Anda di halaman 1dari 15

MISSED ABORTION

OLEH: AA BAGUS TANANJAYA W (0002005087)

PEMBIMBING: DR. H. DAMANIK, SPOG

DALAM RANGKA MENJALANKAN KEPANITERAAN KLINIK MADYA DI LAB/SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNUD RSU MATARAM FEBRUARI 2006

BAB I PENDAHULUAN Missed abortion mengacu pada kondisi klinik dimana terjadi kehamilan intra uterin yang tidak berkembang secara normal. Hal ini dapat bermanisfestasi sebagai anembryonic gestation (kantong yang kosong atau blighted ovum) atau dengan kematian fetus sebelum usia kehamilan 20 minggu. Kehamilan tersebut dikatakan missed abortion hanya bila diagnosis abortus inkomplit atau abortus iminens (serviks penderita masih tertutup). Sebelum penggunaan USG secara luas, missed abortion didiagnosis sebagai kehamilan tanpa pembesaran uterus sesuai dengan pertambahan usia kehamilan khususnya dalam 6 minggu. Beberapa penulis mempecayai deskripsi yang lebih spesifik harus digunakan; namun, istilah missed abortion masih secara luas digunakan oleh para klinisi.1 Nielsen dan Hahlin (1995) melakukan studi banding randomisasi memperkirakan manajemen dengan kuret untuk missed abortion kurang dari 13 minggu. Resolusi spontan terjadi dalam 3 hari pada 80% wanita yang mendapat pengobatan konservatif, walaupun perdarahan pervaginam rata-rata terjadi 1 hari lebih lama. Komplikasi yang terjadi sama pada kedua kelompok. Luise dkk (2002) pada studi observasi pada 1100 wanita dengan suspek aborsi pada trimester pertama, melaporkan resolusi spontan terjadi pada 81 % kasus. Pada studi ini, dibandingkan dengan pememuan Nielsen dan Hahlin (1995), namun 1 wanita hamil terjadi aborsi kemudian dan hanya setengahnya dengan fetal pole atau gestasional sac abortetd dalam 2 minggu setelah diagnosis.2 Muffley dkk (2002) mengacak 50 wanita dengan kegagalan mengeluarkan kehamilan dalam 12 minggu baik dengan dilatasi dan kuretase atau 800 mikrogram misoprostol yang ditempatkan pada forniks posterior vagina pengulangan dalam 24 jam jika diperlukan. Kegagalan terapi medis, didefinisikan sebagai dipertahankannya gestasional sac dalam 48 jam terjadi pada 60 % dari terapi obat-obatan. Tidak ada perbedaan antar kelompok pada perubahan hematokrit atau waktu menghilangnya kadar hCG. 1 wanita pada kelompok misoprostol kembali 6 jam setelah initial dose dengan perdarahan vagina yang profius.2 Pada studi randomisasi trial yang lain, Chung dkk (1999) melaporkan kira-kira 50 % pada kelompok yang diberikan terapi obat-obatan lebih sering memerlukan pembedahan. Mengikuti komplikasi aborsi dengan terapi obat-obatan, USG vagina atau

abdominal dapat digunakan mengetahui ruang uterus yang kosong. Pada ruang uterus yang terdapat sisa maternal harus dilakukan kuretase.2 Pada beberapa kasus setelah retensi berkelanjutan fetus yang mati, terjadi koagulasi yang hebat. Koagulopati mungkin menyebabkan beberapa masalah perdarahan maternal dari hidung, gusi dan tempat yang terkena trauma.2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum viabel, disertai atau tanpa pengeluaran hasil konsepsi Sampai saat ini janin yang terkecil dilaporkan dapat hidup diluar rahim, mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi, karena jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat badan dibawah 500 gram dapat hidup terus maka abortus dapat ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin dapat mencapai berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu.5 Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan. Abortus buatan ialah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat tindakan. Abortus terapeutik ialah abortus buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Menurut WHO, abortus didefinisikan sebagai penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan atau berat janin kurang dari 500 gram. 2.2 Frekunsi 1,2

Di Amerika serikat banyak kehamilan tidak viable, dengan perkiraan kematian 5o% sebelum keterlambatan pertama periode menstruasi. Kehamilan ini biasanya tidak menunjukan gejala klinis. Aborstus spontan yang klasik ditunjukan secara klinis ( dengan tes darah, USG) kematian janin sebelum usia 20 minggu. Perkiraan terjadinya 10-15% kehamilan. Angka kematian dan kesakitan. Morbiditas missed abortion sama dengan abortus spontan dan termasuk perdarahan, infeksi, dan dipertahankannya produk konsepsi. Sebelumnya, sebelum diagnosis kematian fetus dapat dinuat dan sebelum kondisi tersebut dapat diobati dengan mudah, disseminated intravascular coagulation (DIC) dihubungkan dengan perpanjangan retensi fetus yang telah mati ( lebih dari 6-8 minggu) telah dilaporkan. Dengan diagnosis dan pengobatan yang dini, angka kejadian DIC sngat jarang. Data survilance dari kehamilan yang dihubungkan dengan kematian pada 19871990 didapatkan dari total 1459 kematian di Amerika Serikat. Dari data kematian tersebut abortus terjadi sekitar 5,6% Ras Angka kejadian sama pada semua ras. Data survilance dari data kehamilan yang dihubungkan dengan kematian (19871990) menunjukan kematian lebih banyak disebabkan oleh kehamilan ektopik dan abortus pada wanita afrika-amerika dibandingkan wanita kaukasian. 14% dari kehamilan yang dihubungkan dengan kematian pada wanita kulit hitam yang disebabkan oleh kehamilan ektopik; 7% disebabkan oleh abortus. Diantara wanita kulit putih, data menunjukkan 8% menunjukan dari kehamilan yang menunjukan kematian disebabkan oleh kehamilan ektopik, 4% disebabkan oleh abortus. Umur Umur Angka kegagalan kehamilan meningkat sesuai dengan umur dan peningkatan yang signifikan pada wanita yang berumut lebih dari 40 tahun -umur dan peningkatan paritas menyebabkan peningkatan resiko kematian janin pada wanita kurang dari 20 tahun, kejadian kematian janin diperkirakan 12% dai kehamilan. Pada wanita yang berumur lebih dari 20 tahun, kejadian kematian janin diperkirakan 26% dari kehamilan.

Umur secara langsung berpengaruh pada oocyte. Saat oocyte dari wanita muda dipergunakan untuk membuat embrio untuk diberikan pada penerima yang lebih tua, ratarata implantasi dan rata-rata ekspresi kehamilanterlihat pada wanita yang lebihmuda; angka dati kematian janin dan abnormalitas kromosom menurun, dipercayai tidak beresponnya uterus pada wanita usia reproduktif yang lebih tua. 2.3 Etiologi Pada kehamilan muda abortus tidak jarang didahului oleh kematian mudigah. Sebaliknya, pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin dikeluarkan dalam keadaan masih hidup. Halhal yang menyebabkan abortus dapat dibagi sebagai berikut. 1. kelainan pertumbuhan hasil konsepsi kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat. Kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil-hamil muda. Faktor-faktor yang menyebabkn kelainan dalam pertumbuhan ialah sebaagai berikut. a. kelainan kromosom. Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan ialah trisomi, poliploidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks. b. Lingkungan kurang sempurna. Bila lingkungan di endometrium disekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian zat-zat maknan pada hasil konsepsi terganggu. c. Pengaruh dari luar. Radiasi, virus, obat-obat, dan sebagainya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen. 2. kelainan pada plasenta endarteritis dapat terjadi pada vili kokorialesdan menyebabkan oksigenisasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun. 3. penyakit ibu penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria dan lain-lain dapat menyebakan abortus. Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin, dan kemudian terjadilah abortus. Anemia berat, keracunan, laparotomi, peritonitis

umum, dan penyakit menahun seperti brusellosis, mononukleosis, infeksiosa, toksoplasmosis, juga dapat menyebabkan abortus walaupun lebih jarang. 4. kelainan traktus genitalis retroversio uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat meyebabkan abortus. Tetapi, harus diingat bahwa hanya retroversio uteri gravidii inkaserata atau mioma submukosa yang memegamg peranan penting. Sebab lain abortus dalam trimester ke 2 ialah serviks inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada serviks, dilatasi serviks berlebihan, konisasi, amputasi, atau robekan serviks luas yang tidak dijahit. 2.4 Patofisiologi Pada awal abortus terjadilah perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena vili koriales belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan antara 8 sampai 14 minngu villi korialesmenembus desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul beberapa waktu kemudian plasenta. Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap. Peristiwa abortus ini menyerupai persalinan dalam bentuk miniatur. Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Ada kalanya kantong amnion kosong atau tampak didalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas (blighted ovum) mungkin pula janin telah mati lama (missed abortion). Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu yang singkat maka ia dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah. Isi uterus dinamakan mola kruenta. Bentuk ini menjadi mola karnosa apabila pigmen darah telah diserap dan dalam sisanya terjadi organisasi, sehingga semuanya tampak sebagai seperti daging. Bentuk lain adalah mola tuberosa dalam hal in amnion tampak berbenjol-benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan korion. Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses mumifikasi, janin mengering dan karena cairan amnion menjadi kurang oleh sebab diserap, ia menjadi

agak gepeng ( fetus kompressus). Dalam tingkat lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas perkamen (fetus papiraseus). Kemungknan lain pada janin mati-mati yang tidak lekas dikeluarkan ialah terjadinya maserasi, kulit terkelupas, tengkorak menjadi lembek, perut membesar karena terisi cairan, dan seluruh janin berwarna kemerah-merahan. 2.5 Klasifikasi Menurut mekanisme terjadinya, abortus dibagi menjadi 2 yaitu : 6 1. Abortus spontan adalah abortus yang terjadi dengan sendirinya, tanpa provokasi dan intervensi. 2. Abortus buatan/ direncanakan adalah abortus yang terjadi karena diprovokasi , yang dibedakan atas : a. Abortus provokatus terapeutikus, yaitu abortus yang dilakukan atas indikasi medis dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan ibu dan atau janin. b. Menurut klinis :5 1. Abortus Iminens Abortus iminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus dan tanpa adanya dilatasi seviks. 2. Abortus insipiens. Abortus insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kuat, perdarahan bertambah. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum disusul dengan kerokan. 3. Abortus Inkomplit Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertingga dalam uterus. Pada pemeriksaan vaginal, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang-kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum. Abortus provokatus kriminalis, yaitu abortus yang dilakukan tanpa indikasi medis.

Perdarahan pada abortus inkomplit dapat banyak sekali, sehingga menyebabkan syok dan perdarahan tidak berhenti sebelum sisa hasil konsepsi dikeluarkan. 4. Abortus komplit Pada abortus komplit semua hasil konsepsi sudah dikerjakan. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup dan uterus sudah banyak mengecil. 5. Abortus habitualis Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturutturut 6. Abortus infeksiosus Abortus infeksiosus adalah abortus yang disertai infeksi pada genitalia. Diagnosis ditegakkan dengan adanya abortus yang disertai gejala dan tanda infeksi alat genitalia, seperti panas, takikardia, perdarahan pervaginam yang berbau, uterus yang membesar, lembek, serta nyeri tekan, dan leukositosis. 7. Missed abortion Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. 2.6 Missed Abortion 2.6.1 Definisi Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. 5 2.6.2 Etiologi Penyebab terjadinya missed abortion tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormon progesteron. Pemakaian hormon progesteron pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion. 5 Faktor genetik terjadi kira-kira 5% dari abortus spontan. Trisomi 16 bisanya terjadi pada kira-kira abnormalitas kromosom ke 3 pada awal kehamilan. Kelainan anatomi kongenital atau didapat dilaporkan terjadi pada 10-15% wanita yang mempunyai riwayat abortus spontan berulang.1,2,5

kelainan anatomi kongenital termasuk abnormalitas duktus mulery (seperti pada uterus yang bersekat, dihubungkan dengan penggunaan diethylstilbestrol (DES). Sekat pada uterus dihubungkan dengan beberapa kejadian dari missed abortion.

Kelainan yang didapat termasuk adhesi intrauterin (sinekia), liomioma, dan endometriosis.

Faktor endokrin berkontribusi pada terjadinya abortus berulang pada 10-20% kasus 1,2 insufisiensi fase luteal (abnormalitas fungsi korpus luteum dan insufisiensi produksi progesteron) ini berpengaruh pada kebanyakan faktor penyebab abnormalitas endokrin yang berpengaruh pada abortus spontan Infeksi 1,2 kejadian yang diawali oleh infeksi ditemukan pada 5% kasus bakteri, virus, parasit, jamur dan infeksi binatang dihubungkan dengan kejadian abortus spontan Immunologi 1,2 faktor immunologi berkontribusi pada 60% dari abortus spontan yang berulang. Perkembangan embryo dan tropoblas keduanya mungkin dipengaruhi oleh zat immun asing pada sistem immun ibu. Sindrom antibodi pospolitik secara umum lebih sering terjadi pada trimester kedua dibandingkan pada trimester pertama. Lain-lain 1,2 faktor yang lain berpengaruh pada 3 % dari abortus spontan yang berulang. Banyak faktor lain yang berpengaruh pada kejadian abortus. Lingkungan, obatobatan, abnormalitas plasenta, penyakit medis. 2.6.3 Patofisiologi Abnormalitas genetik (trisomi 16) bisanya terjadi pada kira-kira abnormalitas kromosom ke 3 pada awal kehamilan, abnormalitas hormonal, infeksi, immunologis, dan factor lingkungan biasanya terjadi pada trimester I. Factor anatomi biasanya dihubungkan dengan kejadian pada trimester II. 2 2.6.4 Diagnosis hipotiroid, hipoprolaktinemi, kontrol diaberik yang buruk dan sindroma polikistik ovarii berpengaruh pada kegagalan kehamilan.

Dahulu diagnosis biasanya tidak dapat ditentukan dalam satu kali pemeriksaan, melainkan memerlukan waktu pengamatan untuk menilai tanda-tanda tidak tumbuhnya malahan mengecilnya uterus. Missed abortion biasanya didahului oleh tanda-tanda abortus iminens yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan. Gejala subyektif kehamilan menghilang, mamma agak mengendor lagi, uterus tidak membesar lagi, malah mengecil, tes kehamilan menjadi negatif. Dengan ultrasonografi dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besarnya sesuai dengan usia kehamilan. Perlu diketahui bahwa missed abortion kadang-kadang disertai oleh gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia, sehingga pemeriksaan ke arah ini perlu dilakukan. 5 Pada missed abortion, uterus mempertahankan produk konsepsi yang telah mati di belakang serviks yang tertutup untuk beberapa hari atau beberapa minggu. Pada kasus yang tipikal, awal persalinan menunjukan suatu yang normal, dengan amenore, nausea dan vomiting, perubahan pada payudara, dan pertumbuhan uterus. Seelah kematian fetus, mungkin dapat terjadi perdarahan pervaginam atau gejala lain dari aborsi. Dalam beberapa hari atau minggu, ukuran uterus tetap sama, lalau secaqra bertahap menjadi semakin mengecil. Perubahan pada payudara biasanya semakin berkurang, dan sering terjadi penurunan berat badan beberapa pound. Kebanyakan wanita tidak menunjukan gejala selama periode ini kecuali amenore yang persisten. Jika terjadi terminasi yang spontan pada missed abortion dan kebanyakan proses ekspulsinya sama dengan abortus yang lain. Setelah kematian konseptus, manajemennya spersifik, tergantung pada tiap individu. 5 2.6.5 Penatalaksanaan Setelah diagnosis missed abortion dibuat, timbul pertanyaan apakah hasil konsepsi perlu segera dikeluarkan. Tindakan pengeluaran itu tergantung dari berbagai faktor seperti apakah kadar fibrinogen dalam darah sudah milai turun. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin mati lebih dari 1 bulan tidak dikeluarkan. Selain itu faktor mental penderita perlu diperhatikan karena tidak jarang wanita yang bersangkutan merasa gelisah, mengetahui ia mengandung janin yang telah mati dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan. 5 Pengeluaran hasil konsepsi pada missed abortion merupakan satu tindakan yang tidak lepas dari bahaya karena plasenta dapat melekat pada dinding uterus dan kadangkadang terdapat hipofibrinogenemia. Apabila diputuskan untuk mengeluakan hasil konsepsi itu, pada uterus yang besarnya tidak melebihi 12 minggu sebaiknya dilakukan

pembukaan serviks uteri dengan memasukkan laminaria selama kira-kira 12 jam dalam kanalis servikalis, yang kemudian dapat diperbesar dengan busi Hegar sampai cunam ovum atau jari dapat masuk ke dalam kavum uteri. Dengan demikian hasil konsepsi dapat dikeluarkan lebih mudah serta aman, dan sisa-sisanya kemudian dibersihkan dengan kuret tajam.4,5 Jika besar uterus melebihi 12 minggu, maka pengeluaran hasil konsepsi diusahakan dengan infus intravena oksitosin dosis cukup tinggi. Dosis oksitosin dapat dimulai dengan 20 tetes per menit dari cairan 500 ml glukose 5% dengan 10 satuan oksitosin, dosis ini dapat dinaikan sampai ada konraksi. Bilamana diperlukan dapat diberikan sampai 50 satuan oksitosin asal pemberian infus untuk 1 kali tidak lebih dari 8 jam karena bahaya keracunan air. Jika tidak berhasil infus dapat diulangi setelah penderita istirahat 1 hari. Biasanya pada percobaan ke 2 atau ke 3 akan dicapai hasil dengan prostaglandin E baik intravaginal atau infus, keberhasilan cukup baik (90%) dalam satu hari. Apabila fundus uteri tingginya sampai 2 jari di bawah pusat, maka pengeluaran hasil konsepsi dapat pula dikerjakan dengan penyuntikan larutan garam 20% kedalam kavum uteri melalui dinding perut. Apabila terdapat hipofibrinogenemia, perlu diadakan persediaan darah segar atau fibrinogen. 4,5 Ekspektatif, pengobatan dan pembedahan semuanya dapat dilakukan, tiap tindakan mempunyai keuntungan dan kerugian tersendiri. Pembedahan secara umum merupakan pengobatan definitive dan hasilnya dapat dipresiksi tapi invasive dan tidak diperlukan oleh setiap wanita. Ekspektatif dan obat-obatan diperlukan pada kuretase, tapi hal tersebut dihubungkan dengan perdarahan yang tidak dapat diprediksi, dan pada beberapa wanita memerlukan pembedahan segera. Pendekatan ini mungkin memerlukan follow up lebih sering, mungkin menyebabkan nyeri, dan memerlukan waktu perawatan, semuanya/satu dari beberapa wanita mungkin tidak setuju.3,4,5 2.6.6 Komplikasi Komplikasi biasanya jarang dan biasanya dihubungkan dengan proses evakuasi uterin. Produk konsepsi yang dipertahankan dapat terjadi setelah evakuasi secara medis atau bedah tapi lebih sering setelah terapi obat-obatan, infeksi dan kehilangan darah kadangkadang terjadi setelah evakuasi.1,2

10

Jika kematian fetus dan fetus yang telah mati dipertahankan lebih dari 24 minggu, dapat terjadi penurunan kadar fibrinogen dan lebih jarang menyebabkan masalah perdarahan. Perporasi uterus dan perlekatan uterus merupakan komplikasi yang sangat jarang pada kuretase uterus.2 Lakukan pemeriksaan koagulasi jika diagnosis missed abortion dicurigai, karena koagulasi intravaskular yang menyebar (diseminated intravascular coagulation;DIC) adalah kemungkinan komplikasi yang serius. Walaupun manifestasi jelas DIC jarang terlihat hingga empat sampai enam minggu setelah kematian janin, kesulitan dalam menentukan waktu yang tepat kematian janin tersebut menyebabkan pentingnya untuk memulai pemeriksaaan koagulasi secara dini dan untuk mengulangi pemeriksaan tersebut sekurangnya tiap minggu. 7 Janin yang mati dalam kandungan biasanya lahir dalam 2 minggu, apabila tidak akan menyebabkan hipofibrinogenemia. Berlainan dengan solusio plasenta pada kematian janin gangguan pembekuan darah berlangsung sangat lambat, biasanya setelah janin mati 5 minggu atau lebih barulah dapat terjadi hipofibrinogenemia. Desidua atau plasenta dan janin lambat laun mengalami kerusakan dan menghasilkan zat yang mempunyai khasiat tromboplastik (tromboplastin jaringan), yang masuk ke dalam peredaran darah ibu. Sebagai akibatnya berlangsung pembekuan dalam pembuluh darah, sehingga terjadi defibrinasi. Sebagai gejala klinis dapat timbul purpura dibawah kulit. 5 Apabila kadar fibrinogen turun sampai 120 mg% atau kurang , atau apabila timbul purpura atau perdarahan dibawah kulit, maka pengobatan harus segera diberikan yang kemudian disusul dengan usaha untuk mengakhiri kehamilan. Hal ini dilakukan untuk mencegah perdarahan postpartum yang berbahaya bagi ibu. 5 2.6.7 Prognosis Prognosis untuk kehamilan berikutnya adalah baik. Kebanyakan wanita tidak mempunyai masalah untuk hamil dan mempertahankannya pada kehamilan berikutnya. Kira-kira 80-90 % yang mempunyai riwayat abortus akan melahirkan bayi yang viable pada kehamilan berikutnya. 2 Pada sebagian kecil pasien dengan missed abortion dan dua atau lebih mengalami kematian pada awal kehamilan, prognosisnya akan buruk dan diperlukan evaliasi

11

mendatang. Harus dicari adanya kejadian sindrom antipospolipid dan kelainan trombosit, dan/atau kromosom karyotipe.2

BAB III KESIMPULAN Missed abortion mengacu pada kondisi klinik dimana terjadi kehamilan intra uterin yang tidak berkembang secara normal. Hal ini dapat bermanisfestasi sebagai anembryonic gestation (kantong yang kosong atau blighted ovum) atau dengan kematian fetus sebelum usia kehamilan 20 minggu. Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Penyebab terjadinya missed abortion tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormon progesteron. Pemakaian hormon progesteron pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion, faktor genetik, endokrin infeksi, immunologi dan lain-lain. Abnormalitas genetic (trisomi), abnormalitas hormonal, infeksi, immunologis, dan factor lingkungan biasanya terjadi pada trimester I. Factor anatomi biasanya dihubungkan dengan kejadian pada trimester II.

12

Missed abortion biasanya didahului oleh tanda-tanda abortus iminens yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan. Gejala subyektif kehamilan menghilang, mamma agak mengendor lagi, uterus tidak membesar lagi, malah mengecil, tes kehamilan menjadi negatif. Dengan ultrasonografi dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besarnya sesuai dengan usia kehamilan. Perlu diketahui bahwa missed abortion kadang-kadang disertai oleh gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia, sehingga pemeriksaan ke arah ini perlu dilakukan. Apabila diputuskan untuk mengeluakan hasil konsepsi itu, pada uterus yang besarnya tidak melebihi 12 minggu sebaiknya dilakukan pembukaan serviks uteri dengan memasukkan laminaria selama kira-kira 12 jam dalam kanalis servikalis, yang kemudian dapat diperbesar dengan busi Hegar sampai cunam ovum atau jari dapat masuk ke dalam kavum uteri. Dengan demikian hasil konsepsi dapat dikeluarkan lebih mudah serta aman, dan sisa-sisanya kemudian dibersihkan dengan kuret tajam. Jika besar uterus melebihi 12 minggu, maka pengeluaran hasil konsepsi diusahakan dengan infus intravena oksitosin dosis cukup tinggi. Dosis oksitosin dapat dimulai dengan 20 tetes per menit dari cairan 500 ml glukose 5% dengan 10 satuan oksitosin, dosis ini dapat dinaikan sampai ada konraksi. DAFTAR PUSTAKA 1. Valley.V.T. J.L. Abortion, Missed Missed. Abortion. and Available Available intrauterine from from death. htpp htpp :// :// from

www.emedicine.com/med/topic :last update : januari 19, 2005 2. Lindsey. 3. Fetal www.emedicine.com/med/topic :last update : Juli 18, 2005 death, missed abortion, Available http://www.meb.uni-bonn.de .2005. 4. Craig p. G, john h, thomas. G, and anthony a. Day, Available from http://www.aafp.org. Last update oktober 21, 2005 5. Aminullah Asril.kelainan dalam lamanya kehamilan. Dalam; Ilmu Kebidanan (Ed. Wiknyosastro Hanifa, Saifudin Abdul Bari, Rachimhadhi Trijatmo), Jakarta; Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1999; 50; 302;466. 6. Pedoman Diagnosis Terapi Dan Bagian Alir Pelayanan Pasien, Lab/SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RS Sanglah Denpasar 2003

13

7. Friedman E A. Et al . Seri Skema Diagnosis dan Penatalaksanaan Obstetri. Edisi kedua. Binarupa Aksara. Jakarta, 1998.

14