Anda di halaman 1dari 9

Amilum manihot Amilum manihot atau pati singkong adalah pati yang diperoleh dari umbi akar Manihot

utilissima Pohl (Familia Euphorbiaceae). Salah satu fungsi dari amilum manihot adalah sebagai bahan pengikat dalam pembuatan tablet. Sangat cocok digunakan sebagai bahan pengikat pada pembuatan tablet dengan metoda granulasi basah dengan cara dibuat mucilago terlebih dahulu. Pemerian serbuk halus berwarna putih, kelarutan praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol, tetapi larut dalam air panas. Untuk 1g amilum manihot larutkan dalam 50 ml air panas selama kurang lebih 1menit, dinginkan sampai terbentuk larutan kanji yang encer (Anonim, 1995). Penambahan amilum berfungsi sebagai bahan pengatur aliran serta sebagai bahan pengikat dan penghancur (Voigt, 1984). Selain itu mucilago amilum bersifat netral dan non reaktif sehingga dapat digunakan dengan kebanyakan zat aktif. Amilum manihot sebagai bahan pengikat biasanya digunakan dalam konsentrasi 5-10% (Banker and Anderson, 1994).

Bahan pengikat diperlukan dalam pembuatan tablet hisap dengan maksuduntuk meningkatkan kohesifitas antar partikel serbuk sehingga memberikankekompakan dan daya tahan tablet (Voigt, 1984). Amilum manihot saat ini telahbanyak digunakan oleh industri farmasi, salah satunya sebagai bahan pengikat dalampembuatan tablet hisap. Amilum manihot dapat digunakan sebagai bahan pengikatdalam bentuk mucilago. Dalam bentuk mucilago, amilum manihot sangat baik digunakan sebagai pengikat tablet dengan metode granulasi basah (Lachman dkk,1994). Menurut Parrott (1971) bahan pengikat mucilago amilum ditambahkan untuk meningkatkan ikatan antar bahan dan memperbaiki sifat alir granul sehingga akanmenjadi lebih mudah ditablet dan akan menghasilkan sifat fisik tablet yang baik.Peningkatan konsentrasi mucilago amilum menghasilkan kekerasan tablet semakinmeningkat, kerapuhan tablet menjadi turun dan waktu melarut menjadi semakinlama. Amilum manihot sebagai bahan pengikat biasanya digunakan dalamkonsentrasi 5-10% (Banker and Anderson, 1986). Selain itu mucilago amilumbersifat netral dan nonreaktif sehingga dapat digunakan dengan kebanyakan zat aktif (Sheth dkk, 1980) 16 Oktober 2009 KULIAH:MANFAAT AMILUM DALAM DUNIA KEFARMASIAN

Amilum merupakan suatu senyawa organik yang tersebar luas pada kandungan tanaman. Amilum dihasilkan dari dalam daun-daun hijau sebagai wujud penyimpanan sementara dari produk fotosintesis. Amilum juga tersimpan dalam bahan makanan cadangan yang permanen untuk tanaman, dalam biji, jari-jari teras, kulit batang, akar tanaman menahun, dan umbi. Amilum merupakan 50-65% berat kering biji gandum dan 80% bahan kering umbi kentang (Gunawan, 2004). Amilum juga disebut dengan pati. Pati yang diperdagangkan diperoleh dari berbagai bagian tanaman, misalnya endosperma biji tanaman gandum, jagung dan padi ; dari umbi kentang ; umbi akar Manihot esculenta (pati tapioka); batang Metroxylon sagu (pati sagu); dan rizom umbi tumbuhan bersitaminodia yang meliputi Canna edulis, Maranta arundinacea, dan Curcuma angustifolia (pati umbi larut) (Fahn, 1995). Tanaman dengan kandungan amilum yang digunakan di bidang farmasi adalah Zea mays (jagung), Oryza sativa (beras), Solanum tuberosum (kentang), Triticum aesticum (gandum), Maranta arundinacea (garut), Ipomoea batatas (ketela rambat), Manihot utilissima (ketela pohon) (Gunawan, 2004). Secara umum amilum terdiri dari 20% bagian yang larut air (amilosa) dan 80% bagian yang tidak larut air (amilopektin). Hidrolisis amilum oleh asam mineral menghasikan glukosa sebagai produk akhir secara hampir kuantitatif (Gunawan, 2004). Pada bidang farmasi, amilum terdiri dari granul-granul yang diisolasi dari Zea mays Linne (Graminae), Triticum aesticum Linne (Graminae), dan Solanum tuberosum Linne (Solanaceae). Granul amilum jagung berbentu polygonal, membulat atau sferoidal dam mempunyai garis tengah 35 mm. Amilum gandum dan kentang mempunyai komposisi yang kurang seragam, masing-masing mempunyai 2 tipe granul yang berbeda (Gunawan, 2004). Amilum digunakan sebagai bahan penyusun dalam serbuk awur dan sebagai bahan pembantu dalam pembuatan sediaan farmasi yang meliputi bahan pengisi tablet, bahan pengikat, dan bahan penghancur. Sementara suspensi amilum dapat diberikan secara oral

sebagai antidotum terhadap keracunan iodium dam amilum gliserin biasa digunakan sebagai emolien dan sebagai basis untuk supositoria (Gunawan, 2004). Sebagai amilum normal, penggunaanya terbatas dalam industri farmasi. Hal ini disebabkan karakteristiknya yang tidak mendukung seperti daya alir yang kurang baik, tidak mempunyai sifat pengikat sehingga hanya digunakan sebagai pengisi tablet bagi bahan obat yang mempunyai daya alir baik atau sebagai musilago, bahan pengikat dalam pembuatan tablet cara granulasi basah (Anwar, 2004). Amilum hidroksi-etil adalah bahan yang semisintetik yang digunakan sebagai pengencer plasma (dalam larutan 6%). Ini merupakan pengibatan tasmbahan untuk kejutan yang disebabkan oleh pendarahan, luka terbakar, pembedahan, sepsis, dan trauma lain. Sediaan amilum yang terdapat dalam pasaran adalah Volex (Gunawan, 2004). Fungsi amilum dalam dunia farmasi tergolong banyak dan penting. Bahkan sudah ada sediaan yang dipasarkan. Sebaiknya dapat dimaksimalkan penggunaannya dan dilestarikan pula tanaman-tanaman yang mengandung amilum untuk kelancaran dalam bidang farmasi. Daftar Pustaka Anwar, E. et al. 2004. Pemanfaatan Maltodekstrin Pati Terigu Sebagai Eksipien dalam Formula Sediaan Tablet dan Niosom. Majalah Ilmu Kefarmasian. Vol. 1, No. 1, 34-46. Fahn, A. 1995. Anatomi Tumbuhan. Edisi ketiga. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Gunawan, D. dan Sri Mulyani . 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi). Jilid 1. Penebar Swadaya. Jakarta. (EVA DEVINA, Mahasiswa Farmasi UNTAN 2008) Diposkan olehWIRO ALEX di07:16 Metode Pembuatan Tablet Posted on November 16, 2010 by denz Terdapat 3 metode dalam pembuatan tablet kompresi yaitu : metode granulasi basah, metode granulasi kering, dan metode cetak langsung. a. Metode Granulasi Basah Metode granulasi basah ini merupakan salah satu metode yang paling sering digunakan dalam memproduksi tablet kompresi. Langkah-langkah yang diperlukan dalam pembuatan tablet dengan metode granulasi basah ini dapat dibagi sebagai berikut, yaitu menimbang dan pencampur bahan-bahan yang diperlukan dalam formulasi, pembuatan granulasi basah, pengayakan adonan lembab menjadi pelet atau granul, kemudian dilakukan pengeringan, pengayakan kering, pencampuran bahan pelincin, dan pembuatan tablet dengan kompresi (Ansel, 1995). Keuntungan metode granulasi basah menurut Sheth dkk (1980) : 1) Meningkatkan kohesifitas dan kompaktibilitas serbuk sehingga diharapkan tablet yang dibuat dengan mengempa sejumlah granul pada tekanan kompresi tertentu akan

menghasilkan bentuk tablet yang bagus, keras, dan tidak rapuh. 2) Zat aktif yang kompaktibilitasnya rendah dalam dosis tinggi harus dibuat dengan metode granulasi basah, karena jika digunakan metode cetak langsung memerlukan banyak eksipien sehingga berat tablet terlalu besar. 3) Sistem granulasi basah dapat mencegah segregasi komponen penyusun tablet yang telah homogen sebelum proses pencampuran. 4) Zat aktif yang larut dalam air dalam dosis kecil, maka distribusi dan keseragaman zat aktif akan lebih baik dicampurkan dengan larutan bahan pengikat. 5) Zat-zat yang bersifat hidrofob, sistem granulasi basah dapat memperbaiki kecepatan pelarutan zat aktif dengan perantara cairan pelarut yang cocok dengan bahan pengikat. b. Metode Granulasi Kering Metode ini telah digunakan bertahun-tahun dan merupakan bentuk yang berharga terutama pada keadaan dimana dosis efektif terlalu tinggi untuk kempa langsung dan bahan-bahan yang digunakan peka terhadap pemanasan, kelembaban atau keduanya (Banker and Anderson, 1986). Metode ini khususnya untuk bahan-bahan yang tidak dapat diolah dengan metode granulasi basah, karena kepekaannya terhadap uap air atau karena untuk mengeringnya diperlukan temperatur yang dinaikkan (Ansel, 1995). c. Metode Cetak Langsung Metode ini digunakan untuk bahan yang mempunyai sifat mudah mengalir sebagaimana sifat-sifat kohesinya yang memungkinkan untuk langsung dikompresi dalam tablet tanpa memerlukan granulasi basah atau kering (Sheth dkk, 1980). Keuntungan utama dari metode ini adalah bahwa bahan obat yang peka terhadap lembab dan panas, yang stabilitasnya terganggu akibat operasi granulasi, dapat dibuat menjadi tablet. Akan tetapi dengan meningkatnya tuntutan akan kualitas tablet, maka metode ini tidak diutamakan (Voigt, 1984). 5 Masalah Dalam Pembuatan Tablet Pada pembuatan tablet sering timbul masalah-masalah yang menyebabkan tablet yang dihasilkan tidak memenuhi persyaratan kualitas, menurut Gunsel and Kanig (1976) masalah-masalah tersebut antara lain : a. Capping dan Lamination Capping adalah keadaan yang menggambarkan bagian atas atau bawah tablet terpisah sebagian atau seluruhnya. Lamination adalah keadaan tabletterbelah menjadi dua lapis atau lebih. Keadaan ini disebabkan oleh adanya udara yang ikut dikempa. b. Picking dan Sticking Picking adalah keadaan yang menggambarkan sebagian permukaan tablet menempel pada permukaan punch. Sticking adalah adanya granul yang melekat pada die atau permukaan punch. c. Motling Motling adalah terjadinya warna yang tidak merata pada permukaan tablet, disebabkan perbedaan obat atau hasil uraianya dengan bahan tambahan, juga karena terjadinya migrasi obat selama pengeringan atau adanya bahan tambahan berupa larutan berwarna yang tidak terbagi merata. 6 Pemeriksaan Sifat Granul a. Waktu Alir Pemeriksaan waktu alir bertujuan ingin mengetahui bahwa serbuk yang digunakan

mempunyai waktu alir yang baik. Waktu alir yang baik akan menghasilkan tablet yang memenuhi persyaratan terutama keseragaman bobotnya. Apabila 100 g serbuk dengan waktu alir lebih dari 10 detik akan mengalami kesulitan pada waktu penabletan (Sheth dkk, 1980). b. Sudut Diam Sudut diam yaitu sudut tepat yang terjadi antara timbunan partikel bentuk kerucut dengan bidang horizontal. Bila sudut diam lebih kecil dari 300 biasanya menunjukkan bahwa bahan dapat mengalir bebas, bila sudutnya lebih besar atau sama dengan 400 biasanya mengalirnya kurang baik (Voigt, 1984). c. Indeks Pengetapan Pengukuran sifat alir dengan metode pengetapan yaitu dengan melakukan penghentian (tapping) terhadap sejumlah serbuk dengan menggunakan alat volumeter (mechanical tapping device). Pengetapan dilakukan dengan mengamati perubahan volume sebelum pengetapan (Vo) dan volume setelah pengeapan setelah konstan (Vt). Serbuk dapat dikatakan memiliki sifat air baik jika indeks pemampatannya kurang dari 20% (Fashihi and kanfer, 1986). 7 Pemeriksaan Kualitas Tablet a. Keseragaman Bobot Keseragaman bobot tablet ditentukan berdasarkan banyaknya penyimpangan bobot pada tiap tablet terhadap bobot pada tiap tablet terhadap bobot rata-rata dari semua tablet sesuai syarat yang ditentukan dalam Farmakope Indonesia. b. Kekerasan Kekerasan tablet merupakan parameter yang menggambarkan ketahanan tablet dalam melawan tekanan mekanik seperti guncangan dan terjadinya keretakan tablet selama pengemasan, transportasi dan pemakaian. Kekerasan tablet biasanya antara 4 8 kg (Parrott, 1970). Alat yang biasa digunakan adalah Hardness tester (Monsanto Stokes) dan Hardness tester (Stong-cabb) (Banker and Anderson, 1986). c. Kerapuhan Kerapuhan adalah kecenderungan dari partikel untuk hancur menjadi partikel yang berukuran lebih kecil pada saat terjadi goncangan pada pengemasan. Sifat tablet yang berhubungan dengan kerapuhan diukur dengan menggunakan friability tester. Nilai kerapuhan kurang dari 0,8% dianggap baik (Parrott, 1970). 8 Tablet Kunyah Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah, memberikan residu dengan rasa enak dalam rongga mulut, mudah ditelan dan tidak meninggalkan rasa pahit atau tidak enak (Anonim, 1995). Tujuan dari tablet kunyah adalah untuk memberikan suatu bentuk pengobatan yang dapat diberikan dengan mudah kepada anak-anak atau orang tua yang mungkin sukar menelan obat utuh (Banker and Anderson, 1986). Tablet kunyah pada umumnya menggunakan manitol, sorbitol atau sukrosa sebagai bahan pengikat dan bahan pengisi (Anonim, 1995). Manitol adalah senyawa alkohol heksa hidrat yang berbentuk kristal putih, memiliki sifat-sifat yang diinginkan sebagai bahan tambahan pada formulasi tablet kunyah. Manisnya manitol kira-kira 70% dari manisnya gula dengan rasa dingin dimulut, memiliki kelarutan cukup dalam air, dan merupakan salah satu bagian pengisi yang biasa digunakan dalam tablet kunyah, karena mempunyai

higroskopistas yang rendah (Ansel, 1995). Tablet kunyah merupakan bentuk sediaan farmasi yang praktis untuk dikembangkan dalam formula ekstrak obat tradisional. Keunggulan dari produk tablet kunyah yang mengandung ekstrak adalah kandungan bahan alami akan lebih mudah diserap tubuh dan mudah dilepaskan sehingga bekerja aktif pada jaringan tubuh yang diobati. 9 Monografi Bahan Tambahan a. Aerosil Silisium dioksida terdispersi tinggi (aerosil) memiliki permukaan spesifik dan terbukti sebagai bahan pengatur aliran yang menjadi keuntungan utamanya,dapat mengurangi lengketnya partikel satu sama lain, dengan demikian gesekan antar partikel sangat kurang. Aerosil mengikat lembab melalui gugus silanol (dapat menarik air 40 % dari massanya) dan meskipun demikian sebagai serbuk masih dapat mempertahankan daya alirnya (Voigt, 1984). Penggunaan sebagai bahan pengering. b. Manitol Manitol mengandung tidak kurang dari 96,0% dan tidak lebih dari 101,5% C6H14O6 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian, serbuk hablur atau granul mengalir bebas, putih, tidak berbau, rasa manis. Kelarutan mudah larut dalam air, larut dalam larutan basa, sukar larut dalam piridina, sangat sukar larut dalam etanol, praktis tidak larut dalam eter (Anonim, 1995). Manisnya manitol 0,5-0,7 manisnya sukrosa (Daruwala, 1975). c. Laktosa Laktosa adalah gula yang diperoleh dari susu dalam bentuk anhidrat atau mengandung satu molekul air hidrat. Laktosa merupakan serbuk atau massa hablur, keras, putih atau krem. Tidak bau dan rasa sedikit manis. Stabil di udara, tetapi mudah menyerap bau. Laktosa mudah dan pelan-pelan larut dalam air dan lebih mudah larut dalam air mendidih, sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam klorofonm dan dalam eter (Anonim, 1995). Manisnya laktosa 0,16 manisnya sukrosa (Daruwala, 1975). d. Magnesium Stearat Magnesium stearat mengandung tidak kurang dari 6,5% dan tidak lebih dari 8,5% MgO dihitung terhadap zat yang dikeringkan. Pemerian serbuk halus, putih, licin dan mudah melekat dikulit, bau lemah khas. Kelarutan praktis tidak larut dalam air, dalam etanol (95%) p dan dalam eter p (Anonim, 1995). Magnesium stearat berfungsi sebagai lubricant (Rowe, 2003). e. Talk Talk adalah magnesium silikat hidrat alam, kadang-kadang mengandung sedikit aluminium silikat. Pemberian serbuk sangat halus, putih atau putih kelabu. Berkilat, mudah melekat pada kulit dan bebas dari butiran. Tidak larut dalam hampir semua pelarut. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik (Anonim, 1979). Talk berfungsi sebagai anticaking agent, glidant, diluent, dan lubricant (Rowe, 2003). f. Amilum Amilum yang digunakan adalah amilum manihot atau disebut juga pati singkong. Pati singkong adalah pati yang diperoleh dari umbi akar Manihot utilisima Pohl (Familia Euphorbiaceae). Pemberiannya berupa serbuk sangat halus, putih, praktis, tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol (Anonim, 1995).

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink. http://dprayetno.wordpress.com/2010/11/16/metode-pembuatan-tablet/ Latar Belakang Ubi kayu atau singkong (Mannihot esculenta) berasal dari Brazil, Amerika Selatan, menyebar ke Asia pada awal abad ke-17 dibawa oleh pedagang Spanyol dari Mexico ke Philipina. Kemudian menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ubi kayu merupakan makanan pokok di beberapa negara Afrika. Di samping sebagai bahan makanan, ubi kayu juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri dan pakan ternak. Ubinya mengandung air sekitar 60%, pati 25-35%, serta protein, mineral, serat, kalsium, dan fosfat. Ubi kayu merupakan sumber energi yang lebih tinggi dibanding padi, jagung, ubi jalar, dan sorgum. BAB II KARBOHIDRAT Peranan dalam tumbuhan : 1. Energi cadangan ( misal amilum ) 2. Sumber energi ( misal sakarosa ) 3. pembentuk jaringan penyokong ( misal selulosa ) 4. melindungi luka dan infeksi 5. detoksifikasi senyawa asing Kata karbohidrat dari bahasa Perancis hydrate de carbone Rumus empiris Cn(H2O)n . Rumus ini tidak tepat untuk turunan karbohidrat seperti metilpentosa, asam-asam uronat, gula amino, nukleotida Penggolongan karbohidrat berdasarkan ukuran molekul : 1. Monosakarida ( misalnya glukosa, fruktosa, galaktosa ) dan derivatnya 2. Oligosakarida : kondensasi 2 arau lebih monosakarida 3. Polisakarida : rantai panjang monosakarida, terikat kepala ke ekor, rantai lurus atau bercabang MONOSAKARIDA Rumus empiris (CH2O)n. Rantai karbon berikatan tunggal yang tidak bercabang, 1 atom C berikatan ganda dengan atom O, membentuk gugus karbonil, atom C lainnya berikatan dengan gugus hidroks

Jika gugus karbonil di ujung rantai C disebut aldosa ( suatu aldehid ) Jika gugus karbonil di posisi lain disebut ketosa ( suatu keton ) Monosakarida paling sederhana : gliseraldehid dan dihidroksiaseton Jumlah atom C dalam molekul :

- Triose : 3 atom C ( aldotriose dan ketotriose ) - Tetrose : 4 atom C ( aldotetrose dan ketotetrose ) - Pentose : 5 atom C ( aldopentose dan ketopentose ) - Heksose : 6 atom C ( aldoheksose dan ketoheksose ) - Heptosa : 7 atom C ( aldoheptosa dan ketoheptosa ) Paling sering dijumpai D-glukosa ( aldoheksosa ) dan D-fruktosa (ketoheksosa) Cara penulisan struktur : - Kiliani 1886 : polihidroksi aldehid rantai lurus - Rantai cincin : 1. anggota 5 : furanos Amilum Amilum yang digunakan adalah amilum manihot atau disebut juga pati singkong. Pati singkong adalah pati yang diperoleh dari umbi akar Manihot utilisima Pohl (Familia Euphorbiaceae). Pemberiannya berupa serbuk sangat halus, putih, praktis, tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol (Anonim, 1995). Amilum manihot Dari : umbi akar Manihot utilissima ( singkong ) Guna : bahan tambahan untuk obat luar dan obat dalam Uji karbohidrat . Mereduksi Fehling: Isi : CuSO4, Na2CO3, Na-sitrat Reaksi positif : endapan merah bata CuO, Karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid dan keton bebas 3. Tes Molisch Isi : larutan -naftol dalam alkohol 95%

Reaksi positif : warna ungu Semua karbohidrat 4. Pembentukan ozazone Isi : fenilhidrazin, Na-asetat, asam asetat Kristalisasi gula 5. Tes resorsinol untuk gugus keton/ tes Seliwanoff Terjadi perubahan fruktosa oleh asam klorida panas menjadi asam levulenat dan 4-hidroksimetilfurfural, lalu terkondensasi dengan resorsinol menjadi merah 6. Tes pentosa Isi : phloroglucin,HCl Reaksi positif : merah] Adanya gugus pentosa 7. Tes Killer-Kiliani untuk gula deoxy Reaksi : zat dilarutkan dalam asam asetat yang mengandung FeCl3lalu tambah asam sulfat lewat dinding, cincin coklat merah biru 8. Reaksi enzi 9. Kromatograf