Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Autisme merupakan gangguan pervasif yang mencakup gangguangangguan dalam komunikasi verbal dan non-verbal, interaksi sosial, perilaku dan emosi (Sugiarto, dkk, 2004). Lebih lanjut mengenai autis merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan interaksi social (Judarwanto, 2006) Autisme dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya miskin, di desa dikota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis dan budaya di dunia. Sekalipun demikian anak-anak di negara maju pada umumnya memiliki kesempatan terdiagnosis lebih awal sehingga memungkinkan tatalaksana yang lebih dini dengan hasil yang lebih baik. Di Inggris pada awal tahun 2002 dilaporkan bahwa angka kejadian autis meningkat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autis. Sampai saat ini belum ada data resmi mengenai jumlah anak autisme di Indonesia, namun lembaga sensus Amerika Serikat melaporkan bahwa pada tahun 2004 jumlah anak dengan ciri-ciri autisme di Indonesia telah mencapai 475.000 orang. Laporan terakhir badan kesehatan dunia (WHO) tahun 2005 memperlihatkan perbandingan anak autisme dengan anak normal di seluruh dunia, termasuk Indonesia telah mencapai 1:100 (Sinung, 2006). Tidak ada data konkret mengenai jumlah anak autis di Indonesia sehingga perkembangan autis dimasyarakat seperti fenomena gunung es saja (Kompas, 20 Juli 2005 dalam Ginanjar 2007). Tidak mudah bagi orang tua untuk menghadapi kenyataan bahwa anak mereka mengalami gangguan autis. Awalnya orang tua akan bingung karena orang tua tidak memiliki pemahaman tentang autis. Ada juga orang tua yang shock dan merasa tertuduh karena memiliki pemahaman yang salah tentang gangguan autis. Orang tua merasa bahwa anak autis lahir akibat dosa-dosa orang tua, bahkan ada juga pasangan suami istri bertengkar lalu saling menyalahkan. Dampak dari kebingungan, keterkejutan, rasa berdosa dan pertengkaran orang tua

yang berlarut-larut dapat merugikan anak autis karena diagnosis anak tidak segera ditatalaksana (Wanei, dkk. 2005). Berdasarkan uraian dan fakta di atas, penulis tertarik dalam menyajikan pembahasan mengenai anak dengan autis di Indonesia. Sehingga diharapkan perawat tidak hanya merawat fisiknya saja tetapi psikis dan sosialnya juga diperhatikan, karena pelayanan keperawatan mencakup bio-psiko-sosio-spiritual yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apa masalah yang dihadapi anak Autistik? 1.2.2 Bagaimana ciri anak Autistik? 1.2.3 Apa pantangan yang harus dihindari oleh anak autistik? 1.2.4 Apa saja kesalahan yang sering dilakukan orang tua pada anak autistik? 1.2.5 Bagaimanakah peran keluarga terhadap anak autistik? 1.2.6 Apa saja problematika yang muncul pada anak autistik? 1.2.7 Bagaimana pendidikan yang sesuai pada anak gangguan autistik? 1.2.8 Bagaimana peran pemerintah terhadap anak gangguan autistik?

1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan umum Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah keperawatan jiwa 2 yang berupa makalah dengan judul asuhan keperawatan gangguan autistik. 1.3.2 Tujuan khusus 1. Untuk mengetahui masalah yang dihadapi anak Autistik. 2. Untuk mengetahui ciri anak Autistik. 3. Untuk mengetahui pantangan yang harus dihindari oleh anak autistik. 4. Untuk mengetahui kesalahan yang sering dilakukan orang tua pada anak autistik. 5. Untuk mengetahui peran keluarga terhadap anak autistik. 6. Untuk mengetahui problematika yang muncul pada anak autistik. 7. Untuk mengetahui pendidikan yang sesuai pada anak gangguan autistik. 8. Untuk mengetahui peran pemerintah terhadap anak gangguan autistik
2

1.4 Manfaat penulisan Dapat menambah wawasan kita bagi pembaca mengenai fenomenafenomena yang muncul di masyarakat, serta asuhan keperawatan gangguan autistic.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Permasalahan Anak Autis Tumbuh kembang tersebut pemberian nutrisi atau asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna. Sering timbul masalah terutama dalam pemberian makan pada anak autisme. Mekanisme pencernaan yang tidak sempurna dalam tubuh anak autisme disebabkan oleh reaksi Opioid. Reaksi opioid mengakibatkan adalah suatu reaksi yang paling merusak. Hal itu biasanya terjadinya kebocoran usus (leaky gut). Sekitar 50% pasien

autisme mengalami kebocoran usus sehingga terjadi ketidakseimbangan flora usus (Winarno dan Agustinah, 2008). Aspek pengaturan pola makan sedemikian penting bagi anak autisme, karena suplai makanan merupakan dasar pembentuk neurotransmitter. Disamping itu anak autisme juga mengalami reaksi alergi dan intoleransi terhadap makanan dengan kadar gizi tinggi. Zat-zat makanan yang seharusnya membentuk neurotransmitter untuk menunjang kesinambungan kerja sistem syaraf, justru dalam tubuh anak autisme diubah menjadi zat lain yang bersifat meracuni syaraf atau neurotoksin (Wijayakusuma, 2004). Oleh karena itu aspek dalam mengatur pola makan merupakan hal yang sangat penting. 2.2 Ciri Gangguan Pada Autis 1. Gangguan dalam komunikasi a. terlambat bicara, tidak ada usaha untuk berkomunikasi dengan gerak dan mimik b. meracau dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti orang lain c. sering mengulang apa yang dikatakan orang lain d. meniru kalimat-kalimat iklan atau nyanyian tanpa mengerti e. bicara tidak dipakai untuk komunikasi f. bila kata-kata telah diucapkan, ia tidak mengerti artinya g. tidak memahami pembicaraab orang lain
4

h. menarik tangan orang lain bila menginginkan sesuatu 2. Gangguan dalam interaksi social a. menghindari atau menolak kontak mata b. tidak mau menengok bila dipanggil c. lebih asik main sendiri d. bila diajak main malah menjauh e. tidak dapat merasakan empati 3. Gangguan dalam tingkah laku a. asyik main sendiri b. tidak acuh terhadap lingkungan c. tidak mau diatur, semaunya d. menyakiti diri e. melamun, bengong dengan tatapan mata kosong f.kelekatan pada benda tertentu g. tingkah laku tidak terarah, mondar mandir tanpa tujuan, lari-lari, manjat-manjat, h. berputar-putar, melompat-lompat, mengepak-ngepak tangan, berteriakteriak, i. berjalan berjinjit-jinjit. 4. Gangguan dalam emosi a. rasa takut terhadap objek yang sebenarnya tidak menakutkan b. tertawa, menangis, marah-marah sendiri tanpa sebab c. tidak dapat mengendalikan emosi; keinginannya 5. Gangguan dalam sensoris atau penginderaan a. menjilat-jilat benda b. mencium benda-benda atau makanan c. menutup telinga bila mendengar suara keras dengan nada tertentu d. tidak suka memakai baju dengan bahan yang kasar ngamuk bila tidak mendapatkan

Karakteristik sesuai

tersebut di atas sering

juga disertai dengan adanya

ketidakmampuan untuk bermain, seperti; tidak menggunakan mainan dengan fungsinya,kurang mampu bermain spontan dan imjinatif, tidak mampu meniru orang lain, dan sulit bermain pura-pura. 2.3 Pantangan Bagi Anak Autis Seperti dilansir LiveStrong.com, Senin (2/4/2012), berikut adalah jenis makanan yang harus dipantang oleh penderita autis:
1. Gluten

Gluten adalah protein yang terkandung dalam gandum, barley dan tepung terigu. Kelompok advokasi autisme bernama Talk About Curing Autism (TACA) merekomendasikan orangtua dengan anak autis untuk membaca label makanan dengan hati-hati dan menghindari asupan gluten. TACA juga merekomendasikan untuk menghindari millet dan oat karena diolah di dekat pengolahan gluten dan besar kemungkinannya telah terkontaminasi. Baik barley, millet dan oat merupakan bahan yang banyak digunakan dalam sereal. Karena gluten banyak mengandung vitamin dan serat, menerapkan pola makan anti gluten akan memerlukan panduan ketat dari ahli gizi dan dokter agar anak autis tetap mendapat nutrisi yang cukup.
2. Kasein

Kasein adalah protein yang ditemukan pada banyak produk makanan. Semua produk susu mengandung kasein termasuk keju, yoghurt, susu sapi, susu kambing, susu domba dan bahkan ASI. Kasein sama seperti gluten, diduga mempengaruhi proses metabolisme pada individu autis. Menurut TACA, mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan ini menyebabkan gejala sulit berkomunikasi dan sulit melakukan kontak sosial. Menghindari asupan kasein dari makanan harus dilakukan secara hati-hati karena dapat menyebabkan tubuh kekurangan nutrisi berharga seperti kalsium dan vitamin C.
3. Kedelai 6

Kecap, tempe dan minyak kedelai adalah beberapa makanan yang mengandung kedelai. Beberapa makanan lain juga menggunakan kedelai sebagai bahan bakunya. TACA merekomendasikan penyandang autis untuk menghindari produk kedelai karena kedelai yang diproduksi di Amerika sering dimodifikasi secara genetik sehingga bisa menyebabkan alergi makanan. Bacalah label makanan dengan cermat dan waspada. Meskipun tidak ada penelitian yang dengan jelas menegaskan bahwa membatasi asupan kedelai dapat membantu meringankan gejala autisme, TACA menyatakan bahwa orangtua yang menerapkan pola makan ini menyaksikan perbaikan gejala autis pada anak-anaknya. 2.4 Kesalahan Mendasar Orang Tua Berikut adalah kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan orangtua anak autis dalam menangani anaknya:
1. Selalu mengikuti kemauan anak agar tidak marah

Hal ini akan membuat anak menjadi semakin menuntut sebab keinginan anak akan semakin meningkat. Sebaiknya jelaskan kepada anak mengapa tidak terkadang keinginannya tidak boleh dipenuhi.
2. Sering tidak menepati janji tanpa penjelasan sebelumnya

Putro Agus Harnowo - detikHealth Anak autis sangat tergantung pada rutinitas yang terstruktur. Jadi orangtua harus menjelaskan mengapa tidak bisa menepati janji. Jika sering melanggar janji tanpa alasan yang jelas sebelumnya, anak autis bisa menjadi tantrum atau rewel dan tak lagi percaya orangtanya.
3. Tidak membolehkan sama sekali tingkah laku stimulasi anak

Anak autis memiliki kepekaan indera, baik penglihatan, pendengaran, pengecapan, perabaan dan pembauan. Tapi bukan berarti anak autis harus dihindarkan dari hal-hal yang mengganggu. Terkadang anak perlu diajak ke tempat-tempat yang ramai seperti mall atau pusat perbelanjaan untuk meningkatkan kemampuan berinteraksinya.

4. Menanyai anak autis dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan

Seringkali anak autis merasa kesal dengan tiba-tiba. Apabila hal ini terjadi, jangan ganggu anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang justru membuatnya marah. Biarkan saja sampai moodnya membaik lagi baru kemudian diajak berkomunikasi. 2.5 Peran Keluarga Bentuk peran keluarga yang seharusnya dilakukan ketika mempunyai anak autis: 1. Memahami keadaan anak apa-adanya (positif-negatif, kelebihan dan kekurangan). Langkah ini justru yang paling sulit dicapai orang tua, karena banyak diantara orang tua sulit atau enggan menangani sendiri anaknya sehari-hari di rumah. Mereka banyak mengandalkan bantuan pengasuh, pembantu, saudara dan nenek-kakek dalam pengasuhan anak (bagian dari denial). Padahal, pengasuhan sehari-hari justru berdampak baik bagi hubungan interpersonal antara anak dengan orang tuanya, karena membuat orang tua a. memahami kebiasaan-kebiasaan anak, b. menyadari apa yang bisa dan belum bisa dilakukan anak, c. memahami penyebab perilaku buruk atau baik anak-anak, d. membentuk ikatan batin yang kuat yang akan diperlukan dalam kehidupan di masa depan. Sikap orang tua saat bersama anak sangat menentukan. Bila orang tua bersikap mengecam, mengkritik, mengeluh dan terus menerus mengulang-ulang pelajaran, anak cenderung bersikap menolak dan masuk kembali ke dalam dunianya. Ada baiknya orang tua dibantu melihat sisi positif keberadaan anak, sehingga orang tua bisa bersikap lebih santai dan hangat setiap kali berada bersama anak. Sikap orang tua yang positif, biasanya membuat anak-anak lebih terbuka akan pengarahan dan lalu berkembang ke arah yang lebih positif pula. Sebaliknya, sikap orang tua yang menolak

(langsung atau terselubung) biasanya menghasilkan individu autis yang sulit untuk diarahkan, dididik dan dibina.

2.

Mengupayakan alternatif penanganan sesuai kebutuhan anak. Alternatif penanganan begitu banyak, orang tua tidak tahu harus memberikan apa bagi anaknya. Peran dokter disini sangat penting dalam membantu memberikan ketrampilan kepada orang tua untuk dapat menetapkan kebutuhan anak. Satu hal penting yang perlu diingat oleh setiap orang tua adalah bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda dari anak lain. Greenspan (2008) menekankan bahwa setiap anak memiliki profil yang unik dan spesifik. Individual differences (perbedaan individu) ini tertampil pada a. bagaimana anak memproses informasi (gaya belajar), bereaksi terhadap sensasi, merencanakan tindakan, dan merunut perilaku atau pikiran mereka; b. derajat kapasitas fungsi emosional, sosial dan intelektual mereka; c. pola interaksi dan komunikasi mereka; d. kepribadian mereka; e. pola pengasuhan keluarga mereka. Tentu saja perbedaan individu ini sangat berpengaruh dalam rancangan intervensi yang melibatkan orang tua, terapis dan pendidik.

3. Pendampingan intensif Pendampingan yang dimaksud disini bukanlah menemani, tetapi memastikan adanya interaksi aktif antara anak dengan pengasuh/orang tua yang ada di sekitarnya. Tujuan pendampingan intensif bukan saja untuk membina kontak batin terus menerus dengannya (bukan sekedar kontak mata), tetapi meningkatkan pemahaman anak yang umumnya cenderung terbatas. Pendampingan ini dilaksanakan sejak anak mulai membuka mata, hingga saatnya ia tertidur kembali di malam hari. Saat pendampingan intensif, tugas siapapun yang menemani anak untuk memberikan
9

informasi dan pengalaman dalam berbagai bentuk kepada anak. Penting sekali untuk tidak membiarkan anak sendirian tanpa melakukan apa-apa. Berikan pengalaman sebanyak mungkin, disertai pengarahan. Anak harus tahu, bahwa dunia ini sarat dengan makna. Dengan mengikuti kemana ia pergi, memberi tahu apa yang ia pegang atau lihat, menjelaskan berbagai kejadian yang ia alami, kita memberi makna pada hidupnya. 2.6 Problematika Anak Autis Problematika yang timbul dalam menghadapi anak autis dapat ditinjau dari berbagai faktor, yaitu : 1. Faktor Penderita (Autisme) a. Autisme disebabkan oleh adanya gangguan neurobiologis dan kimiawi di dalam susunan saraf pusat yang terjadi pada anak berusia dibawah 3 tahun. Karena itu terapinya menjadi sangat sulit atau bahkan mustahil b. Ada / tidak adanya penyakit fisik atau psikis lain yang menyertainya c. Gangguan interaksi sosial d. Gangguan komunikasi e. Tingkah laku, minat dan aktifitasnya terbatas, berulang dan stereotipik. 2. Faktor orang tua dan keluarga a. Pada umumnya, pengetahuan orang tua dan keluarga dari anak autis tentang autisme masih sangat rendah sehingga penanggulannya sering terlambat b. Orang tua dan keluarga menjadi gelisah, cemas, depresi bahkan putus asa setelah pengobatan yang diberikan sekian lama tidak menunjukkan hasil yang nyata c. Orang tua dan keluarga menjadi hilang kesabarannya dan tidak peduli lagi pada anaknya, karena pengobatan yang diberikan sekian lama tidak menunjukkan hasil yang nyata

10

d. Orang tua dan keluarga menjadi over protected akibat munculnya perasaan bersalah / berdosa telah melahirkan anak autis. 3. Faktor lingkungan masyarakat Pengetahuan masyarakat yang sangat minim tentang autisme mengakibatkan mereka tidak peduli dan menganggap rendah anak autis, atau bahkan menganggap anak autis adalah anak yang tidak berguna. 4. Faktor diagnostik dan terapi Idealnya terapi deberikan sedini mungkin dan melibatkan beragam profesi keahlian. Tetapi, tidaklah mudah membuat diagnosis dini anak autis, terutama bila dokternya belum banyak pengalaman. Karena itu terapinya sering terlambat. 5. Faktor lingkungan pendidikan Belum ada lingkungan pendidikan / sekolah yang memadai untuk mengelola anak autis secara komprehensif. 2.7 Pendidikan Bagi Anak Autis 1. Kelas Transisi Kelas ini diperuntukkan bagi anak austis terpadu atau terstruktur. 2. Program Pendidikan Inklusi Program ini dilaksanakan oleh sekolah reguler yg sudah siap memberikan layanan bagi anak autis 3. Program Pendidikan Terpadu Program ini dilaksanakan pada sekolah reguler dalam kasus / waktu tertentu 4. Sekolah Khusus Autis Sekolah ini diperuntukkan khusus bagi anak autis terutama yang tidak memungkinkan dapat mengikuti pendidikan di sekolah reguler yang telah diterapi dan memerlukan layanan khusus termasuk anak autis yang telah diterapi secara

11

5. Program Sekolah di Rumah Program ini diperuntukkan bagi anak autis yg tidak mampu mengikuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya 6. Panti (Griya) Rehabilitasi Autis Anak autis dgn kemampuan sangat rendah dan gangguan sangat parah dapat mengikuti program pendidikan di panti (griya) rehabilitasi autis 7. Keterampilan Kerja Keterampilan kerja ini terbatas sesuai minat, bakat, dan potensi yang dimiliki anak autis. 2.8 Peran Pemerintah Sampai saat ini, pendidikan bagi anak autis pada umumnya diselenggarakan oleh masyarakat (yayasan), sedangkan pemerintah sebagai fasilitator. Berbagai program pemerintah yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan antara lain: 1. Penyusunan Pedoman/Pola Penyelenggaraan Pendidikan Anak Autis 2. Penyelenggaraan rapat Koordinasi antar Instansi/Lembaga yang terkait dengan Pendidikan Anak Autis 3. Penyelenggaraan Seminar, Workshop, dll yg sejenis dalam rangka Pengembangan Pendidikan Anak Autis 4. Penyelenggaraan Sosialisasi Pendidikan Anak Autis kepada

Masyarakat, Pejabat Pemerintah, dan Praktisi 5. Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan bagi para Penyelenggara/ Pengelola dan Praktisi Pendidikan Anak Autis 6. Pemberian Subsidi/Block Grant kepada Instansi/Lembaga/Sekolah Penyelenggara Pendidikan Anak Autis 7. Pengadaan Alat Pendidikan Khusus 8. Pemberian Bieasiswa bagi Anak Autis

12

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian


Diperkirakan 75%-80% penyandang autis ini mempunyai retardasi mental, sedangkan 20% dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk bidang-bidang tertentu (savant) Anak penyandang autistik mempunyai masalah/gangguan dalam bidang : 1. Komunikasi: a. Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada. b. Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara tapi kemudian sirna, c. Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya. d. Mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tak dapat dimengerti orang lain e. Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi f. Senang meniru atau membeo (echolalia) g. Bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian tersebut tanpa mengerti artinya h. Sebagian dari anak ini tidak berbicara ( non verbal) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa i. Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu
13

2. Interaksi sosial: a.Penyandang autistik lebih suka menyendiri b. Tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan c. tidak tertarik untuk bermain bersama teman d. Bila diajak bermain, ia tidak mau dan menjauh 3. Gangguan sensoris: a. sangat sensistif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk b. bila mendengar suara keras langsung menutup telinga c. senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda d. tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut 4. Pola bermain: a. Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya, b. Tidak suka bermain dengan anak sebayanya, c. Tidak kreatif, tidak imajinatif d. tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya di putar-putar e. senang akan benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda sepeda, f. dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana 5. Perilaku: a. Dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau kekurangan (hipoaktif) b. Memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang, mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan mata ke pesawat TV, lari/berjalan bolak balik, melakukan gerakan yang diulangulang c. Tidak suka pada perubahan d. Dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong 6. Emosi: a. sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan b. temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak diberikan keinginannya
14

c. kadang suka menyerang dan merusak d. Kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri e. tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain 3.2 Diagnosa keperawatan 1. Hambatan Komunikasi verbal dan non verbal berhubungan dengan rangsangan sensori tidak adekuat,gangguan keterampilan reseptif dan ketidakmampuan anak mengungkapkan perasaan. 2. Isolasi sosial berhubungan dengan ketidakmampuan anak untuk percaya dengan orang lain dan menutup diri. 3. Resiko tinggi cedera menyakiti diri sendiri berhubungan dengan kurangnya pengawasan. 3.2 intervensi keperawatan No.DX TUJUAN INTERVENSI

15

DX.1 hambatan Komunikasi verbal dan non verbal B/D rangsangan sensori tidak adekuat ,gangguan keterampilan reseptif dan ketidakmampuan anak untuk percaya dengan orang lain

Klien dapat berkomunikasi 1. Pelihara hubungan saling dan mampu mengungkapkan persaan kepada orang lain percaya untuk memahami komunikasi anak. 2. Gunakan kalimat sederhana dan lambang sebagai media. 3. Anjurkan kepada orang tua untuk melakukan tugas secara konsisten. 4. Pantau pemenuhan kebutuhan komunikasi anak sampai menguasai. 5. Kurangi kecemasan anak saat belajar komunikasi. 6. Berikan support pada keberhasilan anak 7. Bicara secara jelas dengan kalimat sederhana. 8. Hindari kebisingan saat berkomunikasi. 9. Pertahankan kontak mata dalam menyampaikan ungkapan non verbal

DX.2 Isolasi social B/D ketidakmampuan anak untuk percaya pada orang lain dan menutup diri

klien mau memulai interaksi dengan teman sebaya

1. Batasi jumlah temannya 2. Tingkatkan pemeliharaan dan hubungan saling percaya. 3. Motivasi anak untuk berhubungan dengan orang lain 4. Pertahankan kontak mata anak selama berhubungan dengan
16

orang lain

DX.3 Resiko tinggi cedera menyakiti diri sendiri B/D kurangnya pengawasan Klien tidak menyakiti diri sendiri

1. Berikan dan

sentuhan,senyuman pelukan untuk

menguatkan sosialisasi 2. Bina hubungan saling percaya 3. Kurangi penyebab yang menimbulkan kecemasan anak 4. Alihkan perilaku menyakiti diri yang terjadi akibat respon dari peningkatan kecemasan 5. Alihkan perhatian dengan hiburan untuk menurunkan kecemasan anak 6. Lindungi anak ketika perilaku menyakiti diri terjadi 7. Perhatikan aman lingkungan yang

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan Suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks, yang secara klinis ditandai oleh adanya 3 gejala utama berupa : kualitas yang kurang dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional, kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas, perilaku tak
17

wajar, disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipik). Selain itu tampak pula adanya respon tak wajar terhadap pengalaman sensorik, yang terlihat sebelum usia 3 tahun. Penyebab Autisme diantaranya : Genetik, kelainan kromosom, neurokimia, cidera otak, penyakit otak organic, Lingkungan terutama sikap orang tua, dan kepribadian anak. Penatalaksanaannya : 1. Applied Behavioral Analysis (ABA), ABA telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bisa diukur kemajuannya . Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia. 2. Terapis Wicara , Terapis Wicara dapat diminta untuk berkonsultasi dan konseling; mengevaluasi; memberikan perencanaan maupun penanganan untuk terapi; dan merujuk sebagai bagian dari tim penanganan kasus. 4.2 saran Kiranya melalui media ini penulis menghimbau kepada para ahli dan paktisi di bidang autisme untuk semakin mengembangkan strategi-strategi dan teknik-teknik pengajaran yang tepat bagi mereka. Apalagi mengingat fakta dari hasil-hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa 80% anak dengan autisme memiliki intelegensi yang rendah dan tidak berbicara atau nonverbal. Namun sekali lagi, apapun diagnosa maupun label yang diberikan prioritasnya adalah segera diberikannya intervensi yang tepat dan sungguh-sungguh sesuai dengan kebutuhan mereka.

DAFTAR PUSTAKA
Morgan Speer, Kathleen.2008. Rencana Asuhan Keperawatan Pediatric. Jakarta: EGC http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/09/perilaku-kekerasan/ diakses tgl 17-09-2012 jam 10.25 Videbeck, shella.2008.buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta : egc
18

http://eprikenzu.blogspot.com/2011/06/asuhan-keperawatan-pada-pasienautisme.html. diakses tgl 17-09-2012 jam 10.30 http://www.scribd.com/doc/49242007/Askep-Keperawatan-Anak-DenganAutisme. Oleh : andi rifai diakses tgl 17-09-2012 jam 10.35 http://mydocumentku.blogspot.com/2012/03/asuhan-keperawatan-anakdengan-autisme.html. diakses tgl 17-09-2012 jam 10.35

19