Anda di halaman 1dari 3

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MASYARAKAT YANG TIDAK BERKARAKTER

Oleh SOFYAN Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan Univ. Negeri Jakarta Pendidikan karakter? Apa sebenarnya pendidikan karakter? Lalu mengapa bangsa ini seperti terhenyak dari tidur panjang dan terdesak untuk melaksanakan pendidikan karakter? Seperti apa kondisi karakter bangsa Indonesia saat ini? Pertanyaan-pertanyaan ini sering sekali muncul dalam setiap pembahasan isu pendidikan karakter yang sedang didengung-dengungkan oleh pemerintah. Persoalan pendidikan di negeri ini tak lepas dirundung malang. Belum lagi selesai persoalan RSBI, sertifikasi guru, sekolah dengan biaya selangit, sekarang muncul isu mendesak dilaksanakannya pendidikan karakter. Saat ini karakter bangsa memang berada di bawah titik nadir. Berbagai persoalan bangsa yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan musyawarah dan mufakat sebagai ciri kepribadian bangsa, harus diselesaikan dengan sengketa dan pertumbahan darah. Berbagai bentuk degradasi moral terjadi di kalangan remaja. Seks bebas, tawuran antarpelajar, narkoba, bahkan prilaku-prilaku lain yang tak pantas sebagaimana bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai agamapun sering terjadi. Terakhir sering disaksikan bagaimana orang-orang dewasa yang mengaku terhormat bertengkar secara bebas di gedung DPR, televisi dan media lainnya yang acap kali ditonton oleh anak-anak bangsa ini. Pokok persoalannya adalah satu, bahwa bangsa ini miskin keteladanan dan tidak menjalankan pendidikan karakter sejak dari dalam keluarga. Para elit dan pemimpin bangsa tidak lagi memikirkan kemajuan bangsa ini untuk masa yang akan datang. Pemimpin hanya memikirkan kepentingan sesaat (hedonistik) dan hanya berjuang hanya untuk kelompoknya semata. Korupsi dan kejahatan politik pun justru dilakukan oleh orang-orang muda yang seharusnya membawa bangsa ini ke jalur yang benar. Lihat saja kasus Gayus Tambunan, Nazrudin, dan tokoh-tokoh muda lainnya yang memberikan contoh tidak berkarakter yang seharusnya tidak diberikan. Di sekolah, guru pun tidak lagi memberikan keteladanan. Justru sebaliknya, sering terjadi kasus-kasus seperti pada UN guru melakukan kecurangan-kecurangan hanya untuk kepentingan sekedar lulus ujian. Singkat kata, pendidikan karakter yang saat ini gencar disuarakan, berada dalam lingkaran masyarakat yang tidak berkarakter.

Pendidikan karakter adalah upaya fasilitasi yang dilakukan oleh warga sekolah (pendidik, tenaga kependidikan, dan komunitas) di sekolah untuk menjadikan peserta didik berkarakter baik, yaitu hidup dengan benar dalam hubungan seseorang dengan Tuhannya, sesama manusia, alam lingkungan hidupnya, bangsa dan negaranya, serta dengan diri sendiri (Sadun Akbar, 2011: 8). Fungsi pendidikan yang diamanatkan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas yaitu pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini didasari bahwa karakter adalah watak, tabiat, akhlak, adab, atau ciri kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai nilai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan berpikir, bersikap, dan bertindak. Menurut Thomas Lickona (dalam Muslich, 2011: 35), ada sepuluh tandatanda zaman yang harus diwaspadai sebagai tanda bahwa bangsa itu diambang kehancuran, yaitu: 1) meningkatknya kekerasan di kalangan remaja; 2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk; 3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan; 4) meningkatnya prilaku merusak diri, seperti narkoba, seks bebas, dll; 5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; 6) menurunnya etos kerja; 7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru; 8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara; 9) membudayakan ketidak-jujuran; dan 10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama. Melihat kepada tanda-tanda ini, maka sangat jelas bahwa bangsa ini sedang berada dalam jurang kehancuran. Kesemua ciri-ciri sebagaimana diungkapkan menjadi prilaku keseharian dan menjadi tontonan sehari-hari bangsa ini. Jadi tidak heran, jika bangsa ini menjadi terpuruk. Atas dasar dan kondisi bangsa yang sangat memprihatinkan tersebut, maka pendidikan karakter menjadi penting dan mendesak untuk dilakukan. Pendidikan karakter bukanlah tugas guru dan sekolah semata. Tetapi, mulai dari dalam lingkungan keluarga, peran keluarga menjadi sangat penting dalam membentuk karakter yang sesungguhnya. Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara (1977: 374), bahwa keluarga itulah tempat pendidikan yang paling sempurna sifat dan ujudnya daripada pusat lainnya untuk melangsungkan pendidikan ke arah kecerdasan budi-pekerti (pembentukan watak individual) dan sebagai persediaan hidup kemasyarakatan. Solusi yang seharusnya dilakukan dalam pelaksanaan pendidikan karakter adalah, sistem pendidikan yang ada saat ini harus kembali pada orientasinya, yaitu penciptaan kepribadian dan karakter bangsa yang luhur. Hal ini sebagaimana telah dilakukan oleh para tokoh pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan, dan lainnya. Pendidikan kita harus dilaksanakan berdasarkan kompetensi/kodrat alam anak didik sebagaimana diajarkan Ki Hajar. Anak harus diamong yang langsung menyentuh etika dan perilaku anak didik. Atau seperti yang dilakukan KH Ahmad Dahlan yang melaksanakan pendidikan selalu didasarkan dengan nilai-nilai keagamaan. Pendidikan karakter juga dapat mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan sebagaimana desain pembelajaran yang dibuat oleh Mukti Ali. Cara lain yang harus ditempuh dalam

pelaksanaan pendidikan karakter, bahwa pelaksanaannya tidak bisa diserahkan kepada sekolah begitu saja. Pendidikan karakter harus dilaksanakan secara terintegrasi, baik keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah. Jika tidak, maka pendidikan karakter hanya isapan jempol. Pemerintah, orang tua, masyarakat dan guru harus memberikan keteladanan yang intens. Tanpa itu, anak didik tidak punya pigur yang kuat untuk dijadikan contoh. Guru sebagai orang yang dekat dengan anak didiknya harus mencintai siswa, menjadi sahabat dan teladan, mencintai pekerjaan, bersikap luwes dan mudah beradaptasi dengan perubahan, dan tidak pernah berhenti belajar (Muslich, 2011: 56-57).