatu untuk menghadapi masalah yang mungkin muncul, seperti penolakan lingkungan di sekitar bayi ( hlm. 121 ). Tahap perkembangan iman ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dan khusus bagi perawat ibu-anak, karena menyangkut masalah tentang ikatan anak-orang tua.

B. Masa Belajar Berjalan ( ToodlerHood) Karakteristik periode ini adalah kemandirian dan penguasaan keterampilanketerampilan di saat mereka memetik keuntungan dari keterampilan motorik mereka yang baru saja berkembang. Dalam terminologi perkembangn spiritual, tahap ini adalah tahap yang penting. Anak- anak yang mulai belajar berjalan memperoleh suatu pemahaman tentang diri ( self) dan harga diri lewat penguasaan keterampilan seperti toilet training. Anak- anak pada fase berjalan Toodlerhood mengalami kesulitan untuk memahami atau mengkonseptualisasi Tuhan dan tidak memiliki kemampuan untuk memahami nilai penting atas tindakan mereka .Jika tidak ada keyakinan religius dan spiritul di dalam keluarga, anak- anak pada fase ini kerap ali akan menciptakan konsep mereka sendiri tentang Tuhan untuk menjelaskan segala sesuatu yang tidak jelas. a) Erikson memandang periode ini ( usia 1-3 tahun) sebagai tahap otonomi versus rasa malu dan keragu- raguan dan menandai periode ini dengan konflik isu- isu seputar pernyataan diri yang tegas versus sikap penurut ( Carson, 1989). Anak- anak pada

tahap ini membutuhkan cinta yang seimbang dengan kedisplinan yang konsisten ( Shelly, 1982). b) Piaget menyebut tahap ini ( usia 2- 4 tahun ) sebagai tahap berpikir pra-operasional dan fase pra konseptual, dimana anak- anak secara ekstrem berorientasi pada diri sendiri, memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri, dan menilai segala sesuatu berdasarkan pada hasil atau konsekuensi (hukuman atau kepatuhan) bagi diri mereka ( Hart & Schneider, 1997, Hitchock et all. 1999). c) Fowler tidak memiliki tahapan tertentu pada fase ini. d) Perkembangan iman pada masa toddler hood; Menurut Hart dan Schneider 1997, anak yang sedang belajar berjalan pertama- tama mengalami iman sebagai suatu keberanian- kerap kali ditujukkan dengan kehendak, sikap menentang otoritas ( biasanya orang tua), dan mengatakan Tidak! Otonomi dan pernyataan diri secara tegas, assertion, adalah karakteristik penting dalam perkembangan iman dan identitas spiritual. Anak- anak pada fase ini tidak melakukan suatu pembedaaan antara yang nyata dan supranatural. Oleh karena itu, konsep iman atau spiritualitas harus disederhanakan. Penggunaan ilustrasi secara khusus membantu dalam usaha memberikan pemahaman konsep- konsep spiritual atau religius kepada anak- anak. Mereka kerap kali yakin bahwa makhluk- makhluk supranatural bersifat magis. Sebagai contoh, mereka memamndang Tuhan sebagai malaikat atau orang yang bersahabat yang bisa diajak berkomunikasi. ( Betz, 1981) Tahap ini berlangsung hingga saat anak- anak memasuki dunia sekolah.

C. Masa Kanak- Kanak Awal Kebanyakan anak- anak usia sekolah adalah pribadi yang secara fisik begitu aktif dan menuntut perhatian yang lebih dari orang- orang sekitarnya. Anak menjadi semakin cakap dalam kemampuan berbahasa dan motoriknya. Anak- anak pada tahap ini sedang mencoba untuk belajar tentang cara menyeimbangkan keinginan mereka dengan keinginan

orang lain. Pada tahap ini, mereka telah memiliki kesadaran yang berkembang dan memahami bahwa Tuhan bisa memberi hadiah atau menghukum atas suatu perilaku buruk karena tidak mematuhi aturan yang ketat. Mereka memandang Tuhan dalam cara pandang yang magis dan mencoba memanipulasi Nya dengan doa- doa tertentu yang memohon sesuatu sebagai upah atas perilaku baik mereka. Dalam cara pandang semacam ini, adalah wajar bila mereka kembali pada Tuhan ketika membutuhkan sesuatu saja dan tidak sungguh mengkhususkan cinta mereka pada Tuhan ( Carson 1989). a) Erikson menyebut tahap ini sebagai tahap yang ditandai dengan konflik prakarsa versus rasa bersalah ( usia 3- 6 tahun) sebab anak mendapatkan persetujuan dan pengakuan dengan kemampuannya menyelesaikan masalah dan menyelesaikan tugas- tugas sederhana ( Hart & Schneider, 1997; Hitchock et all. 1999) b) Piaget menyebut tahap ini sebagai berpikir praoperasional dan fase intuitif ( usia 4- 7 tahun). Anak belajar untuk berpikir tetapi belum mampu secar rasional dan sistematis. Ia masih berpusat pada diri dan pemikiran- pemikiran mereka bersifat subjektif. Anak- anak kerap kali terfiksasi pada satu aspek saja dari suatu kejadian dan mengabaikan yang lain serta tidak ammpu secara mental memahami hubungan timbal balik dari sejumlah kejadian. c) Fowler menyebut fase ini ( usia 3-7 tahun) sebagai tahap pertama atau fase intuitif- proyektif, selama periode ini perkembangan iman mencerminkan bentuk ( keimanan) orang tua anak yang bersangkutan. Anak dipengaruhi oleh tingkah laku dari orang tua, perilaku religius mereka ( seperti menunduk kepala saat berdoa), pengalaman mereka di Gereja sebagaimana juga ritual- ritual atau cerita- cerita religius lain yang diamati oleh keluarga. Kebiasaan doa malam, liburan hari besar keagamaan, dan doa makan memiliki pengaruh penting pada anak karena biasanya doa ini sering diajarkan kepadanya. d) Shelly, 1982 anak pada tahap ini memandang Tuhan dalam terminologi karakteristik- karakteristik fisik seperti gambaran wajahnya, maupun pakaian

yang dikenakannya. Makna doa masih samar- samar, tetapi ritual- ritualnya sendiri sangat penting. Anak mampu memahami cerita- cerita Kitab Suci sederhana. Suatu kesadaran mulai muncul dan anak mulai takut akan hukuman. e) Perkembangan iman pada tahap ini Iman disebut intuitif-proyektif/ intuitifprojective Faith ( usia 3-6 tahun ) merupakan periode imitatif yang penuh khayalan. Dalam tahap ini anak sangat dipengaruhi oleh berbagai macam teladan, perasaan, tindakan, dan cerita yang mengenai iman yang dapat mereka saksikan melalui orang dewasa yang terdekat.Melalui pemahaman Fowler tentang tahap perkembangan iman ini, perawat anak, terutama mereka yang bekerja dengan anak yang mengidap penyakit kronik maupun stadium akhir, akan memperoleh bimbingan untuk menyikapi kebutuhan-kebutuhan spiritual maupun emosional anak.

D. Masa Kanak- Kanak Madya Anak dengan usia antara 6 dan 12 tahun adalah seseorang yang dicirikan sebagai seseorang yang mencoba menjadi cakap dalam pekerjaan mereka. Anak anak ini mampu menalar secara induktif dan berkaitan dengan hal- hal yang konkret dan teramati. Mereka mengalami kesulitan dengan interaksi di sekolah, yang menyediakan kesempatan bagi mereka untuk melihat cara pandang lain dan membandingkan kemampuan mereka, menyelesaikan masalahnya. (Ebmeimer, Lough, Huth, Autio, 1991) a) Erikson menyebut tahap sebagai tahap yang ditandai dengan konflik kerajinan versus inferioritas (usia 6-12 tahun). Anak- anak pada tahap ini memiliki pemikiran yang konkret dan mulai mengembangkan beberapa keterampilan penalaran yang logis. Jika anak berhasil melalui tahap ini, mereka akan memiliki citra diri yang berharga. Hal ini dapat diwujudnyatakan dalam keberhasilan partisipasi dalam kegiatan- kegiatan

spiritual dan religius dan dalam kemampuan membangun relasi yang bermakna dengan orang lain. b) Piaget menyebut tahap ini sebagai tahap operasional konkret dan meyakini bahwa anak- anak pada tahap ini ( usia 7-12 tahun) telah memiliki proses berpikir secara konkret tetapi masih mengembangkan keterampilan dalam penalaran induktif dan mulai berpikir logis. c) Fowler menyebut fase ini (usia 7-12 tahun) sebagai tahap 2 atau tahap literal- mistis dan memandangnya sebagai tahap dimana anak- anak berevolusi dalam pemahaman mereka tentang Tuhan. Beberapa anak memandang Tuhan sebagai orang tua yang marah, hantu, atau roh magis yang ada di langit. d) Perkembangan iman pada masa ini disebut dengan Iman Mitis-Harfiah/ Mythic-Literal Faith dideskripsikan sebagai masa dimana anak mulai menginternalisasikan keyakinan dan hasil pengamatan yang dilambangkan dengan keikutsertaannya sebagai anggota kelompok komunitas iman tertentu (hlm. 149 ). Dalam karya dengan pasien anak yang sedikit dewasa, konsep iman mitis-harafiah dapat membantu perawat mendorong partisipasi anak dalam cara, praktik maupun peribadatan keagamaannya yang dapat memberikan dukungan dan kenyamanan dalam menghadapi kondisi sakitnya.

2. Perkembangan Spiritualitas dan iman Pada Masa Remaja Masa remaja adalah saat yang ditandai dengan pemberontakan terhadap otoritas dan konflik antara sikap yang telah diperoleh sebelumnya dengan sikap yang bersal dari nilainilai dan keyakinan- keyakinannya sendiri. Inilah saat yang penuh dengan kecemasan bagi kebanyakan orang tua. Inilah saat yang penuh dengan pertentangan. Di satu sisi, para remaja menolak nilai- nilai dan norma- norma orang tua sebab mereka tidak ingin berkompromi dengan cara hidup orang tuanya. Di sisi lain, dengan keinginan untuk

bereksperimen dengan perilaku kelompok sebaya, para remaja mengalah pada tuntutan konformitas kelompok dengan mengadopsi pola perilaku yang hedonistik dan bebas atas sepenuhya. Intensitas kebutuhan spiritual dan religius mereka meningkat sejalan dengan semakin beratnya penderitaan mereka a) Erikson menyebut fase ini sebagai tahap dengan konflik identitas versus

kekacauan identitas (Hart dan Schneider, 1997; Hitchock et all; 1999). Fase ini (usia 12- 18 tahun ) ditandai sebagai saat transisi dari masa kanak- kanak ke masa dewasa. Para remaja mulai menguji pembatasan- pembatasan mereka, memisahkan diri dari orang tua mereka, dan mulai membangun citra diri mereka sendiri yang unik. ( termasuk klarifikasi atas identitas seksual mereka). Relasi teman sebaya menjadi sangat penting dan dapat mempengaruhi perkembangan identitas mereka. Inilah saat konflik intensif yang berpusat pada identitas diri, arti hidup, dan harapan yang kehendak dicapai dalam hidup mereka sebagai orang dewasa. Kegagalan dalam mencapai suatu identitas menimbulkan kekacauan identitas. b) Piaget menyebut fase ini sebagai fase operasional formal, saat dimana keterampilan- keterampilan penalaran abstrak dan deduktif berkembang (Hitchock et all. 1999). Anak- anak mesti melalui proses ini untuk mengembangkan jati diri mereka. c) Fowler ini menyebut tahap ini pekembangan iman sebagai tahap 3 atau tahap konvensional- sintesis. Para remaja menyadari bahwa mereka mampu memisahkan fakta- fakta tentang Tuhan dan dunia dari persepsi mereka sebelumnya. Mereka menjadi sadar akan adanya kekecewaan spiritual,jika persepsi mereka tentang Tuhan berbeda dengan persepsi yang diajarkan oleh otoritas. Meskipun demikian, para remaja mulai mempertanyakan standarstandar yang ditetapkan oleh orang tua mereka. ( Hart dan Schneider, 1997). Definisi fowler mengenai tahapa ini memberikan suatu pemahaman menganai keterkaitan antara remaja yang sakit dengan dukungan internal (keluarga) maupun dengan dukungan eksternal ( teman sebaya) dan interaksi selama masamasa kritis.

d) Perkembangan iman pada masi ini disebut dengan Iman Sintesis-Konvensional/ Synthetic- Conventional Faith ( usia 13-20 ) yang mendeskripsikan pengalaman masa remaja di luar keluarga seperti pengalaman di sekolah, pengalaman dengan teman sebaya, dan pengalaman dari media dan lembaga agama. Iman memberikan sesuatu landasan untuk identitas dan cara pandang terhadap lingkungan sekitarnya. Jika remaja sakit dan masuk RS, mereka akan mengalami tekanan yang luar biasa, ketidaknyamanan psikologis yang intensif, dan penderitaan (Silber dan Reilly, 1985). Berdasar suatu kajian, kebanyakan remaja percaya kepada Tuhan atau Ilahi dan hampir separuh dari mereka yang terserang penyakit yang serius dan fatal mengalami perubahan yang mendadak dalam kehidupan spiritual mereka. Sensitivitas penyedia layanan kesehatan menjadi sangat menentukan dalam menyediakan pearwatan penuh kasih kepada para remaja di saat- saat sulit seperti itu ( Silber dan Reilly, 1985).

3.

Perkembangan Spiritualitas dan iman PadaMasa Dewasa James Fowler, yang mengembangkan tahapan perkembangan iman,

menggambarkan tahap- tahap perkembangan spiritual dari orang dewasa sebagai proses universalisasi iman ( OBrien, 1999). Fase ini menghadirkan titik puncak dari seluruh karya dari tahap iman sebelumnya dan diwujudkan dengan perasaan akan cinta dan keadilan yang absolut bagi semua orang. Seorang individu pada tahap ini adalah seseorang yang dapat mengorbankan dirinya sendiri untuk memenuhi kebutuhan orang lain ( Berggren-Thomas

dan Griggs, 1995, hlmn. 8). Tahap ini sulit untuk dicapai dan hanya sedikit orang saja yang pernah mencapainya. Seseorang yang sungguh berada pada tahap ini menjawab otoritas lebih daripada yang dikenal oleh dunia dan sering terlihat sebagai pribadi subversif (Berggren-Thomas dan Griggs, 1995). Tenaga kesehatan mesti mengingat bahwa usia kronologis tidak sepenuhnya mengidentifikasikan pencapaian seseorang terhadapa tahap perkembangan iman. Perkembangan iman pada masa ini menurut fowler disebut Iman IndividuatifReflektif/Individuative-Reflective Faith ( usia 21-30) yang menunjuk pada suatu masa ketika orang dewasa muda menyatakan identitas imannya tanpa ditentukan gabungan antara peran pribadi dan nilai penting bagi orang lain ( hlm. 182 ). Inilah masa dimana kreativitas pribadi dan jati diri menjadi bahan pertimbangan yang penting bagi perawat, termasuk otonomi pasien dalam perencanaan perawatan yang ditujukan bagi pasien dewasa muda. Atau dapat dikatakan sebagai perkembangn iman Iman Konjungtif/Conjungtive Faith ( usia 31-40 tahun ) adalah masa keterbukaan terhadap aspirasi-aspirasi dari diri pribadi yang lebih dalam seseorang dan perkembangan kesadaran sosial seseorang (hlm. 198). Perawat untuk para pasien yang berada dalam tahap ini harus peka terhadap spiritualitas orang dewasa yang lebih matang, terutama terkait dengan penemuan makna terhadap sakit yang dideritanya.

4.

Perkembangan Spiritualitas dan iman Usia Lanjut Proses penuaan adalah suatu langkah yang penting dalam perjalanan spiritual dan

pertumbuhan spiritual seseorang. Orang- orang yang memiliki spiritualitas berjuang menstransendensikan beberapa perubahan seperti juga hal kehilangan yang menyertai penuaan dan mencapai pemahaman yang lebih tinggi tentang hidup mereka dan maknanya. Spiritualitas dapat memberikan kenyamanan di saat kesendirian atau tekanan; pemulihan dari kecemasan; dan memberikan suatu perasaan berarti, tujuanm

produktivitas, dan integritas diri. Ia dapat memberikan kepada orang lanjut usia suatu kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang berubah seperti dari lingkungan rumah ke fasilitas perawatan di rumah sakit. Spiritualitas memberikan perasaan harga diri, dan ini adalah suatu daya yang penting untuk menanggulangi kegelisahan di saat sakit dan mempersiapkan diri menghadapi kematian (Fehring, Miller, dan Shaw, 1997; Isaia et al., 1999; Levin, Taylor, dan Chatters, 1994). Iman memberikan orang yang lanjut usia suatu kekuatan batin yang dibutuhkan untuk melampaui ketidakmampuan fisik yang dikaitkan dengan penuaan dan untuk mengembangkan keuletan emosional yang dibutuhkan untuk mencapai umur panjang. (Koening, 1999). Menurut Missinne (1990), manusia, ketika mereka semakin tua, memiliki tiga kebutuhan dasar. Ketiga kebutuhan dasar ini sama- sama penting dan saling berhubungan di dalam bentuk dan derajat yang berbeda. Tiga kebutuhan dasar itu adalah sebagai berikut: 1. Pertukaran Biofisis : kebutuhan untuk berhubungan dengan lingkungan fisik dalam hidup dan berkembang semakin penuh sebagai individu yang unik. 2. Pertukaran Psikososial : kebutuhan lewat hubungan psikososial dengan orang lain, untuk mengembangkan dan memelihara kepribadian kita yang unik. 3. Integrasi Spiritual : kebutuhan untuk mengolah dan mencapai pencerahan melampaui eksistensi diri (hlmn.46) Bagi orang usia lanjut, spiritualitas dapat memberikan elemen- elemen esensial berikut yang berguna bagi hidup yang sehat ( Fischer, 1998) Spiritualitas mendukung penerimaan akan masa lalu, meikmati masa kini, dan menyediakan harapan untuk masa depan. Spiritualitas memenuhi kebutuhan dasar manusia. Spiritualitas memberikan bantuan dalam peristiwa- peristiwa hidup yang penuh tekanan, meningkatkan pemahaman seseorang tentang arti hidup, dan membantu mempersipakan diri menghadapi kematian.

Spiritualitas memberikan dukungan selama fase- fase kehilangan dan prosesproses yang menyedihkan.

Adapun Tugas- tugas perkembangan masa lanjut usia mencakup penemuan makna dan kepenuhan di dalam hidup dan menjelajahi aspek aspek positif dari kehidupan. Tugas- tugas perkembangan juga mencakup hal hal berikut (Hitchock et all., 1990): Pengakuan dan penerimaan keterbatasan- keterbatasan diri Merencanakan untuk mengatur hidup yang aman Mewujudkan gaya hidup sehat Melanjutkan relasi hangat dengan keluarga dan teman- teman Membangun afiliasi dengan orang lain di kelompok usia yang sama. Menghadapi realitas tak terelakan dari kematian dan kematian dari orangorang yang dicintai. Perkembangan iman Menurut Fowler pada masa ini disebut dengan Iman Universal/ Universalizing Faith ( usia 40 tahun keatas ) digambarkan Fowler sebagai titik puncak dari tahap-tahap iman sebelumnya, sebagai masa yang terkait dengan perintahperintah kasih dan keadilan yang absolut kepada semua manusia (hlm. 200 ). Para perawat perlu menyadari bahwa pasien dapat memiliki derajat yang berbeda dalam pemenuhan perintah-perintah dalam tahap akhir ini. Dengan melakukan asesmen posisi pasien dalam tahap perkembangan iman, perawat akan terbantu dalam memahami baik tanggapan pasien terhadap kondisi sakit yang dialami maupun kebutuhan-kebutuhannya akan dukungan eksternal dalam menghadapi krisis tersebut.

Perbandingan Tahap Tahap Psikososial, Kognitif, dan Perkembangan Iman Massa Perkembangan Masa bayi Tahap Psikososial (Erikson) Kepercayaan dasar vs kecurigaan dasar (lahir hingga 2 tahun) : Fondasi bagi harapan dan identitas diri Tahap Kognitif (Piaget) Sensorimotor (lahir hingga 2 tahun) ; Anak tergantung pada indera untuk mempelajari dunia dan ( Toodlerhood) Otonomi vs rasa malu dan keraguraguan (1- 3 tahun): Anak berjuang dengan pernyataan diri yang tegas vs penurut Masa Kanakkanak awal Prakarsa vs rasa bersalah ( 3-6 tahun): Anak memenangkan penerimaan dengan pengatasan masalah dan penyelesaian tugas- tugas sederhana. Pemikiran praoperasional/ intuitif (4- 7 tahun): Anak belum berpikir secara logis dan memiliki cara pandang terhadap dunia yang berpusat Masa kanakkanak Madya Kerajinan vs inferioritas (6- 12 tahun): Anak mulai mengembangkan keterampilan penalaran logis pada diri dan bersifat subjektif Operasional konkret (7-11 tahun): Anak memiliki kemampuan berpikir konkret dan mengembangkan penalaran induktif dan logika Tahap 1, intuitif proyektif (3-7 tahun): Fase yang sangat imajinatif dimana perkembangan iman mencerminkan iman orang tua. Tahap 2, Mistis- literer ( 7-12 tahun): Anak berevolusi dalam kemampuan berpikir; mulai bertanya tentang gambaran menyelesaikan masalah. Pemikiran praoperasional/ prekonseptual ( 2-4 tahun): Secara ekstrem terpusat pada diri Tahap Perkembangan Iman (Fowler ) Tahap 0, tak terdiferensiasi (masa bayi hingga 3 tahun) : Anak belum memiliki keyakinan- keyakinan spiritual maupun religius masa berjalan Tidak ada tahapan tertentu

Tuhan Masa Remaja Identitas vs kekaburan identitas (12- 18 tahun): Anak menguji batas- batas dan mulai mengembangkan suatu identitas dan mengklarifikasikan tujuan dan makna hidup Formal operasional ( 11- 15 tahun): Perkembangan keterampilan penalaran deduktif dan makna hidup Tahap 3, sintesis- konvensional Remaja dapat memisahkan fakta- fakta tentang Tuhan dan dunia dari persepsi- persepsi terimajinasi sebelumnya

2. Perkembangan IMAN menurut Habber: Tahap 1: Oral (Lahir sampai usia 12-18 bulan) Awalnya, menghisap jari dan kepuasan oral merupakan hal yang sangat penting, tetapi juga merupakan kesenangan yang aneh. Akhir dari tahapan ini, bayi mulai menyadari bahwa orangtuanya adalah sesuatu yang terpisah dari dirinya. Gangguan dalam kemampuan fisik dan emosional orangtua (misalnya ikatan yang tidak adekuat atau penyakit kronik) akan mempengaruhi perkembangan bayi. Tahap 2: Anal (Usia 12-18 bulan samapai tahun) Fokus kesenangan berubah ke area anal. Anak-anak semakin tertarik pada sensasi kesenangan pada area anal. Melalui proses toilet-training, anak menunda kepuasan sesuai keinginan orangtua dan masyarakat. Tahap 3: Phallic atau Oedipal (3-6 tahun) Pada tahap ini organ genital menjadi focus kesenangan. Menurut Freud, anak lelaki menjadi tertarik dengan penis, anak wanita menyadari tidak memiliki penis, dikenal dengan istilah penis envy. Tahap ini merupakan periode dimana anak befantasi mencintai orang tua yang berbeda gender, dikenal dengan Oedipus atau Electra complex. Akhir dari tahap ini adalah anak berusaha mengurangi konflik ini dengan cara lebih mengenali dan menerima orang tua yang sama gender. Tahap 4: Laten (6-12 tahun). Freud percaya bahwa pada fase ini keinginan seksual dari tahap oedipal dini ditekan dan disalurkan kepada aktivitas social yang produktif. Dalam dunia pendidikan dan social anak, banyak yang harus dipelajari dan dikerjakan, dimana anak membutuhka energy dam usaha. Tahap 5: Genital (Masa puberitas-dewasa) Ini merupakan tahap akhir Freud. Pada periode ini anak mengalami ketertarikan seksual denagn individu diluar dukungan keluarga. Konflik sebelumnya yang tidak terselesaikan timbul saat remaja. Saat individu menyelesakan konflik, individu tersebut akan

mendapatkan kematangan hubungan seksual dewasa. Komponen kepribadian mausia terbentuk melalui tahapan perkembangan Freud. Freud percaya bahwa fungsi komponen tersebut adalah Untuk mengatur tingkah laku. Komponen komponen tersebut id, ego, dan superego. Ini adalah dorongan dari dasar naluri dalam memperoleh kesenangan, selain itu juga merupakan bagian dari kepribadian yang paling primitif dan timbul sejak usia bayi. Ego menggambarka komponen nyata penengah konflik antara lingkungan dan dorongan identitas. Ego membantu kita menilai kenyataan secara akurat, mengatur keinginan, dan membuat keputusan yag baik. Komponen yang ketiga yaitu Superego yang berfungsi melakukan pengaturan, pengendalian dan pencegahan tindakan. Lebih dikenal sebagai Suara Hati, superego dipengaruhi oleh standar dorongan sosial dari luar seperti orangtua atau guru. Tujuan teori Freud adalah perkembangan keseimbangan antara keinginan mencari kesenanangan dan tekanan sosial. Orang dewasa memilik suara hati kuat yang akan membatasi perolehan kesenangan sesuai nilai nilai sosial. Meskipun teori Freud banyak dikritik karena adanya bias gender dan budaya, tetapi Freud telah memberika dasar untuk observasi emosi dan tingkah laku bagi teoritikus lain. 3. Perkembangan Moral Menurut Kholberg ada enam tahap perkembangan moral diantaranya: a. Tingkat Pramoral Menurut kohlberg, enam tahap dalam perkembangan moral dapat dikaitkan satu sama lain dalam 3 tingkat demikian rupa sehingga setiap tingkat meliputi 2 tahap. Perkembanagn moral tidak dimulai bersamaan dengan kehidupan seorang manusia. Menurut Kohlberg selama tahun- tahun pertama belum terdapat kehidupan moral dalam arti yang sebenarnya. Jika anak kecil membedakan antara baik dan buruk, hal itu hanya kebetulan terjadi dan jarang sekali perbedaan seperti itu didasarkan atas norma-norma atau kewibawaan moral. Penilaian moral pada anak kecil itu belum mempunyai suatu struktur yang jelas. Karena itu bisa dikatakan bahwa tiga tingkat tersebut didahului oleh suatu epriode pramoral. Kohberg baru mulai penelitiannya pada anak-anak berumur sekitar 6 tahun.

b.

Tingkat Prakonvensional Pada tingkat ini si anak mengakui adanya aturan-aturan dan baikserta buruk mulai mempunyai arti baginya, tapi hal; itu semata-mata dihubungkan dengan reaksi orang lain. Penilaian tentang baik buruknya perbuatan hanya ditentukan oleh faktor-faktor dari luar. Motivasi untuk penilaian moral terhadap perbuatan hanya didasarkan atas akibat atau konsekuensi yang dibawakan oleh perilaku si anak: hukuman atau ganjaran, hal yag pahit atau menyenangkan. Yang mencolok ialah bahwa motif-motif ini bersifat lahiriah saja dan bisa mengalami banyak perubahan. Pada tingkat prakonvensional ini dapat dibedakan 2 tahap : 1) Tahap 1 :Orientasi hukuman dan kepatuhan. Anak mendasarkan perbuatannya atas otoritas konkret( orang tua, guru ) dan atas hukuman yang akan menyusul, bila ia tidak patuh. Anak kecil tidak memukul adiknya. Karena hal itu dilarang oleh ibu dan karena melanggar kemauan ibu akan membawa hukuman. Perspektif si anak semata-maat egosentris. Ia membatasi diri pada kepentingannya sendiri dan belum memandang kepentingan orang lain. Ketakutan untuk akibat perbuatan adalah perasaan dominan yang menyertai motivasi moral ini. 2) Tahap 2 : Orientasi relatives instrumental Perbuatan adalah baik, jika ibarat instrument dapat memenuhi kebutuhun sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Anak mulai menyadari kepentingan orang lain juga, tapi hubungan antara manusia dianggap nya seperti hubungan orang dipasar : tukar menukar. Hubungan timbal balik antar manusia adalah soal jika kamu melakukan sesuatu untuk saya, maka saya akan melakukan sesuatu untuk kamu, bukannya soal loyalitas, rasa terima kasih atau keadilan.

c.Tingkat Konvensional Penelitian kohlberg menunjukkan bahwa biasanya ( tapi tidak selalu ) anak mulai beralih ketingkat ini antara umur 10 dan 13. Disini perbuatan-perbuatan mulai dinilai atas dasar norma-norma umum dan kewajiban serta otoritas dijunjung tinggi. Tingkat ini oleh kohlberg disebut konvensional, karena disini anak mulai mnyesuaikan penilaian dan perilakunya dengan harapan orang lain atau kode yang berlaku dalam kelompok sosialnya. Memenuhi harapan keluarga, kelompok atau bangsa dianggap sebagai sesuatu yang berharga pada dirinya sendiri, terlepas dari konsekuensi atau akibatnya. Dalam sikapnya si anak tidak hanya meyesuaikan diri dengan harapan orang orang tertentu atau dengan ketertiban sosial, melainkan juga menaruh loyalitas kepadanya dan secara aktif menunjang serta membenarkan ketertiban yang berlaku. Singkatnya anak mengidentifikasikan diri dengan kelompok sosialnya beserta norma-normanya. Tingkat kedua ini mencakup juga 2 tahap : 1) Tahap 3 : penyesuaian dengan kelompok atau orientasi menjadi anak manis. Anak cenderung mengarahkan diri kepada keinginan serta harapan dari para anggota keluarga atau kelompok lain. Perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan dan membantu orang lain serta disetujui oleh mereka. Anak mengambil sikap : saya adalah anak manis ( good boy-nice girl ) artinya ia adalah sebagaimana diharapkan oleh orangtua, guru, atau sebagainya. Ia ingin bertingkah laku secar wajar, artinya, menurut norma-norma yang berlaku. Jika ia menyimpang dari norma-norma kelompoknya, ia merasa malu dan bersalah. Dalam hal ini untuk pertama kali si anak mulai memperhatikan pentingnya maksud perbuatan. Perbuatan adalah baik, asal maksudnya baik. Misalnya, waktu ia membantu ibunya di dapur dengan mencuci piring, ada gelas pecah. Dulu perbuatan itu dinilai secara moral buruk, karena bisa mendatangkan hukuman. Dalam tahap ketiga perbuatan itu dianggap baik, karena dibaliknya ada maksud baik.

2) Tahap 4 : orientasi hukum dan ketertiban ( law and order ). Paham kelompok dengan mana anak harus menyesuaikan diri disini diperluas : dari kelompok akrab ( artinya, orang-orang yang dikenal oleh anak secara pribadi) ke kelompok yang lebih abstrak, seperti suku bangsa, negara, agama. Tekanan diberikan pada aturan-aturan tetap, otoritas dan pertahanan ketertiban sosial. Perilaku yang baik adalah melakukan kewajibannya, menghormati otoritas dan mempertahankan ketertiban sosial yang berlaku demi ketertiban itu sendiri. Orang yang melanggar aturan-aturan tradisional atau menyimpang dari ketertiban sosial, jelas bersalah. d. Tingkat pasca konvensional Oleh Kohlberg tingkat ketiga ini disebut juga tingkat otonom atau tingkat berprinsip ( principled level ). Pada tingkat ketiga ini hidup moral dipandang sebagai penerimaan tanggung jawab pribadi atas dasar prinsip-prinsip yang dianut dalam batin. Norma-norma yang ditemukan dalam masyarakat tidak dengan sendirinya berlaku, tapi harus dinilai atas dasar prinsip-prinsip yang mekar dari kebebasan pribadi. Orang muda mulai menyadari bahwa kelompoknya tidak selamanya benar. Menjadi anggota suatu kelompok tidak menghindari bahwa kadang kala ia harus berani mengambil sikapnya sendiri. Tingkat ketiga ini pun mempunyai 2 tahap: 1) Tahap 5 : orientasi kontrak-sosial legalistis. Disini disadari relativesme nilai-nilai dan pendapat-pendapat pribadi dan kebutuhan akan usaha-usaha untuk mencapai konsensus. Disamping apa yang disetujui dengan cara demokratis baik buruknya tergantung pada nilainilai dan pendapat-pendapat pribadi.Segi hukum ditekankan, tapi diperhatikan secara khusus kemungkinan untuk mengubah hukum, asal hal itu terjadi demi kegunaan sosial. Selain bidang hukum, persetujuan bebas dan perjanjian adalah unsur pengikat bagi kewajiban. Suatu janji harus ditepati juga kalo berkembang menjadi merugikan, karena berasal dari persetujuan bebas.

2) Tahap 6 :orientasi prinsip etika yang universal. Disini orang mengatur tingkah laku dan penilaian moralnya berdasarkan hati nurani pribadi. Yang mencolok adalah bahwa prinsip-prinsip etis dan hati nurani berlaku secara universal. Pada dasarnya prinsip-prinsip ini menyangkut keadilan, kesediaan membantu satu sama lain, persamaan hak manusia dan hormat untuk martabat manusia sebagai pribadi. Orang yang melanggar prinsip-prinsip hati nurani ini akan mengalami penyesalan yang mendalam. Ia mengutuk dirinya karena tidak mengikuti keyakinan moralnya sendiri. Menurut kohlberg, penelitiannya telah menunjukkan bahwa hanya sedikit orang yang mencapai tahap keenam ini. 2. Menurut Freud Model psikoanalitik Freud tentang tahapan perkembangan kepribadian individu melalui lima tahap perkembangan psikoseksual dan tiap tingkatan ditandai dengan kesenangan seksual pada bagian tubuh : mulut, anus, dan genital. Freud mempercayai bahwa kepribadian dewasa merupakan hasil dari bagaimana seorang individu menyelesaikan konflik antara sumber kesenangan dan kenyataan (Berger, 2005; Santrock, 2007). 4. CIRI KHAS PERKEMBANGAN MORAL Menurut penelitian Kholberg menandai seluruh perkembangan moral: 1. Sifat Pertama Bahwa perkembangan tahap-tahap selalu bersifat dengan cara yang sama, dalam arti sianak mulai dengan tahap pertama, lalu pindah ke tahap kedua, dan seterusnya. Semua tahap harus dijalani menurut urutan itu. disini tidak mungkin meloncat-loncat. sebagai mana anak kecil sebelum bisa berjalan harus merangkak dulu, demikian juga, satu tahap perkembangan moral tidak bisa dimasuki tanpa didahului oleh tahap sebelumnya. Tapi masih tetap berlaku, apa yang dikatakan terlebih dahulu, tidak perlu seorang anak untuk seluruh prilaku moralnya berada dalam suatu tahap tertentu. bisa saja secara dominan ia berada dalam suatu tahap tapi untuk sebagian masih ada tahap sebelumnya atau sudah pada tahap berikutnya.

2. Sifat Kedua Bahwa orang dapat dimengerti penalaran moral satu tahap, diatas tahap dimana ia berada. jadi, seorang anak berada dalam tahap kedua, sama sekali tidak mengerti penalaran moral dari mereka yang berada dalam tahap keempat keatas. pernyataan initentu berguna untuk diketahui dalam rangka pendidikan moral.

3. Sifat Ketiga Bahwa orang seacara kognitif merasa tertarik pada cara berfikir satu tahap diatas tahapnya sendiri. oleh sebab itu karena cara berpikir tahap berikutnyua dapat memecahkan dengan memuaskan dilemma moral yang dialami. Jika anak ingin mendapatkan seluruh kue sedangkan kakaknya juga hal yang sama, maka ia akan semakin tertarik pada ide untuk membagikannya, merupakan cara berpikir dari tahap lebih tinggi. Ide ini merupakan pemecahan yang baik, karena dalam usaha merebut kue dalam kekerasan dia pasti akan kalah, sifat ketiga ini pun mempunyai konsekuensi untuk pendidikan moral. seorang anak dalam perkembangan moralnya akan bertumbuh baik, jika mendapattantangan dari anakanak yang lebih tuayang sudah lebih maju dalam perkembangannya karena itupendidikan moral anak-anak. Karena itu pendidikan moral dalam kelompok anak-anak yang seumur tidak begitu menguntungkan. lebih baik kelompok anak-anak yang memiliki umur berbeda.

4. Sifat Keempat Bahwa perkembangan dari satu tahap ketahap berikutnya terjadi bila dialami ketidakseimbanggan kognitif dalam penilaian moral, artinya orang sudah tidak melihat jalan keluar untuk menyelesaikan masalah atau dilemma moral yang dihadapi. jika situasinya demikian dan tak ada pemecahan yang memadai, maka ia akan mencari penyelesaian yang lain.sebaliknya jikatidakdialami ketidakseimbangan, tidak ada alas an juga untuk berkembang dalam contoh kue tadi, jika anak lebih besar dan kuat, ia akan medapatkan kue itu dengan memaksa (padangan egoistic) hanyajika ia menempatkan diri pada pihak adiknya ia akan menyadari bahwa ia harus meninjau kembali pandangan egoistiknya. perkembangan moral bisa maju karena ketidakseimbangan tersebut.

Table 2: Tingkat Pertumbuhan Moral TINGKAT PERTUMBUHAN Tingkat Pramoral : 0 6 tahun TAHAP PERTUMBUHAN Tahap 0 : Perbadaan antara baik dan buruk belum da dasarkan atas kewibawaan dan norma Tingkat Pra-Konvesional : Perhatian perbuatan: anak khusus untuk hukuman, ganjaran, noram Tahap1: akibat Anak berpegang pada kepatuhan dan motif hukuman, Takut untuk kekuasaan dan berusaha menghindarkan hukuman. TAHAP 2 Anak mendasarkan diri atas egoisme naif yang kadang-kadang ditandai relasi timbal Tingkat Konvensional memenuhi ketertiban harapan, balik TAHAP 3: mempertahankan persetujuan dari orang lain. TAHAP 4: Orang berpegang pada ketertiban moral dengan aturan sendiri. Rasa bersalah terhadap orang lain bila tidak mengikuti tuntutan-tuntutan lahiriah Takut untuk akibat-akibat negatif dari perbuatan PERASAAN -

lahiriah dan partikular

Perhatian juga untuk maksud perbuatan: Orang berpegang pada keinginan dan

Tingkat Pasca-Konvensional atau Tingkat

TAHAP 5:

Penyesalan atau penghukuman diri karena

Berprinsip: Hidup moral adalah tanggung jawab pribadi atas dasar prinsip-prinsip batin : maksud dan akibat-akibat tidak diabaikanmotif-otif batin dan universal.

Orang berpegang pada persetujuan demokratis, kontrak sosial. Konsensus bebas TAHAP 6: Orang berpegang pada hati nurani pribadi, yang ditandai oleh keniscayaan dan universalitas Table : Tingkat Pertumbuhan Moral

tidak mengikuti pengertian moralnya sendiri.

DAFTAR PUSTAKA Bertens, K. Etika. 2004. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Brien, O. Pedoman Perawat Untuk Pelayanan Spiritual. 2009. Jakarta : Bina Media Perintis Young, Carolin. Spiritualitas, Kesehatan, Dan Penyembuhan. 2007. Jakarta : Bina Media Perintis