Anda di halaman 1dari 46

Trauma Pada THT

2013

ABSTRAK Trauma THT (Telinga Hidung dan Tenggorokan) dapat disebakan oleh banyak faktor dan dapat menimbulkan kelainan berupa trauma pada telinga luar, trauma telinga tengah, trauma telinga dalam , trauma hidung dan trauma tenggorokan. Penyebabnya bermacam macam bisa dikarenakan karna kecelakaaan kerja , bising, kecelakaan lalu lintas , dan lain-lain.

Page 1

Trauma Pada THT

2013

BAB I PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Suara yang dihasilkan oleh suatu sumber bunyi bagi seseorang atau sebagian orang

merupakan suara yang disenangi, namun bagi beberapa orang lainnya justru dianggap sangat menganggu. Suara yang tidak dikehendaki itu dapat dikatakan sebagai bising. Bising yang kita dengar sehari-hari berasal dari banyak sumber baik dekat maupun jauh. Pemaparan bising berlebihan menyebabkan kerusakan telinga dalam dan tuli sensorineural. Trauma telinga dalam tergantung atas intensitas bising, lamanya bising, frekuensi bising dan kerentanan telinga terhadap bising. Secara umum bising ialah bunyi yang tidak diinginkan. Secara audiologik bising ialah campuran nada murni dengan berbagai frekuensi Berdasarkan survey Multi Center Study di Asia Tenggara, Indonesia termasuk 4 negara dengan prevalensi ketulian yang cukup tinggi yaitu 4,6%, sedangkan 3 negara lainnya yakni Sri Lanka (8,8%), Myammar (8,4%) dan India (6,3%). Walaupun bukan yang tertinggi tetapi prevalensi 4,6% tergolong cukup tinggi, sehingga dapat menimbulkan masalah sosial di tengah masyarakat. Berdasarkan survei kesehatan indera tahun 1993-1996 yang dilaksanakan di Indonesia menunjukkan prevalensi morbiditas telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) sebesar 38,6%, morbiditas telinga 18,5%, gangguan pendengaran 16,8% clan ketulian 0,4%. Trauma dibidang THT dapat di bagi menjadi : 1. Trauma telinga dalam dan tengah barotrauma dan trauma suara 2. Trauma luar ortrhotrauma dan laserasi liang telinga 3. Trauma hidung epitkasis karena trauma dan fraktur fasialis 4. Trauma tenggorokan trauma laring dan esophagus

Page 2

Trauma Pada THT

2013

I.2

Tujuan Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah 1. Sebagai syarat ujian akhir kepanitraan klinik senior pada stase Ilmu Telinga Hidung Tenggorokan RS.Haji Medan. 2. Mengetahui jenis trauma pada telinga dalam, telinga tengan dan telinga luar, serta hidung dan tenggorokan. 3. Mengetahui penyebab, dan cara penanggulangan trauma telinga hidung tenggorokan berdasarkan kopetensi dokter umum.

Page 3

Trauma Pada THT

2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ANATOMI DAN FISIOLOGI

A.

Struktur Anatomi & Fisiologi Telinga

Telinga terbagi menjadi 3 bagian besar, terdiri dari : 1. Telinga bagian luar, meliputi : Daun telinga (auriculla / pina) berfungsi untuk menampung gelombang bunyi, untuk estetika. Daun telinga terdiri dari helix (bagian lengkung atas), lobulus (biasa dijadikan tempat aksesoris wanita), konka (cekungan dekat liang telinga), tragus (tonjolan tulang rawan antara wajah dan liang telinga). Liang telinga (Meatus Acusticus Externus) berfungsi menyalurkan dan

memfokuskan gelombang bunyi. Liang telinga orang dewasa normal panjangnya ratarata sekitar 2,5 cm. Dalam liang telinga terdapat rambut-rambut telinga berfungsi menyaring partikel-partikel yang besar, terdapat juga kelenjar serumen yang

Page 4

Trauma Pada THT

2013

menghasilkan serumen berfungsi melekatkan kotoran atau kaki serangga kecil yang masuk sehingga tidak langsung merusak membran timpani. Gendang telinga (membran timpani) berfungsi menangkap gelombang bunyi untuk dihantarkan ke tulang-tulang pendengaran. 2. Telinga bagian tengah, meliputi : Tulang-tulang pendengaran (Os.Acusticus), terdiri dari Os Maleus, Incus dan Stapez. berfungsi melanjutkan hantaran gelombang bunyi. Cairan perilymph dan endolymph berfungsi mengubah energi mekanik dari getaran tulang-tulang pendengaran menjadi energi listrik. 3. Telinga bagian dalam, terdiri dari membran semisirkularis dan cochlea

(labirin berupa rumah siput) yang di dalamnya terdapat saraf-saraf pendengaran (nerves acusticus) yang terdiri dari : Nerves cochlearis untuk pendengaran. Nerves vestibularis untuk keseimbangan tubuh.

Proses terdengarnya bunyi : Gelombang bunyi ditampung oleh daun telinga disalurkan dan difokuskan di liang telinga menggetarkan membran timpani os.maleus yang menempel pada membran timpani ikut bergetar dan dilanjutkan oleh os.incus dan os.stapez yang saling berhubungan satu dengan yang lain cairan perilymph dan endolymph yang mengelilingi tulang-tulang pendengaran ikut tergetar dan mengubah energy mekanik menjadi energy listrik sinyal listrik dari gelombang bunyi ditangkap oleh receptor-receptor saraf yang ada di telinga bagian dalam dilanjutkan oleh nerves cochlearis untuk dipersepsikan di lobus

temporalis terdengarlah bunyi.

Page 5

Trauma Pada THT

2013

B.

Struktur Anatomi dan Fisiologi Hidung Hidung terdiri dari 2 lubang hidung yang dipisahkan oleh septum nasi. Dalam lubang

hidung terdapat rambut-rambut hidung yang berfungsi menyaring partikel-partikel yang besar. Dalam lubang hidung terdapat mukosa hidung terdiri dari gelambir-gelambir, yang bawah disebut concha nasalis inferior, tengah (concha nasalis medialis) dan atas (concha nasalis superior). Dalam lapiran mukosa terdapat sel-sel berambut getar (sel-sel bersilia) yang berfungsi untuk barrier pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme yang masuk. Fungsi hidung adalah sebagai saluran nafas atas, dimana udara yang masuk ke dalam hidung disaring, dilembabkan dan dihangatkan. Selain itu, hidung juga berfungsi sebagai indera penciuman, dimana yang bekerja adalah saraf-saraf penciuman yang ada di hidung (nerves olfactorius). Nerves-nerves olfactorius ini bergabung dalam suatu bulbus olfactorius. Di daerah sekitar hidung terdapat sinus-sinus (berupa rongga), ada sinus maksilaris, ethmoidalis, sphlenoidalis, dll.

C.

Struktur Anatomi dan Fisiologi Tenggorokan Karena lebih ditekankan pada proses wicaranya, maka yang perlu diperhatikan adalah

bahwa di tenggorokan terdapat pita suara (rima glottidis) yang dilindungi oleh otot-otot di tenggorokan dan tulang-tulang rawan. Perbandingan posisi pita suara : Saat bernafas / inspirasi biasa posisi pita suara membuka sebagian. Saat bernafas / inspirasi dalam posisi pita suara membuka lebar. Saat berbicara / fonasi posisi pita suara menutup.

Page 6

Trauma Pada THT

2013

TRAUMA TELINGA TRAUMA TELINGA DALAM DAN TENGAH BAROTRAUMA Definisi Barotrauma adalah kerusakan jaringan dan sekuelenya yang terjadi akibat perbedaan antara tekanan udara (tekan barometrik) di dalam rongga udara fisiologis dalam tubuh dengan tekanan di sekitarnya. Barotrauma paling sering terjadi pada penerbangan dan penyelaman dengan scuba.

Etiologi

Barotrauma paling sering terjadi pada perubahan tekanan yang besar seperti pada penerbangan, penyelaman misalkan pada penyakit dekompresi yang dapat menyebabkan kelainan pada telinga, paru-paru, sinus paranasalis serta emboli udara pada arteri yang dimana diakibatkan oleh perubahan tekanan yang secara tiba-tiba, misalkan pada telinga tengah sewaktu dipesawat yang menyebabkan tuba eustakius gagal untuk membuka.

Patofisiologi

Trauma akibat perubahan tekanan, secara umum dijelaskan melalui Hukum Boyle. Hukum boyle menyatakan bahwa volume gas berbanding terbalik dengan tekanan atau P1xV1 = P2xV2.(9,2).

Untuk Barotrauma yang terjadi pada tubuh, 5 kondisi di bawah ini harus ditemukan : 1. Harus ada udara 2. Tempatnya harus dipisahkan oleh dinding yang keras 3. Tempatnya harus tertutup

Page 7

Trauma Pada THT

2013

4. Tempatnya harus memiliki pembuluh darah 5. Terjadi perubahan tekanan dari lingkungan sekitar

Tuba eustakius secara normal selalu tertutup namun dapat terbuka pada gerakan menelan, mengunyah, menguap, dan dengan manuver Valsava. Pilek, rinitis alergika serta berbagai variasi anatomis individual, semuanya merupakan predisposisi terhadap disfungsi tuba eustakius.

Barotrauma, dengan ruptur membran timpani (MT)

Dapat terjadi setelah suatu penerbangan pesawat atau setelah berenang atau menyelam. Mekanisme bagaimana ini dapat terjadi, dijelaskan dibawah ini.

Saluran telinga luar, telinga tengah, telinga dalam dapat dianggap sebagai 3 kompartemen tersendiri, ketiganya dipisahkan satu dengan yang lain oleh membran timpani dan membran tingkap bundar dan tingkap oval.

Telinga tengah merupakan suatu rongga tulang dengan hanya satu penghubung ke dunia luar, yaitu melalui tuba Eustachii. Tuba ini biasanya selalu tertutup dan hanya akan membuka pada waktu menelan, menguap, Valsava maneuver. Valsava maneuver dilakukan dengan menutup mulut dan hidung, lalu meniup dengan kuat. Dengan demikian tekanan di dalam pharynx akan meningkat sehingga muara dapat terbuka.

Dari skema diatas ini dapat dilihat bahwa ujung tuba di bagian telinga tengah akan selalu terbuka, karena terdiri dari massa yang keras/tulang. Sebaliknya ujung tuba di bagian pharynx akan selalu tertutup karena terdiri dari jaringan lunak, yaitu mukosa pharynx yang sewaktu-waktu akan terbuka di saat menelan. Perbedaan anatomi antara kedua ujung tuba ini mengakibatkan udara lebih mudah mengalir keluar daripada masuk kedalam cavum tympani.

Page 8

Trauma Pada THT

2013

Hal inilah yang menyebabkan kejadian barotitis lebih banyak dialami pada saat menurun dari pada saat naik tergantung pada besamya perbedaan tekanan, maka dapat terjadi hanya rasa sakit (karena teregangnya membrana tympani) atau sampai pecahnya membrana tympani.(7)

Barotrauma descent dan ascent dapat terjadi pada penyelaman.

Imbalans tekanan terjadi apabila penyelam tidak mampu menyamakan tekanan udara di dalam rongga tubuh pada waktu tekanan air bertambah atau berkurang. Barotrauma telinga adalah yang paling sering ditemukan pada penyelam. Dibagi menjadi 3 jenis yaitu barotrauma telinga luar, tengah dan dalam , tergantung dari bagian telinga yang terkena. Barotrauma telinga ini bisa terjadi secara bersamaan dan juga dapat berdiri sendiri.

Barotrauma telinga luar berhubungan dengan dunia luar, maka pada waktu menyelam, air akan masuk ke dalam meatus akustikus eksternus. Bila meatus akustikus eksternus tertutup, maka terdapat udara yang terjebak. Pada waktu tekanan bertambah, mengecilnya volume udara tidak mungkin dikompensasi dengan kolapsnya rongga (kanalis akustikus eksternus), hal ini berakibat terjadinya decongesti, perdarahan dan tertariknya membrana timpani ke lateral. Peristiwa ini mulai terjadi bila terdapat perbedaan tekanan air dan tekanan udara dalam rongga kanalis akustikus eksternus sebesar 150 mmHg atau lebih, yaitu sedalam 1,5 2 meter.(10)

Barotrauma telinga tengah akibat adanya penyempitan, inflamasi atau udema pada mukosa tuba mempengaruhi kepatenannya dan merupakan penyulit untuk menyeimbangkan tekanan telinga tengah terhadap tekanan ambient yang terjadi padasaat ascent maupun descent, baik penyelaman maupun penerbangan. Terjadinya barotrauma tergantung pada kecepatan penurunan atau kecepatan peningkatan tekanan ambient yang jauh berbeda dengan kecepatan peningkatan tekanan telinga tengah.

Page 9

Trauma Pada THT

2013

Barotrauma telinga dalam biasanya adalah komplikasi dari barotrauma telinga tengah pada waktu menyelam, disebabkan karena malakukan maneuver valsava yang dipaksakan. Bila terjadi perubahan dalam kavum timpani akibat barotrauma maka membran timpani akan mengalami edema dan akan menekan stapes yang terletak pada foramen ovale dan membran pada foramen rotunda, yang mengakibatkan peningkatan tekanan di telinga dalam yang akan merangsang labirin vestibuler sehingga terjadi deviasi langkah pada pemeriksaan Stepping Test. Dapat disimpulkan , gangguan pada telinga tengah dapat berpengaruh pada labirin vestibuler dan menampakkan ketidakseimbangan laten pada tonus otot melalui refleks vestibulospinal.

Gejala-gejala klinik barotrauma telinga :

1.

Gejala descent barotrauma: - Nyeri (bervariasi) pada telinga yang terpapar. - Kadang ada bercak darah dihidung atau nasofaring. - Rasa tersumbat dalam telinga/tuli konduktif.

2.

Gejala ascent barotrauma: - Rasa tertekan atau nyeri dalam telinga. - Vertigo. - Tinnitus/tuli ringan. - Barotrauma telinga dalam sebagai komplikasi.

Page 10

Trauma Pada THT

2013

Grading klinis kerusakan membrane timpani akibat barotrauma adalah

- Grade 0 : bergejala tanpa tanda-tanda kelainan. - Grade 1 : injeksi membrane timpani. - Grade 2 : injeksi, perdarahan ringan pada membrane timpani. - Grade 3 : perdarahan berat membrane timpani. - Grade 4 : perdarahan pada telinga tengah (membrane timpani menonjol dan agak kebiruan. - Grade5 : perdarahan pada meatus eksternus + rupture membrane timpani.

Anamnesis yang teliti sangat membantu penegakan diagnosis. Jika dari anamnesis ada riwayat nyeri telinga atau pusing, yang terjadi setelah penerbangan atau suatu penyelaman, adanya barotruma seharusnya dicurigai. Diagnosis dapat dikomfirmasi melalui pemeriksaan telinga, dan juga tes pendengaran dan keseimbangan.

Diagnosis dipastikan dengan otoskop. Gendang telinga tampak sedikit menonjol keluar atau mengalami retraksi. Pada kondisi yang berat, bisa terdapat darah di belakang gendang telinga. Kadang-kadang membran timpani akan mengalami perforasi. Dapat disertai gangguan perdengaran konduktif ringan.

Page 11

Trauma Pada THT

2013

Penatalaksanaan

Untuk mengurangi nyeri telinga atau rasa tidak enak pada telinga, pertama-tama yang perlu dilakukan adalah berusaha untuk membuka tuba eustakius dan mengurangi tekanan dengan mengunyah permen karet, atau menguap, atau menghirup udara, kemudian menghembuskan secara perlahan-lahan sambil menutup lubang hidung dengan tangan dan menutup mulut.

Selama pasien tidak menderita infeksi traktus respiratorius atas, membrane nasalis dapat mengkerut dengan semprotan nosinefrin dan dapat diusahakan menginflasi tuba eustakius dengan perasat Politzer, khususnya dilakukan pada anak-anak berusia 3-4 tahun.

Kemudian diberikan dekongestan, antihistamin atau kombinasi keduanya selama 1-2 minggu atau sampai gejala hilang, antibiotic tidak diindikasikan kecuali bila terjadi perforasi di dalam air yang kotor. Perasat Politzer terdiri dari tindakan menelan air dengan bibir tertutup sementara ditiupkan udara ke dalam salah satu nares dengan kantong Politzer atau apparatus senturi; nares yang lain ditutup.

Kemudian anak dikejutkan dengan meletuskan balon ditelinganya, bila tuba eustakius berhasil diinflasi, sejumlah cairan akan terevakuasi dari telinga tengah dan sering terdapat gelembung-gelembung udara pada cairan.

Untuk barotrauma telinga dalam, penanganannya dengan perawatan di rumah sakit dan istirahat dengan elevasi kepala 30-400. Kerusakan telinga dalam merupakan masalah yang serius yang memungkinkan adanya pembedahan untuk mencegah kehilangan pendengaran yang menetap. Suatu insisi dibuat didalam gendang telinga untu menyamakan tekanan dan untuk mengeluarkan caioran (myringitomy) dan bila perlu memasang pipa ventilasi. Walaupan demikian pembedahan biasanya jarang dilakukan. Kadang-kadang, suatu

Page 12

Trauma Pada THT

2013

pipa ditempatkan di dalam gendang telinga, jika seringkali perubahan tekanan tidak dapat dihindari, atau jika seseorang rentan terhap barotrauma.

TRAUMA SUARA(AKUSTIK)

Trauma telinga dapat dibedakan atas dua bentuk.

1.

Energi

akustik

ledakan dapat

menimbulkan gelombang kontusi

yang

mengakibatkan Iebih banyak kerusakan pada telinga tengah dibandingkan telinga dalam tuli sensorineural 2. Energi mekanis dapat terjadi fraktur tulang tersebut yang kemudian mengakibatkan gangguan pendengaran.

Trauma akustik, ditilik dari mula kejadiannya dibagi menjadi 2, yaitu; Pada trauma akustik akut yang disebabkan oleh ledakan kerusakan telinga yang terjadi pada telinga dapat mengenai membran, yaitu suatu ruptur. Bila ledakan lebih hebat dapat merusak koklea. Pada ruptur saja ketuliannya bersifat konduktif, namun kerusakan pada koklea ketuliannya bersifat sensorineural. Trauma akustik kronik ini terjadi akibat pencemaran lingkungan oleh bising.

Epidemiologi

Tuli akibat bising dilaporkan lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita. Bagaimanapun juga konsekuensi tertinggi mendapatkan ketulian akibat bising lebih besar peluangnya didapatkan di tempat kerja dibandingkan terkena paparan bising di luar tempat kerja. Dari segi usia, tidak ada kejelasan pasti mengenai perbedaan antara usia tua maupun muda untuk menderita tuli akibat bising.

Page 13

Trauma Pada THT

2013

Patofisiologis

Bising dengan intensitas 85 dB atau lebih dapat mengakibatkan kerusakan pada reseptor pendengaran Corti di telinga dalam, terutama yang berfrekuensi 3000-6000 Hz. Mekanisme dasar terjadinya tuli karena trauma akustik, adalah;

Proses mekanik Pergerakan cairan dalam koklea yang begitu keras, menyebabkan robeknyamembrana Reissner dan terjadi percampuran cairan perilmfe dan endolimfee sehingga menghasilkan kerusakan sel-sel rambut. Pergerakan membrana basiler yang begitu keras, menyebabkan rusaknya organa korti sehingga terjadi percampuran cairan perilmf dan endolimfee, akhirnya terjadi kerusakan selsel rambut. Pergerakan cairan dalam koklea yang begitu keras, dapat langsung menyebabkan rusaknya sel-sel rambut, dengan ataupun tanpa melalui rusaknya organa korti dan membrana basiler.

Proses metabolik Vasikulasi dan vakuolisasi pada retikulum endoplasma sel-sel rambut dan pembengkakkan mitokondria yang akan mempercepat rusaknya membrana sel dan hilangnya sel-sel rambut. Hilangnya sel-sel rambut mungkin terjadi karena kelelahan metabolisme, sebagai akibat dari gangguan sistem enzim yang memproduksi energi, biosintesis protein dan transport ion. Terjadi cedera pada vaskularisasi stria, menyebabkan gangguan tingkatkonsentrasi ion Na, K, dan ATP.

Page 14

Trauma Pada THT

2013

Sel rambut luar lebih terstimulasi oleh bising, sehingga lebih banyakmembutuhkan energi dan mungkin akan lebih peka untuk tcrjadinya cedera atau iskemi. Kemungkinan lain adalah interaksi sinergistik antara bising dengan zat perusak yang sudah ada dalam telinga itu sendiri.

Penatalaksaan

Tidak ada pengobatan yang spesifIk dapat diberikan pada penderita dengan trauma akustik. Oleh karena tuli karena trauma akustik adalah tuli saraf koklea yang bersifat menetap (irreversible). Apabila penderita sudah sampai pada tahap gangguan pendengaran yang dapat menimbulkan kesulitan berkomunikasi maka dapat dipertimbangkan menggunakan ABD (alat bantu dengar) atau hearing aid.

Pencegahan dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya tuli pada trauma akustik. Bising dengan intensitas lebih dari 85 dB dalam waktu tertentu dapat mengakibatkan ketulian, oleh karena itu bising dilingkungan kerja harus diusahakan lebih rendah dari 85 dB. Hal tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan meredam sumber bunyi, sumber bunyi diletakkan d iarea yang kedap suara.

Apabila bekerja di daerah industri yang penuh dengan kebisingan menetap, maka dianjurkan untuk menggunakan alat pelindung bising seperti sumbat telinga, tutup telinga dan pelindung kepala, Ketiga alat tersebut terutama melindungi telinga terhadap bising berfrekuensi tinggi yang masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian . Sumbatan telinga efektif digunakan pada level kebisingan rendah sekitar 10 dB hingga 32 dB. Adakalanya tutup telinga lebih efektif daripada sumbatan telinga khususnya pada pekerja yang berpindah-pindah tempat. Sedangkan pelindung kepala selain sebagai pelindung telinga terhadap bising juga sekaligus sebagai pelindung kepala.

Page 15

Trauma Pada THT

2013

Bila terjadi tuli bilateral berat yang tidak dapat dibantu dengan a1at bantu dengar maka dapat dipertirnbangkan dengan memasang implan koklea. Implan koklea ialah suatu perangkat elektronik yang mempunyai kemampuan memperbaiki fungsi pendengaran sehingga akan meningkatkan kemampuan berkomunikasi penderita tuli saraf berat dan tuli saraf bilatera1.

TRAUMA TELINGA LUAR

Kelainan pada telinga luar meliputi: Penyumbatan baik karena serumen maupun benda asing Infeksi seperti otitis dan perikondritis Cedera/trauma misalnya pukulan benda tumpul . Tumor.

Definisi

Trauma telinga luar trauma adalah cedera pada telinga luar (misalnya pukulan tumpul) yang bisa menyebabkan memar diantara kartilago dan perikondrium.trauma juga bisa berupa trauma akustikus

Patofisiologi Trauma telinga luar biasanya karena benda-benda tumpul maupun benda tajam, karena benda tumpul menyebabkan memar diantara kartilago dan perikondrium.

Jika terjadi penimbunan darah di daerah tersebut, maka akan terjadi perubahan bentuk telinga luar dan tampak massa berwarna ungu kemerahan. Darah yang tertimbun ini (hematoma) bisa menyebabkan terputusnya aliran darah ke kartilago sehingga terjadi perubahan bentuk telinga.

Page 16

Trauma Pada THT

2013

Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga, kerusakan tulang-tulang pendengaran, atau kerusakan langsung organ Corti. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran. Gejala Pukulan yang kuat pada rahang bisa menyebabkan patah tulang di sekitar saluran telinga dan merubah bentuk saluran telinga dan seringkali terjadi penyempitan, kadang ada perdarahan dan bisa terjadi robekan. Tatalaksana Darah yang tertimbun (hematoma) bisa menyebabkan terputusnya aliran darah ke kartilago sehingga terjadi perubahan bentuk telinga. Kelainan bentuk ini disebut telinga bunga kol, yang sering ditemukan pada pegulat dan petinju.Untuk membuang hematoma, biasanya digunakan alat penghisap dan penghisapan dilakukan sampai hematoma betul-betul sudah tidak ada lagi (biasanya selama 3-7 hari).Dengan pengobatan, kulit dan perikondrium akan kembali ke posisi normal sehingga darah bisa kembali mencapai kartilago. Jika terjadi robekan pada telinga, maka dilakukan penjahitan dan pembidaian pada kartilago. Pukulan yang kuat pada rahang bisa menyebabkan patah tulang di sekitar saluran telinga dan merubah bentuk saluran telinga dan seringkali terjadi penyempitan.

Perbaikan bentuk bisa dilakukan melalui pembedahan.

Page 17

Trauma Pada THT

2013

Laserasi Seringkali akibat pasien mengorek-ngorek telinga dengan jari atau suatu alat seperti jepit rambut atau klip kertas. Laserasi dinding kanalis dapat menyebabkan perdarahan sementara yang membuat pasien cemas, sehingga ia menghubungi dokter. Biasanya tidak memerlukan pengobatan selain menghentikan perdarahan. Pasien diminta untuk datang kembali guna memastikan tidak ada perforasi membrana timpani. Laserasi hebat pada aurikula harus dieksplorasi untuk mengetahui apakah ada kerusakan tulang rawan. Tulang rawan perlu diperiksa dengan cermat sebelum dilakukan reparasi plastik pada kulit. Luka seperti ini perlu benar-benar diamati akan kemungkinan infeksi pada perikondrium. Berikan antibiotik profilaktik bila ada kontaminasi nyata pada luka atau bila tulang rawan terpapar. Frostbite Frostbite pada aurikula dapat timbul dengan cepat pada lingkungan bersuhu rendah dengan angin dingin yang kuat. Karena perubahan yang perlahan-lahan maka tidak terasa nyeri sampai telinga memanas lagi. Akibatnya tergantung pada dalamnya cidera dan lamanya paparan. Cedera diduga sebagai akibat kerusakan seluler dan gangguan mikrovaskuler yang mengarah pada iskemia local. Pemanasan yang cepat dianjurkan sebagai terapi, telinga yang terkena harus diguyur air hangat bersuhu 100-1080 F sampai terlihat tanda-tanda pencairan. Pasien perlu diberi analgesik. Derajat cidera mungkin belum sepenuhnya terlihat dalam beberapa hari, maka pasien yang dipulangkan harus diperiksa lebih lanjut dengan teliti. Debridment bedah perlu ditunda. Infeksi yang nyata secara klinis perlu diterapi dengan antibiotik. Pasien-pasien dengan tulang rawan aurikula yang sangat kaku agaknya pernah mengalami frostbite.

Page 18

Trauma Pada THT

2013

TRAUMA HIDUNG

Trauma hidung sering menyebabkan sumbatan dihidung. Meskipun pasien dapat mengingat insiden yang menyebabkan gejala obstruktif, namun cidera pada masa kanakkanak yang sering kadang tidak lagi diingat, mungkin telah menimbulkan perubahan anatomik dan sumbatan yang bermakna. Gangguan struktur yang paling lazim menyebabkan sumbatan jalan napas adalah deviasi atau defleksi septum nasi. Cidera pada masa pertumbuhan dan perkembangan mempunyai dampak yang lebih besar dibandingkan cidera serupa yang dialami setelah dewasa. Struktur hidung baik tulang maupun kartilago dapat diibaratkan piramid atau tenda dengan suatu penyangga sentral yaitu septum nasi. Cidera dapat menyebabkan sumbatan melalui salah satu mekanisme berikut: Kolaps dinding samping medial, sehingga mempersempit fosa nasalis. Fraktur tulang hidung sering kali menyeret kartilago lateralis superior ke medial. Sehingga terjadi sumbatan. Pergeseran septum nasi, pergeseran unilateral mempersempit satu saluran dan memperbesar yang lain, menyebabkan obstruksi unilateral. Obtruksi bilateral terjadi bila fraktur septum menyebabkan fragmen-fragmen tergeser kedalam masing-masing fosa nasalis. Fraktur dan pergeseran kubah dan septum nasi membengkokkan piramid. Fraktur yang nyata dari beratnya sumbatan, bergantung pada derajat sumbatan yang ditimbulkan masing-masing komponen cidera.

Page 19

Trauma Pada THT

2013

Klasifikasi Trauma Hidung Berdasarkan waktu terjadinya trauma hidung dibagi menjadi: Trauma baru Trauma lama : dimana kalus belum terbentuk sempurna. : dimana bila kalus sudah mengeras (biasanya pada akhir

minggu kedua setelah trauma. Berdasarkan hubungannya dengan dunia luar, trauma hidung dibagi menjadi: Trauma terbuka : bila kulit hidung terbuka dan terdapat hubungan dengan dunia luar. Trauma tertutup : bila kulit di tempat trauma utuh. Arah trauma harus diperhatikan karena akan menyebabkan kelainan yang berbeda: Dari lateral : bila ringan akan terjadi fraktur tulang hidung ipsilateral,

sedangkan bila cukup keras akan menyebabkan deviasi septum nasi dan fraktur tulang hidung kontralateral. Dari frontal septum nasi. Dari inferior Manifestasi Klinis Dilakukan pemeriksaan kulit serta struktur hidung dan kavum nasi untuk mengungkapkan adanya deforminas, deviasi, ataupun kelainan bentuk. Pada tempat trauma akan tampak edema, ekimosis, hematom, laserasi, luka robek, atau perdarahan berupa bekuan darah ataupun hematom septum nasi. Pada palpasi fraktur terdapat krefitasi, deforminasi, angulasi, dan nyeri. : dapat terjadi fraktur dan dislokasi septum nasi. : dapat terjadi open book fracture dan fraktur serta terlipatnya

Page 20

Trauma Pada THT

2013

Pemeriksaan Penunjang Dilakukan pemeriksaaan radiologi posisi anteroposteriordan lateral, namun tidak semua garis praktur bisa terlihat. Komplikasi 1. Komplikasi segera yang bersifat sementara yaitu, edema, ekimosis, epistaksis, dan hematom. 2. Komplikasi lambat yang dapat terjadi adalah infeksi, obstruksi hidung, jaringan parut dan fibrosis, deformitas sekunder, sinekia, hidung pelana, obstruksi duktus nasolakrimalis, dan perforasi septum. Penatalaksanaan 1. Sebagai tindakan penyelamatan, mula-mula jalan napas harus dibebaskan dari semua sumbatan, kalau perlu intubasi dan trakeostomi. Bila syok segera atasi dengan infus. Perdarahan harus segera ditanggulangi. 2. Untuk mempertahankan fungsi hidung dan mencegah komplikasi, dilakukan reposisi hidung dengan anastesi lokal atau umum. Prinsif reposisi dilakukan segera bila keadaan umum memungkinkan. 3. Pada trauma hidung terbuka, perlu dilakukan eksplorasi di tempat luka. Fragmen tulang yang fraktur disusun kembali dan dilakukan fiksasi dengan kawat. 4. Pada trauma frontoetmoid, walaupun tertutup, dilakukan eksplorasi supaya dapat menyusun kembali frakmen tulang yang fraktur, kemudian lakukan fiksasi antar tulang. Kasus ini sering disertai fraktur dasar orbita, sehingga terdapat diplopia. 5. Pada trauma hidung tertutup, dengan adanya hematoma yang luas, kadang diagnosis fraktur dan posisi fragmen tulang sulit ditegakkan. Sebaiknya tunggu sampai akhir minggu pertama sehingga deformitas akan lebih jelas terlihat.

Page 21

Trauma Pada THT

2013

6.

Kemudian reposisi dilakukan secara tertutup, dalam waktu tidak lebih dari 2 minggu karena jika kalus sudah mengeras akan sukar mereposisi. Reposisi dilakukan dengan kunam Ashe, untuk menggeser septum yang fraktur atau dislokasi ke arah medial. Untuk melakukan reposisi processus frontalis os maksillaris dan os nasal dipakai cunam Walsham. Setelah yakin bentuknya baik dan berada di medial, dilakukan fiksasi di dalam rongga hidung memakai tampon dan diatas hidung dipasang gips.

FRAKTUR FACIALIS Jenis-Jenis Fraktur Facialis 1. Fraktur Hidung Cedera tulang wajah yang paling sering terjadi adalah fraktur hidung. Pelu diingat bahwa hidung tidak hanya disususn oleh tulang belaka, tetapi juga tulang rawan dan jaringan lunak, dan jaringan-jaringan ini juga dapat rusak pada cidera. 1 Tanda-tanda fraktur hidung yang lazim : i. ii. iii. iv. v. Defresi atau pergeseran tulang hidung Edema hidung Epistaksis Epistaksis Fraktur dari kartilago septum disertai pergesaran atau dapat digerakkan

Page 22

Trauma Pada THT

2013

Pasien harus selalu diperiksa terhadap adanya hematoma septum nasi akibat fraktur, bila tidak terdeteksi dan tidak dirawat dapat berlanjut menjadi abses, di mana terjadi resolusi kartilago septum dan deforminasi hidung pelana (saddle nose) yang berat. Penatalaksanaan hematom septum nasi berupa insisi dan drainase hematom, pemasangan drain sementara, pemasangan balutan intranasal untuk menekan mukosa septum dan memperkecil resiko pembentukan kembali hematuma, dan dimulai terapi antibiotik untuk mengurangi resiko infeksi. Perbaikan fraktur biasanya dapat dilakukan dengan anastesi lokal setelah edema mereda. Pengolesan kokain 4% secara topikal dengan kapas, dilanjutkan dengan infiltrasi lidokain bisanya cukup memadai. Pada orang dewasa diberikan tidak lebih dari 5 ml kokain 4 persen, sedangkan pada anak, agaknya kokain lebih baik tidak diberikan. Reduksi fraktur hidung pada anak-anak biasanya memerlukan anestesi umum. 1 A. Fraktur Mandibularis Merupakan fraktur kedua tersering pada kerangka wajah.Tanda dan gejala yang mengarahkan pada diagnosa fraktur mandibula berupa: Meloklusi geligi Gigi dapat digerakkan Laserasi intra oral Nyeri mengunyah Deformitas tulang

Perbaikan menerapkan prinsip umum pembidaian mandibula dengan geligi utuh terhadap maksila dengan gligi yang utuh juga Lengkungan geligi atas dikaitkan dengan lengkungan geligi bawah memakai batang-batang lengkung ligasi dengan kawat. Batang-batang ini

Page 23

Trauma Pada THT

2013

memiliki kait kecil yang dapat menerima simpai kawat atau elastis guna mengikatkan lengkungan geligi atas ke lengkungan bawah. Antibiotik harus diberikan sejak saat fraktur hingga mukoperiosteum menyembuh dan fraktur stabil (penisilin merupakan obat terpilih). B. Fraktur Zigoma dan Dasar Orbita Cedera yang menimbulkan fraktur zigoma biasanya akibat suatu benturan pada korpus zigoma atau tonjolan malar, dasar orbit dapat juga mengalami fraktur pada proses tersebut. Fraktur zigoma dapat dicirikan oleh: Deformitas yang dapat diraba pada lingkar bawah orbita Diplopia saat melirik keatas Hipestesia pada pipi Pendataran sisi lateral pipi Ekimosis periorbita Pergeseran bola mata kebawah

Perbaikan fraktur-fraktur ini terkadang dapat dilakukan dengan teknik reduksi tertutup, namun lebih sering memerlukan teknik reduksi terbuka, khusus bila fraktur dasar orbita jelas mengalami pergeseran. Bila tulang yang fraktur hilang atau terlalu remuk, maka suatu pencangkokan segera dengan tulang panggul, iga atau kalvaria, dapat merupakan tindakan yang tepat. C. Fraktur Maksilaris Fraktur maksillaris merupakan salah satu salah satu cidera wajah palin berat Manifestasi klinis khas berupa: Perubahan letak pelatum

Page 24

Trauma Pada THT

2013

Deforminasi dan mobilisasi hidung Epistaksis Deforminasi sepertiga tengah muka

Digunakan klasifikasi Le Fort untuk membantu diagnosis dan penatalaksanaanya: Le Fort I : trauma terbatas pada alveolus kiri, kanan, atau bilateral Le Fort II : Trauma piramid os maksilaris, hidung, zigoma, terjadi perpisahan bagian tengah muka dengan tulang kranial Le Fort III : trauma mengenai tulang maksilaris, hidung, zigoma, orbita. Terjadi perpisahan seluruh tulang muka dengan basis kranii Pada trauma ditemukan edema, hematoma, laserasi, luka robek, epsitaksis, perdarahan dari mulut, telinga, deformitas, paresis nervus facialis, muka atau pipi lebih mendatar, serta maloklusi. Pada perabaan ditemukan nyeri, krepitasi diskontinuitas, pergeseran struktur tulang dan krangka tulang yang mudah digerakkan. Penatalaksanaan, mula-mula perhatikan kesadaran pasien secara teliti dan dipertahankan sampai stabil. Semua laserasi jaringan lunak dieksplorasi apakah ada fraktur atau kelanjutan trauma ke organ lain. Benda asing dikeluarkan dan dilakukan debridemen. Tulang yang fraktur direposisi dan difiksasi. 2 D. Fraktur Sinus Frontal Meskipun relatif jarang terjadi, namun dapat sangat serius akibat deforminas kosmetik dan keterlibatan sistem saraf pusat yang ditimbulkannya. Cidera ini dicirikan : Depresi tabula anterior dari sinus frontalis Epistaksis

Page 25

Trauma Pada THT

2013

Kadang-kadang terputusnya tabula posterior sinus frontalis dengan ruptur duramaterdan rinorea cairan serebrospinalis

Fraktur yang hanya mengenai tabula anterior sinus frontalis biasanya dapat dirawat secara memuaskan melalui teknik reduksi terbuka dan fiksasi interna. Fraktur yang mengenai tabula posterior, disertai ruptur dutramater dan fistula cairan sereprospinalis, diatasi secara bedah saraf dan mungkin memerlukan suatu pendekatan apakah melalui sinus ataukah melalui fosa kranii anterior guna menutup robekan duramater.

Page 26

Trauma Pada THT

2013

TRAUMA TENGGOROKAN TRAUMA LARING Trauma pada laring dapat berupa trauma tumpul atau sayat, luka tusuk atau luka tembak. Balanger membagi penyebab trauma laring atas : 1. Trauma mekanik eksternal (trauma tumpul, trauma tajam, komplikasi trakeostomi atau krikotiroromi) interna (akibat tidakan endoskopi, intubasi endotrakea atau pemasangan pipa nasogaster). 2. Trauma akibat luka bakar panas (gas atau cairan yang panas) kimia (cairan alkohol, amoniak, natrium hipoklorit dan lisol) yang terhirup. 3. Trauma akibat radiasi pemberian radioterapi tumor ganas leher. 4. Trauma otogen pemakaian suara yang berlebihan (vokal abuse) berteriak, menjerit keras, atau bernyanyi dengan suara keras. Gejala Klinik Pasien trauma laring sebaiknya dirawat untuk observasi dalam 24 jam pertama. Timbulnya gejala stridor yang perlahan-lahan yang makin menghebat atau timbul mendadak sesudah trauma merupakan tanda adanya sumbatan jalan nafas. Suara serak (disfoni) atau suara hilang (afoni) timbul bila terdapat kelainan pita suara akibat trauma seperti edema, hematoma, laserasi, atau parese pita suara. Emfisema subkutis terjadi bila ada robekan mukosa laring atau trakea, atau fraktur tulang-tulang laring hingga mengakibatkan udara pernafasan akan keluar dan masuk ke jaringan subkutis di leher. Emfisema leher dapat meluas sampai ke daerah muka, dada, dan abdomen, dan pada perabaan terasa sebagai krepitasi kulit.

Page 27

Trauma Pada THT

2013

Hemoptisis terjadi akibat laserasi mukosa jalan nafas dan bila jumlahnya banyak dapat menyumbat jalan nafas. Perdarahan ini biasanya terjadi akibat luka tusuk, luka sayat, luka tembak, maupun luka tumpul. Disfagia (kesulitan menelan) juga dapat timbul akibat trauma laring. Patofisiologis Trauma laring dapat menyebabkan edema dan hematoma di plia ariepiglotika dan plika ventrikularis, oleh karena jaringan submukosa di daerah ini mudah membengkak. Selain itu mukosa faring dan laring mudah robek, yang akan diikuti dengan terbentuknya emfisema subkutis. Infeksi sekunder melalui robekan ini dapat menyebabkan selulitis, abses, atau fistel. Tulang rawan laring dan persendiannya dapat mengalami fraktur dan dislokasi. Kerusakan pada perikondrium dapat menyebabkan hematoma, nekrosis tulang rawan, dan perikondritis. Robekan mukosa yang tidak dijahit dengan baik, yang diikuti oleh infeksi sekunder, dapat menimbulkan terbentuknya jaringan granulasi, fibrosis, dan akhirnya stenosis. Boies (1968) membagi trauma laring dan trakea berdasarkan beratnya kerusakan yang timbul, dalam 3 golongan : 1. Trauma dengan kelainan mukosa saja, berupa edema, hematoma, emfisema submukosa, luka tusuk atau sayat tanpa kerusakan tulang rawan. 2. Trauma yang dapat mengakibatkan tulang rawan hancur (crushing injuries). 3. Trauma yang mengakibatkan sebagian jaringan hilang. Pembagian golongan trauma ini erat hubungannya dengan prognosis fungsi primer laring dan trakea, yaitu sebagai saluran nafas yang adekuat.

Page 28

Trauma Pada THT

2013

Trauma Inhalasi Inhalasi uap yang sangat panas, gas atau asap yang berbahaya akan cenderung mencederai laring dan trakea servikal dan jarang merusak saluran napas bawah. Daerah yang terkena akan menjadi nekrosis, membentuk jaringan parut yang menyebabkan defek stenosis pada daerah yang terkena. Trauma Intubasi Trauma akibat intubasi bisa disebabkan karena trauma langsung saat pemasangan atau pun karena balon yang menekan mukosa terlalu lama sehingga menjadi nekrosis. Trauma sekunder akibat intubasi umumnya karena inflasi balon yang berlebihan walaupun menggunakan cuff volume besar bertekanan rendah. Trauma yang disebabkan oleh cuff ini terjadi pada kira-kira setengah dari pasien yang mengalami trauma saat trakeostomi. Trauma intubasi paling sering menyebabkan sikatrik kronik dengan stenosis, juga dapat menimbulkan fistula trakeoesofageal, erosi trakea oleh pipa trakeostomi, fistula trakea-arteri inominata, dan ruptur bronkial. Jumlah pasien yang mengalami trauma laringeal akibat intubasi sebenarnya masih belum jelas, namun sebuah studi prospektif oleh Kambic dan Radsel melaporkan kirakira 0.1 % pasien. Penggunaan pipa endotrakea dengan cuff yang bertekanan tinggi merupakan etiologi yang paling sering terjadi pada intubasi endotrakea. Penggunaan cuff dengan volume tinggi tekanan rendah telah menurunkan insiden stenosis trakea pada tipe trauma ini, namun trauma intubasi ini masih tetap terjadi dan menjadi indikasi untuk reseksi trakea dan rekonstruksi. Selain faktor diatas ada beberapa faktor resiko yang mempermudah terjadinya laserasi atau trauma intubasi (tabel 1).

Page 29

Trauma Pada THT

2013

Tabel 1. Faktor resiko terjadinya trauma intubasi

Faktor resiko yang pasti

Faktor resiko yang masih Dugaan, belum terbukti mungkin sebagai faktor resiko Trakeostomi perkutan Perawakan pendek Obesitas.

Wanita Usia > 50 tahun Tube dengan lumen ganda Pengembangan cuff berlebihan balon

Penggunaan kortikosteroid Trakeomalacia Posisi yang salah dari tube / Kondisi medis yang buruk Kesalahan mandrain Batuk yang terlalu keras dan berlebihan penggunaan

Trauma Tumpul Trauma tumpul pada saluran nafas bagian atas dan dada paling sering disebabkan oleh hantaman langsung, trauma akibat fleksi/ekstensi hebat, atau trauma benturan pada dada. Hiperekstensi mengakibatkan traksi laringotrakea yang kemudian membentur kemudi, handle bars atau dash board. Trauma tumpul lebih sering disebabkan oleh kecelakaan

kendaraan bermotor dimana korban terhimpit di antara jok mobil dan setir atau dikeluarkan darikendaraan dan terhimpit di antara kepingan kendaraan yang mengalami kecelakaan. Kirsk dan Orringer serta beberapa penulis lain menyatakan bahwa trauma langsung pada leher bagian depan dapat mengakibatkan rusaknya cincin trakea maupun laring. Berkowitz melaporkan trauma tumpul langsung pada daerah leher dapat menyebabkan ruptur trakea pars membranosa. Hal ini terjadi akibat tekanan intraluminer yang mendadak tinggi

Page 30

Trauma Pada THT

2013

pada posisi glotis yang tertutup akan menyobek bagian trakea yang terlemah (trakea pars membranosa). Mekanisme lain yang cukup berperan adalah trauma tumpul akan menekan kartilago trakea yang berbentuk U ke tulang vertebrae, hal ini menjelaskan kenapa laserasi yang terjadi cenderung sesuai level dari trumanya. Trauma tumpul laringotrakea pada anak jarang dijumpai dan bila dijumpai biasanya jarang menimbulkan kerusakan/fraktur kartilago, kecuali trauma yang didapat cukup keras. Hal tersebut disebabkan karena rawan pada laringotrakea anak-anak masih sangat elastis dibandingkan dengan orang dewasa. Namun kerusakan jaringan lunak (edema dan hematom) yang terjadi pada anak-anak dengan trauma tumpul laringotrakea jauh lebih hebat dibanding pada dewasa, hal ini disebabkan karena struktur fibroa yang jarang dan lemahnya perlekatan jaringan submukosa dengan perikondrium. Penyebab yang lain adalah trauma tak langsung akibat akselerasi-deselerasi. Pada trauma akselerasi-deselerasi dengan posisi glotis menutup juga akan mengakibatkan tekanan intraluminer yang meninggi sehingga dapat menyebabkan robekan pada bagian membran trakea. Robekan ini terjadi akibat diameter transversal yang bertambah secara mendadak. Dapat juga terjadi akibat robekan diantara cincin trakea dari os krikoid sampai karina akibat tarikan paru yang mendadak. Pada trauma tumpul dan tembak semua kerusakan berbentuk stelata, seperti dikatakan oleh Boyd dkk., bahwa trauma tembak akan mengakibatkan kerusakan yang besar karena energi kinetik yang disebabkan oleh peluru. Demikian juga halnya dengan trauma tumpul. Energi yang diterima permukaan tubuh akan dihantarkan ke sekitarnya sehingga dapat merusak jaringan sekitarnya. Berbeda dengan trauma tajam, permukaan tubuh yang menerima energi lebih kecil. Selain itu energi yang diterima hanya diteruskan ke satu arah saja.

Page 31

Trauma Pada THT

2013

Mekanisme cedera laringotrakea akibat trauma tumpul dapat disimpulkan menjadi empat yaitu: penurunan diameter anteroposterior rongga thoraks, deselerasi yang cepat, peningkatan mendadak tekanan intraluminal laringotrakea pada glotis yang tertutup dan trauma benturan langsung. Trauma Tajam Trauma laringotrakea sering juga disebabkan karena trauma tajam (5-15%) yang paling banyak akibat perkelahian di tempat rawan kejahatan. Senjata yang dipakai adalah belati, pisau clurit, pisau lipat, golok maupun senjata berpeluru. Angka kejadian trauma tajam semakin meningkat dan penyebab utamanya relatif lebih banyak oleh trauma tembus peluru dibanding trauma tusuk. Crowded urban menurut beberapa penulis memang merupakan penyumbang terbanyak pada trauma laringotrakea selain jalan bebas hambatan.1 Para penulis menyimpulkan bahwa trauma tembus tajam dan trauma tembus tembak cenderung semakin meningkat terutama karena kejahatan. Meskipun trauma tembus dapat mengenai bagian manapun dari saluran nafas, trakea merupakan struktur yang paling sering mengalami trauma akibat luka tusukan. Laring yang mengalami trauma kira-kira pada sepertiga saluran nafas bagian atas, dan sisa dua pertiga bagian lagi adalah trakea pars servikalis. Kematian pasien dengan trauma tembus saluran nafas ini biasanya disebabkan oleh trauma vaskular dan jarang akibat trauma saluran nafas itu sendiri. Penyebab Lain Penyebab lain trauma laringotrakea adalah tentament suicide pada pasien dengan gangguan kejiwaan atau pada pasien dengan stress berat. Selain penyebab di atas, pernah dilaporkan adanya trauma laringotrakea akibat : Iatrogenik injuries (mediastinoskopi, transtracheal oxygen therapy, mechanical ventilation), pisau cukur, strangulasi, electrical injury, luka bakar, dan caustic injury.

Page 32

Trauma Pada THT

2013

Patologi pada saluran nafas atas Cairan edema dapat cepat terkumpul di submukosa supraglotis dan subglotis. Pembengkakan daerah endolaring subglotis cenderung melingkar sehingga akan

menimbulkan obstruksi saluran napas. Masuknya udara ke dalam ruang submukosa akan lebih mengurangi diameter laring dan trakea. Udara di dalam jaringan lunak (emfisema) akan menyebabkan emfisema epiglotis dan penyempitan saluran napas supraglotis. Edema submukosa dan pembentukan hematom terjadi dalam beberapa jam setelah trauma. Oleh karena itu tidak mungkin obstruksi jalan napas baru terjadi setelah 6 jam pasca trauma. Banyak faktor yang mempengaruhi tipe / jenis cedera yang terjadi pada saluran napas seperti arah dan kekuatan gaya, posisi leher, umur, konsistensi kartilago laringotrakea dan jaringan lunaknya. Cedera yang terjadi dapat berupa kontusio laringotrakea, edema, hematom, avulsi, fraktur dan dislokasi kartilago tiroid, krikoid serta trakea.

Diagnosis Luka terbuka dapat disebabkan oleh trauma tajam pada leher setinggi laring, misalnya oleh pisau, clurit, dan peluru. Kadang-kadang pasien dengan luka terbuka pada laring meninggal sebelum mendapat pertolongan, oleh karena terjadinya asfiksia. Diagnosis luka terbuka di laring dapat ditegakkan dengan adanya gelembung-gelembung udara pada daerah luka, oleh karena udara yang keluar dari trakea. Berbeda dengan luka terbuka, diagnosis luka tertutup pada laring lebih sulit. Diagnosis ini penting untuk menentukan sikap selanjutnya, apakah perlu segera dilakukan eksplorasi atau cukup dengan pengobatan konservatif dan observasi saja. Kebanyakan pasien trauma laring juga mengalami trauma pada kepala dan dada, sehingga pasien biasanya dirawat di ruang perawatan intensif dalam keadaan tidak sadar dan sesak nafas.

Page 33

Trauma Pada THT

2013

Gejalanya tergantung pada berat ringannya trauma. Pada trauma ringan gejalanya dapat berupa nyeri pada waktu menelan, batuk, atau bicara. Di samping itu mungkin terdapat suara parau, tetapi belum terdapat sesak nafas. Pada trauma berat dapat terjadi fraktur dan dislokasi tulang rawan serta laserasi mukosa laring, sehingga menyebabkan gejala sumbatan jalan nafas (stridor dan dispnea), disfonia atau afonia, hemoptisis, hematemesis, disfagia, odinofagia serta emfisema yang ditemukan di daerah muka, dada, leher, dan mediastinum.

Penatalaksaan Penatalaksanaan luka terbagi atas luka terbuka dan luka tertutup. Luka terbuka Penatalaksanaan luka terbuka pada laring terutama ditujukan pada perbaikan saluran nafas dan mencegah aspirasi darah ke paru. Tindakan segera yang harus dilakukan adalah trakeotomi dengan menggunakan kanul trakea yang memakai balon, sehingga tidak terjadi aspirasi darah. Setelah trakeostomi barulah dilakukan eksplorasi untuk mencari dan mengikat pembuluh darah yang cedera serta menjahit mukosa dan tulang rawan yang robek. Untuk mencegah infeksi dan tetanus dapat diberikan antibiotika dan serum anti-tetanus. Luka tertutup (closed injury) Tindakan trakeostomi untuk mengatasi sumbatan jalan nafas tanpa memikirkan penatalaksanaan selanjutnya akan menimbulkan masalah di kemudian hari, yaitu kesukaran dekanulasi. Olson berpendapat bahwa eksplorasi harus dilakukan dalam waktu paling lama 1 minggu setelah trauma. Eksplorasi yang dilakukan setelah lewat seminggu akan memberikan hasil yang kurang baik dan menimbulkan komplikasi di kemudian hari. Keputusan untuk menentukan sikap, apakah akan melakukan eksplorasi atau konservatif, tergantung pada hasil pemeriksaan laringoskopi langsung atau tidak langsung, foto jaringan lunak leher, foto toraks, dan CT scan. Pada umumnya pengobatan konservatif

Page 34

Trauma Pada THT

2013

dengan istirahat suara, humidifikasi dan pemberian kortikosteroid diberikan pada keadaan mukosa laring yang edem, hematoma, atau laserasi ringan, tanpa adanya gejala sumbatan laring. Indikasi untuk melakukan eksplorasi adalah : 1. Sumbatan jalan nafas yang memerlukan trakeostomi. 2. Emfisema subkutis yang progresif. 3. Laserasi mukosa yang luas.

4. Tulang rawan krikoid yang terbuka. 5. Paralisis bilateral pita suara. Eksplorasi laring dapat dicapai dengan membuat insisi kulit horizontal. Tujuannya ialah untuk melakukan reposisi pada tulang rawan atau sendi yang mengalami fraktur atau dislokasi, menjahit mukosa yang robek dan menutup tulang rawan yang terbuka dengan gelambir (flap) atau tandur alih (graft) kulit. Untuk menyanggah lumen laring dapat digunakan stent atau mold dari silastik, porteks atau silicon, yang dipertahankan selama 4 atau 6 minggu.

Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada luka terbuka adalah aspirasi darah, paralisis pita suara, dan stenosis laring.

Page 35

Trauma Pada THT

2013

TRAUMA ESOPHAGUS Definisi Esofagitis Korosif ialah peradangan di esofagus yang disebabkan oleh luka bakar karena zat kimia yang bersifat korosif misalnya asam kuat, basa kuat dan zat organik. Zat kimia yang tertelan dapat bersifat toksik atau korosif. Zat kimia yang bersifat korosif akan menimbulkan kerusakan pada saluran yang dilaluinya, sedangkan zat kimia yang bersifat toksik hanya menimbulkan gejala keracunan bila telah diserap oleh darah.2 Esofagitis korosif adalah kerusakan esofagus yang terdiri dari kerusakan epitel mukosa saja sampai kerusakan seluruh dinding esofagus karena bahan kimia yang termakan atau terminum.1 Etiologi 1. Basa kuat (alkali) penyebab tersering (70%) sodium hidroksi, pottasium hidroksi dan ammonium hidroksi menyebabkan necrosis mencair (liquifactum necrosis). 2. Asam kuat ( 20%) bila tertelan akan menyebabkan nekrosis menggumpal (coagulation necrosis) hidroklorida, sulfur, oksalat, dan asam nitrat. 1,2 3. Zat organik misalnya ; lisol dan karbol tidak menyebabkan kelainan yang hebat, hanya terjadi edema di mukosa atau submukosa. Patofisiologi Zat-zat korosif yang tertelan tersebut menyebabkan cedera akut serta kronis. Pada fase akut, derajat dan perluasan lesi tegantung pada beberapa faktor diantaranya sifat zat-zat kaustik, konsentrasinya, jumlah yang tertelan dan waktu kontak zat dengan jaringan. Asam dan alkali mempengaruhi jaringan dengan cara yang berbeda. Alkali menguraikan jaringan sehingga penetrasinya lebih dalam yang menyebabkan terjadinya nekrosis mencair (liquifactum necrosis) secara histologik dinding esofagus sampai lapisan otot seolah-olah

Page 36

Trauma Pada THT

2013

mencair. Asam menyebabkan nekrosis koagulasi yang membatasi penetrasinya, secara histologik dinding esofagus sampai lapisan otot seolah-olah menggumpal. 4 Pada pemeriksaan histologis dapat memperlihatkan infiltrasi sel polimorfonuklear, thrombosis pembuluh darah, jaringan granulasi invasi bakteri pada luka bakar derajat 2 dan 3, jaringan fibrosa, deposisi kolagen, dan striktur dapat terbentuk. 4 Lesi yang disebabkan oleh larutan alkali terjadi dalam 3 fase yaitu, 1. Fase nekrosis akut, 2. Fase ulserasi dan granulasi 3. Fase pembentukan jaringan parut. Fase nekrosis akut berlangsung 1-4 hari setelah kontak. Selama periode ini, koagulasi protein-protein intraselular menyebabkan nekrosis sel dan jaringan sekitarnya mengalami peradangan hebat. Fase ulserasi dan granulasi di mulai 3-5 hari setelah kontak. Selama periode ini jaringan nekrosis superfisial mengelupas, meninggalkan dasar berulkus yang mengalami peradangan akut serta jaringan bergranulasi yang mengisi defek yang ditinggalkan oleh mukosa yang terlepas. Fase ini berlangsung 10-12 hari dan pada periode ini esofagus berada dalam keadaan yang paling rentan. Fase yang terakhir adalah fase pembentukan jaringan parut (sikatrik) yang di mulai pada minggu ke tiga setelah kontak dengan agen korosif. Jaringan parut yang terbentuk sebelumnya mulai berkontraksi menyebabkan penyempitan esofagus. Terjadinya

perlengketan antara area-area granulasi menyebabkan terbentuknya striktur. Selama periode inilah hendaknya dilakukan usaha untuk mengurangi pembentukan striktur. 4

Page 37

Trauma Pada THT

2013

Gejala klinis Esofagitis korosif dibagi dalam 5 bentuk klinis berdasarkan beratnya luka bakar yang ditemukan yaitu: 1. Esofagitis korosif tanpa ulserasi Pasien mengalami gangguan menelan yang ringan. Pada esofagoskopi tampak mukosa hiperemis tanpa disertai ulserasi. 2 2. Esofagitis korosif dengan ulserasi ringan Pasien mengeluh disfagia ringan, pada esofagoskopi tampak ulkus yang tidak dalam yang mengenai mukosa esofagus saja. 2 3. Esofagitis korosif ulserasif sedang Ulkus sudah mengenai lapisan otot. Biasanya ditemukan satu ulkus atau lebih (multiple). 2 4. Esofagitis kororsif ulseratif berat tanpa komplikasi Terdapat pengelupasan mukosa serta nekrosis yang letaknya dalam, dan telah mengenai seluruh lapisan esofagus. Keadaan ini jika dibiarkan akan menimbulkan striktur esofagus. 2 5. Esofagitis korosif ulseratif berat dengan komplikasi Terdapat perforasi esofagus yang dapat menimbulkan mediastinitis dan peritonitis. Kadang-kadang ditemukan tanda-tanda obstruksi jalan nafas atas dan gangguan keseimbangan asam dan basa. 2 Berdasarkan gejala klinis dan perjalanan penyakitnya esofagitis korosif dibagi dalam 3 fase yaitu akut, fase laten (intermediate) dan fase krronik (obstructive). 2 Fase Akut Keadaan ini berlangsung 1-3 hari. Pada pemeriksaan fisik ditemukan luka bakar di daerah mulut, bibir, faring dan kadang-kadang disertai perdarahan. Gejala yang ditemukan pada pasien adalah disfagia yang hebat, odinofagia serta suhu badan yang meningkat. Gejala klinis akibat tertelan zat organik dapat berupa perasaan terbakar di saluran cerna bagian atas, mual, muntah, erosi pada mukosa, kejang otot, kegagalan sirkulasi dan pernapasan. 2

Page 38

Trauma Pada THT

2013

Fase Laten (intermediate) Berlangsung selama 2-6 minggu. Pada fase ini keluhan pasien berkurang, suhu badan menurun. Psien merasa ia telah sembuh, sudah dapat menelan dengan baik akan tetapi prosesnya sebetulnya masih berjalan terus dengan membentuk jaringan parut (sikatriks). 2 Fase Kronis (obstructive) Setelah 1-3 tahun akan terjadi disfagia lagi oleh karena telah terbentuk jaringan parut, sehingga terjadi striktur esofagus. 2

Diagnosis Diagnosis ditegakkan dari adanya riwayat tertelan zat korosif atau zat organik, gejala klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologik, pemeriksaan laboratorium dan

pemeriksaan esofagoskopi. 2 Anamnesis Adanya riwayat tertelan zat korosif atau zat organik merupakan salah satu faktor utama ditegakkannya diagnosis esofagitis korosif. Keluhan dan gejala yang biasanya dikeluhkan oleh penderita diantaranya nyeri didalam mulut dan regio substernal, hipersaliva, nyeri saat menelan, dan disfagia. Sedangkan demam dan perdarahan dapat terjadi serta sering diiringi dengan muntah. 1 Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik tidak banyak yang ditemukan, kecuali kerusakan di mukosa mulut berupa bercak keputihan, udema dan luka. 1 Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan Laboratorium Peranan pemeriksaan laboratorium sangat sedikit, kecuali bila terdapat tanda-tanda gangguan elektrolit, diperlukan pemeriksaan elektrolit darah. 2

Page 39

Trauma Pada THT


b.

2013

Pemeriksaan Radiologi

Foto Thorax Postero-Anterior dan Lateral, untuk mendeteksi adanya mediastinitis atau aspirasi pneumonia. 2

Esofagogram

(rontgen

esofagus

dengan

kontras

barium),

pemeriksaan

esofagogram tidak banyak menunjukkan kelainan pada stadium akut. Bila dicurigai adanya perforasi akut esofagus atau lambung serta ruptur esofagus akibat trauma tindakan, esofagogram perlu dibuat. Esofagogram perlu dilakukan setelah minggu kedua untuk melihat ada tidaknya striktur esofagus dan dapat diulang setelah 2 bulan untuk evaluasi. 2,3

Striktur esofagus pada pemeriksaan esofagogram

Page 40

Trauma Pada THT

2013

Tampak gambaran mediastinitis dengan pemeriksaan esofagogram c. Pemeriksaan Esofagoskopi Esofagoskopi diperlukan untuk melihat adanya luka bakar di esofagus. Pada esofagoskopi akan tampak mukosa yang hiperemis, edema dan kadang-kadang ditemukan ulkus. Esofagoskopi biasanya dilakukan pada hari ke tiga setelah kejadian atau bila luka bakar di bibir, mulut dan faring sudah tenang. Berikut derajat esofagitis korosif yang dilihat dari esofagoskopi: 2,5 Tabel 1. Derajat esofagitis korosif yang dilihat dengan esofagoskopi

Derajat I II III

Klinis Hiperemia mukosa dan udema Perdarahan terbatas, eksudat, ulserasi dan pseudomembran Pengelupasan mukosa, ulkus dalam dan perdarahan masif, obstruksi lumen

Esofagitis korosif

Page 41

Trauma Pada THT

2013

Ulserasi di daerah esofagus

Perdarahan pada esofagus karena penggunaan alkohol yang lama

Ulkus dan erosi pada esofagus

Striktur pada distal esofagus

Page 42

Trauma Pada THT

2013

Penatalaksanaan Terapi segera adalah dengan membatasi luka bakar dengan menelan zat penetralisir dalam 1 jam pertama. 1. Larutan alkali dapat dinetralkan dengan cuka, jus lemon, atau jeruk. Sedangkan zat asam dapat dinetralkan dengan susu, putih telur, atau antasida. 2. Zat-zat emetik dikontraindikasikan karena vomitus dapat menambah kontak zat kaustik dengan esofagus dan dapat berperan terjadinya perforasi jika terlalu kuat. 3. Hipovolumia di koreksi dan diberikan antibiotikaa spektrum luas untuk mencegah komplikasi infeksius. 4. Jika terdapat gangguan keseimbangan elektrolit diberikan infus aminofusin 600 2 botol, glukosa 10% 2 botol, Nacl 0,9% + Kcl 5 Meq/liter 1 botol. 5. Jika diperlukan, selang makan melalui jejunostomi dapat dimasukkan untuk memberikan nutrisi. Pemberian makan melalui oral dapat dimulai saat disfagia dari fase awal telah berkurang. 2 Untuk mencegah infeksi diberikan antibiotik selama 2-3 minggu atau 5 hari bebas demam. Biasanya diberikan penisilin dosis tinggi 1 juta - 1,2 juta unit/hari. Pemberian kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi, edema, dan mencegah terjadinya pembentukan fibrosis yang berlebihan. Kortikosteroid harus diberikan sejak hari ke pertama dengan dosis 200-300 mg sampai hari ke tiga. Setelah itu dosis diturunkan perlahan-lahan tiap 2 hari (tapering off). Dosis yang dipertahankan (maintenance dose) adalah 2x50 mg/hari. Analgetik diberikan untuk mengurangi rasa nyeri. Morfin dapat diberikan, jika pasien merasa sangat kesakitan. 2 Setelah fase akut dilewati, lakukan pencegahan dan penatalaksanaan striktur. Dilatasi antegrade dengaan bougi Hurst atau maloney dan dilatasi retrograde denganbougie Tucker telah memberikan hasil yang memuaskan. Lumen yang kuat hendaknya dicapai

Page 43

Trauma Pada THT

2013

kembali dalam waktu 6 bulan hingga 1 tahun. Bila selama perjalanan terapi, lumen yang adekuat tidak dapat dicapai atau dipertahankan, harus digunakan bougie yang lebih kecil, intervensi operatif diindikasikan bila terdapat : 4,6

1. Stenosis total dimana semua tindakan di atas telah gagal untuk membentuk lumen 2. Irregulitas yang berarti dan pembentukan striktur pada pemeriksaan barium 3. Pembentukan reaksi periesofageal yang berat atau mediastinitis 4. Terdapat fistula 5. Ketidakmampuan berdilatasi 6. Pasien yang tidak mampu atau tidak mau menjalani perpanjangan periode dilatasi.

Page 44

Trauma Pada THT

2013

BAB III KESIMPULAN

Trauma dibidang THT dapat di bagi menjadi : 1. Trauma telinga dalam dan tengah barotrauma dan trauma suara 2. Trauma luar ortrhotrauma dan laserasi liang telinga 3. Trauma hidung epitkasis karena trauma dan fraktur fasialis 4. Trauma tenggorokan trauma laring dan esophagus

Page 45

Trauma Pada THT

2013

DAFTAR PUSTAKA Adams G.L & Boeis L.R. BOEIS : Buku Ajar Penyakit THT. EGC. Jakarta : 1997. Hal.90-92. Fung k. Available at http://www.MedlinePlus.com. Ear Barotrauma. Accessed on May,21th 2008. Marthur N. Innear Ear, Noise-Induced Hearing Loss. Dalam: Femdes S, Talavera F. http://www.emedicine.comlotolaryngologyandfacialplasticsurgery/innearear.htm. Ma y 2, 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Leher dan Kepala. Edisi6. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : 2008.

Page 46