Anda di halaman 1dari 52

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 1

Hipertrofi pylorus stenosis

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Umur : An. R : 1 bulan

Jenis Kelamin : Laki-laki Kebangsaan Suku Agama Alamat : Indonesia : sunda : islam : Cigelam kp. Gandasari rt 4 rw 1 babakan purwakarta

AYAH PASIEN Nama Umur Kebangsaan Suku Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Penghasilan IBU PASIEN Nama Umur Kebangsaan Suku Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Penghasilan : Ny. M : 23 tahun : Indonesia : Sunda : Islam : SMA : Ibu Rumah Tangga : Cigelam kp. Gandasari rt 4 rw 1 babakan purwakarta :: Tn. c : 27 tahun : Indonesia : Sunda : Indonesia : SMA : Polisi :Cigelam kp. Gandasari rt 4 rw 1 babakan purwakarta : Rp. 2.500.000,00 per bulan

Hubungan pasien dengan orang tua adalah anak kandung.


Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 2


Hipertrofi pylorus stenosis

II.

ANAMNESIS Alloanamnesis oleh Ibu pasien pada tanggal 09 mei 2011 Keluhan Utama Muntah sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Keluhan Tambahan

Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang Sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, Ibu melihat pasien muntah setiap diberi air susu, tidak meyemprot, berwarana putih berbau asam. Lalu pasien di bawa k RSU purwakarta dan dilakukan perawatan selama 4 hari. Keesokan harinya pasien pulang dengan tidak ada keluhan, setelah 1 hari di rumah pasien mengalamu muntah kembali, lalu di bawa ke RS. Kemudian paisen di rujuk k RS Bhayangkara TK I Raden S. Sukanto Riwayat alergi terhadap obat-obatan tertentu disangkal. Riwayat alergi dalam keluarga.

Riwayat Penyakit Dahulu Penyakit Faringitis/tonsillitis Pneumonia Bronkitis Kejang Varisela Difteri Malaria Polio Enteritis Disentri basilaris Disentri amubiasis Typhus abdomninalis Keterangan Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 3


Hipertrofi pylorus stenosis

Askariasis Operasi Gegar otak Fraktur Reaksi obat Morbili TBC Asma Lain-lain Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal

Disangkal

Data Keluarga Keterangan Pernikahan keUsia saat menikah Kosanguitas Ayah 1 27 tahun Tidak ada Ibu 1 23 tahun Tidak ada Sehat

Keadaan kesehatan Sehat

Corak Reproduksi Pasien merupakan anak tunggal

Riwayat Kehamilan Ibu Perawatan antenatal Ibu kontrol secara teratur ke bidan yang praktek di dekat rumahnya setiap bulan dan 2 kali dalam sebulan ketika memasuki usia kandungan 8 bulan. Tidak ada masalah selama kehamilan dan janin di dalam kandungan dinyatakan sehat.

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 4


Hipertrofi pylorus stenosis

Penyakit selama kehamilan Selama mengandung pasien, ibu mengaku tidak pernah menderitaa suatu penyakit. Riwayat menderita batuk, pilek, keputihan, darah tinggi, kencing manis, serta demam disangkal oleh ibu.

Obat-obatan yang diminum Ibu mengaku hanya mengkonsumsi vitamin yang diberikan padanya pada saat datang ke bidan tempat ia memeriksa kandungannya.

Riwayat Kelahiran Persalinan : RSU. Purwakarta

Penolong persalinan : Dokter Cara persalinan Masa gestasi Ketuban pecah Berat plasenta Ketuban Jumlah air ketuban Bayi lahir pukul Keadaan bayi : Sectio sesaria : 9 bulan : 1 jam sebelum persalinan : Ibu tidak tahu : Jernih : Ibu tidak tahu : 14.00 : Berat lahir Panjang badan Lingkar kepala : 3600 gram : 51 cm : Ibu tidak tahu

APGAR score

: Ibu tidak tahu (Menurut Ibu, bayinya langsung menangis dan kulit bayi berwarna merah, tidak ada cacat)

Riwayat Postnatal Pemeriksaan oleh Keadaan anak : Dokter : Sehat

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 5


Hipertrofi pylorus stenosis

Riwayat Perkembangan Pertumbuhan gigi pertama Perkembangan psikomotor Senyum Miring Tengkurap Duduk Merangkak Berdiri Berjalan Kesimpulan : belum : belum : belum : belum : belum : belum : belum : Status kembang motorik baik : belum tumbuh

Riwayat Makan Umur 0-1 bulan ASI/PASI Buah/Biskuit ASI Bubur Susu Bubur Saring -

Riwayat Imunisasi Vaksin BCG Hepatitis B DPT Polio Campak Jumlah Pemberian Waktu -

Riwayat Penyakit dalam Keluarga Ayah Ibu : Sehat, riwayat alergi, riwayat asma, riwayat batuk lama disangkal. : Sehat, riwayat alergi, riwayat asma, riwayat batuk lama disangkal.

Riwayat Penyakit pada Anggota Keluarga Lainnya/Sekitar Rumah Sekitar rumah : riwayat alergi pada anggota keluarga lain disangkal, ada yang menderita penyakit seperti pasien (teman bermain pasien), riwayat batuk lama
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 6


Hipertrofi pylorus stenosis

dan batuk berdarah, minum obat berwarna merah dalam jangka waktu lama disangkal.

Data Perumahan Kepemilikan : Rumah orang tua dari ayah Keadaan Rumah Rumah berukuran 10 x 6 meter, dihuni oleh orang tua pasien bersama neneknya. Rumah terdiri dari 3 kamar tidur (setiap kamar berukuran 3x2,5 m2 ), 1 kamar tidak di isi, 1 kamar mandi yang terletak di belakang rumah, 1 ruang keluarga dan 1 dapur. Lantai rumah berupa keramik dan atap rumah terbuat dari genteng. Setiap kamar tidur memiliki ventilasi yang dilengkapi dengan kasa nyamuk. Pencahayaan didalam rumah baik. Pasien tidur bersama dengan kedua orang tuanya. Kamar mandi rumah terdiri dari 1 kloset jongkok dan 1 bak mandi yang dibersihkan 2 kali dalam seminggu dengan cara disikat. Rumah selalu disapu 2 kali dalam sehari dan dipel 1 kali dalam sehari pada saat pagi. Untuk kegiatan sehari-hari, seperti mandi, masak- memasak, air minum dan mencuci baju menggunakan air PAM. Menurut pengakuan ibu, air tersebut bersih dan selalu dimasak sampai matang bila ingin digunakan untuk kegiatan sehari-hari. Keadaan Lingkungan Lingkungan rumah tidak padat, keadaan lingkungan bersih. Terdapat selokan kecil di depan rumah dengan lebar 20 cm, kedalaman 20 cm, bersih, mengalir, terbuka. Jalan di depan rumah dapat dilalui oleh 1 mobil. Sampah dibuang setiap hari ke tempat pembuangan sampah yang berjarak 10 meter dari rumah pasien. Sampah diangkut oleh petugas kebersihan setiap hari.

Kesimpulan : Keadaan rumah cukup baik

III.

PEMERIKSAAN FISIK Status Generalisata Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran : Compos mentis

Tanda-tanda Vital :
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 7


Hipertrofi pylorus stenosis

Nadi Laju Pernapasan Suhu Tubuh Tekanan darah Data Antropometri Berat badan Tinggi badan

: 130 kali/menit, kuat, penuh, teratur : 45 kali/menit : 37,6 C :tidak dilakukan

: 3,5 kg : 54 cm

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 8


Hipertrofi pylorus stenosis

Gambar 1. Grafik Pertumbuhan An. K (Diunduh dari: www.cdc.gov/growthcharts)

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 9


Hipertrofi pylorus stenosis

Status Gizi Berdasarkan NCHS (National Center for Health Statistics) tahun 2000: Interpretasi berdasarkan WHO WFA (Weight for Age/BB terhadap umur) : terletak di antara persentil 5dan 50 HFA (Height for Age/TB terhadap umur) : terletak di antara persentil 50 dan 90 Interpretasi berdasarkan lokarya Antropometri Depkes 1974 dan Puslitbang Gizi 1978 WFH (Weight for Height/TB terhadap BB) 3,5/4,5 x 100 % = 77,77 % Kesimpulan : anak ini dalam keadaan gizi kurang.

Pemeriksaan Fisik Sistematis Kepala : : Normosefali, deformitas (-) : Menutup : Warna hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut KGB occipital Mata : Tidak teraba membesar : Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik, mata tidak cekung lakrimasi +/+, sekret warna putih +/+ Pupil isokor,

Bentuk dan ukuran Ubun-ubun besar Rambut

refleks cahaya langsung dan tidak langsung +/+ Telinga Hidung Mulut : Serumen -/-. KGB tidak membesar. : Sekret jernih +/+, napas cuping hidung (+) : Bibir kering, mukosa basah, bercak Koplik (+) di depan Molar 2 bawah kiri Gigi Geligi Lidah Tenggorok : belum tumbuh : Tidak kotor : Tonsil T1/T1 hiperemis, kripti (-), detritus (-), faring hiperemis, dinding rata.
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 10


Hipertrofi pylorus stenosis

Leher

: kelenjar tiroid tidak tampak dan tidak teraba membesar, kelenjar getah bening servikalis sinistra dan dekstra tidak

teraba membesar. Toraks Jantung Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat Palpasi Perkusi : Ictus cordis teraba di sela iga IV linea midklavikularis sinistra : : sela iga II linea parasternalis desktra : sela iga IV linea parasternalis dekstra : sela iga II linea parasternalis sinistra : sela iga IV linea midklavikularis sinistra :

Batas kanan atas Batas kanan bawah Batas kiri atas Batas kiri bawah

Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler, gallop (-), murmur (-)

Paru-paru Inspeksi : pergerakan dinding dada kanan tertinggal dari kiri,retraksi suprasternal (-), iiiiiretraksi interkostal (-) Palpasi Perkusi : Stem fremitus kanan tertinggal dari kiri : Sonor di kedua lapang paru

Auskultasi : Suara nafas vesikuler, slem +/+ di daerah apeks, ronkhi +/+ di apeks paru, wheezing -/-

Abdomen Inspeksi : Datar, bercak makulopapular kemerahan, retraksi epigastrium (-) Palpasi Perkusi : Supel, hepar-lien tidak teraba membesar, nyeri tekan epigastrium (-) : Timpani

Auskultasi : Bising usus (+) 5 kali/menit

Tulang Belakang : Tidak tampak skoliosis, kifosis, dan lordosis Anus : Lubang intak, tidak tampak massa yang keluar dari anus

Genitalia Eksterna : Kedua testis teraba di skrotum. Anggota gerak : Akral hangat, capillary refill time < 2 detik

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 11


Hipertrofi pylorus stenosis

Pemeriksaan Neurologis Tanda Rangsang Meningeal Kaku kuduk : (-)

Perasat Brudzinski I : (-) Perasat Brudzinski II : (-) Perasat Kernig : (-)

Refleks Fisiologis Refleks Biseps : normorefleks/normorefleks Refleks Triseps Refleks Patella Refleks Achilles : normorefleks/normorefleks : normorefleks/normorefleks : normorefleks/normorefleks

Refleks Patologis Refleks Hoffmann-Trommer : -/Refleks Babinski Refleks Oppenheim Refleks Schaefer Refleks Chaddock Refleks Gordon : -/: -/: -/: -/: -/-

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG 08 mei 2012 Hematologi Pemeriksaan Hemoglobin Lekosit Hematokrit Trombosit Hasil 11,2 11.500 34 397.000 Nilai normal 12 14 g/dL 5000 10.000/L 42-48% 150.000 450.000/L Hitung Jenis Basofil 0 01% -

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 12


Hipertrofi pylorus stenosis

Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit

5 0 61 32 2

13% 26% 50 70 % 20 40 % 28%

10 mei 2012 Pemeriksaan elektrolit natrium kalium chlorida 136 4,3 103 135 145 mmol/l 3,8-5,0 mmol/l 98 106 mmol/l Hasil Nilai Normal

11 mei 2012 Pemeriksaan Hemoglobin Lekosit Hematokrit Trombosit Hasil 11,1 11.100 30 891.000 Nilai normal 12 14 g/dL 5000 10.000/L 42-48% 150.000 - 450.000/L

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 13


Hipertrofi pylorus stenosis

Radiologi

Kesan : susp aspirasi peneumonia USG:

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 14


Hipertrofi pylorus stenosis

Kesan : Hipertrofi pylorus stenosis

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 15


Hipertrofi pylorus stenosis

Barium mael

Kesan : obstruksi partial di duodenum pars decendens Susp. Duodenal web Gastroesofageal refluk grade 3

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 16


Hipertrofi pylorus stenosis

Foto pasien

V.

DIAGNOSIS KERJA Hipertrofi pylorus stenosis Gizi kurang, tumbuh kembang baik

VI.

DIAGNOSIS BANDING Tidak ada

VII.

PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad fungsionam Quo ad sanationam : dubi : dubia : dubia

VIII. PENATALAKSANAAN IVFD RL 15 tetes/menit Berat badan : 3,5 kg


Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 17


Hipertrofi pylorus stenosis

Kebutuhan cairan rumatan per 24 jam (menurut Holiday Segard) : 3,5 x 100 cc = 530 cc

Inj. Rantin 2 x 5 mg Invomet drop 3 x 0,3 ml Aminofusin pead 140 cc / hari

IX.

TINDAK LANJUT Lakukan perbaikan gizi pada pasien, dengan menasihati Ibu untuk memberikan makanan yang bernutrisi adekuat dan seimbang. Kemudian evaluasi

pertumbuhannya. Edukasi kepada orangtua pasien mengenai penyakit yang diderita oleh pasien. Diberitahukan perbaiki hygiene umum, hindari kontak dengan orang dewasa/ anak yang menderita infeksi saluran nafas. Edukasi kepada orangtua pasien agar tidak merokok didalam rumah.

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 18


Hipertrofi pylorus stenosis

RESUME Nama Usia : An. R : 1 bulan

Jenis kelamin : laki-laki Berat badan :3,5 kg

Tinggi Badan : 54 cm

Keluhan utama : Muntah sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, Ibu melihat pasien muntah setiap diberi air susu, tidak meyemprot, berwarana putih berbau asam. Lalu pasien di bawa k RSU purwakarta dan dilakukan perawatan selama 4 hari. Keesokan harinya pasien pulang dengan tidak ada keluhan, setelah 1 hari di rumah pasien mengalamu muntah kembali, lalu di bawa ke RS. Kemudian paisen di rujuk k RS Bhayangkara TK I Raden S. Sukanto Riwayat alergi terhadap obat-obatan tertentu disangkal. Riwayat alergi dalam keluarga.

Temuan pada pemeriksaan fisik Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran : Compos mentis

Tanda-tanda Vital : Nadi Laju Pernapasan Suhu Tubuh : 130 kali/menit, kuat, penuh, teratur : 45 kali/menit : 37,6 C

Hidung Mulut Gigi Geligi Lidah Tenggorok

: Sekret jernih +/+, napas cuping hidung (+) : Bibir kering, mukosa basah, : belum tumbuh : Tidak kotor : Tonsil T1/T1 hiperemis, kripti (-), detritus (-), faring hiperemis, dinding rata.

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 19


Hipertrofi pylorus stenosis

Paru-paru Inspeksi : pergerakan dinding dada kanan tertinggal dari kiri,retraksi suprasternal (-),iretraksi interkostal (-) Palpasi Perkusi Auskultasi : Stem fremitus kanan tertinggal dari kiri : Sonor di kedua lapang paru : Suara nafas vesikuler, slem +/+ di daerah apeks, ronkhi +/+ di apeks paru, wheezing -/-

Temuan pada pemeriksaan penunjang

08 mei 2012 Hematologi Pemeriksaan Hemoglobin Lekosit Hematokrit Trombosit Hasil 11,2 11.500 34 397.000 Nilai normal 12 14 g/dL 5000 10.000/L 42-48% 150.000 450.000/L Hitung Jenis Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit 0 5 0 61 32 2 01% 13% 26% 50 70 % 20 40 % 28% -

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 20


Hipertrofi pylorus stenosis

10 mei 2012 Pemeriksaan elektrolit natrium kalium chlorida 136 4,3 103 135 145 mmol/l 3,8-5,0 mmol/l 98 106 mmol/l Hasil Nilai Normal

11 mei 2012 Pemeriksaan Hemoglobin Lekosit Hematokrit Trombosit Radiologi Hasil 11,1 11.100 30 891.000 Nilai normal 12 14 g/dL 5000 10.000/L 42-48% 150.000 - 450.000/L

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 21


Hipertrofi pylorus stenosis

Kesan : susp aspirasi peneumonia USG:

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 22


Hipertrofi pylorus stenosis

Kesan : Hipertrofi pylorus stenosis

Barium mael

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 23


Hipertrofi pylorus stenosis

Kesan : obstruksi partial di duodenum pars decendens Susp. Duodenal web Gastroesofageal refluk grade 3 DIAGNOSIS KERJA Hipertrofi pylorus stenosis Gizi kurang, tumbuh kembang baik

DIAGNOSIS BANDING Tidak ada

PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad fungsionam Quo ad sanationam : dubia : dubia : dubia

PENATALAKSANAAN IVFD RL 15 tetes/menit Inj. Rantin 2 x 5 mg Invomet drop 3 x 0,3 ml Aminofusin pead 140 cc / hari

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 24


Hipertrofi pylorus stenosis

Pembahasan DEFINISI Stenosis pylorus atau pilorospasme terjadi bila serabut otot disekelilingnya mengalami hipertrofi atau spasme sehingga sfingter gagal berelaksasi untuk mengalirkan makanan dari lambung kedalam duodenum. Pylorus adalah otot sphincter terletak dimana perut bergabung dengan bagian pertama usus kecil (duodenum). Secara normal, pylorus tersebut kontraksi untuk menjaga makanan di dalam perut untuk dicerna dan bersantai untuk membiarkan makanan menuju usus. Untuk alasan yang dokter tidak sepenuhnya mengerti, pylorus kadangkala menutup, menghambat material meninggalkan perut. Penyumbatan ini biasanya terjadi pada usia satu hingga dua bulan dan sering terjadi pada anak laki-laki, khususnya anak laki-laki yang pertama dilahirkan. Jarang, beberapa anak mengalami pyloric stenosis yang disebabkan oleh borok pencernaan atau gangguan yang tidak umum yang mirip dengan alergi makanan (seperti eosinophilic gastroenteritis). Stenosis pylorus merupakan suatu kondisi yg jarang terjadi. Stenosis pilorik adalah penyempitan di bagian ujung lambung tempat makanan keluar menuju ke usus halus. Akibat penyempitan tersebut, hanya sejumlah kecil isi lambung yg bisa masuk ke usus, selebihnya akan dimuntahkan sehingga anak akan mengalami penurunan berat badan. Gejala tersebut biasanya muncul pada usia 2-6 minggu. Selain muntah hebat dan nyemprot, bayi juga terusmenerus merasa lapar, buang air besar tidak teratur, serta gelisah. Dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan dan bila terbukti diagnosisnya stenosis pilorik, diperlukan tindakan bedah untuk melebarkan daerah yg menyempit. Ini biasanya merupakan komplikasi dari tukak duodeni. Tukak lambung yang lokalisasinya dekat pilorus dapat juga menyebabkan stenosis pilorus. Demikian juga karsinoma lambung dapat menyebabkan timbulnya komplikasi tersebut, tetapi biasanya pada stadium lanjut. Hipertrofi pilorus merupakan kelainan yang terjadi pada otot pylorus yang mengalami hipertrofi pada lapisan otot sirkulernya, terbatas pada lingkaran pylorus dan jarang berlanjut ke otot gaster. Hypertrophic pyloric stenosis adalah penyumbatan pada saluran perut disebabkan terlalu berkembangnya (hipertropi) otot pada persendian di antara perut dan usus. Itu terjadi di awal masa bayi dan menyebabkan muntah setelah makan, yang bisa menyebabkan dehidrasi berat dan pertumbuhan yang kurang. Untuk alasan yang tidak tentu, saluran yang menyebabkan perut tersumbat mencegah material meninggalkan perut. Bayi makan dengan baik tetapi muntah dengan kuat (muntah projectile) segera setelah makan. Diagnosa didasarkan pada hasil ultrasonik perut.
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 25


Hipertrofi pylorus stenosis

Biasanya masalah tersebut diperbaiki dengan memberikan cairan infus dan dengan operasi kecil. Stenosis pilorus adalah penyempitan dari ujung perut yang paling rendah yang disebut pilorus. Kebanyakan bayi muntah setidaknya kadang-kadang, dan biasanya tidak perlu khawatir.Kadang-kadang, bagaimanapun, meludah kuat atas merupakan tanda kondisi yang lebih serius yang dikenal sebagai stenosis pilorus. Stenosis pilorus adalah kondisi umum yang mempengaruhi pilorus "membuka pada ujung bawah perut yang menghubungkan lambung dan usus kecil. Pada bayi yang memiliki stenosis pilorus, otot-otot pilorus menjadi tidak normal besar. Hal ini mencegah makanan masuk ke usus kecil. stenosis pilorus dapat menyebabkan muntah kuat, dehidrasi dan penurunan berat badan. Prompt pengobatan bedah adalah penting.. Pilorus stenosis adalah penyempitan bagian dari lambung (pilorus) yang mengarah ke usus kecil. penyempitan ini terjadi karena otot sekitar pilorus telah tumbuh terlalu besar. Kebanyakan bayi dengan stenosis pilorus mulai muntah selama kedua minggu ketiga hidup. Bayi dimulai dengan "muntah" yang berubah menjadi muntah proyektil kuat. Muntah terjadi setelah makan . kadang-kadang berbagai susu formula telah dicoba tapi selalu dimuntahkan.

Lambung: 1) Esofagus 2) Kardia 3) Fundus 4) Selaput lendir 5) Otot lapisan 6) Lambung mukosa 7) Tubuh perut 8) Pilorik antrum 9) Pilorus 10) Usus dua belas jari (duodenum) Lambung terdiri atas tiga bagian berikut. a. Kardiaks, merupakan bagian atas sebagai pintu masuk makanan dari kerongkongan.

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 26


Hipertrofi pylorus stenosis

b. Fundus, adalah bagian tengah lambung, tempat makanan ditampung dan mengalami perlakuan kimiawi. c. Pilorus, merupakan bagian bawah lambung sebagai pintu keluar makanan dan berhubungan langsung dengan usus dua belas jari. Pilorus ini bekerja atas pengaruh pH makanan. Apabila pH makanan asam, maka otot-otot pilorus mengendor sehingga menyebabkan pintu pilorus terbuka dan sebaliknya jika makanan basa, maka otot-otot pylorus akan berkontraksi yang menyebabkan pilorus menutup.

Fisiologi Makanan dalam lambung mengalami serangkaian proses kimiawi oleh getah lambung, sekitar 1 2 liter yang dihasilkan oleh 35 juta kelenjar, antara lain HCl, enzim pepsin, enzim renin, lipase, mukus (lendir), dan faktor intrinsik. Enzim pepsin akan memecah molekul protein menjadi peptida, enzim renin akan mencerna protein susu menjadi kasein, sedangkan enzim lipase akan mengemulsikan lemak dalam makanan. Jadi, perlakuan kimiawi protein pertama kali dilakukan di dalam lambung. Selain mendapat perlakuan kimiawi, makanan oleh enzim-enzim tersebut juga ada HCl yang membantu dalam proses-proses pencernaan. Fungsi HCl, antara lain: a. membunuh kuman pada makanan yang dimakan; b. mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin;. c. mempercepat reaksi antara air, protein, dan pepsin; d. mengendorkan pilorus, karena HCl bersifat asam dengan pH kurang lebih 1-3 Mukus (lendir) berfungsi sebagai lapisan pelindung yang dapat melindungi lambung dari asam lambung. Sedangkan faktor intrinsik berfungsi untuk menghasilkan vitamin B12 yang diperlukan untuk membentuk sel-sel darah dan membantu saraf berfungsi dengan baik. Dengan adanya faktor intrinsik ini pula, maka vitamin B12 di dalam lambung dilindungi dari asam lambung sehingga tidak rusak. Khim ini bersifat asam, dan menjadi netral ketika masuk ke dalam usus 12 jari, karena dinetralkan oleh getah basa yang dihasilkan kelenjar pankreas yang terdapat di dalam usus dua belas jari. Otot lambung bagian pilorus mengatur pengeluaran kim sedikit demi sedikit dalam duodenum. Caranya, otot pilorus yang mengarah ke lambung akan relaksasi (mengendur) jika tersentuk kim yang bersifat asam.Sebaliknya, oto pilorus yang mengarah ke duodenum akan berkontraksi (mengerut) jika tersentu kim. Jadi, misalnya kim yang bersifat asam tiba di pilorus depan, maka pilorus akan membuka, sehingga makanan lewat. Oleh karena makanan asam mengenai pilorus belakang, pilorus menutup. Makanan tersebut dicerna sehingga
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 27


Hipertrofi pylorus stenosis

keasamanya menurun. Makanan yang bersifat basa di belakang pilorus akan merangsang pilorus untuk membuka. Akibatnya, makanan yang asam dari lambung masuk ke duodenum. Demikian seterusnya. Jadi, makanan melewati pilorus menuju duodenum segumpal demi segumpal agar makanan tersebut dapat tercerna efektif. Seteleah 2 sampai 5 jam, lambung kosong kembali. EPIDEMIOLOGI Stenosis pilorik terjadi pada 1,5 sampai 4 dalam 1000 kelahiran hidup, biasanya dalam 3 sampai 5 minggu kehidupan. Stenosis pilorus jarang dijumpai pada orang afrika amerika dan asia Rasio perbandingan 4:1 laki-laki dan perempuan Kelainan sering terjadi pada anak yang lahir pertama

Stenosis pilorus terjadi pada sekitar 3:1000 kelahiran hidup diamerika serikat, frekuensi mungkin semakin meningkat. Lebih sering terjadi pada orang kulit putih keturunan eropa utara, jarang pada orang kulit hitam dan orang asia. Laki-laki terutama anak pertama 4 kali lebih sering daripada anak perempuan. Keturunan ibu, dan pada tingkat yang lebih sedikit dari keturunan bapak, yang menderita stenosis pilorus beresiko lebih tinggi untuk mengalami stenosis pilorus. Stenosis pilorus akan terjadi pada sekitar 20 % laki-laki dan 10 % pada perempuan keturunan ibu yang menderita stenosis pilorus. Insidens stenosis pilorus terlihat meningkat pada bayi dengan golongan darah B dan O. Stenosis pilorus disertai dengan kelainan bawaan lain seperti fistula trakeoesofagus.

Pada tahun 2002 centers for disease control and prevention (CDC) melaporkan kemungkinan hubungan antara penggunaan eritromisin oral dan stenosis pylorus . CDC tidak merekomendasikan dokter untuk menghentikan peresepan eritromisin hanya mereka harus waspada terhadap kemungkinan resikonya.

Stenosis pilorus paling sering terjadi pada neonatus dan bayi berumur 1-10 minggu (berarti, 5 minggu), dengan rentang usia 5 hari sampai 5 bulan. Meskipun jarang terjadi pada bayi prematur lebih muda dari usia dikoreksi untuk bayi penuh panjang, stenosis pilorus telah terdeteksi pada sonogram prenatal dan bisa dipertimbangkan dalam diagnosa diferensial untuk muntah nonbilious pada bayi baru lahir. Pilorus stenosis diamati pada bayi prematur lebih tua dari usia dikoreksi untuk bayi penuh panjang.
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 28


Hipertrofi pylorus stenosis

Tanpa memperhitungkan usia, muntah proyektil biasanya terjadi dan selalu nonbilious tetapi mungkin memiliki warna cokelat atau tampil kopi-darat karena gastritis yang terkait, terutama jika emesis sudah berlangsung selama beberapa hari. Muntah terjadi dalam waktu 30-60 menit setelah menyusui. Bayi tetap lapar dan biasanya mencoba untuk memberi makan segera setelah muntah. Berat badan dan bukti dari dehidrasi (misalnya, menurun robek dan output urin, dengan turgor kulit miskin) yang hadir jika muntah dibiarkan berlanjut selama lebih dari beberapa hari.

Temuan klinis di Bayi Dehidrasi Dengan Stenosis pylorus

Laporan stenosis pilorus di Amerika Serikat telah menunjukkan sedikit selama 1 kasus per 3,000-4,000 kelahiran hidup untuk sebanyak 8,2-12 kasus per 1.000 kelahiran hidup. Hal ini paling sering diamati dalam putih keturunan Eropa utara, kurang sering diamati di kulit hitam, dan jarang ditemukan pada pasien keturunan Asia atau Timur India. Lokasi juga berkontribusi terhadap frekuensi, dengan daerah di mana penduduk lebih dari dua pertiga pedesaan menunjukkan peningkatan risiko 1,79 (95% CI, 1,23-2,61; P <0,005).

Stenosis pilorus lebih umum pada laki-laki dari pada perempuan (laki-laki-wanita rasio 4:1). Insiden tertinggi adalah pada laki-laki sulung. Sebuah kecenderungan genetik disarankan dalam keluarga dengan terjadinya stenosis pilorus dilaporkan dalam minimal 3 generasi. Keterlibatan dalam kembar telah dilaporkan, dengan tingkat konkordansi 85,7% pada kembar monozigotik dan tingkat konkordansi 8,4% pada kembar dizigotik. Pada tahun 1969, Carter dan Evans menyarankan seks-diubah warisan poligenik dari pilorus stenosis.Data dari lebih dari 1200 keluarga menunjukkan risiko 20% pada anak dan risiko 7% pada anak perempuan dari perempuan yang telah memiliki stenosis pilorus, sedangkan data menunjukkan hanya 5% risiko putra dan risiko 2,5% pada laki-laki dengan putri stenosis pilorus.

Laporan lain menunjukkan 29% peningkatan risiko yang terkait dengan usia ibu muda (<20 y), sedangkan usia ibu melebihi 30 tahun dikaitkan dengan risk.2 menurun secara nyata

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 29


Hipertrofi pylorus stenosis

PENYEBAB

Penyebab stenosis pilorik stenosis belum diketahui. Telah bermacam-macam faktor telah dicurigai terlibat. Stenosis pilorus biasanya tidak tampak saat lahir dan lebih konkordans pada kembar monozigot daripada dizigot. Inervasi otot yang tidak normal, menyusui, dan stress pada ibu pada trimester III telah diketahui ikut terlibat. Lagipula, peningkatan prostaglandin serum , penurunan kadar nitrat oksida sintase dipilorus, dan hipergastrinemia pada bayi telah ditemukan tetapi kemungkinan merupakan fenomena sekunder yang disebabkan statis dan distensi lambung. Pemberian prostaglandin E eksogen untuk mempertahankan patensi duktus arteriosus telah dihubungkan dengan stenosis pilorus juga dengan gastroenteritis eosinofilia dan trisomi 18, sindrom turner, smith lemli opitz, cornelia de lange.

1. Penyebab pylorus stenosis idiopatik. Tidak ada bukti yang meyakinkan untuk etiologi stenosis pilorus ada, namun, pengaruh lingkungan baik secara turun temurun dan diyakini memberikan kontribusi faktor. Asosiasi dengan B dan golongan darah O dan stres ibu selama trimester ketiga juga telah disarankan. Meskipun stenosis pilorus sekarang diyakini diperoleh, kasus stenosis pilorus didiagnosis sebelum lahir dan neonatus telah dilaporkan.

2. Multifaktorial. Penyebab stenosis pilorus hipertrofik infantile adalah multifaktorial.

3. Genetik Penyebabnya dapat berupa kelainan kongenital dan sering terjadi pada periode neonatal. Penyebabnya tidak diketahui tetapi berbagai factor telah terlibat dan bukti menunjukkan terlibatnya persarafan setempat. Stenosis ini mungkin berhubungan dengan malrotasi intestinal, atresia esofagus atau duodenum, dan kelainan anorektal. Selain itu terdapat juga predisposisi genetic.
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 30


Hipertrofi pylorus stenosis

Penyebab stenosis pilorus tidak diketahui, tetapi faktor genetik mungkin berperan. Penyebab kelainan ini belum jelas diketahui. Kelainan ini biasanya baru diketahui setelah bayi berumur 2-3 minggu dengan gejala muntah yang proyektil (menyemprot) bebrapa saat setelah minum susu.

Kebanyakan bayi yang lahir dengan kelainan bawaan memiliki orang tua yang jelasjelas tidak memiliki gangguan kesehatan maupun faktor resiko. Seorang wanita hamil yang telah mengikuti semua nasihat dokternya agar kelak melahirkan bayi yang sehat, mungkin saja nanti melahirkan bayi yang memilii kelainan bawaan. 60% kasus kelainan bawaan penyebabnya tidak diketahui; sisanya disebabkan oleh faktor lingkungan atau genetik atau kombinasi dari keduanya.

Kelainan struktur atau kelainan metabolisme terjadi akibat: - hilangnya bagian tubuh tertentu - kelainan pembentukan bagian tubuh tertentu - kelainan bawaan pada kimia tubuh.

Kelainan struktur utama yang paling sering ditemukan adalah kelainan jantung, diikuti oleh spina bifida dan hipospadia. Kelainan metabolisme biasanya berupa hilangnya enzim atau tidak sempurnanya pembentukan enzim. Kelainan ini berbahaya bahkan bisa berakibat fatal, tetapi biasanya tidak menimbulkan gangguan yang nyata pada anak. Contoh dari kelainan metabolisme adalah penyakit Tay-Sachs (penyakit fatal pada sistem saraf pusat) dan fenilketonuria.

4. Pengaruh lingkungan

FAKTOR PENCETUS

1. Ras Bangsa kulit putih . 2. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan, khususnya anak laki-laki yang pertama.
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 31


Hipertrofi pylorus stenosis

3. Kelainan sering terjadi pada anak yang lahir pertama

PATOGENESIS Stenosis pilorus adalah salah satu kondisi yang terjadi pada anak dan memerlukan pembedahan. Hipertrofi (peningkatan ukuran ) dan hiperflasia ( peningkatan massa ) otot sirkular pylorus menyebabkan obstruksi pada sfingter pylorus. Otot sirkular menebal sampai dua kali lipat tebal normalnya, dan pylorus memanjang yang menyebabkan lumen sangat menyempit. Selain itu lambung melebar dan terjadi hipertrofi antrum. Penyebabnya tidak diketahui tetapi berbagai factor telah terlibat dan bukti menunjukkan terlibatnya persarafan setempat. Stenosis ini mungkin berhubungan dengan malrotasi intestinal, atresia esofagus atau duodenum, dan kelainan anorektal. Selain itu terdapat juga predisposisi genetic. Pada tahun 2002 centers for disease control and prevention (CDC) melaporkan kemungkinan hubungan antara penggunaan eritromisin oral dan stenosis pylorus . CDC tidak merekomendasikan dokter untuk menghentikan peresepan eritromisin hanya mereka harus waspada terhadap kemungkinan resikonya. Saluran pilorus menjadi diperpanjang, dan seluruh pilorus menjadi menebal. The mukosa biasanya edematous dan menebal. Dalam kasus lanjut, perut membesar menjadi nyata dalam menanggapi obstruksi hampir selesai. Nitrat oksida telah ditunjukkan sebagai penghambat utama nonadrenergic, neurotransmitter noncholinergic dalam saluran pencernaan, menyebabkan relaksasi otot polos dari pleksus myenteric pada rilis. Penurunan ini neuronal nitric oksida synthase (nNOS) sintesis telah terlibat dalam pilorus stenosis hipertrofik kekanak-kanakan, di samping achalasia, gastroparesis diabetes, dan penyakit Hirschsprung .Rogers telah menyarankan, bahwa hyperacidity duodenum bertahan, sekunder karena massa sel parietal tinggi (PCM) dan hilangnya kontrol gastrin, memproduksi ulang stenosis pilorus dari kontraksi pilorus dalam menanggapi hyperacidity. 2 Stenosis pylorus melibatkan hipertrofi dari otot sfingter pylorus, mengakibatkan penyempitan dan penyumbatan saluran pylorus oleh kompresi lipatan longitudinal mukosa. Pilorus diperbesar, yang menyerupai tumor yang mendekati ukuran dan bentuk dari (zaitun yaitu, 2 cm, 1 cm diameter). Mikroskopis, yang hypertrophies otot melingkar, dengan peningkatan

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 32


Hipertrofi pylorus stenosis

jaringan ikat di septa antara kumpulan otot. Peningkatan kondroitin sulfat dalam matriks ekstraseluler dapat menjelaskan kualitas kartilaginosa dari tumor pilorus. Kehilangan cairan lambung dikaitkan dengan hilangnya H + dan Cl-. Kehilangan cairan ini tidak seperti yang dalam kondisi yang disebabkan oleh muntah dengan pilorus terbuka, yang melibatkan kerugian lambung, cairan pankreas, empedu, dan usus. Hypochloremic alkalosis metabolik hypokalemic adalah gangguan biokimia karakteristik diamati pada stenosis pilorus. Kemih Na + dan HCO3 - kerugian yang mengkompensasi Cl-kerugian, mengabadikan alkalosis ini.

Dengan muntah berlarut-larut, volume ekstraseluler yang terjadi kemudian defisit, ekskresi dan urin K + dan H + meningkat dalam upaya melestarikan Na + dan volume. Air kencing alkalotic awalnya kemudian menjadi acidotic (aciduria paradoxic). Tanda dehidrasi ini berlarut-larut klinisi harus waspada terhadap keparahan volume dan tubuh defisit total K +. Tingkat keparahan kelainan elektrolit tergantung pada durasi muntah sebelum resusitasi. kesadaran yang lebih besar dari tanda-tanda penyajian stenosis pilorus oleh dokter anak dan dokter perawatan primer, bersama dengan pemeriksaan ultrasonografi, telah menghasilkan diagnosis sebelumnya dan kurang parah elektrolit dan kelainan asam-basa.

GEJALA DAN TANDA Muntah nonbilius mungkin disertai sedikit darah ( gejala awal ) Anak menangis dan gelisah waktu sakit perut. Muntah biasanya terjadi 30 sampai 60 menit setelah menyusu. Muntah yang menjadi progresif lebih proyektil. Menyusu kuat, meminta menyusu setelah muntah. Memuntahkan makanan yang masih tertahan dengan makanan yang dimakan saat ini. Gelombang peristaltis lambung dapat terlihat didinding perut. Tanda-tanda dehidrasi (air mata berkurang, turgor kulit buruk, lingkaran gelap dibawah mata, fontanel cekung). Berat badan tidak naik atau turun. Distensi abdomen atas stelah menyusu. Iritabilitas, menangis. Gelombang peristaltik lambung dari kiri kekanan dapat terlihat.
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 33


Hipertrofi pylorus stenosis

Massa sebesar buah zaitun yang dapat terpalpasi dan dapat digerakkan pada kuadran kanan atas. Konstipasi Konstipasi atau sering disebut sembelit adalah kelainan pada sistem pencernaan di mana seorang manusia (atau mungkin juga padahewan) mengalami pengerasan feses atau tinja yang berlebihan sehingga sulit untuk dibuang atau dikeluarkan dan dapat menyebabkan kesakitan yang hebat pada penderitanya. Konstipasi yang cukup hebat disebut juga dengan obstipasi. Dan obstipasi yang cukup parah dapat menyebabkan kanker usus yang berakibat fatal bagi penderitanya. Oliguri 1: abnormal produksi kecil urin, dapat merupakan gejala penyakit ginjal atau penyumbatan saluran kemih atau edema atau ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. 2: produksi sejumlah kecil urin abnormal

Seorang bayi dengan pyloric stenosis lapar dan makan dengan baik tetapi muntah dengan kuat (muntah proyektil) segera setelah makan. Sampai dehidrasi berat, atau bayi menjadi secara signifikan kekurangan gizi, mereka sebaliknya tampak sehat, tidak seperti mereka dengan muntah yang disebabkan oleh gangguan lain. Setelah beberapa hari, bayi tersebut menjadi dehidrasi dan kehilangan berat badan. Beberapa bayi mengalami perubahan warna kekuningan pada kulit dan putih pada mata (penyakit kuning).

Timbulnya rasa nyeri/pedih bilamana lambung dalam keadaan kosong, timbul keluhan perut rasa penuh dan bertambah berat setelah makan. Biasanya rasa mual bertambah berat dan diikuti dengan muntah-muntah. Yang dimuntahkan ialah yang dimakan tadi, diikuti dengan sisa-sisa makanan yang berwarna hitam. Serangan nyeri hebat mungkin timbul dengan periode peristaltic lambung. Bilamana penderita tidak segera minta tolong, maka lambung makin membesar, lama-kelamaan rasa nyeri pun berkurang, tetapi rasa penuh diperut tetap ada yang disertai dengan rasa mual, dan muntah-muntah pun berkurang. Berat badan penderita menurun demikian pula bertambah lemah, yang juga timbul konstipasi. Pada pemeriksaan didapatkan penderita yang kurus, kulit kering, lidah kering dan tanda-tanda dehidrasi lainnya.
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 34


Hipertrofi pylorus stenosis

Tanda-tanda stenosis pylorus biasanya muncul dalam waktu 3-5 minggu setlah lahir. Pilorus stenosis jarang terjadi pada bayi yang lebih tua dari usia 3 bulan.

Perhatikan tanda-tanda dan gejala: Muntah seperti menyembur . stenosis pilorus sering menyebabkan muntah proyektil "pengusiran kuat dari susu atau susu formula hingga beberapa meter jauhnya dalam waktu 30 menit setelah menyusui. Mungkin muntah ringan pada awalnya dan secara bertahap menjadi lebih parah. Jarang, muntah mungkin mengandung darah. Persistent kelaparan. Bayi yang menderita stenosis pilorus sering ingin makan segera setelah muntah. Perut kontraksi. Anda dapat melihat kontraksi-gelombang seperti yang bergerak di atas perut bayi Anda (gerak peristaltik) segera setelah menyusui tapi sebelum muntah. Hal ini disebabkan oleh otot-otot perut berusaha memaksa makanan melewati outlet pilorus. Dehidrasi. Bayi Anda mungkin menangis tanpa air mata atau menjadi lesu. Anda mungkin menemukan diri Anda mengganti popok basah yang lebih sedikit atau popok yang basah tidak seperti yang Anda harapkan. Perubahan dalam buang air besar. Sejak stenosis pilorus mencegah makanan dari mencapai usus, bayi dengan kondisi ini sering memiliki tinja yang lebih kecil dan lebih sedikit. gerakan usus dapat lepas dan hijau dan mengandung lendir. Berat masalah. stenosis pilorus dapat mencegah bayi dari berat badan. Kadang-kadang stenosis pilorus menyebabkan penurunan berat badan.

Hubungi dokter anak Anda jika Anda mencurigai stenosis pilorus. Perhatikan: besar Berat badan sulit naik Sering muntah setelah makan Proyektil muntah Penurunan aktivitas Popok jarang basah atau kotor sampai enam jam atau satu atau dua hari tanpa buang air

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 35


Hipertrofi pylorus stenosis

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Rontgenologis Didapatkan retensi lambung. Lambung sangat besar mungkin terdapat peristaltic hiperaktif. Mungkin banyak terjadi konstruksi pada saluran pylorus dan mungkin dijumpai adanya tukak atau karsinoma disekitarnya.

2. Laboratorium Terdapat gambaran anemi, gambaran gangguan elektroliten terutama pada tukak duodeni, yang disebabkan seringnya vomitus dan menyebabkan kehilangan garam-garam na, K, Cl, dan alkalosis. Gangguan fungsi ginjal yang berat mungkin sebagai akibat stenosis pylorus, dan pada dehidrasi akan dijumpai kenaikan kadar ureum dalam darah, oleh karena itu perlu pemeriksaan kadar ureum.

Uji Laboratorium dan Diagnostik Hitung darah lengkap Peningkatan hemoglobin dan hemotokrit karena hemokonsentrasi Kadar elektrolit serum Hipokloremia, hipernatremia, hipokalemia (mungkin tertutupi oleh hemokonsentrasi dari penurunan cairan ekstraseluler). Nilai gas darah arteri Alkalosis metabolik Studi barium saluran cerna bagian atas Diagnostik menunjukkan pengosongan lambung yang terlambat, saluran pilorik menyempit panjang, penyempitan persisten. Ultrasonografi abdomen Studi diagnostik lini pertama.

3. Pemeriksaan Diagnostik

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 36


Hipertrofi pylorus stenosis

Dengan memberikan barium per oral didapatkan gambaran radiologis yangpatognomonik berupa penyempitan piloros, yang relatif tampak lebih panjang. 4. Pemeriksaan Ultrasonogafi Ultrasonografi dapat membantu menegakkan diagnosa pasien dengan massa di abdominal. Pada Hypertropic Pyloric Stenosis USG merupakan gold standard untuk diagnostik dengan kriteria diagnosa diameter pilorus lebih dari 14 mm, kanal pylorus 16 mm dan tebal otot pylorus 4 mm5. Dengan USG intussusepsi ditegakkan bila terlihat target sign pada penampang melintang dan pseudokidney sign pada penampang longitudinal. USG dapat pula membantu menegakkan diagnosa obstruksi usus yang disebabkan tumor intra abdomen, atau proses inflamasi seperti abses apendiks yang menyebabkan obstruksi. Pemeriksaan foto kontras barium (Upper GI) dapat memperlihatkan elongasi kanal pilorus dan indentasi garis antrum (shoulders sign )

Tanda dan gejala stenosis pilorus bisa meniru orang-orang kondisi lain yang menyebabkan bayi muntah, termasuk penyakit gastroesophageal reflux (GERD). dokter bayi Anda dapat menggunakan berbagai strategi untuk membuat diagnosis: Medis sejarah. Bersiaplah untuk menjawab pertanyaan tentang bayi muntah. Jelaskan

pola di saat muntah terjadi dan apa yang terlihat seperti muntah. Perhatikan berapa banyak bayi Anda muntah cair dan apakah muntah tersebut diproyeksikan tegas. Fisik ujian. dokter bayi Anda mungkin merasakan benjolan berbentuk zaitun "otot Tes darah. Hilangnya elektrolit "seperti natrium, kalium, magnesium dan kalsium USG. Tes ini menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar perut bayi Anda. Contrast X-ray. Untuk tes ini, bayi Anda menelan sejumlah kecil cairan yang melapisi

pilorus diperbesar ketika memeriksa perut bayi Anda.

mungkin merupakan tanda terus-menerus muntah dan dehidrasi.

perut. Sebaliknya bahan ini membantu setiap kelainan muncul lebih jelas pada sinar-X. DIAGNOSA BANDING 1. Gastroenteritis 2. Volvulus 3. Atresia Duodenum 4. Akalasia Esofagus
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 37


Hipertrofi pylorus stenosis

5. Hernia Hiatus 6. Refluks gastroesofagus

1. Gastroenteritis $astroenteritis/ radang lambung adalah peradangan pada saluran pencernaan yang menimbulkan muntah, diare, atau keduanya dan kadangkala disertai dengan demam atau kram perut. Radang lambung biasanya disebabkan oleh virus, bakteri, atau infeksi parasit. Infeksi menyebabkan kombinasi muntah, diare, kram perut, demam, dan nafsu makan berkurang, yang bisa menimbulkan dehidrasi. Gejala si anak dan riwayat sesungguhnya membantu dokter mengkonfirmasi diagnosa. Radang lambung dicegah dengan baik dengan mengarahkan anak untuk mencuci tangan mereka dan mengajarkan mereka untuk menghindari penyimpanan makanan yang tidak sesuai. Cairan dan larutan rehidrasi diberikan, namun terkadang anak butuh pergi ke dokter. Radang lambung, kadangkala salah disebut flu perut , adalah gangguan radang usus yang umum terjadi pada anak. Sekitar 1 milyar peristiwa terjadi di seluruh dunia setiap tahun, lebih umum pada negara berkembang di antara anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Radang lambung akut menghasilkan dehidrasi dan ketidakseimbangan kimia darah (elektrolit) disebabkan hilangnyaa cairan tubuh karena muntah dan buang air besar. Di negara berkembang dimana anak mendapat gizi yang cukup dan bisa mengakses perawatan medis yang bagus, radang lambung bisa menyebabkan rasa tidak nyaman dan lemas namun tidak berlangsung lama dan jarang sekali memiliki konsekwensi yang serius. Di negara berkembang dimana anak-anak lebih mudah terserang dan perawatan sering tidak dapat diakses dengan mudah, jutaan anak-anak meninggal setiap tahunnya karena diare disebabkan radang lambung.

2. Volvulus Volvulus atau usus terpuntir adalah suatu kondisi dimana suatu bagian usus besar terpuntir atau terpelintir (lihat gambar), menyebabkan sumbatan terhadap berbagai benda (sisa makanan, kotoran, cairan, dan gas) yang melalui usus. Terpuntirnya usus juga dapat menyebabkan sumbatan pembuluh darah yang memperdarahi usus, sehingga dapat menyebabkan kematian jaringan usus di sekitarnya.

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 38


Hipertrofi pylorus stenosis

Volvulus umumnya terkait dengan kelainan bawaan yang disebut malrotasi usus, yaitu terjadinya salah letak dari usus ketika periode perkembangan janin. Akibatnya usus besar tidak melekat secara sempurna di dinding perut, mengakibatkan bagian usus besar tersebut bergeser dari posisi normalnya dan terpuntir. Volvulus juga dapat terjadi walaupun tidak ada kelainan malrotasi usus ini. Bila volvulus terjadi akibat malrotasi usus maka umumnya terjadi ketika bayi berumur di bawah 1 tahun.

Anak yang mengalami volvulus umumnya merasakan sakit perut yang tiba-tiba karena ususnya tersumbat. Selain nyeri, gejala lain yang dapat muncul adalah mual dan muntah, muntah berwarna hijau, perut mengembang (distensi), adanya darah di kotoran, dan kesulitan buang air besar (konstipasi). Gejala-gejala tersebut umumnya timbul secara dramatis, dan membuat si anak menjadi sakit berat sehingga memerlukan pertolongan gawat darurat di rumah sakit. Pada beberapa kasus, gejala-gejala di atas dapat muncul pada derajat ringan dan kemudian hilang dengan sendirinya yang terjadi berulang kali. Hal ini disebut volvulus intermiten, dimana usus sedikit terpuntir kemudian puntiran tersebut terlepas dengan sendirinya tanpa tindakan medik apapun. 3. Atresia Duodenum Atresia duodenum adalah kondisi dimana duodenum (bagian pertama dari usus halus) tidak berkembang dengan baik, sehingga tidak berupa saluran terbuka dari lambung yang tidak memungkinkan perjalanan makanan dari lambung ke usus. Meskipun penyebab yang mendasari terjadinya atresia duodenum masih belum diketahui, patofisologinya telah dapat diterangkan dengan baik. Seringnya ditemukan keterkaitan atresia atau stenosis duodenum dengan malformasi neonatal lainnya menunjukkan bahwa anomali ini disebabkan oleh gangguan perkembangan pada masa awal kehamilan. Atresia duodenum berbeda dari atresia usus lainnya, yang merupakan anomali terisolasi disebabkan oleh gangguan pembuluh darah mesenterik pada perkembangan selanjutnya. Tidak ada faktor resiko maternal sebagai predisposisi yang ditemukan hingga saat ini. Meskipun hingga sepertiga pasien dengan atresia duodenum menderita pula trisomi 21 (sindrom Down), namun hal ini bukanlah faktor resiko independen dalam perkembangan atresia duodenum. 4. Akalasia esofagus Akalasia esofagus, atau dikenal juga dengan nama Simple ectasia, Kardiospasme, Megaesofagus, Dilatasi esofagus difus tanpa stenosis atau Dilatasi esofagus idiopatik adalah suatu gangguan neuromuskular. Kegagalan relaksasi batas esofagogastrik pada proses menelan menyebabkan dilatasi bagian proksimal esofagus tanpa adanya gerak peristaltik. Penderita akalasia merasa perlu mendorong atau memaksa turunnya makanan dengan air atau minuman guna menyempurnakan proses menelan. Gejala lain dapat berupa rasa penuh substernal dan umumnya terjadi regurgitasi.(1,2). Akalasia mulai dikenal oleh Thomas Willis
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 39


Hipertrofi pylorus stenosis

pada tahun 1672. Mula-mula diduga penyebabnya adalah sumbatan di esofagus distal, sehingga dia melakukan dilatasi dengan tulang ikan paus dan mendorong makanan masuk ke dalam lambung. Pada tahun 1908 Henry Plummer melakukan dilatasi dengan kateter balon. Pada tahun 1913 Heller melakukan pembedahan dengan cara kardiomiotomi di luar mukosa yang terus dianut sampai sekarang.

5. Hernia hiatus Hernia Hiatal adalah penonjolan dari suatu bagian lambung melalui diafragma, dari posisinya yang normal di dalam perut. Diafragma adalah lembaran otot yang digunakan untuk bernafas, yang merupakan pembatas antara dada dan perut. Pada sliding hiatal hernia, perbatasan antara kerongkongan dan lambung, juga sebagian dari lambung, yang secara normal berada di bawah diafragma, menonjol ke atas diagragma. Pada hernia hiatal paraesofageal, perbatasan antara kerongkongan dan lambung berada dalam tempat yang normal yaitu di bawah diafragma, tetapi bagian dari lambung ada yang terdorong ke atas diafragma dan terletak di samping kerongkongan. Hernia hiatal sering terjadi, terutama pada usia diatas 50 tahun. Akibat dari kelainan ini bisa terjadi regurgitasi asam lambung.

6. Refluks gastroesofagus Refluks gastroesofagus (RGE) atau gastroesophageal reflux (GER) adalah masuknya isi lambung ke dalam esofagus (kerongkongan). Penyakit Refluks Gastroesofagus (PRGE) atau gastroesophageal reflux disease (GERD) adalah ketika RGE menimbulkan komplikasi. Keadaan ini jarang terjadi, dan meningkat pada anak dengan palsi serebral (cerebral palsy), sindroma Down, fibrosis kistik (cystic fibrosis), dan kelainan anatomi saluran cerna atas (fistula trakeoesofagus, hernia hiatus, stenosis pilorum). PENEGAKAN DIAGNOSA Dokter kemungkinan merasakan gumpalan kecil (kira-kira sebesar zaitun) pada perut bayi (pylorus yang membesar). Paling umum, dokter melakukan ultrasonik pada perut untuk memastikan diagnosa. dokter akan memeriksa bayi dan berbicara dengan orang tua tentang gejala bayi mereka. Jika seorang anak memiliki kondisi, dokter harus dapat merasakan massa keras (sekitar 2 cm berbentuk lebar dan zaitun) di daerah di atas bellybutton tersebut. Jika dokter tidak dapat mendeteksi massa, ultrasonografi akan dilakukan untuk mengkonfirmasikan diagnosis. Tes darah juga dapat dilakukan untuk melihat apakah bayi mengalami dehidrasi, dalam hal ini cairan intravena dapat digunakan untuk memperbaiki masalah.

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 40


Hipertrofi pylorus stenosis

Anamnesis Kelainan ini biasanya baru diketahui setelah bayi berumur 2-3 minggu dengan gejala muntah yang proyektil (menyemprot) bebrapa saat setelah minum susu. Yang dimuntahkan hanya susu saja; bayi tampak selalu haus dan berat badannya sukar bertambah.

1. Muntah nonbilius mungkin disertai sedikit darah ( gejala awal ) 2. Muntah biasanya terjadi 30 sampai 60 menit setelah menyusu. 3. Muntah yang menjadi progresif lebih proyektil. 4. Menyusu kuat, meminta menyusu setelah muntah. 5. Memuntahkan makanan yang masih tertahan dengan makanan yang dimakan saat ini. 6. Tanda-tanda dehidrasi (air mata berkurang, turgor kulit buruk, lingkaran Gelap dibawah mata, fontanel cekung). 7. Berat badan tidak naik atau turun. 8. Distensi abdomen atas stelah menyusu. 9. Iritabilitas, menangis. 10.Gelombang peristaltik lambung dari kiri kekanan dapat terlihat. 11.Massa sebesar buah zaitun yang dapat terpalpasi dan dapat digerakkan pada kuadran kanan atas. Pemeriksaan fisik 1. inspeksi 2. Palpasi 3. Perkusi 4. Auskultasi.

a. Pada pemeriksaan fisik ditemukan gerakan peristaltik lambung dalam usaha melewatkan makanan melalui daerah yang sempit di pilorus.
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 41


Hipertrofi pylorus stenosis

b. Teraba tumor pada saat gerakan peristaltik tersebut. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan setelah anak di beri minum. c. Distensi abdomen yang terlokalisir pada epigastrium menggambarkan level obstruksi pada usus proksimal d. Pada inspeksi kadang-kadang dapat terlihat kontur usus dengan atau tanpa terlihatnya peristaltik. e. Palpasi kadang dapat membantu diagnosa misalnya olive sign pada 62 % pasien dengan Hypertropic Pyloric Stenosis f. Pada pemeriksaan fisik akan tampak dinding perut yang berperistaltis dan dengan palpasi jari yang dalam dan lembut didaerah pertengahan garis yang menghubungkan batas anterior rongga iga kanan dan umbilicus akan teraba suatu tumor yang elastis.

Pemeriksaan laboratorium

Diagnosis utama dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis tetapi dapat dikonfirmasi dengan pemriksaan ultrasonografi pylorus. Gambaran bikimiawi plasma juga khas yaitu ditandai dengan hiponatremia, hipokalemia, hipokloromia dan alkalosis metabolic. Koreksi terhadap dehidrasi dan biokimiawi perlu dilakukan sebelum anestesi umum dan pembedahan.

Terdapat gambaran anemi, gambaran gangguan elektroliten terutama pada tukak duodeni, yang disebabkan seringnya vomitus dan menyebabkan kehilangan garam-garam na, K, Cl, dan alkalosis. Gangguan fungsi ginjal yang berat mungkin sebagai akibat stenosis pylorus, dan pada dehidrasi akan dijumpai kenaikan kadar ureum dalam darah, oleh karena itu perlu pemeriksaan kadar ureum.

PENATALAKSANAAN Bilamana ditemukan penderita dengan gejala-gejala seperti tersebut diatas, maka harus dirawat di rumah sakit dan perlu di ambil tindakan sebagai berikut : 1. Aspirasi lambung perlu segera dilakukan untuk membuang sisa-sisa makanan. 2. Koreksi terhadap dehidrasi dengan pemberian cairan infuse. 3. Koreksi terhadap anemi.

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 42


Hipertrofi pylorus stenosis

4. Bila keadaan umum telah mengijinkan maka perlu dipikirkan untuk melakukan tindakan operasi. Dokter memberi bayi tersebut cairan infus untuk mengobati dehidrasi. Kemudian, ahli bedah memotong otot yang menebal untuk membuat susu formula atau air susu ibu untuk masuk ke usus kecil lebih siap. Hal ini secara relatif operasi minor, dan kebanyakan bayi bisa makan dalam sehari setelah operasi dan pemberian obat adrenergic yang menyebabkan relaksasi serabut otot. Penatalaksanaan Medik Pengobatan dilakukan dengan melakukan pilarotomi . Penatalaksanaan Keperawatan Masalah utama bayi dengan kelainan ini adalah bayi selalu muntah menyemprot setelah minum. Oleh karena itu, sebelum tindakan bedah, pemberian minum dilakukan sedikit demi sedikit, dan susu lebih baik dibuat agak kental. Setelah minum bayi diletakan balam posisi setengah duduk agak lama baru kemudian dibaringkan miring ke kanan. Lebih lanjut Rawat Inap Bayi dengan stenosis pilorus harus terus menerima cairan infus sampai makan dilanjutkan. Menyusui dapat dimulai 4-8 jam setelah pemulihan dari anestesi, meskipun makan sebelumnya telah dipelajari. Bayi yang makan lebih awal dari 4 jam tidak memiliki hasil lebih buruk klinis total, tetapi mereka muntah lebih sering dan lebih parah, yang menyebabkan ketidaknyamanan signifikan bagi pasien dan kecemasan para orangtua. Sebanyak 80% dari pasien terus muntah setelah operasi, namun pasien yang terus muntah 5 hari setelah operasi mungkin memerlukan penyelidikan lebih lanjut radiologis. Pasien harus diamati untuk komplikasi bedah (misalnya, pyloromyotomy tidak lengkap, perforasi mukosa, perdarahan) dan dapat habis rumah ketika cukup terhidrasi dengan baik dan toleransi menyusui. Perawatan prehospital Seperti dengan semua resuscitations pediatrik, perawatan prehospital pada pasien dengan stenosis pilorus harus konsisten dengan mendukung kehidupan pediatrik lanjutan (Pal) rekomendasi untuk bayi yang mengalami dehidrasi atau shock. Segera perawatan memerlukan koreksi kehilangan cairan, elektrolit, dan ketidakseimbangan asam-basa. Setelah akses intravena dapat diperoleh, bayi mengalami dehidrasi harus menerima bolus awal (20 mL / kg) cairan kristaloid. bayi harus tetap ada dengan mulut (NPO).
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 43


Hipertrofi pylorus stenosis

Departemen Perawatan Darurat Infantile stenosis pilorus hipertrofik (IHPS) adalah darurat medis. Segera perawatan memerlukan koreksi kehilangan cairan, elektrolit, dan ketidakseimbangan asam-basa. Setelah akses intravena diperoleh, sebuah bolus cairan awal (20 mL / kg) infus kristaloid harus segera jika bayi mengalami dehidrasi. Lebih dari 60% bayi hadir ke ED dengan nilai-nilai elektrolit yang normal atau tidak shock klinis. Bayi ini harus menerima pemeliharaan 1,5-2 kali cairan intravena: dekstrosa 5% dalam 0,25% atau 0,33% klorida dengan natrium 2-4 mEq KCl per 100 mL pengganti. Status cairan bayi harus terus ditelaah dengan perhatian khusus pada status asam-basa dan output urin. Pengobatan definitif untuk stenosis pilorus infantil hipertrofik adalah pembedahan korektif. The pyloromyotomy Ramstedt adalah prosedur pilihan, selama massa antro-pilorus mendasarinya terbagi meninggalkan lapisan mukosa utuh. Secara tradisional, pyloromyotomy itu dilakukan melalui sayatan melintang kanan atas kuadran. Penelitian terbaru telah membandingkan waktu operasi, biaya, dan rumah sakit tetap terkait dengan irisan tradisional, sayatan circumbilical (diyakini memiliki cosmesis membaik), dan prosedur laparoskopi. The pyloromyotomy telah ditemukan laparoskopi aman dan efektif, dengan waktu operasi lebih pendek dan tinggal di rumah sakit. Sebuah studi dari Britania Raya diamati lebih sedikit waktu untuk menyusui penuh, analgesia kurang, emesis kurang, dan debit lebih cepat pada kelompok laparoskopi dibandingkan dengan pendekatan tradisional. 5 Sebuah penelitian dari Perancis menunjukkan bahwa laparoskopi pyloromyotomy tidak mengurangi kejadian muntah pasca operasi dan bisa mengakibatkan risiko pyloromyotomy tidak memadai. 6 Pyloromyotomy dilakukan di pusat-pusat khusus di bedah anak dan mengajar bedah rumah sakit umum memiliki tingkat komplikasi yang sama dalam sebuah studi dari Belanda. 7 Baru-baru ini, berbagai pendekatan bedah, seperti sayatan kulit kali lipat supraumbilical dan irisan pusar, telah digunakan dengan akses mudah, dan pendekatan-pendekatan ini memiliki hasil kosmetik yang lebih baik. Juga, sebuah penelitian dari Montreal menunjukkan cosmesis unggul dengan supraumbilical (SU) pendekatan daripada dengan kuadran kanan atas (RUQ) pendekatan.

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 44


Hipertrofi pylorus stenosis

Satu pasien perlu atropin intravena, sebagai penyusuan tube nasogastrik tidak ditolerir selama 2 hari pertama, tapi pasien berhasil kemudian. Dalam studi ini, semua 12 pasien berhasil diobati tanpa komplikasi nonsurgically. Bedah koreksi dianggap sebagai standar perawatan untuk semua pasien dengan stenosis pilorus hipertrofik kekanak-kanakan, karena itu, manajemen medis harus disediakan untuk pasien yang miskin atau bedah kandidat yang orangtuanya menentang operasi. Konsultasi Seorang ahli bedah nyaman dengan perawatan bayi harus berkonsultasi segera setelah diagnosis stenosis pilorus kekanak-kanakan hipertrofik adalah menghibur. Obat

Bedah koreksi dianggap standar pelayanan untuk stenosis pilorus kekanak-kanakan hipertrofik (IHPS). Pilorus stenosis biasanya dilakukan dengan prosedur pembedahan yang dikenal sebagai pylorotomi. Bedah sering dijadwalkan segera setelah diagnosis mungkin, kadang-kadang bahkan pada hari yang sama.

Pyloromyotomy dilakukan dengan anestesi umum. Secara tradisional, prosedur dilakukan melalui sayatan kecil di perut sebelah kanan bayi atas atau di sekitar pusar bayi. Hari ini, Namun, pyloromyotomy sering dilakukan laparoskopi. Dengan operasi laparoskopi, yang melihat ramping instrumen (laparoskop) dimasukkan melalui sayatan kecil di dekat pusar bayi. laparoskop dilengkapi dengan laser dan instrumen bedah kecil. Pemulihan dari prosedur laparoskopi lebih cepat daripada pemulihan dari operasi terbuka tradisional, dan prosedur yang meninggalkan bekas luka yang lebih kecil.

Penatalaksanaan medis dan bedah Sebelum pembedahan, ketidaknormalan cairan dan elektrolit dan ketidakseimbangan asam basa dikoreksi dengan cairan intravena (IV) dan penggantian elektrolit. Piloromiotomi, suatu insisi longitudinal kebawah mukosa sepanjang pylorus merupakan penanganan bedah standar untuk kelainan ini. Laparoskopi telah diketahui aman dan berhasil dalam mengoreksi stenosis pilorik hipertrofik yang menghasilkan waktu pembedahan, pemberian makan pasca operasi, dan pemulangan lebih cepat.
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 45


Hipertrofi pylorus stenosis

Deficit keperawatan Defisit volume cairan Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh Nyeri Resiko infeksi Defisit pengetahuan

Intervensi keperawatan 1. Tingkatkan dan pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Pertahankan untuk pemberian cairan yang diprogramkan dengan kecepatan tertentu. Pertahankan kepatenan selang nasogastrik (NGT) jika ada. Pertahankan status puasa Hubungkan NGT pada pengisap kontinu rendah untuk mencegah distensi dan muntah dan untuk menurunkan resiko aspirasi Ganti keluaran nasogastrik (NG) dengan cairan seperti yang diprogramkan. Lakukan bilas lambung menggunakan salin normal melalui NGT sampai cairan jernih (persiapan prabedah). Pantau asupan dan keluaran secara ketat (termasuk jumlah dan karakteristik feses, drainase nasogastrik dan jumlah muntahan). Catat berat jenis urine. Catat berat badan harian Pantau adanya tanda dan gejala dehidrasi (tanda-tanda vital, membran mukosa, status fontanel). 2. Pantau dan laporkan respon anak terhadap ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. 3. Pantau dan laporkan hasil laboratorium. 4. Pantau adanya tanda-tanda ketidakseimbangan cairan dan elektrolit 5. Siapkan orangtua pada masa praoperasi untuk menghadapi pembedahan anak yang akan datang.

Perawatan Pascaoperasi 1. Tingkatkan dan pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.


Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 46


Hipertrofi pylorus stenosis

Pertahankan Pertahankan untuk pemberian cairan yang diprogramkan dengan kecepatan tertentu. Pertahankan kepatenan selang nasogastrik (NGT) jika ada. Pantau asupan dan keluaran secara ketat (termasuk jumlah dan karakteristik feses, drainase nasogastrik dan jumlah muntahan) Pantau adanya tanda dan gejala dehidrasi (tanda-tanda vital, membran mukosa, status fontanel). 2. Pantau respon anak terhadap asupan peroral Berikan cairan peroral 4 sampai 6 jam pascaoperasi Berikan makanan sedikit tetapi kering ( 15 sampai 20 ml per pemberian makan ) sesuai Mulai dengan cairan bening (glukosa dan elektrolit) : tingkatkan sampai formula penuh Beri makan bayi pada posisi tegak. Observasi adnya tanda-tanda muntah dan hematesis ( dapat memperlambat pemberian Pantau penambahan berat badan.

toleransi.

sesuai toleransi.

makan peroral sampai 48 jam).

3. Lakukan tindakan-tindakan untuk mengurangi nyeri sesuai indikasi Pantau adanya tanda-tanda nyeri , yaitu menangis, iritabilitas, peregangan, punggung yang melengkung, peningkatan aktivitas motorik. Kaji reaksi terapeutik dan reaksi yang tidak diinginkan anak terhadap pengobatan. 4. Pantau dan pertahankan integritas daerah insisi. Kaji adanya tanda-tanda infeksi : kemerahan, drainase, inflamasi, teraba hangat. Rawat luka insisi sesuai protokol rumah sakit. 5. Beri dukungan psikososial.

Perencanaan pulang dan perawatan dirumah 1. Ajarkan orang tua untuk memantau respon anak terhadap pemberian makan dan gejala yang tidak diinginkan. Muntah Tanda-tanda infeksi Penambahan berat badan.
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 47


Hipertrofi pylorus stenosis

2. Ajarkan kepada orang tua tentang cara-cara merawat daerah insisi.

3. Berikan dukungan dan penatalaksanaan tindak lanjut bagi orang tua.

Hasil yang diharapkan 1. anak akan mendapatkan makanan yang cukup. 2. Anak terhidrasi adekuat 3. Berat badan anak bertambah dengan baik. 4. Anak tidak akan mengalami komplikasi sperti infeksi. 5. Orangtua menunjukkan pemahamannya tentang kondisi bayi atau anak, kemungkinan komplikasi, dan kebutuhan perawatan dirumah.

PENCEGAHAN Penyebab stenosis pylorus adalah keturunan atau juga congenital maka pencegahannya adalah debagai berikut : Beberapa kelainan bawaan tidak dapat dicegah, tetapi ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko terjadinya kelainan bawaan: Tidak merokok dan menghindari asap rokok Menghindari alkohol Menghindari obat terlarang Memakan makanan yang bergizi dan mengkonsumsi vitamin prenatal Melakukan olah raga dan istirahat yang cukup Melakukan pemeriksaan prenatal secara rutin Mengkonsumsi suplemen asam folat Menjalani vaksinasi sebagai perlindungan terhadap infeksi Menghindari zat-zat yang berbahaya.

Zat yang berbahaya Beberapa zat yang berbahaya selama kehamilan: Alkohol Androgen dan turunan testosteron (misalnya danazol) Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors (misalnya enalapril, captopril) Turunan kumarin (misalnya warfarin)
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 48


Hipertrofi pylorus stenosis

Carbamazepine Antagonis asam folat (misalnya metotrexat dan aminopterin) Cocain Dietilstilbestrol Timah hitam Lithium Merkuri dll

KOMPLIKASI Stenosis pilorus dapat menyebabkan dehidrasi, kehilangan elektrolit dan masalah berat badan . Muntah berulang-ulang dapat mengiritasi perut bayi Anda. Beberapa bayi yang telah menderita pilorus stenosis berkembang menjadi penyakit kuning sebuah perubahan warna kekuningan pada kulit dan mata.

Ikterus : disebabkan oleh defisiensi transferase glukuronida hepatik. Ikterus adalah perubahan warna kulit / sclera mata (normal beerwarna putih) menjadi kuning karena peningkatan kadar bilirubin dalam darah. Ikterus pada bayi yang baru lahir dapat merupakan suatu hal yang fisiologis (normal), terdapat pada 25% 50% pada bayi yang lahir cukup bulan. Tapi juga bisa merupakan hal yang patologis (tidak normal) misalnya akibat berlawanannya Rhesus darah bayi dan ibunya, sepsis (infeksi berat), penyumbatan saluran empedu, dan lain-lain.

Alkalosis metabolik hipokloremik (akut) Alkalosis Metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena tingginya kadar bikarbonat. Alkalosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan terlalu banyak asam. Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama periode muntah yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang kadang-kadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut). Pada kasus yang jarang, alkalosis metabolik terjadi pada seseorang yang mengkonsumsi terlalu banyak basa dari bahan-bahan seperti soda bikarbonat. Selain itu, alkalosis metabolik dapat terjadi

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 49


Hipertrofi pylorus stenosis

bila kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah yang banyak mempengaruhi kemampuan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah.

Dehidrasi berat (akut) dengan peningkatan kadar nitrogen urea darah. Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh. Hal ini terjadi karena pengeluaran air lebih banyak daripada pemasukan (misalnya minum). Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh. Dehidarasi terjadi karena kekurangan zat natrium; kekurangan air; kekurangan natrium dan air. Komplikasi dari pylorotomy

Meskipun pyloromyotomy aman dan kuratif dan dilakukan hampir tanpa kematian operasi (<0,5%) dan morbiditas (<10%), tidak tanpa komplikasi potensial. komplikasi pascaoperasi intraoperative dan Potensi termasuk perdarahan, perforasi, dan infeksi luka. Duodenum atau perforasi lambung, komplikasi yang paling serius jarang terjadi namun jika terjadi sebelum penutupan luka yang belum diakui konsekuensi yang gawat atau kematian bisa terjadi. Bayi dengan usus bocor mengembangkan rasa sakit, kembung, demam, dan peritonitis. Kebutuhan cairan yang sedang berlangsung, sepsis umum, kolaps pembuluh darah, dan kematian ikuti jika kebocoran enterik tidak diakui dan diobati. Dugaan perforasi reexploration pascaoperasi membutuhkan segera. Pengakuan komplikasi ini pada saat operasi adalah penting.

PROGNOSIS Dubia et bonam Prognosis baik setelah dilakukan tindakan piloromiotomi . Dengan pembedahan pilorik stenosis bisa sembuh total. Kebanyakan bayi tidak mengalami komplikasi atau efek jangka panjang. Morbiditas dan mortalitas telah membaik secara bermakna selama 50 tahun terakhir. Dengan adanya kemajuan di bidang anestesi pediatrik, neonatologi, dan teknik pembedahan, angka kesembuhannya telah meningkat hingga 90% Pembedahan kuratif dengan kematian yang minimal.
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 50


Hipertrofi pylorus stenosis

Prognosis sangat baik, lengkap dengan pemulihan dan pertumbuhan catch-up jika terdeteksi secara tepat waktu. Dubia et malam Bisa menyebabkan kematian karena pasien kekurangan asupan makanan, dehidrasi karena isi perut terus dimuntahkan dan kekurangan energi jika ini tidak segera ditangani.

KESIMPULAN Stenosis pylorus atau pilorospasme terjadi bila serabut otot disekelilingnya mengalami hipertrofi atau spasme sehingga sfingter gagal berelaksasi untuk mengalirkan makanan dari lambung kedalam duodenum. Pylorus adalah otot sphincter terletak dimana perut bergabung dengan bagian pertama usus kecil (duodenum). Secara normal, pylorus tersebut kontraksi untuk menjaga makanan di dalam perut untuk dicerna dan bersantai untuk membiarkan makanan menuju usus. Untuk alasan yang dokter tidak sepenuhnya mengerti, pylorus kadangkala menutup, menghambat material meninggalkan perut. Penyumbatan ini biasanya terjadi pada usia satu hingga dua bulan dan sering terjadi pada anak laki-laki, khususnya anak laki-laki yang pertama dilahirkan. Jarang, beberapa anak mengalami pyloric stenosis yang disebabkan oleh borok pencernaan atau gangguan yang tidak umum yang mirip dengan alergi makanan (seperti eosinophilic gastroenteritis). Gejala dan tanda 1. Muntah nonbilius mungkin disertai sedikit darah ( gejala awal ) 2. Anak menangis dan gelisah waktu sakit perut. 3. Muntah biasanya terjadi 30 sampai 60 menit setelah menyusu. 4. Muntah yang menjadi progresif lebih proyektil. 5. Menyusu kuat, meminta menyusu setelah muntah. 6. Memuntahkan makanan yang masih tertahan dengan makanan yang dimakan saat ini. 7. Gelombang peristaltis lambung dapat terlihat didinding perut. 8. Tanda-tanda dehidrasi (air mata berkurang, turgor kulit buruk, lingkaran gelap dibawah mata, fontanel cekung). 9. Berat badan tidak naik atau turun. 10. Distensi abdomen atas stelah menyusu.
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 51


Hipertrofi pylorus stenosis

Daftar Pustaka 1. William Sears M.D, The Baby Book, 2th ed, Little Brown and Company, New York, 2007. 2. David A.Stringer et all, Pediatric Gastrointestinal Imaging and Intervention, 2th ed, PMPH, USA, 2000.
Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto

Presentasi Kasus Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak 52


Hipertrofi pylorus stenosis

3. Meinhard Von Pfaudier, The Disease Of Children, 3th ed, Lippincott, 1908. 4. R. Sjamsuhidajat and Wim De Jong, Buku Ajar Ilmu bedah, 2th ed, EGC, Jakarta, 2003. 5. Prof. DR. Dr Sujono suhadi, Gastroenterologi, 7th ed, PT Alumni, Bandung, 2002. 6. A. Sowder, Buku Saku Keperawatan Pediatri, 5th ed, EGC, Jakarta, 2004. 7. Firnley J. In. M.D, The Choice of Pyloric Stenosis, 135, 1908, pp: 333-341. 8. Lephart CL et all, Hypertrophic Pyloric Stenosis In newborn younger than 21 Days, 43, 2008, 998. 9. Treatment and Drugs of Pyloric Stenosis In http// www//mayoclinic.com ; date modified 08/04/2010 ;20.47 10. Hypertrophic Pyloric Stenosis In http// www//community.um.ac.id ; date modified 02/02/2010 ;08.48

Yogie iskandar 1010221020 Fakultas Kedokteran UPNVETERAN Jakarta RS Bhayangkara TK I Raden Said Sukanto