Anda di halaman 1dari 10

LATAR BELAKANG

Vasospasma cerebral merupakan kondisi yang berkonstribusi terhadap morbiditas dan mortalitas pasien (SAH) subaradoid hemoragik. Vasospasme yang terjadi pada pembuluh darah cerebral ini merupakan suatu kondisi yang terjadi pada sekitar 20 %-30% biasanya terjadi pada hari ke 4 sampai hari ke 14 dengan kata lain vasospasme ini terjadi pada dua minggu pertama setelah sah. Vasospasme serebral ini akan menyebabkan iskemia untuk ke dua kalinya atau sering disebut sebagai iskemia sekunder pada jaringan serebral yang turut berkontribusi terhadap peningkatan resiko kematian sekitar 3 kali lebih besar atau memperberat deficit neurologis yang sudah ada sebelumnya Mekanisme vasospasme ini belum diketahui pasti, namun adanyaoxyhemoglobin (oxyHb) diperkirakan memberikan kontribusi terhadapterjadinya vasospasme yang akan menyebabkan perlambatan perbaikandefisit neurologis. Oxyhemoglobin (oxyHb) ini terbentuk akibat proses lisisbekuan darah di ruang subarakhnoid yang terbentuk akibat ruptur aneurisma.Mekanisme oxyhemoglobin (oxyHb) dalam memberikan efek vasospasmebelum diketahui secara pasti, namun diperkirakan melalui kemampuanmenekan aktivitas saluran kalium, meningkatkan masuknya kalsium,meningkatkan aktivitas protein kinase C, dan Rho kinase Gangguan sirkulasi akibat vasospasme cerebral pasca SAH ini dapat diperbaiki dengan tindakan pembedahan atau medikamentosa atau kombinasi keduanya. Tindakan pembedahan memberikan efek yang permanen, namun kurangnnya adalah hanya dapat dilakukan oleh tenanga ahli dan hanya pada daerah atau pembuluh darah besar dan mudah dicapai. Sedangkan secara medikamentosa dapat dengan obat-obat vasodilator khususnya yang mempunyai efek vasodilator serebral. Keuntungan pemberian medikamentosa saying mempunyai efek vasodilator ini dapat mengenai ataupun memberikan efek terhadap tidak hanya pembuluh darah besar namun juga pada pembuluh darah kecil yang sulit dicapai dengan tindakan bedah. Salah satu terapi medikamentosa yang direkomendasikan untuk mencegah vasospasme pada pasien SAH adalah nimodipine, suatu antagonis saluran kalsium
KOMPOSISI Setiap kapsul mengandung: Nimodipine 60 mg

Farmakologi Mekanisme kerja: nimodipine merupakan penyekat saluran kalsium. Proses kontraksi sel otot polos tergantung dari ion kalsium yang masuk ke dalam sel pada waktu depolarisasi sebagai arus ion lambat transmembran. Nimodipine menghambat transfer ion kalsium ke dalam sel-sel tersebut sehingga menghambat kontraksi otot polos vaskular. Pada percobaan binatang, Nimodipine memiliki efek pada arteri serebral yang lebih besar daripada arteri lain di tubuh karena sifatnya yang sangat lipofilik sehingga dapat melewati sawar darah-otak. Kadar nimodipine di cairan serebrospinal pada pasien SAH (Subarachnoid

Haemorrhage) yang diterapi nimodipine cukup tinggi yaitu 12,5 ng/ml. Mekanisme kerja pasti nimodipine pada manusia masih belum diketahui. Walaupun studi klinis yang akan diuraikan di bawah ini menunjukkan efek yang menguntungkan dari nimodipine terhadap defisit neurologis yang disebabkan oleh vasospasme serebral akibat SAH, tidak ada bukti arterografis yang menyatakan bahwa obat ini mencegah atau mengatasi spasme arteri-arteri tersebut. Namun, masih belum diketahui apakah metode arteriografi yang digunakan cukup memadai untuk mendeteksi efek yang berarti secara klinis pada vasospasme. Farmakokinetik dan metabolisme: Pada manusia, nimodipine diabsorpsi cepat setelah pemberian oral. Kadar puncak umumnya dicapai dalam 1 jam. Waktu paruh eliminasi terminal sekitar 8 atau 9 jam namun kecepatan eliminasi yang lebih awal jauh lebih cepat, yaitu ekuivalen dengan waktu paruh 1 atau 2 jam; sehingga perlu diberikan lebih sering (4 jam sekali). Tidak ada tandatanda akumulasi bila nimodipine diberikan tiga kali sehari selama 7 hari. Nimodipine terikat pada 95% protein plasma. Ikatan ini tidak tergantung konsentrasi pada kadar 10 ng/ml , 10 mcg/ml. Nimodipine dieliminasi menjadi bentuk metabolitnya dan kurang dari 1% ditemukan di urin dalam bentuk utuh. Sejumlah metabolit, baik yang tidak aktif maupun yang kurang aktif daripada senyawa induk, telah ditemukan. Karena tingginya metabolisme lintas pertama bioavailabilitas nimodipine setelah pemberian oral adalah 13%. Bioavailabilitas meningkat bermakna pada pasien sirosis hati, dengan Cmaks kira-kira 2 kali lipat dari normal, sehingga perlu menurunkan dosis pada pasien sirosis. (lihat dosis dan cara pemberian). Pada studi terhadap 24 laki-laki sehat, pemberian nimodipine setelah makan pagi menghasilkan konsentrasi plasma yang lebih rendah 68% dan bioavailabilitas yang lebih rendah 38% daripada pemberian tanpa makanan.

Indikasi Profilaksis dan pengobatan defisit neurologik iskemik karena vasospasme serebral setelah perdarahan subarakhnoid (SAH).

Kontra Indikasi Penderita yang hipersensitif terhadap salah satu komponen obat.

Peringatan Umum: Tekanan darah: nimodipine mempunyai efek hemodinamik seperti penyekat saluran kalsium lainnya, walaupun tidak terlalu nyata. Namun, pemberian intravena dapat menimbulkan efek samping serius seperti hipotensi, kolaps kardiovaskular, dan henti jantung. Pada pasien perdarahan subarakhnoid yang diberi nimodipine pada studi klinis, sekitar 5% dilaporkan turun tekanan darahnya. Walaupun demikian, tekanan darah harus dipantau dengan seksama selama terapi dengan nimodipine berdasarkan sifat farmakologisnya dan efek yang telah diketahui dari penyekat saluran kalsium. Penyakit hati: metabolisme nimodipine menurun pada pasien dengan gangguan fungsi hati.

Pasien demikian harus dipantau ketat tekanan darah dan denyut jantungnya dan harus diberi dosis yang lebih rendah (lihat Dosis dan cara pemberian). Penyakit ginjal: Data pada pasien gangguan fungsi ginjal belum memadai. Selama terapi dengan nimodipine, pasien dengan penyakit ginjal dan/atau yang sedang mendapat obat-obat yang bersifat nefrotoksik harus dipantau fungsi ginjalnya. Karsinogenesis, mutagenesis, gangguan fertilitas: nimodipine ditemukan tidak bersifat karsinogenik pada penelitian terhadap tikus selama 91 minggu tapi dosis tinggi 1800 ppm nimodipine (546 774 mg/kg/hari) memperpendek usia harapan hidup hewan tersebut. Penelitian mutagenisitas, termasuk tes Ames, mikronukleus dan letal dominan memberikan hasil negatif. Nimodipine tidak mengganggu fertilitas dan fungsi reproduksi umum pada tikus jantan dan betina setelah dosis oral hingga 30 mg/kg/hari bila diberikan setiap hari selama lebih dari 10 minggu pada yang jantan dan 3 minggu pada yang betina sebelum dipasangkan dan dilanjutkan hingga hari ke-7 kehamilan. Dosis pada tikus tersebut 4 kali dosis klinis 60 mg setiap 4 jam pada manusia dengan berat badan 50 kg. Kehamilan: Kehamilan Kategori C. Nimodipine menunjukkan efek teratogenik pada kelinci Himalaya. Insiden malformasi dan fetus kerdil meningkat pada dosis oral 1 dan 10 mg/kg/hari yang diberikan dari hari ke-6 hingga hari ke-18 kehamilan. Hal ini tidak terjadi pada dosis 3 mg/kg/hari pada satu dari dua studi kelinci yang sama. Belum ada penelitian terkontrol yang baik dan adekuat untuk wanita hamil untuk menilai efek secara langsung pada fetus manusia. Pada kehamilan, Nimodipine sebaiknya hanya digunakan jika keuntungan yang diperkirakan melebihi resiko yang bisa terjadi pada janin. Menyusui: nimodipine dan/atau metabolitnya ditemukan pada susu tikus dengan konsentrasi yang jauh lebih tinggi daripada konsentrasi di plasma ibu. Belum diketahui apakah obat ini diekskresi pada air susu manusia. Karena banyak obat yang diekskresi ke dalam air susu manusia, wanita menyusui hendaknya tidak menyusui bayinya ketika sedang mengkonsumsi obat ini. Anak-anak: keamanan dan efektivitas pada anak-anak belum dapat ditentukan. Geriatri: pengalaman klinis lain yang dilaporkan tidak dapat menentukan perbedaan respon antara pasien tua dan muda. Secara umum, pemberian pada pasien lanjut usia harus lebih hati-hati, karena lebih besarnya kemungkinan penurunan fungsi hati, ginjal atau jantung, dan penyakit yang menyertainya atau terapi dengan obat lain. Interaksi uji laboratorium: tidak satupun diketahui. Interaksi obat: efek kardiovaskular penyekat saluran kalsium lain mungkin dapat meningkat bila diberikan bersama dengan nimodipine. Di Eropa, nimodipine dilaporkan kadang-kadang memperkuat efek obat antihipertensi yang diberikan bersamaan pada pasien yang menderita hipertensi; fenomena ini tidak ditemukan pada uji klinis di Amerika Utara. Studi pada delapan sukarelawan sehat menunjukkan 50% peningkatan kadar plasma puncak nimodipine rata-rata dan 90% peningkatan kadar AUC, setelah pemberian cimetidine selama satu minggu dengan dosis 1000 mg/hari dan nimodipine 90 mg/hari. Efek ini mungkin diperantarai oleh penghambatan sitokrom P-450 oleh cimetidine, yang dapat menurunkan metabolisme lintas pertama Nimodipine.

Reaksi Yang Tak Diinginkan Efek samping dilaporkan pada 92 dari 823 pasien perdarahan subarakhnoid (11,2%) yang diberikan nimodipine. Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah penurunan tekanan

darah pada 4,4% pasien. Dua puluh sembilan dari 479 (6,1%) pasien dari kelompok plasebo juga melaporkan efek samping. Efek samping yang dilaporkan dengan frekuensi lebih dari 1% adalah penurunan tekanan darah, diare, ruam, sakit kepala, mual, nyeri otot. Tidak ada efek samping yang dilaporkan pada dosis 0,35 mg/kg setiap 4 jam, 30 mg setiap 4 jam atau 120 mg setiap 4 jam. Efek samping dengan insiden kurang dari 1% pada dosis 60 mg setiap 4 jam adalah hepatitis, gatal-gatal, perdarahan saluran cerna, trombositopenia, anemia, palpitasi, muntah, flushing, pusing, vasospasme rebound, ikterus, hipertensi, hematoma. Efek samping yang terjadi dengan insiden kurang dari 1% pada dosis 90 mg setiap 4 jam: gatal-gatal, perdarahan saluran cerna, trombositopenia, deteriorasi neurologis, muntah, hiponatremia, disseminated intravascular coagulation (DIC), trombosis vena dalam. Sebagai penyekat saluran kalsium, nimodipine dapat mencetuskan gagal jantung pada pasien yang rentan atau mengganggu konduksi A-V, namun hal demikian tidak tampak pada trial tersebut. Tidak dijumpai efek yang bermakna secara klinis terhadap faktor-faktor darah, fungsi ginjal atau hati atau metabolisme karbohidrat yang berkaitan dengan nimodipine oral. Pernah dilaporkan walaupun jarang adanya peningkatan glukosa serum tanpa puasa (0,8%), peningkatan LDL (0,4%), penurunan hitung trombosit (0,3%), peningkatan fosfatase alkali (0,2%), dan peningkatan SGPT (0,2%).

Dosis Diberikan dlm 4 hari setelah diagnosis SAH ditegakkan Pemberian secara parenteral sangat membantu mempercepat tercapainya kadar terapeutik dan sangat membantu bagi pasien dengan penurunan kesadaran. Infus kontinyu: Rasio nimodipine : infus penyerta = 1 : 4 untuk mencegah pengkristalan Larutan infus yg cocok: normal saline, glukosa 5%, RL, dextran 40

Petunjuk Parenteral: Secara intravena : dosis awal 5 ml/jam (ekivalen dengan 1 mg Nimodipine)/jam -> infus diberikan selama 2 jam I, kira-kira 15 mikrogram/kgBB/jam Kecepatan co-infusion: 20 ml/jam (diberikan sejak pada dosis awal) HARUS DENGAN POMPA INFUS 3 JALUR (THREE WAY STOPPCOCK) -> untuk memberikan 2 larutan sekaligus Bila tdk ada penurunan tensi: naikan dosis menjadi 10 mL/jam IV. Co-infusion: 40 mL/jam. Infus diteruskan 7-10 hari Selang infus diganti setiap 24 jam Dilanjutkan tablet Pasien dengan sirosis hati akan terjadi penurunan klirens dan Cmaks akan meningkat kira-kira 2 kalinya, dosis pemberian sebaiknya diturunkan menjadi 30 mg setiap 4 jam, dengan monitor tekanan darah dan denyut jantung yang ketat. Nimodipine kapsul tidak boleh diberikan secara intravena atau dengan cara parenteral lainnya (lihat peringatan). Jika nimodipine kurang hati-hati diberikan secara intravena, dapat terjadi hipotensi yang bermakna yang mungkin memerlukan obat-obat untuk meningkatkan tekanan darah.

Stabilitas

Simpan pada suhu di bawah 25 derajat C. Hindari penyimpanan di freezer. Lindungi dari cahaya.

Presentation Larutan Infus, 0.2 mg/1 mL x 50 mL x 1's HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Referensi: 1. Sarrafzadeh AS, Haux D, Ldemann L et al. Cerebral Ischemia in Aneurysmal Subarachnoid Hemorrhage ACorrelative Microdialysis-PET Study. Stroke 2004;35:638-643. 2. Link TE, Murakami K, Beem-Miller M, et al. Oxyhemoglobin-Induced Expression of R-Type Ca2_Channels in CerebralArteries. Stroke 2008;39;2122-2128. 3. Haws CW, Gourley JK, Heistad D. Effects of Nimodipine on Cerebral Blood Flow. J. Pharmacol. and Experiment.Therapeut. 1982:225(1):24-9. 4. Scriabine A, Schuurman T, Traber T. Pharmacological basis for the use of nimodipine in central nervous systemdisorders. FASEBJ 1989; 3: 1799-1806. 5. Biondi A, Ricciardi GK, Puybasset L. Intra-Arterial Nimodipine for the Treatment of Symptomatic Cerebral Vasospasmafter Aneurysmal Subarachnoid Hemorrhage: Preliminary Results. Am J Neuroradiol 2004; 25:10671076. http://www.scribd.com/doc/124109524/Federer#download NIMODIPINE PADA STROKE Nimodipine merupakan calcium channel antagonist L-tipe yang dipercaya meningkatkan fungsional neurologis pada kasus stroke akut. Di banyak penelitian dikatakan bahwa nimodipine berperan sebagai neuroprotektan pada kasus subarachnoid hemorrhagic (SAH).9 Sebagaimana dengan calcium channel blocker lainnya, nimodipine merupakan agen antihipertensi dan salah satu mekanisme aksinya adalah sebagai vasodilator, yang menurunkan resistensi pembuluh darah perifer. Penggunaan nimodipine baik secara IV ataupun oral sampai saat ini masih menjadi kontroversi dikalangan ilmuwan.3 Niaz (2000) dalam hasil penelitiannya mengatakan bahwa penggunaan nimodipine IV memang dapat menurunkan tekanan darah sistol dan diastole selama beberapa hari pertama. Akan tetapi setelah beberapa lama kondisi pasien memburuk pada kelompok yang menerima nimodipine IV dosis tinggi. Akan tetapi menurut peneliti, hasil yang mereka dpatkan belum cukup untuk menegaskan bahwa nimodipine tidak memiliki sifat neuroprotektif.8 Pada penelitiannya Horn et al juga menyatakan bahwa dari 454 pasien stroke (225 mendapat nimodipine, 229 placebo) nimodipine tidak memberikan efek apapun. Setelah 3 bulan pemberian obat 32% dari pasien yang mendapat nimodipine kondisinya memburuk dibandingkan dengan 27% pasien placebo. 14 Begitu juga dengan Kronvall (2009) yang meneliti 106 pasien dengan SAHyang secara acak mendapat nimodipine baik IV maupun oral. Pasien diamati setidaknya 10

hari setelah kejadian. Dari hasil penelitian dikatakan bahwa tidak ada perbedaan klinis yang signifikan antara pemberian nimodipine secara oral maupun Intravena dalam usaha mencegah vasospasme sebagai akibat dari SAH.15 referensi: 1. Janjua N, Mayer SA (2003). Cerebral vasospasm after subarachnoid hemorrhage. Current opinion in critical care 9 (2): 1139. 2. FDA approved Labeling text. NIMOTOP (nimodipine) CAPSULES For Oral Use, Food and Drug Administration. 12/2005. Retrieved 2009-07-21. 3. Allen GS, Ahn HS, Preziosi TJ, et al. (1983). Cerebral arterial spasma controlled trial of nimodipine in patients with subarachnoid hemorrhage. N. Engl. J. Med. 308 (11): 619 24. 4. http://www.chinaphar.com/1671-4083/21/690.pdf 5. http://www.ionchannels.org/showabstract.php?pmid=4096729 6. Rang, H. P. (2003). Pharmacology. Edinburgh: Churchill Livingstone. ISBN 0-44307145-4. 7. Information for Healthcare Professionals: Nimodipine (marketed as Nimotop). Postmarket Drug Safety Information for Patients and Providers. Food and Drug Administration. Retrieved 2009-07-21. 8. Niaz A, Per N, Nils Gunnar W. (2000) Effect of Intravenous Nimodipine on Blood Pressure and Outcome After Acute Stroke. American heart Journal. 9. Worthley LIG, Holt AW. Acute ischaemic stroke: Part II. The vertebrobasilar circulation. Critical Care and Resuscitation 2000;2:140-145. 10. Sacco RL, Wolf PA, Bharucha NE, Meeks SL, Kannel WB, Charette LJ, McNamara PM, Palmer EP, DAgostino R. Subarachnoid and intracerebral hemorrhage: natural history, prognosis, and precursive factors in the Framingham Study. Neurology 1984;34:847-854. 11. Knekt P, Reunanen A, Aho K, Heliovaara M, Rissanen A, Aromaa A, Impivaara O. Risk factors for subarachnoid hemorrhage in a longitudinal population study. J Clin Epidemiol 1991;44:933-939. 12. Phillips LH 2d, Whisnant JP, OFallon WM, Sundt TM Jr. The unchanging pattern of subarachnoid hemorrhage in a community. Neurology 1980;30:1034-1040. 13. Taylor CL, Yuan Z, Selman WR, Ratcheson RA, Rimm AA. Cerebral arterial aneurysm formation and rupture in 20,767 elderly patients: hypertension and other risk factors. J Neurosurg 1995;83:812-819. 14. Horn J, Haa RJ, Vermeulen M, Limburg M. Very Early Nimodipine Use in Stroke (VENUS). American Heart Association. 2001:461-465 15. Kronvall E, Undren P, Romner B, Saveland H, Cronqvist M, Nilsson OG. Nimodipine in aneurysmal subarachnoid hemorrhage: a randomized study of intravenous or peroral administration. J Neurosurg. 2009 Jan;110(1):58-63.

Current Articles | Archives | Search

Nimodipine Oral maupun Intravena Memberikan Efek Klinis yang Sebanding pada Pasien Perdarahan Sub-arachnoid Akut

Oleh Admin Kalbe Medical January 21, 2013 07:00

Tidak ada perbedaan efek klinis pada penggunaan nimodipine oral maupun intravena pada pasien perdarahan subarachnoid akut, hal ini merupakan hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal World Neurosurgery bulan November 2011 ini. Studi yang dilakukan oleh Ville S , dan kolega ini melibatkan sejumlah 171 pasien yang mengalami aSAH yang secara acak diberikan pengobatan nimodipine oral (84 pasien) atau nimodipine intravena (87 pasien) dan selanjutnya dibandingkan insidens DIND yang terjadi, jumlah lesi iskemik yang baru pada pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada bulan ke-12, dan keadaan klinis 12 bulan setelah aSAH yang dinilai dengan menggunakan Glasgow Outcome Scale, skala Rankin yang dimodifikasi, dan skala Karnofsky. Kualitas hidup yang terkait dengan kesehatan juga dianalisis dengan menggunakan 15D questionnaire 12 bulan setelah aSAH. Glasgow Outcome Scale (GOS) merupakan skor 5 nilai yang diberikan kepada korban cedera otak traumatik pada beberapa titik pemeriksaan pada masa pemulihannya. GOS merupakan penilaian umum pada fungsi kesluruhan dari orang yang mengalami cedera kepala. GOS tidak digunakan dalam tatalaksana klinis pasien, namun kerap kali digunakan dalam penelitian untuk menentukan tingkat pemulihan pasien. GOS ditentukan oleh dokter pada beberapa titik pemulihan pasien. Secara umum waktu setelah cedera dilaporkan bersamaan dengan GOS. Misalnya pada bulan ke-3 setelah cedera traumatik, dokter akan menuliskan 3-month GOS atau GOS-3. Pada penelitian, titik waktu yang kerap kali digunakan untuk mengevaluasi GOS adalah bulan ke-3, bulan ke-6 dan bulan ke-12 setelah cedera. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa insidensi DIND tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok (20% pada kelompok nimodipine oral dan 16% pada kelompok nimodipine intravena, p = 0,61), sementara juga tidak terlihat adanya perbedaan baik pada jumlah lesi iskemik yang baru (34% pada kedua kelompok, p = 0,99), ataupun pada keadaan klinis 12 bulan setelah aSAH (p= 0,34 untuk Glasgow Outcome scale, p = 0,74 untuk skala Rankin yang dimodifikasi, dan p = 0,71 untuk skala Karnofsky). Rerata 15D questionnaire untuk kualitas hidup yang terkait dengan kesehatan juga serupa pada kedua kelompok (p = 0,43). Oral insidensi DIND jumlah lesi iskemik yang 20% 34% Intravena 16% 34% p 0,61 0,99

baru Glasgow Outcome scale skala Rankin yang dimodifikasi skala Karnofsky Kualitas hidup 0,71 0,43 0,34 0,74

Para peneliti menyimpulkan bahwa penelitian pendahuluan ini menandakan bahwa tidak ditemukan adanya perbedaan pada efikasi klinis dari pemberian nimodipine baik secara oral maupun secara intravena setelah aSAH. Namun demikian, penelitian klinis fase III yang lebih besar akan dibutuhkan untuk memperlihatkan ada tidaknya perbedaan klinis yang berarti.

Calcium antagonis. Golongan obat ini banyak digunakan dalam pengobatan vasospasme walaupun secara penuh belum diketahui cara kerjanya. Dugaan sebagai anti-vasospasme belum dapat diterima sepenuhnya masih mungkin golongan obat ini dapat mencegah atau mengurangi gejala yang ditimbulkan akibat vasospasm dengan berbagai cara kerjanya antara lain sebagai cytoprotection dengan menghambat masuknya calcium kedalam mitokondria dan mempertahankan metabolisme oksigen pada daerah yang sedang mengalami iskemia, menstabilkan sel membran, vasodilatasi leptomeningeal sehingga memperbaiki sirkulasi kolateral, memperbaiki kemampuan deformabilitas sel darah merah, mengurangi terjadinya sludging dan pengaruhnya terhadap agregasi trombosit. Obat golongan ini yang banyak dipakai yaitu nimodipine, nicardipine. Untuk nimodipin dapat diberikan peroral dengan dosis 30 - 60 mg setiap 4 jam untuk 21 hari atau dapat diberikan infuse nimodipin dengan dosis 2 cc/jam dengan pemantauan ketat terhadap tekanan darah selama 7 hari kemudian dilanjutkan peroral sampai hari ke-21. Tekanan darah dipertahankan pada kisaran 130 150 mmHg sistol pada penderita yang belum dilakukan tindakan terhadap aneurisma yang pecah, sedangkan pada penderita yang telah dilakukan tindakan terhadap aneurisma yang pecah tekanan darah sistol dipertahankan pada kisaran 150-180 mmHg. Penggunaan nimodipine sebagai pengobatan vasospasme telah

terbukti bermanfaat dengan menurunkan angka kesakitan dan kematian -akibat perburukan iskemik serebral pada perdarahan subarachnoid. Terapi invasif lainnya terhadap vasospasme dapat dilakukan dengan angioplasti yaitu dengan transluminal balloon angioplasty. DAFTAR PUSTAKA

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

12. 13. 14. 15. 16.

17.

Richard C. Stress-related Cardiomyopathies. Annals of Intensive Care 2011, 1 : 39 Behrouz R, Sullebarger JT, Malek AR. Cardiac manifestations of subarachnoid hemorrhage. Expert Rev. Cardiovasc. Ther. 9(3), 2011 : 303 7 Lee VH,Oh JK, Mulvagh SL, Wijdicks EF. Mechanisms in Neurogenic Stress Cardiomyopathy after Aneurysmal Subarachnoid Hemorrhage. Neurocrit. Care 2006; 05 : 243-9 Miller M, Sinson G. Subarachnoid Hemorrhage. In Torbey MT ed. Neurocritical Care. Cambridge University Press. Winconsin. 2010 : 167 184. Sherwood, Lauralee, Human Physiology, 304, 326-328, Fifth Edition, Thomson, United States. Barret, Kim E; Boitano, Scott; Barman, Susan M; Brooks, Hedden L; Ganongs, Review of Medical Physiology; Chap. 33 : 555-557, Twenty-Third Edition, Mc Graw Hill Medical Co. Masud, Ibnu, Dasar-Dasar Fisiologi Kardiovaskuler, 35-38, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta 1989. Guyton & Hall, Text Book of Medical Physiology, Elevent Edition, Elsevier Saunders Inc., Philadelphia, 2006; 60: 748-760 Harris S. Penatalaksanaan Perdarahan Subarachnoid. Dalam Proceedings Updates In Neuroemergency. Balai Penerbit FKUI Jakarta 2004 : 154- 165 Noback CR, Strominger NL, Demarest RJ, Ruggiero DA. The Human Nervous System Structure and Function. Sixth Ed. Humana Press Totowa, New Jersey 2005 ; 5 : 89 - 99 Diringer MN, Bleck TP, Hemphill JC, Menon D, Shutter L, Vespa P. Critical Care Management of Patient Following Aneurysmal Subarachnoid Hemorrhage : Recommendations from the Neurocritical Care Societys Multidisciplinary Concensus Conference. Neurocrit Care 2011 ,15 : 211 240 Aneurysmal Subarachnoid Hemorrhage : Update for Emergency Physicians. The Journal of Emergency Medicine. Vol 34, 2008 , 3 : 237 251 Robbakken G, Brunvald H, Gundersen T, Farstad G. Cardiopulmonary complication in Acute Subarachnoid Hemorrhage. Pubmed-Tidsskr Nor Laegeforen 1998,118 (22) : 3430-4 Bruder N, Rabinstein A. Cardiovascular and Pulmonary Complication of Aneurysmal Subarachnoid Hemorrhage. Neurocrit Care (2011) 15 : 257 269 Mayer SA, Lin J, Homma S, Solomon RA, Lennihan L. Myocardial Injury and Left Ventricular Performance after Subarachnoid Hemorrhage. Stroke 1999, 30 : 780 786. Canty JM. Coronary Blood Flow and Myocardial Ischemia. In Libby P, Bonow RO, Mann DL, Zipes DP. Braunwalds Heart Disease : A Textbook of Cardiovascular Medicine. 9 th ed. Saunders Elsevier 2012; 17 : 317 , 1049 - 1075 Gijn J, Rinkel GJ. Aneurysmal Subarachnoid Hemorrhage. In Candelise et al. Evidence-based Neurology : management of neurological disorders. Blackwell Publishing 2007 ; 14 : 127 -139