Anda di halaman 1dari 5

JURNAL : CITY, CULTURE , AND SOCIETY BY SHIN NAKAGAWA, KOICHI SUWA

1.

Isu atau Gap Teori yang menjadi alasan studi :

City, Culture, dan Society merupakan tig hal yang tidak dapat dipisahkan. Menggunakan gempa Kobe tahun 1995 dan gempa bumi Jawa Tengah 2006 sebagai studi kasus, makalah ini mendiskusikan mengenai proses pemberian bantuan dalam hal pemulihan budaya (providing cultural recovery assistance), dan juga menganalisis 'civil society' , suatu hal yang mencerminkan upaya untuk membuat kegiatan pendampingan yang berkelanjutan (assistance activities sustainable.). Gempa bumi di Kobe harus dilihat sebagai titik tolak bagi aktivisme warga negara yang dilakukan oleh para relawan, karena itu, mendukung pemulihan budaya adalah kekuatan yang terus - menerus diberikan. Dalam menganalisis gempa Kobe, menjadi jelas bahwa sementara ada banyak arti semantik untuk penggunaan dari istilah civil society , itu dimasukkan ke dalam pedoman kebijakan untuk pemulihan selama periode pertumbuhan ekonomi yang rendah, dan masyarakat madani baru yang digambarkan dalam periode transformasi sosial . Organisasi yang berpartisipasi dalam upaya bantuan setelah gempa Jawa- Tengah berusaha untuk membuat civil society , ini berlanjut setelah pemulihan gempa itu selesai, dan itu terdiri upaya untuk membangun hubungan dalam masyarakat sipil untuk mengatasi berbagai masalah sosial yang persisten. Kekuatan komunikasi yang adalah budaya memegang memainkan peran besar dalam hal ini.

2.

Gagasan baru sebagai pemecahan dan focus riset :

Dalam beberapa tahun terakhir, program pemulihan bencana telah mendapatkan perhatian lebih dikalangan ilmuan sosial, dan akademisi yang melakukan penelitian tentang pemulihan bencana. Tetapi, mereka cenderung memiliki fokus yang sempit, dan program memperluas pemulihan budaya belum sistematis dipertimbangkan. Memang benar bahwa ada berbagai macam penelitian bencana dalam ilmu sosial, tetapi

sangat sedikit keprihatinan penelitian tersebut dengan seni dan budaya. Sebagai contoh, Tierney (2007) adalah yang terbaru untuk menyentuh pada penelitian bencana dalam ilmu-ilmu sosial, tetapi tidak menyentuh aspek seni, maupun kebudayaan. Gopalakrishnan dan Okada (2007) penelitian ini berfokus pada budaya local, namun, focus utama mereka adalah pada perhubungan budaya, dan penelitian ini tidak membahas seni. Bahan bantuan seperti sebagai pasokan perumahan sementara - adalah juga dibahas dalam penelitian pemulihan bencana (mis. Johnson, 2007), namun bantuan nonmaterial, terutama yang berkaitan dengan seni, jarang dibahas. Ada sejumlah besar penelitian tentang dukungan mental untuk korban bencana individu (mis. Goto, Wilson, Kahana, & Slane, 2006), tetapi budaya dalam masyarakat adalah bukan lingkup psikolog. Untuk semua alasan ini, gagasan baru dan focus riset dari penelitian ini ialah pada pemulihan budaya (culture recovery)dan dengan demikian membantu untuk mengisi melengkapi penelitian penelitian yang sudah ada.

3.

Temuan Studi : Dalam tulisan ini, gempa Kobe 1995 (juga dikenal sebagai gempa Hanshin-Awaji) dan

Gempa Jawa Tengah tahun 2006 adalah dua studi kasus didiskusikan. Alasan untuk mengambil kedua kasus adalah bahwa gempa Kobe, merupakan model kasus pertama dan terbesar

diJepang yang pemulihannya dilakukan secara kolektif dan efektif oleh penduduk setempat,, dan pemulihan gempa Jawa Tengah kita dapat melihat bahwa pemulihan dilakukan oleh penduduk setempat yang menggunakan metode culture recovery assistance groups seperti halnya dalam pemulihan Kobe. Sambungan dapat terlihat antara inisiatif pemulihan bantuan dalam dua daerah. Populasi saat ini dari Kobe City adalah sekitar 1,5 juta, Kota ini didirikan pada 1868 sebagai salah satu yang pertama modern kota pelabuhan Jepang. Kota ini akhirnya menjadi salah satu yang paling penting yang menghubungkan Jepang dengan sisanya dunia, sebelum transportasi udara menjadi populer. Gempa bumi Kobe terjadi di pagi hari dari 17 Januari 1995. Bencana utama daerah terdiri dari bagian selatan Prefektur Hyogo, termasuk kota Kobe. Korban tewas nomor 6434 dan satu perkiraan dinilai kerusakan ekonomi sebesar lebih dari US $ 1 triliun. Gempa bumi Jawa Tengah terjadi di pagi hari dari 27 Mei 2006, di daerah sekitar Daerah

Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Sekitar 200.000 rumah runtuh, dan hanya di bawah 6000 orang meninggal. Garis patahan, yang disebabkan gerakan tanah longsor, diperpanjang timur laut dari Kabupaten Bantul, merumput masa lalu kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta, kota pusat Provinsi Khusus, memiliki populasi 450.000, sedangkan seluruh provinsi ini memiliki populasi dari 3,6 juta. Sementara daerah ini adalah penghasil biji-bijian sabuk kaya, juga memegang kelimpahan industri tradisional seperti musik (gamelan), tari, tenun dan kain, panggung pertunjuka pencelupan, seni kuliner, dan pembuatan sutra. Desa disekitar daerah yang baik kota dan sultan pengadilan dengan bahan makanan, kerajinan dan buruh, dan membentuk sebuah komunitas yang luar biasa yang terdiri dari desa-desa yang khusus dalam tembikar wayang, (wayang kulit), batik, dan sutra, antara produk-produk budaya lainnya. Para komunitas menerima pukulan yang menghancurkan dari gempa bumi dan bersama dengan hilangnya nyawa, budaya berada di ambang kepunahan.

4.

Metodologi :