Anda di halaman 1dari 3

PERATURAN DAERAH

KABUPATEN DAERAH TINGKAT II ACEH TIMUR


NOMOR : 9 TAHUN 1990

TENTANG

PEMBERIAN IZIN DAN PUNGUTAN RETRIBUSI ATAS PERUSAHAAN PENGGILINGAN PADI,


HULLER DAN PENYOSOHAN BERAS

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


BUPATI KEPALA DAERAH TINGKAT II ACEH TIMUR

Menimbang : a. bahwa Pengaturan tentang Pemberian izin Perusahaan Penggilingan padi, Huller dan
Penyosohan beras berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 1971 telah
diserahkan wewenang pemberian izinnya kepada Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah;
b. bahwa Perusahaan penggilingan padi, huller dan penyosohan beras merupakan obyek
yang potensial baik dalam rangka peningkatan penghasilan petani/ pengusaha maupun
dalam rangka peningkatan pendapatan asli daerah melalui pungutan retribusi dan
biaya administrasi;
c. bahwa untuk maksud tersebut perlu ditetapkan dalam Peraturan Daerah.

Mengingat : 1. Undang-Undang No. 7 Drt Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-
Kabupaten dalam lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Utara;
2. Undang-Undang No.12 Drt Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah;
3. Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah;
4. Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 1971 tentang Perusahaan Penggilingan padi
huller dan penyosohan beras;
5. Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1975 tentang Pengurusan Pertanggung Jawaban dan
Pengawasan Keuangan Daerah;
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 1974 tentang Bentuk Peraturan
Daerah;
7. Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertanian No. 122 Tahun 1980
dan No.351/Kpts/Um/6/1980 Jo No. 114 Tahun 1982 dan No.265/Kpts/Um/5/ 1982
tentang Penertiban dan Penataan kembali Perusahaan penggilingan padi, Huller dan
Penyosohan beras;
8. Keputusan Menteri Pertanian No.161/ Kpts/Ku .420/3/1989 tentang Perubahan
besarnya uang Retribusi dan biaya administrasi Perusahaan penggilingan padi,
huller dan penyosohan beras;
9. Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 11 Tahun 1969 tentang Penertiban Pungutan
Daerah;
10. Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Timur Nomor 4 Tahun 1987
tentang Penunjukan, Pengangkatan dan Pemberhentian Penyidik Pegawai Negeri Sipil
pada Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Timur.

Dengan Persetujuan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Timur.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II ACEH TIMUR TENTANG PEMBERIAN IZIN DAN
PUNGUTAN RETRIBUSI ATAS PERUSAHAAN PENGGILINGAN PADI, HULLER DAN PENYOSOHAN BERAS.

BAB I
KETENTUAN UMUM.

Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
a. Daerah adalah Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Timur;
b. Bupati Kepala Daerah adalah Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Timur;
c. Dinas Pertanian Tanaman Pangan adalah Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten
Daerah Tingkat II Aceh Timur.
d. Perusahaan adalah Perusahaan Penggilingan Padi, Huller dan Penyosohan Beras
dalam Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Timur;
e. Perusahaan Penggilingan Padi adalah setiap perusahaan yang digerakkan dengan
tenaga mesin dan ditujukan serta dipergunakan untuk mengerjakan padi/ gabah
menjadi beras sosoh;
f. Huller adalah setiap perusahaan yang digerakkan dengan tenaga mesin dan
ditujukan serta dipergunakan untuk mengerjakan padi gabah menjadi beras pecah
kulit;
g. Penyosohan Beras adalab setiap perusahaan yang digerakkan dengan tenaga mesin
dan ditujukan serta dipergunakan untuk mengerjakan beras pecah kulit menjadi
beras sosoh;
h. Surat Izin Usaha adalah surat pernyataan tertulis dan yang berwenang untuk
memberikan hak guna mengusahakan/ menjalankan perusahannya;
i. Kas Daerah adalah Kas Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Timur.

BAB II
P E R I Z I N A N

Pasal 2
(1) Yang berwenang mengeluarkan Surat Izin Usaha Perusahaan adalah Bupati Kepala
Daerah;
(2) Jenis Surat Izjn Usaha Perusahaan terdiri dari :
a. Surat izin usaha mendirikan perusahaan;
b. Surat izin usahà memperbesar perusahaan dengan menggantikan peralatan pokok
sehingga menambah kapasitas gilingan;
c. Surat izin melanjutkan/ memperbaharui surat izin yang sudah habis masa
berlakunya;
d. Surat izin perusahaan akibat peralihan hak.
(3) Perusahaan tidak boleh dijalankan sebelum memperoleh izin tertulis dan Bupati
Kepala Daerah.
(4) Surat izin usaha mendirikan perusahaan berlaku untuk masa 5 (lima) tahun dan
sesudah itu dapat diperpanjang lagi kembali melalui permohonan tertulis oleh
pemegang izin kepada Bupati Kepala Daerah.

Pasal 3
(1) Surat izin usaha mendirikan perusahaan diberikan kepada orang/ Perusahaan yang
mengajukan permohonan yang ditujukan kepada Bupati Kepala Daerah, setelah
terlebih dahulu memenuhi syarat pemeliharaan lingkungan hidup dan pertimbangan
tehnis dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan.
(2) Setiap mengajukan permohonan izin usaha perusahaan baru harus disertai bahan-
bahan :
a. Surat Izin berdasarkan Undang-Undang gangguan (HO)
b. Akte Notaris tentang Pendirian Badan Hukum, jika Perusahaan tersebut berbadan
hukum
c. Surat Rekomendasi dari Camat setempat tentang pemeliharaan lingkungan hidup
dan pengaruh terhadap sekitar lokasi perusahaan.
(3)Setiap mengajukan permohonan perpanjangan izin usaha perusahaan harus dilampirkan
bahan-bahan :
a. Surat Izin berdasarkan Undang-Undang gangguan (HO)
b. Akte Notaris tentang Pendirian badan hukum, jika perusahaan tersebut berbadan
hukum
c. Surat Rekomendasi dari Camat setempat tentang pemeliharaan lingkungan hidup
dan pengaruh terhadap sekitar lokasi perusahaan.
d. Surat Izin terdahulu dan tanda bukti telah melunasi uang Retribusi
(4) Surat izin usaha perusahaan diberikan kepada :
a. Perusahaan yang didirikan dan diusahakan oleh Koperasi
b. Perusahaan yang didirikan dan diusahakan per orangan/ swasta
c. Perusahaan yang didirikan dan diusahakan oleh Pemerintah (BUMN/BUMD).
(5) Pemberian surat izin usaha perusahaan bagi perusahaan diutamakan kepada Koperasi
Unit Desa.
(6) Pemberian surat izin usaha bagi pendirian baru jenis perusahaan penggilingan
padi engelberg tidak dibenarkan.
(7) Pengelolaan surat izin usaha dilaksanakan oleh Bupati Kepala Daerah atau petugas
lain yang ditunjuk oleh Bupati Kepala Daerah.
(8) Surat izin usaha mendirikan perusahaan tidak dibenarkan untuk dipindah tangankan
kepada dan atas nama orang lain/ pihak lain tanpa memperoleh izin tertulis dari
Bupati Kepala Daerah.

Pasal 4
Bupati Kepala Daerah berhak mencabut izin usaha perusahaan bila ternyata :
a. Perusahaan tersebut tidak dapat meneruskan usaha dalam waktu 300 ( tiga ratus)
hari kerja berturut-turut;
b. Perusahaan tersebut melanggar syarat-syarat yang ditentukan dalam surat izin
usaha;
c. Perusahaan yang letak lokasinya berdekatan dengan kantor, tempat-tempat
pendidikan, komplek perusahaan, tempat peribadatan dan tempat-tempat lain yang
ditetapkan oleh Undang-Undang gangguan (HO).

BAB III
BIAYA ADMINISTRASI DAN PUNGUTAN RETRIBUSI

Pasal 5
(1) Biaya administrasi perusahaan berdasarkan pembenian izin usaha wajib dibayar
oleh pemegang izin dan diatur ke Kas Daerah sebagai berikut :
a. Penggilingan padi Rp.10.000,- (Sepuluh ribu rupiah) setiap kali mengajukan
surat permohonan izin usaha;
b. Huller Rp. 10.000,- (Sepuluh ribu rupiah) setiap kali mengajukan surat
permohonan izin usaha;
c. Penyosohan beras Rp.10.000,- (Sepuluh ribu rupiah) untuk setiap kali
mengajukan surat permohonan izin usaha.
(2) Uang Retribusi juga wajib dibayar oleh pemegang izin usaha untuk setiap 1 (satu)
tahun sekali sebagai berikut :
a. Penggilingan padi Rp.1.000,- (Seribu rupiah) untuk setiap 1 (satu) PK mesin
penggerak;
b. Huller Rp.1.000,- (seribu rupiah) untuk 1 ( satu ) PK mesin penggerak;
c. Penyosohan beras Rp.1.000,- (seribu rupiah) untuk setiap 1 (satu) PK mesin
penggerak.
(3) Pungutan uang retribusi dilaksanakan oleh Bupati Kepala Daerah atau petugas lain
yang ditunjuk.

Pasal 6
Izin usaha dapat diperpanjang apabila ketentuan pada pasal 3 ayat (3) dan pasal 5
ayat (1) dan Peraturan Daerah ini dapat dipenuhi dan permohonan untuk perpanjangan
sudah harus diajukan 3 (tiga) bulan sebelum waktu berakhir.

BAB IV
KETENTUAN PIDANA

Pasal 7
(1) Pelanggaran terhadap pasal 2 ayat (3), pasal 3 ayat (8), pasal 5 ayat (1) dan
(2) Peraturan Daerah ini diancam dengan hukuman kurungan selama lamanya 3 (tiga)
bulan atau denda setinggi-tingginya Rp.50 .000,- (Lima puluh ribu rupiah).
(2) Tindak pidana yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini adalah tindak pidana
pelanggaran.
BAB V
KETENTUAN PENYIDIKAN

Pasal 8
(1) Selain oleh pejabat penyidik umum yang bertugas rnenyidik tindak pidana
penyidikan atas tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah mi
dapat juga dilakukan oleh pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil dilingkungan
Pemerintah Daerah yang pengangkatannya ditetapkan Sesuai dengan Peraturan per
Undang-Undangan yang berlaku.
(2) Dalam melaksanakan tugas penyidikan, para penyidik Pegawai Negeri Sipil
sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini berwenang :
a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;
b. Melakukan tindakan pertama pada saat itu ditempat kejadian dan melakukan
pemeriksaan;
c. Menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri
tersangka;
d. Melakukan penyitaan benda atau surat;
e. Mengambil sidik jari atau memotret seseorang;
f. Memanggil seseorang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau
saksi;
g. Mendatangkan tenaga ahli yang diperlukan dalam hubungannya dalam memeriksa
perkara;
h. Menghentikan penyidikan setelah mendapat petunjuk dan penyidik umum bahwa
tidak terdapat cukup bukti-bukti atau penistiwa tersebut bukan merupakan
tindak pidana dan selanjutnya melalui penyidik umum memberitahukan hal
tersebut kepada penuntut umum, tersangka atau keluarganya ;
i. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang dapat dipertanggung jawabkan.

BAB VI
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 9
Dalam waktu 6 (enam) bulan setelah berlakunya Peraturan Daerah ini semua perusahaan
penggilingan padi huller dan penyosohan beras yang sudah ada harus disesuaikan
izinnya dengan Peraturan Daerah ini.

BAB VII
PENUTUP

Pasal 10
Hal-hal lain yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai
Peraturan peiaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Bupati Kepala
Daerah.

Pasal 11
Peraturan Daerah ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan dalam Lembaran Daerah.

Langsa, 6 Desember 1990

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN DAERAH BUPATI KEPALA DAERAH


TINGKAT II ACEH TIMUR TINGKAT II ACEH TIMUR
KETUA
d.t.o d.t.o
= H. SAYED ALWI = = M. NOEH AR =

Diundangkan dalam Lembaran Daerah Peraturan Daerah ini telah disahkan oleh
Kab. Dati II Aceh Timur No. 10 Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh dengan
tanggal 22 – 2 -1991 Seri B Nomor 10 Keputusan No. 188.342/38/1991 tanggal 29
Januari 1991
Sekretaris Wilayah /Daerah
d.t.o
(DRS. ARSYAD HUSIN)
NIP: 010020169