Anda di halaman 1dari 11

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

BUKAN HANYA KARTINI

RIA FARIKHAH AL KHURMAIN H0813153 AGRIBISNIS 1-D

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013 / 2014

Pendahuluan Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April. Kartini dianggap sebagai simbol kebangkitan kaum perempuan di Indonesia. Peringatan Hari Kartini tidak hanya diperingati oleh instansi pemerintah dalam bentuk upacara bendera, tetapi juga oleh anak-anak TK maupun SD yang mengenakan pakaian adat daerah masing-masing sebagai lambang Bhineka Tunggal Ika. Sejarah diperingatinya Hari Kartini pada tanggal 21 April adalah setelah ditetapkan oleh Presiden Soekarno dengan surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 tertanggal 2 Mei 1964 dimana Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan sekaligus menetapkan hari lahirnya yaitu tanggal 21 April diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Permasalahan Kartini dilambangkan sebagai tokoh emansipasi wanita di Indonesia. Buku Habis Gelap Terbitlah Terang (Jakarta: Balai Pustaka, 2005 cetakan XI) terjemahan Armijn Pane berisi kumpulan surat yang ditulis oleh R.A Kartini kepada sahabatnya orang Belanda mengenai pemikirannya tentang diskriminasi gender dimana-mana sehingga wanita tidak bisa mendapatkan pendidikan layak dan posisinya jauh di bawah kaum pria. Tak hanya melalui surat-suratnya, sebelum menikah Kartini juga mendirikan sekolah khusus perempuan yang mengajarkan berbagai ketrampilan khusus seperti memasak, menjahit, dan lain-lain. Sayangnya usaha Kartini mendapat tantangan keras dari ayahnya. Ketika Kartini telah mendapat beasiswa dari pemerintah Belanda, Kartini dinikahkan dengan pria pilihan ayahnya. Namun, jika surat-surat Kartini tidak dikumpulkan dan dijadikan buku oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot

Licht mungkin pemikiran Kartini tidak akan dikenal luas, disamping itu

masih ada pahlawan wanita lain yang jauh lebih besar perjuangannya. Kartini pun mendapat sebutan sebagai tokoh wanita buatan Belanda. Pembahasan Jika di Jawa tersebutlah pendekar wanita paling kondang bernama kartini, kaum perempuan di Sumatera juga punya idola yang tak kalah harum namanya: Siti Roehana Koedoes. Tapi mengapa setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia seakan hanya memperingati Hari Kartini? Banyak sejarawan menggugat pengkultusan Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Indonesia Prof Harsja W Bachtiar, mengkritik penokohan Kartini sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Dari penelusurannya, Kartini memang dipilih oleh kalangan Belanda untuk ditampilkan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mulanya Kartini bergaul dengan pasangan Asisten Residen Ovink. Cristiaan Snouck Hurgronje, penasihat Pemerintah Hindia Belanda kala itu mendorong JH Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan agar memerhatikan Kartini dan keluarga. Hingga tokoh sosialisme H.H. van Kol dan C.Th. van Deventer menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia. Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan dan suri teladan banyak orang. Bila ternyata dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa dari Kartini, kita harus bangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa mengecilkan penghargaan kepada Kartini tentunya, ujar Harsja.

Sejarawan Persatuan Islam (Persis) Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung, Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Banyak pemikiran dua wanita ini memang tak sengaja dipublikasikan, tapi kiprah yang mereka lakukan lebih dari yang Kartini kerjakan. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan lembaga Sakola Kautamaan Istri (1910) di berbagai tempat di dalam maupun di luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916). Ia bahkan menjadi jurnalis wanita sejak berada di Koto Gadang hingga mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini. Kalau Kartini hanya menyampaikan ideidenya dalam surat, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui Koran-koran yang ia terbitkan sendiri. Seperti Soenting Melajoe (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (Padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan). Sayangnya, namanya kemudian baru dinisbatkan sebagai pahlawan nasional pada 16 Februari 2008, dengan dianugrahi Bintang Jasa Utama oleh Pemerintah. Kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dhien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita pada masa Kartini hidup harus segera digugurkan. Tokoh-tokoh tersebut bukti hebatnya wanita-wanita Indonesia yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda.

Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga terpandang sebagai ulama wanita. Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Lihatlah wahai orang-orang Aceh! Tempat ibadah kita dirusak! Mereka telah mencorengkan nama Allah! Sampai kapan kita begini?! Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?!. Gelegar suara penuh gelora ini keluar dari mulut seorang perempuan Aceh bernama Cut Nyak Dhien. Lahir di Lampadang, Aceh Besar, 1848, ia berdiri paling depan menyemangati seluruh rakyat Aceh untuk bangkit melawan Belanda yang telah membakar Masjid Raya Baiturrahman, 8 April 1873. Berani. Keras. Tegas. Tegar. Berjuang hingga ujung kematian. Itulah impresi yang langsung menyergap kita setiap kali kita membaca detail sejarahnya atau melihat lengkap filmnya. Sebagai perempuan, Cut Nyak Dhien telah membuat kita heroik sekaligus bangga atas perjuangannya melawan penjajah Belanda. Ketika Teuku Umar mati ditembak Belanda (1899), Cut Nyak Dien langsung menampar pipi anaknya (Cut Gambang) yang menangisi kepergian ayahnya, lalu memeluknya sembari berkata: Sebaga i perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata kepada orang yang sudah syahid. Sejak itu, Cut Nyak Dhien sendiri yang langsung memimpin perlawanan terhadap Belanda. Ia memang tak pernah menulis surat, berwacana, apalagi bergaul dengan kalangan Barat sehingga karyanya diterbitkan-seperti halnya R.A. Kartini. Tapi apa yang dilakukan Cut Nyak Dhien jauh lebih maju dari apa yang digelisahkan Kartini lewat curhat suratnya. Pahlwan nasional yang wafat di Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908, ini telah melangkah lebih jauh, yaitu menjadi manusia seutuhnya yang berani, merdeka, dan mandiri, tanpa melupakan kodratnya sebagai perempuan. KH Ilyas, seorang ulama yang ditahan

bersamanya di Sumedang menyebut Cut Nyak Dhien sebagai sarjana Islam sehingga ia dijuluki Ibu Perbu. Selain Cut Nyak Dhien-dan tentu saja Ibu Pers Indonesia Rohana Kudus seperti ditulis di atas, perempuan Indonesia yang layak diperingati hari ulang tahunnya, dibuatkan nyanyian pujian, dan dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia layaknya Kartini, tidaklah sedikit. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien atau datangnya Belanda ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati. Tanpa bermaksud mengerdilkan peran dan kiprah Kartini, banyak nama lain yang tak kalah hebat darinya. Sebut saja yang mungkin segenerasi dengan Kartini dan sudah familiar di telinga kita karena diajarkan sejak bangku SD sebagai pahlawan nasional seperti Nyi Ageng Serang (1952-1828) dari Purwodadi, Jawa Tengah; Cut Meutia (18701910) dari Perlak, Aceh; Dewi Sartika (1884-1947) dari Bandung, Jawa Barat; Nyai Ahmad Dahlan (1872-1946) dari Kauman, Yogyakarta, dan HR Rasuna Said (1910-1965) dari Agam, Sumatera Barat. Dibandingkan Kartini, secara umum bisa ditarik benang merah bahwa mereka jauh lebih kongkrit dan mengakar dalam mendorong dan membangun karakter perempuan Indonesia. Disini perbedaanya satu: para tokoh perempuan yang hampir dilupakan oleh sejarah itu tidak dekat dengan Belanda, bahkan bersebrangan dan melawan Belanda. Sedang Kartini, tidak saja dekat, tapi juga kagum dan memuja kebudayaan Barat (Belanda). Karena itulah, klaim Kartini dengan kata-kata keterbelakangan wanita Indonesia saat itu tidaklah 100% benar. Bahkan perempuan-perempuan hebat Indonesia ternyata tidak hanya yang disebutkan di atas, ada Sulthanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh. Ia memerintah Aceh cukup lama,

31 tahun (1644-1675). Sosoknya dikenal sebagai pemimpin yang pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendidikan, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, ia juga dikenal menguasai bahasa Arab, Persia, urdu, dan Spanyol. Di masa pemerintahannya, Sulthanah berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di Aceh dan melakukan monopoli perdagangan timah dan komoditi lainnya. Selain itu, nama asing yang mungkin masih asing di telinga Anda tapi layak dikedepankan adalah Laksamana Malahayati yang dikenal sebgai laksamana perempuan pertama di dunia yang memimpin Angkatan Laut Kerajaan Aceh pada abad ke-16. Ia hidup pada masa Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Di bawah kepemimpinannya (1585-1604), Angkatan Laut Kerajaan Aceh terbilang besar dengan ratusan armada kapal perang. Armada Cornelis de Houtman dari Belanda diporak-porandakan pada tahun 1599. Laksamana Malahayati juga dikenal sebagai diplomat ulung yang mampu menekan Ratu Elizabeth I dari Inggris untuk membuka hubungan baik-baik dengan Aceh. Konon, ketika Malahayati memimpin 2000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah tewas) berperang melawan kapal-kapal benteng-benteng Belanda, 11 September 1599, ia berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Dari situ ia kemudian mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya. Lalu, sekali lagi, kenapa harus RA Kartini yang ditokohkan, dirayakan, diperingati, dan disimbolkan sebagai tokoh perempuan Indonesia? Emang apa sih hebatnya ia dari sosok seperti Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika Rohana Kudus, Malahayati, dll? Mengapa Kartini? Mengapa

bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dhien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Jawabannya jelas, Cut Nyak Dhien tak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia juga tak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda terhadap negeri ini. Sementara Rohana Kudus, meski aktif berkiprah di tengah masyarakat, namun, Rohana memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang dapat berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya itu hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, begitu kata Rohana Kudus. Berdasarkan penelitian Harsja W Bachtiar, ia menemukan kenyataan bahwa Kartini memang sengaja dipilih oleh Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Hal ini dapat dilihat, mulai dari kedekatannya dengan JH Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan Belanda. Harsja bahkan menyinggung nama orientalis Belanda Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokoan Kartini oleh Abendanon. Snouck bermisi sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara. Sementara Ketua Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ida Rosyidah mengatakan peringatan Hari Kartini seharusnya tak hanya menjadi peringatan tentang Kartini saja. Tapi patut pula dijadikan sebagai peringatan mengenang para pahlawan wanita lainnya.

Kartini, kata Ida, memang telah berjuang untuk mengangkat derajat wanita pada zamannya. Tapi masih banyak pahlawan wanita lain yang turut berjuang. Tak hanya untuk wanita, tapi bangsa Indonesia umunya, jelas Ida Rosyidah beberapa waktu lalu. Pemerintahan Belanda sangat berkepentingan mengangkat sosok Kartini, karena ia lahir dan besar dalam lingkungan aristokrat Jawa. Dan Belanda ingin lebih memopulerkan dan mengangkat kalangan Jawa. Makanya, nama Cut Nyak Dhien tidak sepopuler Kartini. Walau pahlawan dari Aceh ini tak hanya berwacana, tapi juga berdarah-darah di medan perang. Sejarawan lainnya mencatat, ada pengaburan sejarah dalam memposisikan sosok Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita, dan melupakan Rohana Kudus yang perannya lebih tinggi dari Kartini. Sejarah kita sudah banyak terdistorsi banyak kepentingan, ungkap Prof Dr Didin Saefuddin Buchori, Guru Besar Sejarah Politik Islam UIN Jakarta. Menurut Buchori, jejak perjalanan bangsa ini sudah banyak dilakukan pengaburan sejarah. Tokoh yang baik karakternya bisa dibunuh menjadi tokoh yang bejat. Sebaliknya orang yang faktanya pengecut bisa ditulis pejuang. Karena itu, menurut mantan rektor UIKA Bogor ini, sudah waktunya dibuat sejarah Indonesia yang benar untuk meng counter aneka distorsi sejarah yang ada, agar anak cucu kita tidak terus menerus diracuni virus sejarah yang salah. Kesimpulan Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya itu, meski kemudian kitalah yang mengembangkan lebih lanjut. Seharusnya informasi tentang perempuan-perempuan Indonesia

yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya sehingga bisa tetap diingat, dihormati, sekaligus menjadi suri teladan bagi banyak orang. Bangsa Indonesia harus berbesar hati jika ternyata ditemukan banyak pahlawan yang kiprahnya jauh lebih hebat dari Kartini. Bila ternyata dalam berbagai hal wanita-wanita ini (Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Malahayati, dll) lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa mengecilkan penghargaan kita kepada Kartini. Tentu saja ini sebuah rekonstruksi sejarah yang tak gampang, tapi harus tetap dilakukan. Sejarah bukanlah barang dagangan yang bisa diperjualbelikan menurut uang dan kekuasaan. Ia harus ditemukan, diperjuangkan, demi sebuah kebenaran yang paling mungkin diraih di dunia ini.

Daftar Pustaka Arifin, Luqman Hakim. 2010. Mereka Juga Layak Dibuatkan Nyanyian

Pujian. GONTOR. Jakarta: PT Gontor Media Jaya


Bachtiar, Harsja W. Satu Abad Kartini (1879-1979). Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 1990

Bukan

Hanya

Kartini,

Mengapa

Kartini?.

http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/21/bukan-hanya-kartini-mengapakartini-553477.html . Diakses pada Senin, 30 September 2013 Eryono, A. Wanita Indonesia. Yogyakarta: Yayasan 1 Maret 1949

Mengapa Kartini Disebut Pahlawan?. http://www.bimbingan.org/mengapakartini-disebut-pahlawan.htm . Diakses pada Senin, 30 September 2013