Anda di halaman 1dari 11

Laku Budaya (Tradisi Adat) Jawa

(Kutipan dari buku: BAWARASA KAWRUH KEJAWEN, karya Ki Sondong mandali)


Banyak jenis Laku Budaya Jawa yang kalau ditulis lengkap bisa-bisa menjadi suatu ensiklopedi berjilid-jilid. Dalam buku ini, penghimpun hanya sekedar menyajikan sedikit pemahaman agar laku budaya Jawa itu dapat diterima nalar dan logika masyarakat Jawa jaman sekarang, dan masyarakat yang tidak berlatar belakang budaya Jawa. Maksud penghimpun memberi sajian yang membawa kepada pengertian bahwa laku budaya Jawa itu bukan sematamata klenik dan tahayul tetapi merupakan sebagian dari "tata peradaban" suatu "bangsa" yang religius, humanis dan berkesadaran kosmis. Desa-desa di Jawa dahulunya disebut Kabuyutan yang dipimpin oleh Buyut atau Dhari seperti yang sering dicatat dalam prasasti-prasasti kuna. Setiap Kabuyutan memiliki kedaulatannya sendiri yang dapat dikatakan "merdeka". Biasanya seorang Buyut adalah seseorang yang memiliki kompetensi menjadi pemimpin dengan memenuhi tiga syarat manusia "sempurna" dalam hidup bermasyarakat, yaitu "kerta-wirya-winasis" seperti yang telah disajikan pada bab terdahulu. Seorang Buyut juga harus memiliki kemampuan dalam hal kebatinan (spiritual) dan menjadi pamong praja (olah kaprajan) untuk menjadi pamomong yang mengayomi warga kabuyutan. Buyut, selanjutnya menjadi andalan ( parampara) warga dalam hal apa saja. Semua tradisi atau adat-kebiasaan yang berjalan di kabuyutan ditentukan oleh Buyut masingmasing. Dalam menentukannya, Buyut melakukan "laku spiritual" untuk mengenali hal-hal gaib di lingkungan kabuyutannya. Dari hasil laku spiritual itulah lalu dipahami jenis-jenis acara dan ritual (slametan dan sesaji) yang dibutuhkan untuk menjaga ketenteraman dan kesejahteraan (karahayon) desa yang dipimpinnya. Dasar tindakan laku kebatinan itu tetap pada "aras" pengertian sangkan paran dan memayu hayuning kahanan kang wis hayu. 1. Sesaji dan Slametan Sudah disampaikan di depan, bahwa "falsafah dasar" yang dimiliki orang Jawa adalah kepercayaan bahwa hidup di dunia itu tidak sendirian. Orang Jawa menganggap bahwa selama hidup di dunia itu ditemani "saudara" yang terdiri atas segala makhluk ciptaan Tuhan, baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata (gaib). Semua "saudara" perlu diajak dalam pergaulan yang baik agar dapat sama-sama berbakti kepada Gusti Kang Murbeng Dumadi. Sarana untuk bergaul dengan para makhluk gaib itu disebut dengan sesaji dan upacara (ritualnya) disebut slametan. Wujud upacara slametan mungkin berbeda-beda dari desa yang satu ke desa yang lain. Hal itu terkait dengan kemakmuran dan luas-sempitnya wilayah desa atau kabuyutan masing-masing. Ada yang cukup berslametan berupa sesaji sederhana di tempat-tempat yang dianggap dihuni oleh "makhluk gaib". Ada juga yang disertai upacara yang memerlukan medium atau perantara antara manusia dengan para makhluk gaib yang menghuni desa itu. Dukun, penari tayub/ronggeng dan dalang yang dahulunya menjadi medium tersebut. Artinya, makhluk gaib di desa itu dalam memberi jawaban ajakan pergaulan warga manusia, melalui medium itu. Banyak juga medium itu adalah Ki Buyut desa itu sendiri. Semakin tinggi kemampuan kebatinan Buyut dalam memahami kawruh sangkan paran dan memayu hayuning bawana, semakin sederhana wujud sesaji dan slametan yang harus dilakukan para warga. Permintaan yang aneh-aneh dari para makhluk gaib, dapat dinegosiasi atau bahkan ditolak oleh daya linuwih yang dimiliki Ki Buyut. Umpamanya, permintaan kurban hewan, dapat ditawar hanya menjadi simbol-simbol hewan, misalnya "kerbau" cukup diwujudkan dalam bentuk "jantung pisang" yang diberi berkaki "lidi aren" dan bertandukkan cabai besar. Sesaji yang seharusnya berupa penyembelihan ayam (memerlukan darah ayam) cukup ditukar dengan anak

ayam berumur seminggu dua minggu dan si ayam dibiarkan hidup, hanya diberi bertali kakinya dan diletakkan sebagai pelengkap sesaji lainnya. Begitulah slametan dan sesaji ala Jawa untuk bergaul dengan para makhluk gaib. Laku budaya slametan juga dilakukan untuk menyambut kelahiran bayi, upacara pengantin dan untuk ngrukti layon (mengurus jenasah). Meskipun ada perbedaan sana-sini antar desa atau antar daerah yang lebih luas, namun ada hal-hal dasar yang sama di seluruh tanah Jawa. Maka dari itu, marilah kita nalar, mengapa upacara slametan untuk kelahiran bayi, pengantin dan kematian itu dapat menyebar merata se tanah Jawa. Penghimpun, sebenarnya termasuk orang yang suka kritis dan sulit menerima secara rasionil tentang laku budaya slametan itu. Namun demikian, sedikit demi sedikit dapat memahami dan mengungkap setelah menerima pinjaman buku yang berisi kupasan Prof. Simuh tentang Serat Hidayat Jati gubahan R. Ng. Ranggawarsita. Meskipun pengungkapan penghimpun masih remang-remang. Kemudian penghimpun mencoba mempelajari Serat Centhini (Suluk Tambangraras) yang dialih aksarakan dan dijadikan 12 jilid buku yang konon merupakan ensiklopedi kawruh Jawa. Itu pun belum mendapat gambaran yang jelas. Mungkin saja karena bahasanya yang cukup sulit dipahami lagi oleh orang Jawa jaman sekarang, apalagi diwujudkan dalam bentuk tembang. Di dalam primbon-primbon juga tidak ditemui penjelasan yang memadai dari ritual-ritual slametan yang disebutkan. Tetapi penghimpun tetap penasaran dengan kenyataan bahwa laku budaya Jawa itu dapat menyebar ke seluruh tanah Jawa, yang berlangsung berabadabad kok misterius. Pasti ada benang-merahnya. Kemerataan ritual itu memberi pengertian kepada penghimpun, bahwa mustahil bila ritual itu hanya tahayul, klenik dan gugon tuhon. Pasti ada nalar dan logika yang melatar-belakangi ritual-ritual itu. Dengan didasari kawruh sangkan paraning dumadi dan memayu hayuning bawana, ternyata ritual slametan kelahiran bayi, penganten dan urusan kematian itu dapat dinalar. Kajiannya adalah sebagai berikut: Seperti yang ditulis dalam "Wirid Wolung Pangkat", kekuasan Tuhan itu merata, meliputi dan merasuk di seluruh semesta alam seisinya termasuk rohani dan jasmani manusia. Artinya, roh manusia itu memiliki sebagian sifat Dzat Gusti yang bersifat langgeng, sedang raga manusia hanya pinjaman (gadhuhan) dari Tuhan Semesta Alam. Kekuasaan Tuhan atas manusia meliputi sejak "calon" manusia masih berwujud wiji yang terpisah pada dua tempat, yaitu diri ( angga) manusia laki-laki dan manusia wanita dewasa. Dengan dasar pengertian religiusitas Jawa, bertemunya wiji urip (benih kehidupan) itu juga atas Kehendak Tuhan Pencipta Serba Makhluk. Dengan demikian "pengantin" (Arab: nikah) itu adalah "Perintah" atau "terjadi atas Kuasa" Tuhan, dalam rangka Tuhan berkehendak menciptakan manusia baru melalui lelaki dan perempuan yang terpilih Tuhan untuk saling berjodoh. Bukan sekedar legalisasi hubungan kelamin lelaki-perempuan, juga bukan semata-mata mengatur reproduksi manusia. Wujudnya adalah "sabda" dalam rasa saling tertarik ( sengsem) diantara kedua orang yang akan berjodoh. Maka untuk "meresmikan" ikatan manusia yang saling tertarik atas kehendak Tuhan itu diwujudkan dalam upacara pengantin, agar hubungannya kelak sebagai "ayah-ibu" calon anakanaknya tetap terpelihara pada tataran martabat kemanusiaan. Dalam urusan kematian, jelas bahwa pati (kata benda dari mati) itu adalah kekuasaan dan wewenang Tuhan, dalam rangka menutup kehidupan seseorang. Manusia mati, sebaiknya dapat kembali pulang ke jagad asalnya. Semua pinjaman ( gadhuhan) yang berwujud raga hendaknya dapat kembali dengan sempurna kepada pemiliknya (asal-usulnya) yaitu jagad raya. Yang tadinya wujud tinggal "nama", yaitu nama baik seseorang yang setelah mati dapat diteladani oleh anakcucunya. Pengertian tentang kekuasaan Tuhan atas kelahiran, perjodohan dan kematian manusia dapat dibahas lebih jauh, demikian: Benih kehidupan manusia diciptakan (dititahkan) Hyang Agung dalam dua bagian. Sebagian bertempat pada ayah (sel-sel sperma) dan sebagiannya lagi bertempat di ibu dalam sel telur. Yang bertempat di dalam raga ayah disebut dengan Hyang Nurcahya (Hyang Kamajaya), keberadaannya dimulia-kan dengan wujud sesaji "bubur putih". Yang berada pada ibu disebut Hyang Nurrasa (Hyang Kamaratih), keberadaannya dimuliakan

dengan wujud sesaji "bubur merah". Kedua benih kehidupan itu bertemu di dalam rahim ibu dan disebut dengan Hyang Ening, yang keberadaannya dimuliakan dengan wujud sesaji bubur merah yang ditengahnya ditumpangi sedikit bubur putih. Setelah berumur tiga bulan (sejak bertemu) di dalam kandungan ibu, calon "bayi" itu disebut dengan Hyang Wenang (berbeda dengan Sang Hyang Wenang), keberadaannya dimu-liakan dengan wujud sesaji tumpeng "meru" (gunungan) yang dibuat dari nasi putih. Setelah lahir dibrokohi (umur satu hari) kemudian sepasaran/puputan (umur lima hari) kemudian selapanan (35 hari setelah lahir) sebagai manusia yang suci bersih. Slamet-annya berupa among-among, yang terdiri atas tumpeng meru yang kakinya ditutup dengan urap (gudhangan) dan telor rebus yang dibelah membujur. Tumpeng dan gudhangan merupakan simbol bahwa si bayi itu "raganya" tercipta dari seluruh unsur hasil bumi. Telor rebus dibelah merupakan simbol dari benih-benih kehidupan yang gagal, kemudian mengurbankan unsur kehidupannya kepada keberhasilan dan kelangsungan kedua benih kehidupan yang bersatu kemudian berkembang menjadi sang bayi. Kadang-kadang dalam sesaji among-among juga dilengkapi dengan ikan asin yang melambangkan bahwa keber-hasilan dan keberlangsungan hidup sang bayi juga mengandung pengorbanan dari makhluk-makhluk lain, setidaknya makhluk hidup yang menjadi pangan ayah dan ibunya. Pucuk tumpeng kadang-kadang diberi cabai merah besar dan bawang merah yang ditusuk dengan sada (lidi) sehingga berbentuk seperti "keris", yang memberi lambang agar sang bayi dapat faham dan peka terhadap "warna" dan "rasa". Sesaji among-among diba-gikan kepada anak-anak, yang maksudnya adalah untuk mem-persaudarakan sang bayi kepada manusia lain yang lahir lebih dahulu. Slametan untuk pengantin bermacam-macam wujudnya. Semua sesaji itu merupakan lambang-lambang hormatnya orang Jawa kepada "kuasa dan kehendak" Tuhan yang mempertemukan jodoh antara kedua mempelai. Bertemunya jodoh itu kepastian Tuhan, yang bagi orang Jawa sangat-sangat dianggap sakral. Maka dari itu, ritual penganten adalah sangat komplit melambangkan berbagai aspek dan sendi-sendi kehidupan suci, sekaligus perwujudan rasa syukur dan doa permohonan kepada Gusti Kang Murbeng Dumadi. Slametan untuk penganten juga merupakan sarana untuk mengundang (ngulemi) makhluk Tuhan yang bersifat gaib agar bersedia menyaksikan ikatan kedua manusia yang telah menerima "kehendak dan kuasa" Tuhan dalam perjodohannya. Slametan untuk kematian adalah upacara pengembalian jasad pinjaman kepada pemiliknya (jagad raya). Mengapa yang melaksanakan adalah ahli waris atau keluarga si mati? Itu tak lain karena si mati sudah tidak kuasa mengembalikannya sendiri. Selain itu, sesaji itu juga merupakan perwujudan bakti dan hormat dari keluarga kepada leluhurnya yang sudah meninggal (bila yang meninggal adalah "senior"). Sesajinya berwujud " tumpeng sinigar" yang dibelah membujur dan diletakkan saling membelakangi, yang merupakan perlambang bahwa jasad si mati akan lepas mengurai kembali kepada jagad raya. Urutan-urutan upacara sejak hari kematian (surtanah atau bedhah bumi) hingga 1000 hari sejak meninggal, merupakan simbol-simbol penggambaran proses kembalinya jasad menjadi unsur-unsur bumi di dalam kuburnya. Dalam Serat Wirid Hidayat Jati, penjelasan proses pengembalian jasad ini cukup gamblang dan dilengkapi dengan gambargambar. Berdasarkan slametan lahir-pengantin-kematian di atas, nyatalah bahwa orang Jawa sangat memperhatikan bahwa perkara kelahiran hingga kematian itu adalah kehendak dan perintah Tuhan. Demikian juga peristiwa perjodohan yang merupakan "bakalan" sarana penciptaan manusia baru. Dengan demikian, serangkaian slametan dan sesaji tentang tiga perkara penting kehidupan manusia itu benar-benar didasari oleh kesadaran kosmis yang sangat tinggi dan tidak dapat dianggap remeh, bahkan sebaliknya memerlukan pemikiran yang dalam. Bingkai dari seluruhnya adalah kesadaran orang Jawa akan wacana " sangkan lan paraning dumadi", asal-usul dan tujuan semua makhluk ciptaan Tuhan. Selain ketiga slametan dan sesaji diatas, masih banyak lagi jenis budaya slametan yang dilakukan orang Jawa. Ada yang sifatnya laku budaya untuk kepentingan pribadi, ada yang untuk

kemasyarakatan ada yang campuran keduanya. Contoh-contohnya adalah upacara bersih desa, slametan pembangunan rumah, membersihkan (nguras) kedhung (lubuk)-belik-sendang, membakar batubata, ruwatan, mantu dan lain-lainnya. Semua slametan itu pasti ada sesaji yang wujudnya sesuai dengan keperluannya. Kesemuanya kalau dibaca dengan kacamata pemahaman sangkan paraning dumadi dan memayu hayuning jagad, maka akan terasa enak dan menjelaskan, sehingga tidak gampang mendakwa bahwa laku budaya Jawa itu hanya klenik, tahayul atau gugon tuhon belaka. Pembaca sekalian, mungkin pernah menemui tradisi yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di pedesaan yang memberi sesaji di beberapa tempat tertentu di desanya. Tempat-tempat yang dianggap menjadi pemukiman yang mbaureksa atau para dhanyang. Wujud sesajinya ada yang dilengkapi "kebo-keboan" dari jantung pisang (tuntut gedhang) dan kuthuk (anak ayam) berwarna hitam. Nah, sesaji demikian memang terkesan klenik dan tahayul. Akan tetapi kalau kita bersedia mendalaminya lebih jauh dengan memahami makna lambang-lambangnya, kadangkadang malah sebaliknya, kita akan tertawa dalam batin. Mentertawai diri sendiri yang terkesan "jadi dangkal persepsi" kita terhadap keadaan semesta alam yang dihuni oleh semua makhluk ciptaan Tuhan. Dan orang Jawa berbuat demikian tetap dengan kreativitas yang tinggi dan "ngguyokke" (membuat tertawa) dalam bersikap kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan. Perhatikanlah fenomena berikut. Di Nusantara ini banyak kita temui acara tradisi yang memerlukan penyembelihan hewan korban. Misalnya saja dalam membangun jembatan atau gedung besar, sering dilengkapi dengan penyembelihan kerbau yang kemudian kepalanya dikubur. Atau tradisi untuk menyembuhkan orang kerasukan (kesurupan) dengan kucuran darah ayam hitam. Mungkin saja dahulunya tradisi demikian juga berlangsung di Jawa. Namun setelah berjalan lama dan disadari bahwa upacara penyembelihan korban itu tidak cocok (tidak nyambung) dengan suasana batin orang Jawa yang menganggap bahwa serba makhluk di jagad raya ini adalah saudara. Sama-sama warga dari Dzat Sejatinging Urip. Tentunya tidak pantas menghilangkan nyawa saudara demi kepentingan pribadi (walaupun mewakili seluruh manusia sekalipun), bukan? Oleh karena itu bentuk sesajinya diubah yang tanpa penghilangan nyawa. Kerbau cukup diganti dengan jantung pisang, sehingga sesaji tidak lagi harus membunuh "seekor kerbau". Apalagi kerbau bagi orang Jawa sangat berguna. Kerbau, sapi dan kuda adalah rajakaya yang artinya sebagai hewan ternak yang bisa diambil manfaat tenaga-nya. Maka bagi pandangan Jawa menyembelih rajakaya untuk sesaji (termasuk ritual sembah, qurban) sesungguhnya kurang pener. Penghilangan nyawa hewan yang sia-sia memang bukan pandangan Jawa. Maka sesaji yang mensyaratkan penghilangan nyawa binatang selalu diganti dengan simbul-simbul lain. Kepala kerbau dengan jantung pisang, darah ayam diganti anak ayam hidup-hidup. Agak-agaknya, kalau memang dhanyang menghendaki kepala kerbau atau darah ayam hitam, maka diingatkan bahwa itu kekejaman yang bertentangan dengan naluri Jawa yang menganggap semua titah dumadi saudaranya. Maka dalam hal ini tersirat dengan jelas tingkat keunggulan keberadaban manusia dibanding para dhanyang. Keunggulan cara Jawa itu pada rasa, maka si dhanyang pun paham dan menerima dengan tulus. Diberi tuntut gedhang pengganti kepala kerbau pun mau menerima. Bahkan, mungkin, ketika disodori kuthuk yang berciap-ciap untuk diminum darahnya menjadi tidak tega. Inilah salah satu bentuk ngelmu rasa Jawa yang ternyata bisa menundukkan rasanya para dhanyang tanpa ngasorake. Hal ini juga mengandung makna bahwa sebagai saudara "spiritual" orang Jawa merasa sejajar kedudukannya dengan para dhanyang. Tidak takut-takut, harus ini harus itu. Sesuatu yang dianggap permintaan para dhanyang yang keterlaluan malah dijadikan setengah guyonan. Jangan-jangan para makhluk gaib yang diberi sesaji manipulatif itu juga tertawa-tawa? Atau jengkel ketika disuruh membunuh anak ayam yang berciap-ciap karena dipisah dari induknya. Adalagi yang lebih menggelikan kalau dinalar. Dahulu (termasuk dilakukan di belahan dunia lainnya seperti India, Timur Tengah dan tempat-tempat lain) ada sesaji yang sangat keterlaluan, yaitu sesaji yang berupa pengorbanan manusia ( purusamedha). Bahkan pengorbanan

sepasang pengantin baru. Nah di tangan orang Jawa, sesaji demikian dibuat guyonan konyol. Sepasang penganten cukup diwujudkan sepasang boneka yang didandani seperti penganten dan dibuat dari "tepung beras" atau "nasi". Sepasang penganten ini disebut dengan "bekakak" yang biasa dilabuh pada sesaji Laut Selatan di wilayah DIY. 2. Ruwatan Ruwatan merupakan bentuk laku budaya Jawa yang hingga sekarang masih banyak dilakukan. Upacaranya dilengkapi dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala yang artinya meruwat mangsanya Bethara Kala. Dalam ruwatan ini, diidentifikasi beberapa manusia yang diperbolehkan dewa untuk dijadikan mangsanya Bethara Kala. Manusia jenis demikian disebut sukerta. Dalam pagelaran wayang tersebut, diceriterakan tentang riwayat Bethara Kala, anak Bethara Guru yang salah kedaden. Berasal dari kama (sperma) Bethara Guru yang jatuh di samudera. Karena salah kedaden dan tidak diasuh, maka Bethara Kala menjadi marah dan liar memangsa semua titah hidup. Maka untuk mencegah keliaran Bethara Kala tersebut, Bethara Guru bersedia mengakui Bethara Kala sebagai anaknya. Dan mengadakan perjanjian tentang mangsa untuk Bethara Kala, yaitu semua manusia sukerta yang dimungkinkan bisa salah kedaden. Misalnya: anak tunggal, sepasang anak laki-perempuan, dua laki semua atau perempuan semua, tunggal perempuan dalam tiga atau lebih bersaudara, tunggal laki-laki dalam tiga atau lebih bersaudara dan lain-lainnya. Pada manusia yang sedemikian itu sebenarnya memang bisa salah kedaden ketika berintegrasi dalam kehidupan masyarakat. Artinya, bisa mengganggu keselerasan (keharmonisan) yang ada. Anak tunggal bisa dimungkinkan terlalu manja dan menang-menangan. Sepasang laki-laki atau sepasang perempuan bisa juga mengakibatkan saling iri diantara sudaranya sendiri, atau saling menyukai sehingga bias kelakian atau keperempuanannya. Demikian selanjutnya pada posisi ( kahanan, mangsa kala) dari para sukerta lainnya. Para sukerta yang bisa menjadi mangsa Bethara Kala tersebut perlu diruwat oleh kesaktian dalang Kandha Buwana yang tidak lain adalah Bethara Guru sendiri. Dhalang Kandha Buwana yang mampu membaca rajah pada tubuh Bethara Kala, sehingga Bethara Kala tunduk dan bersedia memenuhi permintaan Dhalang Kandha Buwana untuk manusia yang diruwat oleh ayahnya itu. Dalam perkembangan tradisi, maka Dhalang Kandha Buwana yang sesungguhnya Bethara Guru sendiri bisa diwakili oleh dalang wayang kulit purwa biasa. Meskipun para dalang peruwat menyatakan diri sebagai pewaris ngelmu-nya Dhalang Kandha Buwana, sesungguhnya masih menyisakan keraguan aspek rasionilnya. Ceritera ruwatan yang lain adalah cerita Sudhamala. Cerita ini bukan hanya berupa cerita lisan atau tulisan saja, melainkan juga menjadi bagian relief candi-candi versi Jawa Timuran, misalnya Candhi Sukuh. Candi-candi Jawa Timur dibangun pada masa kerajaan Kahuripan hingga Majapahit, ketika pengaruh Hindu dan Buddha jaman keemasan Mataram I di Jawa Tengah meluntur. Periode itu merupakan kembali bangkitnya kepercayaan Jawa yang asli, sehingga karya-karya sastra dan benda-benda budaya lain mengekspresikan kepercayaan asli Jawa, walaupun masih berbingkai induk cerita dari India (Mahabarata dan Ramayana). Pada periode itu mulai muncul cerita-cerita carangan, misalnya Gathutkaca Sraya, Nawaruci (Dewaruci), Arjuna Wiwaha, bahkan Barata Yuda pun di Jawa sebenarnya cerita carangan dari Mahabarata, karena arti harfiah Maha Bharata adalah "Perang Besar". Murwakala juga cerita carangan yang mencampur bingkai ajaran Hindu dan Buddha. Lakon Sudhamala menceritakan kesiku-nya (menyandang cacat atau berubah wujud karena sabda Dewa) Bethari Uma (lambang welas asih Ibu) menjadi Bethari Durga (lambang keserakahan Ibu). Bethari Uma karena sangat membela kepentingan puteranya Dewa Srani hingga berani membantah perintah (kekuasaan) Bethara Guru penguasa urusan jagad yang

notabene adalah suaminya. Bethara Guru marah lalu menyabda Bethari Uma dan anaknya menjadi berwatak raksasa, hingga berubah menjadi Bethari Durga dan Bethara Kala yang berwujud dan berparas raksasa. Keduanya kemudian diusir dari kahyangan para dewata dan disuruh menghuni tempat pembuangan Setra Ganda Mayit merajai para siluman. Substansi Sudhamala: bahwa untuk menghadapi isteri dan anak yang berani membantah seperti Bethari Uma (waktu itu) dan Dewa Srani, Bethara Guru lebih memilih kedudukannya sebagai pemegang amanah keadilan jagad ( jejibahan adiling jagad) sebagai Hyang Jagad Girinata, walaupun terpaksa harus berpisah lahir-batin dengan isteri dan anaknya. Dapatnya berkumpul lagi apabila anak dan isterinya yang sedang kesiku itu memperoleh kesadaran akan kedudukan sejatinya, sebagai isteri dan anak penguasa jagad. Selanjutnya Durga dan Kala bertemu dan diruwat (dibebaskan dari sabda dewa yang menyebabkan kecacatannya) oleh Raden Sadewa, saudara termuda Pandawa. Raden Sadewa merupakan simbol kebijaksanaan dan kepandaian, lambang ke-arif bijaksana-an. Dengan demikian dapat diambil pemahaman bahwa kesikunya Bethari Durga dan Dewa Srani hanya dapat dibebaskan dan dipulihkan setelah memperoleh kesadaran diri karena bertemu dengan hakikat kebijaksanaan dan kepandaian. Jadi ruwatan sebenarnya mengandung maksud pendidikan mendalam tentang watak (karakter) kejiwaan kepada orang yang diruwat. Orang yang diruwat adalah orang-orang yang tergolong sukerta, yaitu orang-orang yang berpotensi mendapat nasib (tingkah laku) buruk akibat suratan kelahirannya. Juga mengandung pendidikan dan peringatan kepada keluarga orang sukerta tadi agar waspada dalam mengasuh dan mendidiknya, agar potensi kesulitan dan masalah itu tidak mewujud. Ruwatan juga memiliki arti sebagai pencerahan batin kepada yang diruwat, yaitu mengingatkan akan perbuatannya yang kurang baik yang terlanjur dilakukan. Katakanlah seperti pertobatan kalau dalam ritual agama. Yaitu yang tercermin pada pulihnya Bethari Durga dan Dewa Srani yang terliputi nafsu-nafsu jahat dan keserakahan setelah memperoleh kesadaran lalu kembali menjadi Bethari Uma (yang penuh kebaikan seorang ibu) dan Dewa Srani (sebagai putera penguasa yang baik). Ruwatan juga memiliki maksud untuk memutus rantai hukum karma, karena setiap perbuatan jahat seseorang maka akibatnya sebagian akan ditanggung pula oleh keturunan atau keluarga dekatnya. Bentuknya adalah penderitaan dan kesialan-kesialan dalam menjalani kehidupan yang bila dinalar sulit dirunut penyebabnya. Ketika kesialan dan penderitaan hidup itu ditanyakan kepada orang-orang yang berkompeten, lalu dianjurkan agar menyelenggarakan ruwatan. Ruwatan dimaksud dalam rangka memohonkan ampun atas perbuatan salah dari leluhur yang telah tiada, juga untuk menghilangkan (menghapus) karma yang sedang berjalan. Ada lagi ruwatan yang disebut ruwatan wuku yaitu ruwatan atau lebih tepat lagi bila disebut sesaji untuk menolak tulah wuku. Seperti yang telah disampaikan, bahwa watak dan jalan hidup manusia itu dipengaruhi oleh aurora kosmis ketika dilahirkan. Daya kosmis itu ada yang buruk yang disebut dengan sambekala. Pengaruh itu disebut sambekala wuku, karena dipercaya berjalan dalam waktu 7 hari, dari Radhite (Minggu) hingga Saniscara (Tumpak, Sabtu) yang merupakan satu periode wuku. Sambekala wuku itu berwujud bungkus kosmis yang disandang manusia dari kondisi kosmis jagad raya ketika dia dilahirkan. Dengan demikian sebenarnya bukanlah kepastian Tuhan Yang Maha Kuasa, yang berarti masih dapat diupayakan penawarnya agar hilang atau luruh. Caranya bermacam-macam sesuai dengan kesanggupan masing-masing. Cara yang terbaik dan termurah, tentunya adalah laku prihatin yang dilandasi sikap pasrah diri kepada Tuhan untuk memberdayakan daya spirituil hidupnya sendiri. Ada juga yang cukup membuat sesaji penolak sambekala wuku. Ruwatan sesungguhnya merupakan laku budaya Jawa yang memuat pendidikan kejiwaan. Setidaknya merupakan media memberikan pengajaran tentang kendala-kendala yang dimiliki seseorang ketika berintegrasi dalam masyarakatnya. Sebuah mode pembelajaran khas Jawa yang arasnya kereligiusan, kesemestaan dan keberadaban manusia.

Jawa memang lebih mementingkan keharmonisan hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan alam semesta dan hubungan manusia dengan Tuhan. Maka laku budaya ruwatan tidak lepas dari aras Jawa tersebut. Pada manusia-manusia jenis sukerta, yaitu manusia yang dimungkinkan mengganggu keharmonisan semesta (termasuk keharmonisan masyarakat), perlu dicerahkan jiwanya secara khusus. Maka ruwatan juga merupakan bagian upaya Jawa menyelenggarakan ke-hayu-an semesta. Tingkat kesadaran manusia berperadaban yang tinggi kualitasnya. Dengan dasar pemikiran sebagaimana dipaparkan di atas, maka ruwatan bisa diselisik dan direkonstruksi sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas kesadaran kosmis manusia. Kesadaran kesemestaan umat manusia adalah dasar yang kuat bagi terbangunnya peradaban umat manusia yang hayu. 3. Tradisi Jawa Lainnya Kerukunan dan keselarasan bermasyarakat merupakan dasar tujuan yang diajarkan Kejawen. Tidak sekedar kerukunan dan keselarasan pergaulan dengan sesama manusia, namun juga dengan seluruh titah (mahluk) yang menghuni alam semesta. Kasat mata atau tidak, semua diupayakan bisa rukun dan selaras hubungannya. Karena tuntunan yang demikian, maka melahirkan suatu tradisi dan adat Jawa yang barangkali dinilai kurang pas bagi yang kurang memahami. Tradisi dan adat yang memerlukan pemahaman mendalam, diantaranya : 1. Tradisi Wiwit Para petani Jawa memiliki tradisi yang dinamakan wiwit, yaitu upacara memberikan sesaji sebelum memanen padi di sawah. Sesaji diberikan kepada para mahluk tidak kasat mata (gaib) yang dianggap ikut menghuni sawah yang akan dipanen. Pemilik sawah (biasanya ibuibu) membawa semua perlengkapan sesaji ke sawah diiringkan anak-anak kecil. Setelah pemilik sawah melakukan upacara ritualnya yang hanya diketahui yang bersangkutan, maka disiapkan lima bungkus sesaji dan dimintakan kepada anak-anak (di-pilih anak yang dianggap paling besar atau tua) untuk menempatkan bungkus sesaji tersebut di empat sudut sawah dan tulakan (tempat mengalirnya air ke petak sawah terse-but). Kepada anak-anak yang diberi tugas diberikan tuntunan mengucapkan kalimat untuk menyerahkan sesaji tersebut dalam bahasa Jawa ngoko. Diantaranya seingat penyusun sebagai berikut: Kaki Dhanyang, Nini Dhanyang kang semara bumi ing tulakan lan pojok wetan, kidul, kulon, lor sawahe Pak/Mbok ..., aku disraya ngaturake sesaji pancenanmu pinangka pituwase Pak/Mbok .... marang sliramu sing wis melu njaga lestarine tanduran lan sawahe .. (Kaki Danyang dan Nini Danyang penunggu bumi yang menghuni tulakan (pintu masuk air ke petak sawah) dan pojok timur selatan barat utara sawahnya Pak/Mbok ......., aku disuruh menyerahkan sesaji untukmu sebagai imbalan dari Pak/Mbok ..... kepada kamu yang telah ikut menjaga lestarinya tanaman dan sawahnya ... ). Tradisi ini banyak dianggap tahayul dan syirik karena dianggap menyembah Danyang. Suatu anggapan yang tanpa didasari kajian mendalam. Seandainya mau menelusuri makna penggunaan bahasa ngoko dan cukup anak kecil yang disuruh menyerahkan sesajinya, maka anggapan tahayul dan syirik itu akan gugur dengan sendirinya. Maksudnya, bahasa ngoko memiliki makna kesetaraan antara yang berbicara dengan lawannya. Padahal itu anak-anak, maka sebenarnya tradisi itu mengajarkan suatu cara bergaul antara manusia dengan mahluk gaib dan bukan menyembah. Penanaman kesadaran kepada anak untuk menyadari bahwa manusia tidak hidup sendirian di muka bumi ini. Suatu ajaran budi pekerti yang sangat mendasar dan dijadikan tradisi adat berpijak pada mitologi yang masuk akal. Kalau kenyataannya ada mahluk gaib ciptaan Tuhan yang sama-sama diperintahkan menghuni dunia. 2. Tradisi Sesaji Saat Mantu Tradisi adat yang mirip dengan upacara wiwit di sawah adalah pemberian sesaji kepada para

danyang penunggu desa saat akan punya hajat mantu. Kegiatannya berupa upacara oleh dukun manten memberikan sesaji kepada para danyang yang menghuni tempat-tempat sekitar desa yang dianggap angker ( wingit). Rapal penyerahan sesaji yang diajarkan dukun manten kepada yang disuruh menyampaikan sesaji juga menggunakan bahasa Jawa ngoko, artinya pemberi sesaji dan yang diberi sesaji posisinya setara. Berarti juga bukan merupakan laku menyembah. Dan lebih bisa diartikan sebagai bentuk undangan ( ulem-ulem) kepada sesama saudara mahluknya Tuhan. Apakah hal ini bukannya menunjukkan ekspresi keimanan kepada Tuhan yang lebih nyata dan jelas ? 3. Selamatan Kelahiran Anak Hewan Peliharaan Tradisi adat mengadakan selamatan untuk hewan peliharaannya (kuda, kerbau, sapi, kambing, kucing, anjing, dll.) yang melahirkan anak. Adat tatacara yang seperti ini sudah pasti dianggap suatu hal yang aneh dan mubadir. Namun kalau didalami dengan menajamkan nalar dan rasa pangrasa akan menghasilkan pemahaman berbeda. Falsafah hidup Jawa (Kejawen) memang berakar kuat pada semua laku budaya Jawa yang memuat pula laku panembah, memayu hayuning bawana, dan mengupayakan keselarasan dalam hidup di dunia. Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, bahwa semua mahluk yang tergelar di dunia ini adalah saudara bagi manusia. Karena itulah orang Jawa yang memahami falsafah hidupnya (Kejawen) pasti merasa wajib memelihara hubungannya lahir batin dengan semua mahluk yang ada di muka bumi ini. Sejalan dengan salah satu ajaran Kasampurnan (Kejawen) yang bunyi kalimatnya sebagai berikut Tresnana sakabehing urip kaya tresnaning-Sun marang sira wujud urip kang sejati. (Cintailah sesama hidup sebagaimana cinta-Ku (Pangeran) kepadamu berupa hidup yang sejati). Dengan demikian tradisi selamatan kelahiran anak hewan peliharaan itu juga merupakan salah satu ekspresi panembah, memayu hayuning bawana, dan upaya menciptakan keselarasan hidup di dunia. 4. Tradisi Kidungan dan Macapatan Tradisi adat menembangkan tembang-tembang macapatan dan ngidung diwaktu malam dengan tujuan menolak hama penyakit atau menenteramkan suasana batin masyarakat desa yang sedang gelisah. Tradisi demikian kadang dia-nggap mengundang setan. Suatu tuduhan yang kelewat ngawur. Karena konsep Kejawen tidak mengenal setan dan malaikat sebagaimana diajarkan oleh agama-agama dari Timur Tengah. Menurut pandangan Kejawen, semua mahluk ciptaan Tuhan adalah saudara, maka tidak ada diskripsi musuh berupa setan atau utusan yang disebut malaikat. Prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia menjamin hak memiliki konsep kepercayaan yang seperti ini. Dalam hal ngidung memang memuat nuansa berkomunikasi dengan mahluk-mahluk yang tidak kasat mata (gaib). Melalui irama tembang Jawa yang bernuansa sebagai mantra, orang Jawa melakukan komunikasi itu. Dengan demikian syah dan tidak melanggar hak siapapun kalau orang Jawa punya laku budaya berkomunikasi dengan semua mahluk ciptaan Tuhan. Sesungguhnya saja bahwa irama nada (melodi) tembang macapat yang dipakai untuk kidungan adalah mantra suara atau sastra gendhing. Bahwa Jawa memiliki kemampuan melahirkan mantra suara berupa tembangtembang adalah bagian tingkat peradaban dan budaya Jawa yang memiliki aras memayu hayuning bawana. Kalangwan, yang artinyab selalu mempersembahkan keindahan adalah aras laku budaya Jawa. Untuk menyusun karya sastra gendhing atau mantra suara berupa tembang macapat dibutuhkan kemampuan memahami bahasa mantra, pathet dan laras nada gamelan Jawa. Maka terasa aneh ketika kemudian banyak diwacanakan bahwa pencipta tembang-tembang macapat adalah para wali agama Islam yang kebanyakan orang asing (Arab dan Cina). Selagi ngomong Jawa saja tidak tth mustahil mengerti pathet dan laras nada gamelan sebagai syarat menciptakan tembang Jawa. 5. Tradisi Langen Gendhing Gamelan Langen gendhing-gendhing karawitan (gamelan), merupakan laku kesenian Jawa yang juga

mengandung nilai ajaran Kejawen cukup dalam tentang keselarasan dan kerukunan. Diantaranya mengandung dasar ajaran bahwa keselarasan dan kerukunan tidak harus berarti keseragaman, namun justru merupakan penggabungan dari unsur-unsur berbeda. Seperti bentuk dan cara menabuh peralatan gamelan yang satu dengan lainnya berbeda. Posisi duduk para penabuhnya juga tidak beraturan. Ketiga hal tersebut menjadi simbul atau lambang perbedaan. Namun ketika secara bersama-sama harus memainkan suatu gending, maka yang berbeda-beda tersebut harus mengintegrasikan diri agar mampu menghadirkan suatu paduan suara yang indah. Maka dalam ajaran Kejawen yang dipentingkan adalah kebersamaan, kerukunan dan keselarasan sebagaimana paduan gending. Sudah pasti setiap bagian yang bersama-sama menyuguhkan sesuatu yang indah dan selaras dengan kewajiban sendirisendiri menurut ketentuan masing-masing. Saking indah dan selarasnya bunyi suara gamelan hingga mampu be-resonansi dengan alam (kosmis) lain, sebagaimana adanya gamelan siluman. Telinga manusia wajar sering mendengar suara gamelan siluman pada malam hari yang dikeramatkan (Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon). Maka sebaliknya terjadi pula suara gamelan yang dibunyikan manusia akan didengar pula oleh mahluk lain yang tidak kasat mata, lelembut atau siluman. Sehingga suara gamelan bisa disebut sarana komunikasi lintas kosmis. Irama gamelan Jawa merupakan karya sastra gendhing atau mantra suara yang tinggi tingkatannya. Pada suku-suku pedalaman banyak pula ditemukan tradisi bermusik sebagai bagian ritual untuk kesemestaan. Adalah Jawa yang kemudian mengembangkan tradisi ritual suara tersebut dengan menggunakan gamelan. Bahkan dalam membuat gamelan itu sendiri sudah merupakan kemampuan orang Jawa dalam mencampur dan menempa berbagai logam (metalurgi). 6. Tradisi Pentas Wayang Dalam tradisi, adat dan mitologi Jawa pentas wayang, terutama Wayang Kulit Purwa, sangat utama kedudukannya. Bisa dikatakan pentas wayang merupakan sebuah produk budaya Jawa yang multi dimensi. Ada aspek hiburan, seni, pendidikan, mistik dan spiritualisme yang termuat (kamot, Jw.) dalam pentas pagelaran wayang kulit. Juga menampilkan kejeniusan Jawa dalam mengolah ( mbesut, Jw) cerita wayang yang diambil dari kisah Ramayana dan Mahabharata hingga menjadi sedemikian rupa men-Jawa. Maksudnya, sedemikian rupa hebat kejeniusan dalam membesut nilai-nilai keutamaan dari Ramayana dan Mahabharata sehingga bisa diadopsi menjadi nilai-nilai keutamaan dalam ajaran Kejawen dan bisa mendarah daging sampai pada rakyat kelas bawah. Sudah barang tentu kalau nilai-nilai keutamaan yang dicerap masyarakat Jawa tersebut sudah merupakan hasil sinergi nilai-nilai keutamaan asli Jawa dengan nilai-nilai keutamaan dalam ajaran agama Hindu, Buddha dan Islam. 7. Keris,Tosan Aji, Jimat Dalam tradisi, adat dan mitologi Jawa ada kepercayaan adanya daya linuwih (tuah, kekuatan mistis) dari keris dan benda-benda berbentuk senjata tajam lain, disebut tosan aji. Juga terhadap daya linuwih untuk benda pusaka lainnya yang disebut jimat. Kepercayaan yang seperti ini memang mengundang tanggapan minor. Namun, barangkali, kiranya hampir semua bangsa di dunia ini memiliki kepercayaan-kepercayaan yang mirip dengan kepercayaan Jawa tersebut. Artinya, bahwa mempercayai adanya tuah suatu benda berlaku universal. Dalam tingkatan tinggi disebut muzizat sebagaimana tongkat Nabi Musa. Atau tuah permata yang ditempelkan pada mahkota raja-raja di India. Seandainya manusia yang dianggap bertingkat nabi atau raja boleh memiliki benda bertuah, apa salahnya rakyat biasa juga mempunyai benda-benda dalam wujud lain yang dianggap bertuah? Justru dalam hal ini ada suatu kreatifitas Jawa yang begitu unik. Keris dan senjata tajam lainnya seharusnya berfungsi untuk berkelahi dan saling bunuh. Maka fungsi tersebut oleh Jawa telah diubah menjadi fungsi benda seni dan benda bertuah yang tidak lagi bermakna untuk

perkelahian. Dengan demikian menunjukkan bahwa Jawa sangat mengedepankan cinta damai antar sesama manusia. Disamping merupakan karya seni, keris dan tosan aji juga merupakan kemampuan Jawa dalam bidang metalurgi. Pembuatan keris yang berpamor merupakan suatu keahlian tehnik pencampuran dan penempaan berbagai logam yang tidak bisa dianggap remeh. Contoh-contoh yang tersajikan kiranya bisa untuk memahami bahwa adanya tradisi dan adat Jawa sesungguhnya merupakan lambang dan simbul suatu ekspresi falsafah Jawa yang tidak harus dikonotasikan negatif seperti anggapan tahayul, klenik, syirik, mensekutukan Tuhan dan berkomplot dengan setan. Membangun hubungan harmonis dengan semua titah ciptaan Tuhan adalah salah satu aras ajaran Kejawen. Tidak ada musuh bagi manusia menurut pandangan Jawa. Apalagi mendiskripsikan ada setan sebagai musuh Tuhan, sangat tidak masuk akal bagi ajaran Kejawen. Bahwa tradisi, adat, budaya Jawa kemudian dinilai nyleneh lebih disebabkan pihak yang menilai tidak mengerti Jawa saja. Kenyataan bahwa budaya dan peradaban umat manusia di muka bumi ini memang berbhineka. Mustahil untuk diseragamkan. Maka yang diperlukan adalah saling memahami dan saling mengerti untuk membangun pergaulan antar manusia lebih beradab. *