Anda di halaman 1dari 4

SANG ROCKER, KAULAH PEMIMPIN!

Judul buku Penulis Penerbit Tahun terbit Dimensi Tebal buku : Jokowi Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker : Yon Thayrun : Noura Books : 2012 : 21 cm x 13,5 cm : 255 halaman

Buku biografi karya Yon Thayrun dengan judul Jokowi Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker ini berisi tentang biografi tokoh fenomenal Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi. Buku ini menceritakan kisah perjalanan hidup Jokowi, mulai dari masa kecilnya yang serba kekurangan dan berpindah-pindah dari bantaran kali satu ke bantaran kali lain, hingga kisahnya mencapai kesuksesannya kini. Banyak buku tentang Jokowi yang beredar di pasaran. Sebagian besar hanya menyoroti kiprah Jokowi di dunia politik, baik di kota kecilnya Solo, maupun provinsi yang kini dipimpinnya, yaitu DKI Jakarta. Namun, sedikit sekali buku yang mengupas tentang kisah masa lalu Jokowi. Buku ini dibuat mengingat peran dan ketenaran Jokowi yang dikenal sebagai tokoh yang anti-korupsi dan sangat pro-rakyat, sehingga masyarakat dapat mengetahui sosok Jokowi lebih dekat. Mengingat tujuannya tersebut, dapat dikatakan bahwa buku ini relevan dengan informasi yang ingin diketahui oleh masyarakat tentang pribadi fenomenal yang kiprahnya sedang berkobar di DKI Jakarta ini. Melalui goresan tangan Yon Thayrun yang kini juga bekerja sebagai Media Officer di Oxfam Aceh, kisah perjalanan hidup Jokowi dibawakan dalam bahasa yang renyah tanpa kesan menggurui. Penulis secara tepat membawakan informasi yang dinantikan oleh masyarakat, baik dengan wawancara langsung dengan Jokowi, maupun dengan keluarga beliau untuk menghasilkan karya yang sarat akan hikmah dari sosok Jokowi. Apabila ditilik dari substansi isinya, buku karya Yon Tharyun ini mengangkat kisah yang jarang dibahas dalam buku-buku yang menceritakan tentang Jokowi. Hal yang berbeda ini adalah dibawakannya kisah masa kecil Jokowi secara singkat namun tepat sasaran. Domu D. Ambarita, jurnalis di Tribunnews yang juga menulis biografi tentang Jokowi juga menyertakan keterangan tentang masa kecil Jokowi. Letak perbedaannya adalah karya Yon Tharyun lebih banyak menceritakan pribadi asli Jokowi, sedangkan buku Domu D. Ambarita banyak menceritakan kisah politik Jokowi meskipun dalam bab-bab awal, kedua buku ini membahas tentang kisah masa kecil hingga remaja dari Joko Widodo.

Diceritakan bahwa Jokowi kecil menjalani kehidupannya di sebelah utara Terminal Tirtonadi di jantung Kota Solo yang kini dikenal sebagai Terminal Travel daerah Gilingan, Banjarsari, Solo. Sebelum dibangun menjadi terminal, wilayah ini merupakan Pasar Bambu, tempat Jokowi kecil menghabiskan masa kecilnya dalam kondisi serba kekurangan. Jokowi lahir di Rumah Sakit Brayat Minulyo, Solo pada tanggal 21 Juni 1961. Kemudian, kedua orang tua Jokowi membawanya berpindah tempat tinggal beberapa kali, mulai dari Srambatan, kemudian ke Dawung Kidul di bantaran kali Premulung, lalu ke Munggung di bantaran kali Pepe, dan karena keterbatasan biaya Jokowi kecil dan keluarganya terpaksa menjadi penghuni liar di Pasar Bambu Gilingan di sebelah selatan bantaran Kali Anyar, dan digusur paksa oleh Pemkot Solo saat ia berada di tingkat kelas 4 SD. Sejak kecil, Jokowi dikenal sebagai pribadi yang apa anane lan ora neko-neko atau apa adanya dan tidak macam-macam. Jokowi kecil selalu menerima apapun yang ada dalam kehidupannya dan membawanya menjadi pribadinya kini. Jokowi kecil juga diceritakan suka bermain dan sering menangis jika tidak ada teman seumuran yang bisa diajak bermain, sehingga ia lebih sering bermain di rumah Pakdenya. Banyak pengalaman lucu semasa kecil Jokowi, diantaranya adalah alisnya pernah hilang karena terkena percikan ledakan dari meriam bambu dan lain sebagainya. Jokowi menempuh pendidikannya mulai TK di TK Siwi Peni, Balapan. Kemudian ia melanjutkan ke SD Tirtoyoso, Tirtonadi, Solo. Setelah itu, Jokowi melanjutkan sekolahnya ke SMPN 1 Surakarta dan SMAN 6 Surakarta. Dan menempuh pendidikan akhirnya di UGM Yogyakarta Jurusan Teknologi Kayu. Sejak SD Jokowi dikenal sebagai anak yang cerdas dan selalu menjadi juara kelas. Hal ini berlanjut hingga SMA, dan karena itu saat kelulusan SMA Jokowi mampu menjadi juara umum dan melanjutkan studinya di Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Meskipun sewaktu SD Jokowi malas belajar karena tidak nyaman dengan temaram lampu ublik, Jokowi kecil sangat rajin dalam bersekolah dan selalu berprestasi. Berbeda halnya sewaktu SMP, Jokowi lebih rajin belajar di rumah dan selalu menjadi juara kelas. Hal ini terus berlanjut hingga SMA, walaupun pada semester awal Jokowi sering tidak masuk karena merasa kecewa setelah gagal memasuki sekolah yang diinginkannya yaitu di SMAN 1 Surakarta, ia tetap menjadi siswa yang berprestasi. Di masa SMA inilah, Jokowi mulai mengenal aliran musik rock yang hingga kini digandrunginya itu. Bahkan saking terobsesinya Jokowi dengan musik rock pada saat itu, rambutnya dibuat gondrong seperti bintang-bintang musik rock, hingga pihak sekolah kebingungan untuk menegur sang siswa paling berprestasi ini. Semasa kuliah, Jokowi menemukan cintanya, Iriana yang kini menjadi istrinya. Mereka berdua sama-sama berlatar belakang keluarga pas-pasan, sehingga saling mengerti satu sama lain. Setelah bekerja di PT Kertas Kraft Aceh, Jokowi akhirnya melamar dan menikah dengan Iriana. Tak lama kemudian, Jokowi memutuskan untuk pulang ke Jawa dan membuka usaha mebel sendiri di Kota Solo untuk melanjutkan usaha keluarganya.

Jokowi berjuang keras untuk menjadi pengusaha mebel yang sukses dari nol. Apalagi saat itu, anak pertama Jokowi telah lahir dan Jokowi harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya dengan modal yang ia pinjam dari bank untuk membangun usahanya. Usaha kerasnya akhirnya berbuah manis. Jokowi mampu mengembangkan pabriknya yang awalnya hanya satu menjadi delapan buah pabrik dengan 1200 karyawan. Meskipun begitu, Jokowi baru mampu membeli rumah pribadinya tahun 1994 ketika permintaan ekspor mebelnya untuk pasaran Eropa melonjak drastis. Dikisahkan pula usaha Jokowi terus berkembang pesat hingga di ekspor ke Perancis. Dari kawannya di Perancis ini pula, Jokowi yang dulunya dipanggil Joko mendapatkan nama panggilan Jokowi karena kasus salah kirim faksimili oleh pembeli dari Perancis tersebut. Faksimili yang harusnya dikirim kepada Joko yang berada di Surabaya tetapi masuk ke faksimili Jokowi. Nama Jokowi ini akhirnya terus digunakannya hingga sekarang untuk membedakannya dengan Joko-Joko lainnya. Tahun 2002 Jokowi didaulat sebagai Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) wilayah Solo Raya dan menjabat dalam 2 periode. Persentuhannya dengan dunia politik dimulai tahun 2005 dan peristiwa itu disebutnya sebagai kecelakaan politik berkat peranan kawan-kawannya di Asmindo yang prihatin dengan kondisi Solo saat itu. Karena itu pula, ia akhirnya bertemu dengan F.X. Hadi Rudyatmo yang saat itu menjabat sebagai Ketua PDC PDI Perjuangan Solo. Karena memiliki latar belakang dan visi yang sama, mereka mencalokan diri sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo. Dan mereka berdua akhirnya berhasil memenangkan pemilukada tersebut. Awalnya, keluarga Jokowi menolak pencalonan Jokowi sebagai wali Kota Solo karena merasa sudah cukup dengan apa yang dimiliki. Namun lama kelamaan dukungan keluarganya akhirnya datang dengan sendirinya. Meskipun telah memiliki kedudukan sebagai Wali Kota, sifat pendiam Jokowi tidaklah berubah. Efektif, matang, dan tepat sasaran adalah metodenya untuk membuat keputusan sebagai Wali Kota. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana, selalu memanusiakan manusia dan tidak segan terjun ke lapangan untuk memantau peristiwa yang terjadi di lapangan serta memberi teladan yang baik bagi masyarakat dan karyawannya. Lalu bagaimana cara Jokowi merubah tatanan Kota Solo yang semula amburadul hingga akhirnya menjadi The Spirit of Java? Bagaimana pula kisah perjalanan Jokowi hingga akhirnya dikenal sebagai tokoh fenomenal dan maju sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta? Jawabannya dapat anda temukan dalam buku ini. Berdasarkan substansi isi buku ini, ada beberapa hal yang patut diapresiasi. Dari buku ini, kita dapat mengetahui sekelumit kisah masa kecil Jokowi yang penuh perjuangan dan kerja keras. Kita juga dapat meneladani berbagai hal yang menjadi sifat alami Jokowi dan mengambil hikmahnya. Mulai dari sosok Jokowi yang sederhana, jujur, suka membantu, efektif dan suka mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan dan mampu mengubah image aparat pemerintah yang ekskusif dan perlente menjadi aparat yang dekat dengan rakyat

dan mengayomi seluruh warganya. Selain itu, buku ini disajikan dengan bahasa yang populer dan mudah dipahami isinya. Dan buku ini juga menggambarkan bagaimana Jokowi secara aslinya, tidak sekedar dalam perjalanan politiknya saja, tapi juga semua hal yang menjadi gambaran pribadi Jokowi secara utuh. Perwajahan yang digunakan juga cukup bagus dan menarik, ditambah ada beberapa gambar yang menunjang teks, dan jumlah kesalahannya minim. Selain itu, organisasi bukunya cukup baik, ditandai dengan keterpaduan antar paragrafnya. Hanya saja, ukuran tulisannya agak terlalu besar sehingga jumlah halamannya menjadi agak banyak dan kertas yang digunakan juga bukan kertas berkualitas baik, tetapi kertas yang agak tipis. Selebihnya, karya ini dapat dikatakan sebagai karya yang baik dan komunikatif. Setelah membaca buku ini, ada beberapa manfaat yang dapat kita peroleh. Manfaat yang pertama adalah, kita dapat meneladani sifat-sifat baik dan kreatif, serat tidak tong kosong nyaring bunyinya tetapi talk less do more dari pribadi Jokowi, dan sikap-sikap lain yang dapat diteladani Jokowi seperti tidak pernah menyerah, ngemong rakyat, dan sederhana. Manfaat kedua, kita dapat menilai seberapa besar dan bagaimana criteria seseorang dikatakan pro-rakyat dan anti-korupsi. Manfaat ketiga adalah kita dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari segala kesulitan yang kita alami dengan berkaca pada kesulitan yang dialami orang lain, sehingga kita tak segan menolong dan menawarkan bantuan sehingga kita tidak menjadi orang yang egois, tetapi menjadi orang-orang yang berjiwa social tinggi. Buku ini cocok dijadikan bacaan bagi seluruh anggota keluarga, dari segala umur karena membawakan banyak unsur positif dan penuh dengan hikmah kehidupan, apalagi apabila dibaca oleh anak-anak dan remaja yang sedang dalam fase pembentukan mental, sehingga mental mereka menjadi baik. Jadi, tunggu apa lagi? Segera beli buku ini di toko buku kesayangan Anda dan baca hingga lembar terakhirnya