Anda di halaman 1dari 6

SEMINAR KEBUDAYAAN JAWA

Tema: Pemahaman Kebudayaan Jawa Sebagai Solusi Tantangan Jaman Di IKIP PGRI Semarang, Minggu (8 Juni 2008) Oleh: Ki Sondong Mandali Topik Bahasan 1. Diskripsi Tantangan Jaman 2. Peta Budaya dan Peradaban di Era Globalisasi 3. Diskripsi Kebudayaan Jawa 4. Interaksi Budaya Jawa dengan Budaya Lain 5. Revitalisasi Nilai-nilai Kebudayaan Jawa 6. Kendala dan Hambatan Revitalisasi Kebudayaan Jawa 7. Solusi & Rekomendasi 1. Diskripsi Tantangan Jaman Tantangan Jaman diasumsikan sebagai situasi dan kondisi peradaban umat manusia yang ada sekarang dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Dengan demikian, keterkaitannya dengan Pemahaman Kebudayaan Jawa adalah sejauh mana budaya dan peradaban Jawa mampu membekali Insan Jawa (pendukung budaya dan peradaban Jawa) memasuki, mengikuti, dan terlibat langsung dalam proses dinamika perubahan peradaban umat manusia sedunia. Pengaruh modernisasi merupakan tantangan jaman yang harus dihadapi dan disikapi oleh para pendukung peradaban non-Barat dengan cerdas dan arif untuk meminimalkan dampak negatifnya yang berupa gegar budaya dan peradaban. Dalam hal penyikapan ini, maka sebenarnya bangsa Indonesia (termasuk di dalamnya insan Jawa) sudah memiliki panduan ideologis yang komprehensif, Mukadimah UUD 1945. Dengan demikian bisa dirumuskan yang dimaksud tantangan jaman bagi insan Jawa pada posisinya sebagai bagian dari Indonesia adalah: - memasuki dan menyikapi globalisasi dan modernisasi tanpa kehilangan jatidiri - membangun kedaulatan spirituil melalui pencerdasan peri kehidupan bangsa. - integrasi tuntas kepada Indonesia - memberi kontribusi terhadap citra Indonesia dalam tata pergaulan dunia. - memberi kontribusi dalam penyelenggaraan tata kehidupan dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan kesejahteraan umum. 2. Peta Budaya dan Peradaban di Era Globalisasi Era globalisasi yang sekarang terjadi telah menghilangkan sekat-sekat perbedaan antar gugus budaya dan peradaban umat manusia. Namun juga terjadi paradoks berupa penguatan jatidiri etnis/bangsa yang melahirkan penguatan jurang pemisah perbedaan budaya dan peradaban antar umat manusia. Penguatan jurang pemisah perbedaan budaya dan peradaban tersebut kemudian melahirkan asumsi-asumsi lahirnya potensi ketegangan baru antar umat manusia di seluruh dunia.

Dalam thesisnya, Samuel P. Huntington memetakan peradaban kontemporer paska Perang Dingin yang punya pengaruh besar terhadap dinamika peradaban umat manusia, sebagai berikut: a. Peradaban Tionghoa, menggambarkan kebudayaan Cina dan komunitas-komunitas Cina di luar RRC. b. Peradaban Jepang, kebudayaan Jepang pada dasarnya satu bendera dengan kebudayaan Cina, disebut Peradaban Timur Jauh. Namun peran pengaruh besar Jepang pada tata perekonomian dunia, maka digolongkan sebagai peradaban tersendiri. c. Peradaban Hindu, suatu peradaban yang muncul di India dan berpengaruh di negaranegara sekitarnya, (termasuk Asia Tenggara). d. Peradaban Islam, berasal dari semenanjung Arabia dan menyebar ke Afrika Utara, semenanjung Iberia, Asia Tengah, dan Asia Tenggara. Termasuk dalam peradaban Islam adalah kebudayaan-kebudayaan Arab, Turki, Persia, dan Melayu. e. Peradaban Ortodoks, terpusat di Rusia dan terbedakan dengan peradaban Kristen Barat. f. Peradaban Barat, terdiri dari 3 (tiga) komponen: Eropa, Amerika Utara, dan wilayah dunia lain seperti Australia dan Selandia Baru. g. Peradaban Amerika Latin, sebuah sub peradaban Barat yang ternyata memiliki ciri-ciri khas yang berbeda dengan peradaban mayor Barat (Eropa dan Amerika Utara). Pada peta peradaban SPH ini, peradaban Indonesia diposisikan sebagai sub peradaban Melayu Islam. Maka thesis SPH terhadap kemungkinan terjadi benturan peradaban modern Barat dengan peradaban Islam dan Konfusius (Tionghoa) akan berdampak besar kepada Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu pengelolaan interaksi budaya dan peradaban di dalam ranah Indonesia sendiri. Kebudayaan Jawa yang didukung etnis Jawa di Indonesia yang mencapai 35% populasi Indonesia dengan sendirinya ikut menentukan dinamika interaksi antar budaya dan peradaban unsur-unsur Indonesia. Dengan demikian, pada kepentingan Insan Jawa mengIndonesia memerlukan pemahaman cerdas dalam mengelola nilai-nilai yang berinteraksi dalam dirinya. Nilai-nilai dimaksud adalah: a. Nilai-nilai kebudayaan Jawa sebagai naluri azali alamiah kodrat Tuhan. b. Nilai-nilai budaya dan peradaban dari pilihan agama yang dipeluk. c. Nilai-nilai peradaban modern akibat globalisasi. d. Nilai-nilai normatif Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. 3. Pemahaman Kebudayaan Jawa Kebudayaan Jawa dalam berbagai thesis para ahli budaya dan peradaban dunia dimasukkan sebagai bagian dari peradaban Hindu dan peradaban Islam. Hal ini diperkuat dengan teori dan penelitian para pakar Jawa dan ke-Jawa-an yang menganggap kebudayaan Jawa sebagai sinkretisme Hindu-Islam. Atau dengan kata lain, kebudayaan Jawa adalah hybrida (turunan) dari peradaban Hindu dan Islam. Penemuan fosil manusia purba di Jawa serta hasil penelitian Prof Brandes (1889) yang menyatakan ada 10 (sepuluh) unsur budaya asli Jawa, maka membuktikan bahwa Jawa memiliki budaya dan peradaban asli sejak sebelum datangnya budaya-budaya dari luar (Hindu, Buddha, Islam). Sejalan dengan pendapat ini, maka sangat relevan dikemukakan teori (Falsafah Nusantara) yang menyatakan bahwa manusia diciptakan (mengada) sudah
2

dilengkapi dengan wiji (build-in) spiritualnya yang sesuai untuk menjalani hidup di habitat mukimnya sendiri-sendiri.. Manusia Jawa diciptakan atau mengada lengkap dengan wiji spiritualnya yang sesuai dengan habitat hidup di Jawa. Interaksi wiji spiritual Insan Jawa dengan keadaan habitat lingkungan (termasuk plasma nutfah) di Jawa mengembangkan cipta-rasa-karsa Jawa yang kemudian melahirkan spiritualisme Jawa, falsafah hidup Jawa, dan sistim religi Jawa. Dari sini lahir budaya dan tata peradaban Jawa yang meliputi unsur-unsur: a. sistim religi, spiritualisme, dan filsafat hidup, b. sistim pemerintahan dan organisasi kemasyarakatan, c. sistim pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan peralatan, d. sistim pola hidup, tradisi/adat, seni, dan lakubudaya, e. bahasa dan sastra. Unsur budaya spiritualisme, falsafah hidup, dan sistim religi Jawa merupakan faktor utama yang menentukan interaksi nilai-nilai kebudayaan Jawa dalam diri insan Jawa. Setidaknya pada inner wong Jawa masa kini dan yang akan datang harus mengadopsi dan beradaptasi dengan: - nilai-nilai budaya dan peradaban agama yang dipeluk - nilai-nilai modern Barat - nilai-nilai normatif Pancasila. Untuk itu perlu pemahaman mendasar akan aras dasar unsur spiritualisme, falsafah, dan sistim religi dari Kebudayaan Jawa yang memiliki aras dasar utama: a. Sadar ber-Tuhan yang terekspresikan dalam Ngelmu Sangkan Paran b. Sadar kosmis (kesemestaan), dinyatakan dalam Falsafah Panunggalan yang menyebutkan bahwa semua yang ada di jagad raya manunggal dalam hubungan kosmis-magis c. Sadar keberadaban, yang dinyatakan dalam konsep kewajiban manusia adalah melu memayu hayuning bawana. Dari ketiga aras dasar kesadaran tersebut di atas lahir Ngelmu Urip atau Kawruh Sejatining Urip yang memuat ajaran tentang: - Panembah Hubungan manusia dengan Tuhan - Panunggalan Hubungan manusia dengan alam semesta dan isinya - Gotongroyong Hubungan manusia dengan manusia lain, mengedepankan nilai rukun dan selaras.. Atas dasar uraian tersebut di atas, maka Ngelmu Urip atau Kawruh Kejawen merupakan keluaran interaksi wiji spiritual Jawa dengan habitat hidupnya di Jawa. Maka bisa disebut sebagai naluri alamiah Jawa yang azali dan adi kodrati. Sehingga dengan demikian memiliki ketangguhan alamiah yang tidak mudah tersingkirkan oleh pengaruh masuknya budaya dan peradaban lain. Naluri alamiah azali Jawa ternyata memiliki sifat lentur, luwes, dan akomodatif terhadap nilai-nilai dari budaya dan peradaban lain. Maka menjadikan Jawa bisa menerima dengan damai masuknya budaya dan peradaban lain. Bahkan dengan mudah bersinergi dan bersinkretisme yang berakibat menimbulkan anggapan bahwa kebudayaan Jawa sebagai turunan dari peradaban Hindu dan peradaban Islam. Dikarenakan karakter kebudayaan Jawa yang lentur, luwes dan akomodatif, maka sepanjang sejarahnya selalu menjadi budaya pandu yang mewarnai tata peradaban Nusantara. Baik di masa kejayaan wangsa Syailendra dan Sanjaya, maupun kejayaan

Majapahit. Demikian pula yang tercitakan pada tata peradaban Indonesia saat ini. Namun demikian, dalam implementasi dan transformasi kepanduan tersebut menjadi salah kaprah. Bukan transformasi dan implementasi kesadaran ber-Tuhan, kesemestaan, dan keberadaban, tetapi berupa unjuk keunggulan sebagai budaya yang adiluhung. Parahnya, keadiluhungan yang dimaksud justru berpijak dari budaya feodalisme aristokrasi yang tidak mewakili kebudayaan Jawa yang sejati. Tetapi budaya Jawa yang sudah bias dan jumud (usang) untuk mempertahankan eksistensi keraton yang tidak memiliki kedaulatan spirituil lagi. 4. Interaksi Budaya Jawa dengan Budaya Lain Meskipun oleh para ahli budaya dan peradaban, budaya dan peradaban Jawa tidak dianggap sebagai peradaban mayor yang memiliki pengaruh signifikan terhadap peradaban umat manusia dan politik dunia, namun sejarah telah membuktikan bahwa di bumi Nusantara, dimana Jawa merupakan faktor dominan utamanya, pernah ada peradaban umat manusia yang tinggi. Setidaknya, peradaban Nusantara yang berpusat dari Jawa dan memiliki pengaruh sampai ke pantai timur Afrika, sepanjang garis pantai daratan Asia, dan pantai barat benua Amerika. Hal ini terbuktikan melalui pijakan sejarah yang dikemukakan Bambang Noorsena dalam diskusi panel Refleksi dan Lakubudaya Spirituil Nusantara di Yogyakarta 17 Mei 2008 yang kutipan ringkasnya sebagai berikut: 1. Kesaksian sejarah para penulis Romawi dan Yunani dari abad 2 Masehi, yaitu Strabo, Plinius, dan Claudius Ptolemaus. Strabo dan Plinius menyebut wilayah berdaulat di sebelah timur India sebagai Chryse (Tanjung Emas), sebuah sebutan untuk pulau Sumatra. Sedangkan Ptolemaus menyebut beberapa pulau dari gusus kepulauan Indonesia, antara lain: Labadiou, Sabadeibei dan Barousai Bentuk ejaan Yunani dari Yawadwipa (pulau Jawa), Sabadwipa dan Barus (wilayah Sumatra). 2. Sumber-sumber sejarah India, khususnya Srimad Valmiki Ramayana (150 M.) menyebut dalam bahasa Sanskerta: Yatnavanto Yavadwipam, saptarajyopasohitam, Suvarnarupyakapwipam, artinya: Jelajahilah tanah Jawa, dan tujuh wilayah kerajaan menjadi hiasan, nusa merah putih, tanah Sumatra yang bertambang emas. Sumber-sumber India lain, antara abad V-VI banyak yang menyebut: Yawa (Jawa), Bali, Warusuka (Barus), Nadikera (Nusa Tenggara). Bahkan, Suryasidanta mengagumi Yawakoti (Jawa dan Kutai) yang disebut memiliki gerbang yang terbuat dari emas. 3. Dokumen Gereja purba, Didascalia Apostolorum (Konstitusi Apolistik, edisi bahasa Arab: Kitab Talim ar-Rusul), yang diedit oleh St. Hypolitus dari akhir abad 2 Masehi, menyebut diutusnya St. Thomas Rasul ke wilayah India besar dan negeri di kepulauan jauh, Nusantara. 4. Sumber sejarah catatan perjalanan para musafir Arab-Islam, Cina, India dan Barat banyak yang menyebut wilayah Nusantara telah mempunyai kedaulatan sebagai bangsa yang besar. Catatan-catatan Bambang Noorsena yang menyebut wilayah Nusantara telah ada bangsa yang berdaulat bisa diasumsikan bahwa bangsa berdaulat tersebut sebagai bangsa yang mempunyai budaya dan peradaban sendiri dan dikagumi oleh bangsa-bangsa lain. Maka dengan demikian, sejarah telah membuktikan bahwa di wilayah Nusantara ada peradaban asli yang bukan turunan dari peradaban lain. Makna lain dari catatan tersebut, bahwa Nusantara (terutama Jawa) telah lama dikenal dan sangat mungkin dikunjungi komunitas manusia dari mancanegara. Tidak sedikit yang

kemudian mukim di Jawa dan berasimilasi dengan orang Jawa. Artinya, bahwa telah sejak ratusan tahun yang lalu sampai saat ini telah terjadi interaksi (persinggungan) antara budaya dan peradaban Jawa dengan budaya dan peradaban lain. Bahwa kemudian ada anggapan bahwa kebudayaan Jawa merupakan hasil atau hybrid dari interaksi tersebut adalah mungkin. Tetapi, ketika dikaji mendalam, hybrid interconnectedness yang terjadi hanya berada di lapis luar budaya dan peradaban Jawa. Isi dalamnya tidak berubah dari kodrat Tuhan, Insan Jawa. Untuk memahami hal ini mari direnungkan, mengapa agama Hindu dan Buddha yang pernah berjaya di Jawa tidak meninggalkan komunitas Hindu dan Buddha yang signifikan? Mengapa mayoritas wong Jawa Muslim tidak paham arti bacaan sholat untuk manembah kepada Tuhan ? Hasil perenungan kita akan bermuara kepada pendapat bahwa wiji spiritual Jawa memang merupakan kodrat azali dari Tuhan dan tidak mudah berubah. 5. Revitalisasi Nilai-nilai Kebudayaan Jawa Pada masa ini Jawa telah menjadi bagian dari Indonesia, negara dan bangsa baru yang pluralis multi kultur dan berdaulat. Maka pemahaman dan upaya revitalisasi Kebudayaan Jawa adalah dalam rangka menunjang eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam ranah Indonesia, kebudayaan Jawa barangkali dan mungkin merupakan budaya pandu yang dominan pengaruhnya. Tetapi perlu diingat, bahwa posisi sebagai pandu tidaklah serta merta semua nilai-nilai kebudayaan Jawa harus ditransformasikan ke tata peradaban Indonesia. Kebudayaan Jawa perlu dibersihkan dari kejumudan untuk kemudian direvitalisasi dan dikontribusikan kepada tata peradaban Indonesia. Atas dasar analisa yang demikian, maka revitalisasi nilai-nilai kebudayaan Jawa merupakan upaya penggalian dan pengkajian literatur warisan leluhur, tradisi, adat, lakubudaya, seni budaya, dan bahasa/sastra Jawa yang masih ada. Penggalian dan pengkajian dimaksudkan untuk menemukan nilai-nilai kebudayaan Jawa yang bersifat universal logic dan terbebaskan dari kejumudan. 6. Kendala dan Hambatan Revitalisasi Kebudayaan Jawa Upaya merevitalisasi kebudayaan Jawa pada kenyataannya menghadapi berbagai kendala dan hambatan dari luar (ekstern) maupun dari dalam (intern) masyarakat Jawa sendiri. Berdasarkan asumsi-asumsi, kendala dan hambatan dimaksud adalah: Ekstern: - Akibat primordial sempit kesukuan, Jawa dianggap mendominasi ranah Indonesia - Ekspansi penyebaran agama memposisikan ajaran Jawa sebagai rival ajaran agama. - Dunia modern menganggap Jawa primitif sarat klenik dan ketahayulan. Intern: - Masyarakat Jawa terdiri dari saf-saf restan komunitas hybrida dari jaman: prasejarah, Hindu/Buddha, Islam, modern Barat. Ada egoisme dan primordial sempit diantara restan-restan komunitas hybrida tersebut. - Tidak adanya sistim pembelajaran Jawa dan ke-Jawa-an - Tidak ada organisasi/lembaga Jawa dan ke-Jawa-an yang secara komprehensif mampu melayani informasi dan studi Jawa.

7. Solusi & Rekomendasi Dalam seminar ini ditemakan bahwa pemahaman Kebudayaan Jawa sebagai solusi tantangan jaman, maka dengan demikian dibutuhkan upaya-upaya membangkitkan kembali (renaisans) peran budaya dan peradaban Jawa guna dikontribusikan kepada Indonesia dan peradaban umat manusia sedunia. Upaya-upaya dimaksud memerlukan peran serta seluruh masyarakat Jawa. Untuk itu, direkomendasikan: a. Pendirian lembaga-lembaga studi Jawa dan ke-Jawa-an di setiap daerah b. Pendirian Pusat Studi Jawa sebagai induk lembaga-lembaga studi tersebut (a). Penutup Demikian disampaikan wacana pemikiran (curah gagas) dalam seminar ini. Tentu saja masih banyak hal-hal yang perlu pembahasan lebih mendalam dari topik-topik tersaji. Untuk itu perlu diselenggarakan seminar-seminar lanjutan. Barangkali sajian ini kurang memenuhi harapan para peserta seminar, mohon kiranya bisa legawa dan maklum dalam menerima. Swuhn. (ksm).

______________

Anda mungkin juga menyukai